Showing posts with label Perjalanan Misterius. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan Misterius. Show all posts

 Bulan Februari sudah berakhir dan sekaligus menjadi penanda dimulainya bulan baru, Maret. Bagi Anda yang gemar mengamati langit, memasuki bulan baru berarti memasuki kegiatan baru dalam menyaksikan peristiwa langit lainnya.

Untuk itu kami rangkumkan peristiwa langit yang terjadi selama bulan Maret. Bisa dibilang pada bulan Maret ini tidak ada sesuatu yang besar dan menarik minat banyak orang.

Pada tanggal 7 Maret, Neptunus akan mengalami konjungsi, atau dalam posisi yang sejajar dengan Matahari.

Neptunus akan berada pada jarak terjauhnya dari Bumi, yakni 30,93 Astronomical Unit (AU), atau setara dengan 4.627.062.140,75,10 km. Neptunus juga akan berada pada sisi berlawanan dengan Bumi, dengan Matahari berada di antara keduanya.

Bila diamati dari Bumi, Neptunus akan terlihat sangat dekat dengan Matahari pada jarak 0°57’. Artinya, kita tidak dapat melakukan pengamatan dari Bumi. Kalaupun bisa, maka Neptunus akan sangat redup dengan diameter piringan 2,2’’.

Konjungsi Inferior Merkurius

Pada tanggal 15 Maret Merkurius akan sejajar di antara Matahari dan Bumi, dan terpisah 3°29′ dari Matahari.

Posisi ini juga menjadikan Merkurius berada pada lintasan terdekatnya dengan Bumi, yakni pada jarak 0,62 AU, atau setara dengan 92.750.679,83 km.

Senasib dengan Neptunus, Merkurius juga tidak dapat diamati dari Bumi. Waktu terbit dan terbenam yang hampir bersamaan dengan Matahari menjadi penyebabnya.

Peristiwa konjungsi inferior Merkurius juga menjadi tanda berakhirnya kenampakan planet ini saat senja dan bertransisi menjadi planet yang muncul saat fajar dalam beberapa minggu lagi.

Ekuinoks

Pada tanggal 21 Maret, Matahari berada di posisi ekuinoks atau di atas garis khatulistiwa.

Hal ini berpengaruh pada durasi siang dan malam yang menjadi sama, yakni 12 jam. Bagi masyarakat di belahan Bumi utara, tanggal itu menjadi vernal ekuinoks atau titik balik musim semi. Hal ini juga sekaligus menjadi penanda dimulainya musim semi.

Vernal Ekuinoks akan terjadi pada pukul 04.44 WIB

Sementara itu, bagi masyarakat belahan Bumi selatan, tanggal 21 Maret akan menjadi ekuinoks musim gugur, dan menjadi penanda dimulainya musim gugur


Ini adalah studi lanjutan dari studi sebelumnya. Di mana sebelumnya mengungkap keberadaan spesies baru kanguru raksasa yang ditemukan di Nombe Rockshelter Papua Nugini. Menurut penelitian baru dunia hewan ini, spesies ini masih bisa bertahan lama setelah megafauna bertubuh besar di daratan Australia punah. Seekor kanguru raksasa yang pernah berkeliaran dengan empat kaki melalui hutan terpencil di Dataran Tinggi Papua Nugini (PNG) mungkin telah bertahan baru-baru ini 20.000 tahun yang lalu.

Ahli paleontologi Flinders University, bekerja sama dengan arkeolog dan geoscientist Australian National University, telah menggunakan teknik baru dalam studi mereka. Bertujuan untuk memeriksa kembali tulang megafauna dari situs fosil Nombe Rockshelter yang kaya di Provinsi Chimbu. Ini dalam upaya untuk lebih memahami sejarah alam PNG yang menarik.

Analisis baru menghasilkan revisi usia tulang dan menunjukkan bahwa beberapa spesies mamalia besar, termasuk harimau Tasmania yang punah dan marsupial mirip panda (disebut Hulitherium tomasettii) masih hidup di Dataran Tinggi PNG ketika manusia pertama kali tiba. Ini mungkin sekitar 60.000 tahun yang lalu.

Hebatnya dua spesies kanguru besar yang telah punah, termasuk satu yang berkaki empat daripada melompat dengan dua kaki, mungkin telah bertahan di wilayah tersebut selama 40.000 tahun lagi.

"Jika spesies megafauna ini benar-benar bertahan di Dataran Tinggi PNG lebih lama daripada spesies yang setara di Australia, maka itu mungkin karena orang jarang mengunjungi daerah Nombe, dan dalam jumlah yang rendah sampai setelah 20.000 tahun yang lalu," kata Profesor Ilmu Arkeologi ANU Tim Denham, salah satu penulis utama dalam studi baru.

Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Archaeology in Oceania pada 16 September dengan judul Re‐evaluating the evidence for late‐surviving megafauna at Nombe rockshelter in the New Guinea highlands.


"Tempat perlindungan batu Nombe adalah satu-satunya situs di Nugini yang diketahui telah ditempati oleh orang-orang selama puluhan ribu tahun dan melestarikan sisa-sisa spesies megafauna yang punah. Kebanyakan dari mereka unik di Nugini,” kata Denham, yang awalnya melakukan kerja lapangan di Dataran Tinggi PNG pada tahun 1990. “Nugini adalah bagian utara yang berhutan, pegunungan, dari benua Australia yang sebelumnya lebih luas yang disebut 'Sahul' tetapi pengetahuan kita tentang sejarah fauna dan manusianya buruk dibandingkan dengan daratan Australia."

Rekan penulis penelitian Profesor Gavin Prideaux, dari Laboratorium Paleontologi Universitas Flinders, mengatakan studi Nombe terbaru konsisten dengan bukti serupa dari Pulau Kanguru, yang sebelumnya diproduksi oleh ahli paleontologi Flinders. Ini juga menunjukkan kanguru megafauna mungkin telah bertahan hingga sekitar 20.000 tahun yang lalu di beberapa tempat dari daerah yang kurang dapat diakses di benua itu.

"Meskipun sering diasumsikan bahwa semua spesies megafauna di Australia dan Nugini punah dari pantai ke pantai pada 40.000 tahun yang lalu, generalisasi ini tidak didasarkan pada banyak bukti aktual," kata Profesor Prideaux. "Ini mungkin lebih berbahaya daripada membantu dalam menyelesaikan dengan tepat apa yang terjadi pada lusinan mamalia besar, burung, dan reptil yang hidup di benua itu ketika orang pertama kali tiba."

Tempat perlindungan batu Nombe, yang terletak di sekitar komunitas Nongefaro, Pila dan Nola di PNG, jarang dikunjungi oleh kelompok nomaden masyarakat Dataran Tinggi pada zaman prasejarah. Tempat perlindungan batu tersembunyi pertama kali digali oleh para arkeolog pada tahun 1960-an. Tetapi fase kerja lapangan yang paling intensif dilakukan pada tahun 1971 dan 1980 oleh arkeolog ANU Dr Mary-Jane Mountain, yang juga merupakan penulis makalah terbaru.

Penelitian awalnya menghasilkan deskripsi dan interpretasi terperinci pertama dari situs Nombe dan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman kita tentang sejarah manusia di Dataran Tinggi PNG.

"Mary-Jane awalnya berhipotesis bahwa megafauna di situs tersebut mungkin telah bertahan selama puluhan ribu tahun setelah kolonisasi manusia. Tetapi ini hanya dikonfirmasi dengan munculnya teknik baru dalam arkeologi, penanggalan, dan ilmu paleontologi," kata Profesor Denham.

Profesor Prideaux mengatakan aplikasi baru dari teknik analisis modern ini, atau penggalian baru di situs Nombe akan lebih lanjut mengonfirmasi garis waktu megafauna yang masih hidup dan durasi pendudukan oleh orang-orang di PNG.



Kerangka manusia yang tercerai berai dan dua yang hampir lengkap, ditemukan di lubang kuburan dangkal di Manassas, Virginia, AS.

Kota tersebut merupakan lokasi meninggalnya 15 ribu tentara Union saat Pertempuran Bull Run Kedua pada 1862. Tulang-tulang yang diduga milik para pejuang wilayah Utara itu, memberikan gambaran suram dari Perang Saudara yang terjadi di AS.

Setelah perang, petugas medis menghampiri para pria yang terluka parah. Beberapa di antaranya, telah terbaring di luar ruangan berhari-hari. Para dokter harus menentukan dengan cepat mana yang bisa diselamatkan dan yang tidak.

Baca juga: Ilmuwan Selidiki Asal Penyakit Sifilis Melalui Kerangka 300 Tahun

Kerangka tercerai-berai yang ditemukan di Manassas berasal dari hasil amputasi tentara yang memiliki peluang bertahan hidup.

Meski begitu, adanya luka pada salah satu kerangka menunjukkan bahwa dokter memutuskan untuk tidak mengoperasinya. Kerangka tersebut diduga milik prajurit yang mengalami luka tembak di bokongnya.

Tidak ditemukannya kancing celana panjang di sekitarnya, menunjukkan bahwa tentara itu masih sempat hidup setelah tertembak.


“Yang mungkin terjadi adalah: ia masih hidup saat peluru mengenai bokongnya. Dokter pun sempat membuka celana tentara tersebut untuk melihat luka tembakan. Namun, setelah itu, mereka memutuskan untuk mengabaikannya,” papar Doug Owsley, antropolog di National Museum of Natural History, setelah melihat tingkat keparahan cedera pada kerangka.

Para dokter berpikir luka tembak yang dialami tentara tersebut terlalu parah sehingga sulit melakukan amputasi.

Yang mengejutkan menurut Owsley adalah kerangka yang tercerai-berai itu dipotong sengan sangat rapi. Selama ini, pembedahan pada masa Perang Saudara memiliki reputasi yang buruk. Sebuah studi bahkan menyebutkan bahwa ahli bedah pada zaman Kekaisaran Inca, jauh lebih baik dari dokter-dokter di era Perang Saudara. Oleh sebab itu, penemuan kerangka dengan potongan yang baik ini, cukup mengejutkan peneliti.

“Beberapa amputasi kemungkinan diselesaikan kurang dari sepuluh menit. Itu dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman – bukan pekerjaan pemula,” kata Owsley.

Owsley dan rekannya berpikir bahwa ahli bedah tersebut mungkin Benjamin Howard, dokter yang juga merawat tentara terluka saat pertempuran Antietam.

Manassas National Battlefield Park akan menambahkan rincian dari penelitian baru ini ke dalam database mereka tentang Pertempuran Bull Run Kedua. Selain itu, dua kerangka telah dikirimkan ke Pemakaman Arlington untuk dikubur -- peneliti berhasil mengidentifikasi mereka sebagai tentara yang gugur.


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.


Dalam beberapa dekade terakhir banyak kota hilang telah ditemukan oleh para arkeolog atau para penjelajah. Salah satu yang paling misterius adalah kota kuno El Tajín di negara bagian Veracruz, Meksiko.

Kota ini terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 1990-an karena semua monumen di El Tajín, termasuk lanskap sekitarnya, telah bertahan hampir tidak berubah selama berabad-abad. Kota ini tersembunyi dari manusia oleh hutan tropis.

Kota ini dibangun dan dihuni antara 800 Sebelum Masehi dan 1200 Masehi oleh budaya yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh orang-orang Olmec, meskipun siapa mereka sebenarnya masih belum diketahui. Beberapa orang meyakini bahwa mereka adalah nenek moyang orang-orang Toltec atau bahwa mereka adalah cabang dari orang-orang Maya yang perkasa. Beberapa bukti menunjukkan bahwa para pembangun El Tajín adalah nenek moyang orang-orang Huastec, yang masih tinggal di negara bagian Veracruz.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa El Tajin adalah kota kaya dan merupakan ibu kota kerajaan yang mendominasi sebagian besar wilayah barat daya Meksiko. Kota itu mengangkangi jaringan perdagangan penting dan merupakan kota multi-etnis.

Pada puncaknya, sekitar 20.000 orang tinggal di El Tajín, terutama di perbukitan sekitarnya. Kota itu dan daerah pedalamannya selamat dari keruntuhan masyarakat pada Periode Klasik, dan El Tajín terus berkembang.

Namun, pada tahun 1300, kota itu diserang oleh orang-orang nomaden yang dikenal sebagai Chitimec, yang tinggal di tempat yang sekarang disebut Meksiko utara. Kota itu sebagian dihancurkan dan ditinggalkan, dan penduduk mendirikan kota lain agak jauh.

Dikutip dari Ancient Origins, kota yang ditinggalkan itu diketahui oleh orang-orang Toltec, dan kemudian oleh orang-orang Aztec. Mereka menghubungkan reruntuhan kota itu dengan alam gaib dan alam orang mati. Setelah penaklukan Spanyol, kota itu dilupakan. Ini mungkin terkait dengan keruntuhan orang-orang Huastec karena perang dan penyakit.

Penemuan Kembali Kota El Tajín yang Hilang

El Tajín yang ditingggalkan dan dilupakan berada di dataran tinggi semi-tropis dan segera ditumbuhi pepohonan. Kota itu tersembunyi di hutan lebat dan baru ditemukan pada tahun 1785 oleh seorang pejabat pemerintah yang mencari perkebunan tembakau ilegal.

Berita tentang penemuan kota yang hilang ini menimbulkan sensasi, tetapi baru pada abad ke-20 kota itu digali. Penemuan minyak membuka area bagi para arkeolog yang, bersama dengan yang lain, membersihkan hutan yang menyelimuti kota yang hilang itu. Sampai saat ini hanya 50% dari lokasi yang telah diselidiki dan dinyatakan sebagai taman arkeologi nasional untuk melindungi banyak reruntuhannya.

Bagian tertua kota itu adalah Aroyo Group yang merupakan alun-alun yang dikelilingi oleh susunan piramida berundak yang telah ditemukan dari hutan tersebut. Di bagian atas alun-alun ini ada kuil-kuil.

Sampai kota itu jatuh, alun-alun digunakan sebagai pasar yang juga menampilkan banyak patung. Mungkin bangunan terpenting di El Tajín adalah Piramida Relung. Piramida itu mendapatkan namanya dari banyaknya relung di setiap tingkat dan mewakili gua-gua yang melambangkan pintu-pintu gerbang ke dunia bawah. Konstruksi ini terbuat dari batu-batu ubin besar dan tingginya tujuh lantai. Ini terdiri dari tiga sisi miring dan satu dinding vertikal, khas Mesoamerika.

Yang membedakan piramida ini dengan piramida-piramida lain yang lebih kecil, adalah penggunaan penopang terbang. Banyak ahli percaya bahwa piramida ini pernah dicat merah dan di atasnya terdapat patung dewa yang sangat besar. Tidak seperti yang lainnya, Kuil Biru, yang disebut dicat dengan pigmen biru, tidak memiliki penopang terbang.

Area penting lain dari kota ini adalah Tajín Chico, yang merupakan kompleks bangunan yang beberapa di antaranya bersifat administratif. Ini semua terpelihara dengan baik dan juga terbuat dari batu-batu ubin besar.


Dengan ekosistem yang beragam seperti lautan, dataran, dan tundra beku, Amerika Utara adalah rumah bagi beberapa predator raksasa nan ganas.

Akan tetapi, makhluk modern—seperti buaya, hiu putih besar, dan beruang kutub —akan terlihat sangat kecil bila ditempatkan di samping predator purba di benua itu. Jadi, apa predator terbesar yang pernah hidup di Amerika Utara?

Untuk hewan berbulu, mamalia pemangsa terbesar di Amerika Utara kemungkinan besar adalah beruang berwajah pendek (Arctodus simus), kata Ross MacPhee, kurator senior mamalia di American Museum of Natural History di New York City.

Kadang-kadang disebut "beruang bulldog", makhluk yang sekarang sudah punah ini memiliki moncong pendek dan lebar yang khas. Tingginya sekitar 1,6 meter di bahu dan lebih dari 3,4 meter di kaki belakangnya yang kurus, demikian menurut peneliti University of Iowa Museum of Natural History.

“Mungkin sulit bagi para ilmuwan untuk mengukur berat badan yang tepat dari spesies yang punah, karena mereka harus memperkirakan angka-angka itu menggunakan spesies yang ada sebagai tolak ukur,” kata MacPhee dilansir dari Live science.

Namun, ahli paleontologi memperkirakan bahwa beruang berwajah pendek mungkin memiliki berat sekitar 700 kilogram. Beruang kutub modern (Ursus maritimus) berukuran tidak terlalu jauh—jantan terbesar berukuran sekitar 1,5 meter di bahu dan beratnya sekitar 600 kilogram, menurut Polar Bears International.


Beruang berwajah pendek punah sekitar 11.000 tahun yang lalu, sekitar akhir zaman es terakhir. Untuk menemukan predator darat yang lebih besar, kita harus melakukan perjalanan lebih jauh ke masa lalu. Dinosaurus predator Amerika Utara terbesar juga paling terkenal di benua itu: Tyrannosaurus rex.

Selama akhir periode Cretaceous, sekitar 100 juta hingga 66 juta tahun yang lalu, Amerika Utara adalah negeri monster.

"Dinosaurus karnivora memiliki keragaman yang luar biasa di Amerika Utara di seluruh Mesozoikum (252 juta hingga 66 juta tahun yang lalu)," Andrew Farke, direktur Museum Paleontologi Raymond M. Alf di Claremont, California, dilansir dari Live Science.

Tetapi dengan tinggi hampir 3,5 meter di pinggul dan panjang hingga 12,3 meter, menurut spesimen T. rex seukuran bus sekolah yang hampir lengkap yang dikenal sebagai Stan, tiran rex yang menjulang di sebagian besar dari hewan-hewan karnivora sezamannya.

Acrocanthosaurus merupakan sepupu "hiu bergigi" dari tyrannosaurus dan anggota kelompok yang dikenal sebagai carcharodontosaurus. Panjangnya hampir menyamai T. rex tetapi beratnya lebih ringan dibanding T. rex. Acrocanthosaurus beratnya 6,8 ton sedangkan T. rex beratnya 7,8 ton, demikian menurut American Museum of Natural History.

T. rex menggunakan semua itu untuk keuntungannya: Dengan otot rahangnya yang kuat, ia dapat menghasilkan hingga 6 ton tekanan per gigitan—cukup untuk merobek baja seolah-olah selembar kertas, menurut sebuah studi dalam jurnal The Anatomical Record pada 2019.

Satu-satunya dinosaurus yang hidup saat ini adalah burung, membuat dinosaurus terbesar yang masih hidup di Amerika Utara menjadi kondor California (Gymnogyps californianus). Pada 3 meter dari ujung sayap ke ujung sayap, burung ini secara signifikan lebih kecil dari sepupu pemakan daging purba T. rex, tetapi tetap tangguh. Hewan ini memakan bangkai rusa, babi, sapi, singa laut dan bahkan paus, menurut Cornell Lab of Ornithology.

Ketika membahas raksasa laut purba, reptil raksasa adalah pemenangnya.

Ichthyosaurus adalah sekelompok reptil laut predator yang hidup selama era Mesozoikum, periode waktu yang sama dengan dinosaurus. Pada Akhir periode Trias, kira-kira 237 juta tahun yang lalu, seekor ichthyosaurus yang dikenal sebagai Shonisaurus sikanniensis mulai berenang di perairan yang sekarang disebut British Columbia, Kanada.


"S. sikanniensis dianggap sebagai reptil laut terbesar sepanjang masa," ujar Kenshu Shimada, seorang profesor paleobiologi di De Paul University di Chicago.

“Ada beberapa perdebatan tentang Ichthyosaurus genus S. sikanniensis, Anggota kedua generasi yang besar, efisien dan cepat, meskipun spesies dari genus Shonisaurus memiliki dada barel dan moncong panjang dibandingkan Shastasaurus,” menurut Mark Witton dari University of Portsmouth paleontolog and paleoartist.

Terlepas dari taksonomi, tidak ada keraguan bahwa S. sikanniensis benar-benar kolosal; dengan panjang 65 kaki (20 m) yang menakjubkan dari moncong ke ekor,

"dengan singkat sekitar tiga kali lebih besar dari hiu putih besar hidup terbesar yang diketahui," kata Shimada. Tapi ukuran tidak selalu sama dengan keganasan. Sebuah studi 2011 di jurnal PLOS One mengatakan bahwa S. sikanniensis mungkin telah menjadi pengumpan hisap, menyeruput mangsa bertubuh lunak seperti cumi-cumi dan belemnites (cumi-cumi bercangkang).

Masing-masing makhluk ini, bagaimanapun, akhirnya mati sebagai akibat dari pergolakan lingkungan. Seperti banyak predator yang sangat terspesialisasi, begitu mangsa mereka menjadi langka, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan energi mereka. "Pada titik tertentu, lebih besar tidak lebih baik," kata MacPhee.


Masih ingat para peneliti di Arab Saudi utara menemukan serangkaian patung unta seukuran aslinya pada tahun 2018? Kala itu, mereka memperkirakan bahwa karya seni tersebut berasal dari sekitar 2.000 tahun lalu. Sekarang, sebuah studi baru menunjukkan bahwa kerangka waktu yang diusulkan ini meleset sebanyak 6.000 tahun.

Temuan baru ini diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science: Reports, menunjukkan bahwa apa yang disebut Situs Unta sebenarnya berasal dari antara 7.000 dan 8.000 tahun lalu.

Dilansir Arab News, garis waktu ini kemungkinan akan menjadikan patung-patung itu sebagai relief hewan tiga dimensi skala besar tertua yang masih ada di dunia. Sebaliknya, Piramida Giza Mesir berusia 4.500 tahun, sedangkan Stonehenge Inggris dibangun sekitar 5.000 tahun lalu.

Para peneliti menentukan tanggal ukiran melalui analisis kimia dan pemeriksaan tanda alat yang ditemukan di situs tersebut.

 “Mereka benar-benar menakjubkan dan, mengingat kita melihat mereka sekarang dalam keadaan terkikis parah dengan banyak panel jatuh, situs aslinya pasti benar-benar menakjubkan,” penulis utama Maria Guagnin, seorang arkeolog di Max Planck Institute for the Science of Human History.

 “Ada unta seukuran manusia dan equid dua atau tiga lapisan di atas satu sama lain,” tambahnya.

Seniman kuno mengukir gambar menjadi tiga taji berbatu. Selain sekitar selusin unta, karya seni itu menggambarkan dua hewan yang mungkin keledai, bagal, atau kuda.

Perkiraan awal usia karya ini sebagian didasarkan pada keberadaan relief unta lain yang dibuat di Yordania sekitar waktu itu. Tapi penanggalan radiokarbon, analisis pola pelapukan dan metode penanggalan lainnya menunjukkan asal yang jauh lebih tua. Selain itu, seorang tukang batu tidak menemukan tanda-tanda tembikar atau penggunaan peralatan logam di lokasi tersebut.


"Setiap hari Neolitik lebih mungkin terjadi, sampai kami menyadari itu benar-benar situs Neolitik yang kami lihat," kata Guagnin.

Seperti yang dilaporkan Stephanie Pappas untuk Live Science, para pemahat unta menggunakan alat yang terbuat dari batu yang disebut rijang, yang dibawa setidaknya sembilan mil jauhnya.

Mereka akan membutuhkan beberapa jenis perancah untuk mencapai bagian yang lebih tinggi dari permukaan berbatu. Mengukir setiap relief membutuhkan waktu antara 10 dan 15 hari. Beberapa unta yang digambarkan pada relief memiliki garis leher yang menonjol dan perut yang bundar—ciri khas hewan ini pada musim kawin. Ini menunjukkan bahwa situs itu terkait dengan kesuburan atau waktu tertentu dalam setahun.

“Komunitas pemburu dan penggembala cenderung sangat tersebar dan berpindah-pindah, dan penting bagi mereka untuk bertemu secara teratur sepanjang tahun, untuk bertukar informasi, pasangan, dan sebagainya,” Guagnin.

“Jadi apapun simbolisme dari patung-patung itu, mungkin ini adalah tempat untuk menyatukan seluruh komunitas,” imbuhnya.

Pola pelapukan pada patung menunjukkan bahwa mereka diukir ulang dan dibentuk kembali dari waktu ke waktu. Pada saat pembuatan patung, sekitar milenium keenam SM, Jazirah Arab dipenuhi dengan padang rumput dan jauh lebih basah daripada sekarang. Penduduk kawasan itu membangun ribuan monumen batu yang dikenal sebagai mustatil di puluhan ribu mil persegi.


Guagnin mengatakan tidak jelas apakah kelompok yang sama yang membuat Situs Unta juga membuat mustatil. Ukiran dua dimensi lainnya telah ditemukan di daerah tersebut, tetapi tidak ada yang setara dengan Situs Unta.

Beberapa penggambaran fauna Neolitikum sama-sama seukuran aslinya, detail dan naturalistik tetapi keduanya dua dimensi. Hal ini membuatnya berpikir bahwa Situs Unta adalah bagian dari tradisi yang lebih luas tetapi memiliki tempat khusus di dalamnya, sampai-sampai terlihat seperti hewan itu keluar dari batu.

Guagnin menambahkan bahwa unta-unta yang ditampilkan dalam gambar mungkin liar. Domestikasi unta paling awal kemungkinan terjadi sekitar tahun 1200 SM. Orang-orang Neolitik di Arabia menggembalakan sapi, domba dan kambing dan mungkin berburu unta liar.

Dengan erosi yang terus menurunkan patung, para peneliti mengatakan penting untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang patung-patung itu.

“Pelestarian situs ini sekarang menjadi kunci, seperti penelitian masa depan di wilayah tersebut untuk mengidentifikasi apakah situs lain seperti itu mungkin ada,” tutup Guagnin.


Para arkeolog telah menemukan sebuah gereja berusia 1.500 tahun di Israel yang memiliki mosaik hewan dan telah dihapus, gereja tersebut didedikasikan untuk seorang martir tak dikenal. Gereja yang cukup besar ini memiliki prasasti Yunani yang mengatakan bahwa itu didedikasikan untuk "martir yang mulia" tetapi tidak mengatakan siapa martir tersebut.

Pada saat gereja dibangun, Kekaisaran Bizantium menguasai Israel, dan sebuah prasasti di gereja menyatakan bahwa gereja diperluas pada masa pemerintahan Kaisar Flavius ​​Tiberius, yang memerintah dari tahun 578 hingga 582. Israel dan daerah sekitarnya ditaklukkan oleh Kekalifahan Rasyidin antara tahun 634 dan 638. Namun, meskipun terjadi pertumbuhan Islam di daerah tersebut, gereja tetap berkembang, dan tidak ditinggalkan sampai abad ke-10, menurut para arkeolog.

Gereja itu ditemukan selama penggalian yang dilakukan pada tahun 2017, sebelum konstruksi berlangsung di daerah tersebut. Letaknya sekitar 15 mil (24 kilometer) barat daya Yerusalem di Perbukitan Yudea, ditulis oleh Benyamin Storchan, seorang arkeolog dari Israel Antiquities Authority yang memimpin penggalian di gereja tersebut dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada edisi Musim Gugur majalah Biblical Archaeology Review, Storchan menamai bangunan itu "Gereja Martir Agung".

"Pada fase paling awal (pada abad kelima) Gereja Martir Agung terdiri dari kapel sederhana di dalam sebuah gua," tulis Storchan dalam artikel tersebut, dia juga menjelaskan bahwa pada abad keenam gereja tersebut diperluas menjadi kapel yang cukup besar di atas tanah dengan hiasan mosaik. Orang-orang kemudian mengubah ruang di dalam gua menjadi makam yang mungkin menyimpan peninggalan martir yang tidak diketahui itu.

Ikonoklasme

Gereja mempunyai bekas luka dari ikonoklasme kuno yaitu sebuah pergerakan penghancuran artefak dan gambar tertentu yang disengaja. Para arkeolog menemukan bahwa beberapa mosaik awalnya didekorasi dengan gambar-gambar zoomorphic (seperti binatang), tetapi ini sengaja dihapus. “Mosaik tersebut telah dirusak oleh ikonoklas di zaman kuno, dan digantikan dengan bentuk-bentuk zoomorphic dengan tessera acak di ubin atau batu mosaik untuk mengaburkan desain aslinya," tulis Storchan dalam artikel tersebut.

"Saya percaya bahwa ikonoklasme di Gereja Martir Agung dilakukan selama abad ke-6," kata Storchan yang dilansir dari Live Science.

Dia juga mencatat bahwa tindakan itu kemungkinan dilakukan karena "reformasi internal Kristen," atau perubahan aturan. Namun, sementara ikonoklas menghancurkan gambar-gambar zoomorphic, mereka meninggalkan gambar-gambar binatang lainnya.

"Kita bisa melihat ini, karena lantai kapel yang menggambarkan banyak burung tidak rusak dan berasal dari akhir abad ke-6," lanjutnya.

Siapakah Martir Tersebut ?

Sementara para arkeolog tidak mengetahui identitas martir tersebut, satu kemungkinan yang pasti adalah bahwa itu didedikasikan untuk seorang pria bernama Zakharia, nama yang digunakan beberapa kali dalam Alkitab. Catatan kuno menunjukkan bahwa makam seorang martir Kristen dengan nama itu ditemukan di dekatnya pada abad kelima, dan teks-teks mengklaim bahwa sebuah kuil yang didedikasikan untuk Zakharia terletak di sekitar lokasi penggalian, yang berarti gereja ini mungkin adalah kuil itu. Namun, bahkan jika gereja didedikasikan untuk Zakharia, teks-teks yang masih ada tidak menjelaskan Zakharia yang mana.

“Zakharia adalah nama umum dalam Alkitab,” tulis Storchan dalam artikelnya, dia juga mencatat bahwa Zakharia juga bisa menjadi nama tokoh agama yang tidak dikenal yang tidak dijelaskan dalam Alkitab.

Pada akhirnya, para arkeolog bahkan tidak yakin bahwa gereja itu didedikasikan untuk seorang martir bernama Zakharia.

"Kami tetap berharap, bagaimanapun, bahwa dengan studi berkelanjutan dari ribuan artefak yang ditemukan selama penggalian, petunjuk baru dan penting akan mengungkapkan identitas sebenarnya dari Martir Agung yang misterius ini," tulis Storchan dalam artikel tersebut.



 


 Anggapan adanya materi gelap (dark matter) dalam kinerja alam semesta masih diperdebatkan oleh kalangan ilmuwan. Beberapa penelitian mengungkap adanya materi itu, ada pula yang mengungkapnya tidak ada.

Secara definisi, materi gelap merupakan sesuatu yang tidak dapat dideteksi lewat radiasi apapun, tetapi kehadirannya bisa diketahui lewat efek gravitasinya yang tampak pada bintang dan galaksi.

Berdasarkan laporan di The Astrophysical Journal yang dipublikasikan Mei lalui, para ilmuwan berusaha mengungkapkannya. Mereka juga melakukan pemetaan alam semesta antara galaksi Bima Sakti dengan tetangganya, Andromeda, lewat kecerdasan buatan (AI).

“Karena materi gelap mendominasi dinamika alam semesta, pada dasarnya menentukan nasibnya bekerja,” kata Donghui Jeong, salah satu penulis laporan dari Pennsylvania State University.

“Jadi kita bisa meminta komputer untuk mengembangkan peta selama miliaran tahun untuk melihat apa yang akan terjadi di alam semesta lokal. Dan kita dapat mengembangkan model kembali ke masa lalu untuk memahami sejarah lingkungan kosmik kita," tambahnya dalam rilis.

Peta itu dinilai dapat mendeteksi struktur tersembunyi yang menghubungkan kedua galaksi itu, yang membuktikan keberadaan materi gelap. Sehingga, dapat membantu para ilmuwan membuat model tabrakan antara Bima Sakti dan Andromeda di masa depan.

Para ilmuwan sebelumnya memprediksi tabrakan kedua galaksi ini akan terjadi pada 4,5 miliar tahun mendatang. Peta itu memetakan filamen materi gelap yang menjembataninya yang mempengaruhi saling mendekatnya kedua galaksi


Selain itu, diyakini peta yang dibuat dengan machine learning ini dapat menjelaskan lebih banyak pengaruh materi gelap dalam evolusi alam semesta.

Peta itu dibuat lewat kumpulan data pengujian, lalu AI diuji untuk membuat keputusannya sendiri terkait klasifikasi. Model data itu berupa rangkaian besar simulasi galaksi yang disebut IlustrisTNG yang mencakup galaksi, gas, materi yang nampak, maupun materi gelap itu sendiri.

Para ilmuwan secara khusus memilih galaksi simulasi yang sebanding dengan Bima Sakti. Dan akhirnya, dapat mengidentifikasi sifat galaksi mana yang diperlukan untuk memprediksi distribusi materi gelap.

Setelah model siap untuk mulai mengkalsifikasikan informasinya sendiri, para peneliti menunjukkan data kehidupan nyata dari katalog galaksi Cosmicflows-3. Hasilnya mencakup pergerakkan dan gistribusi 17.00 galaksi dalam 200 megaparsec Bima Sakti.

Satu parsec atau satuan itu setara dengan sekitar 3,26 tahun cahaya, yakni 19,2 triliun mil, atau 30,9 kilometer. Peta itu bisa dilihat di dalam laporan yang para ilmuwan buat.

“Ketika diberikan informasi tertentu, model itu pada dasarnya dapat mengisi kekosongan berdasarkan apa yang telah dilihatnya sebelumnya,” Jeong berpendapat.

“Peta dari model kami tidak sepenuhnya sesuai dengan data simulasi, tapi kami masih dapat merekonstruksi struktur yang sangat detail. Kami menemukan bahwa memasukkan pergerakan galaksi—kecepatan khas radialnya—di samping distribusinya secara drastis meningkatkan kualitas peta dan memungkinkan kami melihat detail ini.”

Peta itu secara menghasilkan struktur terkemuka yang telah diketahui dari data yang dimasukan terkait alam semesta loka, termasuk 'lembaran lokal'. 'Lembaran lokal' yang dimaksud para ilmuwan adalah wilayah yang berisi Bima Sakti, galaksi-galaksi sekitar dalam klaster lokal, dan ragam galaksi di gugus Virgo.

Ada pula filamen baru berhasil diungkap ilmuwan lewat pemetaan itu. Tim penelitian itu berencana untuk mempelajari lebih lanjut. Termasuk memahami lebih jauh hubungan antara galaksi kita dengan Andromeda yang jaraknya kian mendekat.

"Ironisnya, lebih mudah untuk mempelajari distribusi materi gelap lebih jauh [dari Bumi] karena mencerminkan masa lalu yang sangat jauh, yang jauh lebih kompleks," ujarnya.

“Seiring waktu, karena struktur alam semesta berskala besar telah berkembang, kompleksitas alam semesta telah meningkat, sehingga secara inheren lebih sulit untuk melakukan pengukuran tentang materi gelap secara lokal."

Sementara itu, Jeong bersama timnya berpendapat, petanya akan menjadi lebih akurat setelah James Web Space Telescope milik NASA akan diluncurkan akhir 2021. Sebab teleskop ini dapat memberikan kepada mereka data yang memungkinkan untuk dilihat terkait galaksi yang jauh dan lebih redup.

"Memiliki peta lokal web kosmik membuka babak baru studi kosmologis," kata Jeong. "Kita dapat mempelajari bagaimana distribusi materi gelap berhubungan dengan data emisi lainnya, yang akan membantu kita memahami sifat materi gelap," pungkas Jeong.

 

Menurut sebuah studi baru, planet seukuran Jupiter dapat dicuri atau ditangkap oleh bintang-bintang besar di pembibitan bintang padat. Pembibitan bintang ini adalah tempat berpenduduk padat. Di mana ratusan ribu bintang sering berada di volume ruang angkasa yang sama dengan yang dihuni Matahari kita sendiri. Interaksi kekerasan, di mana bintang-bintang bertukar energi, sering terjadi. Tetapi itu tidak lama. Setelah beberapa juta tahun, kelompok bintang pun menghilang, mengisi Bimasakti dengan lebih banyak bintang.

Studi tersebut dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters pada 7 September. Makalah tersebut diberi judul Making BEASTies: dynamical formation of planetary systems around massive stars. Dalam laporan dikatakan bahwa eksoplanet menampilkan keragaman yang luar biasa. Mulai dari arsitektur sistem planet di sekitar bintang mirip Matahari yang sangat berbeda dengan Tata Surya kita, hingga planet yang mengorbit bintang pasca deret utama atau sisa-sisa bintang.

Para peneliti dari University of Sheffield telah mengusulkan penjelasan baru untuk planet-planet B-star Exoplanet Abundance STudy (BEAST) yang baru ditemukan. Ini adalah planet mirip Jupiter pada jarak yang jauh (ratusan kali jarak antara Bumi dan Matahari) dari bintang masif.

Sampai saat ini pembentukannya masih menjadi misteri. Sebab, bintang masif memancarkan radiasi ultraviolet dalam jumlah besar yang menghentikan pertumbuhan planet menjadi seukuran Jupiter - planet terbesar di tata surya kita.

“Penelitian kami sebelumnya telah menunjukkan bahwa di pembibitan bintang, bintang dapat mencuri planet dari bintang lain. Atau menangkap apa yang kita sebut planet 'bebas-mengambang’,” kata Dr Emma Daffern-Powell, rekan penulis studi ini, dari Departemen Fisika dan Astronomi Universitas Sheffield. “Kami tahu bahwa bintang masif memiliki pengaruh lebih besar di pembibitan ini daripada bintang mirip Matahari. Kami menemukan bahwa bintang masif ini dapat menangkap atau mencuri planet – kami pun menjulukinya 'BEASTies'.”

"Pada dasarnya, ini adalah pencurian planet. Kami menggunakan simulasi komputer untuk menunjukkan bahwa pencurian atau penangkapan BEASTies ini terjadi rata-rata sekali dalam 10 juta tahun pertama evolusi wilayah pembentuk bintang." Tambahnya.

"Planet-planet BEAST adalah tambahan baru untuk segudang sistem eksoplanet, yang menampilkan keragaman luar biasa, dari sistem planet di sekitar bintang mirip Matahari yang sangat berbeda dengan Tata Surya kita. Dengan planet yang mengorbit bintang berevolusi atau mati.” kata Dr Richard Parker, Dosen Astrofisika di Departemen Fisika dan Astronomi Universitas Sheffield.

Kolaborasi BEAST telah menemukan setidaknya dua planet super-Jupiter yang mengorbit bintang masif. Sementara planet dapat terbentuk di sekitar bintang masif, sulit untuk membayangkan planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus dapat terbentuk di lingkungan yang tidak bersahabat seperti itu. Di mana radiasi dari bintang dapat menguapkan planet sebelum mereka sepenuhnya terbentuk.

"Namun, simulasi kami menunjukkan bahwa planet-planet ini dapat ditangkap atau dicuri, pada orbit yang sangat mirip dengan yang diamati untuk BEASTies. Hasil kami memberikan kepercayaan lebih lanjut pada gagasan bahwa planet pada orbit yang lebih jauh (lebih dari 100 kali jarak dari Bumi ke matahari) mungkin tidak mengorbit bintang induknya." Tutur Parker.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr Richard Parker dan Dr Emma Daffern-Powell di University of Sheffield dan merupakan bagian dari program penelitian yang lebih besar yang bertujuan untuk menetapkan seberapa umum sistem planet seperti kita dalam konteks ribuan sistem planet lainnya. di galaksi Bimasakti.


Lanskap berbukit serta reruntuhan bangunan kuno Isla del Sol, Bolivia, menawarkan pemandangan yang terlihat seperti dari dunia lain. Apalagi ditambah keindahan Danau Titicaca—danau terbesar di Amerika Selatan—yang tampaknya tidak berujung.

Disebut-sebut sebagai tempat kelahiran orang pertama suku Inca, Manco Cápac dan Mama Ocllo, Isla del Sol menarik perhatian para pendaki dan sejarawan dengan peninggalan kuno serta jejak di tepi sungainya. Tidak hanya itu, pulau ini juga memukau bagi para penikmat bintang atau wisatawan yang ingin melarikan diri dari padatnya keseharian.

Bukti bahwa manusia kuno pernah menempati pulau sekitar danau Titicaca ini berasal dari abad ketiga SM. Kekayaan sejarahnya ada di mana-mana, mulai dari situs kuno seperti kuil Pillkukayna hingga jalur berbatu dan berkelok-kelok yang melintasi kota-kota kecil Isla de Sol.


Pulau tersebut memiliki populasi yang kecil—terdiri dari para petani dan nelayan, tapi tidak memiliki jalan raya untuk kendaraan bermotor. Penduduk lokal dan turis, bergerak melalui medan berbukit dengan berjalan kaki. Melewati padang rumput yang berangin sambil menikmati pemandangan biru di atas Danau Titicaca.

Di wilayah yang tenang, burung-burung—termasuk Grebe yang merupakan khas Titicaca—terbang di atas perairan sementara keledai dan ilama bermalas-malasan di dekat garis pantai.

Jika Anda lapar, trucha frita (ikan trout goreng) memenuhi menu restoran Isla del Sol.

Dan seperti namanya, pulau ini terpapar sinar matahari tanpa henti—menghasilkan vegetasi yang beragam dan cahaya cemerlang yang memantulkan Kristal air di sekitarnya.


Tips perjalanan

Untuk sampai di Isla del Sol butuh kerja keras. Memerlukan waktu empat jam menggunakan bus dari La Paz, kota besar terdekat, kemudian harus dilanjutkan lagi dengan naik perahu dari kota Copacabana selama 1,5 jam.

Untuk mendapatkan pengalaman maksimal, sebaiknya Anda menginap di pulau ini. Di sekitar Isla del Sol terdapat beberapa ecolodges yang nyaman dan menyajikan pemandangan spektakuler.

Karena penduduk Isla del Sol dan wilayah sekitarnya tidak berbicara bahasa Inggris, gunakan aplikasi seperti Duolingo untuk memoles bahasa Spanyol Anda sebelum berkunjung ke sana.

Meskipun kerusuhan politik Bolivia baru-baru ini membuat perjalanan ke Isla del Sol tidak direncanakan, tapi saat ketegangan sedikit mereda, pariwisatanya meningkat. Selain itu, wilayah di sekitar Danau Titicaca cukup jauh dari hiruk pikuk dan politik kota besar.
 


 Bagi banyak orang, mimpi dipercaya lebih dari sekadar bunga tidur. Mereka menyakini jika mimpi adalah bagian dari firasat akan suatu peristiwa.

Lalu, apa artinya saat kita memimpikan seseorang dari masa lalu atau teman kantor yang sehari-hari pun jarang berinteraksi? Apakah mimpi menjadi tanda akan terjadinya suatu hal?

Mimpi memang tidak bisa diprediksi

Bahkan mimpi buruk pun bisa jadi hasil dari sesuatu atau seseorang yang ada dalam kehidupan nyata. Ini terjadi karena otak memproses emosi nyata dalam hidup kita, sehingga menghasilkan dunia yang sepenuhnya baru.

Bahkan, berbincang singkat dengan orang asing pun dapat membuat orang tersebut hadir dalam mimpi kita. Menurut pakar kesehatan tidur, Alesandra Woolley, munculnya seseorang dalam mimpi kita bisa saja menandakan bahwa kita sedang banyak menghabiskan waktu dengan dia.

Namun, ini bisa juga terjadi karena ada interaksi yang bermakna dan kesan yang melekat. "Mimpi adalah salah satu cara otak kita memproses emosi, sehingga emosi apa pun yang terkait dengan hubungan atau koneksi individu dapat mengakibatkan mereka muncul dalam mimpi," katanya.

LeslieBeth Wish, psikoterapis klinis berlisensi, mengatakan, kita juga bisa masuk dalam mimpi orang lain meskipun belum melihat atau berbicara dengannya selama bertahun-tahun.

Ini bisa terjadi jika seseorang melihat kita atau foto yang mirip dengan kita, berbicara dengan orang-orang yang mengenal kita, atau melihat karakter dalam buku atau film yang membuat mereka memikirkan kita.

"Dengan kata lain, hal semacam ini jarang terjadi secara kebetulan," kata Wish. Semakin kita terlibat dalam kehidupan seseorang, semakin besar kemungkinan kita berada dalam mimpinya. Ini bukan berarti kita harus benar-benar dekat dengannya.

Mungkin kebetulan kita sering bertemu orang yang sama dengannya di kereta dalam perjalanan ke kantor. Meski tak pernah berkenalan dan ngobrol, tidak mustahil orang itu masuk dalam mimpi kita. Jadi, meski seseorang membuat kesan sekecil apa pun, sesuatu tentang mereka yang memicu minat atau penasaran akan membuatnya muncul dalam mimpi.

Lalu, apa arti semua ini? Tergantung pada orang yang bermimpi tentang kita, dan hubungannya dengan kita. Namun, itu juga bisa berakar pada bagaimana mereka ingin dikaitkan dengan kita.

Misalnya, ada seseorang di tempat kerja yang benar-benar mengagumi kita tetapi tidak mengenal kita dengan baik. Seandainya kita mendapatkan pujian karena prestasi, menurut Woolley, bisa saja kita berada dalam mimpi orang itu karena ia ingin berteman dengan kita.

"Mimpi bisa menjadi simbol keinginan kita untuk bergaul dengan seseorang dan membawa kebanggan yang telah mereka kenali untuk diri kita sendiri," katanya.

Cemburu

Di sisi lain, seseorang bisa bermimpi menjadi musuh kita karena adanya rasa cemburu. Ketika kita muncul dalam mimpi orang lain, misalnya pasangan atau orang yang tertarik pada kita, pengalaman emosional yang tinggi itu biasanya merupakan kekuatan pendorong yang membuat kita hadir dalam mimpi mereka.

"Biasanya, ada alasan yang lebih kuat mengapa kita muncul dalam mimpi seseorang, dan bukan orang lain," ucapnya. Meski orang itu tak memiliki hubungan pribadi dengan diri kita, memiliki ketertarikan yang kuat, hanya mendengar nama kita saja atau melihat orang yang mirip dengan kita akan membuat ia memimpikan kita.

Namun, bisa saja kita menjadi tokoh antagonis dalam mimpi orang lain. Terlepas dari itu, adalah hal yang luar biasa saat orang lain memimpikan kita. Anggap itu sebagai pujian, jangan pernah tersinggung karena ini bukti jika kita adalah orang yang cukup berkesan dalam hidupnya.


Baru-baru ini, para peneliti menemukan bahwa harimau Tasmania telah ada jauh sebelum manusia berburu hewan marsupial dan memecahkan teka-teki kepunahannya.

Temuan yang dipublikasikan pada hari Selasa (12/12/2017) tersebut menunjukkan bahwa harimau ini memiliki kondisi genetik yang buruk selama ribuan tahun sebelum punah.

Para ilmuwan memetakan secara genetik hewan dikenal sebagai thylacine ini menggunakan gen dari sampel seekor anakan yang disimpan selama lebih dari satu abad lalu di dalam toples.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology and Evolution ini mengungkapkan bahwa makhluk tersebut mulai mengalami penurunan keragaman genetik lebih dari 70.000 tahun yang lalu.

Hal itulah yang membuat mereka kurang tahan terhadap perubahan lingkungan

"Harapan kami adalah ada banyak thylacine yang bisa memberi tahu tentang basis genetik dari kepunahan mereka untuk membantu spesies lain," kata Andrew Pask, co-author penelitian ini dikutip dari AFP, Selasa (12/12/2017).

Pask juga menambahkan bahwa penelitian ini membuka peluang para ilmuwan mengkloning harimau Tasmania dan membawanya kembali dari kepunahan.

"Karena genom ini adalah salah satu spesies yang paling lengkap untuk spesies yang sudah punah, secara teknis ini merupakan langkah pertama untuk \'membawa thylacine kembali\', tapi kita masih jauh dari kemungkinan itu," sambungnya.

Harimau Tasmania sendiri pernah tersebar luas di seluruh Australia. Sayangnya, hewan ini telah hilang dari daratan sekitar 3.000 tahun lalu.

Kemungkinan besar, hal itu disebabkan oleh kekeringan. Mereka sebelumnya dapat bertahan di negara bagian Tasmania selatan hingga 1936.

Harimau Tasmania terakhir diketahui mati di penangkaran Kebun Binatang Hobart.

Para ilmuwan menemukan, genetika hewan tersebut lebih dekat dengan sesama marsupial Australia, Tasmanian devil (Sarcophilus harrisii), dibandingkan dingo (anjing asli Australia) yang berbagi ciri fisik yang mirip.

Harimau Tasmania. (Tasmanian Museum and Art Gallery)
Kemiripan fisik dua hewan tersebut adalah contoh terbaik dari apa yang oleh para ilmuwan disebut "evolusi konvergen". Artinya, kedua hewan yang berhubungan jauh tersebut berevolusi untuk terlihat serupa dengan beradaptasi pada lingkungan yang sama.

Dalam kasus harimau Tasmania dan dingo, kepala dan tubuh mereka berkembang dengan cara yang sama karena teknik berburu mereka. Oleh karena itu, harimau Tasmania sering kali dikenal sebagai anjing karena penyimpangan genetis pada 160 juta tahun lalu.

"Ketika kita melihat dasar evolusi konvergen ini, kami menemukan bahwa sebenarnya bukan gen itu sendiri yang menghasilkan tengkorak dan bentuk tubuh yang sama, namun daerah kontrol di sekitar mereka yang \'menghidupkan dan mematikan\' gen pada tahap berbeda dalam pertumbuhan," ujar Pask.

"Ini mengungkapkan keseluruhan pemahaman baru tentang proses evolusi. Sekarang kita dapat mengetahui genom ini untuk membantu memahami bagaimana dua spesies berkumpul pada tampilan yang sama, dan bagaimana proses evolusi bekerja," tutupnya.


Sejarah invasi pasukan Romawi di muka bumi ini sudah diakui banyak bangsa. Namun, belum banyak yang mengetahui bahwa Julius Ceaser dan pasukannya pernah merambah tanah Inggris Raya.

Sejarah mencatat bahwa 800 kapal pasukan Romawi pernah mendarat di Inggris sekitar abad 55 SM. Invasi pertama yang dipimpin langsung Julius Cesar, Cicero dan Tacits tersebut sempat dipertanyakan di kalangan ilmuwan karena belum menemukan bukti otentik peninggalan perang atau sisa-sisa barak prajurit.

Namun, kini para ilmuwan di Inggris bisa menaruh harapan baru atas pencarian jejak Sang Kaisar Julius Cesar di Inggris.

Dikutip dari Telegraph, Selasa (29/11/2017) sebuah situs mirip pertahanan prajurit Romawi ditemukan di tengah pembangunan proyek jalan di Kent.

Sejumlah arkeolog dari Universitas di Leicester dan Pemerintah Daerah Kent segera mendatangi Dusun Ebbsfllet dimana lokasi penemuan berada.

Temuan di wilayah Isle of Thanet tersebut berupa parit yang desainnya mirip pertahanan Romawi di Alésia, Prancis, lokasi pertempuran dalam Perang Galia pada abad 52 SM. Selain itu, arkeolog juga menemukan senjata tajam berupa tombak.

Hal lain yang ditemukan arkeolog di lokasi tersebut adalah topografinya. Teluk Pegwell adalah satu-satunya teluk di sekitar lokasi yang mampu menampung armada kapal yang begitu besar, ciri dari kapal perang pasukan Romawi. Lokasi seperti itu merupakan favorit dari Julius Cesar yang dikenal sebagai ahli strategi perang. 

"Caesar menggambarkan bagaimana kapal-kapal itu berlabuh di sebuah pantai terbuka dan rusak karena diterjang badai besar. Deskripsi ini konsisten dengan Teluk Pegwell yang terbuka dan rata, dan kini merupakan teluk terbesar di pantai timur Kota Kent," kata Dr Andrew Fitzpatrick, seorang peneliti dari University of Leicester.

Saking besarnya, Fitzpatrick tidak meragukan bila teluk tersebut mampu menampung 800 kapal berisi tentara Romawi yang mendarat dalam satu hari.

"Caesar juga menjelaskan bagaimana prajurit Inggris berkumpul untuk menyerang pasukan Romawi saat mendarat, tetapi terkejut dengan jumlah pasukan Romawi dan akhirnya memilih bersembunyi di tempat yang lebih tinggi. Lokasi ini sesuai dengan gambaran lokasi dataran tinggi di Isle of Thanet di sekitar Ramsgate," kata Fitzpatrick.

Pada abad pertengahan, Thanet belum pernah dianggap sebagai lokasi pendaratan tentara Romawi, karena lokasinya yang jauh dari daratan. Justru sebagian besar sejarawan berspekulasi bahwa pendaratan terjadi di Deal, yang terletak di sebelah selatan Teluk Pegwell.

Sementara itu, situs parit pertahanan di Ebbsfleet memiliki kedalaman sekitar 2 meter dan lebar sekitar 4-5 meter dan penanggalan menunjukkan bhawa parit dibuat pada sekitar abad ke 1 SM.

Bukti baru ini menjawab sejumlah pertanyaan para ilmuwan terkait sepak terjang Julius Caesar. Salah satunya, apakah invasi Romawi di Inggris gagal?

"Tampaknya perjanjian yang dibentuk oleh Caesar menjadi dasar bagi aliansi antara keluarga kerajaan Roma dan Inggris. Ini akhirnya mengakibatkan penguasa terkemuka Inggris tenggara menjadi klien Roma," kata Profesor Colin Haselgrove dari Universitas Leicester.

Dia melanjutkan, hampir 100 tahun setelah Caesar, pada tahun 43, Kaisar Claudius menyerang Inggris. Penaklukan Inggris Tenggara terjadi dengan sangat cepat, kemungkinan karena raja-raja di wilayah tersebut sudah bersekutu dengan Roma.

Setelah kejadian itu, Haselgrove berkata bahwa penjajahan Romawi secara permanen di Inggris dimulai, dan invasi merembet ke Wales dan beberapa daerah di Skotlandia selama hampir 400 tahun.

Invasi tersebut menjadi bukti sikap Claudius yang terus mengeksploitasi warisan Caesar.


Baru-baru ini, para ilmuwan menggunakan teknologi baru untuk mengetahui cara makan yang dimiliki oleh beberapa hiu.

Seperti yang diketahui, hiu tidak memiliki lidah untuk membantu mereka menelan makanan. Namun, penemuan baru mengungkapkan bahwa hiu mengangkat kedua bahu
—bagian atas sirip dada
mereka untuk memasukkan mangsa ke dalam perut.

Perilaku tersebut ditemukan pertama kali oleh para ilmuwan yang menggunakan gambar sinar-X yang mutakhir. Gambar tersebut menunjukkan bahwa hiu bambu mengayunkan bahu ke dalam saat mereka makan.

Dengan menarik sabuk-sabuk pektoral—kumpulan tulang pada rangka apendikular yang menyokong alat gerak atas—mereka, hiu bambu melakukan sebuah isapan untuk menarik makanan melalui bagian belakang mulut, yang selanjutnya akan diteruskan ke saluran pencernaan.

Penemuan ini disampaikan oleh Ariel Camp, peneliti dari Brown University dan penulis utama studi tersebut—yang dipublikasikan dalam Proceedings B, sebuah jurnal Royal Society.

Artikel terkait: Gemar Makan Rumput, Hiu Ini Buat Ilmuwan Kebingungan

Hiu bambu adalah penghuni terumbu karang yang dapat ditemukan di seluruh Samudera Hindia. Hiu ini berukuran kecil—dengan panjang antara 24 dan 37 inci—dan sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mencari mangsa.

Teknik makan dengan mengisap digunakan oleh banyak hiu dan ikan lainnya untuk melahap mangsa. Dengan menggunakan otot di dalam tubuh, hiu bambu membuka mulut lebar-lebar dan melahap mangsa dengan mengisapnya.

Meskipun hiu menggunakan sirip dada mereka untuk berenang dan memposisikan diri di atas mangsa, fungsi sabuk pektoral masih saja dipertanyakan.

Pada ikan bersirip, seperti ikan lele, sabuk pektoral melekat pada tengkorak dan ditarik saat pengisapan terjadi.

Namun, dalam hiu, sabuk pektoral terpisah dari rahang dan bagian kepala lainnya. Para ilmuwan pun penasaran dan menyelidiki lebih jauh, apa fungsi sabuk pektoral saat hiu sedang makan.

“Kami menyebutnya sebagai ‘lidah hidrodinamik’, yang mampu mengendalikan gerak cairan di dalam mulut untuk memanipulasi makanan,” tambahnya.

Hal ini bermakna bahwa hiu bambu menggunakan bahu mereka untuk mengambil makanan dan menggunakan sirip paling depan sebagai penggerak.

Meneliti hiu

Untuk mengamati perilaku ini, Camp dan dan rekan-rekannya dari Brown University, University of Alaska di Anchorage, dan University of Illinois menggunakan teknologi X-ray Reconstruction of Moving Morphology (XROMM).

Teknologi ini digunakan untuk mengamati bagaimana tiga hiu bambu berbintik putih itu memakan potongan cumi dan haring—ikan kecil di laut lepas yang menjadi makanan para predator besar.

Sistem ini menggabungkan CT scan kerangka hiu berkecepatan tinggi dengan gambar X-ray beresolusi tinggi. Dibantu dengan spidol logam implan yang kecil, diharapkan visualisasi tiga dimensi mengenai gerakan tulang otot hewan dan manusia dapat tergambarkan dengan tepat.

Menurut Camp, animasi XROMM sangat penting dalam penelitian ini, mengingat studi sebelumnya yang belum berhasil mengidentifikasi fungsi sabuk pektoral. “XROMM memungkinkan kita untuk benar-benar mengetahui bagaimana kinerja sabuk pektoral pada hiu ini,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Camp, teknologi baru ini memungkinkan para peneliti untuk mengukur “ayunan mengejutkan” di bahu ketiga hiu saat memakan mangsa. Hanya sepersekian detik setelah mulut tertutup, tulang rawan berputar cepat ke belakang (dari kepala ke ekor) sekitar 11 derajat.

“Yang pasti, penulis membuat kasus yang kuat mengenai dualitas sabuk pektoral pada spesies ini,” kata Phillip Motta, profesor biologi di University of South Florida yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Namun, kita masih belum tahu bagaimana makanan masuk ke kerongkongan dan turun ke pencernaan”, tambahnya.

Menurut Motta, pada pemakan dengan teknik isap seperti hiu bambu dan hiu perawat, sebenarnya makanan telah masuk ke dalam mulut saat mulut terbuka lebar.

Pendapat ini bertentangan dengan penelitian baru yang beranggapan bahwa hiu bambu menggerakkan sabuk pektoral mereka untuk membantu memindahkan makanan dari mulut ke kerongkongan.

Motta menambahkan, tidak ada bukti yang jelas bahwa gerakan sabuk tersebut membantu hiu “mengisap” makanan mereka.

Meskipun hiu bambu adalah satu-satunya spesies yang diamati selama penelitian ini, tidak menutup kemungkinan bahwa hiu pengisap lainnya juga menggerakkan bahu mereka dengan cara ini.

Penelitian baru ini juga dapat menjelaskan bagaimana sabuk pektoral berevolusi pada ikan hiu dan ikan lainnya dari waktu ke waktu.

Camp mengatakan, sabuk tersebut muncul dalam rekaman fosil pada waktu rahang ikan berevolusi, meskipun para ilmuwan sendiri tidak yakin dengan perubahan yang terjadi.

Mempelajari sabuk pektoral pada hewan hidup dapat membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana sabuk tersebut berfungsi dan berevolusi pada ikan yang telah dan sedang punah.

Para peneliti juga dapat memahami bagaimana struktur kerangka ikan yang berevolusi dapat membantu menjelaskan kemampuan hewan tersebut dalam mencapai tanah.

Kami berharap, penelitian ini dapat mendorong peneliti lain untuk memeriksa kembali struktur dan evolusi sabuk pektoral dari perspektif baru," kata Camp.

Camp menambahkan, pengamatan gerakan sabuk pektoral pada hiu bambu hanyalah langkah awal. Masih banyak tugas bagi para peneliti untuk memahami gerakan sabuk tersebut pada hiu dan ikan lainnya.

Tak semua dinosaurus bertelur. Ada juga yang beranak. Penemuan fosil reptil pemakan ikan yang hidup 245 juta tahun lalu, Dinocephalosaurus, memberikan petunjuk.

Fosil hewan ini ditemukan mengandung embrio. Menganalisis ciri-ciri embrio, ilmuwan menyimpulkan, hewan dengan panjang sekitar 4 meter itu berkembang biak dengan melahirkan.

Menurut tim peneliti dari China, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, hewan yang merupakan nenek moyang burung dan buaya itu adalah vertebrata pertama kelompok Archosauromorpha yang melahirkan.

"Penemuan kami membuktikan, tak ada alasan fundamental kelompok Archosauromorpha tak bisa bereproduksi dengan melahirkan," imbuh Mike Benton, peneliti dari Universitas Bristol, Inggris, yang melakukan riset.

Fosil embrio ditemukan dalam posisi meringkuk. Ciri utama embrio yang menunjukkan bahwa Dinocephalosaurus beranak adalah tidak adanya cangkang telur di sekitar fosil embrio.

Dinocephalosaurus hidup di Laut China Selatan selama periode Triassic pertengahan atau sekitar 50 juta tahun lalu.

Kemampuannya melahirkan anak merupakan sebuah keuntungan bagi Dinocephalosaurus. Golongan hewan itu bisa tetap di habitat aslinya, lautan, saat bertelur. Tak perlu ke daratan.

"Menyenangkan bisa menjumpai kemajuan dalam memahami evolusi lewat fosil dari China ini," demikian seperti dikutip Science Alert, Kamis (16/2/2017). Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communication minggu lalu.




 


Para astronom di MIT dan di tempat lain telah menemukan sistem multiplanet baru dalam lingkungan galaksi kita yang hanya terletak 10 parsec, atau sekitar 33 tahun cahaya dari Bumi, menjadikannya salah satu sistem multiplanet terdekat yang diketahui hingga kini.

Di jantung sistem terletak satu bintang M-Dwarf kecil dan keren, bernama HD 260655, dan para astronom telah menemukan bahwa ia menampung setidaknya dua planet terestrial, seukuran Bumi. Dunia berbatu tersebut kemungkinan tidak dapat dihuni, karena orbitnya relatif ketat, memaparkan planet-planet pada suhu yang terlalu tinggi untuk menopang air permukaan cair.

Namun demikian, para ilmuwan bersemangat tentang sistem ini karena kedekatan dan kecerahan bintangnya akan memberi mereka pandangan lebih dekat pada sifat-sifat planet dan tanda-tanda atmosfer apa pun yang mungkin mereka miliki.

"Kedua planet dalam sistem ini masing-masing dipertimbangkan di antara target terbaik untuk studi atmosfer karena kecerahan bintang mereka," kata Michelle Kunimoto, postdoc di MIT's Kavli Institute for Astrophysics and Space Research dan salah satu ilmuwan utama Discovery. "Apakah ada atmosfer kaya volatile di sekitar planet-planet ini? Dan apakah ada tanda-tanda air atau spesies berbasis karbon? Planet-planet ini adalah uji dasar yang fantastis untuk eksplorasi tersebut," imbuhnya.

Sistem planet baru ini, akan dipublikasikan dalam jurnal Earth and Planetary Astrophysics yang mana hasil kajiannya dapat Anda baca di database arXiv yang telah diperbarui pada 13 Juni dengan judul "The HD 260655 system: Two rocky worlds transiting a bright M dwarf at 10 pc".

Sistem ini awalnya diidentifikasi oleh satelit Survei Exoplanet Transiting NASA (Tess), misi yang dipimpin MIT yang dirancang untuk mengamati bintang-bintang terdekat dan paling terang, dan mendeteksi penurunan periodik dalam cahaya yang dapat menandakan planet yang lewat.

Pada Oktober 2021, Kunimoto, anggota tim Tess Science MIT, sedang memantau data yang masuk satelit ketika dia melihat sepasang penurunan berkala di Starlight, atau transit, dari Bintang HD 260655.

Dia lalu menjalankan deteksi melalui pipa inspeksi sains misi, dan sinyal segera diklasifikasikan sebagai dua objek menarik, atau tois—objek yang ditandai sebagai planet potensial. Sinyal yang sama juga ditemukan secara independen oleh Pusat Operasi Pemrosesan Sains (SPOC), pipa pencarian Planet Tess resmi yang berbasis di NASA Ames. Para ilmuwan biasanya berencana untuk menindaklanjuti dengan teleskop lain untuk mengonfirmasi bahwa benda-benda itu memang sebuah planet.

Proses mengklasifikasikan dan kemudian mengonfirmasi planet baru sering kali memakan waktu beberapa tahun. Untuk HD 260655, proses itu dipersingkat secara signifikan dengan bantuan data arsip.

Segera setelah Kunimoto mengidentifikasi dua planet potensial di sekitar HD 260655, Shporer melihat apakah bintang itu diamati sebelumnya oleh teleskop lainnya. Seperti keberuntungan, HD 260655 terdaftar dalam survei bintang yang diambil oleh spektrometer Echelle Resolution (HIRES), sebuah instrumen yang beroperasi sebagai bagian dari Keck Observatory di Hawaii. Hires telah memantau bintang, bersama dengan sejumlah bintang lain sejak 1998, dan para peneliti dapat mengakses data survei yang tersedia untuk umum.

Untuk mengonfirmasi bahwa sinyal dari Tess memang dari dua planet yang mengorbit, para peneliti melihat melalui data perekrutan dan Carmenes dari bintang tersebut. Kedua survei mengukur goyangan gravitasi bintang, yang juga dikenal sebagai kecepatan radialnya.

"Setiap planet yang mengorbit bintang akan memiliki sedikit tarikan gravitasi pada bintangnya," Kunimoto menjelaskan, seperti yang dilaporkan Tech Explorist. "Yang kami cari adalah sedikit gerakan bintang yang bisa menunjukkan objek massa planet menariknya."

Tim kemudian melihat lebih dekat pada data Tess untuk menentukan sifat-sifat kedua planet, termasuk periode dan ukuran orbital mereka. Mereka menemukan bahwa planet bagian dalam, dijuluki HD 260655b, mengorbit bintang setiap 2,8 hari dan sekitar 1,2 kali lebih besar dari bumi. Planet Luar Kedua, HD 260655c, mengorbit setiap 5,7 hari dan 1,5 kali lebih besar dari Bumi.

Para peneliti juga memperkirakan, berdasarkan orbit pendeknya, bahwa suhu permukaan planet bagian dalam adalah 436,6 derajat Celcius, sedangkan planet luar sekitar 286,6 Celcius.

"Kami menganggap rentang itu di luar zona layak huni, terlalu panas agar air cair ada di permukaannya," ujar Kunimoto.

"Tapi mungkin ada lebih banyak planet dalam sistem," tambah Shporer. "Ada banyak sistem multiplanet yang menampung lima atau enam planet, terutama di sekitar bintang-bintang kecil seperti ini. Semoga kita akan menemukan lebih banyak, dan mungkin saja berada di zona layak huni. Pemikiran yang optimis," pungkasnya.