Showing posts with label Kisah Mistis. Show all posts
Showing posts with label Kisah Mistis. Show all posts


Untuk pertama kalinya, pesawat luar angkasa Tianwen-1 milik Tiongkok berhasil mengabadikan foto Mars dalam misi penjelajahan mereka ke Planet Merah itu. Mereka telah berhasil mengirimkan foto planet Mars tersebut ke pusat pengendali China National Space Administration (CNSA), badan antariksa nasional mereka, di Beijing. CNSA menyatakan, pesawat luar angkasa Tianwen-1 sudah berada di dekat Mars dan sedang bersiap untuk mendarat di Planet Merah tersebut tahun ini.

Foto planet Mars yang berhasil diabadikan oleh Tianwen-1 adalah berupa foto hitam-putih. Foto itu telah dirilis pada akhir pekan lalu oleh CNSA. Foto itu menunjukkan fitur geologi di sana, termasuk penampakan kawah Schiaparelli dan Valles Marineris, hamparan ngarai yang luas di permukaan Planet Merah tersebut.

CNSA menyatakan bahwa foto tersebut diambil sekitar 2,2 juta kilometer (1,4 juta mil) dari Mars. Mereka juga menyatakan bahwa kini posisi pesawat luar angkasa Tianwen-1 sudah lebih dekat lagi, yakni berjarak 1,1 juta kilometer dari planet itu. CNSA juga menambahkan bahwa semua sistem pada pesawat luar angkasa Tianwen-1 dalam "kondisi baik.”

Pesawat robotik itu menyalakan salah satu mesinnya untuk "melakukan koreksi orbit" pada Jumat dan diperkirakan akan melambat sebelum "ditangkap oleh gravitasi Mars" sekitar 10 Februari nanti, kata CNSA sebagai dikutip oleh AFP dan ScienceAlert.

Tianwen-1 diluncurkan pada Juli 2020. Ia memang ditargetkan untuk bisa memasuki orbit Mars pada 10 Februari 2021 besok. Pesawat luar angkasa seberat lima ton itu membawa robot pengorbit, robot pendarat, dan robot penjelajah Mars yang akan mempelajari tanah di Planet Merah itu.

Nama Tianwen-1 sendiri memiliki arti “Pertanyaan ke Surga”. Misi Tianwen-1 ini disebut-sebut sebagai program luar angkasa paling ambisius dari Negeri Tirai Bambu.

Melalui misi Tianwen-1 ini, Tiongkok berharap mereka dapat mendaratkan robot penjelajah mereka di planet Mars pada Mei 2021 nanti. Mereka menargetkan robot penjelajah mereka bisa mendarat di Utopia Planitia, cekungan besar di Mars, setelah nanti terlepas dari robot pengorbit. Setelah mendarat, robot pendarat ini akan melepaskan robot penjelajah kecil bertenaga surya yang berfungsi untuk mengeksplor permukaan Mars setidaknya selama tiga bulan.

Jika pendaratan tersebut berhasil, Tiongkok akan menjadi negara kedua yang sukses menempatkan robot penjelajah mereka di permukaan Mars. Sebelumnya, Amerika Serikat sudah mendaratkan delapan robot penjelajah mereka di Planet Merah itu sejak 1976.

Selama beberapa dekade terakhir Tiongkok telah menggelontorkan miliaran dolar Amerika Serikat untuk misi-misi luar angkasa mereka. Sebelumnya, selama Perang Dingin, Tiongkok hanya bisa menyaksikan Amerika Serikat dan Uni Soviet (kini Rusia) membuat beberapa langkah lebih maju dalam program-program luar angkasa mereka masing-masing.

Kini dengan dipimpin oleh militer mereka, Tiongkok mulai serius meluncurkan misi-misi luar angkasa. Dua dasawarsa lalu, tepatnya pada tahun 2003, untuk pertama kalinya Tiongkok telah mengirim manusia ke luar angkasa. Jadi, Tianwen-1 bukanlah misi luar angkasa mereka yang pertama.

Selain itu, Tianwen-1 juga bukanlah upaya pertama Tiongkok untuk mencapai Mars. Misi mereka sebelumnya dengan Rusia pada 2011 berakhir sebelum waktunya karena peluncuran misi tersebut berakhir gagal.

Tak hanya misi ke Mars, Tiongkok juga pernah meluncurkan misi ke Bulan. Hingga saat ini setidaknya Tiongkok telah mengirim dua robot penjelajah mereka ke Bulan.

Dalam misi menggunakan robot penjelajah yang kedua pada 2019, Tiongkok berhasil mencatatkan diri sebagai negara pertama yang berhasil melakukan soft landing (pendaratan mulus) di sisi jauh Bulan.


 Zaman Devon eksis sekitar 350 juta tahun lalu. Saat itu, Bumi hanya dihuni oleh ikan yang mulai menghuni perairan dangkal. Dalam rantai evolusi biologi, ikan kala itu memiliki tangan atau kaki untuk menuju ke daratan--menjadi awal mula evolusi makhluk Bumi hingga saat ini.

Namun, masalah mendasar dalam evolusi biologi ini adalah pada proses transisi ikan hingga menjadi vertebrata berkaki empat (tetrapoda). Akibatnya ada banyak pertanyaan dan perdebatan seputar transisi evolusi tersebut.

Kini, fosil ikan purba yang ditemukan di Kanada oleh tim planteolog dari Flinder University dan Universite du Quebec a Rimouski, membantu menguak misteri evolusi sirip ikan menjadi tangan manusia.


Studi mengenai fosil yang disebut Elpistostege, dipublikasikan pada jurnal  Nature. Ia merupakan predator terbesar yang hidup di perairan dangkal seperti muara Quebec pada zaman Devon. Spesies ini memiliki taring tajam yang kuat sehingga bisa memakan beberapa ikan bersirip yang lebih besar.

“Ini adalah pertama kalinya kami menemukan jari-jari terkunci di dalam sirip dengan fin-rays. Rongga jari-jari dalam sirip itu seperti tulang jari yang ditemukan di tangan kebanyakan hewan,” kata John Long dari Flinders University. 

“Temuan ini mendorong kami untuk mengetahui asal jari-jari pada ikan dan vertebrata. Mengungkapkan bahwa pola tangan vertebrata, pertama kali berkembang jauh dalam evolusi, tepat sebelum ikan mulai meninggalkan perairan,” terangnya.


Spesimen fosil Elpistostege berukuran 1,57 meter ini, memiliki kerangka lengan pertama pada urutan evolusi ikan. Para peneliti mengungkapkan bahwa fosil tersebut memiliki struktur purba untuk
humerus (lengan), jari-jari dan ulna (lengan bawah), deretan karpus (pergelangan tangan) dan falang yang disusun dalam jari-jari.

“Asal usul jari-jari berkaitan dengan pengembangan kemampuan ikan untuk menopang beratnya di air dangkal atau untuk perjalanan singkat di darat. Meningkatnya jumlah tulang kecil di sirip memungkinkan lebih banyak bidang fleksibilitas untuk meringankan bebannya pada sirip,“ kata co-author penelitian ini, Richard Cloutier dari Universite du Quebec a Rimouski. 

Mengenai rantai evolusi dengan manusia, Cloutier menjelaskan, “Elpistostege belum tentu leluhur kita, tetapi yang terdekat kita, bisa sampai pada ‘fosil transisi’, transisi antra ikan dan tetrapoda.”


 Para penambang yang sedang menggali batu permata menemukan hal langka. Bukannya mengungkap batu permata mengkilap dan warna-warni yang dikenal sebagai ammolit, mereka justru menemukan sisa-sisa fosil monster laut purba.

Terdapat kerangka hampir lengkap dari reptil laut yang dikenal sebagai mosasaurus. Ia kemungkinan berasal dari genus Tylosaurus yang hidup selama zaman dinosaurus sekitar 70 tahun lalu.

Pada masa itu, Alberta, Kanada (tempat di mana mosasaur ditemukan), terbaring di bawah laut, tertutup oleh Western Interior Seaway yang membentang dari Teluk Meksiko ke Laut Arktika.

“Kami memiliki segalanya mulai dari kepala sampai ujung ekor,” kata Donald Henderson, kurator dinosaurus di Royal Tyrrell Museum of Palaeontology di Drumheller, Alberta.

“Meski begitu, kami tidak memiliki siripnya. Mungkin itu hilang membusuk, atau pernah digigit,” imbuh Henderson.


Para penambang dari Enchanted Designs Limited, sedang mencari sepotong ammolite berwarna pelangi yang dapat digunakan untuk membuat perhiasan. Batu mulia ini terbuat dari cangkang amon yang sudah menjadi fosil–semacam moluska laut yang sudah punah.

Penambangan yang dilakukan di Formasi Bearpaw (Pegunungan Bears Paw di Montana, tepat di sebelah selatan Alberta) biasanya menemukan satu hingga dua reptil laut yang memfosil dalam setahun sehingga penemuan ini cukup terduga. Meski begitu, sangat sulit menemukan kerangka yang hampir lengkap seperti mosasaur.

Fosil-fosilnya tertanam di dalam batu lumpur yang cukup lunak. Secara keseluruhan, binatang itu memiliki panjang sekitar 20-23 kaki (6-7 meter).

Mosasaurus termasuk predator puncak. Namun, perlu diingat bahwa mereka adalah reptil, bukan dinosaurus.

Temuan fosil perut dan tanda gigitan menunjukkan bahwa mosasaurus memakan kura-kura, ikan amon, dan sejenisnya. Salah satu senjata rahasia mereka berada pada gigi di atap mulut yang melengkung ke belakang.

“Sekali mereka mencengkram dengan gigi depannya, itu akan membuat Anda sulit lolos. Satu-satunya cara bisa keluar adalah meluncur melalui tenggorokan,” papar Henderson.

Belum jelas kapan mosasaurus yang baru ditemukan ini akan dipamerkan. Namun, kita dapat melihat spesimen mosasaurus lainnya di Royal Tyrrell Museum's Dinosaur Hall atau pameran Grounds for Discovery.

Badan Antariksa Eropa (ESA) baru saja meluncurkan pesawat luar angkasa buatan Inggris BepiColombo ke planet terdekat matahari yaitu Merkurius pada Sabtu (20/10/2018). BepiColombo meluncur di atas roket paling kuat milik ESA, Ariane 5.

Misi peluncuran pesawat antariksa tersebut merupakan kerja sama antara ESA dan Badan Antariksa Jepang (JAXA). Misi perjalanan ini akan dilaksanakan selama tujuh tahun. Tujuannya  untuk mengungkapkan misteri seputar planet Merkurius.

Dengan mengikuti “lintasan keluar” BepiColombo akan berayun melintasi Bumi dalam kurva yang lebar sebelum akhirnya menuju planet Venus.

Pesawat antariksa tersebut akan sampai ke planet paling dalam di tata surya pada tahun 2025. Setelah sesampainya di sana, pesawat tersebut akan menempatkan dua robot probe atau pengali di sekitar Merkurius.

Dua robot yang ditempatkan masing-masing merupakan milik ESA dan JAXA.

"Peluncuran BepiColombo adalah tonggak besar bagi ESA dan JAXA, dan akan ada banyak kesuksesan besan di masa mendatang. Setelah menyelesaikan perjalanan yang menantang, misi ini akan membawa pulang banyak ilmu pengetahuan," ucap Jan Worner, Direktur Umum ESA.

Ilmuwan berharap misi yang bernilai sebesar Rp27,8 triliun ini akan menjawab banyak pertanyaan tentang planet Merkurius. Seperti mengapa planet tersebut memiliki inti besar yang terbuat dari besi dan apakah itu mampu menahan jejak air.

Hasil misi yang dilakukan oleh ESA dan JAXA ini dapat memberikan wawasan baru tentang asal usul dan evolusi tata surya.

Fitur utama BepiColombo dilengkapi dengan teknologi propulsi ion listrik yang canggih, yang dapat menembak dua kali pada satu waktu. Itu juga akan memancarkan sinar gas xenon bermuatan listrik. Tembakan bertindak sebagai rem dalam melawan gravitasi matahari yang sangat besar.

“Ini merupakan salah satu misi antarplanet yang paling kompleks yang pernah kami lakukan,” ucap Andrea Accomazzo, direktur penerbangan ESA untuk pesawat tersebut.

"Salah satu tantangan terbesar adalah gravitasi Matahari yang sangat besar, yang menyulitkan menempatkan pesawat ruang angkasa ke orbit yang stabil di sekitar Merkurius," tambahnya.

Accomazo mengatakan bahwa perlu pengereman secara terus menerus agar tidak tertarik gravitasi matahari tanpa kendali.

"Kami harus terus-menerus mengerem untuk memastikan jatuh terkontrol ke arah Matahari, dengan pendorong ion menyediakan daya dorong rendah yang dibutuhkan selama jangka waktu yang panjang dari fase pelayaran," ucap Accomazo.

Misi ke Merkurius ini bukan pertama kalinya dilakukan, setidaknya sudah ada dua pesawat antariksa yang telah mengunjungi planet terpanas di tata surya ini.

Pesawat antariksa pertama yang mengunjungi planet ini adalah Mariner 10 milik NASA yang terbang melintasi planet tersebut sebanyak tiga kali antara tahun 1974 dan 1975. Yang kedua, pesawat Messenger mengorbit di planet tersebut antara tahun 2011 hingga 2015.

BepiColombo ini dinamai setelah Giuseppe "Bepi" Colombo, seorang ilmuwan dan insinyur dari Italia yang memainkan peran utama dalam misi Mariner 10 pada tahun 1974.




 


 Para arkeolog Mesir menemukan patung Sphinx di kuil Kom Ombo, kawasan Aswan, Mesir, saat sedang melakukan operasi pengurangan air tanah dalam sebuah proyek. 

Mostafa al-Waziri, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir, mengatakan bahwa patung tersebut kemungkinan berasal dari periode Ptolemaik. Sphinx ini ditemukan di sisi tenggara kuil Kom Ombo di antara dinding luar dan bukit arkeologi.

Selain menemukan Sphinx, arkeolog juga menemukan dua relief batu pasir bekas peninggalan Raja Ptolemy V.

Abdel Moneim Said, Kepala Departemen Kepurbakalaan Aswan, mengatakan bahwa penemuan ini dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai tempat bersejarah.

Menurut Said, dua penemuan sebelumnya yang berasal dari era Raja Ptolemy V terbuat dari batu pasir dengan tulisan Hieroglyphic dan Demotic. Temuan tersebut kemudian dipindahkan ke Museum Nasional peradaban Mesir di al-Fustat untuk pemulihan, dan akan dipamerkan di museum.

Sphinx seringkali digambarkan dengan kepala seorang pria yang mengenakan hiasan kepala firaun dan berbadan singa. Meskipun begitu, terkadang penggambaran dalam sosok wanita juga  ditemukan.

Sphinx berasal dari Mesir dan dibuat sebagai simbol dalam mitologi Mesir serta mitologi Yunani dan Asia.

Kuil Kom Ombo yang yang menjadi lokasi penemuan dianggap sebagai candi ganda karena memiliki pintu kembar dan terdapat lorong-lorong untuk menghormati dua dewa.

Dengan adanya penemuan artefak ini, Mesir berharap adanya peningkatan kunjungan wisatawan menuju Mesir, setelah revolusi pada tahun 2011.




 



Kerangka manusia yang tercerai berai dan dua yang hampir lengkap, ditemukan di lubang kuburan dangkal di Manassas, Virginia, AS.

Kota tersebut merupakan lokasi meninggalnya 15 ribu tentara Union saat Pertempuran Bull Run Kedua pada 1862. Tulang-tulang yang diduga milik para pejuang wilayah Utara itu, memberikan gambaran suram dari Perang Saudara yang terjadi di AS.

Setelah perang, petugas medis menghampiri para pria yang terluka parah. Beberapa di antaranya, telah terbaring di luar ruangan berhari-hari. Para dokter harus menentukan dengan cepat mana yang bisa diselamatkan dan yang tidak.

Baca juga: Ilmuwan Selidiki Asal Penyakit Sifilis Melalui Kerangka 300 Tahun

Kerangka tercerai-berai yang ditemukan di Manassas berasal dari hasil amputasi tentara yang memiliki peluang bertahan hidup.

Meski begitu, adanya luka pada salah satu kerangka menunjukkan bahwa dokter memutuskan untuk tidak mengoperasinya. Kerangka tersebut diduga milik prajurit yang mengalami luka tembak di bokongnya.

Tidak ditemukannya kancing celana panjang di sekitarnya, menunjukkan bahwa tentara itu masih sempat hidup setelah tertembak.


“Yang mungkin terjadi adalah: ia masih hidup saat peluru mengenai bokongnya. Dokter pun sempat membuka celana tentara tersebut untuk melihat luka tembakan. Namun, setelah itu, mereka memutuskan untuk mengabaikannya,” papar Doug Owsley, antropolog di National Museum of Natural History, setelah melihat tingkat keparahan cedera pada kerangka.

Para dokter berpikir luka tembak yang dialami tentara tersebut terlalu parah sehingga sulit melakukan amputasi.

Yang mengejutkan menurut Owsley adalah kerangka yang tercerai-berai itu dipotong sengan sangat rapi. Selama ini, pembedahan pada masa Perang Saudara memiliki reputasi yang buruk. Sebuah studi bahkan menyebutkan bahwa ahli bedah pada zaman Kekaisaran Inca, jauh lebih baik dari dokter-dokter di era Perang Saudara. Oleh sebab itu, penemuan kerangka dengan potongan yang baik ini, cukup mengejutkan peneliti.

“Beberapa amputasi kemungkinan diselesaikan kurang dari sepuluh menit. Itu dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman – bukan pekerjaan pemula,” kata Owsley.

Owsley dan rekannya berpikir bahwa ahli bedah tersebut mungkin Benjamin Howard, dokter yang juga merawat tentara terluka saat pertempuran Antietam.

Manassas National Battlefield Park akan menambahkan rincian dari penelitian baru ini ke dalam database mereka tentang Pertempuran Bull Run Kedua. Selain itu, dua kerangka telah dikirimkan ke Pemakaman Arlington untuk dikubur -- peneliti berhasil mengidentifikasi mereka sebagai tentara yang gugur.


Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa ‘gereja rahasia’ yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.

Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.

Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.

‘Gereja rahasia’ yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.

Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.

Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.

Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.

“Tempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,” papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.

Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.

Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang  “persekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya”.

Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.

Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.

Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi ‘gereja rahasia’ ini.
 


Legenda Welsh yang berasal dari periode abad pertengahan tentang lanskap yang hilang ke laut ternyata masuk akal. Sebuah bukti baru tentang evolusi garis pantai Wales barat telah terungkap.

Melihat pada data geologi dan peta abad pertengahan, para peneliti
dari Swansea University dan University of Oxford—mengusulkan bagaimana dua pulau mungkin pernah muncul dan kemudian menghilang lagi.

Studi ini terinspirasi oleh sebuah Peta Gough yang ditemukan tersimpan di Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford. Peta ini adalah peta Inggris Raya paling awal yang masih ada, mungkin dengan asal-usulnya pada abad ketiga belas.

Peta tersebut menggambarkan dua pulau di Cardigan Bay di Wales barat, yang sudah tidak ada lagi. Masing-masing digambarkan sekitar seperempat ukuran pulau Anglesey di Wales utara. Salah satunya adalah antara Aberystwyth dan Aberdovey dan yang lainnya di antara keduanya dan Barmouth di utara.

Penelitian ini dilakukan oleh Simon Haslett, Profesor Kehormatan Geografi Fisik di Universitas Swansea dan David Willis, Jesus Professor of Celtic Studies di Universitas Oxford.

Studi mereka menyelidiki sumber sejarah dan bukti geologis dari garis pantai dan dasar laut. Ini menggunakan model bagaimana pantai telah berevolusi sejak zaman es terakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang memberikan penjelasan yang mungkin untuk pulau-pulau yang 'hilang'.

Mereka mengatakan bahwa pulau-pulau itu bisa menjadi sisa-sisa lanskap dataran rendah yang dilatarbelakangi oleh endapan glasial lunak yang terbentuk selama zaman es terakhir. Sejak itu, kekuatan erosi telah mengikis daratan, mereduksinya menjadi pulau-pulau. Sebelum pulau-pulau itu juga terkikis dan menghilang pada abad keenam belas.


Karena sedimen yang lebih halus dari endapan glasial terkikis, komponen kerikil dan batu yang lebih besar tertinggal di dasar laut. Posisi pulau-pulau tersebut bertepatan dengan lokasi akumulasi kerikil dan bongkahan bawah laut, yang dikenal secara lokal sebagai sarn.

“Kita tahu bahwa pantai barat Wales telah berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Bukti dari kartografer Romawi Ptolemeus menunjukkan garis pantai 2.000 tahun yang lalu mungkin berjarak sekitar 13 km lebih jauh ke laut daripada sekarang,” kata Profesor Simon Haslett dari Departemen Geografi Universitas Swansea. “Peta Gough sangat akurat mengingat alat survei yang mereka miliki saat itu, dan kedua pulau itu ditandai dengan jelas. Penelitian kami meningkatkan pemahaman kami tentang proses pesisir potensial yang terjadi di sepanjang pesisir Teluk Cardigan. Ini juga dapat membantu penelitian masa depan tentang evolusi pasca-glasial dari dataran rendah serupa di bagian lain Eropa barat laut.”

ia juga menambahkan, “Memahami dinamika garis pantai tidak pernah sepenting ini. Beberapa kota di sepanjang area yang kami pelajari rentan terhadap perubahan iklim dan permukaan laut. Telah disarankan bahwa hal itu dapat menyebabkan beberapa pengungsi perubahan iklim pertama di Inggris."

“Bukti kami dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana kisah Cantre'r Gwaelod ('The Hundred of the Bottom') mungkin muncul. Tanah yang hilang ini dikatakan telah mengalami bencana banjir dan disebutkan dalam puisi dalam Buku Hitam Carmarthen dan dalam cerita rakyat selanjutnya," tutur David Willis, Jesus Professor of Celtic Studies di Universitas Oxford.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Atlantic Geosciences dengan judul "The ‘lost’ islands of Cardigan Bay, Wales, UK: insights into the post-glacial evolution of some Celtic coasts of northwest Europe" dan tersedia akses terbuka hingga 5 September 2022.


pinosauridae (atau spinosaurid) adalah keluarga dinosaurus theropoda yang terdiri dari sepuluh hingga empat belas genera yang diketahui. Mereka menjadi menonjol selama periode Kapur. Fosil Spinosaurid telah ditemukan di seluruh dunia, termasuk Afrika, Eropa, Amerika Selatan dan Asia. Sisa-sisa mereka umumnya dikaitkan dengan Cretaceous awal hingga menengah.

Sebuah studi baru telah diterbitkan di jurnal Historical Biology pada 17 Mei berjudul New contributions to the skull anatomy of spinosaurid theropods: Baryonychinae maxilla from the Early Cretaceous of Igea (La Rioja, Spain). Studi tersebut di ditulis oleh Iker Isasmendi (penulis utama) dan Xavier Pereda dari Pereda UPV/EHU-universitas negara Basque. Bekerja sama dengan Pablo Navarro dari Ur-University of La Rioja, Angélica Torices, Direktur Ketua Palaeontologi di UR. Ditambah pakar lain dari Complutense University of Madrid dan Palaeontological Visitors' Centre of La Rioja.

Para ilmuwan telah menilai kembali fosil rahang yang diterbitkan oleh Viera dan Torres pada tahun 1995. Itu ditemukan pada tahun 1983 di situs Cretaceous yang lebih rendah di IGEA (La Rioja, Spanyol). Sisa-sisa merupakan fragmen maksila kiri milik dinosaurus karnivora dan di mana 8 alveoli telah dilestarikan. Menggunakan teknik microct, mereka menemukan sisa-sisa beberapa gigi yang berkembang secara bersamaan di salah satu soket gigi ini.

"Kami mengenali hingga tiga generasi gigi dalam alveolus yang sama: gigi fungsional hewan, gigi lain terbentuk dan yang akan menggantikan yang pertama, serta ukuran kecil yang akhirnya akan mengganti yang kedua," jelas Navarro.


"Ini menunjukkan penggantian gigi yang sangat cepat dan mungkin salah satu alasan mengapa begitu banyak gigi spinosaurid dapat ditemukan di Semenanjung Iberia selama era Kapur Bawah," tambah rekan penulis lainnya.

Sampai saat ini, beberapa spesies dinosaurus spinosaurid-medium/karnivora besar dengan tengkorak memanjang dan gigi kerucut seperti buaya. Diketahui menggantikan gigi mereka lebih cepat daripada theropoda lainnya. Hanya dalam dua bulan (tingkat penggantian yang diperkirakan 60-68 hari).

Penelitian ini menegaskan bahwa ini adalah sifat yang dibagikan oleh seluruh kelompok dan memberikan bukti bagaimana perubahan ini terjadi, yaitu dimungkinkan oleh pengembangan beberapa gigi pengganti pada saat yang sama.

"Sepanjang hidup mereka, hewan-hewan ini menumbuhkan gigi baru yang secara bertahap menggantikan yang asli dan menyebabkan mereka jatuh. Ini berarti bahwa hewan yang sama dapat menghasilkan banyak gigi," ujar Navarro.

"Gigi-gigi ini, dalam bentuk yang kurang lebih berbentuk kerucut dan satu sentimeter. Diangkut oleh sungai, terakumulasi di daerah danau dan, seiring waktu menjadi fosil," kata peneliti. “Mereka adalah salah satu sisa vertebrata yang paling umum di situs Iberia era Kapur Bawah (antara 145 dan 113 juta tahun yang lalu)."

Meskipun tidak diketahui secara tepat mengapa gigi mereka digantikan begitu sering. Namun, diyakini bahwa ini memungkinkan mereka untuk memiliki lebih banyak gigi fungsional setiap saat. Ini adalah keuntungan yang menentukan ketika menahan upaya besar yang diperlukan untuk memegang mangsa mereka dengan menjebak mereka di antara rahang mereka.


Selain temuan ini, penelitian ini telah memungkinkan klasifikasi rahang yang dipelajari untuk diklarifikasi. Para ahli tidak mengaitkannya, seperti yang diperkirakan sebelumnya. Dengan genus Baryonix, tetapi jenis spinosaurid lain yang sangat dekat dengannya, sebuah Baryonychid yang tidak ditentukan.

Studi palaeontologis yang dilakukan hingga saat ini di IGEA adalah signifikan karena adanya banyak sisa kerangka spinosaur. Termasuk kerangka parsial milik beberapa individu.

"Penelitian saat ini akan memungkinkan pengetahuan kita tentang keragaman kelompok dinosaurus karnivora yang unik ini untuk ditingkatkan. Kemungkinan setidaknya dua spesies yang berbeda diwakili di situs IGEA," kata Erik Isasmendi dan Xabier Pereda-Subebiola, palaeontologis di UPV/EHU's Department of Geology.  Akibatnya, daerah Rioja ini adalah salah satu lokasi terkemuka dunia dalam studi spinosaurus.


Manuskrip Voynich adalah kodeks bergambar yang ditulis tangan dalam sistem penulisan yang tidak diketahui dan mungkin tidak berarti. Vellum atau kertas kulit yang digunakan untuk menulisnya telah diberi penanggalan karbon hingga awal abad ke-15 (1404-1438), dan mungkin telah disusun di Italia selama Renaisans Italia.

Naskah bergambar yang ditulis dalam bahasa yang tidak diketahui ini diberi nama berdasarkan nama penjual buku antik saat itu, Wilfrid Voynich, yang membelinya pada tahun 1912. Sejak itu, para sarjana dan ilmuwan telah berusaha untuk menguraikan arti dari teks naskah kuno tersebut.

Sejak penemuannya, Manuskrip Voynich abad ke-15 ini telah menjadi misteri dan fenomena kultus tersendiri. Penuh tulisan tangan dalam bahasa atau kode yang tidak diketahui oleh banyak orang, buku ini telah banyak diilustrasikan dengan gambar-gambar aneh tanaman asing, wanita telanjang, benda aneh, dan simbol zodiak.

Berbagai kriptografer, sarjana linguistik, dan program komputer telah mencoba memecahkan kode tersebut tetapi tetap saja gagal. Kini, seorang peneliti Associate Dr. Gerard Cheshire di University of Bristol telah berhasil memecahkan kode manuskrip Voynich. Cheshire membutuhkan waktu selama dua minggu, menggunakan kombinasi pemikiran lateral dan kecerdikannya, untuk mengidentifikasi bahasa dan sistem penulisan dokumen yang terkenal tidak dapat dipahami itu.

Hasil kajiannya tersebut telah ia terbitkan dalam jurnal Romance Studies pada 29 April 2019 dengan judul The Language and Writing System of MS408 (Voynich) Explained. Dalam studi tersebut Cheshire menjelaskan bagaimana ia berhasil menguraikan kode manuskrip dan, pada saat yang sama, mengungkapkan satu-satunya contoh bahasa proto-Roman yang diketahui.

“Saya mengalami serangkaian momen 'eureka' saat menguraikan kode tersebut,” kata Cheshire, seperti dilaporkan Tech Explorist. “Dengan diikuti oleh rasa tidak percaya dan kegembiraan ketika saya menyadari besarnya pencapaian ini, baik dari segi kepentingan linguistiknya maupun wahyu tentang asal dan kontennya. dari manuskrip itu.”

“Apa yang diungkapkannya bahkan lebih menakjubkan daripada mitos dan fantasi yang dihasilkannya. Misalnya, manuskrip itu disusun oleh para biarawati Dominika sebagai sumber referensi untuk Maria dari Kastilia, Ratu Aragon, yang kebetulan adalah bibi yang hebat bagi Catherine dari Aragon.” jelasnya.

“Juga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa karya ini mewakili salah satu perkembangan paling penting hingga saat ini dalam linguistik Roman. Naskah ini ditulis dalam proto-Romance – nenek moyang bahasa Roman saat ini termasuk Portugis, Spanyol, Prancis, Italia, Rumania, Catalan, dan Galicia. Bahasa yang digunakan ada di mana-mana di Mediterania selama periode Abad Pertengahan, tetapi jarang ditulis dalam dokumen resmi atau penting karena bahasa Latin adalah bahasa kerajaan, gereja, dan pemerintah. Akibatnya, proto-Romance hilang dari catatan, sampai sekarang.” tutur Cheshire.

Cheshire juga menjelaskan lebih lanjut, “Ini menggunakan bahasa yang sudah punah. Alfabetnya adalah kombinasi dari simbol yang tidak dikenal dan lebih akrab. Ini tidak menyertakan tanda baca khusus, meskipun beberapa huruf memiliki varian simbol untuk menunjukkan tanda baca atau aksen fonetik.”

Semua huruf dalam huruf kecil dan tidak ada konsonan ganda. Ini termasuk diftong, triftong, quadriphthong dan bahkan quintiphthong untuk singkatan komponen fonetik. Ini juga mencakup beberapa kata dan singkatan dalam bahasa Latin.

Cheshire selanjutnya berencana untuk menerjemahkan seluruh manuskrip dan menyusun leksikon, yang diakui Cheshire. Ini akan memakan waktu, karena manuskripnya berkompromi lebih dari 200 halaman.


Belajar dari cerita film Netflix popular terbaru berjudul “Don’t Look Up” yang seolah mengajarkan kepada kita semua tentang pentingnya meningkatkan kesadaran publik akan potensi efek  bencana dari dampak asteroid ke planet Bumi, penelitian baru ini berusaha menjelaskan bagaimana dampak Chicxulub 66 juta tahun yang lalu mengakibatkan kepunahan 75 persen hewan di Bumi, termasuk dinosaurus.

Sebuah asteroid besar, yang memiliki diameter kira-kira 10 kilometer ini, menghantam semenanjung Yucatán utara Meksiko, dampaknya mengeluarkan material yang kira-kira setara dengan area seukuran Connecticut dan lebih dari dua kali lebih tinggi dari Gunung Everest, sehingga mendistribusikannya ke seluruh dunia.

"Ledakan dan kejatuhan dampak memicu kebakaran yang meluas, bersamaan dengan debu batu, jelaga, dan bahan mudah menguap yang dikeluarkan dari kawah, menghapus matahari secara global dalam dampak musim dingin yang mungkin telah berlangsung bertahun-tahun, dan mengakibatkan kepunahan," kata Christopher Junium, seorang profesor ilmu Bumi dan Lingkungan yang memimpin kelompok penelitian Geobiologi, Astrobiologi, Paleoklimat, Paleoseanografi di Sekolah Tinggi Seni dan Ilmu Pengetahuan di Universitas Syracuse.

Para ilmuwan telah lama mengimplikasikan partikel halus sulfat di stratosfer sebagai agen utama perubahan iklim besar-besaran dan mengakibatkan kepunahan massal, tetapi tidak pasti mengenai nasib belerang. "Ada ketidakpastian mengenai seberapa jauh mencapai stratosfer di mana pengaruhnya terhadap iklim akan sangat diperbesar," kata Junium.

Selama beberapa dekade, teori kepunahan dinosaurus yang berlaku menunjukkan bahwa asteroid menabrak planet ini, lalu menyebabkan kehancuran dahsyat yang memusnahkan sebagian besar kehidupan di planet ini. Namun, tidak ada yang memperhatikan bahwa dampak Chicxulub ini telah melepaskan sejumlah besar belerang.

Dalam penelitian yang diterbitkan 21 Maret 2022 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences berjudul Massive perturbations to atmospheric sulfur in the aftermath of the Chicxulub impact, sebuah tim gabungan dari Syracuse University, University of St Andrews di Skotlandia, University of Bristol di Inggris dan Texas A&M University menghubungkan tingkat belerang stratosfer yang tinggi dengan dampak dan lokasinya, yang kaya akan mineral sulfat gipsum.

Sementara dampak komet, asteroid, dan benda planet lainnya biasa terjadi selama sejarah Bumi, catatan geologis mengungkapkan sedikit tentang bagaimana dampak tersebut mengubah jalan kehidupan. Dampak Chicxulub unik dalam mengatur ulang keseimbangan biosfer Bumi dan dalam catatan geologi yang tertinggal, lapisan tipis sedimen yang disebut batas K-Pg, ditemukan di seluruh dunia dalam batuan laut dan darat.

Gas-gas tersebut beredar secara global selama bertahun-tahun di atmosfer bumi, mendinginkan iklim dan berkontribusi pada kepunahan massal kehidupan. Kepunahan ini merupakan bencana bagi dinosaurus dan kehidupan lainnya juga. Pada saat yang sama, memungkinkan diversifikasi mamalia, termasuk primata.

“Salah satu alasan dampak khusus ini begitu menghancurkan kehidupan tampaknya adalah karena ia mendarat di lingkungan laut yang kaya akan belerang dan zat mudah menguap lainnya. Dinosaurus benar-benar tidak beruntung!” ujar Dr. Aubrey Zerkle dari School of Earth and Environmental Sciences di University of St Andrews.

“Kami memeriksa isotop belerang langka dalam material yang dikeluarkan oleh tumbukan dan disimpan di kursi terdekat, sekarang diwakili oleh bebatuan yang ditemukan di sepanjang Sungai Brazos di Texas.” tutur Zerkle. "Sidik jari unik yang kami ukur dalam sedimen tumbukan ini memberikan bukti langsung pertama tentang pentingnya aerosol belerang dalam bencana perubahan iklim dan pendinginan."

“Data kami memberikan bukti langsung pertama dari fraksinasi massa independen dari isotop belerang (S-MIF) yang diawetkan dalam bahan ejeksi tumbukan Chicxulub yang disimpan di lingkungan laut di Dataran Pesisir Teluk Amerika Utara.” kata James Witts dari School of Earth Sciences di University of Bristol.

“Belerang atmosfer di stratosfer menyebarkan radiasi matahari yang masuk dan pendinginan skala planet yang berkepanjangan selama bertahun-tahun setelah dampak aslinya, menyebabkan hujan asam dan mengurangi cahaya yang tersedia untuk fotosintesis yang sangat penting bagi kehidupan tumbuhan dan plankton laut yang membentuk dasar rantai makanan.” papar Junium. “Dan durasi pendinginan yang diperpanjang inilah yang kemungkinan memainkan peran sentral dalam tingkat keparahan kepunahan.”


Dalam mitologi Babilonia, Irkalla adalah dunia bawah yang tidak dapat kembali lagi. Alam orang mati atau dunia bawah disebut juga Arali, Kur, Kigal, Gizal.

Ada dua tradisi yang menjelaskan bagaimana manusia memasuki alam baka. Menurut salah satu dari mereka, jalan menuju alam baka melewati padang rumput yang dipenuhi setan, melintasi Sungai Khubur, dan kemudian melalui tujuh gerbang yang dijaga ketat.

Versi lain menggambarkan jalan menuju alam baka yang dilintasi dengan perahu menyusuri salah satu sungai di bumi bagian atas dan melintasi apsu (perairan manis di bawah bumi) ke Irkalla, bumi bagian bawah.

Pada awalnya, satu-satunya penguasa Irkalla adalah Ereshkigal (Ratu Agung Bawah), cucu perempuan Enlil dan kakak perempuan Inanna (Ishtar). Penilaian dan hukum Ereshkigal selalu tak terbantahkan. Kemudian dia memerintah dunia bawah dengan suaminya, Nergal, raja kematian yang membawa penyakit, wabah, dan semua kemalangan yang disebabkan oleh panas.


Irkalla adalah tempat tinggal banyak setan, termasuk Lamashtu pemakan anak-anak yang mengerikan, setan angin yang menakutkan dan dewa pelindung Pazuzu, dan setan besar gallas (gallus), yang menyeret manusia ke Irkalla.

Lokasi Irkalla

Berdasarkan berbagai teks, dapat diasumsikan bahwa orang Babilonia menemukan pintu masuk ke dunia bawah tanah, tempat matahari terbenam, di gurun barat. Dewa matahari Babilonia, Shamash turun ke wilayah ini di malam hari dan muncul lagi dari pegunungan di timur, di pagi hari. Dunia bawah terletak bahkan lebih rendah dari Abzu, lautan air tawar di bawah bumi.

Makam Orang Mati Jadi Pintu Masuk Irkalla

Dalam tulisan Babilonia, kuburan adalah pintu masuk ke dunia bawah tanah bagi orang yang dimakamkan di dalamnya. Mitos Babilonia diilhami oleh kepercayaan Sumeria, dan kemudian diulang dan dikembangkan lebih lanjut.

Semua orang, terlepas dari posisi, usia, atau moral mereka, diturunkan setelah kematian ke Irkalla. Itu adalah kehidupan setelah kematian yang sama untuk semua jiwa. Satu-satunya makanan atau minuman adalah debu kering, tetapi anggota keluarga almarhum akan menuangkan persembahan untuk mereka minum.

Dalam The Ark Before Nuh: Decoding the Story of the Flood, Irving Finkel, mengutip deskripsi Irkalla, sebagai tempat yang suram: Dunia bawah digambarkan sebagai tempat yang suram:

“Ke rumah suram, kursi dunia akhirat. Ke rumah yang tidak ditinggalkan siapa pun yang masuk. Ke jalan yang perjalanannya tidak akan kembali. Ke rumah yang para pendatangnya kehilangan cahaya. Di mana debu adalah rezeki mereka dan tanah liat makanan mereka. Mereka tidak melihat cahaya tetapi berdiam dalam kegelapan. Mereka berpakaian seperti burung di sayap untuk pakaian, dan debu telah berkumpul di pintu dan baut.”

Tidak semua pandangan tentang akhirat sama di antara kepercayaan kuno dari budaya lain. Tidak seperti pandangan lain tentang kehidupan setelah kematian, di dunia bawah Sumeria, tidak ada penghakiman akhir dari almarhum dan orang mati tidak dihukum atau diberi penghargaan atas perbuatan mereka dalam hidup. Kualitas keberadaan seseorang di dunia bawah ditentukan oleh kondisi penguburannya.

Sebagai alam gelap bawah tanah, terputus dari kehidupan dan dari Tuhan, Irkalla adalah tujuan akhir bagi semua yang mati. Alam ini mirip dengan Sheol (She'ol) dari Alkitab Ibrani, di mana semua orang mati,  baik yang benar maupun yang tidak benar, harus bertemu, terlepas dari pilihan moral dan perbuatan yang dibuat dalam hidup.

Akan tetapi pada saat yang sama, sangat berbeda dari visi kehidupan setelah kematian yang lebih penuh harapan yang kemudian muncul dalam filsafat Platonis, Yudaisme, dan Kristen, dan tidak seperti visi kehidupan setelah kematian Mesir kuno.

Setelah menyeberangi sungai Hubar, almarhum (telanjang atau berpakaian bulu seperti burung) berdiri di depan tujuh tembok kota dan harus melewati tujuh pintu gerbang yang dijaga oleh para penjaga. Di Irkalla, almarhum harus menghadapi Ereshkigal saat ia lahir tanpa pakaian dan perhiasan pribadi. Penguasa akan mengumumkan mereka mati, dan nama mereka akan dicatat pada sebuah tablet oleh seorang juru tulis.


Pegunungan Andes adalah tempat tebing-tebing besar, arus deras dan ngarai yang menakutkan. Untuk mendirikan peradaban besar di medan ekstrem ini, jembatan menjadi penting.

Praktik kuno membuat jembatan gantung telah ada sejak lama di Peru—mungkin sejak budaya Wari, yang berkembang dari tahun 600–1000 M. Pada suatu waktu, lusinan jembatan semacam itu dianggap telah menghubungkan komunitas melintasi ngarai dan sungai.

Alih-alih memusatkan seluruh energi mereka untuk membangun bangunan batu besar yang akan memakan waktu puluhan tahun atau bahkan berabad-abad lamanya, suku Inca membangun jembatan gantung tali yang dapat didirikan hanya dalam hitungan hari.

"Jembatan tali Inca membentang lebih jauh daripada jembatan Eropa mana pun di era yang sama dan juga sangat kuat," tulis Nick Dal kepada SA Expeditions, dalam artikel berjudul A closer look at Inca rope bridges, publikasi 31 Mei 2016. 

Profesor MIT (Massachusetts Institute of Technology), John Ochsendorf, telah melakukan tes yang menunjukkan bahwa kabel jembatan Inca merupakan yang paling kokoh di zamannya. 

Jembatan tali dibuat dengan menggabungkan kulit, tanaman merambat dan cabang, yang dapat menopang sekitar 90 ribu kilogram. 

"Jembatan-jembatan itu sangat kuat dan menakjubkan, sehingga saat suku dari luar melihatnya, mereka akan tunduk kepada suku Inca tanpa perlawanan," ungkap Wayne Clough dalam tulisan Dal.

Diketahui, para penakluk akan menjadi ciut dan mulai berkurang pasukannya, ketika mereka menjadi merangkak karena ketakutan, melintasi jembatan tali yang bergoyang di atas ribuan meter di atas jurang di antara tebing curam, meskipun jembatan itu dapat menahan beban ribuan tentara.

Orang Spanyol awal (datang untuk menguasai Peru di era kolonial), seperti Pedro de Cieza de León, terpesona dengan jembatan Inca," lanjutnya.

Tetapi kedatangan orang-orang Spanyol memiliki efek yang menghancurkan bagi masyarakat adat setempat. Orang Eropa membawa penyakit yang menghancurkan populasi Pribumi. Komunitas lokal berkurang yang menjadikan Inca benar-benar sepi.

Ketertarikan orang Spanyol pada mineral berharga, seperti emas dan perak, juga mengalihkan upaya masyarakat adat ke kegiatan lain, seringkali meninggalkan kewajiban komunal lainnya, seperti membangun jembatan.

Hanya satu jembatan tali Inca yang mampu bertahan sampai hari ini. Jembatan itu bernama Q'eswachaka, membentang di sungai Apurimac dekat Huinchiri di Peru, sekitar tiga jam perjalanan dari Cusco, ibu kota Inca dulu.

Jembatan rumput tenunan tangan ini membentang sepanjang 120 kaki. Dibangun kembali setiap satu atau dua tahun sebagai upaya bersama melestarikan peradaban Inca, oleh semua penduduk lokal di wilayah tersebut.

Sekitar 700 pria dan wanita berkumpul di Q'eswachaka untuk pesta yang merayakan pembangunan jembatan. Pesta berlangsung selama empat hari setiap bulan Juni.

Tiga hari pertama didedikasikan untuk pembangunan jembatan, sedangkan hari terakhir – Minggu kedua di bulan Juni –menampilkan musik dan tarian khas yang juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk berjalan melintasi jembatan yang telah selesai dibangun.

Melalui sejarah Inca, dengan penuh semangat, Q'eswachaka telah mengumpulkan cukup banyak perhatian ilmiah dan media, hingga beberapa film pendek yang telah dibuat untuk mendedikasikan jembatan tersebut.


"Apresiasi global terhadap jembatan gantung di Andes sudah ada sejak lama," tulis Lidio Valdez dan Cirilo Vivanco kepada Atlas Obscura, dalam artikelnya berjudul Peru’s Incan Rope Bridges Are Hanging by a Thread, publikasi 27 September 2021.

Sampai saat ini, jembatan itu tampak seperti benang belaka, struktur yang rapuh dan bergoyang, namun masih sering dilintasi oleh manusia dan hewan, yang membawa beban di punggung mereka.

Para pelancong yang hendak melintas, menghitung waktu perjalanan mereka untuk bisa mencapai jembatan pada dini hari, sebelum angin kencang datang yang membuat jembatan bergoyang dan membahayakan diri mereka.


Dunia sains Barat, tentu tak terlalu familiar dengan nama Abū ‘Alī al-Ḥasan ibn al-Haytham, kecuali anda akan menemukan sebutan 'Alhazen' untuk merujuk pada orang yang dimaksud, ilmuwan dan penemu optik modern.

"Alhazen melakukan eksperimen pada propagasi cahaya, warna, ilusi optik dan refleksi. Dia memeriksa pembiasan sinar cahaya melalui media transparan (udara, air) dan mendokumentasikan hukum pembiasan," tulis Pūyān. 

Nasir Pūyān (Nasser Pouyaan) dalam International Journal of Optics and Applications, mengisahkan kehebatan Alhazen. Jurnalnya berjudul Alhazen, the Founder of Physiological Optics and Spectacles, dipublikasi pada tahun 2014.

Alhazen atau ibnu al-Haytham, adalah seorang ilmuwan arab dari Basra (Irak) yang populer sejak abad ke-15. Bahkan, Ibnu al-Haytham adalah orang pertama yang meletakkan dasar optik fisiologis, yang menyangkut prinsip optik mata dan penglihatan. 

Karyanya yang paling mengemuka dan berkembang terus hingga hari ini adalah penemuan kamera obscura. Melalui telaahnya dari surah Al-Kusuf tentang gerhana, ia berdeliberasi dan mendiskusikan tentang kajiannya, yang menghasilkan kamera dan obscura.

Kehebatannya telah diakui, tak hanya di dunia Islam, tapi juga dunia Barat, utamanya di bidang keilmuan. Beragam pemikirannya telah mengilhami sejumlah ilmuwan kontemporer, hingga karyanya dikenal di seluruh dunia.

Berkat gagasan dan karya cemerlangnya, Alhazen mengilhami sejumlah ilmuwan kenamaan, seperti Roger Bacon, René Descartes, Leonardo da Vinci, Christian Huygens, Johannes Kepler dan banyak ilmuwan lainnya.

Kebesarannya, membuat namanya diabadikan. W.R Birt menulis kajiannya tentang kawah-kawah yang ada di bulan, dalam jurnal Astronomical Register, berjudul The Lunar Crater Alhazen yang dipublikasi pada 1867. 

Selain sebagai penemu optik modern, Ibnu Haytham atau Alhazen adalah seorang astronom terkemuka. Ia banyak berteori tentang hipotesis planet, bumi, bulan dan sistem tata surya, membuatnya dikenang dunia.

Nama Alhazen kemudian diabadikan pada salah satu tumbukan kawah yang ada di Bulan. Kawah tersebut berada tepat di selatan-tenggara kawah Hansen, dan di barat Mare Crisium. 

"Tepi kawah Alhazen hampir melingkar, tetapi tampak sangat lonjong jika dilihat dari Bumi," ungkapnya. Dinding bagian dalam dan lantai kawah, kasar dan tidak beraturan. Tentunya penamaan ini ditujukan untuk ilmuwan terkemuka Arab, Ibnu Haytham.

"Kawah Alhazen di bulan dinamai sebagai bentuk penghormatan kepadanya, seperti halnya juga sebuah asteroid yang dinamai asteroid 59239 Alhazen," imbuhnya.

Meskipun, menurut laporan Birt dalam tulisannya, dalam beberapa kurun waktu, kawah Alhazen dianggap menghilang atau sulit ditemui karena berada di balik dataran tinggi atau pegunungan bulan.

"Sebagaimana dijelaskan Schröter (peneliti yang merupakan ahli astronomi kontemporer), Alhazen berada diantara dua gunung," ungkap Birt. Baru pada 2 September 1867, Birt dan tim astronominya, kembali melihat kawah Alhazen dari bumi.

Melalui penamaan Alhazen pada benda-benda langit, diharapkan nama Ibu Haytham yang lebih dikenal dunia Barat dengan Alhazen, akan kekal dan terus dikenang dunia, sebagaimana karya-karya dan jasanya untuk ilmu pengetahuan dan dunia astronomi.


Menariknya, selain diabadikan di bulan dan benda antariksa lainnya, nama Alhazen beserta figur dirinya, juga terpampang dalam uang kertas 10.000 dinar Irak yang diterbitkan pada tahun 2003, dan uang kertas 10 dinar, pada 1982.

Ada juga sebuah fasilitas penelitian yang diprakarsai oleh Saddam Hussein, tentang penelitian senjata kimia dan biologi di Irak, yang juga dicurigai oleh inspektur senjata PBB, dinamai Alhazen.



 


 Hampir tiga ratus tahun setelah orang Romawi pergi, para sarjana seperti Bede menulis tentang Angles dan Saxon serta migrasi mereka ke Kepulauan Inggris. Para sarjana dari banyak disiplin ilmu, termasuk arkeologi, sejarah, ahli bahasa, dan genetika, telah memperdebatkan apa yang mungkin dijelaskan oleh kata-katanya, dan apa skala, sifat, serta dampak migrasi manusia pada waktu itu.

Hasil genetik baru saat ini menunjukkan bahwa sekitar 75 persen populasi di Inggris Timur dan Selatan terdiri dari keluarga migran yang nenek moyangnya pasti berasal dari wilayah benua yang berbatasan dengan Laut Utara. Termasuk Belanda, Jerman, dan Denmark. Terlebih lagi, keluarga-keluarga ini kawin silang dengan populasi Inggris yang ada. Akan tetapi yang terpenting integrasi ini bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain dan dari komunitas ke komunitas.

"Dengan 278 genom kuno dari Inggris dan ratusan lainnya dari Eropa, kami sekarang memperoleh wawasan yang sangat menarik tentang skala populasi dan sejarah individu selama masa pasca-Romawi," kata Joscha Gretzinger, penulis utama studi tersebut. "Kami sekarang tidak hanya memiliki gagasan tentang skala migrasi, tetapi juga bagaimana hal itu terjadi di masyarakat dan keluarga."

Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 21 September dengan judul "The Anglo-Saxon migration and the formation of the early English gene pool."


Menggunakan data genetik yang diterbitkan dari lebih dari 4.000 orang Eropa kuno dan 10.000 orang Eropa masa kini, Gretzinger dan rekannya mengidentifikasi perbedaan genetik yang tidak kentara antara kelompok yang terkait erat yang menghuni wilayah Laut Utara kuno.

Setibanya di sana, para pendatang berbaur dengan penduduk setempat. Dalam satu kasus, di pemakaman Anglo-Saxon dari Buckland dekat Dover, para peneliti mampu merekonstruksi pohon keluarga di setidaknya empat generasi. Serta mengidentifikasi titik waktu ketika migran dan penduduk lokal menikah. Keluarga ini menunjukkan tingkat interaksi yang besar antara dua kumpulan gen. Secara keseluruhan, para peneliti menyaksikan penguburan dengan status menonjol di seluruh kuburan yang diteliti, baik yang berasal dari lokal maupun pendatang.

Tim interdisipliner yang terdiri dari lebih dari 70 penulis ini mampu mengintegrasikan data arkeologi dengan hasil genetik baru. Ini mengungkapkan bahwa wanita asal imigran lebih sering dikubur dengan artefak daripada wanita lokal. Terutama mengingat barang-barang seperti bros dan manik-manik yang ditemukan.

Menariknya, pria dengan senjata seringnya ditemukan memiliki kedua asal usul genetik yang sama. Perbedaan-perbedaan ini dimediasi secara lokal dengan penguburan terkemuka atau kuburan kaya yang terlihat di berbagai asal. Misalnya, seorang wanita yang dikubur dengan seekor sapi utuh di Cambridgeshire secara genetik bercampur, dengan mayoritas keturunan lokal.


"Kami melihat variasi yang cukup besar dalam bagaimana migrasi ini memengaruhi komunitas. Di beberapa tempat, kami melihat tanda-tanda jelas integrasi aktif antara penduduk lokal dan imigran, seperti di kasus Buckland dekat Dover, atau Oakington di Cambridgeshire.” Kata Duncan Sayer, arkeolog dari University of Central Lancashire dan penulis utama studi tersebut. “Namun dalam kasus lain, seperti Apple Down di West Sussex, kita melihat bahwa orang-orang dengan keturunan imigran dan lokal dikuburkan secara terpisah di pemakaman. Mungkin ini adalah bukti beberapa derajat pemisahan sosial di situs ini."

Dengan data baru ini, tim juga dapat mempertimbangkan dampak dari migrasi bersejarah hari ini. Khususnya orang Inggris masa kini hanya memperoleh 40 persen DNA mereka dari nenek moyang benua bersejarah ini. Sedangkan 20 hingga 40 persen profil genetik mereka kemungkinan besar berasal dari Prancis atau Belgia. Komponen genetik ini dapat dilihat pada individu arkeologi dan di kuburan dengan benda-benda Frank yang ditemukan di kuburan Abad Pertengahan awal, khususnya di Kent.

"Masih belum jelas apakah nenek moyang tambahan yang terkait dengan Zaman Besi Prancis ini terkait dengan beberapa peristiwa migrasi yang diselingi, seperti penaklukan Norman. Atau apakah itu hasil mobilitas selama berabad-abad melintasi Selat Inggris," kata Stephan Schiffels, pimpinan penulis senior studi ini. "Pekerjaan di masa depan, secara khusus menargetkan periode abad pertengahan dan nanti akan mengungkapkan sifat sinyal genetik tambahan ini.”


Masih ingat para peneliti di Arab Saudi utara menemukan serangkaian patung unta seukuran aslinya pada tahun 2018? Kala itu, mereka memperkirakan bahwa karya seni tersebut berasal dari sekitar 2.000 tahun lalu. Sekarang, sebuah studi baru menunjukkan bahwa kerangka waktu yang diusulkan ini meleset sebanyak 6.000 tahun.

Temuan baru ini diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science: Reports, menunjukkan bahwa apa yang disebut Situs Unta sebenarnya berasal dari antara 7.000 dan 8.000 tahun lalu.

Dilansir Arab News, garis waktu ini kemungkinan akan menjadikan patung-patung itu sebagai relief hewan tiga dimensi skala besar tertua yang masih ada di dunia. Sebaliknya, Piramida Giza Mesir berusia 4.500 tahun, sedangkan Stonehenge Inggris dibangun sekitar 5.000 tahun lalu.

Para peneliti menentukan tanggal ukiran melalui analisis kimia dan pemeriksaan tanda alat yang ditemukan di situs tersebut.

 “Mereka benar-benar menakjubkan dan, mengingat kita melihat mereka sekarang dalam keadaan terkikis parah dengan banyak panel jatuh, situs aslinya pasti benar-benar menakjubkan,” penulis utama Maria Guagnin, seorang arkeolog di Max Planck Institute for the Science of Human History.

 “Ada unta seukuran manusia dan equid dua atau tiga lapisan di atas satu sama lain,” tambahnya.

Seniman kuno mengukir gambar menjadi tiga taji berbatu. Selain sekitar selusin unta, karya seni itu menggambarkan dua hewan yang mungkin keledai, bagal, atau kuda.

Perkiraan awal usia karya ini sebagian didasarkan pada keberadaan relief unta lain yang dibuat di Yordania sekitar waktu itu. Tapi penanggalan radiokarbon, analisis pola pelapukan dan metode penanggalan lainnya menunjukkan asal yang jauh lebih tua. Selain itu, seorang tukang batu tidak menemukan tanda-tanda tembikar atau penggunaan peralatan logam di lokasi tersebut.


"Setiap hari Neolitik lebih mungkin terjadi, sampai kami menyadari itu benar-benar situs Neolitik yang kami lihat," kata Guagnin.

Seperti yang dilaporkan Stephanie Pappas untuk Live Science, para pemahat unta menggunakan alat yang terbuat dari batu yang disebut rijang, yang dibawa setidaknya sembilan mil jauhnya.

Mereka akan membutuhkan beberapa jenis perancah untuk mencapai bagian yang lebih tinggi dari permukaan berbatu. Mengukir setiap relief membutuhkan waktu antara 10 dan 15 hari. Beberapa unta yang digambarkan pada relief memiliki garis leher yang menonjol dan perut yang bundar—ciri khas hewan ini pada musim kawin. Ini menunjukkan bahwa situs itu terkait dengan kesuburan atau waktu tertentu dalam setahun.

“Komunitas pemburu dan penggembala cenderung sangat tersebar dan berpindah-pindah, dan penting bagi mereka untuk bertemu secara teratur sepanjang tahun, untuk bertukar informasi, pasangan, dan sebagainya,” Guagnin.

“Jadi apapun simbolisme dari patung-patung itu, mungkin ini adalah tempat untuk menyatukan seluruh komunitas,” imbuhnya.

Pola pelapukan pada patung menunjukkan bahwa mereka diukir ulang dan dibentuk kembali dari waktu ke waktu. Pada saat pembuatan patung, sekitar milenium keenam SM, Jazirah Arab dipenuhi dengan padang rumput dan jauh lebih basah daripada sekarang. Penduduk kawasan itu membangun ribuan monumen batu yang dikenal sebagai mustatil di puluhan ribu mil persegi.


Guagnin mengatakan tidak jelas apakah kelompok yang sama yang membuat Situs Unta juga membuat mustatil. Ukiran dua dimensi lainnya telah ditemukan di daerah tersebut, tetapi tidak ada yang setara dengan Situs Unta.

Beberapa penggambaran fauna Neolitikum sama-sama seukuran aslinya, detail dan naturalistik tetapi keduanya dua dimensi. Hal ini membuatnya berpikir bahwa Situs Unta adalah bagian dari tradisi yang lebih luas tetapi memiliki tempat khusus di dalamnya, sampai-sampai terlihat seperti hewan itu keluar dari batu.

Guagnin menambahkan bahwa unta-unta yang ditampilkan dalam gambar mungkin liar. Domestikasi unta paling awal kemungkinan terjadi sekitar tahun 1200 SM. Orang-orang Neolitik di Arabia menggembalakan sapi, domba dan kambing dan mungkin berburu unta liar.

Dengan erosi yang terus menurunkan patung, para peneliti mengatakan penting untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang patung-patung itu.

“Pelestarian situs ini sekarang menjadi kunci, seperti penelitian masa depan di wilayah tersebut untuk mengidentifikasi apakah situs lain seperti itu mungkin ada,” tutup Guagnin.


 Anggapan adanya materi gelap (dark matter) dalam kinerja alam semesta masih diperdebatkan oleh kalangan ilmuwan. Beberapa penelitian mengungkap adanya materi itu, ada pula yang mengungkapnya tidak ada.

Secara definisi, materi gelap merupakan sesuatu yang tidak dapat dideteksi lewat radiasi apapun, tetapi kehadirannya bisa diketahui lewat efek gravitasinya yang tampak pada bintang dan galaksi.

Berdasarkan laporan di The Astrophysical Journal yang dipublikasikan Mei lalui, para ilmuwan berusaha mengungkapkannya. Mereka juga melakukan pemetaan alam semesta antara galaksi Bima Sakti dengan tetangganya, Andromeda, lewat kecerdasan buatan (AI).

“Karena materi gelap mendominasi dinamika alam semesta, pada dasarnya menentukan nasibnya bekerja,” kata Donghui Jeong, salah satu penulis laporan dari Pennsylvania State University.

“Jadi kita bisa meminta komputer untuk mengembangkan peta selama miliaran tahun untuk melihat apa yang akan terjadi di alam semesta lokal. Dan kita dapat mengembangkan model kembali ke masa lalu untuk memahami sejarah lingkungan kosmik kita," tambahnya dalam rilis.

Peta itu dinilai dapat mendeteksi struktur tersembunyi yang menghubungkan kedua galaksi itu, yang membuktikan keberadaan materi gelap. Sehingga, dapat membantu para ilmuwan membuat model tabrakan antara Bima Sakti dan Andromeda di masa depan.

Para ilmuwan sebelumnya memprediksi tabrakan kedua galaksi ini akan terjadi pada 4,5 miliar tahun mendatang. Peta itu memetakan filamen materi gelap yang menjembataninya yang mempengaruhi saling mendekatnya kedua galaksi


Selain itu, diyakini peta yang dibuat dengan machine learning ini dapat menjelaskan lebih banyak pengaruh materi gelap dalam evolusi alam semesta.

Peta itu dibuat lewat kumpulan data pengujian, lalu AI diuji untuk membuat keputusannya sendiri terkait klasifikasi. Model data itu berupa rangkaian besar simulasi galaksi yang disebut IlustrisTNG yang mencakup galaksi, gas, materi yang nampak, maupun materi gelap itu sendiri.

Para ilmuwan secara khusus memilih galaksi simulasi yang sebanding dengan Bima Sakti. Dan akhirnya, dapat mengidentifikasi sifat galaksi mana yang diperlukan untuk memprediksi distribusi materi gelap.

Setelah model siap untuk mulai mengkalsifikasikan informasinya sendiri, para peneliti menunjukkan data kehidupan nyata dari katalog galaksi Cosmicflows-3. Hasilnya mencakup pergerakkan dan gistribusi 17.00 galaksi dalam 200 megaparsec Bima Sakti.

Satu parsec atau satuan itu setara dengan sekitar 3,26 tahun cahaya, yakni 19,2 triliun mil, atau 30,9 kilometer. Peta itu bisa dilihat di dalam laporan yang para ilmuwan buat.

“Ketika diberikan informasi tertentu, model itu pada dasarnya dapat mengisi kekosongan berdasarkan apa yang telah dilihatnya sebelumnya,” Jeong berpendapat.

“Peta dari model kami tidak sepenuhnya sesuai dengan data simulasi, tapi kami masih dapat merekonstruksi struktur yang sangat detail. Kami menemukan bahwa memasukkan pergerakan galaksi—kecepatan khas radialnya—di samping distribusinya secara drastis meningkatkan kualitas peta dan memungkinkan kami melihat detail ini.”

Peta itu secara menghasilkan struktur terkemuka yang telah diketahui dari data yang dimasukan terkait alam semesta loka, termasuk 'lembaran lokal'. 'Lembaran lokal' yang dimaksud para ilmuwan adalah wilayah yang berisi Bima Sakti, galaksi-galaksi sekitar dalam klaster lokal, dan ragam galaksi di gugus Virgo.

Ada pula filamen baru berhasil diungkap ilmuwan lewat pemetaan itu. Tim penelitian itu berencana untuk mempelajari lebih lanjut. Termasuk memahami lebih jauh hubungan antara galaksi kita dengan Andromeda yang jaraknya kian mendekat.

"Ironisnya, lebih mudah untuk mempelajari distribusi materi gelap lebih jauh [dari Bumi] karena mencerminkan masa lalu yang sangat jauh, yang jauh lebih kompleks," ujarnya.

“Seiring waktu, karena struktur alam semesta berskala besar telah berkembang, kompleksitas alam semesta telah meningkat, sehingga secara inheren lebih sulit untuk melakukan pengukuran tentang materi gelap secara lokal."

Sementara itu, Jeong bersama timnya berpendapat, petanya akan menjadi lebih akurat setelah James Web Space Telescope milik NASA akan diluncurkan akhir 2021. Sebab teleskop ini dapat memberikan kepada mereka data yang memungkinkan untuk dilihat terkait galaksi yang jauh dan lebih redup.

"Memiliki peta lokal web kosmik membuka babak baru studi kosmologis," kata Jeong. "Kita dapat mempelajari bagaimana distribusi materi gelap berhubungan dengan data emisi lainnya, yang akan membantu kita memahami sifat materi gelap," pungkas Jeong.