Showing posts with label Luar Angkasa. Show all posts
Showing posts with label Luar Angkasa. Show all posts


Belajar dari cerita film Netflix popular terbaru berjudul “Don’t Look Up” yang seolah mengajarkan kepada kita semua tentang pentingnya meningkatkan kesadaran publik akan potensi efek  bencana dari dampak asteroid ke planet Bumi, penelitian baru ini berusaha menjelaskan bagaimana dampak Chicxulub 66 juta tahun yang lalu mengakibatkan kepunahan 75 persen hewan di Bumi, termasuk dinosaurus.

Sebuah asteroid besar, yang memiliki diameter kira-kira 10 kilometer ini, menghantam semenanjung Yucatán utara Meksiko, dampaknya mengeluarkan material yang kira-kira setara dengan area seukuran Connecticut dan lebih dari dua kali lebih tinggi dari Gunung Everest, sehingga mendistribusikannya ke seluruh dunia.

"Ledakan dan kejatuhan dampak memicu kebakaran yang meluas, bersamaan dengan debu batu, jelaga, dan bahan mudah menguap yang dikeluarkan dari kawah, menghapus matahari secara global dalam dampak musim dingin yang mungkin telah berlangsung bertahun-tahun, dan mengakibatkan kepunahan," kata Christopher Junium, seorang profesor ilmu Bumi dan Lingkungan yang memimpin kelompok penelitian Geobiologi, Astrobiologi, Paleoklimat, Paleoseanografi di Sekolah Tinggi Seni dan Ilmu Pengetahuan di Universitas Syracuse.

Para ilmuwan telah lama mengimplikasikan partikel halus sulfat di stratosfer sebagai agen utama perubahan iklim besar-besaran dan mengakibatkan kepunahan massal, tetapi tidak pasti mengenai nasib belerang. "Ada ketidakpastian mengenai seberapa jauh mencapai stratosfer di mana pengaruhnya terhadap iklim akan sangat diperbesar," kata Junium.

Selama beberapa dekade, teori kepunahan dinosaurus yang berlaku menunjukkan bahwa asteroid menabrak planet ini, lalu menyebabkan kehancuran dahsyat yang memusnahkan sebagian besar kehidupan di planet ini. Namun, tidak ada yang memperhatikan bahwa dampak Chicxulub ini telah melepaskan sejumlah besar belerang.

Dalam penelitian yang diterbitkan 21 Maret 2022 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences berjudul Massive perturbations to atmospheric sulfur in the aftermath of the Chicxulub impact, sebuah tim gabungan dari Syracuse University, University of St Andrews di Skotlandia, University of Bristol di Inggris dan Texas A&M University menghubungkan tingkat belerang stratosfer yang tinggi dengan dampak dan lokasinya, yang kaya akan mineral sulfat gipsum.

Sementara dampak komet, asteroid, dan benda planet lainnya biasa terjadi selama sejarah Bumi, catatan geologis mengungkapkan sedikit tentang bagaimana dampak tersebut mengubah jalan kehidupan. Dampak Chicxulub unik dalam mengatur ulang keseimbangan biosfer Bumi dan dalam catatan geologi yang tertinggal, lapisan tipis sedimen yang disebut batas K-Pg, ditemukan di seluruh dunia dalam batuan laut dan darat.

Gas-gas tersebut beredar secara global selama bertahun-tahun di atmosfer bumi, mendinginkan iklim dan berkontribusi pada kepunahan massal kehidupan. Kepunahan ini merupakan bencana bagi dinosaurus dan kehidupan lainnya juga. Pada saat yang sama, memungkinkan diversifikasi mamalia, termasuk primata.

“Salah satu alasan dampak khusus ini begitu menghancurkan kehidupan tampaknya adalah karena ia mendarat di lingkungan laut yang kaya akan belerang dan zat mudah menguap lainnya. Dinosaurus benar-benar tidak beruntung!” ujar Dr. Aubrey Zerkle dari School of Earth and Environmental Sciences di University of St Andrews.

“Kami memeriksa isotop belerang langka dalam material yang dikeluarkan oleh tumbukan dan disimpan di kursi terdekat, sekarang diwakili oleh bebatuan yang ditemukan di sepanjang Sungai Brazos di Texas.” tutur Zerkle. "Sidik jari unik yang kami ukur dalam sedimen tumbukan ini memberikan bukti langsung pertama tentang pentingnya aerosol belerang dalam bencana perubahan iklim dan pendinginan."

“Data kami memberikan bukti langsung pertama dari fraksinasi massa independen dari isotop belerang (S-MIF) yang diawetkan dalam bahan ejeksi tumbukan Chicxulub yang disimpan di lingkungan laut di Dataran Pesisir Teluk Amerika Utara.” kata James Witts dari School of Earth Sciences di University of Bristol.

“Belerang atmosfer di stratosfer menyebarkan radiasi matahari yang masuk dan pendinginan skala planet yang berkepanjangan selama bertahun-tahun setelah dampak aslinya, menyebabkan hujan asam dan mengurangi cahaya yang tersedia untuk fotosintesis yang sangat penting bagi kehidupan tumbuhan dan plankton laut yang membentuk dasar rantai makanan.” papar Junium. “Dan durasi pendinginan yang diperpanjang inilah yang kemungkinan memainkan peran sentral dalam tingkat keparahan kepunahan.”


Rekor terbaru sebagai astronot penerbangan luar angkasa terlama berhasil dipecahkan oleh astronot NASA, Christina Koch, yang telah mendarat ke bumi bersama Komandan Soyuz, Alexander Skvortsov dari Badan Antariksa Rusia (Roscosmos), dan Luca Parmitano dari ESA (Badan Antariksa Eropa). Setelah 328 hari di luar angkasa, ketiganya kembali ke bumi pada Kamis, 6 Februari 2020.

Ketiga astronot tersebut pulang dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada pukul 00.50 tengah malam Waktu Standar Timur (Amerika), dan melakukan pendaratan dengan pesawat Soyuz MS-13 pada 3.12 Waktu Kazakhstan di kota Dzhezkazgan, Kazakhstan.

Sebelumnya, Koch bertugas di luar angkasa sejak 14 Maret 2019, bersama astronot NASA Nick Hague, dan kosmonot Rusia, Alexey Ovchinin. Selama di luar angkasa, Koch telah menyelesaikan 5.248 kali orbit bumi dan perjalanan sejauh 139 juta mil.

Sedangkan Parmitano dan Skvortsov yang menemani Koch kembali ke Bumi, menyelesaikan 201 hari di angkasa, terhitung dari 21 Juli 2019.

Berdasarkan siaran pers NASA, misi Koch yang cukup lama di luar angkasa menjadi para peneliti untuk mengamati efek penerbangan luar angkasa yang panjang pada perempuan. 

Selain itu, penelitian tersebut juga berguna untuk mendukung pendaratan manusia ke bulan di masa depan, dan pengembangan NASA dalam pengetatan kelayakan pada astronotnya. 

Dari Kazakhstan, Koch dan Parmitano akan menaiki pesawat NASA untuk menuju Cologne, Jerman, untuk disambut direktur ESA. Selanjutnya, Koch akan melanjutkan kepulangannya ke Amerika Serikat. Sedangkan Skvortsov pulang ke Rusia menggunakan pesawat Pusat Pelatihan Kosmonot Gagarin.


Sepanjang sejarah Bumi, muncul satu pertanyaan berulang-ulang: apa yang menjadi penyebab tewasnya spesies atau populasi hewan?

Beberapa di antaranya disebabkan oleh faktor dari daratan. Namun, dalam peristiwa misterius yang membunuh 36% jenis hewan laut, 2,6 juta tahun lalu di masa Pliosen, penyebabnya bukanlah dari Bumi. Melainkan karena bintang yang meledak, atau supernova, yang jaraknya 150 juta tahun cahaya dari planet kita.

Faktanya, ledakan bintang tersebut tidak hanya terjadi satu kali. Ia memborbardir Bumi dengan radiasi kosmik yang dapat memicu perubahan iklim dan efek lainnya yang berkontribusi pada kepunahan massal hewan-hewan laut.

"Saya telah melakukan penelitian ini selama 15 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa supernova bisa memengaruhi Bumi dalam beberapa waktu," kata Adrian Mellot, fisikawan dari University of Kansas.

"Kali ini, kami memiliki bukti kejadian dan waktu yang spesifik. Kami tahu seberapa jauh supernova berada sehingga dapat benar-benar menghitung bagaimana ia memengaruhi Bumi," imbuhnya.

Salah satu bukti kuat adalah adanya endapan besi-60 yang ditemukan di dasar laut. Besi-60 sendiri merupakan zat radioaktif yang sudah terbentuk dengan Bumi 4,54 miliar tahun lalu dan sudah membusuk sejak lama. Artinya, besi-60 yang ditemukan di laut tersebut bukan berasal dari planet ini–kemungkinan sisa ledakkan di luar angkasa dari supernova.

Gagasan bahwa supernova dapat memicu kepunahan massal bukan hal baru. Sebelumnya, ledakan sinar gamma yang berasal dari supernova diduga menjadi penyebab kepunahan Ordovician, 450 juta tahun lalu. Radiasinya merobek lapisan ozon dan membuat makhluk hidup di Bumi terpapar sinar ultraviolet yang mematikan.

Namun, berdasarkan studi Melott dan timnya, ada mekanisme yang sangat berbeda di balik peristiwa kepunahan megafauna laut di masa Pliosen. Alih-alih ledakan sinar gamma, yang menjadi faktor pemicu kepunahan adalah jenis partikel dasar sinar kosmik yang disebut muon–sejenis elektron tetapi dengan lebih banyak massa dan energi.

"Mereka bisa menembus Bumi dengan mudah dan radiasi kerap melewati kita. Sekitar seperlima dari dosis radiasi datang bersama muon dan biasanya tidak berbahaya," jelas Melott.

"Namun, ketika gelombang sinar kosmik menyerang, jumlah muon-nya digandakan menjadi beberapa ratus kali lipat. Ketika jumlahnya sangat besar dan energinya begitu tinggi, kita mengalami peningkapan mutasi dan kanker–ini menjadi efek biologis utama.

Pada makhluk hidup seukuran manusia, risiko kankernya meningkat 50%. Semakin besar ukurannya, maka semakin besar juga risiko. Pada gajah dan paus, dosis radiasi yang mereka terima sangat tinggi," paparnya.

Dan karena muon sangat mudah menembus Bumi, mereka juga bisa menjangkau lautan dan memengaruhi hewan-hewan yang ada di sana. Mereka yang berada di perairan dangkal adalah yang paling parah terkena dampaknya.

 


Astronom telah lama mempelajari awan gas dan debu kosmik bercahaya yang dikatalogkan sebagai NGC 6334 dan NGC 6357. Baru-baru ini, European Southern Observatory (ESO) merilis foto paling detail keduanya. Bentuk jelas kedua awan kosmik ini mengingatkan kita kembali pada nama mereka yang berkesan: Nebula Cakar Kucing dan Nebula Lobster.

Foto berukuran 49.511 x 39.136 piksel ini diambil menggunakan OmegaCam, kamera 256 Megapiksel yang terpasang pada Very Large Telescope Survey Telescope (VST) ESO. 

NGC 6334 terletak sekitar 5.500 tahun cahaya jauhnya dari Bumi, sementara Nebula Lobster alias NGC 6357, jauh lebih terpencil lagi, sekitar 8.000 tahun cahaya. Keduanya berada di rasi bintang Scorpion, di dekat ujung ekor penyengatnya.

Kolase foto NGC 6334 dan NGC 6357. Daerah langit ini merupakan wilayah aktif pembentukan bintang. Bintang-bintang muda yang panas di daerah ini membuat awan hidrogen di sekelilingnya bercahaya dengan warna merah yang khas. (ESO)
Nebula-nebula ini sebagian besar tersusun atas gas hidrogen dan dipenuhi oleh bintang muda panas yang massanya 10 kali Matahari. Keduanya menmancarkan cahaya ultraviolet, yang diserap oleh hidrogen dan dipancarkan kembali menjadi cahaya merah yang khas.

Kedua nebula tersebut pertama kali dilihat oleh astronom Inggris, John Herschel, pada 1837 dari Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Karena saat itu teknologi yang ada belum memadai, Herschel hanya dapat mengamati ‘jari’ paling terang dari Nebula Cakar Kucing. Kini, berkat gambar terbaru yang lebih rinci, pintu untuk mempelajari kedua nebula ini kian terbuka lebar.


Belum pernah sekelompok besar asteroid dicitrakan dengan begitu tajam. Namun, berkat bantuan dari Teleskop Sangat Besar Observatorium Eropa Selatan (ESO's VLT) di Chili, para astronom kini telah berhasil mencitrakan 42 objek terbesar di sabuk asteroid, yang terletak di antara Mars dan Jupiter. Pengamatan ini mengungkapkan berbagai bentuk aneh asteroid, dari bulat hingga ke bentuk tulang anjing, dan membantu para astronom melacak asal-usul asteroid di Tata Surya kita.

Gambar rinci dari 42 objek ini merupakan lompatan maju dalam menjelajahi asteroid, dimungkinkan berkat teleskop berbasis darat, dan berkontribusi untuk menjawab pertanyaan pamungkas tentang kehidupan, semesta, dan segalanya.

Melansir Tech Explorist, Pierre Vernazza, dari Laboratoire d'Astrophysique de Marseille di Prancis, yang memimpin studi ini menjelaskan, "Hanya tiga asteroid sabuk utama besar, Ceres, Vesta dan Lutetia, yang telah dicitrakan dengan tingkat detail yang tinggi sejauh ini, karena mereka dikunjungi oleh misi luar angkasa Dawn dan Rosetta dari NASA dan European Space Agency."

Hasil studi tentang asteroid ini telah diterbitkan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada 12 Oktober 2021 berjudul VLT/SPHERE imaging survey of the largest main-belt asteroids: Final results and synthesis.

"Pengamatan ESO kami telah memberikan gambar yang tajam untuk lebih banyak target, totalnya 42." kata Vernazza.

Sebagian besar dari 42 objek dalam sampelnya berukuran lebih besar dari 100 km; khususnya, tim mencitrakan hampir semua sabuk asteroid yang lebih besar dari 200 kilometer, sebanyak 20 dari 23. Dua objek terbesar yang diselidiki tim adalah Ceres dan Vesta, yang berdiameter sekitar 940 dan 520 kilometer, sedangkan dua asteroid terkecil adalah Urania dan Ausonia, masing-masing hanya berjarak sekitar 90 kilometer.


Sampai sekarang, pengamatan rinci terhadap karakteristik utama yaitu bentuk dan kepadatan dari asteroid kecil masih belum diketahui. Sehingga Vernazza beserta timnya mulai mencari celah ini dengan melakukan survei antara 2017 dan 2019 secara menyeluruh pada benda-benda besar yang ada di sabuk asteroid.

Mereka melakukan rekonstruksi bentuk objek asteroid dengan pengamatan yang dibagi dua bagian besar, lalu mengelompokannya. Beberapa tampak hampir bulat sempurna, seperti Hygiea dan Ceres, sementara yang lain memiliki bentuk "memanjang" yang lebih aneh, ratu mereka yang tak terbantahkan adalah asteroid "tulang anjing" Kleopatra, asteroid ini begitu unik.

“Pengamatan kami memberikan dukungan kuat untuk migrasi substansial dari badan-badan ini sejak pembentukannya. Singkatnya, variasi luar biasa dalam komposisi mereka hanya dapat dipahami jika benda-benda tersebut berasal dari wilayah berbeda di Tata Surya,” jelas Josef Hanuš dari Universitas Charles, Praha, Republik Ceko, salah satu penulis penelitian.

Dengan menggabungkan bentuk asteroid dan informasi tentang massanya, tim akhirnya menemukan bahwa kepadatannya berubah secara signifikan di seluruh sampel. Empat asteroid dengan kepadatan paling rendah yang dipelajari adalah termasuk Lamberta dan Sylvia, memiliki kepadatan sekitar 1,3 gram per sentimeter kubik, kira-kira persis dengan kepadatan batubara. Sedangkan yang tertinggi, Psyche dan Kalliope, memiliki kepadatan masing-masing 3,9 dan 4,4 gram per sentimeter kubik, yang lebih tinggi dari kepadatan berlian (3,5 gram per sentimeter kubik).

Perbedaan besar dalam kepadatan ini menunjukkan bahwa komposisi asteroid sangat bervariasi, hal ini memberi para astronom petunjuk penting tentang asal-usulnya. Namun secara khusus, hasil mendukung teori bahwa asteroid paling padat terbentuk di daerah terpencil di luar orbit Neptunus, kemudian mereka bermigrasi ke lokasi mereka saat ini.


Temuan ini dimungkinkan berkat sensitivitas instrumen Spectro-Polarimetric High-contrast Exoplanet REsearch (SPHERE) yang dipasang pada VLT ESO. Bahkan para astronom akan dapat mencitrakan lebih banyak lagi asteroid secara detail dengan bantuan Extremely Large Telescope (ELT) ESO yang akan datang. Karena teleskop ini masih tahap pembangunan di Chili.

"Dengan peningkatan kemampuan SPHERE, bersama dengan fakta bahwa sedikit yang diketahui mengenai bentuk asteroid sabuk utama terbesar, maka kami dapat membuat kemajuan substansial di bidang ini," kata rekan penulis Laurent Jorda, juga dari Laboratoire d 'Astrofisika de Marseille.

“Memiliki instrumen seperti SPHERE di ELT bahkan memungkinkan kami untuk mengambil gambar sampel objek serupa di Sabuk Kuiper yang jauh. Ini berarti kita akan dapat mengkarakterisasi sejarah geologi dari sampel benda-benda kecil yang jauh lebih besar hanya melalui pengamatan dari tanah.” ujar Vernazza.



Sampai saat ini, bintang yang dianggap paling besar di alam semesta adalah VY Canis Majoris, yang terletak di gugus bintang Canis Major, dengan jarak sekitar 4.900 tahun cahaya dari Bumi. Sebegitu besarnya, VY Canis Majoris termasuk bintang yang paling terang cahayanya.

VY Canis Majoris diketahui pertama kali berdasarkan catatan Jerome Lalande pada 7 Maret 1801. Catatan itu menyebutkan VY Canis Majoris sebagai 1 di antara 7 bintang besar di alam semesta, dengan suhu sekitar 3.000 K—termasuk dingin untuk sebuah bintang bercahaya. Sampai saat ini, para ilmuwan belum menemukan bintang lain yang lebih besar dan lebih masif dibanding VY Canis Majoris.

Berbeda dengan bintang-bintang besar lain, VY Canis Majoris merupakan bintang tunggal, dan bukan sistem bintang yang ada dalam tata surya. Ukuran bintang tersebut sangat besar, jika dibandingkan dengan tata surya kita. 

Diameternya sekitar sembilan kali jarak Matahari ke Bumi, atau sekitar 3.063.000.000 kilometer. Jika diukur dengan kecepatan cahaya, VY Canis Majoris memerlukan jarak tempuh 8 jam kecepatan cahaya untuk dapat mengitarinya satu putaran.

VY Canis Majoris dapat dibilang bintang yang sekarat. Seperti bintang besar lain di alam semesta, VY Canis Majoris menjadi sangat besar karena bahan bakar yang berupa hidrogen telah habis di dalamnya, dan mulai menggabungkan hidrogen dengan kulit luar dari inti helium. 

VY Canis Majoris bahkan dapat lebur bersama helium, lithium, dan sebagainya. Nantinya, ia akan memiliki inti yang terdiri dari besi, sebagaimana planet.

Akhirnya, setelah reaksi fusi dari terbentuknya inti besi tersebut, mereka tidak lagi menghasilkan energi, sehingga tidak mampu mengimbangi tekanan gravitasi yang dihasilkan oleh bintang. Ketika semua bahan bakar fusi habis, bintang akan runtuh serempak dalam sebuah ledakan supernova, dan akan menjadi lubang hitam atau black hole. 

Seperti disebutkan di atas, sampai saat ini para ilmuwan belum menemukan bintang lain yang lebih besar dibanding VY Canis Majoris. Namun tidak menutup kemungkinan di masa-masa mendatang mereka akan menemukan bintang lain yang massanya lebih besar.
 


Kiamat tidak saja sesuatu yang mengerikan di masa depan, namun juga sesuatu yang nyaris terjadi di masa lalu. Setidaknya, itulah simpulan yang berhasil diambil dari penelitian para ilmuwan.

Medan magnet bumi, yang melindungi makhluk hidup dari radiasi solar intens, ternyata hampir ambruk 565 juta tahun yang lalu, seperti disimpulkan sebuah penelitian yang terbit di Jurnal Nature Geoscience.

Apabila medan magnet ambruk, kehidupan di Bumi sudah pasti menghadapi tantangan berat, karena atmosfer planet akan menghilang, lantas mengikis permukaan dengan radiasi berbahaya.

Untungnya, inti cair planet bumi mulai berubah solid di akhir periode Ediacaran, menurut sebuah penelitian. Peristiwa ini kemudian mengisi ulang muatan medan magnet di titik terlemahnya. Kini, setengah miliar tahun kemudian, medan magnet Bumi sepuluh kali lebih kuat dari era tersebut.

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin Richard Bono, seorang peneliti palaeomagnetisme dari University of Rochester, menggunakan kristal kuno dari sebuah lokasi dekat kota Sept-Iles, Quebec, untuk mengonstruksi ulang garis waktu proses “nuckleasi” inti planet bumi, juga disebut solidifikasi.

Di satu titik, diduga inti planet Bumi sepenuhnya berbentuk cairan. Jujur saja, pertanyaan 'kapan sesungguhnya inti ini mulai menjadi solid?' sering kali membuat ilmuwan pusing tujuh keliling selama beberapa dekade terakhir. Sebelumnya, ada dugaan ini terjadi antara 500 juta tahun yang lalu hingga 2,5 miliar tahun lalu. Tim Bono kini berhasil menyajikan bukti bahwa proses nukleasi baru dimulai 565 juta tahun yang lalu.

Inti planet Bumi terbuat dari campuran besi-nikel yang panasnya hampir sama dengan permukaan Matahari (sekitar 5.430 derajat Celsius). Inti ini dikelilingi bagian cair yang menggerakkan magnetisme Bumi lewat siklus konveksinya. Inti ini perlahan-lahan berkembang dengan cara “membekukan” besi dan nikel cair menjadi padat, sebuah proses yang memompa panas ke dalam inti dan mendorong medan magnet Bumi.

Kristal adalah kunci dari penelitian, karena medan magnet Bumi meninggalkan jejak pada beberapa mineral dengan cara memengaruhi arah dan orientasi pembentukan kisi-kisi mereka. Peneliti memeriksa feldspar dan kristal piroksen dari bebatuan era Ediacaran yang ditemukan dekat Sept-Iles, yang menunjukkan bahwa medan magnet sempat kacau balau di akhir periode Ediacaran dengan cara membalikkan polaritasnya 20 kali dari kecepatannya sekarang.

Itu adalah tanda-tanda dari kehancuran geodinamo, lapor tim. Fakta bahwa medan justru bertambah kuat semenjak kejadian tersebut, semakin memperkuat teori bahwa proses nukleasi dimulai dan memberikan dinamo Bumi energi yang dibutuhkan untuk mempertebal medan.

Garis waktu yang diajukan Bono dan kolega peneliti, menyiratkan proses nukleasi terjadi sebelum ledakan Era Cambrian, sebuah periode evolusioner 541 juta tahun lalu yang menghasilkan kehidupan, termasuk memunculkan banyak nenek moyang binatang masa kini.

Bukti dari magnetisme lemah di akhir periode Ediacaran mendorong beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa Bumi sempat mengalami radiasi esktrem tanpa medan magnet yang kuat. Peristiwa ini menyebabkan kepunahan besar di masa lalu. Organisme yang bertahan hidup di era ini kemungkinan yang bisa banyak bergerak atau spesies berkulit tebal, yang sanggup melindungi diri dari radiasi, dan kemudian berkembang pesat di awal periode Cambrian.

Bono dan koleganya mengakui temuan mereka memiliki korelasi, bahkan terkesan membenarkan, spekulasi di atas. Tapi perlu diingat,belum ada konsensus umum tentang apakah medan magnet lemah berhubungan dengan peristiwa ledakan Cambrian.

"Intensitas medan geomagnetik super rendah di era Ediacaran sangat menarik," seperti dikutip dari penelitian tersebut. "Narasi bahwa menurunnya perlindungan magnet memiliki dampak besar dalam evolusi binatang sangat kontroversial."

Akan butuh lebih banyak penelitian untuk menempa pengertian kita tentang bagaimana dan apabila fluktuasi intensitas magnetik Bumi mempengaruhi proses evolusi makhluk hidup.

Dengan cara menawarkan bukti meyakinkan ke dalam debat perihal inti Bumi, Bono dan koleganya telah melengkapi satu bagian penting ke dalam puzzle besar soal rahasia masa lalu planet yang kita huni sekarang.


 Dalam sebuah artikel di NewsMax, Stephen Hawking menyebut bahwa lubang hitam mempunyai pintu ke luar. Dengan demikian, fisikawan termasyhur itu percaya bahwa lubang hitam mungkin bukan sebuah ruang tanpa pintu menuju tempat lain, seperti yang selama ini banyak orang kira.

Dalam teorinya yang terakhir, seperti dikutip oleh BusinessInsider, Hawking memperkirakan penjelajah ruang angkasa bisa lolos dari lubang hitam, namun mereka tidak bisa kembali ke alam tempat mereka berasal

Awalnya, lubang hitam dipercaya sebagai akhir dari keberadaan alam semesta, namun Hawking berargumentasi bahwa lubang hitam tidak sehitam seperti yang mereka bayangkan.

"Benda yang bisa keluar dari lubang hitam mungkin bisa keluar, dan mungkin bisa keluar ke alam semesta lainnya." ujar Hawking, seperti dilansir UniversityWorldNews.com

Dengan demikian, siapa pun yang masuk ke lubang hitam tidak akan bisa kembali ke alam semesta kita lagi.

"Jadi meskipun saya berada di sekitar tempat penerbangan, saya tidak akan mencobanya," kelakar Hawking.

Adakah Kehidupan Lain Diluar Bumi?

Posted by BaronNight On 1:06 AM 0 comments

 

Meskipun pertanyaan yang sedikit aneh ditelinga kita, tapi coba kita renungkan..berapa banyakkah planet dan galaxy, benda langit lain yang bertebaran diluar sana?

Berapa ribu atau berapa jutakah benda langit di jagad raya ini yang mirip atau lebih dekat sama persis dengan bumi kita, apakah Tuhan hanya menciptakan benda langit yang dapat dihuni oleh makhluk seperti kita ini hanya terdapat dibumi yang kita ketahui selama ini, atau di belahan jagad raya ini juga terdapat suatu kehidupan yang sama persis dengan bumi kita atau mungkin peradaban nya lebih maju dari kita??..makhluk cerdas dari luar bumi yang sampai saat ini tidak pernah surut diperbincangkan oleh banyak ilmuwan…

Bulan.., semuanya pasti kenal dengan benda mungil ini, benda mungil yang slalu kita liat menemani malam malam kita, slalu menampakkan wajah cantikkya menghibur makhluk bumi yang dalam kegelapan dan kesepian, tapi asal tau aja, wajah bulan yang selama ini kita liat hanya separuh dari bagiannya, sedangkan separuhnya lagi kita tidak pernah melihatnya, Bagian bulan yang terlihat dari bumi/menghadap bumi itu tidak pernah berubah.

Dalam pencarian jejak kehidupan cerdas di luar Bumi Bulan memang masih penuh dengan misteri. kita belum memahami sisi gelapnya bulan yang tak terlihat itu. Dikatakan, pada sisi gelap bulan itulah berkembang suatu kehidupan cerdas. Nampaknya, para makhluk-makhluk tersebut sangat strategis dalam memilih tempat untuk membangun pusat peradaban mereka disana, karena tidak mudah terpantau dari bumi. Ufology menyebut pangkalan makhluk-makhluk itu sebagai “Luna”. Sejak misi Apollo pertama yang mendarat di bulan (Apollo 11), makhluk-makhluk itu seakan-akan tidak menyukai kedatangan manusia kesana. Itu ditandai dengan selalu munculnya benda-benda terbang misterius yang selalu mengikuti dan seperti menghalangi jalannya pesawat-pesawat ruang angkasa seperti 7 misi Apollo dan beberapa misi Gemini ke Bulan.

Dunia Ufology, mengatakan ada sebuah pangkalan makhluk asing di Bulan yang sangat rahasia. Walaupun masih sebatas spekulasi, tanda-tanda akan hal ini pernah dialami oleh sebagian daripada kita yaitu para Awak Apollo yang mengunjungi bulan. Dari 7 misi Apollo ke Bulan ( Apollo 11 – 17 ), hanya Apollo 13 lah yang mengalami kegagalan akibat terjadinya kebocoran modul servis yang menyebabkan hilangnya persediaan oksigen, air, listrik, dan fungsi mesin. Beruntung para Astronot Apollo 13 semua dapat terselamatkan. Saat mengunjungi bulan, terdapat beberapa kejadian aneh yang dialami oleh para astronot Apollo. Nampaknya ada yang merasa terusik oleh kedatangan mereka kesana, dan itu ditandai dengan munculnya serangkaian kejadian-kejadian aneh dan ganjil pada saat para Astronot mendekati satelit alami bumi itu. Benarkah ada suatu pangkalan kehidupan cerdas di bulan yang sangat misterius?

Sebenarnya, kecurigaan-kecurigaan mengenai adanya kehidupan makhluk cerdas di bulan ini sudah dapat teramati fenomenanya oleh manusia di bumi. Laporan banyak berdatangan dari para ahli perbintangan maupun para peminat astronomi dari beberapa negara di seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Dedi Suardi contohnya, tatkala mengamati bulan dengan teleskopnya, pria yang dikenal sebagai seniman, penulis dan peminat serius astonomi ini menyaksikan kejadian aneh di permukaan bulan. Pada saat ia mengamati bulan dengan teropong bintang Calestron Catadiotric yang berdiameter 8 ichi, ia tiba-tiba melihat benda hitam mirip anak panah yang dengan gesitnya hilir mudik dari ujung tanduk bulan ke ujung tanduk yang lain. Lebih fantastis lagi, guna mencapai sisi bulan yang lain, benda aneh itu hanya memerlukan waktu 1/2 detik!!kejadian ini berlangsung satu jam sebelum lenyap dari pandangan teleskop. Munculnya beberapa obyek-obyek misterius di sekitar bulan juga sempat dilaporkan oleh para pakar perbintangan Amerika dan Perancis jauh sebelum misi Apollo dilaksanakan yaitu ditahun-tahun disepanjang 1920 – 1930 an. Disepanjang era itu, memang kerap muncul laporan dari para ahli perbintangan mengenai munculnya segerombolan benda-benda terbang yang bersinar dan bergerak hilir mudik di sekitar bulan. Bahkan laporan-laporan tersebut sempat menghiasi surat kabar dan jurnal-jurnal disepanjang tahun tersebut.

Obyek Terbang bercahaya yang Berhasil Diabadikan oleh Astronot Apollo 14

Hal yang semakin menggairahkan para peminat astronomi termasuk ufology adalah ketika munculnya laporan mengenai adanya sebuah “jembatan” misterius dipermukaan bulan sepenjang beberapa mil yang disaksikan oleh seorang ahli perbintangan terkenal John O’Neill. Pada tanggal 29 Juli 53, ia memang menyaksikan obyek “jembatan” aneh yang memanjang 12 mil di daerah Mare Crisium Bulan. Namun entah mengapa, beberapa hari kemudian jembatan aneh tersebut menghilang. Apakah benar makhluk-makhluk cerdas itu membongkarnya dengan sebab jembatan itu terlalu mencolok sehingga dapat dengan mudah diamati oleh manusia di Bumi?
(mengingat letaknya juga tidak pada “dark side” dari bulan itu sendiri)

Sementara kesaksian O’Neil tersebut banyak dicemooh oleh para astronom lain, muncullah kesaksian pakar bulan nomor wahid dari Inggris H.P.Walkins, yang menandaskan bahwa ia pun menyaksikan jembatan aneh yang tiba-tiba muncul itu!! Setelah itu, Patrick Moore, anggota British Astronomical Association, juga melihat jembatan di Bulan yang menghubungkan satu gunung dengan gunung lainnya di dataran Mare Crisium/ Sea of Crysis. Yang lebih aneh lagi, 84 tahun sebelum kesaksian O’Neill, Swift dari Matton II, menyaksikan obyek-obyek yang bergerak melintasi bulan pada tanggal 7 Agustus 1869, dua puluh menit sebelum terjadi gerhana matahari total. Bahkan lima tahun sesudahnya, tepatnya pada tahun 1874, Monsieur Lemey, pakar langit dari Perancis, melaporkan bahwa dirinya melihat objek-objek yang jumlahnya sangat banyak, berwarna hitam, berbondong-bondong melintasi permukaan bulan.

Seorang astronomer Jerman bernama J.H. Schroeter, yang hampir sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada pembuatan peta Bulan, pada tanggal 26 September, 1788, melihat sebuah sinar cerah keputihan, persis seperti bintang, tiba-tiba berkilauan disekitar puncak-puncak dipermukaan bulan Alps dekat kawah atau kepundan Plato. Sinar itu terus menerus memancar kira-kira lima belas menit untuk kemudian hilang. Terang sinar ini tidak mungkin berasal dari sebuah meteor.

Di Lowell Observatory di Arizona, pada tanggal 30 Oktober, 1963, seorang astronomer lain, John Greenacre menyaksikan sinar merah dipermukaan Bulan. Sinar itu menurut Greenacre amat kuat hingga “mirip dengan batu permata ruby yang besar.”
Baru-baru ini sebuah survey mengenai buku buku dan laporan astronomer membuktikan bahwa telah dibuat 400 laporan mengenai kejadian bulan yang aneh seperti itu dalam suatu periode yang lebih panjang dari 400 tahun. Study cermat ini dilakukan oleh dua orang astronomer terkemuka, Patrick A. Moore dari Armagh Planetarium di Irlandia Utara, dan Barbara M. Middlehurst, dari Lunar Anda Planetary Laboratory, University of Arizona.

Faktanya, dari seluruh kejadian misterius di bulan yang berhasil diamati dari bumi ialah cahaya-cahaya aneh dan misterius tersebut berasal dari daerah Mare Crisium, daerah yang tepat sama dengan munculnya jembatan besar yang dilihat oleh O’Neill dan H.P. Wilkins pada tahun 1950-an. Berlusin-lusin astronomer melihat cahaya-cahaya yang kerap membentuk formasi-formasi geometri ini, seakan-akan ada suatu kecerdasan yang mengendalikannya.

Obyek terbang bercahaya yang berhasil diabadikan Astronot Apollo 15 di Bulan

Lalu, Adakah sinyal-sinyal membingungkan yang telah mereka kirimkan kepada kita untuk menegaskan bahwa mereka benar-benar eksis?

Suatu hal yang menarik dari pertanyaan diatas ialah bahwa pada periode tahun 1927 – 1934 , dimana pada saat itu merupakan masa permulaan dari teknologi radio kita. Ada beberapa sinyal-sinyal misterius yang berhasil ditangkap di sekitar bulan. tanda-tanda radio ini berhasil ditangkap oleh beberapa penyelidik radio. Salah satu tanda ini berhasil diterima oleh Marconi Tesla.


Di tahun 1956, kembali diterima sinyal-sinyal misterius yang diterima oleh para astronom di Ohio University. Sinyal-sinyal membingungkan ini dikatakan dikirimkan oleh suatu obyek yang bergerak sangat cepat menuju ke Bulan, dan obyek ini berhasil diamati oleh para astronom, baik di Ohio University maupun beberapa astronom Inggris. Tak bisa dimengerti, apa arti dari sinyal-sinyal yang mereka kirimkan kepada kita ini?

Astronot pertama yang melihat UFO ketika sedang mengorbit adalah Mayor Gordon Cooper, selama misi penerbangan mercury 21 orbit dengan Faith 7 (15 Mei, 1963). Ketika sedang melakukan orbit yang keempat dan persis berada diatas Hawaii, ia melaporkan mendengar transmisi suara yang aneh yang dinamakannya “bahasa asing yang tidak dipahami”. Ternyata ,suara itu memotong channel VHF yang khusus ditujukan untuk penerbangan angkasa luar. ‘Suara yang direkam itu ternyata tidak cocok dengan bahasa apapun yang terdapat didunia ini. Akhirnya terbukti bahwa suara itu tidak diucapkan oleh lidah bangsa apapun didunia ini, Akhirnya terbukti bahwa suara itu tidak diucapkan oleh lidah bangsa apapun di dunia ini, tapi di katakan berasal dari lidah yang sama sekali asing bagi dunia kita ini. Walaupun para ahli NASA telah memutar kembali rekaman itu berkali-kali mereka tetap tidak bisa menganalisa-nya, demikian menurut salah satu sumber yang bisa dipercaya.

Kemudian, hampir sebagian besar Astronot Apollo maupun Gemini melihat UFO pada saat memasuki orbit Bulan. Para Astronot Apollo selalu diikuti UFO pada saat perjalanan menuju bulan. Bahkan, ada foto-foto yang membuktikan hal ini semua, terutama foto sebuah UFO yang berhasil diabadikan oleh para astronot Apollo 14 dan 16. Beberapa foto juga memperlihatkan adanya benda-benda terbang misterius yang melayang-layang diatas para astronot di permukaan bulan.

Pada penerbangan Gemini 9 lebih mencenangkan lagi. Pernyataan yang dikeluarkan oleh NASA menyebutkan terjadi guncangan pada tubuh pesawat yang disebabkan oleh benturan obyek terbang berbentuk cakram. 

Tak hanya itu, bahkan pada misi sebelumnya Juni 1965, Mayor James McDivitt, dan pejalan diangkasa luar pertama, Mayor Edward White melihat dan memotret sebuah benda bercahaya berbentuk seperti telur yang mendekati kapsul Gemini 4 yang sedang diorbitkan. Para astronot menyaksikannya, namun tak mengerti sebenarnya benda apakah itu?

Misi Apollo 11 ke bulan juga ditandai dengan sambutan yang kurang bersahabat. Pada saat pesawat mendekati bulan, para astronot mendengar suara-suara radio aneh yang berbaur dengan siaran radio luar angkasa. Bahkan Mission Control dibuat bingung oleh hal ini.
Suatu laporan yang tidak terkonfirmasi menyebutkan bahwa pada waktu Buzz Aldrin membuka pintu setelah Apollo 11 mendarat di bulan, ia melihat makhluk transparan yang sedang memandangnya dari luar pesawat. Bahkan, ada suatu laporan dari anggota angakasa luar NASA, Otto Binder yang mengisahkan mengenai munculnya sebuah UFO di atas permukaan bulan. Aldrin dan Amstrong menyaksikannya. Binder melanjutkan kisahnya dengan laporan yang mengejutkan dan hampir tidak bisa dipercaya ini : “Agaknya ketika kedua astronaut Aldrin dan Armstrong sedang berputar beberapa jauh dari LEM, Armstrong mencengkam lengan Aldrin dengan bersemangat dan berseru : “Apa ini? Ya ampun, apa ini? Itulah yang ingin kuketahui.”

Pada misi Apollo 11, umat manusia di bumi yang diwakilkan oleh beberapa Astronot Apollo 11 dan Presiden Amerika Serikat saat itu Richard Nixon, telah menyapa para penghuni bulan (apabila memang benar ada) dengan salam hangat dan penuh kedamaian. Hal itu dilakukan oleh Niel Amstrong dan Buzz Aldrin yang menancapkan plakat yang telah ditanda tangani oleh mereka bertiga, bertuliskan demikian : ” Here man from Planet Earth First Set Foot Upon the Moon. July 1969 A.D. We Came in Peace for All Mankind ”

Itulah pesan dan salam yang kita tinggalkan kepada para penghuni bulan dan para penjelajah luar angkasa lainnya, agar kita dapat menandakan bahwa manusia bumi pernah mengunjungi bulan, kita datang dengan damai bagi mereka. Namun sepertinya para penghuni bulan belum sepenuhnya yakin akan pesan ini mengingat misi Apollo selanjutnya, mereka selalu mencurigai kedatangan kita kesana. Apakah mereka merasa terancam dan takut apabila manusia bumi membangun pusat penelitian dan menguasai tempat mereka tinggal?

Memandang bahwa di bulan terdapat suatu basis makhluk cerdas memang bukan tanpa dasar, sebab para astronaut menyaksikan benda-benda aneh itu. Bahkan sebagian besar ilmuwan yang obyektif harus mengakui bahwa terdapat kejadian yang tidak bisa diterangkan berlangsung di atas permukaan Bulan dan sekitarnya.
Bukti-bukti lain mengenai adanya sesuatu yang tak biasa di permukaan bulan adalah mengenai beberapa foto satelit yang berhasil diambil oleh pesawat ruang angkasa milik Amerika (NASA) dan Rusia. Dari beberapa striktur-struktur permukaan bulan yang berhasil diambil, terdapat obyek-obyek/struktur-struktur misterius yang hanya bisa dilihat apabila dilakukan perbesaran beberapa kali. Pesawat Ruang Angkasa Amerika Serikat, RANGER II yang mengabadikan lebih dari 200 lembar foto di permukaan bulan juga sempat menagkap gambar beberapa obyek terbang misterius yang melayang di sekitar kawah bulan.

Pada Misi Apollo 12 ternyata tidak lebih baik. Roket Saturnus yang besar mengangkut tiga astronaut Charles “Pete” Conrad, Dick Gordon dan Allan Bean, ke Bulan pada hari Jumat 14 Nopember, 1969, ternyata juga mengalami kejadian yang aneh. Waktu Apollo 12 baru saja berada pada ketinggian satu mil setengah di atas Bumi, ada suatu cahaya kilat yang menyerang secara tiba-tiba. Kejadian itu mengakibatkan semua peralatan listrik pesawat angkasa luar itu terhenti, meninggalkan baris demi baris ombak sirkuit besar yang tiba-tiba terbuka yang memancarkan nyala hijau terang.

Overloading menyebabkan peralatan fungsional lainnya tidak bekerja, semua sistim macet. Secara otomatis, sistim sel bahan bakar pesawat itu tiba-tiba terputus.
Untuk sejenak, seakan-akan semuanya akan musnah, tapi para astronaut tetap tenang dan kira-kira tiga menit kemudian semua kekuatan dan sistim pesawat pulih kembali. Dari mana asal datangnya kilat yang menyerang itu tetap menjadi misteri bagi para ahli angkasa luar kita.

 

Konsep bercinta di luar angkasa tengah marak dibicarakan. Apalagi, jika suatu saat nanti manusia harus meninggalkan Bumi karena sudah tidak layak untuk dihuni, kita tetap perlu menghasilkan keturunan. Bahkan saat kita sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru itu.

Akan tetapi, sejauh mana peluang untuk mendapatkan keturunan saat manusia telah meninggalkan planet bumi ini?

Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, tampaknya hal tersebut sulit terjadi. Pasalnya, ruang angkasa sendiri sebenarnya merupakan sebuah sistem kontrasepsi yang sangat besar.

Hasil penelitian khusus seputar seks di ruang angkasa menyimpulkan bahwa radiasi kosmik akan membombardir tubuh manusia dengan kuantitas yang besar selama perjalanan di luar angkasa. Selain itu, tinggal di Mars, misalnya, dalam waktu yang lama akan menurunkan jumlah sel sperma.

Janin yang sudah terbentuk tidak akan berkembang secara sempurna di lingkungan ruang angkasa. Meski saat ini ruang di pesawat angkut telah dilengkapi dengan pelindung radiasi yang lebih baik, tetap saja itu tidak cukup untuk melindungi zigot untuk berkembang.

Jika bayi berhasil keluar dari kandungan, peluang bayi itu mengalami cacat yang diakibatkan oleh radiasi sangat besar.

Dan masalah tidak hanya sampai di situ. Dari penelitian terhadap hewan yang dikirim ke luar angkasa, imbas radiasi bisa membunuh sel telur pada janin. Bayi akan terlahir dalam kondisi mandul. Artinya, itu akan mempersulit umat manusia berkembang di planet baru itu nantinya.

Menurut Richard Jennings, pakar medis ruang angkasa asalh University of Texas, astronot memang terbukti tetap mampu membuahi pasangannya setelah ia kembali ke Bumi. Akan tetapi, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap astronot yang menunaikan misi di luar angkasa dalam periode waktu lebih lama.

Dari sisi teknis, masih ada tantangan bagi manusia yang ingin menunaikan tugasnya di luar angkasa. Kostum ruang angkasa saat ini cukup berat dan tidak menyediakan banyak kemudahan untuk bercinta. Sayangnya, manusia tetap perlu menggunakan pakaian khusus.

Alasannya, dalam kondisi tanpa gravitasi, keringan atau cairan lain yang keluar dari tubuh berpotensi dapat merusak perangkat elektronik pesawat. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa manusia lebih berkeringat saat di luar angkasa.

Beberapa pakar melontarkan ide untuk membuat ‘ruang intim’ yang dipenuhi dengan titik-titik air dingin atau minyak beraroma pada pesawat luar angkasa agar turis yang melancong ke luar Bumi dapat meningkatkan hasrat bercinta mereka.

Namun demikian, tetap saja ada hambatan lain yang telah disiapkan ruang angkasa. Mekanisme tubuh manusia tidak memungkinkan itu terjadi. Sebagai informasi, gravitasi mikro atau tanpa gravitasi menurunkan tekanan darah manusia. Akibatnya, penis pria tidak akan dapat ereksi secara penuh.

Jika manusia ingin mendiami planet lain, antariksawan harus melakukan perubahan besar-besaran pada pesawat ruang angkasa agar penjelajah di masa depan bisa bertahan lebih lama di luar angkasa dan mampu menunaikan tugas alaminya.