Showing posts with label Bumi. Show all posts
Showing posts with label Bumi. Show all posts


Untuk pertama kalinya, pesawat luar angkasa Tianwen-1 milik Tiongkok berhasil mengabadikan foto Mars dalam misi penjelajahan mereka ke Planet Merah itu. Mereka telah berhasil mengirimkan foto planet Mars tersebut ke pusat pengendali China National Space Administration (CNSA), badan antariksa nasional mereka, di Beijing. CNSA menyatakan, pesawat luar angkasa Tianwen-1 sudah berada di dekat Mars dan sedang bersiap untuk mendarat di Planet Merah tersebut tahun ini.

Foto planet Mars yang berhasil diabadikan oleh Tianwen-1 adalah berupa foto hitam-putih. Foto itu telah dirilis pada akhir pekan lalu oleh CNSA. Foto itu menunjukkan fitur geologi di sana, termasuk penampakan kawah Schiaparelli dan Valles Marineris, hamparan ngarai yang luas di permukaan Planet Merah tersebut.

CNSA menyatakan bahwa foto tersebut diambil sekitar 2,2 juta kilometer (1,4 juta mil) dari Mars. Mereka juga menyatakan bahwa kini posisi pesawat luar angkasa Tianwen-1 sudah lebih dekat lagi, yakni berjarak 1,1 juta kilometer dari planet itu. CNSA juga menambahkan bahwa semua sistem pada pesawat luar angkasa Tianwen-1 dalam "kondisi baik.”

Pesawat robotik itu menyalakan salah satu mesinnya untuk "melakukan koreksi orbit" pada Jumat dan diperkirakan akan melambat sebelum "ditangkap oleh gravitasi Mars" sekitar 10 Februari nanti, kata CNSA sebagai dikutip oleh AFP dan ScienceAlert.

Tianwen-1 diluncurkan pada Juli 2020. Ia memang ditargetkan untuk bisa memasuki orbit Mars pada 10 Februari 2021 besok. Pesawat luar angkasa seberat lima ton itu membawa robot pengorbit, robot pendarat, dan robot penjelajah Mars yang akan mempelajari tanah di Planet Merah itu.

Nama Tianwen-1 sendiri memiliki arti “Pertanyaan ke Surga”. Misi Tianwen-1 ini disebut-sebut sebagai program luar angkasa paling ambisius dari Negeri Tirai Bambu.

Melalui misi Tianwen-1 ini, Tiongkok berharap mereka dapat mendaratkan robot penjelajah mereka di planet Mars pada Mei 2021 nanti. Mereka menargetkan robot penjelajah mereka bisa mendarat di Utopia Planitia, cekungan besar di Mars, setelah nanti terlepas dari robot pengorbit. Setelah mendarat, robot pendarat ini akan melepaskan robot penjelajah kecil bertenaga surya yang berfungsi untuk mengeksplor permukaan Mars setidaknya selama tiga bulan.

Jika pendaratan tersebut berhasil, Tiongkok akan menjadi negara kedua yang sukses menempatkan robot penjelajah mereka di permukaan Mars. Sebelumnya, Amerika Serikat sudah mendaratkan delapan robot penjelajah mereka di Planet Merah itu sejak 1976.

Selama beberapa dekade terakhir Tiongkok telah menggelontorkan miliaran dolar Amerika Serikat untuk misi-misi luar angkasa mereka. Sebelumnya, selama Perang Dingin, Tiongkok hanya bisa menyaksikan Amerika Serikat dan Uni Soviet (kini Rusia) membuat beberapa langkah lebih maju dalam program-program luar angkasa mereka masing-masing.

Kini dengan dipimpin oleh militer mereka, Tiongkok mulai serius meluncurkan misi-misi luar angkasa. Dua dasawarsa lalu, tepatnya pada tahun 2003, untuk pertama kalinya Tiongkok telah mengirim manusia ke luar angkasa. Jadi, Tianwen-1 bukanlah misi luar angkasa mereka yang pertama.

Selain itu, Tianwen-1 juga bukanlah upaya pertama Tiongkok untuk mencapai Mars. Misi mereka sebelumnya dengan Rusia pada 2011 berakhir sebelum waktunya karena peluncuran misi tersebut berakhir gagal.

Tak hanya misi ke Mars, Tiongkok juga pernah meluncurkan misi ke Bulan. Hingga saat ini setidaknya Tiongkok telah mengirim dua robot penjelajah mereka ke Bulan.

Dalam misi menggunakan robot penjelajah yang kedua pada 2019, Tiongkok berhasil mencatatkan diri sebagai negara pertama yang berhasil melakukan soft landing (pendaratan mulus) di sisi jauh Bulan.


Legenda Welsh yang berasal dari periode abad pertengahan tentang lanskap yang hilang ke laut ternyata masuk akal. Sebuah bukti baru tentang evolusi garis pantai Wales barat telah terungkap.

Melihat pada data geologi dan peta abad pertengahan, para peneliti
dari Swansea University dan University of Oxford—mengusulkan bagaimana dua pulau mungkin pernah muncul dan kemudian menghilang lagi.

Studi ini terinspirasi oleh sebuah Peta Gough yang ditemukan tersimpan di Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford. Peta ini adalah peta Inggris Raya paling awal yang masih ada, mungkin dengan asal-usulnya pada abad ketiga belas.

Peta tersebut menggambarkan dua pulau di Cardigan Bay di Wales barat, yang sudah tidak ada lagi. Masing-masing digambarkan sekitar seperempat ukuran pulau Anglesey di Wales utara. Salah satunya adalah antara Aberystwyth dan Aberdovey dan yang lainnya di antara keduanya dan Barmouth di utara.

Penelitian ini dilakukan oleh Simon Haslett, Profesor Kehormatan Geografi Fisik di Universitas Swansea dan David Willis, Jesus Professor of Celtic Studies di Universitas Oxford.

Studi mereka menyelidiki sumber sejarah dan bukti geologis dari garis pantai dan dasar laut. Ini menggunakan model bagaimana pantai telah berevolusi sejak zaman es terakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang memberikan penjelasan yang mungkin untuk pulau-pulau yang 'hilang'.

Mereka mengatakan bahwa pulau-pulau itu bisa menjadi sisa-sisa lanskap dataran rendah yang dilatarbelakangi oleh endapan glasial lunak yang terbentuk selama zaman es terakhir. Sejak itu, kekuatan erosi telah mengikis daratan, mereduksinya menjadi pulau-pulau. Sebelum pulau-pulau itu juga terkikis dan menghilang pada abad keenam belas.


Karena sedimen yang lebih halus dari endapan glasial terkikis, komponen kerikil dan batu yang lebih besar tertinggal di dasar laut. Posisi pulau-pulau tersebut bertepatan dengan lokasi akumulasi kerikil dan bongkahan bawah laut, yang dikenal secara lokal sebagai sarn.

“Kita tahu bahwa pantai barat Wales telah berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Bukti dari kartografer Romawi Ptolemeus menunjukkan garis pantai 2.000 tahun yang lalu mungkin berjarak sekitar 13 km lebih jauh ke laut daripada sekarang,” kata Profesor Simon Haslett dari Departemen Geografi Universitas Swansea. “Peta Gough sangat akurat mengingat alat survei yang mereka miliki saat itu, dan kedua pulau itu ditandai dengan jelas. Penelitian kami meningkatkan pemahaman kami tentang proses pesisir potensial yang terjadi di sepanjang pesisir Teluk Cardigan. Ini juga dapat membantu penelitian masa depan tentang evolusi pasca-glasial dari dataran rendah serupa di bagian lain Eropa barat laut.”

ia juga menambahkan, “Memahami dinamika garis pantai tidak pernah sepenting ini. Beberapa kota di sepanjang area yang kami pelajari rentan terhadap perubahan iklim dan permukaan laut. Telah disarankan bahwa hal itu dapat menyebabkan beberapa pengungsi perubahan iklim pertama di Inggris."

“Bukti kami dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana kisah Cantre'r Gwaelod ('The Hundred of the Bottom') mungkin muncul. Tanah yang hilang ini dikatakan telah mengalami bencana banjir dan disebutkan dalam puisi dalam Buku Hitam Carmarthen dan dalam cerita rakyat selanjutnya," tutur David Willis, Jesus Professor of Celtic Studies di Universitas Oxford.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Atlantic Geosciences dengan judul "The ‘lost’ islands of Cardigan Bay, Wales, UK: insights into the post-glacial evolution of some Celtic coasts of northwest Europe" dan tersedia akses terbuka hingga 5 September 2022.


Tim ilmuwan Lund University memeriksa bagian dari Miller Range (MIL) 03346, sebuah meteorit nakhlite dari Miller Range di Antartika. Mereka menemukan paparan air terbatas pada meteorit Mars berusia 1,3 miliar tahun tersebut.

Untuk mempelajari meteorit ini, para ilmuwan menggunakan neutron dan tomografi sinar-X. Laporan penelitian tersebut telah diterbitkan di jurnal Science Advances dengan judul "The scale of a martian hydrothermal system explored using combined neutron and x-ray tomography" belum lama ini dan merupakan jurnal akses terbuka.

Untuk diketahui, akhlites adalah sekelompok meteorit Mars beku yang kaya akan mineral yang disebut piroksen dan olivin. Salah satu temuan kunci dalam meteorit ini adalah bukti praterestrial dari Mars, perubahan cairan butiran olivin.

Semua nakhlite yang ditemukan hingga saat ini diperkirakan berasal dari sistem vulkanik yang sama. Hal itu berdasarkan petrologi (kondisi geologi batuan dan pembentukannya), geokimia, dan usia ejeksi yang sama yaitu 11 juta tahun

Nakhlites ditempatkan dalam setidaknya empat peristiwa magmatik, dengan usia kristalisasi mulai dari 1,42 hingga 1,32 miliar tahun yang lalu. Lokasi sumber yang disarankan adalah medan vulkanik besar di Northern Plains, Tharsis, dataran vulkanik Elysium-Amazonis, dan Syrtis Major.

Untuk diketahui, Elysium-Amazonis adalah salah satu dataran terhalus di Mars. Dataran ini terletak di antara wilayah Tharsis dengan Elysium. Dataran ini diperkirakan berusia sekitar 100 juta tahun.

Nama dataran tersebut berasal dari salah satu fitur albedo klasik yang diamati oleh astronom awal, yang dinamai dari Amazon, ras mitologis perempuan petarung.

Sementara, Syrtis Major adalah "titik gelap" yang terletak di perbatasan antara dataran rendah utara dan dataran tinggi selatan Mars di barat cekungan dampak Isidis di segi empat Syrtis Major.

Josefin Martell, seorang mahasiswa doktoral di Lund University mengatakan, penyelidikan pada meteorit ini penting karena air adalah pusat pertanyaan apakah kehidupan pernah ada di Mars. "Kami ingin menyelidiki seberapa banyak meteorit nakhlite MIL 03346 bereaksi dengan air ketika masih menjadi bagian dari batuan dasar Mars," kata Martell.

Untuk menjawab pertanyaan apakah ada sistem hidrotermal utama, yang umumnya merupakan lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan, Martell dan rekan menggunakan neutron dan tomografi sinar-X.

Tomografi sinar-X, merupakan teknologi mungkin akan digunakan ketika NASA memeriksa sampel dari Mars pada tahun 2030, menunjukkan bahwa meteorit itu memiliki paparan air yang terbatas, sehingga membuat kehidupan pada waktu dan tempat tertentu tidak mungkin terjadi.

Tomografi sinar-X adalah metode umum untuk memeriksa suatu objek tanpa merusaknya. Tomografi neutron digunakan karena neutron sangat sensitif terhadap hidrogen.

Ini berarti bahwa jika suatu mineral mengandung hidrogen, adalah mungkin untuk mempelajarinya dalam tiga dimensi dan melihat di mana hidrogen berada di meteorit itu. Hidrogen selalu menarik ketika para ilmuwan mempelajari materi dari Mars, karena air merupakan prasyarat untuk kehidupan seperti yang kita ketahui.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian kecil dari sampel tampaknya telah bereaksi dengan air, dan oleh karena itu mungkin bukan sistem hidrotermal besar yang menyebabkan perubahan tersebut.

"Penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa reaksi itu terjadi setelah akumulasi kecil es bawah tanah yang meleleh selama tumbukan meteorit sekitar 630 juta tahun yang lalu," kata Martell.

"Tentu saja, itu tidak berarti bahwa kehidupan tidak mungkin ada di tempat lain di Mars, atau tidak mungkin ada kehidupan di waktu lain.".


 Kungkang atau sloth merupakan mamalia yang memiliki ukuran tubuh sedang. Hewan dengan bulu lebat ini diketahui herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan. Namun, penelitian terbaru menyajikan fakta berbeda mengenai kungkang purba, Mylodon darwinii.

Kungkang purba ini memiliki tinggi 3,6 meter dengan berat mencapai 2,2 ton. Dijuluki giant sloth atau kungkang raksasa, hewan yang punah 10.000 tahun ini sebelumnya diyakini sebagai vegetarian seperti kerabatnya di zaman modern.

Dilansir dari The Sun, para ahli dari Natural History Museum telah mendapati bahwa binatang seukuran gajah itu menyukai daging, bahkan mungkin memakan manusia. Pernyataan ini disampaikan oleh salah satu peneliti, Dr. Julia Tejada.

“Kami sekarang memiliki bukti kuat yang bertentangan dengan anggapan lama bahwa semua kungkang adalah herbivora. Apakah mereka pemakan daging oportunistik tidak dapat ditentukan, tetapi ini adalah bukti nyata pertama bahwa kungkang purba sebenarnya adalah omnivora,” ujar Dr. Julia Tejada kepada The Sun.

“Bukti ini menyebabkan perlunya evaluasi ulang pada seluruh struktur ekologi mamalia purba di Amerika Selatan, karena kungkang mewakili komponen utama ekosistem ini selama 34 juta tahun terakhir,” lanjutnya.

Julia Tejada dari University of Montpellier di Prancis dan rekan–rekannya menganalisis sususan kimiawi dari dua asam amino. Melansir Science News, mereka mendapatkatnya dari dalam fosil rambut dua spesies kungkang tanah raksasa, kungkang tanah darwin (Mylodon darwinii) dari Amerika selatan dan kungkang tanah shasta (Nothrotheriops shastensis). Tim juga membandingkannya dengan sampel dari kungkang hidup, trenggiling, dan omnivora modern lainnya.

Dari perbandingan isotop nitrogen dalam dua asam amino, glutamin dan fenilalamin, yang ditemukan di rambut kungkang, para peneliti dapat mengeliminasi faktor ekosistem dan memperhatikan faktor pola makan. Diketahui, isotop nitrogen sendiri dapat sangat bervariasi di antara berbagai sumber makanan dan ekosistem.

Data mengungkapkan pola makan kungkang tanah shasta secara eksklusif dari tumbuh–tumbuhan. Sedangkan kungkang tanah darwin adalah omnivora. Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Scientific Reports dengan judul Isotope data from amino acids indicate Darwin’s ground sloth was not an herbivore pada 7 Oktober 2021.

Berdasarkan temuan ini, tentu membalikkan apa yang selama ini diketahui tentang hewan purba tersebut. Para ilmuwan berasumsi kungkang purba adalah herbivora karena keenam spesies kungkang modern dipastikan pemakan tumbuhan. Sebagian gigi dan rahang kungkang tanah raksasa juga tidak diadaptasi untuk berburu maupun mengunyah dan merobek dengan kuat.

Kendati demikian, Julia Tejada dan rekan–rekannya mengatakan bisa saja Mylodon darwinii atau kungkang tanah darwin ini menelan daging dari hewan yang sudah terbunuh. Hal ini mungkin membantu untuk memecahkan teka–teki tidak adanya mamalia karnivora besar di Amerika Selatan pada saat itu. Mungkin posisi tersebut ditempati oleh kungkang tanah darwin.

Lebih lanjut, adapun penyebab mengapa kungkang raksasa itu punah belum diketahui. Tipis kemungkinan hewan purba ini punah karena diburu manusia, sebab manusia pada zaman itu akan berjuang untuk membunuhnya. Diduga kungkang raksasa tidak bertahan karena perubahan iklim atau penyakit baru.

Ratusan spesies kungkang yang beberapa di antaranya sebesar gajah pernah menjelajahi lanskap kuno dari Alaska hingga Amerika Selatan. Kerangka lengkap Mylodon darwinii atau kungkang tanah darwin dipajang di Natural History Museum, London.

Sedangkan keenam spesies kungkang yang masih hidup saat ini adalah pemakan tumbuhan dengan ukuran relatif kecil jika dibandingkan pendahulunya.


Dengan ekosistem yang beragam seperti lautan, dataran, dan tundra beku, Amerika Utara adalah rumah bagi beberapa predator raksasa nan ganas.

Akan tetapi, makhluk modern—seperti buaya, hiu putih besar, dan beruang kutub —akan terlihat sangat kecil bila ditempatkan di samping predator purba di benua itu. Jadi, apa predator terbesar yang pernah hidup di Amerika Utara?

Untuk hewan berbulu, mamalia pemangsa terbesar di Amerika Utara kemungkinan besar adalah beruang berwajah pendek (Arctodus simus), kata Ross MacPhee, kurator senior mamalia di American Museum of Natural History di New York City.

Kadang-kadang disebut "beruang bulldog", makhluk yang sekarang sudah punah ini memiliki moncong pendek dan lebar yang khas. Tingginya sekitar 1,6 meter di bahu dan lebih dari 3,4 meter di kaki belakangnya yang kurus, demikian menurut peneliti University of Iowa Museum of Natural History.

“Mungkin sulit bagi para ilmuwan untuk mengukur berat badan yang tepat dari spesies yang punah, karena mereka harus memperkirakan angka-angka itu menggunakan spesies yang ada sebagai tolak ukur,” kata MacPhee dilansir dari Live science.

Namun, ahli paleontologi memperkirakan bahwa beruang berwajah pendek mungkin memiliki berat sekitar 700 kilogram. Beruang kutub modern (Ursus maritimus) berukuran tidak terlalu jauh—jantan terbesar berukuran sekitar 1,5 meter di bahu dan beratnya sekitar 600 kilogram, menurut Polar Bears International.


Beruang berwajah pendek punah sekitar 11.000 tahun yang lalu, sekitar akhir zaman es terakhir. Untuk menemukan predator darat yang lebih besar, kita harus melakukan perjalanan lebih jauh ke masa lalu. Dinosaurus predator Amerika Utara terbesar juga paling terkenal di benua itu: Tyrannosaurus rex.

Selama akhir periode Cretaceous, sekitar 100 juta hingga 66 juta tahun yang lalu, Amerika Utara adalah negeri monster.

"Dinosaurus karnivora memiliki keragaman yang luar biasa di Amerika Utara di seluruh Mesozoikum (252 juta hingga 66 juta tahun yang lalu)," Andrew Farke, direktur Museum Paleontologi Raymond M. Alf di Claremont, California, dilansir dari Live Science.

Tetapi dengan tinggi hampir 3,5 meter di pinggul dan panjang hingga 12,3 meter, menurut spesimen T. rex seukuran bus sekolah yang hampir lengkap yang dikenal sebagai Stan, tiran rex yang menjulang di sebagian besar dari hewan-hewan karnivora sezamannya.

Acrocanthosaurus merupakan sepupu "hiu bergigi" dari tyrannosaurus dan anggota kelompok yang dikenal sebagai carcharodontosaurus. Panjangnya hampir menyamai T. rex tetapi beratnya lebih ringan dibanding T. rex. Acrocanthosaurus beratnya 6,8 ton sedangkan T. rex beratnya 7,8 ton, demikian menurut American Museum of Natural History.

T. rex menggunakan semua itu untuk keuntungannya: Dengan otot rahangnya yang kuat, ia dapat menghasilkan hingga 6 ton tekanan per gigitan—cukup untuk merobek baja seolah-olah selembar kertas, menurut sebuah studi dalam jurnal The Anatomical Record pada 2019.

Satu-satunya dinosaurus yang hidup saat ini adalah burung, membuat dinosaurus terbesar yang masih hidup di Amerika Utara menjadi kondor California (Gymnogyps californianus). Pada 3 meter dari ujung sayap ke ujung sayap, burung ini secara signifikan lebih kecil dari sepupu pemakan daging purba T. rex, tetapi tetap tangguh. Hewan ini memakan bangkai rusa, babi, sapi, singa laut dan bahkan paus, menurut Cornell Lab of Ornithology.

Ketika membahas raksasa laut purba, reptil raksasa adalah pemenangnya.

Ichthyosaurus adalah sekelompok reptil laut predator yang hidup selama era Mesozoikum, periode waktu yang sama dengan dinosaurus. Pada Akhir periode Trias, kira-kira 237 juta tahun yang lalu, seekor ichthyosaurus yang dikenal sebagai Shonisaurus sikanniensis mulai berenang di perairan yang sekarang disebut British Columbia, Kanada.


"S. sikanniensis dianggap sebagai reptil laut terbesar sepanjang masa," ujar Kenshu Shimada, seorang profesor paleobiologi di De Paul University di Chicago.

“Ada beberapa perdebatan tentang Ichthyosaurus genus S. sikanniensis, Anggota kedua generasi yang besar, efisien dan cepat, meskipun spesies dari genus Shonisaurus memiliki dada barel dan moncong panjang dibandingkan Shastasaurus,” menurut Mark Witton dari University of Portsmouth paleontolog and paleoartist.

Terlepas dari taksonomi, tidak ada keraguan bahwa S. sikanniensis benar-benar kolosal; dengan panjang 65 kaki (20 m) yang menakjubkan dari moncong ke ekor,

"dengan singkat sekitar tiga kali lebih besar dari hiu putih besar hidup terbesar yang diketahui," kata Shimada. Tapi ukuran tidak selalu sama dengan keganasan. Sebuah studi 2011 di jurnal PLOS One mengatakan bahwa S. sikanniensis mungkin telah menjadi pengumpan hisap, menyeruput mangsa bertubuh lunak seperti cumi-cumi dan belemnites (cumi-cumi bercangkang).

Masing-masing makhluk ini, bagaimanapun, akhirnya mati sebagai akibat dari pergolakan lingkungan. Seperti banyak predator yang sangat terspesialisasi, begitu mangsa mereka menjadi langka, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan energi mereka. "Pada titik tertentu, lebih besar tidak lebih baik," kata MacPhee.


Mendengar nama lumba-lumba, hal yang terbesit pertama di pikiran kita adalah hewan yang lucu dan menggemaskan. Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, karena sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Pun, banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Namun siapa sangka, dahulu lumba-lumba adalah hewan predator yang mirip dengan paus pembunuh.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology menjelaskan bagaimana kedua jenis paus modern yakni paus bergigi (lumba-lumba dan paus balin) dan paus bungkuk mengembangkan fitur penggerak mereka seperti sirip dan ekor.

Lumba-lumba yang diberi nama latin Ankylorhiza tiedemani ini pertama kali ditemukan dalam bentuk pecahan pada akhir 1800-an, tetapi temuan baru yang hampir lengkap ditemukan pada 1990-an dan disatukan selama beberapa dekade.

Kerangka setinggi 15 kaki itu ditemukan di Carolina Selatan dan hidup sekitar 25 juta tahun yang lalu pada zaman Oligosen. Berbalik dengan lumba-lumba modern saat ini yang merupakan sahabat manusia di lautan, moyangnya justru merupakan predator puncak di masanya. Hal ini dilihat dari tengkorak, gigi, ukuran, dan moncongnya.

Dari struktur kerangkanya, para ilmuwan telah menentukan bahwa Ankylorhiza memiliki fitur postkranial yang mirip dengan tulang-tulang tubuh paus modern, yang menyiratkan bahwa habitat air yang serupa mengarah pada pengembangan adaptasi tertentu.

"Beberapa contoh termasuk penyempitan ekor, peningkatan jumlah tulang ekor dan pemendekan humerus (tulang lengan atas) pada sirip,” ujar Robert Boessenecker, penulis utama laporan tersebut dikutip dari Cnet.


“Ini tidak terlihat dalam garis keturunan anjing laut dan singa laut yang berbeda, misalnya yang berevolusi menjadi berbagai mode berenang dan memiliki kerangka postkranial yang tampak berbeda,” sambungnya.

Lumba-lumba dan paus memang saudara dekat yang merupakan bagian dari Ordo Cetacean. Sedangkan paus bergigi merupakan bagian dari Odontocetes yang merupakan turunan dari Cetacean.

Kerangka ini juga mengindikasikan Ankylorhiza kemungkinan menjadi Odontocete pertama yang memiliki kemampuan Echolocation dan bisa memburu mangsa berukuran besar maupun kecil.

"Kerangka tersebut juga menunjukkan bahwa Ankylorhiza mungkin adalah paus ekolokasi pertama yang menjadi predator puncak. Menurut para peneliti, spesies itu "sangat jelas memangsa mangsa bertubuh besar" membuka jalan bagi paus sperma pembunuh dan akhirnya orca untuk mengambil ceruk tertentu selama ribuan tahun.

Bukan hanya itu, dari kerangka tersebut menunjukkan bahwa dua jenis paus modern, melakukan banyak evolusi dari fitur yang sama secara paralel dan independen satu sama lain. Fakta ini berseberangan dengan keyakinan sebelumnya yang menyebut mereka mewarisi fitur leluhur mereka.

Spesies ini juga bisa berenang lebih cepat dari paus lainnya. Ini mengindikasikan bahwa Ankylorhiza merupakan salah satu Cetacean purba yang memegang peran ekologi seperti paus pembunuh.

"Paus dan lumba-lumba memiliki sejarah evolusi yang rumit dan panjang dan, sekilas, Anda mungkin tidak mendapatkan kesan itu dari spesies modern," kata Boessenecker.

"Catatan fosil telah benar-benar membuka jalan evolusi yang panjang dan berliku ini dan fosil seperti Ankylorhiza membantu menjelaskan bagaimana ini terjadi." tutupnya.


Para ilmuwan berhasil menemukan tiga spesies baru reptil terbang yang hidup di Sahara 100 juta tahun lalu.
Profesor David Martill, ahli paleontologi di University of Portsmouth, menemukannya bersama tim peneliti dari Maroko dan AS.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cretaceous Research ini mengungkapkan kelompok pterosaurus yang menghuni Maroko zaman prasejarah.

Seorang juru bicara universitas mengatakan: "Temuan baru tersebut menunjukkan bahwa pterosaurus Afrika sangat mirip dengan yang ditemukan di benua lain.

“Predator terbang ini melambung di atas dunia yang didominasi oleh predator, termasuk pemburu seperti buaya dan dinosaurus karnivora. Menariknya, herbivora seperti sauropoda dan dinosaurus ornithischia malah jarang ditemukan,” tambahnya.

"Banyak predator, termasuk pterosaurus bergigi, memangsa banyak ikan."

Martill berkata: “Kita berada di zaman keemasan untuk menemukan pterodactyl. Tahun ini saja kami telah menemukan tiga spesies baru, padahal ini masih bulan Maret.”

Pterosaurus baru, yang teridentifikasi dari bongkahan rahang dan gigi yang ditemukan di tengah Kem Kem Beds of Morocco, memiliki bentang sayap tiga hingga empat meter.

Juru bicara itu mengatakan: "Para nelayan udara ini menyambar mangsanya menggunakan satu set gigi besar, yang terlihat seperti pembunuh dan membentuk cengkeraman gigi yang sangat efektif.

"Pterosaurus besar seperti ini akan mampu mencari makan jarak jauh, mirip dengan burung masa kini seperti condor dan elang laut."


Rekor terbaru sebagai astronot penerbangan luar angkasa terlama berhasil dipecahkan oleh astronot NASA, Christina Koch, yang telah mendarat ke bumi bersama Komandan Soyuz, Alexander Skvortsov dari Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), dan Luca Parmitano dari ESA (Badan Antariksa Eropa). Setelah 328 hari di luar angkasa, ketiganya kembali ke bumi pada Kamis, 6 Februari 2020.

Ketiga astronot tersebut pulang dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada pukul 00.50 tengah malam Waktu Standar Timur (Amerika), dan melakukan pendaratan dengan pesawat Soyuz MS-13 pada 3.12 Waktu Kazakhstan di kota Dzhezkazgan, Kazakhstan.

Sebelumnya, Koch bertugas di luar angkasa sejak 14 Maret 2019, bersama astronot NASA Nick Hague, dan kosmonot Rusia, Alexey Ovchinin. Selama di luar angkasa, Koch telah menyelesaikan 5.248 kali orbit bumi dan perjalanan sejauh 139 juta mil.

Sedangkan Parmitano dan Skvortsov yang menemani Koch kembali ke Bumi, menyelesaikan 201 hari di angkasa, terhitung dari 21 Juli 2019.

Berdasarkan siaran pers NASA, misi Koch yang cukup lama di luar angkasa menjadi para peneliti untuk mengamati efek penerbangan luar angkasa yang panjang pada perempuan. 

Selain itu, penelitian tersebut juga berguna untuk mendukung pendaratan manusia ke bulan di masa depan, dan pengembangan NASA dalam pengetatan kelayakan pada astronotnya. 

Dari Kazakhstan, Koch dan Parmitano akan menaiki pesawat NASA untuk menuju Cologne, Jerman, untuk disambut direktur ESA. Selanjutnya, Koch akan melanjutkan kepulangannya ke Amerika Serikat. Sedangkan Skvortsov pulang ke Rusia menggunakan pesawat Pusat Pelatihan Kosmonot Gagarin.


Para peneliti belum pernah melihat kasus seperti ini. Mereka telah menemukan manusia purba pertama yang orangtuanya berasal dari dua pohon keluarga spesies yang berbeda.

Sang ibu merupakan manusia Neanderthal, sementara ayahnya adalah Denisovan – hominid misterius yang belum banyak diketahui (saat ini, manusia modern adalah satu-satunya jenis hominid yang mampu bertahan hidup).

Kerangka yang ditemukan arkeolog menunjukkan bahwa itu adalah milik anak perempuan berusia 13 tahun yang hidup 90 ribu tahun lalu.

Para ilmuwan berhasil mengungkap keturunan campurannya ketika menganalisis DNA di tulang jarinya. Penemuan ini menambah bukti bahwa berbagai kelompok hominid bersilang dengan sesamanya atau kelompok lain – bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Dalam waktu yang lama, para ilmuwan berpikir bahwa kelompok seperti Homo Sapiens, atau manusia modern, dan Homo neanderthalensis, atau Neanderthals, merupakan spesies terpisah yang tidak mampu menghasilkan keturunan yang layak.

Namun, setelah kini diketahui bahwa mereka bisa berpasangan satu sama lain, beberapa ilmuwan berpendapat, Neanderthal dan Denisovan sebenarnya adalah sub-populasi manusia modern. Hasil penelitian DNA menunjukkan bahwa manusia modern memiliki presentase kecil dari DNA Neanderthal atau Denisovan.

“Hal paling menarik, ini adalah bukti langsung,” kata Svante Pääbo, seorang ahli genetika molekuler yang memimpin penelitian terbaru tersebut.

Pääbo dan rekannya mempublikasikan penelitian mereka dalam jurnal Nature.

Pada 2010, Pääbo termasuk dalam tim yang menemukan DNA Denisovan di gua Siberia untuk pertama kalinya. Sejauh ini, gua tersebut merupakan satu-satunya tempat di mana DNA Denisovan pernah ditemukan.

Kerangka perempuan berusia 13 tahun yang memiliki darah campuran ini juga ditemukan di gua yang sama.

Melihat adanya pertukaran DNA, sangat mungkin bahwa Neanderthals dan hominid juga berbagai pengetahuan dan teknologi.

Penelitian lain yang dipublikasikan pada jurnal Nature, menunjukkan bahwa Neanderthal tahu cara menciptakan api sejak 50 ribu tahun lalu.


Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata benua? Pikiran Anda mungkin akan langsung tertuju pada 7 benua yang sudah pernah dipelajari di sekolah. Namun, tahukah Anda bahwa jutaan tahun lalu Bumi tidak terbagi menjadi benua-benua yang ada seperti sekarang? Pada masa itu hanya ada satu benua super besar bernama Pangea.

Kini, sebuah penelitian baru di Geophysical Research Letters yang diterbitkan Rabu, (11/4/2018) mengungkap adanya kemungkinan benua super besar ini terbentuk lagi di masa depan. Dengan menggunakan pemodelan statistik, para ilmuwan mengungkap bahwa dalam 250 juta tahun, masing-masing benua kita sekali lagi akan bergeser menjadi benua super tunggal yang dikelilingi oleh lautan.

Seperti yang kita tahu, posisi benua Bumi bergantung pada pergerakan, tenggelamnya, serta bergesernya lempeng tektonik. Selain itu, ukuran dan bentuk cekungan lautan juga mempengaruhi posisi benua.

Melalui studi baru itu, para peneliti menunjukkan bahwa pergerakan lempeng tektonik juga menentukan siklus pasang surut super (super tidal) yang mengendalikan kekuatan gelombang laut. Siklus panjang ini pada gilirannya, menciptakan perubahan dalam energi pasang surut (energi tidal) yang menurut para peneliti terkait dengan pembentukan benua super setiap 400 hingga 600 juta tahun.

"Simulasi kami menunjukkan bahwa saat ini gelombang itu sangat besar," kata Mattias Green, Oceanografer Universitas Bangor, Inggris dikutip dari Inverse, Rabu (11/04/2018).

"Jika gelombang melemah hingga 200 juta tahun yang lalu, lalu menjadi sangat energik selama dua juta tahun terakhir, kira-kira apa yang akan terjadi jika kita proyeksikan jutaan tahun di masa depan? Itu benar-benar adalah pertanyaan yang memotivasi kami," tambahnya.

Tertarik dengan hal tersebut, Green dan timnya menciptakan model yang menyimulasikan gerakan lempeng tektonik dan perubahan resonansi cekungan laut. Hal ini mereka lakukan untuk menjawab pertanyaan itu.

Dari analisis mereka kemudian menyimpulkan bahwa lautan akan melalui beberapa siklus pasang surut sebelum benua super berikutnya benar-benar terbentuk. Dan saat ini kita sedang berada pada tahap awal dari energi pasang surut maksimum dan gelombang laut diperkirakan akan bertahan selama 20 juta tahun lagi.

Akhirnya, lempeng Amerika Utara dan Eurasia akan menjauh, Samudara Atlantik akan berubah perlahan dan melebar. Jika pemodelan ini benar, maka dalam 50 juta tahun Asia akan terpecah, menyebabkan terbentuknya samudra baru. Ditambah lagi, dalam 100 juta tahun, Australia akan bergerak ke utara menuju ke bagian bawah Asia.

Ketika benua-benua bergabung menjadi satu, energi pasang surut akan menurun dan akhirnya lautan luas yang tenang akan mengelilingi benua super. Meski benua super baru akan terjadi dalam waktu jutaan tahun lagi. Informasi ini akan digunakan oleh para ilmuwan untuk mempelajari hubungan antara pasang surut dan kehidupan laut yang berkelanjutan.


Para arkeolog telah menemukan pedang berkarat abad pertengahan, atau pedang bermata satu yang digali di sebuah biara Kristen di Yunani utara. Pedang itu mungkin merupakan senjata mematikan yang digunakan oleh bajak laut Turki atau penjaga biara pada era Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman.

Penemuan pedang tersebut tidak biasa, karena senjata besi dari periode itu biasanya cepat berkarat. Gaya senjata ini juga tidak biasa. Meskipun pedang itu khas, para arkeolog tidak dapat memastikan dengan pasti siapa yang memegangnya, atau kapan.

Pedang bermata satu yang melengkung seperti itu ternyata juga diketahui digunakan oleh orang Turki dan Bizantium. Pedang seperti itu digunakan sekitar waktu serangan di abad ke-14, kata arkeolog Errikos Maniotis.

Pedang telah digunakan di tanah Turki selama berabad-abad. Misalnya, mereka digambarkan dalam manuskrip Seljuk bergambar dari abad ke-13 yang sekarang disimpan di Museum Istana Topkapi di Istanbul.

Maniotis adalah seorang kandidat doktor di Masaryk University di Brno di Republik Ceko, yang mempelajari pedang.

"Sulit untuk menentukan apakah pedang itu milik para pasukan Bizantium, atau mungkin milik (perampok) Turki," kata Maniotis kepada Live Science.

"Mereka keduanya menggunakan senjata serupa pada periode ini."

Penelitian oleh para arkeolog juga menunjukkan pedang seperti itu digunakan oleh tentara Bizantium. Mungkin mereka yang membantu mempertahankan biara dari serangan bajak laut Turki.


Ikon orang-orang kudus Bizantium dari abad ke-13 menggambarkan pedang bermata satu yang melengkung, dan diketahui bahwa tentara Bizantium menggunakan pedang itu sejak abad keenam, setelah menghadapi serangan saat melawan Avar nomaden dan Persia Sassanid, yang telah mengasimilasi mereka dari para pejuang stepa Eurasia.

Para arkeolog telah mengidentifikasi tiga aksi militer di abad ke-14 yang dapat menyebabkan penggunaan pedang di sana.

Yaitu serangan di sepanjang pantai oleh bajak laut Turki, yang mencakup penculikan pada tahun 1344 administrator dari biara Gunung Athos.

Kemudian pendudukan wilayah tersebut dari tahun 1345 hingga sekitar tahun 1371 oleh pasukan raja Serbia Stefan Dušan, yang bercita-cita untuk menaklukkan wilayah Bizantium di Barat.

Dan pengepungan Tesalonika oleh pasukan Kesultanan atau Kekaisaran Utsmaniyah dari tahun 1383 hingga 1387, ketika wilayah Chalkidiki sering diserbu karena perebutan sumber makanan.

Chaldiki yaitu wilayah yang juga disebut Chalcidice. Berada sekitar 40 mil (64 kilometer) tenggara kota Thessaloniki di pantai barat laut Laut Aegea.

Maniotis bekerja sama dengan Theodoros Dogas, seorang arkeolog untuk Ephorate of Antiquities of Chalcidice dan Mount Athos. Lembaga tersebut merupakan badan arkeologi pemerintah wilayah tersebut.

"Pedang itu bisa berasal dari salah satu dari setidaknya tiga peristiwa militer yang terjadi di wilayah itu pada abad ke-14," kata Maniotis dan Dogas.

Catatan sejarah menyebutkan sebuah biara di situs tersebut setidaknya dari abad ke-11. Meskipun tidak diketahui apakah itu independen atau metochi -sebuah "gereja kedutaan" dari biara Gunung Athos, sebuah bangunan kuat di paling timur semenanjung Chalkidiki.

Para arkeolog secara singkat menggali situs tersebut pada tahun 2000 dan 2001, ketika pedang bermata satu itu ditemukan. Tetapi penggalian tahun ini telah menetapkan bahwa biara itu dikelilingi oleh dinding kokoh yang terbuat dari batu granit setebal 5,5 dan 6 kaki (1,7 hingga 2 meter).

Biara dan gereja yang dibangun dengan baik seperti itu sering digunakan sebagai tempat perlindungan lokal selama serangan, seperti serangan bajak laut.


Pusat-pusat gerejawi ini mungkin juga memiliki kekayaan mereka sendiri, seperti barang-barang keagamaan yang terbuat dari emas. Dan sering kali menyimpan persediaan biji-bijian.

Faktanya, para arkeolog telah menemukan biji-bijian biji-bijian di tingkat bawah menara di biara. Penelitian menunjukkan bahwa menara itu dulunya jauh lebih tinggi. Ada bukti bahwa struktur itu rusak parah akibat kebakaran di beberapa titik.

Senjata, termasuk kapak, panah, dan pedang bermata satu, ditemukan di lapisan arkeologi yang sama dengan kerusakan akibat kebakaran.

"Ini adalah bukti yang membawa kita untuk menyimpulkan bahwa menara dihancurkan oleh api yang kuat setelah serangan," tulis para peneliti.

Para arkeolog juga menemukan sejumlah besar bejana tembikar berlapis kaca, terutama dari abad ke-14, di lapisan yang sama.

Maniotis tidak bisa mengatakan dengan pasti asal pedang itu, tapi dia pikir pedang itu mungkin berasal dari Turki. Hampir 18 inci (45 sentimeter) bilah pedang tetap utuh, tetapi tidak cukup untuk menentukan dari bentuknya saja apakah itu berasal dari Turki atau Bizantium.

"Tapi itu memiliki sejarah penting dalam hal apapun," tulis para peneliti.

Pedang itu mungkin salah satu dari sedikit pedang dari era Kesultanan Utsmaniyah yang ditemukan di Yunani. Penemuan pedang dan artefak lain dari penggalian akan menjadi subjek makalah penelitian yang akan datang, kata Maniotis dan Dogas.


Awalnya, para ilmuwan tidak mengetahui jenis gurita ini ketika mereka mengambil telurnya dari laut. Namun, saat mulai menetas, terlihat telinganya yang seperti gajah.

Cephalopoda yang menggemaskan ini dikenal dengan sebutan gurita dumbo (genus Grimpoteuthis). Namanya diambil dari tokoh gajah terbang di film produksi Disney, Dumbo. Alasannya karena gurita ini mudah dikenali dari sirip lebar miliknya yang berada di samping kepala – persis seperti telinga gajah.

Sirip tersebut digunakan gurita dumbo untuk berenang di laut dalam.

Pada sebuah video yang dipublikasikan para ilmuwan dari National Oceanic and Atmospehric Administration (NOAA), terlihat gurita dumbo yang baru lahir, berenang untuk pertama kalinya dalam sebuah cawan berisi air.

Mantel tipisnya – cangkang bulat di atas tentakel di mana organ internal gurita dumbo berada – berukuran 0,5 inci atau 13 milimeter. Pindai MRI dan rekonstruksi 3D dari bayi gurita dumbo ini menunjukkan bahwa ia lahir dengan semua yang dibutuhkan untuk berenang dengan sirip, merasakan sekelilingnya dan menangkap mangsa.  

Bayi tersebut bahkan memiliki kantong kuning besar yang mengandung nutrisi. Cukup untuk menjaganya tetap hidup selama beberapa hari setelah menetas – ketika ia belum bisa mendapatkan makanannya sendiri.

“Eksplorasi visual dan rekonstruksi 3D anatomi makhluk bawah laut ini sangat menakjubkan. Saya terkesan dengan kompleksitas sistem saraf pusat, ukuran sirip, dan cangkangnya,” kata Alexander Ziegler, peneliti di Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn.

Para ilmuwan menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh untuk mengumpulkan telur-telur di terumbu karang Atlantik -- sekitar 1,2 mil (2000 meter) di bawah permukaan laut.

Menurut Aquarium of The Pacific, gurita dumbo biasanya tinggal di dasar samudra dengan kedalaman 3000 hingga 4000 meter. Bahkan, ada juga yang tinggal di kedalaman 7000 meter.




 


Di lokasi di bagian tengah Mars, para ilmuwan telah menemukan lapisan es yang terkubur hanya beberapa meter di bawah permukaan planet merah. Temuan ini menambah detail krusial pada sejarah geologi Mars, dan mungkin menentukan bagaimana manusia masa depan di Mars mendapatkan air.

“Ini adalah jendela baru menuju es bawah tanah di Mars,” kata Colin Dundas, ahli geologi dari Geological Survey Amerika Serikat yang menjadi salah satu penemu lapisan es.

Para ilmuwan telah lama berteiru bahwa persediaan air dalam bentuk es terkunci di bawah tanah Mars. Pada 2002, misi Odyssey NASA memindai planet tersebut dari orbit dan mendeteksi tanda-tanda es bawah tanah yang cukup dangkal di garis lintang tinggi. Sementara pada 2008, misi Phoenix NASA menggali es di situs pendaratannya di dekat kutub utara Mars.

Baca juga: Laut Purba di Mars Simpan Petunjuk Asal Mula Kehidupan di Bumi

Pada akhir 2016 lalu, dengan menggunakan Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) para ilmuwan menemukan lapisan es dengan air setara Danau Superior terkubur di garis lintang Mars. Namun sampai penelitian Dundas yang diterbitkan Kamis (11/1/2018) di jurnal Science, para ilmuwan kesulitan untuk memahami luas dan aksesibilitas lapisan es bawah permukaan Mars.

Delapan situs yang ditampilkan dalam studi baru ini mencakup tebing curam
mirip potongan kue
yang terdampak erosi sehingga menampilkan lapisan bebatuan dan es yang bisa dilihat MRO dari atas. Lapisan es pertama terlihat antara 0,9 meter sampai dengan 1,8 meter di bawah tanah. Hal ini menurut Dundas, mendukung gagasan bahwa pertengahan garis lintang Mars secara berkala mengalami hujan salju besar jutaan tahun silam, ketika Mars miring pada porosnya dengan sudut yang lebih curam daripada sekarang.

“Ini merupakan gambar-gambar luar biasa yang menangkap es di bawah permukaan yang diprediksi oleh teori,” ujar ilmuwan planet di Caltech, Bethani Ehlmann, yang tak terlibat dalam studi.

“Selain itu, kita mungkin juga bisa mengeluarkan es untuk mengetahui perubahan iklim di Mars baru-baru ini, seperti yang kita lakukan di Bumi.”

Penemuan ini juga bisa mempengaruhi bagaimana astronaut masa depan—yang suatu hari mungkin akan mendarat di garis lintang tengah Mars—melepaskan dahaga mereka.

Misi manusia ke Mars cenderung bergantung pada mengekstrak air dari lingkungan lokal, atau memanggangnya dari mineral terhidrasi, maupun menambangnya dari endapan es. Manusia kemudian dapat meminum air tersebut atau memecahnya menjadi hidrogen dan oksigen, yang kemudian dapat digunakan untuk membuat udara untuk bernafas, dan metana untuk bahan bakar roket.

Studi NASA pada tahun 2016 dengan jelas menyatakan, satu sendok es mungkin menghasilkan lebih banyak air ketimbang satu sendok mineral, tetapi jika untuk mendapatkan es ini kita perlu menggali lapisan batu hingga 9 meter, tentu opsi ini tidak efisien. Gambar-gambar di atas telah mengubah persepsi, bahwa ternyata, lapisan es tersedia hanya beberapa meter di bawah permukaan planet.

“Itu terlihat lebih menggembirakan karena es dapat tersedia di kedalaman yang cukup dangkal, sehingga bisa digunakan sebagai sumber daya bagi misi manusia ke Mars,” ujar Angel Abbud-Madrid, direktur Center for Space Resources di Colorado School of Mines.


Berabad-abad yang lalu, hubungan ayam dan manusia tidak seperti di zaman sekarang, ayam menjadi makanan paling populer di dunia. Para peneliti telah menemukan bahwa ayam bukanlah hidangan bagi manusia saat itu, ayam dipuja dan dimuliakan karena ayam dianggap eksotis.

Ayam peliharaan pertama yang dijinakkan bukanlah ayam yang besar seperti di zaman sekarang. Ukurannya sekitar sepertiga ayam modern dengan warnan yang mencolok. Karena ayam-ayam memiliki suara yang khas sehingga orang-orang memandangnya sebagai hal baru, menarik, dan misterius daripada dianggap sebagai makanan.

Faktanya, kira-kira 500 tahun telah berlalu antara saat ayam pertama kali tiba di Eropa, dan saat ayam mulai digunakan secara luas sebagai makanan. Dengan kata lain, makan ayam di Eropa tengah pada 500 SM, mungkin setara dengan memakan burung beo besar hari ini.

"Ayam, pada awalnya, adalah hal yang menakjubkan,” kata rekan penulis studi Greger Larson, direktur jaringan penelitian paleogenomik dan bio-arkeologi di Oxford University di Inggris.

Sementara orang-orang saat ini berebut untuk mendapatkan "apa pun yang dimiliki keluarga Kardashian," ribuan tahun yang lalu "itu pasti seekor ayam," kata Larson kepada Live Science. "Itulah yang diinginkan semua orang."

Sekitar 80 juta ayam (Gallus domesticus) ada di Bumi saat ini. Di Amerika ayam khas yang dibesarkan untuk diambil dagingnya hanya akan hidup enam minggu sebelum disembelih, dan ayam petelur mungkin akan hidup selama dua hingga tiga tahun.

Akan tetapi sebelum ada ayam peliharaan, manusia mengenal nenek moyang liar mereka, yaitu ayam hutan merah (Gallus domesticus) dari Asia Tenggara. Di mana ayam-ayam itu membuat ceruk makan buah dan biji-bijian, terutama di hutan bambu yang lebat.


Kisah bagaimana ayam hutan ini menjadi salah satu makanan paling populer di Bumi memiliki asal-usul yang sulit. Itu karena penelitian arkeologi di Asia Tenggara yang berhutan lebat sangat menantang, dan para arkeolog tidak selalu memperhatikan artefak kecil seperti tulang ayam.

"Terlebih lagi, tulang ayam dengan mudah tenggelam ke dalam tanah atau terganggu oleh penggalian mamalia, konstruksi manusia, dan gangguan lainnya," kata rekan penulis studi Joris Peters, seorang ahli arkeolog di Ludwig Maximilian University of Munich.

Manusia dan ayam mungkin telah dikaitkan hanya sekitar 3.500 tahun. Sekitar 1500 SM, orang-orang di Asia Tenggara mulai menanam padi dan millet secara kering, sebuah proses yang melibatkan pembukaan area hutan dan penanaman ladang dengan biji-bijian sekaligus.

Itu akan menarik ayam hutan merah, dan orang-orang mungkin menganggap burung berwarna-warni ini sangat menawan. "Mereka sangat mudah ditoleransi, dan mereka sangat menawan," kata Larson.

Saat ayam hutan bergantung pada manusia untuk makanannya, proses domestikasi dimulai. Sekitar 1000 SM, ayam hutan kemudian dipelihara.

Ayam kemudian menyebar ke Tiongkok tengah, Asia Selatan, dan Mesopotamia, mungkin di sepanjang rute perdagangan yang mirip dengan Jalur Sutra, yang akan menjadi lebih banyak dikunjungi sekitar tahun 200 SM.

Suatu saat antara sekitar 800 SM dan 700 SM, ayam mencapai Tanduk Afrika sebagai bagian dari perdagangan maritim yang berkembang. Pelaut Yunani, Etruscan, dan Fenisia mungkin menyebarkan ayam ke seluruh Mediterania.


Ayam tiba di Italia sekitar 700 SM dan berhasil sampai ke Eropa tengah antara sekitar 400 SM dan 500 SM. Menariknya, banyak kerangka ayam yang ditemukan di Eropa antara tahun 50 SM hingga 100 M.

Di zaman itu, ayam dikaitkan dengan penguburan. Laki-laki sering dikubur dengan ayam jantan, dan wanita dengan ayam betina, dan ayam-ayam ini kemungkinan penting bagi orang-orang dengan siapa mereka dikuburkan.

Namun, menurut Larson, kemudian 'keakraban melahirkan penghinaan'. Ayam tidak lagi dianggap eksotis dan dihormati. Alih-alih dipuja dan dimuliakan, ayam mulai dipelihara untuk diambil telurnya.

Pada zaman Kekaisaran Romawi, telur sangat populer sebagai makanan ringan di stadion. Bukti pertama konsumsi ayam secara luas di Inggris yang dikuasai Romawi berasal dari sekitar abad pertama Masehi.

Menurut Larson, tidak jelas bagaimana pergeseran itu terjadi. Akan tetapi mungkin saja memiliki ayam selama berabad-abad membuat manusia mengevaluasi kembali hubungan mereka.

"Arkeologi masa depan kemungkinan akan membantu menyempurnakan sejarah ayam," kata Larson. "Terutama di Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik."


Jejak sauropoda, dinosaurus pemakan tumbuhan, telah digali di Pegunungan Jura, Prancis. Kumpulan jejak kaki yang membentang hingga sepanjang 155 meter ini merupakan jejak sauropoda terpanjang yang pernah diketahui.

Jejak dinosaurus tersebut terletak kurang dari 1 km di sebelah barat Desa Plagne, Departemen Ain, Pegunungan Jura di selatan Prancis. Jejak tersebut ditemukan oleh Société des Naturalistes d\'Oyonnax, kelompok geolog amatir yang berfokus pada Era Jura sejak 2009.

Tim ahli paleontologi dari Paléoenvironnements et Paléobiosphère research unit di Claude Bernard Lyon 1 University kemudian mengkonfirmasi panjang bentangan jejak kaki itu. Hasilnya, dengan bentangan sejauh 155 meter, jejak kaki dinosaurus sauropoda ini memang menjadi yang terpanjang di dunia, mengalahkan jejak kaki sauropoda yang ada di Galinha, Portugall. Laporan studi mereka kemudian diterbitkan dalam jurnal Geobios edisi Agustus 2017.

Jalur jejak tersebut terdiri dari 110 langkah berturut-turut, dan umumnya terpelihara dengan baik. Diameter satu jejak kakinya sekitar 1-3 m.

Jejak tersebut juga mengungkap lima jari eliptikal yang tersusun mengelilingi telapak kaki.

Sauropoda, yang membuat jejak-jejak tersebut, merupakan dinosaurus berleher panjang yang hidup sekitar 150 juta tahun lalu. Masa itu disebut Tithonian, atau era terakhir dari Zaman Jura Akhir.

"Rekonstruksi paleogeografi di Eropa Barat untuk tahap ini menunjukkan pemandangan kepulauan, di mana pulau-pulau yang muncul terkadang saling terhubung saat permukaan laut surut. Hal tersebut memungkinkan ekspansi atau migrasi fauna," tulis para peneliti.

Analisis biometrik menunjukkan bahwa dinosaurus sauropoda dari wilayah Plagne, Prancis, setidaknya memiliki tubuh sepanjang 35 meter, berat antara 35-40 ton, lebar langkah rata-rata 2,8 m, dan berjalan dengan kecepatan 4 km/jam.

"Situs jejak kaki baru ini, bersama situs lain era Jurasik Awal di Swiss dan Prancis yang menyimpan ribuan jejak kaki sauropoda dan theropoda, dapat dianggap sebagai mega situs jejak dinosaurus terbesar di Eropa," pungkas para ahli.


Baru-baru ini, para ilmuwan menggunakan teknologi baru untuk mengetahui cara makan yang dimiliki oleh beberapa hiu.

Seperti yang diketahui, hiu tidak memiliki lidah untuk membantu mereka menelan makanan. Namun, penemuan baru mengungkapkan bahwa hiu mengangkat kedua bahu
—bagian atas sirip dada
mereka untuk memasukkan mangsa ke dalam perut.

Perilaku tersebut ditemukan pertama kali oleh para ilmuwan yang menggunakan gambar sinar-X yang mutakhir. Gambar tersebut menunjukkan bahwa hiu bambu mengayunkan bahu ke dalam saat mereka makan.

Dengan menarik sabuk-sabuk pektoral—kumpulan tulang pada rangka apendikular yang menyokong alat gerak atas—mereka, hiu bambu melakukan sebuah isapan untuk menarik makanan melalui bagian belakang mulut, yang selanjutnya akan diteruskan ke saluran pencernaan.

Penemuan ini disampaikan oleh Ariel Camp, peneliti dari Brown University dan penulis utama studi tersebut—yang dipublikasikan dalam Proceedings B, sebuah jurnal Royal Society.

Artikel terkait: Gemar Makan Rumput, Hiu Ini Buat Ilmuwan Kebingungan

Hiu bambu adalah penghuni terumbu karang yang dapat ditemukan di seluruh Samudera Hindia. Hiu ini berukuran kecil—dengan panjang antara 24 dan 37 inci—dan sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mencari mangsa.

Teknik makan dengan mengisap digunakan oleh banyak hiu dan ikan lainnya untuk melahap mangsa. Dengan menggunakan otot di dalam tubuh, hiu bambu membuka mulut lebar-lebar dan melahap mangsa dengan mengisapnya.

Meskipun hiu menggunakan sirip dada mereka untuk berenang dan memposisikan diri di atas mangsa, fungsi sabuk pektoral masih saja dipertanyakan.

Pada ikan bersirip, seperti ikan lele, sabuk pektoral melekat pada tengkorak dan ditarik saat pengisapan terjadi.

Namun, dalam hiu, sabuk pektoral terpisah dari rahang dan bagian kepala lainnya. Para ilmuwan pun penasaran dan menyelidiki lebih jauh, apa fungsi sabuk pektoral saat hiu sedang makan.

“Kami menyebutnya sebagai ‘lidah hidrodinamik’, yang mampu mengendalikan gerak cairan di dalam mulut untuk memanipulasi makanan,” tambahnya.

Hal ini bermakna bahwa hiu bambu menggunakan bahu mereka untuk mengambil makanan dan menggunakan sirip paling depan sebagai penggerak.

Meneliti hiu

Untuk mengamati perilaku ini, Camp dan dan rekan-rekannya dari Brown University, University of Alaska di Anchorage, dan University of Illinois menggunakan teknologi X-ray Reconstruction of Moving Morphology (XROMM).

Teknologi ini digunakan untuk mengamati bagaimana tiga hiu bambu berbintik putih itu memakan potongan cumi dan haring—ikan kecil di laut lepas yang menjadi makanan para predator besar.

Sistem ini menggabungkan CT scan kerangka hiu berkecepatan tinggi dengan gambar X-ray beresolusi tinggi. Dibantu dengan spidol logam implan yang kecil, diharapkan visualisasi tiga dimensi mengenai gerakan tulang otot hewan dan manusia dapat tergambarkan dengan tepat.

Menurut Camp, animasi XROMM sangat penting dalam penelitian ini, mengingat studi sebelumnya yang belum berhasil mengidentifikasi fungsi sabuk pektoral. “XROMM memungkinkan kita untuk benar-benar mengetahui bagaimana kinerja sabuk pektoral pada hiu ini,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Camp, teknologi baru ini memungkinkan para peneliti untuk mengukur “ayunan mengejutkan” di bahu ketiga hiu saat memakan mangsa. Hanya sepersekian detik setelah mulut tertutup, tulang rawan berputar cepat ke belakang (dari kepala ke ekor) sekitar 11 derajat.

“Yang pasti, penulis membuat kasus yang kuat mengenai dualitas sabuk pektoral pada spesies ini,” kata Phillip Motta, profesor biologi di University of South Florida yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Namun, kita masih belum tahu bagaimana makanan masuk ke kerongkongan dan turun ke pencernaan”, tambahnya.

Menurut Motta, pada pemakan dengan teknik isap seperti hiu bambu dan hiu perawat, sebenarnya makanan telah masuk ke dalam mulut saat mulut terbuka lebar.

Pendapat ini bertentangan dengan penelitian baru yang beranggapan bahwa hiu bambu menggerakkan sabuk pektoral mereka untuk membantu memindahkan makanan dari mulut ke kerongkongan.

Motta menambahkan, tidak ada bukti yang jelas bahwa gerakan sabuk tersebut membantu hiu “mengisap” makanan mereka.

Meskipun hiu bambu adalah satu-satunya spesies yang diamati selama penelitian ini, tidak menutup kemungkinan bahwa hiu pengisap lainnya juga menggerakkan bahu mereka dengan cara ini.

Penelitian baru ini juga dapat menjelaskan bagaimana sabuk pektoral berevolusi pada ikan hiu dan ikan lainnya dari waktu ke waktu.

Camp mengatakan, sabuk tersebut muncul dalam rekaman fosil pada waktu rahang ikan berevolusi, meskipun para ilmuwan sendiri tidak yakin dengan perubahan yang terjadi.

Mempelajari sabuk pektoral pada hewan hidup dapat membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana sabuk tersebut berfungsi dan berevolusi pada ikan yang telah dan sedang punah.

Para peneliti juga dapat memahami bagaimana struktur kerangka ikan yang berevolusi dapat membantu menjelaskan kemampuan hewan tersebut dalam mencapai tanah.

Kami berharap, penelitian ini dapat mendorong peneliti lain untuk memeriksa kembali struktur dan evolusi sabuk pektoral dari perspektif baru," kata Camp.

Camp menambahkan, pengamatan gerakan sabuk pektoral pada hiu bambu hanyalah langkah awal. Masih banyak tugas bagi para peneliti untuk memahami gerakan sabuk tersebut pada hiu dan ikan lainnya.


Setelah rilis gambar pertama dari Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA beberapa waktu lalu, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali merilis gambar pertama Jupiter dan bulan Europa. Gambar tersebut menghasilkan gambar dan spektrum dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Data tersebut mencakup gambar Jupiter dan gambar serta spektrum beberapa asteroid. Gambar itu diambil untuk menguji instrumen teleskop sebelum operasi sains secara resmi dimulai.

Dari gambar Jupiter ini, kita akan mengenali beberapa fitur akrab dari planet besar tata surya kita dalam gambar yang terlihat melalui pencitraan inframerah Webb.

Pemandangan dari filter gelombang pendek instrumen NIRCam menunjukkan pita berbeda yang mengelilingi planet ini serta Bintik Merah Besar, badai yang cukup besar untuk menelan Bumi. Bintik ikonik tampak putih dalam gambar ini karena cara gambar inframerah Webb diproses.

"Dikombinasikan dengan gambar-gambar lapangan dalam yang dirilis tempo hari, gambar-gambar Jupiter ini menunjukkan pemahaman penuh tentang apa yang dapat diamati Webb," kata Bryan Holler, seorang ilmuwan di Space Telescope Science Institute di Baltimore, yang membantu merencanakan pengamatan ini dalam rilis NASA.

Terlihat jelas di sebelah kiri adalah Europa, bulan dengan kemungkinan lautan di bawah kerak esnya yang tebal, dan target misi Europa Clipper NASA yang akan datang.

Terlebih lagi, bayangan Europa dapat dilihat di sebelah kiri Bintik Merah Besar. Bulan-bulan lain yang terlihat dalam gambar-gambar ini termasuk Thebe dan Metis.


"Saya tidak percaya bahwa kami melihat semuanya dengan sangat jelas, dan betapa terangnya mereka," kata Stefanie Milam, wakil ilmuwan proyek Webb untuk ilmu planet yang berbasis di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.

"Sangat menarik untuk memikirkan kemampuan dan peluang yang kita miliki untuk mengamati objek semacam ini di tata surya kita."

Para ilmuwan sangat ingin melihat gambar-gambar ini. Itu karena adalah bukti bahwa Webb dapat mengamati satelit dan cincin di dekat objek tata surya yang terang seperti Jupiter, Saturnus, dan Mars.

Para ilmuwan akan menggunakan Webb untuk mengeksplorasi pertanyaan menarik apakah kita dapat melihat gumpalan material yang keluar dari bulan seperti Europa dan bulan Saturnus Enceladus. Webb mungkin dapat melihat tanda-tanda gumpalan yang menyimpan material di permukaan Europa.

"Saya pikir itu hanya salah satu hal paling keren yang dapat kita lakukan dengan teleskop di tata surya ini," kata Milam.

Selain itu, Webb dengan mudah menangkap beberapa cincin Jupiter, yang terutama menonjol dalam gambar filter panjang gelombang panjang NIRcam. Bahwa cincin itu muncul di salah satu gambar tata surya pertama Webb adalah "benar-benar mencengangkan dan menakjubkan," kata Milam.

"Gambar Jupiter di filter pita sempit dirancang untuk memberikan gambar yang bagus dari seluruh piringan planet ini," kata John Stansberry, ilmuwan observatorium dan pemimpin komisi NIRCam di Space Telescope Science Institute.


"Tetapi banyak informasi tambahan tentang objek yang sangat redup (Metis, Thebe, cincin utama, kabut) dalam gambar dengan kira-kira eksposur satu menit benar-benar kejutan yang sangat menyenangkan,"

Webb juga memperoleh gambar Jupiter dan Europa yang bergerak melintasi bidang pandang teleskop dalam tiga pengamatan terpisah. Tes ini menunjukkan kemampuan observatorium untuk menemukan dan melacak bintang pemandu di sekitar Jupiter yang terang.

Namun seberapa cepat sebuah objek bisa bergerak dan masih bisa dilacak oleh Webb? Ini adalah pertanyaan penting bagi para ilmuwan yang mempelajari asteroid dan komet.

Webb dirancang dengan persyaratan untuk melacak objek yang bergerak secepat Mars, yang memiliki kecepatan maksimum 30 miliarcdetik per detik. Selama commissioning, tim Webb melakukan pengamatan terhadap berbagai asteroid. Semuanya tampak seperti titik karena semuanya kecil.

Tim membuktikan bahwa Webb masih akan mendapatkan data berharga dengan semua instrumen sains untuk objek yang bergerak hingga 67 miliarcdetik per detik. Itu lebih dari dua kali garis dasar yang diharapkan. Mirip dengan memotret kura-kura yang merangkak saat Anda berdiri satu mil jauhnya.

"Semuanya bekerja dengan cemerlang," kata Milam.