Sejak tahun 2006 silam, Pluto telah kehilangan gelarnya sebagai planet di dalam Tata Surya (Solar System) kita dan dikategorikan sebagai “planet katai” atau benda langit berukuran lebih kecil dari planet.

Mengingat hingga kini tidak ada planet besar lain di Tata Surya yang lebih jauh selain planet katai Pluto, maka ilmuwan dunia memutuskan Tata Surya kita hanya mempunyai 8 planet saja. Maka planet Neptunus pun dinobatkan sebagai planet terluar.

Namun, hal itu sepertinya bakal berubah. Usut punya usut, ahli astronomi dari Universitas Cambridge dan Universitas Madrid telah menemukan tanda-tanda dari keberadaan planet lain, di luar Pluto.

Semua itu berawal saat ilmuwan mengetahui pola gerakan aneh pada planet-planet kerdil di sekitar Pluto yang biasa disebut ‘ETNO’. Lintasan planet ETNO baru-baru ini diketahui mempunyai kecenderungan untuk berubah-ubah, layaknya terkena gaya gravitasi sebuah planet besar.

Two Planets behind Pluto

Dua Planet Besar misterius dibelakang Pluto,

“Dari perubahan orbit (lintasan) planet ETNO yang tidak diperkirakan sebelumnya itu, membuat kami yakin ada dorongan dari benda langit lain. Dorongan itu juga mengubah susunan planet ETNO,” ujar Carlos de la Fuente Marcos, ahli astronomi dari Universitas Madrid, (15/01/2015).

Dr. Marcos pun menduga sumber dorongan dahsyat itu berasal dari planet misterius. Bahkan, dia mengatakan bila setidaknya ada lebih dari satu planet misterius yang mampu menyebabkan planet-planet kerdil ETNO berubah lintasannya!

“Jumlah pastinya belum pasti mengingat data masih terbatas, namun perhitungan kami menunjukkan setidaknya ada dua planet baru bahkan lebih di Tata Surya kita,” tambah Dr. Marcos.

new solar system outer planet-X

New view of the Outer Solar System.

Sebelumnya, ilmuwan memang mempunyai teori bila tidak ada planet yang mampu mempunyai lintasan melingkar di luar planet Neptunus. Lintasan melingkar dikenal sebagai salah satu tanda bahwa planet tersebut mengelilingi matahari dan menjadi bagian Tata Surya kita.

Akan tetapi, kemudian ditemukanlah Pluto yang berhasil membantah teori itu. Meski akhirnya Pluto sendiri dinyatakan tidak lagi memenuhi ‘syarat’ sebagai sebuah planet karena ukurannya terlalu kecil.

Planet-X, Nibiru dan Harcobulus

Bila prediksi ilmuwan akan adanya dua planet lain yang berada dalam Tata Surya kita tenyata benar, sekali lagi teori tak adanya planet besar dibelakang Puto akan terbantahkan. Selain itu, penemuan itu juga akan merubah susunan planet yang ada di Tata Surya saat ini, bukan lagi 8 planet namun 10 planet.

Tapi itu pun harus dapat dilihat dulu sebesar apa ukuran planetnya. Apakah keberadaan planet misterius ini yang membuat konspirasi selama ini, mengenai sebuah planet yang tak bernama, lalu dinamakan sebagai “Planet-X”? Banyak konspirasi hingga penamaan Planet-X ini, dan menyebutkannya sebagai Planet Nibiru atau Planet Anunnaki atau Planet Harcobulus.

Entah apa planet-planet itu berbeda atau hanya satu, namun yang jelas banyak peneliti, ilmuwan, astronomis hingga saintis yang menduga bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa keberadaan “Planet Besar” itu bisa jadi memang ada.

Planet-X Nibiru effect

Planet-X Nibiru effect

Bagi ilmuwan, Planet-X memang banyak menuai kontroversi dan konspirasi selama ini. Planet misterius ini disinyalir memiliki lintasan sangat elips bagaikan lintasan komet. Oleh karenanya, maka ia butuh ribuan tahun untuk kembali lagi mendekati matahari lalu mengelilinginya dan kemudian kembali menjauh.

Planet-X inilah yang dituduh dapat menyebabkan “kiamat kecil” karena terancamnya planet-planet lain di Tata Surya akibat ukurannya yang sangat besar maka gravitasinya juga sangat besar.

Gravitasinya dapat “merusak” jalur planet lain bahkan lintasan dan atmosfir hingga gravitasi planet-planet lain termasuk Bumi jika Planet-X masuk dari luar Pluto untuk kembali lagi mendekati Matahari, setelah ribuan tahun ia menjauh. Mungkinkah dorongan-dorongan gravitasi yang mengubah susunan planet ETNO adalah akibat dari keberadaan Planet-X? Jika benar, selamat datang hari kiamat. (Daily Mail).


 

 Tulisan ini adalah permintaan dari beberapa orang yang meminta saya untuk menulis tentang reaktor nuklir zaman purba. Seperti yang kita ketahui, di internet beredar kisah-kisah mengenai adanya ledakan nuklir zaman purba yang masih menjadi teka-teki. Bukti-bukti dimunculkan, dari sebuah pertambangan di Oklo, kota mati di Mohenjo Daro dan Harappa hingga ke sebuah kawah raksasa di Bombay. Tapi apakah ledakan nuklir zaman purba benar-benar ada ?


Mungkin beberapa dari anda sudah pernah membaca kisah ini sebelumnya. Bagi yang belum, mungkin akan menjadi sedikit membingungkan. Kisahnya begini :

Dikisahkan bahwa para arkeolog menemukan bukti-bukti bahwa pernah terjadi perang nuklir di zaman purba. Jadi, teknologi nuklir sebenarnya sudah dikenal oleh nenek moyang kita. Benarkah demikian ? Beberapa sumber di internet mengutip sebuah paragraf dari kitab yang diklaim sebagai bagian dari kutipan Mahabharata untuk membuktikan adanya perang nuklir pada zaman purba. Namun, masalahnya satu, sebagian besar kisah yang anda baca di internet adalah hoax !

Saya mengatakan "sebagian besar hoax" karena memang tidak semuanya hoax. Saya akan menunjukkan kepada anda yang mana hoax dan yang bukan.

PERBEDAAN REAKTOR DAN LEDAKAN NUKLIR

Pertama, kisah ini harus dibagi menjadi dua bagian, yaitu REAKTOR NUKLIR purba dan LEDAKAN NUKLIR purba. Banyak orang tidak mengetahui perbedaan ini sehingga mereka mencampuradukkan kisah reaktor nuklir purba dengan ledakan nuklir purba.

REAKTOR NUKLIR adalah sebuah fasilitas atau alat dimana reaksi berantai nuklir diinisiasi, dikendalikan dan ditahan dalam kondisi tetap. Sedangkan LEDAKAN NUKLIR adalah sebuah reaksi berantai yang tidak terkontrol yang berasal dari bom nuklir. Jadi sebuah REAKTOR nuklir dapat digunakan untuk menghasilkan BOM nuklir yang dapat menjadi LEDAKAN nuklir. Sangat berbeda kan ?

Nah, untuk mempermudahnya, saya akan mengatakannya begini, Kisah REAKTOR NUKLIR purba, benar adanya. Kisah LEDAKAN NUKLIR purba adalah hoax.

REAKTOR NUKLIR PURBA

Kisah Reaktor nuklir zaman purba bermula pada tahun 1972. Saat itu, di fasilitas pengolahan bahan bakar nuklir Pierrelatte, Ilmuwan Perancis bernama Bougzigues sedang bekerja melakukan analisa rutin terhadap uranium yang telah diekstrak dari biji uranium. kemudian ia menyadari sesuatu yang aneh dari biji uranium yang ditelitinya.

Uranium memiliki tiga isotop yang memiliki massa atom yang berbeda dengan proporsi yang berbeda, yaitu : U 238 sebanyak 99.274%, U 235 sebanyak 0.720% dan U 234 sebanyak 0.005%.

Uranium 235 adalah uranium yang paling dicari diseluruh dunia karena kemampuannya menahan reaksi nuklir dan uranium inilah yang dipakai di reaktor nuklir modern. Dimanapun di bumi ini, atom uranium 235 membentuk 0,720 persen dari total uranium. Namun sampel yang dipegang olehnya hanya memiliki 0,717 persen. Ini menunjukkan bahwa sampel uranium ini pernah mengalami reaksi pelepasan energi (reaksi fisi). Badan tenaga atom Perancis segera bergerak untuk menyelidiki penyebabnya. Sampel itu dilacak hingga ke sebuah pertambangan di Oklo, Gabon, Afrika. Para ilmuwan bergegas ke Oklo. Penelitian lanjutan yang dilakukan menemukan ada enam belas lokasi yang berfungsi sama seperti reaktor nuklir modern dan reaktor purba itu diperkirakan berumur 2 milyar tahun.

Bagaimana Oklo bisa berfungsi seperti reaktor nuklir purba ? Badan tenaga atom Perancis berusaha mencari jawabannya. Dan kemudian mereka mendapatkan jawabannya dari sebuah tulisan tahun 1956 yang dibuat oleh Paul Kazuo Kuroda, seorang ahli kimia dari universitas Arkansas. Kuroda mengatakan apabila jumlah U235 cukup banyak dan ada moderator neutron seperti aliran air tanah, maka reaktor nuklir alami bisa terjadi. Kondisi pertambangan Oklo menyerupai apa yang diprediksi Kuroda.

Misteri reaktor nuklir purba sebenarnya telah terjawab secara ilmiah oleh Paul Kuroda, jadi faktor misterinya boleh dibilang hampir lenyap.

LEDAKAN NUKLIR PURBA

Sekarang kita akan melihat kisah LEDAKAN NUKLIR purba yang adalah hoax. Kisah ini sering digabungkan dengan reaktor Oklo karena ketidaktahuan mengenai perbedaan antara reaktor dengan ledakan nuklir. Kita mulai dari hoax pertama.

Hoax Pertama
Di internet, beredar paragraf yang diakui berasal dari kitab Mahabharata yang dikatakan mendeskripsikan dan membuktikan adanya perang (ledakan) nuklir di zaman purba. Saya menemukan paragraf ini dikutip banyak web atau blog yang membahas reaktor nuklir purba. Saya menerjemahkannya dan inilah bunyi paragraf itu :

"Gurkha, menerbangkan vimana (pesawat) yang kuat dan cepat melontarkan sebuah proyektil (rudal) yang diisi dengan kekuatan alam semesta (nuklir). pijaran tiang api dan asap sama terangnya dengan cahaya 10.000 matahari bangkit dengan seluruh kemegahannya. Itu adalah senjata yang tidak dikenal, sebuah petir besi, raksasa pembawa pesan kematian yang menjadikan seluruh suku Vrishnis dan Andhakas menjadi abu. Mayat-mayat menjadi begitu hangus hingga tidak dapat dikenali lagi. Rambut dan kuku berjatuhan, keramik tanah liat pecah tanpa sebab yang jelas dan burung-burung berubah menjadi putih...setelah beberapa jam, semua bahan makanan tercemar (radiasi)...untuk menyelamatkan diri dari api ini, para tentara melompat kedalam arus air untuk membersihkan diri mereka dan peralatannya. (Mahabharata - 6.500 SM? )

Nah, masalahnya adalah kitab Mahabharata tidak pernah memuat paragraf itu di dalamnya. Anda boleh mencarinya di internet lewat google.

Hoax kedua - Mohenjodaro, Harappa dan Rajashtan
Disebut bahwa di kota Mohenjodaro dan Harappa, para ilmuwan menemukan kota-kota kuno dengan kerangka yang berserakan di jalan-jalan, kebanyakan terlihat berpegangan tangan dijalan-jalan, ini menunjukkan kematian mendatangi mereka dengan tiba-tiba. Dan umur kerangka ini ribuan tahun. Dan kerangka-kerangka ini memiliki kadar radioaktif tinggi yang sama dengan korban bom Hiroshima Nagasaki.

Sedangkan di Rajasthan disebut bahwa telah ditemukan lapisan debu radioaktif yang meliputi area seluas tiga mil persegi di sepuluh mil sebelah barat Jodhpur. Penelitian yang menemukan Radioaktif ini dilakukan setelah para peneliti melihat adanya tingkat cacat yang tinggi pada bayi yang baru lahir di wilayah itu dan banyaknya penduduk lokal yang menderita kanker. Level radiasi di tempat itu sangat tinggi sehingga peneliti meminta pemerintah india mengisolasi wilayah itu.

Jika anda menelusuri website-website pemerintah atau website swasta di mohenjodaro, Harappa dan Rajashtan, tidak ada satupun yang pernah menyebut adanya penemuan-penemuan kerangka tersebut. Website-website arkeologi juga tidak pernah menyebut hasil penemuan ini. Kisah "penemuan" ini hanya beredar di website di luar India. Bahkan orang-orang India yang tinggal di wilayah Jodhpur mengaku bahwa ia tidak pernah tahu ada penemuan-penemuan itu. Memang ada beberapa tempat di India yang mengandung radiasi, namun itu adalah akibat percobaan nuklir India di masa modern ini. Seorang India pernah menulis bahwa kisah-kisah ledakan ini tidak layak beredar di India.

Hoax ketiga - kawah raksasa Bombay
Disebut bahwa kawah raksasa di Bombay yang bernama kawah Lonar adalah bukti ledakan nuklir purba. Kawah itu terbentuk dari lapisan batu basalt setebal 600-700 meter. Diameter kawah itu sekitar 2.154 meter dan dalamnya sekitar 150 meter, berlokasi di sekitar 400 kilometer timur laut Bombay. Kawah tersebut diperkirakan berumur 50.000 tahun

Belakangan, para ilmuwan menemukan bahwa kawah itu diakibatkan oleh sebuah komet, bukan ledakan nuklir. (Sebenarnya ini tidak bisa disebut hoax, karena kawah tersebut memang ada, tapi saya memasukkannya untuk mempermudah pembahasan).

KESIMPULAN

REAKTOR NUKLIR purba memang ada dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Sedangkan LEDAKAN NUKLIR purba adalah hoax yang beredar di internet entah untuk tujuan apa. Oh ya, satu lagi, jika anda mencari di wikipedia dengan kata kunci "natural nuclear fission reactor" maka anda akan menemukan kisah tentang oklo, tapi tidak tentang mohenjo Daro dan kawan-kawan. Wikipedia is right !!!!

(twitscope.wordpress.com)

 

Ditemukan Planet Dengan 1/3 Bagiannya Penuh Dengan Intan dan Berlian!!

Sebuah planet penuh “harta karun” telah ditemukan oleh sebuah tim peneliti dari AS dan Perancis. Planet baru itu berukuran dua kali lebih besar dari Bumi dan sebagian besar planet ini terdiri dari berlian, maka para astronom menjulukinya sebagai “Diamond Planet” atau Planet Berlian.

Planet yang diberi nama 55 Cancri-e, dikategorikan sebagai “Bumi Besar” (super-Earth), karena memiliki radius dua kali lipat dari Bumi dan delapan kali lebih berat dari Bumi dan mengorbit bintang bernama 55 Cancri.

Kenapa planet ini memakai huruf “e” , karena planet ini merupakan planet ke-5 dari planet terdekat dengan mataharinya. Jika suatu bintang memiliki planet terdekat maka akan diberi nama sesuai nama bintang tersebut, namun ditambah dengan huruf “a” , dan planet kedua akan diberi inisial “b” lalu “c” dan begitu seterusnya.

Planet 55 Cancri-e adalah satu dari lima planet yang mengorbit pada bintang seperti matahari, bernama 55 Cancri di gugus bintang Cancer dan mengorbit sangat cepat hanya dalam waktu 18 jam, jauh lebih cepat dari Bumi yang mengorbit Matahari dalam waktu 365 hari.

Ilustrasi artis menunjukkan Planet 55 Cancri-e yang kaya berlian. Planet 55 Cancri-e adalah planet kelima yang mengorbit bintang 55 Cancri.

Planet ini diyakini memiliki kepadatan yang sama dengan Bumi. Padahal, sebelumnya, planet dengan kandungan berlian yang besar dianggap lebih padat ketimbang Bumi. Akan tetapi, suhu planet ini luar biasa panas dengan temperatur permukaannya mencapai 1.648 derajat Celsius dan tak mungkin dapat ditinggali manusia.

“Permukaan planet ini terdiri atas grafit dan berlian, bukan air dan granit,” kata peneliti asal Universitas Yale, AS, Nikku Madhusudhan.

Studi yang dilakukan Madhusudhan dan Olivier Mousis dari Institut Penelitian Astrofisikan dan Planetologi, Toulouse, Perancis, itu menyimpulkan sepertiga massa planet itu adalah berlian. Sepertiga massa planet ini setara dengan tiga massa Bumi.

Planet-planet berlian sudah pernah terlihat sebelumnya pada 2004, tetapi inilah kali pertama sebuah planet berlian mengelilingi bintang semacam matahari dan diteliti lebih detail.

“Ini adalah penelitian pertama kami terhadap sebuah planet berbatu yang pada dasarnya memiliki struktur berbeda dengan Bumi,” ungkap Madhusudhan.

Madhusudhan melanjutkan penemuan planet yang kaya karbon berarti planet-planet karang yang jauh tak bisa lagi diasumsikan memiliki kandungan kimia, interior, atmosfer, atau kandungan biologi yang mirip Bumi.

Lokasi bintang 55 Cancri, bisa dilihat dengan mata telanjang di konstelasi Cancer.

Penelitian menunjukkan, planet itu tak punya kandungan air sama sekali, mayoritas komposisinya adalah karbon (berlian dan grafit), besi, silikon karbida, dan mungkin, sejumlah silikat.

“Sebaliknya interior Bumi kaya oksigen, namun miskin karbon, kurang dari seperseribu massanya,” kata penulis lain, ahli geofisika dari Yale, Kanani Lee.

Planet ini kali pertama diobservasi saat mengorbit ke bintangnya tahun lalu, memungkinkan para astronom untuk mengukur radiusnya untuk pertama kali.

Informasi tersebut, dikombinasikan dengan estimasi massanya memungkinkan Madhusudhan dan timnya memperkirakan susunan kimianya.

Sementara itu, pakar astronomi Universitas Princeton, David Spergel, mengatakan, penelitian atas struktur dasar dan sejarah sebuah planet menjadi mudah jika massa dan usia planet itu diketahui.

“Planet-planet ini jauh lebih rumit. Planet berlian ini adalah salah satu contoh kekayaan alam semesta yang sewaktu-waktu bisa ditemukan saat kita mengeksplorasi planet-planet di sekitar bintang terdekat,” kata Spergel.

Kata-kata “dekat” adalah konsep yang sangat relatif dalam astronomi. Sebagai contoh, planet baru ini berjarak 40 tahun cahaya atau sekitar 230 triliun mil dari Bumi. Namun bintangnya 55 Cancri, bisa terlihat dengan mata telanjang di konstelasi Cancer. Akan lebih baik lagi jika dilihat menggunakan teropong atau teleskop.

Sementara, David Spergel, profesor astronomi ketua ilmu astrofisika di Princeton University mengatakan, “Bumi Super yang kaya berlian itu adalah salah satu contoh temuan ‘harta’ yang menanti kita saat kita memulai eksplorasi planet di bintang-bintang terdekat.”





Sebelum tutup usia, fisikawan Stephen Hawking telah menulis sebuah makalah studi terakhir. Stephen Hawking meninggalkan sebuah warisan terakhir yang berguna bagi para ilmuan lain.

Dua minggu sebelum kematiannya, Stephen Hawking menyerahkan sebuah makalah penelitian yang membahas tentang bagaimana kita bisa mendeteksi alam semesta paralel dan mengungkapkan bagaimana mendeteksi bukti dari hipotesis ‘multiverse‘ tersebut dan memprediksi akhir dari dunia kita.

Multiverse atau “Multiversum” atau “meta-universum” adalah hipotesis berupa kemungkinan adanya beberapa kumpulan alam semesta termasuk alam semesta tempat kita tinggal. Bersama-sama, alam semesta ini terdiri dari segala sesuatu yang ada: keseluruhan ruang, waktu, materi, energi dan hukum fisika serta konstanta yang menggambarkannya.

Atau singkatnya, bahwa alam semesta kita tak hanya satu dari banyak lainnya diluar sana yang disebabkan oleh ledakan dahsyat atau ‘Big Bang’. Alam semesta lain yang bermacam-macam di dalam multiversum disebut juga sebagai “alam semesta paralel”, “alam semesta lain” atau “alam semesta alternatif”.

Multiverse atau “Multiversum” atau “meta-universum” adalah hipotesis berupa kemungkinan adanya beberapa kumpulan alam semesta termasuk alam semesta tempat kita tinggal.

Sedangkan hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut.

Makalah tersebut membahas gagasan bahwa kita dapat mengukur alam semesta lainnya dengan menggunakan detektor pada pesawat ruang angkasa.

Jika bukti ini ditemukan selama masa hidup Hawking, mungkin ia telah meraih hadiah Nobel, sesuatu yang tidak pernah dapat ia capai. Makalah studi tersebut disusun Profesor Hawking bersama dengan Thomas Hertog, fisikawan dari Universitas Leuven di Belgia.

Thomas Hertog, yang turut menulis makalah bersama Stephen Hawking, berjudul ‘A Smooth Exit from Eternal Inflation?’ mengatakan kepada Sunday Times, “Dia sering dinominasikan untuk Nobel dan seharusnya memenangkannya. Sekarang dia tidak pernah akan bisa.”

Makalah tersebut telah diserahkan untuk publikasi, dan saat ini sedang dikaji oleh sekelompok ilmuwan lain. Anda dapat mengunduhnya dalam format PDF dibawah artikel ini.

Makalah ini menggali gagasan bahwa kita hidup dalam lingkungan multiverse, yang menyatakan bahwa alam semesta kita hanyalah salah satu dari banyak alam semesta lain. Penjelasan pada makalah studi ini juga menunjukkan bahwa jejak keberadaan alam semesta lain dapat terdeteksi pada radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3c/Ilc_9yr_moll4096.png/640px-Ilc_9yr_moll4096.png

Inilah “Cosmic Web” yang terlihat seperti “saraf otak” karena saling berhubungan,. Cosmic web ini terdiri dari jutaan galaksi, dimana tiap galaksi yang terdiri dari kumpulan bintang yang berjumlah milyaran, hanyalah setitik noktah dalam peta “Cosmic web” ini. (wikimedia).

Sekadar mengingat kembali, dalam kosmologi, radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis sendiri merupakan sebuah radiasi termal yang mengisi alam semesta teramati hampir secara seragam. Radiasi ini dijelaskan sebagai radiasi yang tersisa dari tahap awal perkembangan alam semesta.

Saat alam semesta masih muda, sebelum pembentukan bintang dan planet, alam semesta berukuran lebih kecil, lebih panas, dan terisi dengan nyala seragam dari kabut plasma hidrogen putih-panas. Begitu alam semesta mengembang, plasma dan radiasi yang mengisinya mendingin.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/be/Thomas_Hertog_1.jpg/320px-Thomas_Hertog_1.jpg

Thomas Hertog. (wikimedia).

Saat alam semesta sudah cukup dingin, proton dan elektron dapat membentuk atom netral.

Atom tersebut tak lagi dapat menyerap radiasi termal, dan alam semesta menjadi transparan daripada berkabut.

Kosmolog menyebut masa pembentukan atom netral pertama sebagai masa rekombinasi.

Sementara itu sebuah kertas berisi penelitian Hawking pada tahun 1983 yang disusun dengan James Hartle, menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk.

Teori tersebut juga menjelaskan bahwa ‘Big Bang’ juga menciptakan jumlah alam semesta yang tak terbatas.

Ledakan masing-masing menghasilkan alam semesta mereka sendiri. Teori inflasi ini, yaitu bahwa alam semesta berkembang secara eksponensial sebelum mendekati ekspansi yang lebih lambat, tidak mungkin untuk diuji.

“Ini adalah teori tentang Big Bang. Sebuah versi revisi dari model Big Bang ‘tanpa batas’ yang digagas Hawking dan rekannya, James Hartle, pada tahun 1983,” kata Hertog seperti dilansir IFLScience. Teori itu menunjukkan Big Bang alam semesta kita berdampingan dengan Big Bang dari alam semesta lainnya.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f4/Earth%27s_Location_in_the_Universe.jpg/640px-Earth%27s_Location_in_the_Universe.jpg

Earth Location in the Universe

Multiverse universe

“Secara bertahap kami menyadari bahwa model tersebut tidak menggambarkan adanya satu alam semesta, melainkan ada banyak alam semesta,” kata Hertog. “Ahli kosmologi menyebutnya multiverse, kumpulan alam semesta secara paralel.”

“Hawking tidak puas dengan kenyataan yang ada saat ini. ‘Mari kita coba mengkaji multiverse’, katanya pada saya setahun yang lalu. Jadi, kami sejak saat itu mulai mencoba mengembangkan metode untuk mengubah gagasan multiverse menjadi kerangka ilmiah yang dapat diuji secara koheren.”

Menurut makalah mereka, kita mungkin saja bisa mendeteksi sisa-sisa Big Bang dari alam semesta lainnya dalam gelombang gravitasi yang dipancarkan dari Big Bang.

Stephen Hawking and his daughter, Lucy Hawking (2008).

Sementara gagasan tentang multiverse masih hangat diperdebatkan, model penelitian Hawking dan Hertog menunjukkan bahwa kita dapat menemukan bukti kuat untuk keberadaan alam semesta lainnya di lingkungan kita sendiri.

Makalah ini masih ditinjau ulang, jadi kami belum bisa menganalisisnya. Ini termasuk prediksi radiasi Hawking, informasi yang bisa dipancarkan oleh Lubanghitam atau Blackhole.

Bukunya, A Brief History of Time, masih menjadi salah satu buku sains paling populer sepanjang masa. Bahkan setelah kematiannya, dia masih membuat “gelombang” dalam dunia sains seperti penelitian multiverse ini.

Ya, penelitian terhadap alam semesta memang selalu menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dikaji. Sudah menjadi takdir manusia untuk selalu mencari tahu. Hertog mengklaim bahwa dia dan Hawking ingin mengambil gagasan tentang multiverse dan mengubahnya menjadi kerangka ilmiah yang dapat diuji.

Penelitian juga menunjukkan bahwa keberadaan Bumi akan memudar ke dalam kegelapan saat bintang kita, yaitu Matahari, kehabisan energi. Gagasan Bumi menjadi gelap tetap kontroversial dengan ahli kosmologi, termasuk Profesor Neil Turok, direktur Institut Perimeter Kanada.

Gambar animasi alam semesta yang terdiri dari milyaran bintang, yang sebagian diantaranya terdapat planet-plenet yang mengorbitinya.

Namun disisi lain beberapa ilmuwan telah menyimpulkan bahwa karya Hawking bisa menjadi terobosan yang dibutuhkan untuk kosmologi. Penelitian tersebut dikatakan sebagai terobosan, karena penelitian itu adalah teori pertama yang bisa diuji.

Carlos Frenk, profesor kosmologi, sepakat bahwa sebelumnya tidak mungkin untuk mengukur alam semesta lainnya. Dia berkata, “Gagasan yang menarik dari Hawking adalah bahwa multiverse meninggalkan jejaknya pada radiasi latar yang menembus alam semesta kita dan kita dapat mengukurnya dengan detektor pada pesawat ruang angkasa”. Frenk berpendapat bahwa menemukan bukti alam semesta lainnya benar-benar dapat mengubah persepsi kita tentang tempat kita di alam semesta.

Profesor Hawking meninggal pada tanggal 14 Maret 2018 pada usia 76 tahun. Dia telah berjuang melawan penyakit neuron motorik (MND) seumur hidupnya, tetapi secara aktif terus menerbitkan sejumlah makalah ilmiah yang inovatif, seperti Theory of Everything dan termasuk A Smooth Exit from Eternal Inflation ini. (IndoCropCircles.com.


 Di sebuah dermaga eksekusi London, privateer (sebutan bajak laut yang bekerja untuk negara), William Kidd, yang dikenal sebagai Kapten Kidd, digantung karena pembajakan dan pembunuhan.

Kidd lahir di Dundee, Skotlandia pada 1645 dan sudah melaut pada usia muda. Pada 1680-an, ia menjadi prajurit yang disegani setelah bekerja dengan bermacam-macam kru bajak laut.

Kemudian, Kidd berlayar ke Amerika untuk memulai kehidupan baru di New York. Di sana ia bertemu dan menikahi seorang janda kaya. Ketika ketegangan antara Inggris dan Prancis berubah menjadi perang penuh, Kidd ditugaskan untuk melindungi melindungi kapal-kapal Inggris di Karibia dari serangan Prancis.

Pembajakan di era itu sering digunakan untuk urusan gelap. Banyak negara-negara yang mempekerjakan privateer seperti Kidd untuk melindungi investasi mereka. Seorang privateer juga dapat menuai hadiah dari rampasan yang disita dari kapal-kapal musuh, menurut laman Biography.

Pada 1695, Kidd kembali ke Inggris untuk menerima komisi kerajaan sebagai privateer. Di sana, dia berteman dengan Lord Bellomont. Di bawah arahan Bellomont dan dukungan keuangan, Kidd disewa untuk membuat jalan menuju Hindia Barat dengan kru untuk menyerang kapal Prancis dan kapal bajak laut. Hasil rampasan yang disita akan dibagi antara Kidd, anak buahnya, dan penyokongnya. Pada Mei 1696, Kidd berlayar dengan kapal Adventure Galley.

Sejumlah kru Kidd meninggal karena sakit. Saat ia menemukan beberapa kapal Prancis untuk diserang, Kidd justru menghadapi tekanan dari kru yang letih dan frustrasi saat pelayaran.

Pada Januari 1698, dia melihat sebuah kapal bernama Quedagh Merchant yang sedang memutari ujung India lalu menyerangnya.

Quedagh Merchant bukanlah kapal biasa. Kapal Armenia seberat 500 ton itu membawa harta karun seperti emas, sutra, rempah-rempah, dan kekayaan lain yang sebagian dimiliki oleh seorang menteri di istana Moghul Besar India.

Menteri memiliki koneksi yang kuat, dan ketika berita tentang serangan Kidd sampai kepadanya, dia mengeluh kepada East India Company. Sebuah perusahaan perdagangan Inggris yang besar dan berpengaruh. Ditambah dengan persepsi pergeseran pembajakan oleh banyak pemerintah. Akibatnya Kidd dengan cepat menjadi penjahat yang paling dicari.

Setelah meninggalkan Adventure Galley dan membajak Quedagh Merchant, Kidd berlayar dengan kapal barunya ke Karibia dan akhirnya pergi ke kapal yang lebih kecil di Boston, New York untuk membersihkan namanya. Ia mengklaim bahwa kapal yang ia serang adalah hadiah yang sah. Namun ia ditangkap dan akhirnya dikirim kembali ke London. 

Kabar penangkapan Kidd atas pembajakan itu membangkitkan kontorversi yang signifikan di Inggris karena Kidd adalah privateer Inggris. 

Kecurigaan terhadapnya dikonfirmasi setelah Kidd berlayar ke St. Mary's di Madagaskar pada 1697 yang terkenal sebagai surganya bajak laut. Sebelum ia melanjutkan perjalanan ke Hindia Barat dan bertemu Quedagh Merchant.


Pada 8 Mei 1701, Kidd mejalani pengadilan. Kejahatannya dan koneksi dengan elit Inggris dan pejabat pemerintah menyebabkan sensasi.  Dia dinyatakan bersalah dan digantung pada 23 Mei 1701 atas lima tuduhan pembajakan dan satu tuduhan pembunuhan awak kapal.

Tubuhnya digantung di sangkar dan dibiarkan membusuk di sepanjang Sungai Thames agar semua orang bisa melihat dan menjadi peringatan kepada bajak laut lainya. 

Kematian Kidd meninggalkan sebuah legenda lantaran ia menyimpan harta karun di Karibia. Akibatnya, para pemburu harta karun berusaha untuk mencarinya. Walaupun tidak ada yang pernah menemukanya.


Para ahli melakukan penelitian insentif terhadap jejak dinosaurus di wilayah South Wales, Inggris, yang ditemukan beberapa waktu silam. Hasilnya, para ilmuwan meyakini usia jejak binatang purba itu mencapai 200 juta tahun. Ahli paleontologi Museum Sejarah Alam percaya bahwa jejak kaki, ditinggalkan oleh sauropoda yang sangat awal atau prosauropoda yang berasal dari periode Trias. Mengutip laman SkyNews, Minggu (2/1/2022), jejak dinosaurus itu ditemukan di sebuah pantai di Penarth, Vale of Glamorgan, pada tahun 2020 oleh paleontolog amatir Kerry Rees yang melaporkan temuan itu ke Natural History Museum.

Awalnya pihak museum skeptis terhadap laporan tersebut, Dr Susannah Maidment dan Profesor Paul Barrett melakukan penyelidikan dan sekarang percaya bahwa jejak kaki itu berasal dari kerabat awal dinosaurus. "Kami mendapat banyak laporan dari masyarakat tentang hal yang dinilai adalah jejak masa silam, tetapi banyak di antaranya hanya profil biologi yang dengan mudah hanya kelihatannya saja seperti jejak kaki," kata sang profesor. Namun dari foto yang dikirimkan oleh penemunya, ia memutuskan untuk memeriksanya karena tampak cukup meyakinkan. Benar saja bahwa itu merupakan jejak dinosaurus , bekas jari kaki memang tidak terlihat jelas dalam foto yang biasanya merupakan tanda jejak kaki hewan. Ahli paleontologi sekarang percaya bahwa jejak tersebut adalah contoh eosauropus, yang merupakan jenis jejak yang diperkirakan dibuat oleh sauropoda atau kerabat dekat sauropoda, kelompok dinosaurus yang kemudian termasuk diplodocus yang terkenal.

"Kami tahu sauropoda awal hidup di Inggris pada saat itu, karena tulang camelotia, sauropoda yang sangat awal, telah ditemukan di Somerset di bebatuan yang berasal dari periode yang sama," ujar Dr Maidment.

Kendati demikian, ia belum tahu apakah spesies ini adalah pembuat jejak, tetapi itu adalah petunjuk lain yang menunjukkan sesuatu asal dari pembuat jejak ini. Jejak dinosaurus dapat digunakan untuk mengungkap banyak informasi perilaku tentang seekor hewan, serta memberikan data tentang bagaimana mereka berjalan dan gerakan mereka dalam kelompoknya.
 

Posted by BaronNight On 2:43 AM 0 comments


Israel Klaim Temukan Reruntuhan Istana Nabi Daud

Dua bangunan yang ditemukan dalam penggalian oleh arkeolog Yerusalem, diduga merupakan sisa reruntuhan istana raja tersohor dalam sejarah Islam, Kristen, dan Yahudi, yaitu Raja David atau Daud yang juga merupakan Nabi.
Kesimpulan itu muncul setelah para arkeolog melakukan penggalian di situs yang mereka yakini sebagai benteng Kota Yudea di Shaaraim pada 2013. Shaaraim, yang kini lebih dikenal dengan nama Khirbet Qeiyafa, adalah lokasi yang dipercaya menjadi tempat Daud mengalahkan Goliath, seperti yang dikisahkan dalam Alkitab.

Dikutip dari National Geographic, Minggu (14/11/2021) Khirbet Qeiyafa adalah situs kota benteng kuno yang menghadap ke Lembah Elah dan berasal dari paruh pertama abad ke-10 SM. Reruntuhan benteng itu ditemukan pada 2007, di dekat Kota Beit Shemesh, Israel, berjarak 30 km dari Yerusalem.

"Hingga saat ini, reruntuhan tersebut adalah bukti terbaik untuk membongkar benteng kota Raja Daud. Penemuan ini adalah bukti tak terbantahkan atas keberadaan pusat kekuasaan di Yehuda selama masa kepemimpinan Raja Daud," ujar Profesor Yosef Garfinkel dari Hebrew University dan Saar Ganor yang memimpin proyek penggalian.

Menurutnya, situs ini menjadi lokasi strategis di Kerajaan Yehuda sesuai alkitan, di jalan utama dari Filistia dan dataran pantai ke Yerusalem dan Hebron di daerah perbukitan.


Bahkan sebelum penggalian yang dilakukan Garfinkel dan timnya, pengunjung Khirbet Qeiyafa dapat melihat tembok kota yang besar, setinggi 2-3 meter, yang menutupi puncak bukit. Tembok kota ini membatasi area seluas 2,3 hektare dengan total panjang sekitar 700 meter.

"Karena topografi lokal, hanya permukaan luar tembok yang terbuka, bagian dalam terkubur di bawah sisa-sisa arkeologi," kata Garfinkel.

Dia mengatakan, tembok bangunan tersebut terbuat dari batu cyclopean, sedangkan bagian atasnya dibangun dengan batu berukuran sedang. Dua gerbang kota sudah tampak sebelum penggalian, satu di selatan dan satu di barat.

Tujuan utama dari penggalian tersebut adalah untuk mengekspos sebagian besar kota Zaman Besi yang secara radiometrik tertanggal akhir abad kesebelas dan awal abad kesepuluh SM. Sampai saat ini, situs seluas 3.500 meter persegi telah digali dan dua gerbang, dinding kubu pertahanan, permukiman, ruang pemujaan, kandang dan kompleks bangunan administrasi di bagian atas situs telah dibuka.

Selain itu, lapisan dari periode Persia Akhir-Hellenistik Awal mulai terungkap. Lapisan ini berasal dari tahun 350-270 SM, berdasarkan koin yang ditemukan pada 2010-2011.

Garfinkel dan Ganor menemukan dua bangunan yang dibangun sejak abad 10 SM di Yerusalem. Satu struktur bangunan diidentifikasi sebagai istana Daud, sedangkan yang lain diduga sebagai gudang besar milik istana tersebut.

Di sekeliling istana, terdapat ruangan dengan beragam instalasi seperti bejana tembikar dan pecahan bejana pualam. Temuan ini sekaligus menjadi bukti jika pada masa itu masyarakat Mesir telah mengenal industri logam.

Meski temuan ini terdengar mengejutkan, tak semua sejarawan setuju. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa istana dan kerajaan itu tak pernah ada. Jika ada, mungkin besarnya tak lebih besar dari Yerusalem.

Prof Aren Meir dari Bar Ilan University menyatakan setuju jika situs ini merupakan sebuah penemuan yang penting. Namun menurutnya, para arkeolog terlalu mengandalkan Alkitab sebagai sumber bukti.

"Bisakah kita mengumpulkan argumen mengenai kerajaan Daud dan Sulaiman? Bagi saya, hal ini terlihat terlalu muluk," ujar Meir.

Sementara itu, Israel Antiquities Authority berharap penemuan ini bisa menjadikan Khirbet Qeiyafa sebagai taman nasional yang mampu mengundang wisatawan untuk datang dan belajar mengenai kehidupan kerajaan pada masa kekuasaan Raja Daud.