Showing posts with label hoax. Show all posts
Showing posts with label hoax. Show all posts


Ketika membayangkan Tyrannosaurus rex, dinosaurus yang paling menakutkan, Anda mungkin mengira ia memiliki rahang menganga dengan lidah raksasa di mulutnya.

Namun, menurut studi terbaru yang dipublikasikan pada PLOS ONE, itu bukan gambaran T-Rex yang sebenarnya. Faktanya, beberapa dinosaurus tidak mampu menjulurkan lidahnya. Bagian tersebut menempel di lantai mulut – mirip dengan yang terjadi pada buaya.

Untuk mendapatkan kesimpulan ini, para ilmuwan dari University of Texas dan Chinese Academy of Science, mempelajari tulang hyoid burung-burung modern dan buaya, lalu membandingkannya dengan fosil dinosaurus unggas (seperti pterosaur), dan T-rex.

Hyoid sendiri merupakan tulang berbentuk mirip tapal kuda yang terletak di sekitar leher antara dagu dan tiroid.

Setelah menelitinya, para arkeolog menemukan fakta bahwa tulang hyoid T-rex dan dinosaurus lainnya, mirip dengan buaya. Tulangnya pendek, simpel, dan sulit digerakkan.

“Selama ini, mulut dan lidah T-rex digambarkan dengan salah,” kata Julia Clarke, ahli paleontologi dan profesor di Jackson School.

“Pada dinosaurus yang sudah punah, tulang lidah mereka sangat pendek. Milik buaya pun sama pendeknya, dan lidahnya benar-benar melekat pada dasar mulut,” tambahnya.


Selama beberapa dekade, ahli paleontologi telah memperdebatkan apakah dinosaurus berdarah panas, seperti mamalia dan burung modern, atau berdarah dingin, seperti reptil modern? Mengetahui apakah dinosaurus berdarah panas atau dingin dapat memberi kita petunjuk tentang seberapa aktif mereka dan seperti apa kehidupan sehari-hari mereka, tetapi metode untuk menentukan berdarah panas atau dingin mereka masih belum meyakinkan.

Namun dalam sebuah makalah baru yang diterbitkan di jurnal Nature pada 25 Mei 2022 berjudul "Fossil biomolecules reveal an avian metabolism in the ancestral dinosaur", para ilmuwan mengungkap metode baru untuk mempelajari tingkat metabolisme dinosaurus dengan menggunakan petunjuk di tulang mereka yang dapat menunjukkan berapa banyak individu hewan bernapas dalam jam terakhir kehidupan mereka.

"Ini sangat menarik bagi kami sebagai ahli paleontologi—pertanyaan apakah dinosaurus berdarah panas atau dingin adalah salah satu pertanyaan tertua dalam paleontologi, dan sekarang kami pikir kami memiliki konsensus, bahwa sebagian besar dinosaurus berdarah panas," kata Jasmina Wiemann, penulis utama makalah dan peneliti postdoctoral di California Institute of Technology.

"Proxy baru yang dikembangkan oleh Jasmina Wiemann memungkinkan kami untuk secara langsung menyimpulkan metabolisme pada organisme yang punah, sesuatu yang kami impikan beberapa tahun yang lalu. Kami juga menemukan tingkat metabolisme berbeda yang mencirikan kelompok yang berbeda, di mana sebelumnya disarankan berdasarkan metode lain, tetapi tidak pernah diuji secara langsung," kata Matteo Fabbri, seorang peneliti postdoctoral di Field Museum di Chicago dan salah satu penulis studi tersebut.

Hewan dengan tingkat metabolisme yang tinggi bersifat endotermik, atau berdarah panas; hewan berdarah panas seperti burung dan mamalia mengambil banyak oksigen dan harus membakar banyak kalori untuk menjaga suhu tubuh mereka dan tetap aktif. Sedangkan hewan berdarah dingin, atau ektotermik, seperti reptil bernapas lebih sedikit dan makan lebih sedikit. Gaya hidup mereka lebih murah daripada hewan berdarah panas, tetapi ada harganya: hewan berdarah dingin bergantung pada dunia luar untuk menjaga tubuh mereka pada suhu yang tepat untuk berfungsi (seperti kadal sering berjemur di bawah sinar matahari), dan mereka cenderung kurang aktif dibandingkan makhluk berdarah panas.

"Burung mewarisi tingkat metabolisme yang sangat tinggi dari nenek moyang dinosaurus mereka, yang cukup keren," tutur Wiemann, kepada Live Science.


"Metabolisme adalah seberapa efektif kita mengubah oksigen yang kita hirup menjadi energi kimia yang menjadi bahan bakar tubuh kita," kata Wiemann, yang turut berafiliasi dengan Universitas Yale dan Museum Sejarah Alam Los Angeles County.

Para ilmuwan telah mencoba mengumpulkan tingkat metabolisme dinosaurus dari analisis kimia dan osteohistologis tulang mereka. "Di masa lalu, orang telah melihat tulang dinosaurus dengan geokimia isotop yang pada dasarnya bekerja seperti paleo-termometer," kata Wiemann. Peneliti memeriksa mineral dalam fosil dan menentukan suhu berapa mineral itu akan terbentuk. “Pendekatan itu benar-benar revolusioner ketika keluar, dan itu terus memberikan wawasan yang sangat menarik tentang fisiologi hewan yang punah. Tapi kami telah menyadari bahwa kami belum benar-benar memahami bagaimana proses fosilisasi mengubah sinyal isotop yang kami ambil, jadi sulit untuk secara jelas membandingkan data dari fosil dengan hewan modern."

Metode lain untuk mempelajari metabolisme adalah laju pertumbuhan. "Jika Anda melihat penampang jaringan tulang dinosaurus, Anda dapat melihat serangkaian garis, seperti lingkaran pohon, yang sesuai dengan tahun pertumbuhan," kata Fabbri. "Anda dapat menghitung garis pertumbuhan dan jarak di antara mereka untuk melihat seberapa cepat dinosaurus tumbuh. Batas bergantung pada bagaimana Anda mengubah perkiraan tingkat pertumbuhan menjadi metabolisme: tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dapat lebih berkaitan dengan tahap hewan dalam kehidupan daripada dengan metabolismenya, seperti bagaimana kita tumbuh lebih cepat saat kita muda dan lebih lambat saat kita tua."

Tim menganalisis tulang paha dari 55 kelompok hewan yang berbeda, termasuk dinosaurus, sepupu terbang mereka pterosaurus, kerabat laut mereka yang lebih jauh plesiosaurus, dan burung modern, mamalia, juga kadal. Mereka membandingkan jumlah produk sampingan molekuler terkait pernapasan dengan tingkat metabolisme yang diketahui dari hewan hidup dan menggunakan data tersebut untuk menyimpulkan tingkat metabolisme hewan yang sudah punah.

Tim menemukan bahwa tingkat metabolisme dinosaurus umumnya tinggi. Ada dua kelompok besar dinosaurus, saurischia dan ornithischia—pinggul kadal dan pinggul burung. Dinosaurus berpinggul burung, seperti Triceratops dan Stegosaurus, memiliki tingkat metabolisme yang rendah dibandingkan dengan hewan modern berdarah dingin. Dinosaurus berpinggul kadal, termasuk theropoda dan sauropoda—dinosaurus predator berkaki dua yang lebih mirip burung seperti Velociraptor dan T. rex dan herbivora raksasa berleher panjang seperti Brachiosaurus—berdarah panas.

Para peneliti terkejut menemukan bahwa beberapa dinosaurus ini tidak hanya berdarah panas—mereka memiliki tingkat metabolisme yang sebanding dengan burung modern, jauh lebih tinggi daripada mamalia. Hasil ini melengkapi pengamatan independen sebelumnya yang mengisyaratkan tren tersebut tetapi tidak dapat memberikan bukti langsung, karena kurangnya proxy langsung untuk menyimpulkan metabolisme.

"Dinosaurus dengan tingkat metabolisme yang lebih rendah, sampai batas tertentu, bergantung pada suhu eksternal," kata Wiemann.

"Merekonstruksi biologi dan fisiologi hewan yang punah adalah salah satu hal tersulit untuk dilakukan dalam paleontologi," sambung Fabbri.

“Kita hidup dalam kepunahan massal keenam,” tutur Wiemann, “jadi penting bagi kita untuk memahami bagaimana hewan modern dan punah secara fisiologis merespons perubahan iklim dan gangguan lingkungan sebelumnya, sehingga masa lalu dapat menginformasikan konservasi keanekaragaman hayati di masa sekarang dan menginformasikan tindakan kita di masa depan." pungkasnya.

 Tulisan ini adalah permintaan dari beberapa orang yang meminta saya untuk menulis tentang reaktor nuklir zaman purba. Seperti yang kita ketahui, di internet beredar kisah-kisah mengenai adanya ledakan nuklir zaman purba yang masih menjadi teka-teki. Bukti-bukti dimunculkan, dari sebuah pertambangan di Oklo, kota mati di Mohenjo Daro dan Harappa hingga ke sebuah kawah raksasa di Bombay. Tapi apakah ledakan nuklir zaman purba benar-benar ada ?


Mungkin beberapa dari anda sudah pernah membaca kisah ini sebelumnya. Bagi yang belum, mungkin akan menjadi sedikit membingungkan. Kisahnya begini :

Dikisahkan bahwa para arkeolog menemukan bukti-bukti bahwa pernah terjadi perang nuklir di zaman purba. Jadi, teknologi nuklir sebenarnya sudah dikenal oleh nenek moyang kita. Benarkah demikian ? Beberapa sumber di internet mengutip sebuah paragraf dari kitab yang diklaim sebagai bagian dari kutipan Mahabharata untuk membuktikan adanya perang nuklir pada zaman purba. Namun, masalahnya satu, sebagian besar kisah yang anda baca di internet adalah hoax !

Saya mengatakan "sebagian besar hoax" karena memang tidak semuanya hoax. Saya akan menunjukkan kepada anda yang mana hoax dan yang bukan.

PERBEDAAN REAKTOR DAN LEDAKAN NUKLIR

Pertama, kisah ini harus dibagi menjadi dua bagian, yaitu REAKTOR NUKLIR purba dan LEDAKAN NUKLIR purba. Banyak orang tidak mengetahui perbedaan ini sehingga mereka mencampuradukkan kisah reaktor nuklir purba dengan ledakan nuklir purba.

REAKTOR NUKLIR adalah sebuah fasilitas atau alat dimana reaksi berantai nuklir diinisiasi, dikendalikan dan ditahan dalam kondisi tetap. Sedangkan LEDAKAN NUKLIR adalah sebuah reaksi berantai yang tidak terkontrol yang berasal dari bom nuklir. Jadi sebuah REAKTOR nuklir dapat digunakan untuk menghasilkan BOM nuklir yang dapat menjadi LEDAKAN nuklir. Sangat berbeda kan ?

Nah, untuk mempermudahnya, saya akan mengatakannya begini, Kisah REAKTOR NUKLIR purba, benar adanya. Kisah LEDAKAN NUKLIR purba adalah hoax.

REAKTOR NUKLIR PURBA

Kisah Reaktor nuklir zaman purba bermula pada tahun 1972. Saat itu, di fasilitas pengolahan bahan bakar nuklir Pierrelatte, Ilmuwan Perancis bernama Bougzigues sedang bekerja melakukan analisa rutin terhadap uranium yang telah diekstrak dari biji uranium. kemudian ia menyadari sesuatu yang aneh dari biji uranium yang ditelitinya.

Uranium memiliki tiga isotop yang memiliki massa atom yang berbeda dengan proporsi yang berbeda, yaitu : U 238 sebanyak 99.274%, U 235 sebanyak 0.720% dan U 234 sebanyak 0.005%.

Uranium 235 adalah uranium yang paling dicari diseluruh dunia karena kemampuannya menahan reaksi nuklir dan uranium inilah yang dipakai di reaktor nuklir modern. Dimanapun di bumi ini, atom uranium 235 membentuk 0,720 persen dari total uranium. Namun sampel yang dipegang olehnya hanya memiliki 0,717 persen. Ini menunjukkan bahwa sampel uranium ini pernah mengalami reaksi pelepasan energi (reaksi fisi). Badan tenaga atom Perancis segera bergerak untuk menyelidiki penyebabnya. Sampel itu dilacak hingga ke sebuah pertambangan di Oklo, Gabon, Afrika. Para ilmuwan bergegas ke Oklo. Penelitian lanjutan yang dilakukan menemukan ada enam belas lokasi yang berfungsi sama seperti reaktor nuklir modern dan reaktor purba itu diperkirakan berumur 2 milyar tahun.

Bagaimana Oklo bisa berfungsi seperti reaktor nuklir purba ? Badan tenaga atom Perancis berusaha mencari jawabannya. Dan kemudian mereka mendapatkan jawabannya dari sebuah tulisan tahun 1956 yang dibuat oleh Paul Kazuo Kuroda, seorang ahli kimia dari universitas Arkansas. Kuroda mengatakan apabila jumlah U235 cukup banyak dan ada moderator neutron seperti aliran air tanah, maka reaktor nuklir alami bisa terjadi. Kondisi pertambangan Oklo menyerupai apa yang diprediksi Kuroda.

Misteri reaktor nuklir purba sebenarnya telah terjawab secara ilmiah oleh Paul Kuroda, jadi faktor misterinya boleh dibilang hampir lenyap.

LEDAKAN NUKLIR PURBA

Sekarang kita akan melihat kisah LEDAKAN NUKLIR purba yang adalah hoax. Kisah ini sering digabungkan dengan reaktor Oklo karena ketidaktahuan mengenai perbedaan antara reaktor dengan ledakan nuklir. Kita mulai dari hoax pertama.

Hoax Pertama
Di internet, beredar paragraf yang diakui berasal dari kitab Mahabharata yang dikatakan mendeskripsikan dan membuktikan adanya perang (ledakan) nuklir di zaman purba. Saya menemukan paragraf ini dikutip banyak web atau blog yang membahas reaktor nuklir purba. Saya menerjemahkannya dan inilah bunyi paragraf itu :

"Gurkha, menerbangkan vimana (pesawat) yang kuat dan cepat melontarkan sebuah proyektil (rudal) yang diisi dengan kekuatan alam semesta (nuklir). pijaran tiang api dan asap sama terangnya dengan cahaya 10.000 matahari bangkit dengan seluruh kemegahannya. Itu adalah senjata yang tidak dikenal, sebuah petir besi, raksasa pembawa pesan kematian yang menjadikan seluruh suku Vrishnis dan Andhakas menjadi abu. Mayat-mayat menjadi begitu hangus hingga tidak dapat dikenali lagi. Rambut dan kuku berjatuhan, keramik tanah liat pecah tanpa sebab yang jelas dan burung-burung berubah menjadi putih...setelah beberapa jam, semua bahan makanan tercemar (radiasi)...untuk menyelamatkan diri dari api ini, para tentara melompat kedalam arus air untuk membersihkan diri mereka dan peralatannya. (Mahabharata - 6.500 SM? )

Nah, masalahnya adalah kitab Mahabharata tidak pernah memuat paragraf itu di dalamnya. Anda boleh mencarinya di internet lewat google.

Hoax kedua - Mohenjodaro, Harappa dan Rajashtan
Disebut bahwa di kota Mohenjodaro dan Harappa, para ilmuwan menemukan kota-kota kuno dengan kerangka yang berserakan di jalan-jalan, kebanyakan terlihat berpegangan tangan dijalan-jalan, ini menunjukkan kematian mendatangi mereka dengan tiba-tiba. Dan umur kerangka ini ribuan tahun. Dan kerangka-kerangka ini memiliki kadar radioaktif tinggi yang sama dengan korban bom Hiroshima Nagasaki.

Sedangkan di Rajasthan disebut bahwa telah ditemukan lapisan debu radioaktif yang meliputi area seluas tiga mil persegi di sepuluh mil sebelah barat Jodhpur. Penelitian yang menemukan Radioaktif ini dilakukan setelah para peneliti melihat adanya tingkat cacat yang tinggi pada bayi yang baru lahir di wilayah itu dan banyaknya penduduk lokal yang menderita kanker. Level radiasi di tempat itu sangat tinggi sehingga peneliti meminta pemerintah india mengisolasi wilayah itu.

Jika anda menelusuri website-website pemerintah atau website swasta di mohenjodaro, Harappa dan Rajashtan, tidak ada satupun yang pernah menyebut adanya penemuan-penemuan kerangka tersebut. Website-website arkeologi juga tidak pernah menyebut hasil penemuan ini. Kisah "penemuan" ini hanya beredar di website di luar India. Bahkan orang-orang India yang tinggal di wilayah Jodhpur mengaku bahwa ia tidak pernah tahu ada penemuan-penemuan itu. Memang ada beberapa tempat di India yang mengandung radiasi, namun itu adalah akibat percobaan nuklir India di masa modern ini. Seorang India pernah menulis bahwa kisah-kisah ledakan ini tidak layak beredar di India.

Hoax ketiga - kawah raksasa Bombay
Disebut bahwa kawah raksasa di Bombay yang bernama kawah Lonar adalah bukti ledakan nuklir purba. Kawah itu terbentuk dari lapisan batu basalt setebal 600-700 meter. Diameter kawah itu sekitar 2.154 meter dan dalamnya sekitar 150 meter, berlokasi di sekitar 400 kilometer timur laut Bombay. Kawah tersebut diperkirakan berumur 50.000 tahun

Belakangan, para ilmuwan menemukan bahwa kawah itu diakibatkan oleh sebuah komet, bukan ledakan nuklir. (Sebenarnya ini tidak bisa disebut hoax, karena kawah tersebut memang ada, tapi saya memasukkannya untuk mempermudah pembahasan).

KESIMPULAN

REAKTOR NUKLIR purba memang ada dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Sedangkan LEDAKAN NUKLIR purba adalah hoax yang beredar di internet entah untuk tujuan apa. Oh ya, satu lagi, jika anda mencari di wikipedia dengan kata kunci "natural nuclear fission reactor" maka anda akan menemukan kisah tentang oklo, tapi tidak tentang mohenjo Daro dan kawan-kawan. Wikipedia is right !!!!

(twitscope.wordpress.com)