Showing posts with label Fenomena. Show all posts
Showing posts with label Fenomena. Show all posts


Astronom Denison Olmsted dibangunkan oleh tetangganya pada 13 November 1833. Mereka menyaksikan keanehan langit malam yang dipenuhi bintang jatuh, 72.000 atau lebih setiap jamnya.

Itu adalah hujan meteor yang kita sebut sebagai Leonids. Akan tetapi, pada saat itu tidak ada yang tahu apa sebab munculnya atau dari mana meteor itu berasal. 

Karena jumlah bintang jatuh yang memenuhi langit mencapai 20 per detiknya, Olmsted melihat dengan jelas pola yang luput dari pengamatan para astronom lain.

"Olmsted menyadari untuk pertama kalinya bahwa mereka datang dari satu titik, yang pertama dia sebut pancaran," kata Mark Littman dari University of Tennessee di Knoxville kepada National Geographic. 

Para astronom saat ini masih menggunakan pancaran untuk menamai hujan meteor: Leonid diambil dari asal-usulnya yakni di konstelasi Leo, Singa.

Tetapi Olmsted tidak berhenti dengan penemuan itu. Saat fajar menyinari langit dan meteor hilang dari pandangan, Olmsted bergegas masuk dan memberikan laporan singkat tentang badai meteor untuk surat kabar New Haven Daily Herald.

"Karena penyebab 'bintang jatuh' tidak dapat dipahami oleh ahlu meteorologi, diharapkan untuk mengumpulkan semua fakta terkait dengan fenomena ini, yang dinyatakan dengan ketepatan," tulis Olmsted kepada pembaca. 


Tanggapan berdatangan dari banyak negara bagian, bersama dengan pengamatan para ilmuwan yang dikirim ke American Journal of Science and Arts.

"Ini adalah momen penting dalam jurnalisme sains Amerika, benar-benar dalam jurnalisme sains di seluruh dunia," kata Litmman. "Sampai saat itu, surat kabar sebagian besar adalah kain politik, penuh dengan opini, tapi di sini mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan tanpa perasaan melaporkan meteor, menenangkan bahwa itu bukanlah 'the end of the days'."

Tanggapan tersebut mendorong Olmsted untuk membuat serangkaian terobosan ilmiah. Temuannya telah mengakhiri cengkeraman filsuf Yunani, Aristoteles selama 2.200 tahun tentang penjelasan meteor. Sang filsuf itu melihatnya sebagai gelembung gas melayang tinggi ke langit dan menyala.

Ilmu bintang jatuh berhutang banyak pada peristiwa ini karena adanya laporan sains dari masyarakat.

Dari pengmatan laporan yang diterima Olmsted menunjukkan bahwa hujan meteor terlihat secara nasional dan jatuh daru luar angkasa di bawah pengaruh gravitasi. Ini juga mencatat bahwa hujan telah muncul sebelumnya dalam siklus tahunan, sesuatu yang tidak diketahui para ilmuwan, tetapi tidak bagi petai Eropa, selama berabad-abad.

Olmsted menyadari bahwa meteor pasti menabrak atmosfer bumi dari luar angkasa. Dia memperkirakan kecepatannya sekitar 4 mil per detik, yang menurutnya sangat cepat. Karena dia tidak menyadari bahwa gesekkan, alih-alih pembakaran konvensional, yang menembakkan bintang jatuh. Olmsted menghitung ukurannya sangat besar hingga satu mil lebarnya, bukan partikel debu komet seukuran jarum.


Olmsted mencoba memperkirakan ketinggian meteor itu. Caranya, dia melakukan triangulasi ketinggian bola api dengan pengamat ilmiah lain di New York, yakni pada ketinggian 30 hingga 50 mil. 

Dia juga menduga bahwa hujan meteor itu berasal dari sebuah benda dengan orbit yang sangat memanjang mengelilingi matahari. Namun demikian, baru pada 1867 para astronom membuat hubungan antara meteor dan debu di sepanjang ekor komet, yang menghubungkan jejak komet Tempel-Tuttle ke Perseids.

Setiap 30 tahun atau lebih, terutama pada 1966, Leonids telah menghasilkan hujan yang sangat kuat sebagai pengingat peristiwa 1833. Meskipun demikian, intensitasnya telah menurun karena awan ekor komet yang menghasilkan meteor telah menipis dari waktu ke waktu.

Jejak empat bangunan yang berasal dari abad keempat belas hingga ketujuh belas ditemukan selama berlangsungnya proyek perbaikan jalan di Skotlandia selatan. Bangunan-bangunan rumah tersebut merupakan bagian dari permukiman sebuah desa yang diubah menjadi taman pada abad kedelapan belas oleh Duke of Hamilton.

The Scotsman memberitakan, bekas empat bangunan itu ditemukan di dekat area Netherton Cross dekat Bothwell, North Lanarkshire, Skotlandia. Tembikar, pecahan panci dan mangkuk masak, pipa tembakau dari tanah liat, potongan mainan, dan bukti pengerjaan logam yang didapatkan dari situs tersebut menjadikan temuan ini sebagai penemuan yang "luar biasa".

Di tingkat fondasi salah satu bangunannya, tim peneliti menemukan lingkaran poros, batu asahan, dua koin abad ketujuh belas, dan belati besi. Belati yang dibuat di Zaman Besi itu diyakini disimpan sebagai bagian dari ritual untuk melindungi struktur bangunan dan penghuninya dari bahaya, menurut Dr. Natasha Ferguson, arkeolog dari Guard Archaeology, seperti dilansir Archaeology magazie.

Natasha Ferguson yang menulis laporan penemuan tersebut mengatakan, “Kualitas khusus atau jimat dari belati ini sebagai objek pelindung mungkin telah meningkatkan tindakan ritual untuk melindungi rumah tangga dari bahaya duniawi dan magis."

"Penempatan benda-benda ini di bawah lantai dasar salah satu rumah mungkin dimaksudkan untuk menegaskan ruang ini sebagai tempat aman bagi mereka dan generasi yang akan datang," beber Ferguson, seperti diberitakan The Scotsman.


Praktik meninggalkan benda-benda khusus di bangunan abad pertengahan dan pasca abad pertengahan telah banyak terdokumentasikan dengan baik. Terkait praktik tersebut, diyakini bahwa ritual semacam itu akan melindungi bangunan dan penghuninya. Laporan tersebut menemukan bahwa objek-objek yang "sengaja dipilih" itu memang telah sengaja ditempatkan di properti tersebut.

Dipercaya bahwa lingkaran spindel, percahan mainan, dan batu asahan mungkin mewakili hubungan personal dengan seorang individu, aktivitas, atau tempat yang akan membuatnya istimewa bagi penghuninya.

Laporan itu menambahkan, "Potensi keunikan belati sebagai benda prasejarah ini mungkin memberikan kualitas keanehan. Penggunaan kembali benda-benda prasejarah sebagai pengendapan dalam pengaturan abad pertengahan telah dicatat dalam penggalian gereja-gereja abad pertengahan di Inggris, dan panah batu secara tradisional diidentifikasi sebagai 'elf-bolts' dan lama dikenal karena sifat magis jahat mereka."

Dr. Gemma Cruickshanks, dari Museum Nasional Skotlandia mengatakan tampaknya belati itu tertutup sarung pada saat dikuburkan.

“Itu mungkin utuh dan masih bisa digunakan pada saat itu. Bentuk belati ini tidak bisa dibedakan dari contoh-contoh Zaman Besi, menandakan bentuk belati yang sederhana ini memiliki sejarah yang sangat panjang,” ujar Cruickshanks.

Bukti peleburan besi, pemurnian, dan kemungkinan praktik pandai besi juga ditemukan, bersama dengan bekas kegiatan pemilihan paku di situs tersebut.

Permukiman tempat berdirinya empat bangunan itu berada dekat dengan Netherton Cross abad ke-10, patung salib simbol kekristenan di Hamilton. Di area ini sekarang berdiri Gereja Paroki Tua Hamilton (Hamilton Old Parish Church).

Area Netherton Cross itu berjarak sekitar 1 kilometer dari Jembatan Bothwell, tempat pertempuran tahun 1679 yang mengakhiri pemberontakan Covenanter di Skotlandia.

“Sangat mungkin masyarakat terkena dampak konflik, baik yang menderita kerusakan harta benda atau sebagai saksi jalur pasukan Covenanter,” kata laporan itu.

Wilayah pinggiran atau desar Netherton lenyap pada abad ke-18 karena adanya perbaikan pada perkebunan oleh Duke of Hamilton, dengan taman yang tertata rapi dan simetris dibangun sebagai gantinya. Jalan raya kemudian juga dibangun di sekitar wilayah tersebut. Pembangunan jalan raya ini menggusur bangunan-bangunan lama desa dengan empat bangunan batu tua yang ditemukan itu sebagai jejak terakhir permukiman tersebut.


Sebelum kejatuhannya di tangan Ottoman, Konstantinopel diriwayatkan akan jatuh ketika kaisarnya memiliki nama yang sama dengan nama pendiri kotanya. Kalangan Muslim pun pernah diriwayatkan akan takluknya kota tersebut di tangan mereka, sehingga memicu ambisi kesultanan Ottoman terhadap Bizantium.

Dari sekian banyak usaha Ottoman Turki menguasai kawasan Balkan sebelum menaklukan Bizantium, semua berkat saling perangnya orang-orang Kristen di Eropa, dan wabah hitam yang menyerang Balkan pada 1356.

Meskipun kondisi perencanaan jangka panjang untuk menaklukan Konstantinopel, menurut sejarawan perang Rupert Butler dan timnya, Ottoman Turki harus menunda rencana tersebut karena invasi tak terduga dari Mongol yang dipimpin Timur Lenk.

Mereka menulis dalam buku Perang yang Mengubah Sejarah, Buku Pertama: dari Pertempuran Megiddo (1457 SM) hingga Bleinheim (1704), ekspedisi tersebut baru berjalan oleh sultan Mehmed II, pasca kematian sultan Murad II pada Februari 1451.

"Dia mempunyai ambisi besar untuk merebut Konstantinopel dan menjadikannya ibu kota Kemaharajaan Ottoman sehingga akan mengangkangi dunia," terang Butler dan timnya.

Setahun setelah kematian ayahnya, Mehmed II merekrut Urbanus, ahli meriam Hongaria, berencana untuk menerobos dinding Konstantinopel. Saat sudah diproduksi pada 1453, meriam tersebut diperiksa di Adrianopel, ibukota Ottoman yang tak jauh dari Konstantionpel.

"Larasnya berukuran 8,1 meter panjangnya, memiliki kaliber 20,3 sentimeter, dan diawaki oleh 700 orang, tetapi dapat melontarkan sebuah bola meriam seberat 1 ton sejauh 1,6 km," tulis mereka.

Selain peralatan tempur yang keras, Mehmed II mengumpulkan pasukan besar di Adrianopel yang tercatat atas 80.000 prajurit, 20.000 tentara milisi, dan 20.000 sukarelawan ghazi (mujahidin fanatik).

April hingga Agustus 1452, Mehmet II juga membangun benteng yang disebut Boghaz Kesen (penggorok) dengan puing-puing di dekatnya. Menurut sejarawan kelautan Roger Crowley dalam Constantinople, The Last Great Siege, bahwa benteng tersebut akan mencekik bantuan ke Konstantinopel dan mengakibatkan kota tersebut terkepung.

"Kemampuan Mehmet untuk mengoordinasikan dan menyelesaikan proyek super dengan kecepatan sangat tinggi terus-menerus membuat bingung lawan-lawannya di bulan-bulan mendatang," terang Crowley.

Meskipun sempat ada armada Venesia yang berusaha mendobrak blokade, Maret 1453 justru membuat jalur pertahanan laut Konstantinopel benar-benar terputus. Sebuah armada Ottoman yang dipimpin Suleyman Balthoglu menjegal rute.

Venesia menyarankan agar kaisar Konstantin XI mencari bantuan dengan negara Kristen lain. Tetapi kaisar memilih berunding dengan Mehmet II, yang berujung penolakan. Maka sepanjang pertempuran tidak ada bantuan untuk Konstantinopel, kecuali dari kepausan dan segelintir dari Venesia.

Butler dan timnya menjelaskan, bahwa Konstantinopel memiliki benteng yang kuat, dan membuat Ottoman harus merencanakan penyerangan dengan matang. Tembok kota terdiri atas tiga garis tembok yang terpisah, tebal, dan sejajar yang dikelilingi parit selebar 18,2 meter yang dapat digenangi saat darurat.

9 April 1453, serangan dimulai dengan menuju dua benteng di bagian barat tembok darat. Namun armada laut Ottoman yang dipimpin Baltoghlu gagal menerobos penghalang selat yang melintang di Tanjung Emas, sehingga kmudian ia dipecat dan armada dipimpin langsung oleh sultan untuk melewatinya lewat daratan.

Meriam yang sudah dipesan kian lama akhirnya dipakai juga oleh Ottoman pada 12 April. Bombardir tersebut diperkuat dengan bom untuk menghancurkan tembok.

"Meriam raksasa Urbanus hanya bisa menembak tujuh kali sehari, begitu rumit dan menghabiskan waktu proses untuk memasukkan peluru dan menembaknya," papar Butler. "Tetapi tembakannya sangat memekakkan telinga dan menimbulkan kerusakan besar terhadap tembok maupun nyali musuh."


Moral Bizantium kembali meningkat selama satu bulan, karena pasukan Ottoman yang gugur ketika sudah menerobos tembok terlemah tanpa menewaskan prajurit Bizantium, dan para ksatria Skotlandia yang menggagalkan usaha Turki yang mencoba menerobos melalui bawah tanah kota.

Selanjutnya mereka justru mendapat kabar buruk dengan datangnya kapal pengintai Venesia pada 24 hingga 25 Mei 1453. Armada tersebut mengabarkan bahwa tak ada lagi bantuan dari Eropa.

Harapan Sultan Mehmed II sempat mulai sirna karena banyaknya prajurit yang gugur. Tercatat, bahwa pasukan yang tersisa 150.000 orang. Bahkan para menteri pun sempat menyarankan untuk mundur apabila rencana serangan besar-besaran 28 Mei gagal.

Butler menulis, keberuntungan datang kepada Ottoman saat serangan besar-besaran itu digencarkan dan meningkatkan kembali harapan sultan dengan ditemukannya gerbang kecil yang ditinggalkan terbuka.

"Para penyerbu tidak membuang-buang waktu untuk memasuki gerbang itu," terangnya. "Orang Bizantium berusaha membendungnya, tetapi gagal karena kalah jumlah."

Setelah berhasil menembus kota, tentara Ottoman langsung membuka gerbang-gerbang lainnya. membuat tentara bantuan dari Genoa kabur ke pelabuhan, dan orang Venesia memilih berkhianat. Sehingga hanya Bizantium bersama orang Catalan yang tetap bertahan hingga tewasnya kaisar Konstantin XI.

Kemenangan di Konstantinopel menjadi puncak kejayaan kesultanan tersebut untuk memotivasi ekspedisi berikutnya. Bahkan atas keberhasilannya, Mehmed II diberi gelar Al-Fatih (sang penakluk).

Jatuhnya Konstantinopel, menurut para sejarawan, menjadi pengantar bangsa Eropa ke masa Renaisans, meski saat itu Turki juga gencar-gencarnya melakukan penyerangan di benua biru.

"Selama tiga abad berikutnya, hingga pengepungan yang sama terkenalnya dan pertempuran di bawah tembok Wina pada 1683, orang Turki tetap menjadi ancaman besar bagi Eropa Kristen," paparnya.


 Pada Juni 1934, dua penambang emas di Pegunungan San Pedro di Wyoming, Amerika Serikat menemukan sebuah gua kecil yang terkubur jauh di dalam batu tebal. Di debu-debu yang mengendap, para pencari emas menemukan sesuatu yang mengejutkan, yakni sisa-sisa manusia kecil yang terawat dengan baik tapi telah lama terlupakan.

Asal-usul manusia kecil itu masih menjadi misteri. Suku-suku penduduk asli Amerika, kerap menceritakan kisah-kisah legendaris tentang "orang kecil" atau Nimeriga. 

Dalam beberapa cerita, orang kecil tersebut dikatakan memiliki kekuatan magis atau kekuatan penyembuhan. Namun, pada cerita lain, mereka adalah suku ganas yang menyerang penduduk asli Amerika dengan panah beracun. 

Penemuan mumi manusia kecil menarik banyak perhatian ke daerah itu serta menimbulkan pertanyaan dan kontroversi. Banyak yang meragukan akan kebenaran cerita para penambang emas--meyakini bahwa temuan itu dibuat-buat dan cerita tersebut adalah hoaks.

Para ilmuwan pun berbondong-bondong datang ke pegunungan San Pedro. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kebenaran temuan orang mungil yang dijuluki Pedro, yang tingginya sekitar setengah inci ketika duduk dan empat belas inci ketika berdiri.


Bertahun-tahun setelah penemuan Pedro, para ilmuwan melakukan pengujian yang lebih invasif, memanfaatkan sinar-X untuk mencoba membuka misteri.

Beberapa antropolog awalnya menyimpulkan bahwa jenazah itu adalah jenazah bayi, kemungkinan besar lahir prematur, atau yang meninggal tak lama setelah lahir.

Arena perselisihan pendapat pun terjadi. Sebagian ilmuwan percaya itu ialah sisa-sisa orang dewasa, mungkin berusia 16-65 tahun.

Rontgen menemukan gigi yang tajam pada Pedro dan adanya makanan di perut yang tampak seperti daging mentah. Hasil rontgen juga menemukan bahwa Pedro mengalami kematian yang kejam--menunjukkan patah tulang di tulang belakang serta tulang tengkorak yang rusak.

Penemuan jasad mumi menimbulkan spekulasi signifikan bahwa jasad itu adalah tipuan. Kehadiran zat agar-agar di kepala Pedro membuat beberapa orang percaya bahwa jenazah itu sebenarnya adalah jenazah bayi, yang ditemukan dari fasilitas medis, atau bahwa para penambang telah membuat jenazah menggunakan bentuk taksidermi mentah.

Namun, yang lain berpendapat bahwa sisa-sisa itu adalah bukti ras mirip Leprechaun, seperti yang disebutkan dalam legenda masyarakat adat setempat, atau bukti keberadaan makhluk ekstra-terestrial. Sulit bagi banyak orang untuk memahami bahwa manusia sekecil itu bisa jadi sudah dewasa.

Sementara pengujian modern dapat memberikan lebih banyak jawaban tentang asal-usul Pedro, pengujian semacam itu tidak mungkin dilakukan karena lokasi jenazah tidak diketahui selama beberapa tahun.

Diungkapkan dalam Ancient Origins bahwa sisa-sisa itu dipajang selama pertunjukan-pertunjukan di tahun 1940-an, dan kemudian dibeli oleh seorang pria bernama Ivan Goodman.

Setelah kematian Goodman pada tahun 1950, jasadnya diserahkan kepada seorang pria bernama Leonard Waller (kadang-kadang dilaporkan sebagai Walder). Jenazahnya belum terlihat sejak saat itu.


Para astronom telah memetakan kontur dari pusaran supermasif di Galaksi Host IRAS 13224-3809, yang ditemukan di rasi Centaurus sekitar 1 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Untuk mencapai hal ini, para peneliti mengandalkan pengamatan terpanjang yang pernah dilakukan dari lubang hitam yang bertambah oleh observatorium sinar-X Badan Antariksa Eropa (ESA) XMM-Newton.

Begini cara akresi bekerja: saat material di ruang angkasa ditarik ke arah lubang hitam, ia mencapai kecepatan tinggi sehingga materi yang berputar akan memanas, mencapai suhu dalam jutaan derajat dan bahkan lebih panas dari itu.

Pusaran super-panas ini menghasilkan radiasi, yang dapat dideteksi oleh teleskop ruang angkasa saat sinar-X bertumbukan dan memantulkan partikel gas di sekitar pusaran.

Kata para ilmuwan saat menyaksikan interaksi itu, sejalan dengan cara kita ketika mendengar suara-suara bergema di sebuah ruangan - dan di banyak cara yang sama seperti gema sonik memberitahu kita tentang bentuk dan struktur ruang 3D. demikian pula 'gema cahaya' dapat mengungkapkan bentuk lubang hitam supermasif yang tidak terlihat.

"Dengan cara yang sama, kita dapat menyaksikan bagaimana gema radiasi sinar-X merambat di sekitar lubang hitam untuk memetakan geometri suatu daerah dan keadaan gumpalan materi sebelum menghilang ke singularitas," jelas astrofisikawan William Alston dari University of Cambridge.

"Agak seperti lokasi gema kosmik."

Teknik ini, yang disebut pemetaan gema sinar-X, bukan hal baru, tetapi terus berkembang. Alston dan pembacaan gema cahaya timnya datang dari nilai lebih dari 23 hari menatap melintasi ruang ke jantung IRAS 13224-3809, ditangkap selama 16 orbit pesawat ruang angkasa dari 2011 hingga 2016.

Dengan melakukan itu, mereka melihat sesuatu yang tidak mereka harapkan untuk dilihat: Korona lubang hitam—daerah elektron super panas yang melayang di atas piringan akresi objek—menyala secara dramatis dari waktu ke waktu yang kecerahannya bervariasi dengan 50 faktor dalam waktu hanya beberapa jam.

"Ketika ukuran korona berubah, begitu juga gema cahaya - agak seperti jika langit-langit katedral bergerak naik dan turun, mengubah bagaimana gema suara Anda terdengar," kata Alston.

"Dengan melacak gema cahaya, kami dapat melacak perubahan korona ini, dan— yang bahkan lebih menarik—mendapatkan nilai yang jauh lebih baik untuk massa dan putaran lubang hitam daripada yang bisa kami tentukan jika korona tidak berubah dalam ukuran."

Para peneliti sekarang berharap menggunakan metode yang sama untuk menyelidiki dan memetakan fisika lubang hitam dari banyak galaksi lainnya. Ratusan lubang hitam supermasif sudah berada dalam jangkauan pandangan panjang XMM-Newton. Bahkan, akan lebih banyak lagi  terlihat ketika satelit Athena ESA diluncurkan (dijadwalkan untuk 2031).

"Pekerjaan ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa masa depan mempelajari lubang hitam sangat bergantung pada melihat bagaimana mereka berbeda," kata astronom Matthew Middleton dari University of Southampton di Inggris. "Ini akan menjadi fokus dari sejumlah misi baru yang diluncurkan dalam sepuluh tahun mendatang, yang akan mengantarkan pada era baru pemahaman objek-objek eksotis ini."


 Para penambang yang sedang menggali batu permata menemukan hal langka. Bukannya mengungkap batu permata mengkilap dan warna-warni yang dikenal sebagai ammolit, mereka justru menemukan sisa-sisa fosil monster laut purba.

Terdapat kerangka hampir lengkap dari reptil laut yang dikenal sebagai mosasaurus. Ia kemungkinan berasal dari genus Tylosaurus yang hidup selama zaman dinosaurus sekitar 70 tahun lalu.

Pada masa itu, Alberta, Kanada (tempat di mana mosasaur ditemukan), terbaring di bawah laut, tertutup oleh Western Interior Seaway yang membentang dari Teluk Meksiko ke Laut Arktika.

“Kami memiliki segalanya mulai dari kepala sampai ujung ekor,” kata Donald Henderson, kurator dinosaurus di Royal Tyrrell Museum of Palaeontology di Drumheller, Alberta.

“Meski begitu, kami tidak memiliki siripnya. Mungkin itu hilang membusuk, atau pernah digigit,” imbuh Henderson.


Para penambang dari Enchanted Designs Limited, sedang mencari sepotong ammolite berwarna pelangi yang dapat digunakan untuk membuat perhiasan. Batu mulia ini terbuat dari cangkang amon yang sudah menjadi fosil–semacam moluska laut yang sudah punah.

Penambangan yang dilakukan di Formasi Bearpaw (Pegunungan Bears Paw di Montana, tepat di sebelah selatan Alberta) biasanya menemukan satu hingga dua reptil laut yang memfosil dalam setahun sehingga penemuan ini cukup terduga. Meski begitu, sangat sulit menemukan kerangka yang hampir lengkap seperti mosasaur.

Fosil-fosilnya tertanam di dalam batu lumpur yang cukup lunak. Secara keseluruhan, binatang itu memiliki panjang sekitar 20-23 kaki (6-7 meter).

Mosasaurus termasuk predator puncak. Namun, perlu diingat bahwa mereka adalah reptil, bukan dinosaurus.

Temuan fosil perut dan tanda gigitan menunjukkan bahwa mosasaurus memakan kura-kura, ikan amon, dan sejenisnya. Salah satu senjata rahasia mereka berada pada gigi di atap mulut yang melengkung ke belakang.

“Sekali mereka mencengkram dengan gigi depannya, itu akan membuat Anda sulit lolos. Satu-satunya cara bisa keluar adalah meluncur melalui tenggorokan,” papar Henderson.

Belum jelas kapan mosasaurus yang baru ditemukan ini akan dipamerkan. Namun, kita dapat melihat spesimen mosasaurus lainnya di Royal Tyrrell Museum's Dinosaur Hall atau pameran Grounds for Discovery.


Ini adalah studi lanjutan dari studi sebelumnya. Di mana sebelumnya mengungkap keberadaan spesies baru kanguru raksasa yang ditemukan di Nombe Rockshelter Papua Nugini. Menurut penelitian baru dunia hewan ini, spesies ini masih bisa bertahan lama setelah megafauna bertubuh besar di daratan Australia punah. Seekor kanguru raksasa yang pernah berkeliaran dengan empat kaki melalui hutan terpencil di Dataran Tinggi Papua Nugini (PNG) mungkin telah bertahan baru-baru ini 20.000 tahun yang lalu.

Ahli paleontologi Flinders University, bekerja sama dengan arkeolog dan geoscientist Australian National University, telah menggunakan teknik baru dalam studi mereka. Bertujuan untuk memeriksa kembali tulang megafauna dari situs fosil Nombe Rockshelter yang kaya di Provinsi Chimbu. Ini dalam upaya untuk lebih memahami sejarah alam PNG yang menarik.

Analisis baru menghasilkan revisi usia tulang dan menunjukkan bahwa beberapa spesies mamalia besar, termasuk harimau Tasmania yang punah dan marsupial mirip panda (disebut Hulitherium tomasettii) masih hidup di Dataran Tinggi PNG ketika manusia pertama kali tiba. Ini mungkin sekitar 60.000 tahun yang lalu.

Hebatnya dua spesies kanguru besar yang telah punah, termasuk satu yang berkaki empat daripada melompat dengan dua kaki, mungkin telah bertahan di wilayah tersebut selama 40.000 tahun lagi.

"Jika spesies megafauna ini benar-benar bertahan di Dataran Tinggi PNG lebih lama daripada spesies yang setara di Australia, maka itu mungkin karena orang jarang mengunjungi daerah Nombe, dan dalam jumlah yang rendah sampai setelah 20.000 tahun yang lalu," kata Profesor Ilmu Arkeologi ANU Tim Denham, salah satu penulis utama dalam studi baru.

Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Archaeology in Oceania pada 16 September dengan judul Re‐evaluating the evidence for late‐surviving megafauna at Nombe rockshelter in the New Guinea highlands.


"Tempat perlindungan batu Nombe adalah satu-satunya situs di Nugini yang diketahui telah ditempati oleh orang-orang selama puluhan ribu tahun dan melestarikan sisa-sisa spesies megafauna yang punah. Kebanyakan dari mereka unik di Nugini,” kata Denham, yang awalnya melakukan kerja lapangan di Dataran Tinggi PNG pada tahun 1990. “Nugini adalah bagian utara yang berhutan, pegunungan, dari benua Australia yang sebelumnya lebih luas yang disebut 'Sahul' tetapi pengetahuan kita tentang sejarah fauna dan manusianya buruk dibandingkan dengan daratan Australia."

Rekan penulis penelitian Profesor Gavin Prideaux, dari Laboratorium Paleontologi Universitas Flinders, mengatakan studi Nombe terbaru konsisten dengan bukti serupa dari Pulau Kanguru, yang sebelumnya diproduksi oleh ahli paleontologi Flinders. Ini juga menunjukkan kanguru megafauna mungkin telah bertahan hingga sekitar 20.000 tahun yang lalu di beberapa tempat dari daerah yang kurang dapat diakses di benua itu.

"Meskipun sering diasumsikan bahwa semua spesies megafauna di Australia dan Nugini punah dari pantai ke pantai pada 40.000 tahun yang lalu, generalisasi ini tidak didasarkan pada banyak bukti aktual," kata Profesor Prideaux. "Ini mungkin lebih berbahaya daripada membantu dalam menyelesaikan dengan tepat apa yang terjadi pada lusinan mamalia besar, burung, dan reptil yang hidup di benua itu ketika orang pertama kali tiba."

Tempat perlindungan batu Nombe, yang terletak di sekitar komunitas Nongefaro, Pila dan Nola di PNG, jarang dikunjungi oleh kelompok nomaden masyarakat Dataran Tinggi pada zaman prasejarah. Tempat perlindungan batu tersembunyi pertama kali digali oleh para arkeolog pada tahun 1960-an. Tetapi fase kerja lapangan yang paling intensif dilakukan pada tahun 1971 dan 1980 oleh arkeolog ANU Dr Mary-Jane Mountain, yang juga merupakan penulis makalah terbaru.

Penelitian awalnya menghasilkan deskripsi dan interpretasi terperinci pertama dari situs Nombe dan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman kita tentang sejarah manusia di Dataran Tinggi PNG.

"Mary-Jane awalnya berhipotesis bahwa megafauna di situs tersebut mungkin telah bertahan selama puluhan ribu tahun setelah kolonisasi manusia. Tetapi ini hanya dikonfirmasi dengan munculnya teknik baru dalam arkeologi, penanggalan, dan ilmu paleontologi," kata Profesor Denham.

Profesor Prideaux mengatakan aplikasi baru dari teknik analisis modern ini, atau penggalian baru di situs Nombe akan lebih lanjut mengonfirmasi garis waktu megafauna yang masih hidup dan durasi pendudukan oleh orang-orang di PNG.


Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa ‘gereja rahasia’ yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.

Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.

Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.

‘Gereja rahasia’ yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.

Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.

Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.

Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.

“Tempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,” papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.

Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.

Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang  “persekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya”.

Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.

Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.

Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi ‘gereja rahasia’ ini.
 

Apakah Alien Benar-Benar Ada?

Posted by BaronNight On 4:49 AM 0 comments


Alien hingga kini masih menjadi misteri. Pasalnya, meski diyakini oleh beberapa orang ada, tetapi makhluk luar angkasa ini belum pernah benar-benar ditemukan. Namun, bagaimana orang yang pernah pergi ke luar angkasa meyakini keberadaan alien?

Jeff Hoffman, seorang astronot badan antariksa AS (NASA) meyakini adanya kehidupan lain di alam semesta. Hoffman sendiri pernah melakukan lebih dari lima misi di antariksa dan menghabiskan 1.211 jam hidupnya di luar angkasa. "Saya percaya ada kehidupan di tempat lain di alam semesta," ungkap Hoffman dikutip dari Mashable, Sabtu (24/03/2018).

Seperti yang kita tahu, hanya 600 orang dari sekitar 108 miliar penduduk bumi yang telah menjelajah luar angkasa. Beberapa dari astronot tersebut kemudian duduk bersama dalam sebuah konferensi di Los Angeles dengan pembuat film Darren Aronofsky. Mereka berkumpul bersama untuk membuat video bertajuk One Strange Rock yang ditayangkan di National Geographic pada Senin (26/03/2018).

Dalam konferensi tersebut, mereka membahas kehidupan di bumi yang ajaib. Bayangkan saja, makhluk di bumi memiliki keunikannya sendiri. Contohnya, organisme bersel satu yang muncul dari bahan anorganik, yang berevolusi karena terlindung oleh medan magnet bumi dan ozon serta oksigen dan air yang mendukung.

"Anda melihat semua sistem ini... dan ini menakjubkan, semua hal harus bersatu untuk mewujudkan realitas besar ini," kata Aronofsky. Meski begitu, pertanyaan apakah alien benar-benar ada sangat sulit untuk dijawab. Apalagi alam semesta angat besar sehingga untuk menemukan alien mungkin susah.

"Kami pada dasarnya telah membuktikan bahwa setiap bintang memiliki planet," ujar Chris Hadfield, seorang astronot dari Kanada. "Lalu kamu mulai menghitung perkiraannya," imbuh pria yang telah menghabiskan 4.000 jam di luar angkasa itu.

Sayangnya, perhitungan tersebut juga sulit. Lagi-lagi masalahnya adalah betapa luasnya alam semesta. Jadi, perhitungannya pun disesuaikan dengan ukuran alam semesta.

Menurut astronot David Korneich, dalam batasan alam semesta yang teramati saja, mungkin ada septiliun bintang. Jika setiap bintang memiliki setidaknya satu planet, maka tampaknya tak terbayangkan bahwa tak ada kehidupan di tempat lain. "(Tetapi tetap saja) kami harus memikirkan berbagai hal untuk menemukan bukti," kata Mae Jamison, astronot wanita Afrika-Amerika di luar angkasa.

Meski percaya ada kehidupan lain di luar bumi, Hoffman juga terus mencari bukti. "Sebagai ilmuwan, saya mencari bukti," ujar profesor aeronautics dan astronautics di MIT teresebut. "Sampai sekarang, kita tidak punya bukti. Jadi saya tidak punya apapun untuk mendukung keyakinan saya. Tapi saya masih percaya," imbuhnya.

Hingga kini, kita tahu bahwa para ilmuwan dunia terus menerus menemukan bukti bahwa kehidupan bisa ada di tempat yang tak mungkin sekalipun. Salah satunya di Etiopia. Di negara tersebut, para peneliti menemukan bakteri yang hidup di danau asam. Bakteri tersebut bahkan hidupnya tergantung pada logam berat dan tidak membutuhkan oksigen.

Ini menjadi salah satu dugaan bahwa bisa jadi di suatu yang jauh dari bumi, ada kehidupan yang hadir. Mungkin saja ada sesuatu yang hidup di bawah es bulan Jupiter. "Kehidupan cenderung umum, tetapi rumit. Kehidupan cerdas sangat langka," ujar Hadfield.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ahli astrofisika berhasil menemukan planet di luar galaksi Bima Sakti. Sebelumnya, planet-planet yang terdeteksi hanya berada dalam Bima Sakti.

Dengan mengukur fenomena astronomi -- disebut microlensing -- para ilmuwan berhasil mengidentifikasi sekelompok planet menggunakan data dari Observatorium X-ray Chandra milik NASA.

Planet-planet yang baru ditemukan ini ukurannya bervariasi. Mulai dari seukuran bulan hingga Jupiter. Dan galaksi mereka berjarak 3,8 jutaan cahaya dari tempat kita sendiri.

“Kami sangat bersemangat. Ini pertama kalinya ada yang berhasil menemukan planet di luar galaksi kita,” kata Profesor Xinyu Dai, ahli astrofisika di University of Oklahoma

Penemuan ini dipublikasikan oleh Profesor Dai dan rekannya, dr. Eduardo Guerras dalam The Astrophysical Journal.

Analisis microlensing yang memanfaatkan tingkat kecerahan benda-benda luar angkasa seperti bintang dan quasar, merupakan satu-satunya metode yang mampu mengidentifikasi planet dengan jarak sejauh itu.

“Ini merupakan contoh bagaimana kuatnya analisis teknik microlensing. Galaksi tersebut memiliki 3,8 jutaan cahaya. Tidak ada kesempatan untuk mengobservasinya secara langsung, bahkan dengan teleskop terbaik sekalipun. Namun, ternyata sekarang kami bisa mempelajarinya, mengungkap kehadiran, serta memiliki gagasan tentang massa mereka. Ini merupakan sains yang amat keren,” papar dr. Guerras.

Microlensing

merupakan efek astronomi di mana cahaya yang berasal dari bintang jauh atau quasa dibelokkan oleh gravitasi benda perantara – seperti bintang lain atau lubang hitam – jika dilihat dari Bumi.

Apabila sumber cahaya diposisikan persis di belakang perantara, benda tersebut akan bertindak sebagai “lensa”. Lalu, ia membuat cakram cahaya saat sinar dari sumber melewati semua sisi.

Kecerahan cakram dipengaruhi oleh kehadiran planet di dekat bintang lensa. Inilah yang digunakan untuk menentukan keberadaan planet-planet tersebut yang seharusnya terlalu jauh untuk dikenali.

Efek ini telah diprediksi oleh teori relativitas Einstein. Oleh sebab itu, cakram cahaya ini juga dikenal dengan “cakram Einstein”.

Dalam penelitiannya, Profesor Dai dan dr. Guerras mengatakan bahwa mereka menggunakan teleskop untuk mempelajari sifat microlensing emisi latar belakang quasar yang digunakan untuk membuat pengukuran sebagai bukti planet-planet tersebut.

"Planet-planet kecil ini adalah kandidat terbaik dari kekhasan yang kami amati dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik microlensing. Kami menganalisis frekuensi tinggi kekhasan tersebut dengan memodelkan data untuk menentukan massa," kata Profesor Dai.

Spesies kuno yang dikenal dengan nama Habelia optata, diduga hidup pada pertengahan masa Kambrium, sekitar 508 juta tahun yang lalu.

Ia hadir ketika ‘ledakan Kambria’ terjadi – sebuah periode dalam sejarah Bumi ketika para leluhur hewan yang kita kenal sekarang, muncul untuk pertama kalinya.

Habeliasendiri memiliki beberapa karakteristik yang ditemukan pada hewan moderen, seperti tubuh yang tersegmentasi dan kerangka luar seperti lobster dan serangga. Namun, para ilmuwan belum yakin dari keluarga evolusioner mana ia berasal.

Meskipun begitu, sebuah studi yang menganalisis 41 spesimen fosil, menemukan fakta bahwa makhluk kuno ini berkaitan dengan nenek moyang dari chelicerates – kelompok spesies meliputi laba-laba dan kalajengking.

“Habelia menunjukkan arsitektur tubuh yang sangat detail seperti pada chelicerates,”  kata dr. Cedric Aria, ahli paleontologist di University of Toronto yang menjadi pemimpin penelitian ini.

Selain itu, alasan mengapa Habelia dikaitkan dengan chelicerates adalah dari bentuk mulutnya.

Chelicerates mendapatkan namanya dari “chelicerae”, semacam penjepit tambahan di mulut yang digunakan laba-laba dan kalajengking untuk memotong mangsa mereka.

Sebagai tambahan, Habelia memiliki semua persenjataan di kepala. Ditambah dengan kaki yang berkembang sempurna untuk berjalan, para peneliti menyimpulkan bahwa hewan ini termasuk ‘pemburu’ di dasar laut.

Secara spesifik, dr. Aria mengatakan, Habelia menggunakan rahang mereka yang menakutkan untuk menyerang trilobita (kelompok hewan prasejarah yang memiliki kulit luar nan keras).

“Dengan bentuk mulut dan rahang seperti itu, membuat Habelia dapat merobek mangsanya dengan cepat dan efektif. Ini menjadikan ia salah satu predator,” kata dr. Aria.

Bintang Zombie yang Enggan Mati

Posted by BaronNight On 12:16 AM 0 comments


Bintang-bintang termasif mengakhiri kisah hidupnya dengan cara yang paling dramatis. Bintang-bintang itu menerangi langit dengan ledakan yang kecerlangannya melampaui kecerlangan galaksi dan kedahsyatannya mampu melontarkan jeroan bintang ke ruang angkasa. Saat material dari ledakan itu akhirnya mengendap, yang tersisa hanyalah inti dari objek yang dahulu merupakan raksasa kosmik. Kini inti itu telah runtuh.

Ledakan ini disebut supernova. Selama bertahun-tahun, ribuan supernova telah diamati dan diteliti oleh astronom seperti Iair Arcavi. Oleh karena itu, ketika pada tahun 2014 Iair menemukan supernova baru, ia tidak berprasangka apa-apa. Sebagaimana supernova lainnya, supernova yang satu ini menerangi langit malam dalam waktu yang singkat, sebelum akhirnya meredup. Karena peristiwa ini tampaknya akan berakhir, Iair beralih ke penelitian lain.

Beberapa minggu kemudian, Iair kembali memeriksa bintang yang meredup itu dan terkejut saat melihat bintang itu bertambah terang. Tak disangka-sangka bintang itu seakan-akan meledak untuk kedua kalinya.

Selama dua tahun kemudian, Iair dan timnya terpana saat bintang itu memecahkan rekor. Selama 600 hari, bintang tersebut menjadi terang dan meredup sebanyak lima kali. Bintang itu meledak berkali-kali! Selain itu, setelah menyelidiki masa lalu si bintang, diketahui bahwa bintang tersebut ternyata pernah meledak lebih dari 60 tahun lalu.

Jadi, apa yang terjadi sebenarnya? Sejujurnya, tak seorangpun yang tahu. Tebakan terbaik adalah ledakan-ledakan itu tidak disebabkan oleh keruntuhan bintang seperti supernova pada umumnya, tapi karena bintang itu mulai membuat materi aneh yang disebut “antimateri.” Ketika antimateri bersentuhan dengan materi normal di dalam bintang, terjadilah ledakan dahsyat. Akibatnya, bintang tersebut menjadi terang lagi dan lagi.

Namun, seperti dongeng-dongeng lainnya, kisah bintang ini telah mencapai bagian akhir. Setelah 600 hari, bintang malang dan kehabisan energi ini tak lagi mampu menampilkan pertunjukan kembang api kosmik. Setelah ledakan terakhir, bintang ini akan meredup selamanya.

 


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.


Kebiasaan mandi ternyata telah dipraktikan sejak zaman kuno. Namun ada sedikit perbedaan, pada zaman kuno, mereka mandi di bawah air terjun. Ini merupakan pancuran pertama yang digunakan oleh manusia.

Mandi buatan manusia pertama yang memberikan hak istimewa untuk mandi dalam privasi rumah seseorang berasal dari zaman Mesir kuno dan Mesopotamia. Ini umumnya dinikmati oleh orang kaya karena melibatkan seorang budak dalam banyak kasus dengan bertugas menuangkan kendi air dari atas.

Ada lukisan dinding di kuil dan bangunan yang menunjukkan bagaimana pelayan memandikan ratu Mesir kuno dan anggota keluarga kerajaan. Penggalian rumah-rumah kaya di Thebes, El Lahun, dan Amarna menemukan kamar-kamar berlapis batu yang dilengkapi dengan lantai miring yang memungkinkan air mandi mengalir.

Orang Yunani kuno memiliki kamar mandi dalam ruangan di gimnasium yang mereka pasang melalui kemajuan saluran air dan pipa ledeng. Semburan air dingin mengalir dari langit-langit sementara para pemandi berdiri di bawahnya. Bangsa Romawi kuno, seperti orang Yunani, juga memiliki kamar mandi di pemandian mereka yang masih dapat ditemukan di sekitar Mediterania dan di Inggris modern.

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, pemandian umum tidak lagi disukai, terutama percampuran jenis kelamin karena mandi telanjang di depan lawan jenis memancing nafsu.

Sementara pemandian umum tidak digunakan pada Abad Pertengahan, bertentangan dengan kepercayaan populer. Pada abad ke-18, minat terhadap kebersihan pribadi mulai tumbuh sekali lagi dipicu oleh kemajuan dalam bidang kedokteran dan epidemiologi. Tapi mandi adalah proses yang lambat. Bak mandi besar dan membutuhkan banyak air untuk diisi, yang harus dipanaskan dan dibawa ke kamar mandi dari dapur dalam ember. Itu melibatkan banyak tenaga kerja.

Pabrikan kompor dan pemanas Inggris bernama William Feetham memutuskan untuk mempercepatnya. Dia menciptakan dan mematenkan shower mekanis pertama di dunia. Alatnya terdiri dari baskom, tempat perenang berdiri, dan tangki air yang menjorok. Perenang menggunakan pompa tangan untuk memompa air dari baskom ke tangki, dan kemudian menarik rantai untuk membuang semua air sekaligus di atas kepalanya. Proses itu kemudian diulang.

Penemuan Feetham gagal membangkitkan minat di kalangan bangsawan karena air akan menjadi lebih kotor dan lebih dingin setiap kali rantai ditarik. Dibanjiri dengan kejutan air dingin terlalu banyak untuk orang kaya, yang terbiasa mandi air panas di kamar mandi besar dan bak yang luas. Namun demikian, pancuran Feetham adalah yang terbaik yang dimiliki orang selama lebih dari satu abad.

Mandi dipopulerkan pada pertengahan abad ke-19 oleh seorang dokter Prancis Merry Delabost. Sebagai ahli bedah umum di penjara Bonne Nouvelle di Rouen, Delapost mengganti kamar mandi pribadi dengan kamar mandi umum wajib untuk digunakan oleh para tahanan, dengan alasan bahwa mereka lebih ekonomis dan higienis.Dia juga memandu pemasangan pancuran di barak tentara Prancis pada tahun 1870-an. Sementara itu, pembangunan water heater membuat masyarakat tidak perlu lagi mandi air dingin. Pipa dalam ruangan telah meningkat pada saat itu memungkinkan pancuran berdiri bebas untuk dihubungkan ke sumber air yang mengalir. Bahkan rumah kelas menengah pun mulai memiliki air panas yang mengalir.

Pada 1868, seorang pelukis Inggris bernama Benjamin Waddy Maughan menemukan pemanas air yang untuk pertama kalinya tidak menggunakan bahan bakar padat. Sebaliknya, air dipanaskan menggunakan gas panas yang dihasilkan oleh kompor. Sayangnya, Maughan lupa menambahkan ventilasi sehingga kompor terkadang meledak. Meskipun penemuan Maughan gagal, nama yang dia ciptakan macet. Itu Maughan yang menciptakan istilah "geyser" yang masih digunakan di Inggris dan di banyak negara Asia.

Desain Maughan diperbaiki oleh seorang insinyur mesin Norwegia bernama Edwin Ruud, dan pada tahun 1889, pemanas air bertenaga gas otomatis pertama yang aman ditemukan dan era baru mandi air hangat dimulai.


Tim ilmuwan Lund University memeriksa bagian dari Miller Range (MIL) 03346, sebuah meteorit nakhlite dari Miller Range di Antartika. Mereka menemukan paparan air terbatas pada meteorit Mars berusia 1,3 miliar tahun tersebut.

Untuk mempelajari meteorit ini, para ilmuwan menggunakan neutron dan tomografi sinar-X. Laporan penelitian tersebut telah diterbitkan di jurnal Science Advances dengan judul "The scale of a martian hydrothermal system explored using combined neutron and x-ray tomography" belum lama ini dan merupakan jurnal akses terbuka.

Untuk diketahui, akhlites adalah sekelompok meteorit Mars beku yang kaya akan mineral yang disebut piroksen dan olivin. Salah satu temuan kunci dalam meteorit ini adalah bukti praterestrial dari Mars, perubahan cairan butiran olivin.

Semua nakhlite yang ditemukan hingga saat ini diperkirakan berasal dari sistem vulkanik yang sama. Hal itu berdasarkan petrologi (kondisi geologi batuan dan pembentukannya), geokimia, dan usia ejeksi yang sama yaitu 11 juta tahun

Nakhlites ditempatkan dalam setidaknya empat peristiwa magmatik, dengan usia kristalisasi mulai dari 1,42 hingga 1,32 miliar tahun yang lalu. Lokasi sumber yang disarankan adalah medan vulkanik besar di Northern Plains, Tharsis, dataran vulkanik Elysium-Amazonis, dan Syrtis Major.

Untuk diketahui, Elysium-Amazonis adalah salah satu dataran terhalus di Mars. Dataran ini terletak di antara wilayah Tharsis dengan Elysium. Dataran ini diperkirakan berusia sekitar 100 juta tahun.

Nama dataran tersebut berasal dari salah satu fitur albedo klasik yang diamati oleh astronom awal, yang dinamai dari Amazon, ras mitologis perempuan petarung.

Sementara, Syrtis Major adalah "titik gelap" yang terletak di perbatasan antara dataran rendah utara dan dataran tinggi selatan Mars di barat cekungan dampak Isidis di segi empat Syrtis Major.

Josefin Martell, seorang mahasiswa doktoral di Lund University mengatakan, penyelidikan pada meteorit ini penting karena air adalah pusat pertanyaan apakah kehidupan pernah ada di Mars. "Kami ingin menyelidiki seberapa banyak meteorit nakhlite MIL 03346 bereaksi dengan air ketika masih menjadi bagian dari batuan dasar Mars," kata Martell.

Untuk menjawab pertanyaan apakah ada sistem hidrotermal utama, yang umumnya merupakan lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan, Martell dan rekan menggunakan neutron dan tomografi sinar-X.

Tomografi sinar-X, merupakan teknologi mungkin akan digunakan ketika NASA memeriksa sampel dari Mars pada tahun 2030, menunjukkan bahwa meteorit itu memiliki paparan air yang terbatas, sehingga membuat kehidupan pada waktu dan tempat tertentu tidak mungkin terjadi.

Tomografi sinar-X adalah metode umum untuk memeriksa suatu objek tanpa merusaknya. Tomografi neutron digunakan karena neutron sangat sensitif terhadap hidrogen.

Ini berarti bahwa jika suatu mineral mengandung hidrogen, adalah mungkin untuk mempelajarinya dalam tiga dimensi dan melihat di mana hidrogen berada di meteorit itu. Hidrogen selalu menarik ketika para ilmuwan mempelajari materi dari Mars, karena air merupakan prasyarat untuk kehidupan seperti yang kita ketahui.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian kecil dari sampel tampaknya telah bereaksi dengan air, dan oleh karena itu mungkin bukan sistem hidrotermal besar yang menyebabkan perubahan tersebut.

"Penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa reaksi itu terjadi setelah akumulasi kecil es bawah tanah yang meleleh selama tumbukan meteorit sekitar 630 juta tahun yang lalu," kata Martell.

"Tentu saja, itu tidak berarti bahwa kehidupan tidak mungkin ada di tempat lain di Mars, atau tidak mungkin ada kehidupan di waktu lain.".


Manuskrip Voynich adalah kodeks bergambar yang ditulis tangan dalam sistem penulisan yang tidak diketahui dan mungkin tidak berarti. Vellum atau kertas kulit yang digunakan untuk menulisnya telah diberi penanggalan karbon hingga awal abad ke-15 (1404-1438), dan mungkin telah disusun di Italia selama Renaisans Italia.

Naskah bergambar yang ditulis dalam bahasa yang tidak diketahui ini diberi nama berdasarkan nama penjual buku antik saat itu, Wilfrid Voynich, yang membelinya pada tahun 1912. Sejak itu, para sarjana dan ilmuwan telah berusaha untuk menguraikan arti dari teks naskah kuno tersebut.

Sejak penemuannya, Manuskrip Voynich abad ke-15 ini telah menjadi misteri dan fenomena kultus tersendiri. Penuh tulisan tangan dalam bahasa atau kode yang tidak diketahui oleh banyak orang, buku ini telah banyak diilustrasikan dengan gambar-gambar aneh tanaman asing, wanita telanjang, benda aneh, dan simbol zodiak.

Berbagai kriptografer, sarjana linguistik, dan program komputer telah mencoba memecahkan kode tersebut tetapi tetap saja gagal. Kini, seorang peneliti Associate Dr. Gerard Cheshire di University of Bristol telah berhasil memecahkan kode manuskrip Voynich. Cheshire membutuhkan waktu selama dua minggu, menggunakan kombinasi pemikiran lateral dan kecerdikannya, untuk mengidentifikasi bahasa dan sistem penulisan dokumen yang terkenal tidak dapat dipahami itu.

Hasil kajiannya tersebut telah ia terbitkan dalam jurnal Romance Studies pada 29 April 2019 dengan judul The Language and Writing System of MS408 (Voynich) Explained. Dalam studi tersebut Cheshire menjelaskan bagaimana ia berhasil menguraikan kode manuskrip dan, pada saat yang sama, mengungkapkan satu-satunya contoh bahasa proto-Roman yang diketahui.

“Saya mengalami serangkaian momen 'eureka' saat menguraikan kode tersebut,” kata Cheshire, seperti dilaporkan Tech Explorist. “Dengan diikuti oleh rasa tidak percaya dan kegembiraan ketika saya menyadari besarnya pencapaian ini, baik dari segi kepentingan linguistiknya maupun wahyu tentang asal dan kontennya. dari manuskrip itu.”

“Apa yang diungkapkannya bahkan lebih menakjubkan daripada mitos dan fantasi yang dihasilkannya. Misalnya, manuskrip itu disusun oleh para biarawati Dominika sebagai sumber referensi untuk Maria dari Kastilia, Ratu Aragon, yang kebetulan adalah bibi yang hebat bagi Catherine dari Aragon.” jelasnya.

“Juga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa karya ini mewakili salah satu perkembangan paling penting hingga saat ini dalam linguistik Roman. Naskah ini ditulis dalam proto-Romance – nenek moyang bahasa Roman saat ini termasuk Portugis, Spanyol, Prancis, Italia, Rumania, Catalan, dan Galicia. Bahasa yang digunakan ada di mana-mana di Mediterania selama periode Abad Pertengahan, tetapi jarang ditulis dalam dokumen resmi atau penting karena bahasa Latin adalah bahasa kerajaan, gereja, dan pemerintah. Akibatnya, proto-Romance hilang dari catatan, sampai sekarang.” tutur Cheshire.

Cheshire juga menjelaskan lebih lanjut, “Ini menggunakan bahasa yang sudah punah. Alfabetnya adalah kombinasi dari simbol yang tidak dikenal dan lebih akrab. Ini tidak menyertakan tanda baca khusus, meskipun beberapa huruf memiliki varian simbol untuk menunjukkan tanda baca atau aksen fonetik.”

Semua huruf dalam huruf kecil dan tidak ada konsonan ganda. Ini termasuk diftong, triftong, quadriphthong dan bahkan quintiphthong untuk singkatan komponen fonetik. Ini juga mencakup beberapa kata dan singkatan dalam bahasa Latin.

Cheshire selanjutnya berencana untuk menerjemahkan seluruh manuskrip dan menyusun leksikon, yang diakui Cheshire. Ini akan memakan waktu, karena manuskripnya berkompromi lebih dari 200 halaman.


Seekor kelinci belang sumatra telah diselamatkan oleh petugas satwa liar Indonesia setelah ditemukan secara tidak sengaja di Facebook. Kelinci belang sumtra ini secara luas dianggap sebagai kelinci paling langka di dunia.

Keberadaan spesies ini diketahui dari selusin spesimen yang dikumpulkan pada awal abad ke-20 yang kini disimpan di museum Belanda. Sejak saat itu, hanya ada penampakan sesekali dari spesies yang rentan ini di alam liar dan beberapa fotonya dari hasil jebakan kamera.

Kelinci belang ini dianggap sebagai spesies paling langka di antara semua lagomorph (kelinci, terwelu, dan pika). Kelinci ini sangat langka sehingga ketika muncul di Facebook pada Agustus lalu, sejumlah komunitas konservasi serta para pejabat dari Taman Nasional Kerinci Seblat di Pulau Sumatra Indonesia dengan cepat melacak calon penjual tersebut dan menyelamatkan hewan yang tak ternilai harganya itu.

Kelinci itu berhasil dievakuasi dengan aman pada saat para petugas bertemu dengan calon penjual itu. Si calon penjual adalah seorang petani yang menangkap hewan itu secara kebetulan di tepi taman nasional di sebelah sungai yang baru saja banjir deras. Kelinci itu mengalami luka ringan di bagian panggulnya. Kemungkinan, luka itu timbul akibat banjir bandang.

Deborah Martyr, manajer program dari Fauna & Flora International (FFI) yang menjadi penasihat Unit Perlindungan & Konservasi Harimau, mengatakan kesempatan tak terduga untuk mengamati spesies yang sulit dipahami seperti itu memiliki makna ilmiah yang sangat besar.

"Sangat sedikit yang diketahui tentang hewan ini, selain hewan ini menunjukkan preferensi yang nyata untuk bukit berlumut dan hutan submontana. Satu-satunya spesimen dari Sumatra berasal dari masa penjajahan Belanda – dan berada di Belanda, bukan Indonesia," ujar Martyr dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh FFI, seperti dilansir Channel News Asia (CNA).

Martyr mengatakan para petugas dari taman nasional menjelaskan kepada petani itu soal apa yang dia miliki. "Begitu petani yang menangkap kelinci ini memahami kelangkaannya, dia senang melihat kelinci itu kembali ke taman nasional," katanya.

Kelinci langka itu kini telah dilepaskan kembali dengan aman ke hutan oleh para penjaga taman naisonal. Kelinci itu dilepaskan di lokasi yang dipilih berdasarkan data jebakan kamera yang ada.

Herizal, anggota tim pelepasliaran kelinci itu, mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat kelinci belang meski sudah lebih dari delapan tahun berpatroli jauh di dalam taman nasional tersebut.

"Itu selalu baik untuk melepaskan hewan kembali ke alam liar – dan ini jauh lebih sedikit stres daripada melepaskan harimau. Kami melepaskan kelinci itu dan kelinci itu melihat sekeliling – lalu mulai memakan daun. Rasanya sangat santai," kata Herizal, yang merupakan community ranger di salah satu Unit Perlindungan & Konservasi Harimau di taman nasional tersebut.

Tamen Sitorus, direktur Taman Nasional Kerinci Seblat, mengatakan dia bangga dengan par stafnya karena menanggapi laporan ini dengan sangat profesional dan berhasil mengembalikan kelinci itu ke taman nasional. "Saya berharap sampel yang diambil dan data lain yang dikumpulkan dapat bermanfaat bagi para ilmuwan Indonesia dalam membangun pengetahuan tentang hewan yang kurang dikenal ini," katanya dalam pernyataan yang sama.

"Walaupun (Taman Nasional) Kerinci Seblat terkenal di dunia karena keanekaragaman hayatinya, hewan karismatik yang lebih besar seperti harimau, gajah, dan rangkong gadinglah yang biasanya menjadi berita utama. Orang-orang sering lupa bahwa taman ini juga melindungi spesies langka seperti kelinci belang sumatra dan habitatnya."

Kelinci belang sumatara masuk dalam kategori Data Deficiency dalam Daftar Merah. Populasi spesies ini tidak diketahui tetapi kelinci itu sangat langka.

Foto pertama spesies ini di alam liar diambil pada tahun 1997. Sejak saat itu, kelinci itu hanya tertangkap kamera beberapa kali.


 Hampir tiga ratus tahun setelah orang Romawi pergi, para sarjana seperti Bede menulis tentang Angles dan Saxon serta migrasi mereka ke Kepulauan Inggris. Para sarjana dari banyak disiplin ilmu, termasuk arkeologi, sejarah, ahli bahasa, dan genetika, telah memperdebatkan apa yang mungkin dijelaskan oleh kata-katanya, dan apa skala, sifat, serta dampak migrasi manusia pada waktu itu.

Hasil genetik baru saat ini menunjukkan bahwa sekitar 75 persen populasi di Inggris Timur dan Selatan terdiri dari keluarga migran yang nenek moyangnya pasti berasal dari wilayah benua yang berbatasan dengan Laut Utara. Termasuk Belanda, Jerman, dan Denmark. Terlebih lagi, keluarga-keluarga ini kawin silang dengan populasi Inggris yang ada. Akan tetapi yang terpenting integrasi ini bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain dan dari komunitas ke komunitas.

"Dengan 278 genom kuno dari Inggris dan ratusan lainnya dari Eropa, kami sekarang memperoleh wawasan yang sangat menarik tentang skala populasi dan sejarah individu selama masa pasca-Romawi," kata Joscha Gretzinger, penulis utama studi tersebut. "Kami sekarang tidak hanya memiliki gagasan tentang skala migrasi, tetapi juga bagaimana hal itu terjadi di masyarakat dan keluarga."

Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 21 September dengan judul "The Anglo-Saxon migration and the formation of the early English gene pool."


Menggunakan data genetik yang diterbitkan dari lebih dari 4.000 orang Eropa kuno dan 10.000 orang Eropa masa kini, Gretzinger dan rekannya mengidentifikasi perbedaan genetik yang tidak kentara antara kelompok yang terkait erat yang menghuni wilayah Laut Utara kuno.

Setibanya di sana, para pendatang berbaur dengan penduduk setempat. Dalam satu kasus, di pemakaman Anglo-Saxon dari Buckland dekat Dover, para peneliti mampu merekonstruksi pohon keluarga di setidaknya empat generasi. Serta mengidentifikasi titik waktu ketika migran dan penduduk lokal menikah. Keluarga ini menunjukkan tingkat interaksi yang besar antara dua kumpulan gen. Secara keseluruhan, para peneliti menyaksikan penguburan dengan status menonjol di seluruh kuburan yang diteliti, baik yang berasal dari lokal maupun pendatang.

Tim interdisipliner yang terdiri dari lebih dari 70 penulis ini mampu mengintegrasikan data arkeologi dengan hasil genetik baru. Ini mengungkapkan bahwa wanita asal imigran lebih sering dikubur dengan artefak daripada wanita lokal. Terutama mengingat barang-barang seperti bros dan manik-manik yang ditemukan.

Menariknya, pria dengan senjata seringnya ditemukan memiliki kedua asal usul genetik yang sama. Perbedaan-perbedaan ini dimediasi secara lokal dengan penguburan terkemuka atau kuburan kaya yang terlihat di berbagai asal. Misalnya, seorang wanita yang dikubur dengan seekor sapi utuh di Cambridgeshire secara genetik bercampur, dengan mayoritas keturunan lokal.


"Kami melihat variasi yang cukup besar dalam bagaimana migrasi ini memengaruhi komunitas. Di beberapa tempat, kami melihat tanda-tanda jelas integrasi aktif antara penduduk lokal dan imigran, seperti di kasus Buckland dekat Dover, atau Oakington di Cambridgeshire.” Kata Duncan Sayer, arkeolog dari University of Central Lancashire dan penulis utama studi tersebut. “Namun dalam kasus lain, seperti Apple Down di West Sussex, kita melihat bahwa orang-orang dengan keturunan imigran dan lokal dikuburkan secara terpisah di pemakaman. Mungkin ini adalah bukti beberapa derajat pemisahan sosial di situs ini."

Dengan data baru ini, tim juga dapat mempertimbangkan dampak dari migrasi bersejarah hari ini. Khususnya orang Inggris masa kini hanya memperoleh 40 persen DNA mereka dari nenek moyang benua bersejarah ini. Sedangkan 20 hingga 40 persen profil genetik mereka kemungkinan besar berasal dari Prancis atau Belgia. Komponen genetik ini dapat dilihat pada individu arkeologi dan di kuburan dengan benda-benda Frank yang ditemukan di kuburan Abad Pertengahan awal, khususnya di Kent.

"Masih belum jelas apakah nenek moyang tambahan yang terkait dengan Zaman Besi Prancis ini terkait dengan beberapa peristiwa migrasi yang diselingi, seperti penaklukan Norman. Atau apakah itu hasil mobilitas selama berabad-abad melintasi Selat Inggris," kata Stephan Schiffels, pimpinan penulis senior studi ini. "Pekerjaan di masa depan, secara khusus menargetkan periode abad pertengahan dan nanti akan mengungkapkan sifat sinyal genetik tambahan ini.”