Showing posts with label fosil. Show all posts
Showing posts with label fosil. Show all posts


Astronom Denison Olmsted dibangunkan oleh tetangganya pada 13 November 1833. Mereka menyaksikan keanehan langit malam yang dipenuhi bintang jatuh, 72.000 atau lebih setiap jamnya.

Itu adalah hujan meteor yang kita sebut sebagai Leonids. Akan tetapi, pada saat itu tidak ada yang tahu apa sebab munculnya atau dari mana meteor itu berasal. 

Karena jumlah bintang jatuh yang memenuhi langit mencapai 20 per detiknya, Olmsted melihat dengan jelas pola yang luput dari pengamatan para astronom lain.

"Olmsted menyadari untuk pertama kalinya bahwa mereka datang dari satu titik, yang pertama dia sebut pancaran," kata Mark Littman dari University of Tennessee di Knoxville kepada National Geographic. 

Para astronom saat ini masih menggunakan pancaran untuk menamai hujan meteor: Leonid diambil dari asal-usulnya yakni di konstelasi Leo, Singa.

Tetapi Olmsted tidak berhenti dengan penemuan itu. Saat fajar menyinari langit dan meteor hilang dari pandangan, Olmsted bergegas masuk dan memberikan laporan singkat tentang badai meteor untuk surat kabar New Haven Daily Herald.

"Karena penyebab 'bintang jatuh' tidak dapat dipahami oleh ahlu meteorologi, diharapkan untuk mengumpulkan semua fakta terkait dengan fenomena ini, yang dinyatakan dengan ketepatan," tulis Olmsted kepada pembaca. 


Tanggapan berdatangan dari banyak negara bagian, bersama dengan pengamatan para ilmuwan yang dikirim ke American Journal of Science and Arts.

"Ini adalah momen penting dalam jurnalisme sains Amerika, benar-benar dalam jurnalisme sains di seluruh dunia," kata Litmman. "Sampai saat itu, surat kabar sebagian besar adalah kain politik, penuh dengan opini, tapi di sini mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan tanpa perasaan melaporkan meteor, menenangkan bahwa itu bukanlah 'the end of the days'."

Tanggapan tersebut mendorong Olmsted untuk membuat serangkaian terobosan ilmiah. Temuannya telah mengakhiri cengkeraman filsuf Yunani, Aristoteles selama 2.200 tahun tentang penjelasan meteor. Sang filsuf itu melihatnya sebagai gelembung gas melayang tinggi ke langit dan menyala.

Ilmu bintang jatuh berhutang banyak pada peristiwa ini karena adanya laporan sains dari masyarakat.

Dari pengmatan laporan yang diterima Olmsted menunjukkan bahwa hujan meteor terlihat secara nasional dan jatuh daru luar angkasa di bawah pengaruh gravitasi. Ini juga mencatat bahwa hujan telah muncul sebelumnya dalam siklus tahunan, sesuatu yang tidak diketahui para ilmuwan, tetapi tidak bagi petai Eropa, selama berabad-abad.

Olmsted menyadari bahwa meteor pasti menabrak atmosfer bumi dari luar angkasa. Dia memperkirakan kecepatannya sekitar 4 mil per detik, yang menurutnya sangat cepat. Karena dia tidak menyadari bahwa gesekkan, alih-alih pembakaran konvensional, yang menembakkan bintang jatuh. Olmsted menghitung ukurannya sangat besar hingga satu mil lebarnya, bukan partikel debu komet seukuran jarum.


Olmsted mencoba memperkirakan ketinggian meteor itu. Caranya, dia melakukan triangulasi ketinggian bola api dengan pengamat ilmiah lain di New York, yakni pada ketinggian 30 hingga 50 mil. 

Dia juga menduga bahwa hujan meteor itu berasal dari sebuah benda dengan orbit yang sangat memanjang mengelilingi matahari. Namun demikian, baru pada 1867 para astronom membuat hubungan antara meteor dan debu di sepanjang ekor komet, yang menghubungkan jejak komet Tempel-Tuttle ke Perseids.

Setiap 30 tahun atau lebih, terutama pada 1966, Leonids telah menghasilkan hujan yang sangat kuat sebagai pengingat peristiwa 1833. Meskipun demikian, intensitasnya telah menurun karena awan ekor komet yang menghasilkan meteor telah menipis dari waktu ke waktu.

Jejak empat bangunan yang berasal dari abad keempat belas hingga ketujuh belas ditemukan selama berlangsungnya proyek perbaikan jalan di Skotlandia selatan. Bangunan-bangunan rumah tersebut merupakan bagian dari permukiman sebuah desa yang diubah menjadi taman pada abad kedelapan belas oleh Duke of Hamilton.

The Scotsman memberitakan, bekas empat bangunan itu ditemukan di dekat area Netherton Cross dekat Bothwell, North Lanarkshire, Skotlandia. Tembikar, pecahan panci dan mangkuk masak, pipa tembakau dari tanah liat, potongan mainan, dan bukti pengerjaan logam yang didapatkan dari situs tersebut menjadikan temuan ini sebagai penemuan yang "luar biasa".

Di tingkat fondasi salah satu bangunannya, tim peneliti menemukan lingkaran poros, batu asahan, dua koin abad ketujuh belas, dan belati besi. Belati yang dibuat di Zaman Besi itu diyakini disimpan sebagai bagian dari ritual untuk melindungi struktur bangunan dan penghuninya dari bahaya, menurut Dr. Natasha Ferguson, arkeolog dari Guard Archaeology, seperti dilansir Archaeology magazie.

Natasha Ferguson yang menulis laporan penemuan tersebut mengatakan, “Kualitas khusus atau jimat dari belati ini sebagai objek pelindung mungkin telah meningkatkan tindakan ritual untuk melindungi rumah tangga dari bahaya duniawi dan magis."

"Penempatan benda-benda ini di bawah lantai dasar salah satu rumah mungkin dimaksudkan untuk menegaskan ruang ini sebagai tempat aman bagi mereka dan generasi yang akan datang," beber Ferguson, seperti diberitakan The Scotsman.


Praktik meninggalkan benda-benda khusus di bangunan abad pertengahan dan pasca abad pertengahan telah banyak terdokumentasikan dengan baik. Terkait praktik tersebut, diyakini bahwa ritual semacam itu akan melindungi bangunan dan penghuninya. Laporan tersebut menemukan bahwa objek-objek yang "sengaja dipilih" itu memang telah sengaja ditempatkan di properti tersebut.

Dipercaya bahwa lingkaran spindel, percahan mainan, dan batu asahan mungkin mewakili hubungan personal dengan seorang individu, aktivitas, atau tempat yang akan membuatnya istimewa bagi penghuninya.

Laporan itu menambahkan, "Potensi keunikan belati sebagai benda prasejarah ini mungkin memberikan kualitas keanehan. Penggunaan kembali benda-benda prasejarah sebagai pengendapan dalam pengaturan abad pertengahan telah dicatat dalam penggalian gereja-gereja abad pertengahan di Inggris, dan panah batu secara tradisional diidentifikasi sebagai 'elf-bolts' dan lama dikenal karena sifat magis jahat mereka."

Dr. Gemma Cruickshanks, dari Museum Nasional Skotlandia mengatakan tampaknya belati itu tertutup sarung pada saat dikuburkan.

“Itu mungkin utuh dan masih bisa digunakan pada saat itu. Bentuk belati ini tidak bisa dibedakan dari contoh-contoh Zaman Besi, menandakan bentuk belati yang sederhana ini memiliki sejarah yang sangat panjang,” ujar Cruickshanks.

Bukti peleburan besi, pemurnian, dan kemungkinan praktik pandai besi juga ditemukan, bersama dengan bekas kegiatan pemilihan paku di situs tersebut.

Permukiman tempat berdirinya empat bangunan itu berada dekat dengan Netherton Cross abad ke-10, patung salib simbol kekristenan di Hamilton. Di area ini sekarang berdiri Gereja Paroki Tua Hamilton (Hamilton Old Parish Church).

Area Netherton Cross itu berjarak sekitar 1 kilometer dari Jembatan Bothwell, tempat pertempuran tahun 1679 yang mengakhiri pemberontakan Covenanter di Skotlandia.

“Sangat mungkin masyarakat terkena dampak konflik, baik yang menderita kerusakan harta benda atau sebagai saksi jalur pasukan Covenanter,” kata laporan itu.

Wilayah pinggiran atau desar Netherton lenyap pada abad ke-18 karena adanya perbaikan pada perkebunan oleh Duke of Hamilton, dengan taman yang tertata rapi dan simetris dibangun sebagai gantinya. Jalan raya kemudian juga dibangun di sekitar wilayah tersebut. Pembangunan jalan raya ini menggusur bangunan-bangunan lama desa dengan empat bangunan batu tua yang ditemukan itu sebagai jejak terakhir permukiman tersebut.


 White Lotus Society dalam bahasa Tionghoa disebut sebagai Bai Lian Jiao adalah gerakan seribu tahun yang ada di zaman kekaisaran Tiongkok. 

Sebagai gerakan keagamaan, ajaran-ajaran White Lotus didasari pada tradisi Buddha, meskipun beberapa elemen Taoisme dan praktik-praktik Tiongkok pribumi lainya juga dimasukan kedalamnya. 

Lambat laun, White Lotus Society berkembang menjadi gerakan politik dan ikut serta dalam beberapa pemberontakan terkemuka dalam sejarah Tiongkok. 

White Lotus lahir pada era Dinasti Song antara abad ke-10 hingga ke-12. Mereka dicurigai oleh pemerintah karena gerakan ini tidak didirikan secara resmi. 

Sejak berdirinya Dinasti Yuan oleh Kubilai Khan pada akhir abad ke-13, White Lotus diakui dan disponsori oleh penguasa Mongol. Hal ini membantu penyebaran ajaran gerakan mereka ke khalayak yang lebih besar--mengubahnya menjadi cabang penting dari agama Buddha.


Seiring berjalanya waktu, ketika orang awam mulai mengembangkan gagasan mereka sendiri tentang agama ini, terjadi banyak perubahan. Salah satu yang paling menonjol dari perubahan ini adalah keyakinan bahwa Buddha akan turun dari Surga untuk membawa keselamatan bagi umat manusia.

Dengan demikian, White Lotus memiliki karakter millenarianis, yakni keyakinan suatu kelompok akan perubahan besar yang positif. Biasanya gerakan model ini muncul ketika terdapat pemerintah yang korup dan menyebabkan penderitaan di kalangan rakyatnya.

Oleh karena Dinasti Yuan yang korup, mereka mulai memberontak terhadap pemerintah. Akibatnya, White Lotus dilarang oleh pemerintah Yuan pada 1308 dan baru saja dilegalkan beberapa tahun kemudian.

Gerakan ini sekali lagi dilarang pada tahun 1322, karena telah terjadi peningkatan jumlah pemberontakan yang dipimpin oleh para pengikutnya terhadap pemerintah.

Dinasti Yuan pun akhirnya berakhir sebagai di Pemberontakan Turban Merah, yang berlangsung dari 1351 hingga 1368.

White Lotus memberikan dasar agama untuk pemberontakan, dan kelompok-kelompok pemberontak juga dipimpin oleh individu-individu dari White Lotus.

Seperti Han Shantong dan seorang jenderal bernama Zhu Yuanzhang, yag kemudian hari mendirikan Dinasti Ming.


Para astronom telah memetakan kontur dari pusaran supermasif di Galaksi Host IRAS 13224-3809, yang ditemukan di rasi Centaurus sekitar 1 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Untuk mencapai hal ini, para peneliti mengandalkan pengamatan terpanjang yang pernah dilakukan dari lubang hitam yang bertambah oleh observatorium sinar-X Badan Antariksa Eropa (ESA) XMM-Newton.

Begini cara akresi bekerja: saat material di ruang angkasa ditarik ke arah lubang hitam, ia mencapai kecepatan tinggi sehingga materi yang berputar akan memanas, mencapai suhu dalam jutaan derajat dan bahkan lebih panas dari itu.

Pusaran super-panas ini menghasilkan radiasi, yang dapat dideteksi oleh teleskop ruang angkasa saat sinar-X bertumbukan dan memantulkan partikel gas di sekitar pusaran.

Kata para ilmuwan saat menyaksikan interaksi itu, sejalan dengan cara kita ketika mendengar suara-suara bergema di sebuah ruangan - dan di banyak cara yang sama seperti gema sonik memberitahu kita tentang bentuk dan struktur ruang 3D. demikian pula 'gema cahaya' dapat mengungkapkan bentuk lubang hitam supermasif yang tidak terlihat.

"Dengan cara yang sama, kita dapat menyaksikan bagaimana gema radiasi sinar-X merambat di sekitar lubang hitam untuk memetakan geometri suatu daerah dan keadaan gumpalan materi sebelum menghilang ke singularitas," jelas astrofisikawan William Alston dari University of Cambridge.

"Agak seperti lokasi gema kosmik."

Teknik ini, yang disebut pemetaan gema sinar-X, bukan hal baru, tetapi terus berkembang. Alston dan pembacaan gema cahaya timnya datang dari nilai lebih dari 23 hari menatap melintasi ruang ke jantung IRAS 13224-3809, ditangkap selama 16 orbit pesawat ruang angkasa dari 2011 hingga 2016.

Dengan melakukan itu, mereka melihat sesuatu yang tidak mereka harapkan untuk dilihat: Korona lubang hitam—daerah elektron super panas yang melayang di atas piringan akresi objek—menyala secara dramatis dari waktu ke waktu yang kecerahannya bervariasi dengan 50 faktor dalam waktu hanya beberapa jam.

"Ketika ukuran korona berubah, begitu juga gema cahaya - agak seperti jika langit-langit katedral bergerak naik dan turun, mengubah bagaimana gema suara Anda terdengar," kata Alston.

"Dengan melacak gema cahaya, kami dapat melacak perubahan korona ini, dan— yang bahkan lebih menarik—mendapatkan nilai yang jauh lebih baik untuk massa dan putaran lubang hitam daripada yang bisa kami tentukan jika korona tidak berubah dalam ukuran."

Para peneliti sekarang berharap menggunakan metode yang sama untuk menyelidiki dan memetakan fisika lubang hitam dari banyak galaksi lainnya. Ratusan lubang hitam supermasif sudah berada dalam jangkauan pandangan panjang XMM-Newton. Bahkan, akan lebih banyak lagi  terlihat ketika satelit Athena ESA diluncurkan (dijadwalkan untuk 2031).

"Pekerjaan ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa masa depan mempelajari lubang hitam sangat bergantung pada melihat bagaimana mereka berbeda," kata astronom Matthew Middleton dari University of Southampton di Inggris. "Ini akan menjadi fokus dari sejumlah misi baru yang diluncurkan dalam sepuluh tahun mendatang, yang akan mengantarkan pada era baru pemahaman objek-objek eksotis ini."


Ini adalah studi lanjutan dari studi sebelumnya. Di mana sebelumnya mengungkap keberadaan spesies baru kanguru raksasa yang ditemukan di Nombe Rockshelter Papua Nugini. Menurut penelitian baru dunia hewan ini, spesies ini masih bisa bertahan lama setelah megafauna bertubuh besar di daratan Australia punah. Seekor kanguru raksasa yang pernah berkeliaran dengan empat kaki melalui hutan terpencil di Dataran Tinggi Papua Nugini (PNG) mungkin telah bertahan baru-baru ini 20.000 tahun yang lalu.

Ahli paleontologi Flinders University, bekerja sama dengan arkeolog dan geoscientist Australian National University, telah menggunakan teknik baru dalam studi mereka. Bertujuan untuk memeriksa kembali tulang megafauna dari situs fosil Nombe Rockshelter yang kaya di Provinsi Chimbu. Ini dalam upaya untuk lebih memahami sejarah alam PNG yang menarik.

Analisis baru menghasilkan revisi usia tulang dan menunjukkan bahwa beberapa spesies mamalia besar, termasuk harimau Tasmania yang punah dan marsupial mirip panda (disebut Hulitherium tomasettii) masih hidup di Dataran Tinggi PNG ketika manusia pertama kali tiba. Ini mungkin sekitar 60.000 tahun yang lalu.

Hebatnya dua spesies kanguru besar yang telah punah, termasuk satu yang berkaki empat daripada melompat dengan dua kaki, mungkin telah bertahan di wilayah tersebut selama 40.000 tahun lagi.

"Jika spesies megafauna ini benar-benar bertahan di Dataran Tinggi PNG lebih lama daripada spesies yang setara di Australia, maka itu mungkin karena orang jarang mengunjungi daerah Nombe, dan dalam jumlah yang rendah sampai setelah 20.000 tahun yang lalu," kata Profesor Ilmu Arkeologi ANU Tim Denham, salah satu penulis utama dalam studi baru.

Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Archaeology in Oceania pada 16 September dengan judul Re‐evaluating the evidence for late‐surviving megafauna at Nombe rockshelter in the New Guinea highlands.


"Tempat perlindungan batu Nombe adalah satu-satunya situs di Nugini yang diketahui telah ditempati oleh orang-orang selama puluhan ribu tahun dan melestarikan sisa-sisa spesies megafauna yang punah. Kebanyakan dari mereka unik di Nugini,” kata Denham, yang awalnya melakukan kerja lapangan di Dataran Tinggi PNG pada tahun 1990. “Nugini adalah bagian utara yang berhutan, pegunungan, dari benua Australia yang sebelumnya lebih luas yang disebut 'Sahul' tetapi pengetahuan kita tentang sejarah fauna dan manusianya buruk dibandingkan dengan daratan Australia."

Rekan penulis penelitian Profesor Gavin Prideaux, dari Laboratorium Paleontologi Universitas Flinders, mengatakan studi Nombe terbaru konsisten dengan bukti serupa dari Pulau Kanguru, yang sebelumnya diproduksi oleh ahli paleontologi Flinders. Ini juga menunjukkan kanguru megafauna mungkin telah bertahan hingga sekitar 20.000 tahun yang lalu di beberapa tempat dari daerah yang kurang dapat diakses di benua itu.

"Meskipun sering diasumsikan bahwa semua spesies megafauna di Australia dan Nugini punah dari pantai ke pantai pada 40.000 tahun yang lalu, generalisasi ini tidak didasarkan pada banyak bukti aktual," kata Profesor Prideaux. "Ini mungkin lebih berbahaya daripada membantu dalam menyelesaikan dengan tepat apa yang terjadi pada lusinan mamalia besar, burung, dan reptil yang hidup di benua itu ketika orang pertama kali tiba."

Tempat perlindungan batu Nombe, yang terletak di sekitar komunitas Nongefaro, Pila dan Nola di PNG, jarang dikunjungi oleh kelompok nomaden masyarakat Dataran Tinggi pada zaman prasejarah. Tempat perlindungan batu tersembunyi pertama kali digali oleh para arkeolog pada tahun 1960-an. Tetapi fase kerja lapangan yang paling intensif dilakukan pada tahun 1971 dan 1980 oleh arkeolog ANU Dr Mary-Jane Mountain, yang juga merupakan penulis makalah terbaru.

Penelitian awalnya menghasilkan deskripsi dan interpretasi terperinci pertama dari situs Nombe dan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman kita tentang sejarah manusia di Dataran Tinggi PNG.

"Mary-Jane awalnya berhipotesis bahwa megafauna di situs tersebut mungkin telah bertahan selama puluhan ribu tahun setelah kolonisasi manusia. Tetapi ini hanya dikonfirmasi dengan munculnya teknik baru dalam arkeologi, penanggalan, dan ilmu paleontologi," kata Profesor Denham.

Profesor Prideaux mengatakan aplikasi baru dari teknik analisis modern ini, atau penggalian baru di situs Nombe akan lebih lanjut mengonfirmasi garis waktu megafauna yang masih hidup dan durasi pendudukan oleh orang-orang di PNG.


Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa ‘gereja rahasia’ yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.

Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.

Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.

‘Gereja rahasia’ yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.

Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.

Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.

Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.

“Tempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,” papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.

Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.

Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang  “persekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya”.

Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.

Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.

Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi ‘gereja rahasia’ ini.
 


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.


Penjelajah Italia abad ke-13, Marco Polo, mungkin adalah orang Eropa Barat pertama yang meninggalkan catatan terperinci tentang perjalanannya ke Asia. Namun, ia jelas bukan orang pertama yang melakukan perjalanan itu.

"Sejarawan Tiongkok mencatat kunjungan sebelumnya oleh orang-orang yang dianggap sebagai utusan dari Kekaisaran Romawi, yang terjadi selama abad kedua dan ketiga M," tulis Sarah Pruitt kepada History.

Sarah Pruitt menulis artikel yang berjudul Greeks May Have Influenced China’s Terra Cotta Army diterbitkan oleh History pada 17 Oktober 2016.

Pada abad ketiga, selama dinasti Han, muncul pembentukan resmi jalur perdagangan Jalur Sutra, jaringan perdagangan perhentian karavan dan pos perdagangan yang menghubungkan Tiongkok dengan dunia Barat (Eropa).

Menurut para arkeolog dan sejarawan yang sekarang bekerja di Tentara Terakota Tiongkok yang sohor, diperkirakan bahwa kontak antara Timur dan Barat mungkin telah dimulai jauh lebih awal.

"Mereka percaya penampilan patung-patung itu (pasukan terakota Tiongkok) mungkin telah terilhami atau meniru patung-patung Yunani kuno," imbuhnya.

Hal itu menunjukkan adanya pengaruh Barat di era kaisar pertama China, sekitar 1.500 tahun sebelum pelayaran terkenal Marco Polo berlalu.

Kaisar Qin Shi Huang, pendiri dinasti Qin, naik takhta pada 246 SM pada usia 13 tahun. Selama 25 tahun berikutnya, ia menyatukan sejumlah kerajaan yang bertikai dan menerapkan kebijakan stabilisasi, termasuk standarisasi koin, timbangan dan langkah-langkah dan pembangunan jalan dan kanal.

Qin juga melakukan berbagai proyek pembangunan ambisius selama masa pemerintahannya, termasuk versi paling awal dari Tembok Besar Tiongkok, yang dibangun di sepanjang perbatasan utara kekaisarannya untuk melindungi dari invasi barbar, serta mausoleumnya sendiri.

"Menurut tulisan sejarawan istana kuno di Tiongkok, Siam Qian, Qin memerintahkan pembangunan kompleks makam dimulai pada awal masa pemerintahannya," jelasnya.

Lebih dari 700.000 pekerja, bekerja untuk membangunnya selama tiga dekade, dan proyek tersebut tampaknya tidak terselesaikan setelah kematian kaisar pada 209 SM.

Kemudian, di tahun 1974, seorang petani ketakutan karena tersandung pasukan terakota, di mana ia melihat wajah manusia dari tembikar muncul di antara sayuran di ladangnya.

Para arkeolog akhirnya menemukan sekitar 8.000 patung dari lubang di Xi'an, semuanya dibangun untuk mengawal Kaisar Qin ke alam baka dan menjaga tempat peristirahatan terakhirnya.


Sosok prajurit seukuran aslinya termasuk kereta, senjata dan kuda, dan dipahat dengan detail yang mengesankan, sampai ke gaya rambut mereka dan lencana di baju besi mereka.

Sebelum pemerintahan Qin, Tiongkok tidak pernah memiliki tradisi membuat patung seukuran manusia aslinya. Meskipun banyak pasukan terakota terkubur lainnya telah ditemukan, yang sebelumnya ditemukan jauh lebih kecil, hanya berukuran kurang dari 10 inci.

Menurut Li Xiuzhen, seorang arkeolog senior di situs Tentara Terakota, perbedaan skala dan gaya yang signifikan ini kemungkinan terjadi ketika pengaruh Barat tiba di Tiongkok dari tempat lain —khususnya, dari Yunani kuno.

Adanya kekerabatan antara Tiongkok dengan orang-orang Yunani Kuno semakin memungkinkan adanya pembuatan patung. Terlebih lagi, seniman Yunani bahkan mungkin telah berada di Tiongkok untuk membimbing orang-orang Tiongkok teknik pembuatan patung.


Pegunungan Andes adalah tempat tebing-tebing besar, arus deras dan ngarai yang menakutkan. Untuk mendirikan peradaban besar di medan ekstrem ini, jembatan menjadi penting.

Praktik kuno membuat jembatan gantung telah ada sejak lama di Peru—mungkin sejak budaya Wari, yang berkembang dari tahun 600–1000 M. Pada suatu waktu, lusinan jembatan semacam itu dianggap telah menghubungkan komunitas melintasi ngarai dan sungai.

Alih-alih memusatkan seluruh energi mereka untuk membangun bangunan batu besar yang akan memakan waktu puluhan tahun atau bahkan berabad-abad lamanya, suku Inca membangun jembatan gantung tali yang dapat didirikan hanya dalam hitungan hari.

"Jembatan tali Inca membentang lebih jauh daripada jembatan Eropa mana pun di era yang sama dan juga sangat kuat," tulis Nick Dal kepada SA Expeditions, dalam artikel berjudul A closer look at Inca rope bridges, publikasi 31 Mei 2016. 

Profesor MIT (Massachusetts Institute of Technology), John Ochsendorf, telah melakukan tes yang menunjukkan bahwa kabel jembatan Inca merupakan yang paling kokoh di zamannya. 

Jembatan tali dibuat dengan menggabungkan kulit, tanaman merambat dan cabang, yang dapat menopang sekitar 90 ribu kilogram. 

"Jembatan-jembatan itu sangat kuat dan menakjubkan, sehingga saat suku dari luar melihatnya, mereka akan tunduk kepada suku Inca tanpa perlawanan," ungkap Wayne Clough dalam tulisan Dal.

Diketahui, para penakluk akan menjadi ciut dan mulai berkurang pasukannya, ketika mereka menjadi merangkak karena ketakutan, melintasi jembatan tali yang bergoyang di atas ribuan meter di atas jurang di antara tebing curam, meskipun jembatan itu dapat menahan beban ribuan tentara.

Orang Spanyol awal (datang untuk menguasai Peru di era kolonial), seperti Pedro de Cieza de León, terpesona dengan jembatan Inca," lanjutnya.

Tetapi kedatangan orang-orang Spanyol memiliki efek yang menghancurkan bagi masyarakat adat setempat. Orang Eropa membawa penyakit yang menghancurkan populasi Pribumi. Komunitas lokal berkurang yang menjadikan Inca benar-benar sepi.

Ketertarikan orang Spanyol pada mineral berharga, seperti emas dan perak, juga mengalihkan upaya masyarakat adat ke kegiatan lain, seringkali meninggalkan kewajiban komunal lainnya, seperti membangun jembatan.

Hanya satu jembatan tali Inca yang mampu bertahan sampai hari ini. Jembatan itu bernama Q'eswachaka, membentang di sungai Apurimac dekat Huinchiri di Peru, sekitar tiga jam perjalanan dari Cusco, ibu kota Inca dulu.

Jembatan rumput tenunan tangan ini membentang sepanjang 120 kaki. Dibangun kembali setiap satu atau dua tahun sebagai upaya bersama melestarikan peradaban Inca, oleh semua penduduk lokal di wilayah tersebut.

Sekitar 700 pria dan wanita berkumpul di Q'eswachaka untuk pesta yang merayakan pembangunan jembatan. Pesta berlangsung selama empat hari setiap bulan Juni.

Tiga hari pertama didedikasikan untuk pembangunan jembatan, sedangkan hari terakhir – Minggu kedua di bulan Juni –menampilkan musik dan tarian khas yang juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk berjalan melintasi jembatan yang telah selesai dibangun.

Melalui sejarah Inca, dengan penuh semangat, Q'eswachaka telah mengumpulkan cukup banyak perhatian ilmiah dan media, hingga beberapa film pendek yang telah dibuat untuk mendedikasikan jembatan tersebut.


"Apresiasi global terhadap jembatan gantung di Andes sudah ada sejak lama," tulis Lidio Valdez dan Cirilo Vivanco kepada Atlas Obscura, dalam artikelnya berjudul Peru’s Incan Rope Bridges Are Hanging by a Thread, publikasi 27 September 2021.

Sampai saat ini, jembatan itu tampak seperti benang belaka, struktur yang rapuh dan bergoyang, namun masih sering dilintasi oleh manusia dan hewan, yang membawa beban di punggung mereka.

Para pelancong yang hendak melintas, menghitung waktu perjalanan mereka untuk bisa mencapai jembatan pada dini hari, sebelum angin kencang datang yang membuat jembatan bergoyang dan membahayakan diri mereka.


 Kungkang atau sloth merupakan mamalia yang memiliki ukuran tubuh sedang. Hewan dengan bulu lebat ini diketahui herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan. Namun, penelitian terbaru menyajikan fakta berbeda mengenai kungkang purba, Mylodon darwinii.

Kungkang purba ini memiliki tinggi 3,6 meter dengan berat mencapai 2,2 ton. Dijuluki giant sloth atau kungkang raksasa, hewan yang punah 10.000 tahun ini sebelumnya diyakini sebagai vegetarian seperti kerabatnya di zaman modern.

Dilansir dari The Sun, para ahli dari Natural History Museum telah mendapati bahwa binatang seukuran gajah itu menyukai daging, bahkan mungkin memakan manusia. Pernyataan ini disampaikan oleh salah satu peneliti, Dr. Julia Tejada.

“Kami sekarang memiliki bukti kuat yang bertentangan dengan anggapan lama bahwa semua kungkang adalah herbivora. Apakah mereka pemakan daging oportunistik tidak dapat ditentukan, tetapi ini adalah bukti nyata pertama bahwa kungkang purba sebenarnya adalah omnivora,” ujar Dr. Julia Tejada kepada The Sun.

“Bukti ini menyebabkan perlunya evaluasi ulang pada seluruh struktur ekologi mamalia purba di Amerika Selatan, karena kungkang mewakili komponen utama ekosistem ini selama 34 juta tahun terakhir,” lanjutnya.

Julia Tejada dari University of Montpellier di Prancis dan rekan–rekannya menganalisis sususan kimiawi dari dua asam amino. Melansir Science News, mereka mendapatkatnya dari dalam fosil rambut dua spesies kungkang tanah raksasa, kungkang tanah darwin (Mylodon darwinii) dari Amerika selatan dan kungkang tanah shasta (Nothrotheriops shastensis). Tim juga membandingkannya dengan sampel dari kungkang hidup, trenggiling, dan omnivora modern lainnya.

Dari perbandingan isotop nitrogen dalam dua asam amino, glutamin dan fenilalamin, yang ditemukan di rambut kungkang, para peneliti dapat mengeliminasi faktor ekosistem dan memperhatikan faktor pola makan. Diketahui, isotop nitrogen sendiri dapat sangat bervariasi di antara berbagai sumber makanan dan ekosistem.

Data mengungkapkan pola makan kungkang tanah shasta secara eksklusif dari tumbuh–tumbuhan. Sedangkan kungkang tanah darwin adalah omnivora. Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Scientific Reports dengan judul Isotope data from amino acids indicate Darwin’s ground sloth was not an herbivore pada 7 Oktober 2021.

Berdasarkan temuan ini, tentu membalikkan apa yang selama ini diketahui tentang hewan purba tersebut. Para ilmuwan berasumsi kungkang purba adalah herbivora karena keenam spesies kungkang modern dipastikan pemakan tumbuhan. Sebagian gigi dan rahang kungkang tanah raksasa juga tidak diadaptasi untuk berburu maupun mengunyah dan merobek dengan kuat.

Kendati demikian, Julia Tejada dan rekan–rekannya mengatakan bisa saja Mylodon darwinii atau kungkang tanah darwin ini menelan daging dari hewan yang sudah terbunuh. Hal ini mungkin membantu untuk memecahkan teka–teki tidak adanya mamalia karnivora besar di Amerika Selatan pada saat itu. Mungkin posisi tersebut ditempati oleh kungkang tanah darwin.

Lebih lanjut, adapun penyebab mengapa kungkang raksasa itu punah belum diketahui. Tipis kemungkinan hewan purba ini punah karena diburu manusia, sebab manusia pada zaman itu akan berjuang untuk membunuhnya. Diduga kungkang raksasa tidak bertahan karena perubahan iklim atau penyakit baru.

Ratusan spesies kungkang yang beberapa di antaranya sebesar gajah pernah menjelajahi lanskap kuno dari Alaska hingga Amerika Selatan. Kerangka lengkap Mylodon darwinii atau kungkang tanah darwin dipajang di Natural History Museum, London.

Sedangkan keenam spesies kungkang yang masih hidup saat ini adalah pemakan tumbuhan dengan ukuran relatif kecil jika dibandingkan pendahulunya.


Dengan ekosistem yang beragam seperti lautan, dataran, dan tundra beku, Amerika Utara adalah rumah bagi beberapa predator raksasa nan ganas.

Akan tetapi, makhluk modern—seperti buaya, hiu putih besar, dan beruang kutub —akan terlihat sangat kecil bila ditempatkan di samping predator purba di benua itu. Jadi, apa predator terbesar yang pernah hidup di Amerika Utara?

Untuk hewan berbulu, mamalia pemangsa terbesar di Amerika Utara kemungkinan besar adalah beruang berwajah pendek (Arctodus simus), kata Ross MacPhee, kurator senior mamalia di American Museum of Natural History di New York City.

Kadang-kadang disebut "beruang bulldog", makhluk yang sekarang sudah punah ini memiliki moncong pendek dan lebar yang khas. Tingginya sekitar 1,6 meter di bahu dan lebih dari 3,4 meter di kaki belakangnya yang kurus, demikian menurut peneliti University of Iowa Museum of Natural History.

“Mungkin sulit bagi para ilmuwan untuk mengukur berat badan yang tepat dari spesies yang punah, karena mereka harus memperkirakan angka-angka itu menggunakan spesies yang ada sebagai tolak ukur,” kata MacPhee dilansir dari Live science.

Namun, ahli paleontologi memperkirakan bahwa beruang berwajah pendek mungkin memiliki berat sekitar 700 kilogram. Beruang kutub modern (Ursus maritimus) berukuran tidak terlalu jauh—jantan terbesar berukuran sekitar 1,5 meter di bahu dan beratnya sekitar 600 kilogram, menurut Polar Bears International.


Beruang berwajah pendek punah sekitar 11.000 tahun yang lalu, sekitar akhir zaman es terakhir. Untuk menemukan predator darat yang lebih besar, kita harus melakukan perjalanan lebih jauh ke masa lalu. Dinosaurus predator Amerika Utara terbesar juga paling terkenal di benua itu: Tyrannosaurus rex.

Selama akhir periode Cretaceous, sekitar 100 juta hingga 66 juta tahun yang lalu, Amerika Utara adalah negeri monster.

"Dinosaurus karnivora memiliki keragaman yang luar biasa di Amerika Utara di seluruh Mesozoikum (252 juta hingga 66 juta tahun yang lalu)," Andrew Farke, direktur Museum Paleontologi Raymond M. Alf di Claremont, California, dilansir dari Live Science.

Tetapi dengan tinggi hampir 3,5 meter di pinggul dan panjang hingga 12,3 meter, menurut spesimen T. rex seukuran bus sekolah yang hampir lengkap yang dikenal sebagai Stan, tiran rex yang menjulang di sebagian besar dari hewan-hewan karnivora sezamannya.

Acrocanthosaurus merupakan sepupu "hiu bergigi" dari tyrannosaurus dan anggota kelompok yang dikenal sebagai carcharodontosaurus. Panjangnya hampir menyamai T. rex tetapi beratnya lebih ringan dibanding T. rex. Acrocanthosaurus beratnya 6,8 ton sedangkan T. rex beratnya 7,8 ton, demikian menurut American Museum of Natural History.

T. rex menggunakan semua itu untuk keuntungannya: Dengan otot rahangnya yang kuat, ia dapat menghasilkan hingga 6 ton tekanan per gigitan—cukup untuk merobek baja seolah-olah selembar kertas, menurut sebuah studi dalam jurnal The Anatomical Record pada 2019.

Satu-satunya dinosaurus yang hidup saat ini adalah burung, membuat dinosaurus terbesar yang masih hidup di Amerika Utara menjadi kondor California (Gymnogyps californianus). Pada 3 meter dari ujung sayap ke ujung sayap, burung ini secara signifikan lebih kecil dari sepupu pemakan daging purba T. rex, tetapi tetap tangguh. Hewan ini memakan bangkai rusa, babi, sapi, singa laut dan bahkan paus, menurut Cornell Lab of Ornithology.

Ketika membahas raksasa laut purba, reptil raksasa adalah pemenangnya.

Ichthyosaurus adalah sekelompok reptil laut predator yang hidup selama era Mesozoikum, periode waktu yang sama dengan dinosaurus. Pada Akhir periode Trias, kira-kira 237 juta tahun yang lalu, seekor ichthyosaurus yang dikenal sebagai Shonisaurus sikanniensis mulai berenang di perairan yang sekarang disebut British Columbia, Kanada.


"S. sikanniensis dianggap sebagai reptil laut terbesar sepanjang masa," ujar Kenshu Shimada, seorang profesor paleobiologi di De Paul University di Chicago.

“Ada beberapa perdebatan tentang Ichthyosaurus genus S. sikanniensis, Anggota kedua generasi yang besar, efisien dan cepat, meskipun spesies dari genus Shonisaurus memiliki dada barel dan moncong panjang dibandingkan Shastasaurus,” menurut Mark Witton dari University of Portsmouth paleontolog and paleoartist.

Terlepas dari taksonomi, tidak ada keraguan bahwa S. sikanniensis benar-benar kolosal; dengan panjang 65 kaki (20 m) yang menakjubkan dari moncong ke ekor,

"dengan singkat sekitar tiga kali lebih besar dari hiu putih besar hidup terbesar yang diketahui," kata Shimada. Tapi ukuran tidak selalu sama dengan keganasan. Sebuah studi 2011 di jurnal PLOS One mengatakan bahwa S. sikanniensis mungkin telah menjadi pengumpan hisap, menyeruput mangsa bertubuh lunak seperti cumi-cumi dan belemnites (cumi-cumi bercangkang).

Masing-masing makhluk ini, bagaimanapun, akhirnya mati sebagai akibat dari pergolakan lingkungan. Seperti banyak predator yang sangat terspesialisasi, begitu mangsa mereka menjadi langka, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan energi mereka. "Pada titik tertentu, lebih besar tidak lebih baik," kata MacPhee.


Masih ingat para peneliti di Arab Saudi utara menemukan serangkaian patung unta seukuran aslinya pada tahun 2018? Kala itu, mereka memperkirakan bahwa karya seni tersebut berasal dari sekitar 2.000 tahun lalu. Sekarang, sebuah studi baru menunjukkan bahwa kerangka waktu yang diusulkan ini meleset sebanyak 6.000 tahun.

Temuan baru ini diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science: Reports, menunjukkan bahwa apa yang disebut Situs Unta sebenarnya berasal dari antara 7.000 dan 8.000 tahun lalu.

Dilansir Arab News, garis waktu ini kemungkinan akan menjadikan patung-patung itu sebagai relief hewan tiga dimensi skala besar tertua yang masih ada di dunia. Sebaliknya, Piramida Giza Mesir berusia 4.500 tahun, sedangkan Stonehenge Inggris dibangun sekitar 5.000 tahun lalu.

Para peneliti menentukan tanggal ukiran melalui analisis kimia dan pemeriksaan tanda alat yang ditemukan di situs tersebut.

 “Mereka benar-benar menakjubkan dan, mengingat kita melihat mereka sekarang dalam keadaan terkikis parah dengan banyak panel jatuh, situs aslinya pasti benar-benar menakjubkan,” penulis utama Maria Guagnin, seorang arkeolog di Max Planck Institute for the Science of Human History.

 “Ada unta seukuran manusia dan equid dua atau tiga lapisan di atas satu sama lain,” tambahnya.

Seniman kuno mengukir gambar menjadi tiga taji berbatu. Selain sekitar selusin unta, karya seni itu menggambarkan dua hewan yang mungkin keledai, bagal, atau kuda.

Perkiraan awal usia karya ini sebagian didasarkan pada keberadaan relief unta lain yang dibuat di Yordania sekitar waktu itu. Tapi penanggalan radiokarbon, analisis pola pelapukan dan metode penanggalan lainnya menunjukkan asal yang jauh lebih tua. Selain itu, seorang tukang batu tidak menemukan tanda-tanda tembikar atau penggunaan peralatan logam di lokasi tersebut.


"Setiap hari Neolitik lebih mungkin terjadi, sampai kami menyadari itu benar-benar situs Neolitik yang kami lihat," kata Guagnin.

Seperti yang dilaporkan Stephanie Pappas untuk Live Science, para pemahat unta menggunakan alat yang terbuat dari batu yang disebut rijang, yang dibawa setidaknya sembilan mil jauhnya.

Mereka akan membutuhkan beberapa jenis perancah untuk mencapai bagian yang lebih tinggi dari permukaan berbatu. Mengukir setiap relief membutuhkan waktu antara 10 dan 15 hari. Beberapa unta yang digambarkan pada relief memiliki garis leher yang menonjol dan perut yang bundar—ciri khas hewan ini pada musim kawin. Ini menunjukkan bahwa situs itu terkait dengan kesuburan atau waktu tertentu dalam setahun.

“Komunitas pemburu dan penggembala cenderung sangat tersebar dan berpindah-pindah, dan penting bagi mereka untuk bertemu secara teratur sepanjang tahun, untuk bertukar informasi, pasangan, dan sebagainya,” Guagnin.

“Jadi apapun simbolisme dari patung-patung itu, mungkin ini adalah tempat untuk menyatukan seluruh komunitas,” imbuhnya.

Pola pelapukan pada patung menunjukkan bahwa mereka diukir ulang dan dibentuk kembali dari waktu ke waktu. Pada saat pembuatan patung, sekitar milenium keenam SM, Jazirah Arab dipenuhi dengan padang rumput dan jauh lebih basah daripada sekarang. Penduduk kawasan itu membangun ribuan monumen batu yang dikenal sebagai mustatil di puluhan ribu mil persegi.


Guagnin mengatakan tidak jelas apakah kelompok yang sama yang membuat Situs Unta juga membuat mustatil. Ukiran dua dimensi lainnya telah ditemukan di daerah tersebut, tetapi tidak ada yang setara dengan Situs Unta.

Beberapa penggambaran fauna Neolitikum sama-sama seukuran aslinya, detail dan naturalistik tetapi keduanya dua dimensi. Hal ini membuatnya berpikir bahwa Situs Unta adalah bagian dari tradisi yang lebih luas tetapi memiliki tempat khusus di dalamnya, sampai-sampai terlihat seperti hewan itu keluar dari batu.

Guagnin menambahkan bahwa unta-unta yang ditampilkan dalam gambar mungkin liar. Domestikasi unta paling awal kemungkinan terjadi sekitar tahun 1200 SM. Orang-orang Neolitik di Arabia menggembalakan sapi, domba dan kambing dan mungkin berburu unta liar.

Dengan erosi yang terus menurunkan patung, para peneliti mengatakan penting untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang patung-patung itu.

“Pelestarian situs ini sekarang menjadi kunci, seperti penelitian masa depan di wilayah tersebut untuk mengidentifikasi apakah situs lain seperti itu mungkin ada,” tutup Guagnin.


Proses penggalian di Kültepe, Turki masih terus berlanjut, Situs ini merupakan titik awal sejarah di Anatolia, selama penggalian ditemukan tulang rahang singa berusia 4.000 tahun. Ini merupakan pertama kalinya tulang rahang singa ditemykan di Kültepe.

Dilansir dari Arkeonews, Fikri Kulakoğlu dari Fakultas Bahasa, Sejarah-Geografi dan Arkeologi Universitas Ankara mengatakan di tahun 2021 ini mereka menemukan banyak tulang hewan dan tempat penyimpanan dari kayu berukuran besar di ruang bawah tanah sebuah bangunan di wilayah tersebut. Adapun tulang belulang hewan yang ditemukan antara lain, singa, beruang, domba gunung, rusa dan babi hutan.

“Tulang-tulang ini ditemukan dalam jumlah banyak. Semua tulang hewan ini temasuk dalam hewan yang besar dan liar,” ujar Fikri kepada Anadolu Agency.

“Untuk pertama kalinya kami menemukan dua tulang rahang singa dari dua singa yang berbeda, (tulang) beruang yang sangat besar dan tulang dari rusa besar pada masa itu di Anatolia,” lanjutnya.

Langkah berikutnya yang akan dilakukan adalah memeriksa tulang-tulang tersebut. Para ahli meyakini kalau hewan-hewan itu dibesarkan di wilayah Anatolia. Hewan-hewan tinggal di sekitar Erciyes atau di area pegunungan hingga ke Sivas.

“Tidak ada tulang singa berusia 4.000 tahun ditemukan di area lain. Memang ada tulang-tulang (singa) dari beberapa juta tahun lalu, tapi dua tulang rahang singa ini merupakan salah satu bukti keberadaan manusia paling awal,” jelasnya.

Fikri Kulakoğlu menghubungkan penemuan ini dengan salah satu kisah. Ada sebuah tablet atau lempengan yang digunakan sebagai prasasti ditemukan di Boğazköy bernama tablet Anitta.

“Menurut tablet ini seorang raja bernama Anitta merebut Nesha dengan ayahnya, dan mereka tidak menyentuh siapapun. Mereka bahkan membangun istana dan kuil. Tulang-tulang ditemukan di area istana dan kuil,” cerita Prof. Dr. Fikri Kulakoğlu.

Dalam prasasti tersebut, dituliskan pula bahwa sang raja pergi berburu. Prasasti ini sendiri diduga ditulis oleh Raja Anitta.

“(Tertulis) ‘Saya berburu dan membawa kembali lebih dari 100 hewan, termasuk dua singa, macan tutul, macan kumbang, beruang, rusa dan hewan liar’. Ini (situs penemuan) adalah area tepat di sebelah kuil,” tuturnya.

“Tentu saja kami tidak yakin sepenuhnya bahwa tulang-tulang ini terkait dengan cerita tersebut, tetapi kemungkinan besar memang demikian. Karena ada bekas luka di antara tulang binatang yang kami temukan, jadi (hewan-hewan) ini dibawa dengan berburu,” pungkas Prof. Dr. Fikri Kulakoğlu.

Masih terkait dengan tablet Anitta, seperti dikutip dari World History, teks yang tertulis di tablet tanah liat ini adalah dokumen pertama yang ditulis dalam Bahasa Het. Teks ini merupakan salinan dari teks asli yang ditulis pada masa Periode Kekaisaran Het. Anitta merupakan putra dari Pithana dan merupakan raja kota Kussara, yang lokasinya masih belum diketahui.

Kültepe yang juga dikenal dengan nama Kanesh atau Nesha merupakan situs arkeologi yang terletak di Provinsi Kayseri, Turki. Dikutip dari laman UNESCO, tempat ini merupakan ibu kota Kerajaan Kanesh kuno dan pusat jaringan kompleks koloni perdagangan Asyur pada milenia ke-dua SM.

Berada tepat di kaki Gunung Erciyes dan di dataran yang subur, Kültepe juga menjadi pusat utama budaya dan perdagangan antara Anatolia, Suriah dan Mesopotamia pada akhir milenum ke-tiga SM dan khususnya selama kuartal pertama milenium ke-dua SM. Situs Kültepe terbagi dalam dua bagian, anak bukit atas dan kota di bagian yang lebih rendah.




 


Mendengar nama lumba-lumba, hal yang terbesit pertama di pikiran kita adalah hewan yang lucu dan menggemaskan. Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, karena sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Pun, banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Namun siapa sangka, dahulu lumba-lumba adalah hewan predator yang mirip dengan paus pembunuh.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology menjelaskan bagaimana kedua jenis paus modern yakni paus bergigi (lumba-lumba dan paus balin) dan paus bungkuk mengembangkan fitur penggerak mereka seperti sirip dan ekor.

Lumba-lumba yang diberi nama latin Ankylorhiza tiedemani ini pertama kali ditemukan dalam bentuk pecahan pada akhir 1800-an, tetapi temuan baru yang hampir lengkap ditemukan pada 1990-an dan disatukan selama beberapa dekade.

Kerangka setinggi 15 kaki itu ditemukan di Carolina Selatan dan hidup sekitar 25 juta tahun yang lalu pada zaman Oligosen. Berbalik dengan lumba-lumba modern saat ini yang merupakan sahabat manusia di lautan, moyangnya justru merupakan predator puncak di masanya. Hal ini dilihat dari tengkorak, gigi, ukuran, dan moncongnya.

Dari struktur kerangkanya, para ilmuwan telah menentukan bahwa Ankylorhiza memiliki fitur postkranial yang mirip dengan tulang-tulang tubuh paus modern, yang menyiratkan bahwa habitat air yang serupa mengarah pada pengembangan adaptasi tertentu.

"Beberapa contoh termasuk penyempitan ekor, peningkatan jumlah tulang ekor dan pemendekan humerus (tulang lengan atas) pada sirip,” ujar Robert Boessenecker, penulis utama laporan tersebut dikutip dari Cnet.


“Ini tidak terlihat dalam garis keturunan anjing laut dan singa laut yang berbeda, misalnya yang berevolusi menjadi berbagai mode berenang dan memiliki kerangka postkranial yang tampak berbeda,” sambungnya.

Lumba-lumba dan paus memang saudara dekat yang merupakan bagian dari Ordo Cetacean. Sedangkan paus bergigi merupakan bagian dari Odontocetes yang merupakan turunan dari Cetacean.

Kerangka ini juga mengindikasikan Ankylorhiza kemungkinan menjadi Odontocete pertama yang memiliki kemampuan Echolocation dan bisa memburu mangsa berukuran besar maupun kecil.

"Kerangka tersebut juga menunjukkan bahwa Ankylorhiza mungkin adalah paus ekolokasi pertama yang menjadi predator puncak. Menurut para peneliti, spesies itu "sangat jelas memangsa mangsa bertubuh besar" membuka jalan bagi paus sperma pembunuh dan akhirnya orca untuk mengambil ceruk tertentu selama ribuan tahun.

Bukan hanya itu, dari kerangka tersebut menunjukkan bahwa dua jenis paus modern, melakukan banyak evolusi dari fitur yang sama secara paralel dan independen satu sama lain. Fakta ini berseberangan dengan keyakinan sebelumnya yang menyebut mereka mewarisi fitur leluhur mereka.

Spesies ini juga bisa berenang lebih cepat dari paus lainnya. Ini mengindikasikan bahwa Ankylorhiza merupakan salah satu Cetacean purba yang memegang peran ekologi seperti paus pembunuh.

"Paus dan lumba-lumba memiliki sejarah evolusi yang rumit dan panjang dan, sekilas, Anda mungkin tidak mendapatkan kesan itu dari spesies modern," kata Boessenecker.

"Catatan fosil telah benar-benar membuka jalan evolusi yang panjang dan berliku ini dan fosil seperti Ankylorhiza membantu menjelaskan bagaimana ini terjadi." tutupnya.


Pada awal 2020 saat corona merebak, sejarawan bernama Verena Krebs menghabiskan beberapa bulan di rumah orangtuanya di pedesaan Jerman. Sambil menunggu karantina wilayah Jerman, ia menyelesaikan buku tentang sejarah akhir abad pertengahan Ethiopia. 

Krebs tahu bahwa sumber bukunya bertentangan dengan narasi dominan yang menempatkan Eropa sang penolong Ethiopia yang membutuhkan. Seperti kerajaan Afrika yang mati-matian mencari teknologi militer yang lebih canggih kepada Eropa. Krebs khawatir bukunya akan mengubah interpretasi abad pertengahan. Akan teapi, ia melakukan sesuatu yang radikal.

Alih-alih mengubah apa yang sudah ditulis, Krebs memutuskan untuk mengikuti sumbernya dan menyelesaikan buku bernama Medieval Ethiopian Kingship, Craft, and Diplomacy with Latin Europe yang terbit pada awal tahun ini. 

Cerita ini membalik naskah lama. Dalam narasi tradisional, cerita berpusat di Eropa dan menempatkan Ethiopia sebagai negara pinggiran dengan kerajaan Kristen yang terbelakang dalam teknologi. Akan tetapi, Krebs mampu menampilkan kekuatan Ethiopia.

Narasi tradisional menekankan Ethiopia lemah dalam kesulitan menghadapi agresi dan kekuatan eksternal, terutama Mamluk di Mesir. Akibatnya, Ethiopia mencari bantuan militer dari rekan-rekan Kristen mereka ke utara seperti kerajaan Aragon yang berkembang (Spanyol moderen), dan Prancis. Namun, kisah nyata terkubur dalam teks-teks diplomatik abad pertengahan dan belum disatukan oleh para sarjana moderen.

Raja-raja Solomon di Ethiopia, dalam cerita ulang Krebs, menjalin hubungan trans-regional. Mereka "menemukan" kerajaan-kerajaan Eropa abad pertengahan akhir, bukan sebaliknya. Orang Afrikalah yang mengirim duta besar ke negeri asing dan jauh pada awal abad ke-15.

Mereka mencari keingintahuan dan relik suci dari para pemimpin asing yang bisa menjadi simbol gengsi dan kebesaran. Pada awal Abad Penjelajahan, ada narasi yang menggambarkan penguasa Eropa sebagai pahlawan karena mengirimkan kapal mereka ke negeri asing. Sementara Krebs justru menemukan bukti bahwa raja-raja Ethiopia mensponsori misi diplomasi, iman, dan perdagangan mereka sendiri sebelum Eropa memulainya.


Sejarah Ethiopia abad pertengahan tampaknya memiliki cakupan yang lebih luas daripada abad ke-15 dan ke-16. Mereka telah menjalin hubungan dengan Mediterania, yang lebih terkenal sejak awal ekspansi Kekristenan. 

Aksum, kerajaan pendahulu yang sekarang kita kenal sebagai Ethiopa, measuki era Kristen pada awal abad keempat. Fakta ini menunjukkan sejarah Kekristenan di Ethiopia jauh lebih awal dari masa kekaisaran Romawi, yang baru masuk Kristen pada abad keenam atau ketujuh. 

Dinasti Solomon secara khusus muncul sekitar 1270 di dataran tinggi Tanduk Afrika. Kemudian pada abad ke-15 memiliki kekuatan yang terkonsolidasi lebih kuat di teritori tersebut.

Nama mereka muncul dari klaim keturunan langsung Raja Salomo dari Israel kuno, melalui hubungan dengan Ratu Sheba. Meskipun menghadapi beberapa ancaman eksternal, mereka secara konsisten mereka mengalahkan itu dan memperluas kerajaan mereka sepanjang periode tersebut. Membangun hubungan yang tidak nyaman (meskipun umumnya damai) dengan Mamluk Mesir dan menginspirasi keajaiban di seluruh Eropa Kristen.

Pada saat inilah, kata Krebs, para penguasa Ethipia melihat kembali ke Aksum dengan nostalgia.

"Ini adalah Renaisans kecilnya sendiri, jika anda mau, di mana raja-raja Kristen Ethiopia secara aktif kembali ke Zaman Kuno Akhir dan bangkan menghidupkan kembali model antik akhir dalam seni dan sastra, untuk menjadikannya milik mereka," ucap Krebs di laman Smithsonian. 

Eropa, kata Krebs, bagi orang Ethiopia adalah tanah yang misterius dan bahkan mungkin sedikit biadab dengan sejarah yang menarik, dan yang penting, barang-barang suci dapat diperoleh raja-raja Ethipia dari sana. 

Mereka tahu tentang Paus, katanya. "Tapi selain itu, ini adalah Frankland. (Orang Ethiopia abad pertengahan) memiliki istilah yang jauh lebih tepat untuk Kekristenan Yunani, Kekristenan Siria, Kekristenan Armenia, Koptik, tentu saja. Semua gereja Ortodoks dan Ortodoks Oriental. Tapi semua orang Kristen Latin (bagi orang Ethiopia) adalah Frankland."

Buku itu sudah berdampak pada kehidupan di luar akademi. Solomon Gebreyes Beyene, seorang peneliti dari Ethiopia sekarang di Universitas Hamburg mengatakan.


"Kebanyakan orang Ethiopia biasa yang telah menyelesaikan sekolah menengah dan bahkan universitas telah mengetahui bahwa Ethiopia menerapkan kebijakan pintu tertutup di Abad Pertengahan. Atau, paling tidak mencari bantuan militer dan senjata dari utara" katanya.

Buku Krebs mengubah semua itu, katanya. Ini membuka periode dan memungkinkan cendekiawan Ethiopia dan masyarakat umum untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah diplomatik yang mulia dari sejarah abad pertengahan. 

Krebs tidak puas hanya duduk dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Dia tetap fokus tidak hanya mengubah sejarah Ethiopia, tetapi juga memastikan bahwa cerita mereka diintegrasikan ke dalam cerita abad pertengahan, terutama abad ke-15.

"Raja-raja yang melihat diri mereka sebagai pusat alam semesta, yang duduk di Dataran Tinggi di Tanduk Afrika ini, dan menganggap diri mereka bukan hanya pewaris Raja Salomo yang alkitabiah, tetapi juga sebagai raja pertama di Bumi," tutur Krebs. "Jadi maksud saya, itu hanya mengubah cara kita perlu membaca, dalam hal ini, interaksi Afrika-Eropa."

Mengikuti sumber Krebs, cukup jelas bahwa dunia abad pertengahan jauh lebih luas dan lebih luas daripada yang diperkirakan banyak orang. 


Penggalian arkeologi di situs permakaman sarkofagus batu Pangkung Paruk di Bali telah menyingkap temuan koleksi manik-manik kaca emas Romawi terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, dari situs tersebut juga ditemukan beberapa ornamen emas yang rumit dan dua cermin perunggu Cina Han.

Temuan sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya di Asia Tenggara. Menurut para peneliti arkeologi lintas negara yang terlibat dalam studi atas temuuan ini, artefak-artefak yang ditemukan di Bali ini memiliki kesamaan dengan artefak-artefak di Oc Eo di Vietnam, di situs lain di Delta Mekong, dan di Semenanjung Thai-Melayu.

"Analisis temuan baru ini dan perbandingannya dengan yang lain dari seluruh kawasan memberikan wawasan tentang jaringan trans-Asiatik awal hingga pertengahan abad pertama Masehi yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Asia Selatan, dunia Romawi, dan Cina," tulis para peneliti dalam laporan studi mereka yang terbit di jurnal Antiquity.

Para peneliti yang terlibat dalam studi ini berasal dari Australian National University di Australia, University College London di Inggris, German Archaeological Institute di Jerman, serta Universitas Udayana dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Indonesia.

Menurut para peneliti dalam laporan studi mereka yang bertajuk "Trans-Asiatic exchange of glass, gold and bronze: analysis of finds from the late prehistoric PangkungParuk site, Bali" itu, Situs Pangkung Paruk telah menghasilkan koleksi terbesar manik-manik kaca emas soda-natron Romawi di awal Asia Tenggara. Temuan ini menambah informasi baru yang signifikan bagi pengetahuan kita tentang penyebaran manik-manik seperti itu di awal abad pertama Masehi di seluruh Afrika dan Asia dari Mesir hingga Jepang.

"Analisis komposisi kami menunjukkan bahwa manik-manik kaca emas Pangkung Paruk diproduksi di Mesir selama abad pertama hingga keempat Masehi," tulis mereka.

Manik-manik ini cocok dengan kaca Romawi yang digali di anak benua India selatan dan di sepanjang Semenanjung Melayu. Kaitan ini sekaligus mengkonfirmasikan rute maritim selatan dari Samudra Hindia bagian barat ke Asia Tenggara.

"Analisis manik-manik kaca Pangkung Paruk lainnya lebih lanjut mendokumentasikan kontak dengan Daratan Asia Tenggara bagian selatan dan anak benua India bagian selatan," tulis mereka.

Adapun sumber geologi untuk emas yang dipakai untuk membuat benda-benda kuno tersebut, menurut para peneliti, sulit untuk diidentifikasi karena kemungkinan adanya beberapa peristiwa peleburan dan pembentukan kembali dan kesenjangan dalam pengetahuan geologi kita.


"Studi komposisi komparatif kami tentang emas yang digali di seluruh Asia Tenggara, bagaimanapun, memberikan data penting untuk mendukung atau menyangkal analisis gaya dan teknologi mengenai asal-usul emas impor," tulis mereka.

Lebih lanjut, menurut para peneliti, jejak isotop timbal dari perunggu bertimbal yang ditemukan di Bali tersebut cocok dengan jejak dari Vietnam tengah dan Laos. Jejak ini mungkin dapat ditelusuri ke sumber tembaga Sepon di Laos.

Pada akhirnya, data gabungan dari Pangkung Paruk, Sembiran, dan Pacung memperkuat kesinambungan peran strategis Bali utara dalam pertukaran trans-Asia dari abad kedua Sebelum Masehi. Pertautan budaya ini berlanjut hingga awal dan pertengahan milenium pertama Masehi. Inilah yang menjadi bagian kesimpulan para peneliti dalam studi.

"Data ini memperkaya pemahaman kita tentang jaringan maritim awal yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Asia Selatan, dunia Romawi dan Cina. Secara khusus, persamaan untuk artefak impor Pangkung Paruk di Oc Eo dan situs lain di Delta Mekong dan di Semenanjung Thai-Melayu menggarisbawahi pentingnya kontak antara daerah persimpangan utama ini."

"Kami berpendapat bahwa Bali dan Vietnam selatan mungkin juga telah terhubung sepanjang rute utara-selatan melewati Kalimantan barat laut, serta melalui rute yang lebih dipahami dari Semenanjung Thai-Melayu ke Indonesia," simpul mereka.