Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Jejak empat bangunan yang berasal dari abad keempat belas hingga ketujuh belas ditemukan selama berlangsungnya proyek perbaikan jalan di Skotlandia selatan. Bangunan-bangunan rumah tersebut merupakan bagian dari permukiman sebuah desa yang diubah menjadi taman pada abad kedelapan belas oleh Duke of Hamilton.

The Scotsman memberitakan, bekas empat bangunan itu ditemukan di dekat area Netherton Cross dekat Bothwell, North Lanarkshire, Skotlandia. Tembikar, pecahan panci dan mangkuk masak, pipa tembakau dari tanah liat, potongan mainan, dan bukti pengerjaan logam yang didapatkan dari situs tersebut menjadikan temuan ini sebagai penemuan yang "luar biasa".

Di tingkat fondasi salah satu bangunannya, tim peneliti menemukan lingkaran poros, batu asahan, dua koin abad ketujuh belas, dan belati besi. Belati yang dibuat di Zaman Besi itu diyakini disimpan sebagai bagian dari ritual untuk melindungi struktur bangunan dan penghuninya dari bahaya, menurut Dr. Natasha Ferguson, arkeolog dari Guard Archaeology, seperti dilansir Archaeology magazie.

Natasha Ferguson yang menulis laporan penemuan tersebut mengatakan, “Kualitas khusus atau jimat dari belati ini sebagai objek pelindung mungkin telah meningkatkan tindakan ritual untuk melindungi rumah tangga dari bahaya duniawi dan magis."

"Penempatan benda-benda ini di bawah lantai dasar salah satu rumah mungkin dimaksudkan untuk menegaskan ruang ini sebagai tempat aman bagi mereka dan generasi yang akan datang," beber Ferguson, seperti diberitakan The Scotsman.


Praktik meninggalkan benda-benda khusus di bangunan abad pertengahan dan pasca abad pertengahan telah banyak terdokumentasikan dengan baik. Terkait praktik tersebut, diyakini bahwa ritual semacam itu akan melindungi bangunan dan penghuninya. Laporan tersebut menemukan bahwa objek-objek yang "sengaja dipilih" itu memang telah sengaja ditempatkan di properti tersebut.

Dipercaya bahwa lingkaran spindel, percahan mainan, dan batu asahan mungkin mewakili hubungan personal dengan seorang individu, aktivitas, atau tempat yang akan membuatnya istimewa bagi penghuninya.

Laporan itu menambahkan, "Potensi keunikan belati sebagai benda prasejarah ini mungkin memberikan kualitas keanehan. Penggunaan kembali benda-benda prasejarah sebagai pengendapan dalam pengaturan abad pertengahan telah dicatat dalam penggalian gereja-gereja abad pertengahan di Inggris, dan panah batu secara tradisional diidentifikasi sebagai 'elf-bolts' dan lama dikenal karena sifat magis jahat mereka."

Dr. Gemma Cruickshanks, dari Museum Nasional Skotlandia mengatakan tampaknya belati itu tertutup sarung pada saat dikuburkan.

“Itu mungkin utuh dan masih bisa digunakan pada saat itu. Bentuk belati ini tidak bisa dibedakan dari contoh-contoh Zaman Besi, menandakan bentuk belati yang sederhana ini memiliki sejarah yang sangat panjang,” ujar Cruickshanks.

Bukti peleburan besi, pemurnian, dan kemungkinan praktik pandai besi juga ditemukan, bersama dengan bekas kegiatan pemilihan paku di situs tersebut.

Permukiman tempat berdirinya empat bangunan itu berada dekat dengan Netherton Cross abad ke-10, patung salib simbol kekristenan di Hamilton. Di area ini sekarang berdiri Gereja Paroki Tua Hamilton (Hamilton Old Parish Church).

Area Netherton Cross itu berjarak sekitar 1 kilometer dari Jembatan Bothwell, tempat pertempuran tahun 1679 yang mengakhiri pemberontakan Covenanter di Skotlandia.

“Sangat mungkin masyarakat terkena dampak konflik, baik yang menderita kerusakan harta benda atau sebagai saksi jalur pasukan Covenanter,” kata laporan itu.

Wilayah pinggiran atau desar Netherton lenyap pada abad ke-18 karena adanya perbaikan pada perkebunan oleh Duke of Hamilton, dengan taman yang tertata rapi dan simetris dibangun sebagai gantinya. Jalan raya kemudian juga dibangun di sekitar wilayah tersebut. Pembangunan jalan raya ini menggusur bangunan-bangunan lama desa dengan empat bangunan batu tua yang ditemukan itu sebagai jejak terakhir permukiman tersebut.


Sebelum kejatuhannya di tangan Ottoman, Konstantinopel diriwayatkan akan jatuh ketika kaisarnya memiliki nama yang sama dengan nama pendiri kotanya. Kalangan Muslim pun pernah diriwayatkan akan takluknya kota tersebut di tangan mereka, sehingga memicu ambisi kesultanan Ottoman terhadap Bizantium.

Dari sekian banyak usaha Ottoman Turki menguasai kawasan Balkan sebelum menaklukan Bizantium, semua berkat saling perangnya orang-orang Kristen di Eropa, dan wabah hitam yang menyerang Balkan pada 1356.

Meskipun kondisi perencanaan jangka panjang untuk menaklukan Konstantinopel, menurut sejarawan perang Rupert Butler dan timnya, Ottoman Turki harus menunda rencana tersebut karena invasi tak terduga dari Mongol yang dipimpin Timur Lenk.

Mereka menulis dalam buku Perang yang Mengubah Sejarah, Buku Pertama: dari Pertempuran Megiddo (1457 SM) hingga Bleinheim (1704), ekspedisi tersebut baru berjalan oleh sultan Mehmed II, pasca kematian sultan Murad II pada Februari 1451.

"Dia mempunyai ambisi besar untuk merebut Konstantinopel dan menjadikannya ibu kota Kemaharajaan Ottoman sehingga akan mengangkangi dunia," terang Butler dan timnya.

Setahun setelah kematian ayahnya, Mehmed II merekrut Urbanus, ahli meriam Hongaria, berencana untuk menerobos dinding Konstantinopel. Saat sudah diproduksi pada 1453, meriam tersebut diperiksa di Adrianopel, ibukota Ottoman yang tak jauh dari Konstantionpel.

"Larasnya berukuran 8,1 meter panjangnya, memiliki kaliber 20,3 sentimeter, dan diawaki oleh 700 orang, tetapi dapat melontarkan sebuah bola meriam seberat 1 ton sejauh 1,6 km," tulis mereka.

Selain peralatan tempur yang keras, Mehmed II mengumpulkan pasukan besar di Adrianopel yang tercatat atas 80.000 prajurit, 20.000 tentara milisi, dan 20.000 sukarelawan ghazi (mujahidin fanatik).

April hingga Agustus 1452, Mehmet II juga membangun benteng yang disebut Boghaz Kesen (penggorok) dengan puing-puing di dekatnya. Menurut sejarawan kelautan Roger Crowley dalam Constantinople, The Last Great Siege, bahwa benteng tersebut akan mencekik bantuan ke Konstantinopel dan mengakibatkan kota tersebut terkepung.

"Kemampuan Mehmet untuk mengoordinasikan dan menyelesaikan proyek super dengan kecepatan sangat tinggi terus-menerus membuat bingung lawan-lawannya di bulan-bulan mendatang," terang Crowley.

Meskipun sempat ada armada Venesia yang berusaha mendobrak blokade, Maret 1453 justru membuat jalur pertahanan laut Konstantinopel benar-benar terputus. Sebuah armada Ottoman yang dipimpin Suleyman Balthoglu menjegal rute.

Venesia menyarankan agar kaisar Konstantin XI mencari bantuan dengan negara Kristen lain. Tetapi kaisar memilih berunding dengan Mehmet II, yang berujung penolakan. Maka sepanjang pertempuran tidak ada bantuan untuk Konstantinopel, kecuali dari kepausan dan segelintir dari Venesia.

Butler dan timnya menjelaskan, bahwa Konstantinopel memiliki benteng yang kuat, dan membuat Ottoman harus merencanakan penyerangan dengan matang. Tembok kota terdiri atas tiga garis tembok yang terpisah, tebal, dan sejajar yang dikelilingi parit selebar 18,2 meter yang dapat digenangi saat darurat.

9 April 1453, serangan dimulai dengan menuju dua benteng di bagian barat tembok darat. Namun armada laut Ottoman yang dipimpin Baltoghlu gagal menerobos penghalang selat yang melintang di Tanjung Emas, sehingga kmudian ia dipecat dan armada dipimpin langsung oleh sultan untuk melewatinya lewat daratan.

Meriam yang sudah dipesan kian lama akhirnya dipakai juga oleh Ottoman pada 12 April. Bombardir tersebut diperkuat dengan bom untuk menghancurkan tembok.

"Meriam raksasa Urbanus hanya bisa menembak tujuh kali sehari, begitu rumit dan menghabiskan waktu proses untuk memasukkan peluru dan menembaknya," papar Butler. "Tetapi tembakannya sangat memekakkan telinga dan menimbulkan kerusakan besar terhadap tembok maupun nyali musuh."


Moral Bizantium kembali meningkat selama satu bulan, karena pasukan Ottoman yang gugur ketika sudah menerobos tembok terlemah tanpa menewaskan prajurit Bizantium, dan para ksatria Skotlandia yang menggagalkan usaha Turki yang mencoba menerobos melalui bawah tanah kota.

Selanjutnya mereka justru mendapat kabar buruk dengan datangnya kapal pengintai Venesia pada 24 hingga 25 Mei 1453. Armada tersebut mengabarkan bahwa tak ada lagi bantuan dari Eropa.

Harapan Sultan Mehmed II sempat mulai sirna karena banyaknya prajurit yang gugur. Tercatat, bahwa pasukan yang tersisa 150.000 orang. Bahkan para menteri pun sempat menyarankan untuk mundur apabila rencana serangan besar-besaran 28 Mei gagal.

Butler menulis, keberuntungan datang kepada Ottoman saat serangan besar-besaran itu digencarkan dan meningkatkan kembali harapan sultan dengan ditemukannya gerbang kecil yang ditinggalkan terbuka.

"Para penyerbu tidak membuang-buang waktu untuk memasuki gerbang itu," terangnya. "Orang Bizantium berusaha membendungnya, tetapi gagal karena kalah jumlah."

Setelah berhasil menembus kota, tentara Ottoman langsung membuka gerbang-gerbang lainnya. membuat tentara bantuan dari Genoa kabur ke pelabuhan, dan orang Venesia memilih berkhianat. Sehingga hanya Bizantium bersama orang Catalan yang tetap bertahan hingga tewasnya kaisar Konstantin XI.

Kemenangan di Konstantinopel menjadi puncak kejayaan kesultanan tersebut untuk memotivasi ekspedisi berikutnya. Bahkan atas keberhasilannya, Mehmed II diberi gelar Al-Fatih (sang penakluk).

Jatuhnya Konstantinopel, menurut para sejarawan, menjadi pengantar bangsa Eropa ke masa Renaisans, meski saat itu Turki juga gencar-gencarnya melakukan penyerangan di benua biru.

"Selama tiga abad berikutnya, hingga pengepungan yang sama terkenalnya dan pertempuran di bawah tembok Wina pada 1683, orang Turki tetap menjadi ancaman besar bagi Eropa Kristen," paparnya.


 Pada Juni 1934, dua penambang emas di Pegunungan San Pedro di Wyoming, Amerika Serikat menemukan sebuah gua kecil yang terkubur jauh di dalam batu tebal. Di debu-debu yang mengendap, para pencari emas menemukan sesuatu yang mengejutkan, yakni sisa-sisa manusia kecil yang terawat dengan baik tapi telah lama terlupakan.

Asal-usul manusia kecil itu masih menjadi misteri. Suku-suku penduduk asli Amerika, kerap menceritakan kisah-kisah legendaris tentang "orang kecil" atau Nimeriga. 

Dalam beberapa cerita, orang kecil tersebut dikatakan memiliki kekuatan magis atau kekuatan penyembuhan. Namun, pada cerita lain, mereka adalah suku ganas yang menyerang penduduk asli Amerika dengan panah beracun. 

Penemuan mumi manusia kecil menarik banyak perhatian ke daerah itu serta menimbulkan pertanyaan dan kontroversi. Banyak yang meragukan akan kebenaran cerita para penambang emas--meyakini bahwa temuan itu dibuat-buat dan cerita tersebut adalah hoaks.

Para ilmuwan pun berbondong-bondong datang ke pegunungan San Pedro. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kebenaran temuan orang mungil yang dijuluki Pedro, yang tingginya sekitar setengah inci ketika duduk dan empat belas inci ketika berdiri.


Bertahun-tahun setelah penemuan Pedro, para ilmuwan melakukan pengujian yang lebih invasif, memanfaatkan sinar-X untuk mencoba membuka misteri.

Beberapa antropolog awalnya menyimpulkan bahwa jenazah itu adalah jenazah bayi, kemungkinan besar lahir prematur, atau yang meninggal tak lama setelah lahir.

Arena perselisihan pendapat pun terjadi. Sebagian ilmuwan percaya itu ialah sisa-sisa orang dewasa, mungkin berusia 16-65 tahun.

Rontgen menemukan gigi yang tajam pada Pedro dan adanya makanan di perut yang tampak seperti daging mentah. Hasil rontgen juga menemukan bahwa Pedro mengalami kematian yang kejam--menunjukkan patah tulang di tulang belakang serta tulang tengkorak yang rusak.

Penemuan jasad mumi menimbulkan spekulasi signifikan bahwa jasad itu adalah tipuan. Kehadiran zat agar-agar di kepala Pedro membuat beberapa orang percaya bahwa jenazah itu sebenarnya adalah jenazah bayi, yang ditemukan dari fasilitas medis, atau bahwa para penambang telah membuat jenazah menggunakan bentuk taksidermi mentah.

Namun, yang lain berpendapat bahwa sisa-sisa itu adalah bukti ras mirip Leprechaun, seperti yang disebutkan dalam legenda masyarakat adat setempat, atau bukti keberadaan makhluk ekstra-terestrial. Sulit bagi banyak orang untuk memahami bahwa manusia sekecil itu bisa jadi sudah dewasa.

Sementara pengujian modern dapat memberikan lebih banyak jawaban tentang asal-usul Pedro, pengujian semacam itu tidak mungkin dilakukan karena lokasi jenazah tidak diketahui selama beberapa tahun.

Diungkapkan dalam Ancient Origins bahwa sisa-sisa itu dipajang selama pertunjukan-pertunjukan di tahun 1940-an, dan kemudian dibeli oleh seorang pria bernama Ivan Goodman.

Setelah kematian Goodman pada tahun 1950, jasadnya diserahkan kepada seorang pria bernama Leonard Waller (kadang-kadang dilaporkan sebagai Walder). Jenazahnya belum terlihat sejak saat itu.


Ini adalah studi lanjutan dari studi sebelumnya. Di mana sebelumnya mengungkap keberadaan spesies baru kanguru raksasa yang ditemukan di Nombe Rockshelter Papua Nugini. Menurut penelitian baru dunia hewan ini, spesies ini masih bisa bertahan lama setelah megafauna bertubuh besar di daratan Australia punah. Seekor kanguru raksasa yang pernah berkeliaran dengan empat kaki melalui hutan terpencil di Dataran Tinggi Papua Nugini (PNG) mungkin telah bertahan baru-baru ini 20.000 tahun yang lalu.

Ahli paleontologi Flinders University, bekerja sama dengan arkeolog dan geoscientist Australian National University, telah menggunakan teknik baru dalam studi mereka. Bertujuan untuk memeriksa kembali tulang megafauna dari situs fosil Nombe Rockshelter yang kaya di Provinsi Chimbu. Ini dalam upaya untuk lebih memahami sejarah alam PNG yang menarik.

Analisis baru menghasilkan revisi usia tulang dan menunjukkan bahwa beberapa spesies mamalia besar, termasuk harimau Tasmania yang punah dan marsupial mirip panda (disebut Hulitherium tomasettii) masih hidup di Dataran Tinggi PNG ketika manusia pertama kali tiba. Ini mungkin sekitar 60.000 tahun yang lalu.

Hebatnya dua spesies kanguru besar yang telah punah, termasuk satu yang berkaki empat daripada melompat dengan dua kaki, mungkin telah bertahan di wilayah tersebut selama 40.000 tahun lagi.

"Jika spesies megafauna ini benar-benar bertahan di Dataran Tinggi PNG lebih lama daripada spesies yang setara di Australia, maka itu mungkin karena orang jarang mengunjungi daerah Nombe, dan dalam jumlah yang rendah sampai setelah 20.000 tahun yang lalu," kata Profesor Ilmu Arkeologi ANU Tim Denham, salah satu penulis utama dalam studi baru.

Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Archaeology in Oceania pada 16 September dengan judul Re‐evaluating the evidence for late‐surviving megafauna at Nombe rockshelter in the New Guinea highlands.


"Tempat perlindungan batu Nombe adalah satu-satunya situs di Nugini yang diketahui telah ditempati oleh orang-orang selama puluhan ribu tahun dan melestarikan sisa-sisa spesies megafauna yang punah. Kebanyakan dari mereka unik di Nugini,” kata Denham, yang awalnya melakukan kerja lapangan di Dataran Tinggi PNG pada tahun 1990. “Nugini adalah bagian utara yang berhutan, pegunungan, dari benua Australia yang sebelumnya lebih luas yang disebut 'Sahul' tetapi pengetahuan kita tentang sejarah fauna dan manusianya buruk dibandingkan dengan daratan Australia."

Rekan penulis penelitian Profesor Gavin Prideaux, dari Laboratorium Paleontologi Universitas Flinders, mengatakan studi Nombe terbaru konsisten dengan bukti serupa dari Pulau Kanguru, yang sebelumnya diproduksi oleh ahli paleontologi Flinders. Ini juga menunjukkan kanguru megafauna mungkin telah bertahan hingga sekitar 20.000 tahun yang lalu di beberapa tempat dari daerah yang kurang dapat diakses di benua itu.

"Meskipun sering diasumsikan bahwa semua spesies megafauna di Australia dan Nugini punah dari pantai ke pantai pada 40.000 tahun yang lalu, generalisasi ini tidak didasarkan pada banyak bukti aktual," kata Profesor Prideaux. "Ini mungkin lebih berbahaya daripada membantu dalam menyelesaikan dengan tepat apa yang terjadi pada lusinan mamalia besar, burung, dan reptil yang hidup di benua itu ketika orang pertama kali tiba."

Tempat perlindungan batu Nombe, yang terletak di sekitar komunitas Nongefaro, Pila dan Nola di PNG, jarang dikunjungi oleh kelompok nomaden masyarakat Dataran Tinggi pada zaman prasejarah. Tempat perlindungan batu tersembunyi pertama kali digali oleh para arkeolog pada tahun 1960-an. Tetapi fase kerja lapangan yang paling intensif dilakukan pada tahun 1971 dan 1980 oleh arkeolog ANU Dr Mary-Jane Mountain, yang juga merupakan penulis makalah terbaru.

Penelitian awalnya menghasilkan deskripsi dan interpretasi terperinci pertama dari situs Nombe dan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman kita tentang sejarah manusia di Dataran Tinggi PNG.

"Mary-Jane awalnya berhipotesis bahwa megafauna di situs tersebut mungkin telah bertahan selama puluhan ribu tahun setelah kolonisasi manusia. Tetapi ini hanya dikonfirmasi dengan munculnya teknik baru dalam arkeologi, penanggalan, dan ilmu paleontologi," kata Profesor Denham.

Profesor Prideaux mengatakan aplikasi baru dari teknik analisis modern ini, atau penggalian baru di situs Nombe akan lebih lanjut mengonfirmasi garis waktu megafauna yang masih hidup dan durasi pendudukan oleh orang-orang di PNG.

Badan Antariksa Eropa (ESA) baru saja meluncurkan pesawat luar angkasa buatan Inggris BepiColombo ke planet terdekat matahari yaitu Merkurius pada Sabtu (20/10/2018). BepiColombo meluncur di atas roket paling kuat milik ESA, Ariane 5.

Misi peluncuran pesawat antariksa tersebut merupakan kerja sama antara ESA dan Badan Antariksa Jepang (JAXA). Misi perjalanan ini akan dilaksanakan selama tujuh tahun. Tujuannya  untuk mengungkapkan misteri seputar planet Merkurius.

Dengan mengikuti “lintasan keluar” BepiColombo akan berayun melintasi Bumi dalam kurva yang lebar sebelum akhirnya menuju planet Venus.

Pesawat antariksa tersebut akan sampai ke planet paling dalam di tata surya pada tahun 2025. Setelah sesampainya di sana, pesawat tersebut akan menempatkan dua robot probe atau pengali di sekitar Merkurius.

Dua robot yang ditempatkan masing-masing merupakan milik ESA dan JAXA.

"Peluncuran BepiColombo adalah tonggak besar bagi ESA dan JAXA, dan akan ada banyak kesuksesan besan di masa mendatang. Setelah menyelesaikan perjalanan yang menantang, misi ini akan membawa pulang banyak ilmu pengetahuan," ucap Jan Worner, Direktur Umum ESA.

Ilmuwan berharap misi yang bernilai sebesar Rp27,8 triliun ini akan menjawab banyak pertanyaan tentang planet Merkurius. Seperti mengapa planet tersebut memiliki inti besar yang terbuat dari besi dan apakah itu mampu menahan jejak air.

Hasil misi yang dilakukan oleh ESA dan JAXA ini dapat memberikan wawasan baru tentang asal usul dan evolusi tata surya.

Fitur utama BepiColombo dilengkapi dengan teknologi propulsi ion listrik yang canggih, yang dapat menembak dua kali pada satu waktu. Itu juga akan memancarkan sinar gas xenon bermuatan listrik. Tembakan bertindak sebagai rem dalam melawan gravitasi matahari yang sangat besar.

“Ini merupakan salah satu misi antarplanet yang paling kompleks yang pernah kami lakukan,” ucap Andrea Accomazzo, direktur penerbangan ESA untuk pesawat tersebut.

"Salah satu tantangan terbesar adalah gravitasi Matahari yang sangat besar, yang menyulitkan menempatkan pesawat ruang angkasa ke orbit yang stabil di sekitar Merkurius," tambahnya.

Accomazo mengatakan bahwa perlu pengereman secara terus menerus agar tidak tertarik gravitasi matahari tanpa kendali.

"Kami harus terus-menerus mengerem untuk memastikan jatuh terkontrol ke arah Matahari, dengan pendorong ion menyediakan daya dorong rendah yang dibutuhkan selama jangka waktu yang panjang dari fase pelayaran," ucap Accomazo.

Misi ke Merkurius ini bukan pertama kalinya dilakukan, setidaknya sudah ada dua pesawat antariksa yang telah mengunjungi planet terpanas di tata surya ini.

Pesawat antariksa pertama yang mengunjungi planet ini adalah Mariner 10 milik NASA yang terbang melintasi planet tersebut sebanyak tiga kali antara tahun 1974 dan 1975. Yang kedua, pesawat Messenger mengorbit di planet tersebut antara tahun 2011 hingga 2015.

BepiColombo ini dinamai setelah Giuseppe "Bepi" Colombo, seorang ilmuwan dan insinyur dari Italia yang memainkan peran utama dalam misi Mariner 10 pada tahun 1974.




 


Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa ‘gereja rahasia’ yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.

Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.

Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.

‘Gereja rahasia’ yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.

Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.

Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.

Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.

“Tempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,” papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.

Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.

Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang  “persekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya”.

Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.

Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.

Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi ‘gereja rahasia’ ini.
 


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ahli astrofisika berhasil menemukan planet di luar galaksi Bima Sakti. Sebelumnya, planet-planet yang terdeteksi hanya berada dalam Bima Sakti.

Dengan mengukur fenomena astronomi -- disebut microlensing -- para ilmuwan berhasil mengidentifikasi sekelompok planet menggunakan data dari Observatorium X-ray Chandra milik NASA.

Planet-planet yang baru ditemukan ini ukurannya bervariasi. Mulai dari seukuran bulan hingga Jupiter. Dan galaksi mereka berjarak 3,8 jutaan cahaya dari tempat kita sendiri.

“Kami sangat bersemangat. Ini pertama kalinya ada yang berhasil menemukan planet di luar galaksi kita,” kata Profesor Xinyu Dai, ahli astrofisika di University of Oklahoma

Penemuan ini dipublikasikan oleh Profesor Dai dan rekannya, dr. Eduardo Guerras dalam The Astrophysical Journal.

Analisis microlensing yang memanfaatkan tingkat kecerahan benda-benda luar angkasa seperti bintang dan quasar, merupakan satu-satunya metode yang mampu mengidentifikasi planet dengan jarak sejauh itu.

“Ini merupakan contoh bagaimana kuatnya analisis teknik microlensing. Galaksi tersebut memiliki 3,8 jutaan cahaya. Tidak ada kesempatan untuk mengobservasinya secara langsung, bahkan dengan teleskop terbaik sekalipun. Namun, ternyata sekarang kami bisa mempelajarinya, mengungkap kehadiran, serta memiliki gagasan tentang massa mereka. Ini merupakan sains yang amat keren,” papar dr. Guerras.

Microlensing

merupakan efek astronomi di mana cahaya yang berasal dari bintang jauh atau quasa dibelokkan oleh gravitasi benda perantara – seperti bintang lain atau lubang hitam – jika dilihat dari Bumi.

Apabila sumber cahaya diposisikan persis di belakang perantara, benda tersebut akan bertindak sebagai “lensa”. Lalu, ia membuat cakram cahaya saat sinar dari sumber melewati semua sisi.

Kecerahan cakram dipengaruhi oleh kehadiran planet di dekat bintang lensa. Inilah yang digunakan untuk menentukan keberadaan planet-planet tersebut yang seharusnya terlalu jauh untuk dikenali.

Efek ini telah diprediksi oleh teori relativitas Einstein. Oleh sebab itu, cakram cahaya ini juga dikenal dengan “cakram Einstein”.

Dalam penelitiannya, Profesor Dai dan dr. Guerras mengatakan bahwa mereka menggunakan teleskop untuk mempelajari sifat microlensing emisi latar belakang quasar yang digunakan untuk membuat pengukuran sebagai bukti planet-planet tersebut.

"Planet-planet kecil ini adalah kandidat terbaik dari kekhasan yang kami amati dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik microlensing. Kami menganalisis frekuensi tinggi kekhasan tersebut dengan memodelkan data untuk menentukan massa," kata Profesor Dai.

Spesies kuno yang dikenal dengan nama Habelia optata, diduga hidup pada pertengahan masa Kambrium, sekitar 508 juta tahun yang lalu.

Ia hadir ketika ‘ledakan Kambria’ terjadi – sebuah periode dalam sejarah Bumi ketika para leluhur hewan yang kita kenal sekarang, muncul untuk pertama kalinya.

Habeliasendiri memiliki beberapa karakteristik yang ditemukan pada hewan moderen, seperti tubuh yang tersegmentasi dan kerangka luar seperti lobster dan serangga. Namun, para ilmuwan belum yakin dari keluarga evolusioner mana ia berasal.

Meskipun begitu, sebuah studi yang menganalisis 41 spesimen fosil, menemukan fakta bahwa makhluk kuno ini berkaitan dengan nenek moyang dari chelicerates – kelompok spesies meliputi laba-laba dan kalajengking.

“Habelia menunjukkan arsitektur tubuh yang sangat detail seperti pada chelicerates,”  kata dr. Cedric Aria, ahli paleontologist di University of Toronto yang menjadi pemimpin penelitian ini.

Selain itu, alasan mengapa Habelia dikaitkan dengan chelicerates adalah dari bentuk mulutnya.

Chelicerates mendapatkan namanya dari “chelicerae”, semacam penjepit tambahan di mulut yang digunakan laba-laba dan kalajengking untuk memotong mangsa mereka.

Sebagai tambahan, Habelia memiliki semua persenjataan di kepala. Ditambah dengan kaki yang berkembang sempurna untuk berjalan, para peneliti menyimpulkan bahwa hewan ini termasuk ‘pemburu’ di dasar laut.

Secara spesifik, dr. Aria mengatakan, Habelia menggunakan rahang mereka yang menakutkan untuk menyerang trilobita (kelompok hewan prasejarah yang memiliki kulit luar nan keras).

“Dengan bentuk mulut dan rahang seperti itu, membuat Habelia dapat merobek mangsanya dengan cepat dan efektif. Ini menjadikan ia salah satu predator,” kata dr. Aria.

Sven Sachs, paleontolog dari Museum Sejarah Alam Bielefeld Jerman sedang berada di Museum Lower Saxony State di Hannover, Jerman, untuk mempelajari reptil laut purba. Tanpa sengaja, perhatiannya tertuju pada salah satu fosil Ichthyosaurus.

Meski label nama spesies tersebut sudah tercantum, tetapi Sachs masih curiga jika fosil yang dia perhatikan merupakan spesies baru dari genus Ichthyosaurus. Ichthyosaurus sendiri merupakan sejenis reptil laut yang umumnya dianggap sebagai dinosaurus perenang.

"(Fosil) itu sangat luar biasa. Lebih besar dari spesies manapun yang pernah saya teliti," katanya seperti dikutip Science Alert, Sabtu (26/8/2017).

Fosil tersebut ditemukan pada pertengahan tahun 1990-an di Somerset Inggris. Namun, semenjak ditemukan, fosil tersebut tidak dipelajari dan langsung dipajang di museum.

Sachs pun segera meminta pendapat dari koleganya yang memang mempelajari Ichthyosaurus, Dean Lomax dari Universitas Manchester. Pada awal 2017 mereka mulai memeriksa spesimen itu bersama-sama-sama, dan ternyata dugaan itu benar. Mereka mendapati jika fosil tersebut merupakan kerabat baru dari genus Ichthyosaurus yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu.

Fosil yang pada akhirnya diberi nama Ichthyosaurus somersetensis ini memiliki ukuran tubuh 3-3,5 meter, menjadikannya sebagai spesies terbesar dari jenisnya. Dia juga lebih pantas disebut dengan "Naga Laut" karena memiliki tubuh yang panjang, fleksibel, serta mampu berenang layaknya belut.

Ichthyosaurus somersetensis juga diketahui sedang mengandung embrio berukuran tujuh sentimeter saat mati. Analisis mengungkapkan adanya embrio yang tidak lengkap tersimpan dalam tubuh fosil betina tersebut, termasuk sebagian tulang belakang, tulang rusuk, dan beberapa tulang lainnya.

"Jarang ada embrio yang terawetkan," kata Sachs. Inilah mengapa penemuan tersebut menjadi penting bagi ilmu pengetahuan, karena menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

Namun, sayang pihak museum melakukan kesalahan mengidentifikasi spesies tersebut. Faktor yang mengaburkan silsilah spesimen ini ternyata bermula dari kesalahan penamaan dari pihak museum.

Pihak museum menambahkan ekor palsu pada fosil Ichthyosaurus somersetensis dengan ekor dari Ichthyosaurus lain untuk membantu melengkapi barang pameran periode Jura dan memberikan sisi estetis pada koleksi pameran.

"Dalam jangka panjang ini akan berbahaya bagi pemahaman ilmiah. Bagian palsu yang tidak terdeteksi ini akan menghasilkan informasi palsu," imbuh Sachs. Untungnya dalam kasus ini, kesalahan itu segera terungkap.

 


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.


Kebiasaan mandi ternyata telah dipraktikan sejak zaman kuno. Namun ada sedikit perbedaan, pada zaman kuno, mereka mandi di bawah air terjun. Ini merupakan pancuran pertama yang digunakan oleh manusia.

Mandi buatan manusia pertama yang memberikan hak istimewa untuk mandi dalam privasi rumah seseorang berasal dari zaman Mesir kuno dan Mesopotamia. Ini umumnya dinikmati oleh orang kaya karena melibatkan seorang budak dalam banyak kasus dengan bertugas menuangkan kendi air dari atas.

Ada lukisan dinding di kuil dan bangunan yang menunjukkan bagaimana pelayan memandikan ratu Mesir kuno dan anggota keluarga kerajaan. Penggalian rumah-rumah kaya di Thebes, El Lahun, dan Amarna menemukan kamar-kamar berlapis batu yang dilengkapi dengan lantai miring yang memungkinkan air mandi mengalir.

Orang Yunani kuno memiliki kamar mandi dalam ruangan di gimnasium yang mereka pasang melalui kemajuan saluran air dan pipa ledeng. Semburan air dingin mengalir dari langit-langit sementara para pemandi berdiri di bawahnya. Bangsa Romawi kuno, seperti orang Yunani, juga memiliki kamar mandi di pemandian mereka yang masih dapat ditemukan di sekitar Mediterania dan di Inggris modern.

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, pemandian umum tidak lagi disukai, terutama percampuran jenis kelamin karena mandi telanjang di depan lawan jenis memancing nafsu.

Sementara pemandian umum tidak digunakan pada Abad Pertengahan, bertentangan dengan kepercayaan populer. Pada abad ke-18, minat terhadap kebersihan pribadi mulai tumbuh sekali lagi dipicu oleh kemajuan dalam bidang kedokteran dan epidemiologi. Tapi mandi adalah proses yang lambat. Bak mandi besar dan membutuhkan banyak air untuk diisi, yang harus dipanaskan dan dibawa ke kamar mandi dari dapur dalam ember. Itu melibatkan banyak tenaga kerja.

Pabrikan kompor dan pemanas Inggris bernama William Feetham memutuskan untuk mempercepatnya. Dia menciptakan dan mematenkan shower mekanis pertama di dunia. Alatnya terdiri dari baskom, tempat perenang berdiri, dan tangki air yang menjorok. Perenang menggunakan pompa tangan untuk memompa air dari baskom ke tangki, dan kemudian menarik rantai untuk membuang semua air sekaligus di atas kepalanya. Proses itu kemudian diulang.

Penemuan Feetham gagal membangkitkan minat di kalangan bangsawan karena air akan menjadi lebih kotor dan lebih dingin setiap kali rantai ditarik. Dibanjiri dengan kejutan air dingin terlalu banyak untuk orang kaya, yang terbiasa mandi air panas di kamar mandi besar dan bak yang luas. Namun demikian, pancuran Feetham adalah yang terbaik yang dimiliki orang selama lebih dari satu abad.

Mandi dipopulerkan pada pertengahan abad ke-19 oleh seorang dokter Prancis Merry Delabost. Sebagai ahli bedah umum di penjara Bonne Nouvelle di Rouen, Delapost mengganti kamar mandi pribadi dengan kamar mandi umum wajib untuk digunakan oleh para tahanan, dengan alasan bahwa mereka lebih ekonomis dan higienis.Dia juga memandu pemasangan pancuran di barak tentara Prancis pada tahun 1870-an. Sementara itu, pembangunan water heater membuat masyarakat tidak perlu lagi mandi air dingin. Pipa dalam ruangan telah meningkat pada saat itu memungkinkan pancuran berdiri bebas untuk dihubungkan ke sumber air yang mengalir. Bahkan rumah kelas menengah pun mulai memiliki air panas yang mengalir.

Pada 1868, seorang pelukis Inggris bernama Benjamin Waddy Maughan menemukan pemanas air yang untuk pertama kalinya tidak menggunakan bahan bakar padat. Sebaliknya, air dipanaskan menggunakan gas panas yang dihasilkan oleh kompor. Sayangnya, Maughan lupa menambahkan ventilasi sehingga kompor terkadang meledak. Meskipun penemuan Maughan gagal, nama yang dia ciptakan macet. Itu Maughan yang menciptakan istilah "geyser" yang masih digunakan di Inggris dan di banyak negara Asia.

Desain Maughan diperbaiki oleh seorang insinyur mesin Norwegia bernama Edwin Ruud, dan pada tahun 1889, pemanas air bertenaga gas otomatis pertama yang aman ditemukan dan era baru mandi air hangat dimulai.


Manuskrip Voynich adalah kodeks bergambar yang ditulis tangan dalam sistem penulisan yang tidak diketahui dan mungkin tidak berarti. Vellum atau kertas kulit yang digunakan untuk menulisnya telah diberi penanggalan karbon hingga awal abad ke-15 (1404-1438), dan mungkin telah disusun di Italia selama Renaisans Italia.

Naskah bergambar yang ditulis dalam bahasa yang tidak diketahui ini diberi nama berdasarkan nama penjual buku antik saat itu, Wilfrid Voynich, yang membelinya pada tahun 1912. Sejak itu, para sarjana dan ilmuwan telah berusaha untuk menguraikan arti dari teks naskah kuno tersebut.

Sejak penemuannya, Manuskrip Voynich abad ke-15 ini telah menjadi misteri dan fenomena kultus tersendiri. Penuh tulisan tangan dalam bahasa atau kode yang tidak diketahui oleh banyak orang, buku ini telah banyak diilustrasikan dengan gambar-gambar aneh tanaman asing, wanita telanjang, benda aneh, dan simbol zodiak.

Berbagai kriptografer, sarjana linguistik, dan program komputer telah mencoba memecahkan kode tersebut tetapi tetap saja gagal. Kini, seorang peneliti Associate Dr. Gerard Cheshire di University of Bristol telah berhasil memecahkan kode manuskrip Voynich. Cheshire membutuhkan waktu selama dua minggu, menggunakan kombinasi pemikiran lateral dan kecerdikannya, untuk mengidentifikasi bahasa dan sistem penulisan dokumen yang terkenal tidak dapat dipahami itu.

Hasil kajiannya tersebut telah ia terbitkan dalam jurnal Romance Studies pada 29 April 2019 dengan judul The Language and Writing System of MS408 (Voynich) Explained. Dalam studi tersebut Cheshire menjelaskan bagaimana ia berhasil menguraikan kode manuskrip dan, pada saat yang sama, mengungkapkan satu-satunya contoh bahasa proto-Roman yang diketahui.

“Saya mengalami serangkaian momen 'eureka' saat menguraikan kode tersebut,” kata Cheshire, seperti dilaporkan Tech Explorist. “Dengan diikuti oleh rasa tidak percaya dan kegembiraan ketika saya menyadari besarnya pencapaian ini, baik dari segi kepentingan linguistiknya maupun wahyu tentang asal dan kontennya. dari manuskrip itu.”

“Apa yang diungkapkannya bahkan lebih menakjubkan daripada mitos dan fantasi yang dihasilkannya. Misalnya, manuskrip itu disusun oleh para biarawati Dominika sebagai sumber referensi untuk Maria dari Kastilia, Ratu Aragon, yang kebetulan adalah bibi yang hebat bagi Catherine dari Aragon.” jelasnya.

“Juga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa karya ini mewakili salah satu perkembangan paling penting hingga saat ini dalam linguistik Roman. Naskah ini ditulis dalam proto-Romance – nenek moyang bahasa Roman saat ini termasuk Portugis, Spanyol, Prancis, Italia, Rumania, Catalan, dan Galicia. Bahasa yang digunakan ada di mana-mana di Mediterania selama periode Abad Pertengahan, tetapi jarang ditulis dalam dokumen resmi atau penting karena bahasa Latin adalah bahasa kerajaan, gereja, dan pemerintah. Akibatnya, proto-Romance hilang dari catatan, sampai sekarang.” tutur Cheshire.

Cheshire juga menjelaskan lebih lanjut, “Ini menggunakan bahasa yang sudah punah. Alfabetnya adalah kombinasi dari simbol yang tidak dikenal dan lebih akrab. Ini tidak menyertakan tanda baca khusus, meskipun beberapa huruf memiliki varian simbol untuk menunjukkan tanda baca atau aksen fonetik.”

Semua huruf dalam huruf kecil dan tidak ada konsonan ganda. Ini termasuk diftong, triftong, quadriphthong dan bahkan quintiphthong untuk singkatan komponen fonetik. Ini juga mencakup beberapa kata dan singkatan dalam bahasa Latin.

Cheshire selanjutnya berencana untuk menerjemahkan seluruh manuskrip dan menyusun leksikon, yang diakui Cheshire. Ini akan memakan waktu, karena manuskripnya berkompromi lebih dari 200 halaman.


Penjelajah Italia abad ke-13, Marco Polo, mungkin adalah orang Eropa Barat pertama yang meninggalkan catatan terperinci tentang perjalanannya ke Asia. Namun, ia jelas bukan orang pertama yang melakukan perjalanan itu.

"Sejarawan Tiongkok mencatat kunjungan sebelumnya oleh orang-orang yang dianggap sebagai utusan dari Kekaisaran Romawi, yang terjadi selama abad kedua dan ketiga M," tulis Sarah Pruitt kepada History.

Sarah Pruitt menulis artikel yang berjudul Greeks May Have Influenced China’s Terra Cotta Army diterbitkan oleh History pada 17 Oktober 2016.

Pada abad ketiga, selama dinasti Han, muncul pembentukan resmi jalur perdagangan Jalur Sutra, jaringan perdagangan perhentian karavan dan pos perdagangan yang menghubungkan Tiongkok dengan dunia Barat (Eropa).

Menurut para arkeolog dan sejarawan yang sekarang bekerja di Tentara Terakota Tiongkok yang sohor, diperkirakan bahwa kontak antara Timur dan Barat mungkin telah dimulai jauh lebih awal.

"Mereka percaya penampilan patung-patung itu (pasukan terakota Tiongkok) mungkin telah terilhami atau meniru patung-patung Yunani kuno," imbuhnya.

Hal itu menunjukkan adanya pengaruh Barat di era kaisar pertama China, sekitar 1.500 tahun sebelum pelayaran terkenal Marco Polo berlalu.

Kaisar Qin Shi Huang, pendiri dinasti Qin, naik takhta pada 246 SM pada usia 13 tahun. Selama 25 tahun berikutnya, ia menyatukan sejumlah kerajaan yang bertikai dan menerapkan kebijakan stabilisasi, termasuk standarisasi koin, timbangan dan langkah-langkah dan pembangunan jalan dan kanal.

Qin juga melakukan berbagai proyek pembangunan ambisius selama masa pemerintahannya, termasuk versi paling awal dari Tembok Besar Tiongkok, yang dibangun di sepanjang perbatasan utara kekaisarannya untuk melindungi dari invasi barbar, serta mausoleumnya sendiri.

"Menurut tulisan sejarawan istana kuno di Tiongkok, Siam Qian, Qin memerintahkan pembangunan kompleks makam dimulai pada awal masa pemerintahannya," jelasnya.

Lebih dari 700.000 pekerja, bekerja untuk membangunnya selama tiga dekade, dan proyek tersebut tampaknya tidak terselesaikan setelah kematian kaisar pada 209 SM.

Kemudian, di tahun 1974, seorang petani ketakutan karena tersandung pasukan terakota, di mana ia melihat wajah manusia dari tembikar muncul di antara sayuran di ladangnya.

Para arkeolog akhirnya menemukan sekitar 8.000 patung dari lubang di Xi'an, semuanya dibangun untuk mengawal Kaisar Qin ke alam baka dan menjaga tempat peristirahatan terakhirnya.


Sosok prajurit seukuran aslinya termasuk kereta, senjata dan kuda, dan dipahat dengan detail yang mengesankan, sampai ke gaya rambut mereka dan lencana di baju besi mereka.

Sebelum pemerintahan Qin, Tiongkok tidak pernah memiliki tradisi membuat patung seukuran manusia aslinya. Meskipun banyak pasukan terakota terkubur lainnya telah ditemukan, yang sebelumnya ditemukan jauh lebih kecil, hanya berukuran kurang dari 10 inci.

Menurut Li Xiuzhen, seorang arkeolog senior di situs Tentara Terakota, perbedaan skala dan gaya yang signifikan ini kemungkinan terjadi ketika pengaruh Barat tiba di Tiongkok dari tempat lain —khususnya, dari Yunani kuno.

Adanya kekerabatan antara Tiongkok dengan orang-orang Yunani Kuno semakin memungkinkan adanya pembuatan patung. Terlebih lagi, seniman Yunani bahkan mungkin telah berada di Tiongkok untuk membimbing orang-orang Tiongkok teknik pembuatan patung.


Pegunungan Andes adalah tempat tebing-tebing besar, arus deras dan ngarai yang menakutkan. Untuk mendirikan peradaban besar di medan ekstrem ini, jembatan menjadi penting.

Praktik kuno membuat jembatan gantung telah ada sejak lama di Peru—mungkin sejak budaya Wari, yang berkembang dari tahun 600–1000 M. Pada suatu waktu, lusinan jembatan semacam itu dianggap telah menghubungkan komunitas melintasi ngarai dan sungai.

Alih-alih memusatkan seluruh energi mereka untuk membangun bangunan batu besar yang akan memakan waktu puluhan tahun atau bahkan berabad-abad lamanya, suku Inca membangun jembatan gantung tali yang dapat didirikan hanya dalam hitungan hari.

"Jembatan tali Inca membentang lebih jauh daripada jembatan Eropa mana pun di era yang sama dan juga sangat kuat," tulis Nick Dal kepada SA Expeditions, dalam artikel berjudul A closer look at Inca rope bridges, publikasi 31 Mei 2016. 

Profesor MIT (Massachusetts Institute of Technology), John Ochsendorf, telah melakukan tes yang menunjukkan bahwa kabel jembatan Inca merupakan yang paling kokoh di zamannya. 

Jembatan tali dibuat dengan menggabungkan kulit, tanaman merambat dan cabang, yang dapat menopang sekitar 90 ribu kilogram. 

"Jembatan-jembatan itu sangat kuat dan menakjubkan, sehingga saat suku dari luar melihatnya, mereka akan tunduk kepada suku Inca tanpa perlawanan," ungkap Wayne Clough dalam tulisan Dal.

Diketahui, para penakluk akan menjadi ciut dan mulai berkurang pasukannya, ketika mereka menjadi merangkak karena ketakutan, melintasi jembatan tali yang bergoyang di atas ribuan meter di atas jurang di antara tebing curam, meskipun jembatan itu dapat menahan beban ribuan tentara.

Orang Spanyol awal (datang untuk menguasai Peru di era kolonial), seperti Pedro de Cieza de León, terpesona dengan jembatan Inca," lanjutnya.

Tetapi kedatangan orang-orang Spanyol memiliki efek yang menghancurkan bagi masyarakat adat setempat. Orang Eropa membawa penyakit yang menghancurkan populasi Pribumi. Komunitas lokal berkurang yang menjadikan Inca benar-benar sepi.

Ketertarikan orang Spanyol pada mineral berharga, seperti emas dan perak, juga mengalihkan upaya masyarakat adat ke kegiatan lain, seringkali meninggalkan kewajiban komunal lainnya, seperti membangun jembatan.

Hanya satu jembatan tali Inca yang mampu bertahan sampai hari ini. Jembatan itu bernama Q'eswachaka, membentang di sungai Apurimac dekat Huinchiri di Peru, sekitar tiga jam perjalanan dari Cusco, ibu kota Inca dulu.

Jembatan rumput tenunan tangan ini membentang sepanjang 120 kaki. Dibangun kembali setiap satu atau dua tahun sebagai upaya bersama melestarikan peradaban Inca, oleh semua penduduk lokal di wilayah tersebut.

Sekitar 700 pria dan wanita berkumpul di Q'eswachaka untuk pesta yang merayakan pembangunan jembatan. Pesta berlangsung selama empat hari setiap bulan Juni.

Tiga hari pertama didedikasikan untuk pembangunan jembatan, sedangkan hari terakhir – Minggu kedua di bulan Juni –menampilkan musik dan tarian khas yang juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk berjalan melintasi jembatan yang telah selesai dibangun.

Melalui sejarah Inca, dengan penuh semangat, Q'eswachaka telah mengumpulkan cukup banyak perhatian ilmiah dan media, hingga beberapa film pendek yang telah dibuat untuk mendedikasikan jembatan tersebut.


"Apresiasi global terhadap jembatan gantung di Andes sudah ada sejak lama," tulis Lidio Valdez dan Cirilo Vivanco kepada Atlas Obscura, dalam artikelnya berjudul Peru’s Incan Rope Bridges Are Hanging by a Thread, publikasi 27 September 2021.

Sampai saat ini, jembatan itu tampak seperti benang belaka, struktur yang rapuh dan bergoyang, namun masih sering dilintasi oleh manusia dan hewan, yang membawa beban di punggung mereka.

Para pelancong yang hendak melintas, menghitung waktu perjalanan mereka untuk bisa mencapai jembatan pada dini hari, sebelum angin kencang datang yang membuat jembatan bergoyang dan membahayakan diri mereka.


 Hampir tiga ratus tahun setelah orang Romawi pergi, para sarjana seperti Bede menulis tentang Angles dan Saxon serta migrasi mereka ke Kepulauan Inggris. Para sarjana dari banyak disiplin ilmu, termasuk arkeologi, sejarah, ahli bahasa, dan genetika, telah memperdebatkan apa yang mungkin dijelaskan oleh kata-katanya, dan apa skala, sifat, serta dampak migrasi manusia pada waktu itu.

Hasil genetik baru saat ini menunjukkan bahwa sekitar 75 persen populasi di Inggris Timur dan Selatan terdiri dari keluarga migran yang nenek moyangnya pasti berasal dari wilayah benua yang berbatasan dengan Laut Utara. Termasuk Belanda, Jerman, dan Denmark. Terlebih lagi, keluarga-keluarga ini kawin silang dengan populasi Inggris yang ada. Akan tetapi yang terpenting integrasi ini bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain dan dari komunitas ke komunitas.

"Dengan 278 genom kuno dari Inggris dan ratusan lainnya dari Eropa, kami sekarang memperoleh wawasan yang sangat menarik tentang skala populasi dan sejarah individu selama masa pasca-Romawi," kata Joscha Gretzinger, penulis utama studi tersebut. "Kami sekarang tidak hanya memiliki gagasan tentang skala migrasi, tetapi juga bagaimana hal itu terjadi di masyarakat dan keluarga."

Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 21 September dengan judul "The Anglo-Saxon migration and the formation of the early English gene pool."


Menggunakan data genetik yang diterbitkan dari lebih dari 4.000 orang Eropa kuno dan 10.000 orang Eropa masa kini, Gretzinger dan rekannya mengidentifikasi perbedaan genetik yang tidak kentara antara kelompok yang terkait erat yang menghuni wilayah Laut Utara kuno.

Setibanya di sana, para pendatang berbaur dengan penduduk setempat. Dalam satu kasus, di pemakaman Anglo-Saxon dari Buckland dekat Dover, para peneliti mampu merekonstruksi pohon keluarga di setidaknya empat generasi. Serta mengidentifikasi titik waktu ketika migran dan penduduk lokal menikah. Keluarga ini menunjukkan tingkat interaksi yang besar antara dua kumpulan gen. Secara keseluruhan, para peneliti menyaksikan penguburan dengan status menonjol di seluruh kuburan yang diteliti, baik yang berasal dari lokal maupun pendatang.

Tim interdisipliner yang terdiri dari lebih dari 70 penulis ini mampu mengintegrasikan data arkeologi dengan hasil genetik baru. Ini mengungkapkan bahwa wanita asal imigran lebih sering dikubur dengan artefak daripada wanita lokal. Terutama mengingat barang-barang seperti bros dan manik-manik yang ditemukan.

Menariknya, pria dengan senjata seringnya ditemukan memiliki kedua asal usul genetik yang sama. Perbedaan-perbedaan ini dimediasi secara lokal dengan penguburan terkemuka atau kuburan kaya yang terlihat di berbagai asal. Misalnya, seorang wanita yang dikubur dengan seekor sapi utuh di Cambridgeshire secara genetik bercampur, dengan mayoritas keturunan lokal.


"Kami melihat variasi yang cukup besar dalam bagaimana migrasi ini memengaruhi komunitas. Di beberapa tempat, kami melihat tanda-tanda jelas integrasi aktif antara penduduk lokal dan imigran, seperti di kasus Buckland dekat Dover, atau Oakington di Cambridgeshire.” Kata Duncan Sayer, arkeolog dari University of Central Lancashire dan penulis utama studi tersebut. “Namun dalam kasus lain, seperti Apple Down di West Sussex, kita melihat bahwa orang-orang dengan keturunan imigran dan lokal dikuburkan secara terpisah di pemakaman. Mungkin ini adalah bukti beberapa derajat pemisahan sosial di situs ini."

Dengan data baru ini, tim juga dapat mempertimbangkan dampak dari migrasi bersejarah hari ini. Khususnya orang Inggris masa kini hanya memperoleh 40 persen DNA mereka dari nenek moyang benua bersejarah ini. Sedangkan 20 hingga 40 persen profil genetik mereka kemungkinan besar berasal dari Prancis atau Belgia. Komponen genetik ini dapat dilihat pada individu arkeologi dan di kuburan dengan benda-benda Frank yang ditemukan di kuburan Abad Pertengahan awal, khususnya di Kent.

"Masih belum jelas apakah nenek moyang tambahan yang terkait dengan Zaman Besi Prancis ini terkait dengan beberapa peristiwa migrasi yang diselingi, seperti penaklukan Norman. Atau apakah itu hasil mobilitas selama berabad-abad melintasi Selat Inggris," kata Stephan Schiffels, pimpinan penulis senior studi ini. "Pekerjaan di masa depan, secara khusus menargetkan periode abad pertengahan dan nanti akan mengungkapkan sifat sinyal genetik tambahan ini.”


Proses penggalian di Kültepe, Turki masih terus berlanjut, Situs ini merupakan titik awal sejarah di Anatolia, selama penggalian ditemukan tulang rahang singa berusia 4.000 tahun. Ini merupakan pertama kalinya tulang rahang singa ditemykan di Kültepe.

Dilansir dari Arkeonews, Fikri Kulakoğlu dari Fakultas Bahasa, Sejarah-Geografi dan Arkeologi Universitas Ankara mengatakan di tahun 2021 ini mereka menemukan banyak tulang hewan dan tempat penyimpanan dari kayu berukuran besar di ruang bawah tanah sebuah bangunan di wilayah tersebut. Adapun tulang belulang hewan yang ditemukan antara lain, singa, beruang, domba gunung, rusa dan babi hutan.

“Tulang-tulang ini ditemukan dalam jumlah banyak. Semua tulang hewan ini temasuk dalam hewan yang besar dan liar,” ujar Fikri kepada Anadolu Agency.

“Untuk pertama kalinya kami menemukan dua tulang rahang singa dari dua singa yang berbeda, (tulang) beruang yang sangat besar dan tulang dari rusa besar pada masa itu di Anatolia,” lanjutnya.

Langkah berikutnya yang akan dilakukan adalah memeriksa tulang-tulang tersebut. Para ahli meyakini kalau hewan-hewan itu dibesarkan di wilayah Anatolia. Hewan-hewan tinggal di sekitar Erciyes atau di area pegunungan hingga ke Sivas.

“Tidak ada tulang singa berusia 4.000 tahun ditemukan di area lain. Memang ada tulang-tulang (singa) dari beberapa juta tahun lalu, tapi dua tulang rahang singa ini merupakan salah satu bukti keberadaan manusia paling awal,” jelasnya.

Fikri Kulakoğlu menghubungkan penemuan ini dengan salah satu kisah. Ada sebuah tablet atau lempengan yang digunakan sebagai prasasti ditemukan di Boğazköy bernama tablet Anitta.

“Menurut tablet ini seorang raja bernama Anitta merebut Nesha dengan ayahnya, dan mereka tidak menyentuh siapapun. Mereka bahkan membangun istana dan kuil. Tulang-tulang ditemukan di area istana dan kuil,” cerita Prof. Dr. Fikri Kulakoğlu.

Dalam prasasti tersebut, dituliskan pula bahwa sang raja pergi berburu. Prasasti ini sendiri diduga ditulis oleh Raja Anitta.

“(Tertulis) ‘Saya berburu dan membawa kembali lebih dari 100 hewan, termasuk dua singa, macan tutul, macan kumbang, beruang, rusa dan hewan liar’. Ini (situs penemuan) adalah area tepat di sebelah kuil,” tuturnya.

“Tentu saja kami tidak yakin sepenuhnya bahwa tulang-tulang ini terkait dengan cerita tersebut, tetapi kemungkinan besar memang demikian. Karena ada bekas luka di antara tulang binatang yang kami temukan, jadi (hewan-hewan) ini dibawa dengan berburu,” pungkas Prof. Dr. Fikri Kulakoğlu.

Masih terkait dengan tablet Anitta, seperti dikutip dari World History, teks yang tertulis di tablet tanah liat ini adalah dokumen pertama yang ditulis dalam Bahasa Het. Teks ini merupakan salinan dari teks asli yang ditulis pada masa Periode Kekaisaran Het. Anitta merupakan putra dari Pithana dan merupakan raja kota Kussara, yang lokasinya masih belum diketahui.

Kültepe yang juga dikenal dengan nama Kanesh atau Nesha merupakan situs arkeologi yang terletak di Provinsi Kayseri, Turki. Dikutip dari laman UNESCO, tempat ini merupakan ibu kota Kerajaan Kanesh kuno dan pusat jaringan kompleks koloni perdagangan Asyur pada milenia ke-dua SM.

Berada tepat di kaki Gunung Erciyes dan di dataran yang subur, Kültepe juga menjadi pusat utama budaya dan perdagangan antara Anatolia, Suriah dan Mesopotamia pada akhir milenum ke-tiga SM dan khususnya selama kuartal pertama milenium ke-dua SM. Situs Kültepe terbagi dalam dua bagian, anak bukit atas dan kota di bagian yang lebih rendah.




 


Mendengar nama lumba-lumba, hal yang terbesit pertama di pikiran kita adalah hewan yang lucu dan menggemaskan. Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, karena sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Pun, banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Namun siapa sangka, dahulu lumba-lumba adalah hewan predator yang mirip dengan paus pembunuh.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology menjelaskan bagaimana kedua jenis paus modern yakni paus bergigi (lumba-lumba dan paus balin) dan paus bungkuk mengembangkan fitur penggerak mereka seperti sirip dan ekor.

Lumba-lumba yang diberi nama latin Ankylorhiza tiedemani ini pertama kali ditemukan dalam bentuk pecahan pada akhir 1800-an, tetapi temuan baru yang hampir lengkap ditemukan pada 1990-an dan disatukan selama beberapa dekade.

Kerangka setinggi 15 kaki itu ditemukan di Carolina Selatan dan hidup sekitar 25 juta tahun yang lalu pada zaman Oligosen. Berbalik dengan lumba-lumba modern saat ini yang merupakan sahabat manusia di lautan, moyangnya justru merupakan predator puncak di masanya. Hal ini dilihat dari tengkorak, gigi, ukuran, dan moncongnya.

Dari struktur kerangkanya, para ilmuwan telah menentukan bahwa Ankylorhiza memiliki fitur postkranial yang mirip dengan tulang-tulang tubuh paus modern, yang menyiratkan bahwa habitat air yang serupa mengarah pada pengembangan adaptasi tertentu.

"Beberapa contoh termasuk penyempitan ekor, peningkatan jumlah tulang ekor dan pemendekan humerus (tulang lengan atas) pada sirip,” ujar Robert Boessenecker, penulis utama laporan tersebut dikutip dari Cnet.


“Ini tidak terlihat dalam garis keturunan anjing laut dan singa laut yang berbeda, misalnya yang berevolusi menjadi berbagai mode berenang dan memiliki kerangka postkranial yang tampak berbeda,” sambungnya.

Lumba-lumba dan paus memang saudara dekat yang merupakan bagian dari Ordo Cetacean. Sedangkan paus bergigi merupakan bagian dari Odontocetes yang merupakan turunan dari Cetacean.

Kerangka ini juga mengindikasikan Ankylorhiza kemungkinan menjadi Odontocete pertama yang memiliki kemampuan Echolocation dan bisa memburu mangsa berukuran besar maupun kecil.

"Kerangka tersebut juga menunjukkan bahwa Ankylorhiza mungkin adalah paus ekolokasi pertama yang menjadi predator puncak. Menurut para peneliti, spesies itu "sangat jelas memangsa mangsa bertubuh besar" membuka jalan bagi paus sperma pembunuh dan akhirnya orca untuk mengambil ceruk tertentu selama ribuan tahun.

Bukan hanya itu, dari kerangka tersebut menunjukkan bahwa dua jenis paus modern, melakukan banyak evolusi dari fitur yang sama secara paralel dan independen satu sama lain. Fakta ini berseberangan dengan keyakinan sebelumnya yang menyebut mereka mewarisi fitur leluhur mereka.

Spesies ini juga bisa berenang lebih cepat dari paus lainnya. Ini mengindikasikan bahwa Ankylorhiza merupakan salah satu Cetacean purba yang memegang peran ekologi seperti paus pembunuh.

"Paus dan lumba-lumba memiliki sejarah evolusi yang rumit dan panjang dan, sekilas, Anda mungkin tidak mendapatkan kesan itu dari spesies modern," kata Boessenecker.

"Catatan fosil telah benar-benar membuka jalan evolusi yang panjang dan berliku ini dan fosil seperti Ankylorhiza membantu menjelaskan bagaimana ini terjadi." tutupnya.


Penggalian arkeologi di situs permakaman sarkofagus batu Pangkung Paruk di Bali telah menyingkap temuan koleksi manik-manik kaca emas Romawi terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, dari situs tersebut juga ditemukan beberapa ornamen emas yang rumit dan dua cermin perunggu Cina Han.

Temuan sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya di Asia Tenggara. Menurut para peneliti arkeologi lintas negara yang terlibat dalam studi atas temuuan ini, artefak-artefak yang ditemukan di Bali ini memiliki kesamaan dengan artefak-artefak di Oc Eo di Vietnam, di situs lain di Delta Mekong, dan di Semenanjung Thai-Melayu.

"Analisis temuan baru ini dan perbandingannya dengan yang lain dari seluruh kawasan memberikan wawasan tentang jaringan trans-Asiatik awal hingga pertengahan abad pertama Masehi yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Asia Selatan, dunia Romawi, dan Cina," tulis para peneliti dalam laporan studi mereka yang terbit di jurnal Antiquity.

Para peneliti yang terlibat dalam studi ini berasal dari Australian National University di Australia, University College London di Inggris, German Archaeological Institute di Jerman, serta Universitas Udayana dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Indonesia.

Menurut para peneliti dalam laporan studi mereka yang bertajuk "Trans-Asiatic exchange of glass, gold and bronze: analysis of finds from the late prehistoric PangkungParuk site, Bali" itu, Situs Pangkung Paruk telah menghasilkan koleksi terbesar manik-manik kaca emas soda-natron Romawi di awal Asia Tenggara. Temuan ini menambah informasi baru yang signifikan bagi pengetahuan kita tentang penyebaran manik-manik seperti itu di awal abad pertama Masehi di seluruh Afrika dan Asia dari Mesir hingga Jepang.

"Analisis komposisi kami menunjukkan bahwa manik-manik kaca emas Pangkung Paruk diproduksi di Mesir selama abad pertama hingga keempat Masehi," tulis mereka.

Manik-manik ini cocok dengan kaca Romawi yang digali di anak benua India selatan dan di sepanjang Semenanjung Melayu. Kaitan ini sekaligus mengkonfirmasikan rute maritim selatan dari Samudra Hindia bagian barat ke Asia Tenggara.

"Analisis manik-manik kaca Pangkung Paruk lainnya lebih lanjut mendokumentasikan kontak dengan Daratan Asia Tenggara bagian selatan dan anak benua India bagian selatan," tulis mereka.

Adapun sumber geologi untuk emas yang dipakai untuk membuat benda-benda kuno tersebut, menurut para peneliti, sulit untuk diidentifikasi karena kemungkinan adanya beberapa peristiwa peleburan dan pembentukan kembali dan kesenjangan dalam pengetahuan geologi kita.


"Studi komposisi komparatif kami tentang emas yang digali di seluruh Asia Tenggara, bagaimanapun, memberikan data penting untuk mendukung atau menyangkal analisis gaya dan teknologi mengenai asal-usul emas impor," tulis mereka.

Lebih lanjut, menurut para peneliti, jejak isotop timbal dari perunggu bertimbal yang ditemukan di Bali tersebut cocok dengan jejak dari Vietnam tengah dan Laos. Jejak ini mungkin dapat ditelusuri ke sumber tembaga Sepon di Laos.

Pada akhirnya, data gabungan dari Pangkung Paruk, Sembiran, dan Pacung memperkuat kesinambungan peran strategis Bali utara dalam pertukaran trans-Asia dari abad kedua Sebelum Masehi. Pertautan budaya ini berlanjut hingga awal dan pertengahan milenium pertama Masehi. Inilah yang menjadi bagian kesimpulan para peneliti dalam studi.

"Data ini memperkaya pemahaman kita tentang jaringan maritim awal yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Asia Selatan, dunia Romawi dan Cina. Secara khusus, persamaan untuk artefak impor Pangkung Paruk di Oc Eo dan situs lain di Delta Mekong dan di Semenanjung Thai-Melayu menggarisbawahi pentingnya kontak antara daerah persimpangan utama ini."

"Kami berpendapat bahwa Bali dan Vietnam selatan mungkin juga telah terhubung sepanjang rute utara-selatan melewati Kalimantan barat laut, serta melalui rute yang lebih dipahami dari Semenanjung Thai-Melayu ke Indonesia," simpul mereka.