Showing posts with label dinosaurus. Show all posts
Showing posts with label dinosaurus. Show all posts

Jejak empat bangunan yang berasal dari abad keempat belas hingga ketujuh belas ditemukan selama berlangsungnya proyek perbaikan jalan di Skotlandia selatan. Bangunan-bangunan rumah tersebut merupakan bagian dari permukiman sebuah desa yang diubah menjadi taman pada abad kedelapan belas oleh Duke of Hamilton.

The Scotsman memberitakan, bekas empat bangunan itu ditemukan di dekat area Netherton Cross dekat Bothwell, North Lanarkshire, Skotlandia. Tembikar, pecahan panci dan mangkuk masak, pipa tembakau dari tanah liat, potongan mainan, dan bukti pengerjaan logam yang didapatkan dari situs tersebut menjadikan temuan ini sebagai penemuan yang "luar biasa".

Di tingkat fondasi salah satu bangunannya, tim peneliti menemukan lingkaran poros, batu asahan, dua koin abad ketujuh belas, dan belati besi. Belati yang dibuat di Zaman Besi itu diyakini disimpan sebagai bagian dari ritual untuk melindungi struktur bangunan dan penghuninya dari bahaya, menurut Dr. Natasha Ferguson, arkeolog dari Guard Archaeology, seperti dilansir Archaeology magazie.

Natasha Ferguson yang menulis laporan penemuan tersebut mengatakan, “Kualitas khusus atau jimat dari belati ini sebagai objek pelindung mungkin telah meningkatkan tindakan ritual untuk melindungi rumah tangga dari bahaya duniawi dan magis."

"Penempatan benda-benda ini di bawah lantai dasar salah satu rumah mungkin dimaksudkan untuk menegaskan ruang ini sebagai tempat aman bagi mereka dan generasi yang akan datang," beber Ferguson, seperti diberitakan The Scotsman.


Praktik meninggalkan benda-benda khusus di bangunan abad pertengahan dan pasca abad pertengahan telah banyak terdokumentasikan dengan baik. Terkait praktik tersebut, diyakini bahwa ritual semacam itu akan melindungi bangunan dan penghuninya. Laporan tersebut menemukan bahwa objek-objek yang "sengaja dipilih" itu memang telah sengaja ditempatkan di properti tersebut.

Dipercaya bahwa lingkaran spindel, percahan mainan, dan batu asahan mungkin mewakili hubungan personal dengan seorang individu, aktivitas, atau tempat yang akan membuatnya istimewa bagi penghuninya.

Laporan itu menambahkan, "Potensi keunikan belati sebagai benda prasejarah ini mungkin memberikan kualitas keanehan. Penggunaan kembali benda-benda prasejarah sebagai pengendapan dalam pengaturan abad pertengahan telah dicatat dalam penggalian gereja-gereja abad pertengahan di Inggris, dan panah batu secara tradisional diidentifikasi sebagai 'elf-bolts' dan lama dikenal karena sifat magis jahat mereka."

Dr. Gemma Cruickshanks, dari Museum Nasional Skotlandia mengatakan tampaknya belati itu tertutup sarung pada saat dikuburkan.

“Itu mungkin utuh dan masih bisa digunakan pada saat itu. Bentuk belati ini tidak bisa dibedakan dari contoh-contoh Zaman Besi, menandakan bentuk belati yang sederhana ini memiliki sejarah yang sangat panjang,” ujar Cruickshanks.

Bukti peleburan besi, pemurnian, dan kemungkinan praktik pandai besi juga ditemukan, bersama dengan bekas kegiatan pemilihan paku di situs tersebut.

Permukiman tempat berdirinya empat bangunan itu berada dekat dengan Netherton Cross abad ke-10, patung salib simbol kekristenan di Hamilton. Di area ini sekarang berdiri Gereja Paroki Tua Hamilton (Hamilton Old Parish Church).

Area Netherton Cross itu berjarak sekitar 1 kilometer dari Jembatan Bothwell, tempat pertempuran tahun 1679 yang mengakhiri pemberontakan Covenanter di Skotlandia.

“Sangat mungkin masyarakat terkena dampak konflik, baik yang menderita kerusakan harta benda atau sebagai saksi jalur pasukan Covenanter,” kata laporan itu.

Wilayah pinggiran atau desar Netherton lenyap pada abad ke-18 karena adanya perbaikan pada perkebunan oleh Duke of Hamilton, dengan taman yang tertata rapi dan simetris dibangun sebagai gantinya. Jalan raya kemudian juga dibangun di sekitar wilayah tersebut. Pembangunan jalan raya ini menggusur bangunan-bangunan lama desa dengan empat bangunan batu tua yang ditemukan itu sebagai jejak terakhir permukiman tersebut.

Spesies kuno yang dikenal dengan nama Habelia optata, diduga hidup pada pertengahan masa Kambrium, sekitar 508 juta tahun yang lalu.

Ia hadir ketika ‘ledakan Kambria’ terjadi – sebuah periode dalam sejarah Bumi ketika para leluhur hewan yang kita kenal sekarang, muncul untuk pertama kalinya.

Habeliasendiri memiliki beberapa karakteristik yang ditemukan pada hewan moderen, seperti tubuh yang tersegmentasi dan kerangka luar seperti lobster dan serangga. Namun, para ilmuwan belum yakin dari keluarga evolusioner mana ia berasal.

Meskipun begitu, sebuah studi yang menganalisis 41 spesimen fosil, menemukan fakta bahwa makhluk kuno ini berkaitan dengan nenek moyang dari chelicerates – kelompok spesies meliputi laba-laba dan kalajengking.

“Habelia menunjukkan arsitektur tubuh yang sangat detail seperti pada chelicerates,”  kata dr. Cedric Aria, ahli paleontologist di University of Toronto yang menjadi pemimpin penelitian ini.

Selain itu, alasan mengapa Habelia dikaitkan dengan chelicerates adalah dari bentuk mulutnya.

Chelicerates mendapatkan namanya dari “chelicerae”, semacam penjepit tambahan di mulut yang digunakan laba-laba dan kalajengking untuk memotong mangsa mereka.

Sebagai tambahan, Habelia memiliki semua persenjataan di kepala. Ditambah dengan kaki yang berkembang sempurna untuk berjalan, para peneliti menyimpulkan bahwa hewan ini termasuk ‘pemburu’ di dasar laut.

Secara spesifik, dr. Aria mengatakan, Habelia menggunakan rahang mereka yang menakutkan untuk menyerang trilobita (kelompok hewan prasejarah yang memiliki kulit luar nan keras).

“Dengan bentuk mulut dan rahang seperti itu, membuat Habelia dapat merobek mangsanya dengan cepat dan efektif. Ini menjadikan ia salah satu predator,” kata dr. Aria.

Sven Sachs, paleontolog dari Museum Sejarah Alam Bielefeld Jerman sedang berada di Museum Lower Saxony State di Hannover, Jerman, untuk mempelajari reptil laut purba. Tanpa sengaja, perhatiannya tertuju pada salah satu fosil Ichthyosaurus.

Meski label nama spesies tersebut sudah tercantum, tetapi Sachs masih curiga jika fosil yang dia perhatikan merupakan spesies baru dari genus Ichthyosaurus. Ichthyosaurus sendiri merupakan sejenis reptil laut yang umumnya dianggap sebagai dinosaurus perenang.

"(Fosil) itu sangat luar biasa. Lebih besar dari spesies manapun yang pernah saya teliti," katanya seperti dikutip Science Alert, Sabtu (26/8/2017).

Fosil tersebut ditemukan pada pertengahan tahun 1990-an di Somerset Inggris. Namun, semenjak ditemukan, fosil tersebut tidak dipelajari dan langsung dipajang di museum.

Sachs pun segera meminta pendapat dari koleganya yang memang mempelajari Ichthyosaurus, Dean Lomax dari Universitas Manchester. Pada awal 2017 mereka mulai memeriksa spesimen itu bersama-sama-sama, dan ternyata dugaan itu benar. Mereka mendapati jika fosil tersebut merupakan kerabat baru dari genus Ichthyosaurus yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu.

Fosil yang pada akhirnya diberi nama Ichthyosaurus somersetensis ini memiliki ukuran tubuh 3-3,5 meter, menjadikannya sebagai spesies terbesar dari jenisnya. Dia juga lebih pantas disebut dengan "Naga Laut" karena memiliki tubuh yang panjang, fleksibel, serta mampu berenang layaknya belut.

Ichthyosaurus somersetensis juga diketahui sedang mengandung embrio berukuran tujuh sentimeter saat mati. Analisis mengungkapkan adanya embrio yang tidak lengkap tersimpan dalam tubuh fosil betina tersebut, termasuk sebagian tulang belakang, tulang rusuk, dan beberapa tulang lainnya.

"Jarang ada embrio yang terawetkan," kata Sachs. Inilah mengapa penemuan tersebut menjadi penting bagi ilmu pengetahuan, karena menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

Namun, sayang pihak museum melakukan kesalahan mengidentifikasi spesies tersebut. Faktor yang mengaburkan silsilah spesimen ini ternyata bermula dari kesalahan penamaan dari pihak museum.

Pihak museum menambahkan ekor palsu pada fosil Ichthyosaurus somersetensis dengan ekor dari Ichthyosaurus lain untuk membantu melengkapi barang pameran periode Jura dan memberikan sisi estetis pada koleksi pameran.

"Dalam jangka panjang ini akan berbahaya bagi pemahaman ilmiah. Bagian palsu yang tidak terdeteksi ini akan menghasilkan informasi palsu," imbuh Sachs. Untungnya dalam kasus ini, kesalahan itu segera terungkap.

 


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.


Penjelajah Italia abad ke-13, Marco Polo, mungkin adalah orang Eropa Barat pertama yang meninggalkan catatan terperinci tentang perjalanannya ke Asia. Namun, ia jelas bukan orang pertama yang melakukan perjalanan itu.

"Sejarawan Tiongkok mencatat kunjungan sebelumnya oleh orang-orang yang dianggap sebagai utusan dari Kekaisaran Romawi, yang terjadi selama abad kedua dan ketiga M," tulis Sarah Pruitt kepada History.

Sarah Pruitt menulis artikel yang berjudul Greeks May Have Influenced China’s Terra Cotta Army diterbitkan oleh History pada 17 Oktober 2016.

Pada abad ketiga, selama dinasti Han, muncul pembentukan resmi jalur perdagangan Jalur Sutra, jaringan perdagangan perhentian karavan dan pos perdagangan yang menghubungkan Tiongkok dengan dunia Barat (Eropa).

Menurut para arkeolog dan sejarawan yang sekarang bekerja di Tentara Terakota Tiongkok yang sohor, diperkirakan bahwa kontak antara Timur dan Barat mungkin telah dimulai jauh lebih awal.

"Mereka percaya penampilan patung-patung itu (pasukan terakota Tiongkok) mungkin telah terilhami atau meniru patung-patung Yunani kuno," imbuhnya.

Hal itu menunjukkan adanya pengaruh Barat di era kaisar pertama China, sekitar 1.500 tahun sebelum pelayaran terkenal Marco Polo berlalu.

Kaisar Qin Shi Huang, pendiri dinasti Qin, naik takhta pada 246 SM pada usia 13 tahun. Selama 25 tahun berikutnya, ia menyatukan sejumlah kerajaan yang bertikai dan menerapkan kebijakan stabilisasi, termasuk standarisasi koin, timbangan dan langkah-langkah dan pembangunan jalan dan kanal.

Qin juga melakukan berbagai proyek pembangunan ambisius selama masa pemerintahannya, termasuk versi paling awal dari Tembok Besar Tiongkok, yang dibangun di sepanjang perbatasan utara kekaisarannya untuk melindungi dari invasi barbar, serta mausoleumnya sendiri.

"Menurut tulisan sejarawan istana kuno di Tiongkok, Siam Qian, Qin memerintahkan pembangunan kompleks makam dimulai pada awal masa pemerintahannya," jelasnya.

Lebih dari 700.000 pekerja, bekerja untuk membangunnya selama tiga dekade, dan proyek tersebut tampaknya tidak terselesaikan setelah kematian kaisar pada 209 SM.

Kemudian, di tahun 1974, seorang petani ketakutan karena tersandung pasukan terakota, di mana ia melihat wajah manusia dari tembikar muncul di antara sayuran di ladangnya.

Para arkeolog akhirnya menemukan sekitar 8.000 patung dari lubang di Xi'an, semuanya dibangun untuk mengawal Kaisar Qin ke alam baka dan menjaga tempat peristirahatan terakhirnya.


Sosok prajurit seukuran aslinya termasuk kereta, senjata dan kuda, dan dipahat dengan detail yang mengesankan, sampai ke gaya rambut mereka dan lencana di baju besi mereka.

Sebelum pemerintahan Qin, Tiongkok tidak pernah memiliki tradisi membuat patung seukuran manusia aslinya. Meskipun banyak pasukan terakota terkubur lainnya telah ditemukan, yang sebelumnya ditemukan jauh lebih kecil, hanya berukuran kurang dari 10 inci.

Menurut Li Xiuzhen, seorang arkeolog senior di situs Tentara Terakota, perbedaan skala dan gaya yang signifikan ini kemungkinan terjadi ketika pengaruh Barat tiba di Tiongkok dari tempat lain —khususnya, dari Yunani kuno.

Adanya kekerabatan antara Tiongkok dengan orang-orang Yunani Kuno semakin memungkinkan adanya pembuatan patung. Terlebih lagi, seniman Yunani bahkan mungkin telah berada di Tiongkok untuk membimbing orang-orang Tiongkok teknik pembuatan patung.


Belajar dari cerita film Netflix popular terbaru berjudul “Don’t Look Up” yang seolah mengajarkan kepada kita semua tentang pentingnya meningkatkan kesadaran publik akan potensi efek  bencana dari dampak asteroid ke planet Bumi, penelitian baru ini berusaha menjelaskan bagaimana dampak Chicxulub 66 juta tahun yang lalu mengakibatkan kepunahan 75 persen hewan di Bumi, termasuk dinosaurus.

Sebuah asteroid besar, yang memiliki diameter kira-kira 10 kilometer ini, menghantam semenanjung Yucatán utara Meksiko, dampaknya mengeluarkan material yang kira-kira setara dengan area seukuran Connecticut dan lebih dari dua kali lebih tinggi dari Gunung Everest, sehingga mendistribusikannya ke seluruh dunia.

"Ledakan dan kejatuhan dampak memicu kebakaran yang meluas, bersamaan dengan debu batu, jelaga, dan bahan mudah menguap yang dikeluarkan dari kawah, menghapus matahari secara global dalam dampak musim dingin yang mungkin telah berlangsung bertahun-tahun, dan mengakibatkan kepunahan," kata Christopher Junium, seorang profesor ilmu Bumi dan Lingkungan yang memimpin kelompok penelitian Geobiologi, Astrobiologi, Paleoklimat, Paleoseanografi di Sekolah Tinggi Seni dan Ilmu Pengetahuan di Universitas Syracuse.

Para ilmuwan telah lama mengimplikasikan partikel halus sulfat di stratosfer sebagai agen utama perubahan iklim besar-besaran dan mengakibatkan kepunahan massal, tetapi tidak pasti mengenai nasib belerang. "Ada ketidakpastian mengenai seberapa jauh mencapai stratosfer di mana pengaruhnya terhadap iklim akan sangat diperbesar," kata Junium.

Selama beberapa dekade, teori kepunahan dinosaurus yang berlaku menunjukkan bahwa asteroid menabrak planet ini, lalu menyebabkan kehancuran dahsyat yang memusnahkan sebagian besar kehidupan di planet ini. Namun, tidak ada yang memperhatikan bahwa dampak Chicxulub ini telah melepaskan sejumlah besar belerang.

Dalam penelitian yang diterbitkan 21 Maret 2022 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences berjudul Massive perturbations to atmospheric sulfur in the aftermath of the Chicxulub impact, sebuah tim gabungan dari Syracuse University, University of St Andrews di Skotlandia, University of Bristol di Inggris dan Texas A&M University menghubungkan tingkat belerang stratosfer yang tinggi dengan dampak dan lokasinya, yang kaya akan mineral sulfat gipsum.

Sementara dampak komet, asteroid, dan benda planet lainnya biasa terjadi selama sejarah Bumi, catatan geologis mengungkapkan sedikit tentang bagaimana dampak tersebut mengubah jalan kehidupan. Dampak Chicxulub unik dalam mengatur ulang keseimbangan biosfer Bumi dan dalam catatan geologi yang tertinggal, lapisan tipis sedimen yang disebut batas K-Pg, ditemukan di seluruh dunia dalam batuan laut dan darat.

Gas-gas tersebut beredar secara global selama bertahun-tahun di atmosfer bumi, mendinginkan iklim dan berkontribusi pada kepunahan massal kehidupan. Kepunahan ini merupakan bencana bagi dinosaurus dan kehidupan lainnya juga. Pada saat yang sama, memungkinkan diversifikasi mamalia, termasuk primata.

“Salah satu alasan dampak khusus ini begitu menghancurkan kehidupan tampaknya adalah karena ia mendarat di lingkungan laut yang kaya akan belerang dan zat mudah menguap lainnya. Dinosaurus benar-benar tidak beruntung!” ujar Dr. Aubrey Zerkle dari School of Earth and Environmental Sciences di University of St Andrews.

“Kami memeriksa isotop belerang langka dalam material yang dikeluarkan oleh tumbukan dan disimpan di kursi terdekat, sekarang diwakili oleh bebatuan yang ditemukan di sepanjang Sungai Brazos di Texas.” tutur Zerkle. "Sidik jari unik yang kami ukur dalam sedimen tumbukan ini memberikan bukti langsung pertama tentang pentingnya aerosol belerang dalam bencana perubahan iklim dan pendinginan."

“Data kami memberikan bukti langsung pertama dari fraksinasi massa independen dari isotop belerang (S-MIF) yang diawetkan dalam bahan ejeksi tumbukan Chicxulub yang disimpan di lingkungan laut di Dataran Pesisir Teluk Amerika Utara.” kata James Witts dari School of Earth Sciences di University of Bristol.

“Belerang atmosfer di stratosfer menyebarkan radiasi matahari yang masuk dan pendinginan skala planet yang berkepanjangan selama bertahun-tahun setelah dampak aslinya, menyebabkan hujan asam dan mengurangi cahaya yang tersedia untuk fotosintesis yang sangat penting bagi kehidupan tumbuhan dan plankton laut yang membentuk dasar rantai makanan.” papar Junium. “Dan durasi pendinginan yang diperpanjang inilah yang kemungkinan memainkan peran sentral dalam tingkat keparahan kepunahan.”


Seekor kelinci belang sumatra telah diselamatkan oleh petugas satwa liar Indonesia setelah ditemukan secara tidak sengaja di Facebook. Kelinci belang sumtra ini secara luas dianggap sebagai kelinci paling langka di dunia.

Keberadaan spesies ini diketahui dari selusin spesimen yang dikumpulkan pada awal abad ke-20 yang kini disimpan di museum Belanda. Sejak saat itu, hanya ada penampakan sesekali dari spesies yang rentan ini di alam liar dan beberapa fotonya dari hasil jebakan kamera.

Kelinci belang ini dianggap sebagai spesies paling langka di antara semua lagomorph (kelinci, terwelu, dan pika). Kelinci ini sangat langka sehingga ketika muncul di Facebook pada Agustus lalu, sejumlah komunitas konservasi serta para pejabat dari Taman Nasional Kerinci Seblat di Pulau Sumatra Indonesia dengan cepat melacak calon penjual tersebut dan menyelamatkan hewan yang tak ternilai harganya itu.

Kelinci itu berhasil dievakuasi dengan aman pada saat para petugas bertemu dengan calon penjual itu. Si calon penjual adalah seorang petani yang menangkap hewan itu secara kebetulan di tepi taman nasional di sebelah sungai yang baru saja banjir deras. Kelinci itu mengalami luka ringan di bagian panggulnya. Kemungkinan, luka itu timbul akibat banjir bandang.

Deborah Martyr, manajer program dari Fauna & Flora International (FFI) yang menjadi penasihat Unit Perlindungan & Konservasi Harimau, mengatakan kesempatan tak terduga untuk mengamati spesies yang sulit dipahami seperti itu memiliki makna ilmiah yang sangat besar.

"Sangat sedikit yang diketahui tentang hewan ini, selain hewan ini menunjukkan preferensi yang nyata untuk bukit berlumut dan hutan submontana. Satu-satunya spesimen dari Sumatra berasal dari masa penjajahan Belanda – dan berada di Belanda, bukan Indonesia," ujar Martyr dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh FFI, seperti dilansir Channel News Asia (CNA).

Martyr mengatakan para petugas dari taman nasional menjelaskan kepada petani itu soal apa yang dia miliki. "Begitu petani yang menangkap kelinci ini memahami kelangkaannya, dia senang melihat kelinci itu kembali ke taman nasional," katanya.

Kelinci langka itu kini telah dilepaskan kembali dengan aman ke hutan oleh para penjaga taman naisonal. Kelinci itu dilepaskan di lokasi yang dipilih berdasarkan data jebakan kamera yang ada.

Herizal, anggota tim pelepasliaran kelinci itu, mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat kelinci belang meski sudah lebih dari delapan tahun berpatroli jauh di dalam taman nasional tersebut.

"Itu selalu baik untuk melepaskan hewan kembali ke alam liar – dan ini jauh lebih sedikit stres daripada melepaskan harimau. Kami melepaskan kelinci itu dan kelinci itu melihat sekeliling – lalu mulai memakan daun. Rasanya sangat santai," kata Herizal, yang merupakan community ranger di salah satu Unit Perlindungan & Konservasi Harimau di taman nasional tersebut.

Tamen Sitorus, direktur Taman Nasional Kerinci Seblat, mengatakan dia bangga dengan par stafnya karena menanggapi laporan ini dengan sangat profesional dan berhasil mengembalikan kelinci itu ke taman nasional. "Saya berharap sampel yang diambil dan data lain yang dikumpulkan dapat bermanfaat bagi para ilmuwan Indonesia dalam membangun pengetahuan tentang hewan yang kurang dikenal ini," katanya dalam pernyataan yang sama.

"Walaupun (Taman Nasional) Kerinci Seblat terkenal di dunia karena keanekaragaman hayatinya, hewan karismatik yang lebih besar seperti harimau, gajah, dan rangkong gadinglah yang biasanya menjadi berita utama. Orang-orang sering lupa bahwa taman ini juga melindungi spesies langka seperti kelinci belang sumatra dan habitatnya."

Kelinci belang sumatara masuk dalam kategori Data Deficiency dalam Daftar Merah. Populasi spesies ini tidak diketahui tetapi kelinci itu sangat langka.

Foto pertama spesies ini di alam liar diambil pada tahun 1997. Sejak saat itu, kelinci itu hanya tertangkap kamera beberapa kali.


Penggalian arkeologi di situs permakaman sarkofagus batu Pangkung Paruk di Bali telah menyingkap temuan koleksi manik-manik kaca emas Romawi terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, dari situs tersebut juga ditemukan beberapa ornamen emas yang rumit dan dua cermin perunggu Cina Han.

Temuan sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya di Asia Tenggara. Menurut para peneliti arkeologi lintas negara yang terlibat dalam studi atas temuuan ini, artefak-artefak yang ditemukan di Bali ini memiliki kesamaan dengan artefak-artefak di Oc Eo di Vietnam, di situs lain di Delta Mekong, dan di Semenanjung Thai-Melayu.

"Analisis temuan baru ini dan perbandingannya dengan yang lain dari seluruh kawasan memberikan wawasan tentang jaringan trans-Asiatik awal hingga pertengahan abad pertama Masehi yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Asia Selatan, dunia Romawi, dan Cina," tulis para peneliti dalam laporan studi mereka yang terbit di jurnal Antiquity.

Para peneliti yang terlibat dalam studi ini berasal dari Australian National University di Australia, University College London di Inggris, German Archaeological Institute di Jerman, serta Universitas Udayana dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Indonesia.

Menurut para peneliti dalam laporan studi mereka yang bertajuk "Trans-Asiatic exchange of glass, gold and bronze: analysis of finds from the late prehistoric PangkungParuk site, Bali" itu, Situs Pangkung Paruk telah menghasilkan koleksi terbesar manik-manik kaca emas soda-natron Romawi di awal Asia Tenggara. Temuan ini menambah informasi baru yang signifikan bagi pengetahuan kita tentang penyebaran manik-manik seperti itu di awal abad pertama Masehi di seluruh Afrika dan Asia dari Mesir hingga Jepang.

"Analisis komposisi kami menunjukkan bahwa manik-manik kaca emas Pangkung Paruk diproduksi di Mesir selama abad pertama hingga keempat Masehi," tulis mereka.

Manik-manik ini cocok dengan kaca Romawi yang digali di anak benua India selatan dan di sepanjang Semenanjung Melayu. Kaitan ini sekaligus mengkonfirmasikan rute maritim selatan dari Samudra Hindia bagian barat ke Asia Tenggara.

"Analisis manik-manik kaca Pangkung Paruk lainnya lebih lanjut mendokumentasikan kontak dengan Daratan Asia Tenggara bagian selatan dan anak benua India bagian selatan," tulis mereka.

Adapun sumber geologi untuk emas yang dipakai untuk membuat benda-benda kuno tersebut, menurut para peneliti, sulit untuk diidentifikasi karena kemungkinan adanya beberapa peristiwa peleburan dan pembentukan kembali dan kesenjangan dalam pengetahuan geologi kita.


"Studi komposisi komparatif kami tentang emas yang digali di seluruh Asia Tenggara, bagaimanapun, memberikan data penting untuk mendukung atau menyangkal analisis gaya dan teknologi mengenai asal-usul emas impor," tulis mereka.

Lebih lanjut, menurut para peneliti, jejak isotop timbal dari perunggu bertimbal yang ditemukan di Bali tersebut cocok dengan jejak dari Vietnam tengah dan Laos. Jejak ini mungkin dapat ditelusuri ke sumber tembaga Sepon di Laos.

Pada akhirnya, data gabungan dari Pangkung Paruk, Sembiran, dan Pacung memperkuat kesinambungan peran strategis Bali utara dalam pertukaran trans-Asia dari abad kedua Sebelum Masehi. Pertautan budaya ini berlanjut hingga awal dan pertengahan milenium pertama Masehi. Inilah yang menjadi bagian kesimpulan para peneliti dalam studi.

"Data ini memperkaya pemahaman kita tentang jaringan maritim awal yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Asia Selatan, dunia Romawi dan Cina. Secara khusus, persamaan untuk artefak impor Pangkung Paruk di Oc Eo dan situs lain di Delta Mekong dan di Semenanjung Thai-Melayu menggarisbawahi pentingnya kontak antara daerah persimpangan utama ini."

"Kami berpendapat bahwa Bali dan Vietnam selatan mungkin juga telah terhubung sepanjang rute utara-selatan melewati Kalimantan barat laut, serta melalui rute yang lebih dipahami dari Semenanjung Thai-Melayu ke Indonesia," simpul mereka.


Pertempuran Trafalgar merupakan pertempuran angkatan laut Inggris melawan Napoleon dan Spanyol di sebelah barat Cape Trafalgar, Spanyol, antara Cádiz dan Selat Gibraltar.

Armada 33 kapal (18 Prancis dan 15 Spanyol) di bawah Laksamana Pierre de Villeneuve berperang dengan armada Inggris yang terdiri atas 27 kapal di bawah Laksamana Horatio Nelson.

Pada akhir September 1805, Villeneuve telah menerima perintah meninggalkan Cádiz dan pasukan daratnya di Naples untuk mendukung kampanye Prancis di Italia Selatan.

Kemudian, pada 19-20 Oktober 1805, armadanya menyelinap keluar dari Cádiz, berharap bisa masuk ke Laut Mediterania tanpa bertempur. Namun, Nelson menangkapnya dari Cape Trafalgar pada 21 Oktober, menurut catatan britannica.com.

Nelson membagi 27 kapalnya menjadi dua skuadron untuk menyerang pasukan Villeneuve dari arah barat. Saat itulah, Nelson menyerukan pesannya yang terkenal

“Inggris berharap setiap orang akan melakukan tugasnya,” ucap Nelson sebelum menyerang Prancis dan Spanyol di halaman history.com. 

Selama lima jam pertempuran, Inggris menghancurkan 19 kapal. Pertempuran sengit itu menyebabkan 1.500 pelaut Inggris terbunuh dan terluka, tanpa ada satu kapal Inggris pun yang hilang. 

Penembak jitu Prancis menembak Nelson di bahu dan dada. Sang Laksamana seakarat dan langsung di bawa ke ahli bedah. Ia mati sekitar 30 menit sebelum akhir pertempuran.

"Sekarang saya puas. Terima kasih Tuhan, saya telah melakukan tugas saya," kata-kata terakhir Nelson setelah diberitahu bahwa kemenangan Inggris sudah dekat.

Walaupun kemenangan Inggris di Pertempuran Trafalgar menghancurkan rencana Napoleon untuk menginvasi Inggris, mereka dibayangi oleh kematian Nelson. Ia sangat dipuji sebagai penyelamat bangsa dan diberi pemakaman yang megah di Katedral St. Paul di London. Selain itu, banyak nama jalan Inggris yang memakai nama Nelson untuk menghormatinya. 


Para ilmuwan berhasil menemukan tiga spesies baru reptil terbang yang hidup di Sahara 100 juta tahun lalu.
Profesor David Martill, ahli paleontologi di University of Portsmouth, menemukannya bersama tim peneliti dari Maroko dan AS.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cretaceous Research ini mengungkapkan kelompok pterosaurus yang menghuni Maroko zaman prasejarah.

Seorang juru bicara universitas mengatakan: "Temuan baru tersebut menunjukkan bahwa pterosaurus Afrika sangat mirip dengan yang ditemukan di benua lain.

“Predator terbang ini melambung di atas dunia yang didominasi oleh predator, termasuk pemburu seperti buaya dan dinosaurus karnivora. Menariknya, herbivora seperti sauropoda dan dinosaurus ornithischia malah jarang ditemukan,” tambahnya.

"Banyak predator, termasuk pterosaurus bergigi, memangsa banyak ikan."

Martill berkata: “Kita berada di zaman keemasan untuk menemukan pterodactyl. Tahun ini saja kami telah menemukan tiga spesies baru, padahal ini masih bulan Maret.”

Pterosaurus baru, yang teridentifikasi dari bongkahan rahang dan gigi yang ditemukan di tengah Kem Kem Beds of Morocco, memiliki bentang sayap tiga hingga empat meter.

Juru bicara itu mengatakan: "Para nelayan udara ini menyambar mangsanya menggunakan satu set gigi besar, yang terlihat seperti pembunuh dan membentuk cengkeraman gigi yang sangat efektif.

"Pterosaurus besar seperti ini akan mampu mencari makan jarak jauh, mirip dengan burung masa kini seperti condor dan elang laut."