Apakah Alien Benar-Benar Ada?

Posted by BaronNight On 4:49 AM 0 comments


Alien hingga kini masih menjadi misteri. Pasalnya, meski diyakini oleh beberapa orang ada, tetapi makhluk luar angkasa ini belum pernah benar-benar ditemukan. Namun, bagaimana orang yang pernah pergi ke luar angkasa meyakini keberadaan alien?

Jeff Hoffman, seorang astronot badan antariksa AS (NASA) meyakini adanya kehidupan lain di alam semesta. Hoffman sendiri pernah melakukan lebih dari lima misi di antariksa dan menghabiskan 1.211 jam hidupnya di luar angkasa. "Saya percaya ada kehidupan di tempat lain di alam semesta," ungkap Hoffman dikutip dari Mashable, Sabtu (24/03/2018).

Seperti yang kita tahu, hanya 600 orang dari sekitar 108 miliar penduduk bumi yang telah menjelajah luar angkasa. Beberapa dari astronot tersebut kemudian duduk bersama dalam sebuah konferensi di Los Angeles dengan pembuat film Darren Aronofsky. Mereka berkumpul bersama untuk membuat video bertajuk One Strange Rock yang ditayangkan di National Geographic pada Senin (26/03/2018).

Dalam konferensi tersebut, mereka membahas kehidupan di bumi yang ajaib. Bayangkan saja, makhluk di bumi memiliki keunikannya sendiri. Contohnya, organisme bersel satu yang muncul dari bahan anorganik, yang berevolusi karena terlindung oleh medan magnet bumi dan ozon serta oksigen dan air yang mendukung.

"Anda melihat semua sistem ini... dan ini menakjubkan, semua hal harus bersatu untuk mewujudkan realitas besar ini," kata Aronofsky. Meski begitu, pertanyaan apakah alien benar-benar ada sangat sulit untuk dijawab. Apalagi alam semesta angat besar sehingga untuk menemukan alien mungkin susah.

"Kami pada dasarnya telah membuktikan bahwa setiap bintang memiliki planet," ujar Chris Hadfield, seorang astronot dari Kanada. "Lalu kamu mulai menghitung perkiraannya," imbuh pria yang telah menghabiskan 4.000 jam di luar angkasa itu.

Sayangnya, perhitungan tersebut juga sulit. Lagi-lagi masalahnya adalah betapa luasnya alam semesta. Jadi, perhitungannya pun disesuaikan dengan ukuran alam semesta.

Menurut astronot David Korneich, dalam batasan alam semesta yang teramati saja, mungkin ada septiliun bintang. Jika setiap bintang memiliki setidaknya satu planet, maka tampaknya tak terbayangkan bahwa tak ada kehidupan di tempat lain. "(Tetapi tetap saja) kami harus memikirkan berbagai hal untuk menemukan bukti," kata Mae Jamison, astronot wanita Afrika-Amerika di luar angkasa.

Meski percaya ada kehidupan lain di luar bumi, Hoffman juga terus mencari bukti. "Sebagai ilmuwan, saya mencari bukti," ujar profesor aeronautics dan astronautics di MIT teresebut. "Sampai sekarang, kita tidak punya bukti. Jadi saya tidak punya apapun untuk mendukung keyakinan saya. Tapi saya masih percaya," imbuhnya.

Hingga kini, kita tahu bahwa para ilmuwan dunia terus menerus menemukan bukti bahwa kehidupan bisa ada di tempat yang tak mungkin sekalipun. Salah satunya di Etiopia. Di negara tersebut, para peneliti menemukan bakteri yang hidup di danau asam. Bakteri tersebut bahkan hidupnya tergantung pada logam berat dan tidak membutuhkan oksigen.

Ini menjadi salah satu dugaan bahwa bisa jadi di suatu yang jauh dari bumi, ada kehidupan yang hadir. Mungkin saja ada sesuatu yang hidup di bawah es bulan Jupiter. "Kehidupan cenderung umum, tetapi rumit. Kehidupan cerdas sangat langka," ujar Hadfield.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ahli astrofisika berhasil menemukan planet di luar galaksi Bima Sakti. Sebelumnya, planet-planet yang terdeteksi hanya berada dalam Bima Sakti.

Dengan mengukur fenomena astronomi -- disebut microlensing -- para ilmuwan berhasil mengidentifikasi sekelompok planet menggunakan data dari Observatorium X-ray Chandra milik NASA.

Planet-planet yang baru ditemukan ini ukurannya bervariasi. Mulai dari seukuran bulan hingga Jupiter. Dan galaksi mereka berjarak 3,8 jutaan cahaya dari tempat kita sendiri.

“Kami sangat bersemangat. Ini pertama kalinya ada yang berhasil menemukan planet di luar galaksi kita,” kata Profesor Xinyu Dai, ahli astrofisika di University of Oklahoma

Penemuan ini dipublikasikan oleh Profesor Dai dan rekannya, dr. Eduardo Guerras dalam The Astrophysical Journal.

Analisis microlensing yang memanfaatkan tingkat kecerahan benda-benda luar angkasa seperti bintang dan quasar, merupakan satu-satunya metode yang mampu mengidentifikasi planet dengan jarak sejauh itu.

“Ini merupakan contoh bagaimana kuatnya analisis teknik microlensing. Galaksi tersebut memiliki 3,8 jutaan cahaya. Tidak ada kesempatan untuk mengobservasinya secara langsung, bahkan dengan teleskop terbaik sekalipun. Namun, ternyata sekarang kami bisa mempelajarinya, mengungkap kehadiran, serta memiliki gagasan tentang massa mereka. Ini merupakan sains yang amat keren,” papar dr. Guerras.

Microlensing

merupakan efek astronomi di mana cahaya yang berasal dari bintang jauh atau quasa dibelokkan oleh gravitasi benda perantara – seperti bintang lain atau lubang hitam – jika dilihat dari Bumi.

Apabila sumber cahaya diposisikan persis di belakang perantara, benda tersebut akan bertindak sebagai “lensa”. Lalu, ia membuat cakram cahaya saat sinar dari sumber melewati semua sisi.

Kecerahan cakram dipengaruhi oleh kehadiran planet di dekat bintang lensa. Inilah yang digunakan untuk menentukan keberadaan planet-planet tersebut yang seharusnya terlalu jauh untuk dikenali.

Efek ini telah diprediksi oleh teori relativitas Einstein. Oleh sebab itu, cakram cahaya ini juga dikenal dengan “cakram Einstein”.

Dalam penelitiannya, Profesor Dai dan dr. Guerras mengatakan bahwa mereka menggunakan teleskop untuk mempelajari sifat microlensing emisi latar belakang quasar yang digunakan untuk membuat pengukuran sebagai bukti planet-planet tersebut.

"Planet-planet kecil ini adalah kandidat terbaik dari kekhasan yang kami amati dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik microlensing. Kami menganalisis frekuensi tinggi kekhasan tersebut dengan memodelkan data untuk menentukan massa," kata Profesor Dai.

Spesies kuno yang dikenal dengan nama Habelia optata, diduga hidup pada pertengahan masa Kambrium, sekitar 508 juta tahun yang lalu.

Ia hadir ketika ‘ledakan Kambria’ terjadi – sebuah periode dalam sejarah Bumi ketika para leluhur hewan yang kita kenal sekarang, muncul untuk pertama kalinya.

Habeliasendiri memiliki beberapa karakteristik yang ditemukan pada hewan moderen, seperti tubuh yang tersegmentasi dan kerangka luar seperti lobster dan serangga. Namun, para ilmuwan belum yakin dari keluarga evolusioner mana ia berasal.

Meskipun begitu, sebuah studi yang menganalisis 41 spesimen fosil, menemukan fakta bahwa makhluk kuno ini berkaitan dengan nenek moyang dari chelicerates – kelompok spesies meliputi laba-laba dan kalajengking.

“Habelia menunjukkan arsitektur tubuh yang sangat detail seperti pada chelicerates,”  kata dr. Cedric Aria, ahli paleontologist di University of Toronto yang menjadi pemimpin penelitian ini.

Selain itu, alasan mengapa Habelia dikaitkan dengan chelicerates adalah dari bentuk mulutnya.

Chelicerates mendapatkan namanya dari “chelicerae”, semacam penjepit tambahan di mulut yang digunakan laba-laba dan kalajengking untuk memotong mangsa mereka.

Sebagai tambahan, Habelia memiliki semua persenjataan di kepala. Ditambah dengan kaki yang berkembang sempurna untuk berjalan, para peneliti menyimpulkan bahwa hewan ini termasuk ‘pemburu’ di dasar laut.

Secara spesifik, dr. Aria mengatakan, Habelia menggunakan rahang mereka yang menakutkan untuk menyerang trilobita (kelompok hewan prasejarah yang memiliki kulit luar nan keras).

“Dengan bentuk mulut dan rahang seperti itu, membuat Habelia dapat merobek mangsanya dengan cepat dan efektif. Ini menjadikan ia salah satu predator,” kata dr. Aria.

Bintang Zombie yang Enggan Mati

Posted by BaronNight On 12:16 AM 0 comments


Bintang-bintang termasif mengakhiri kisah hidupnya dengan cara yang paling dramatis. Bintang-bintang itu menerangi langit dengan ledakan yang kecerlangannya melampaui kecerlangan galaksi dan kedahsyatannya mampu melontarkan jeroan bintang ke ruang angkasa. Saat material dari ledakan itu akhirnya mengendap, yang tersisa hanyalah inti dari objek yang dahulu merupakan raksasa kosmik. Kini inti itu telah runtuh.

Ledakan ini disebut supernova. Selama bertahun-tahun, ribuan supernova telah diamati dan diteliti oleh astronom seperti Iair Arcavi. Oleh karena itu, ketika pada tahun 2014 Iair menemukan supernova baru, ia tidak berprasangka apa-apa. Sebagaimana supernova lainnya, supernova yang satu ini menerangi langit malam dalam waktu yang singkat, sebelum akhirnya meredup. Karena peristiwa ini tampaknya akan berakhir, Iair beralih ke penelitian lain.

Beberapa minggu kemudian, Iair kembali memeriksa bintang yang meredup itu dan terkejut saat melihat bintang itu bertambah terang. Tak disangka-sangka bintang itu seakan-akan meledak untuk kedua kalinya.

Selama dua tahun kemudian, Iair dan timnya terpana saat bintang itu memecahkan rekor. Selama 600 hari, bintang tersebut menjadi terang dan meredup sebanyak lima kali. Bintang itu meledak berkali-kali! Selain itu, setelah menyelidiki masa lalu si bintang, diketahui bahwa bintang tersebut ternyata pernah meledak lebih dari 60 tahun lalu.

Jadi, apa yang terjadi sebenarnya? Sejujurnya, tak seorangpun yang tahu. Tebakan terbaik adalah ledakan-ledakan itu tidak disebabkan oleh keruntuhan bintang seperti supernova pada umumnya, tapi karena bintang itu mulai membuat materi aneh yang disebut “antimateri.” Ketika antimateri bersentuhan dengan materi normal di dalam bintang, terjadilah ledakan dahsyat. Akibatnya, bintang tersebut menjadi terang lagi dan lagi.

Namun, seperti dongeng-dongeng lainnya, kisah bintang ini telah mencapai bagian akhir. Setelah 600 hari, bintang malang dan kehabisan energi ini tak lagi mampu menampilkan pertunjukan kembang api kosmik. Setelah ledakan terakhir, bintang ini akan meredup selamanya.

 


Sebuah penggalian di dekat Tembok Ratapan, sebelah barat Jerusalem, Israel, mengungkap keberadaan bebatuan, sisa-sisa teater masa Romawi.

Terlihat tak kurang dari sisa kursi batu yang berjumlah 200-an buah.

Otoritas Purbakala Israel mengungkap keberadaan situs bebatuan yang telah 1.700 tahun tersembunyi.

"Dari prespektif penelitian, penemuan ini sensasional," kata para peneliti, Joe Uziel, Tehillah Lieberman, dan Avi Solomon, seperti yang dikutip laman UPI, Selasa (17/10/2017).

Disebutkan, jalur menuju arena teater itu terbuat dari bongkahan batu-batu besar. Keberadaan ruang teater itu pun terungkap setelah penggalian sedalam delapan meter.

Catatan sejarah menunjukkan, teater tersebut dibangun pada masa pendudukan Romawi di Jerusalem antara tahun 63 SM hingga tahun 313.

Lokasinya berada di dekat Wilson\'s Arch, sebuah gerbang lengkung yang terbuat dari batu besar, menuju ke Temple Mount.

Penemuan ini pun sekaligus menjadi konfirmasi atas penelitian yang telah berlangsung selama ini. 

Keberadaan teater itu juga mengejutkan para peneliti, sebab awalnya, mereka menggali dengan harapan dapat mendalami sejarah Wilson\'s Arch.

"Kami tidak membayangkan hal ini dapat membuka jendela ke dalam misteri hilangnya teater di Jerusalem," lanjut dia.

Arkeolog menduga, teater itu mungkin dibangun untuk penyelenggaraan konser, ceramah, atau tempat rapat legislatif.


Kemungkinan lainnya, teater itu juga tidak pernah dipakai. Anak tangga yang ditemukan juga tidak terpahat sempurna.

Bangunan yang tidak selesai dari era yang sama juga pernah ditemukan sebelumnya. " Teater ini relatif kecil ukurannya apabila dibandingkan dengan teater Romawi lainnya," ujar Uziel.

Tugas penggalian penemuan lokasi bersejarah ini merupakan bagian dari proyek yang dilakukan oleh relawan remaja yang diadakan Otoritas Purbakala Israel.

 

Sven Sachs, paleontolog dari Museum Sejarah Alam Bielefeld Jerman sedang berada di Museum Lower Saxony State di Hannover, Jerman, untuk mempelajari reptil laut purba. Tanpa sengaja, perhatiannya tertuju pada salah satu fosil Ichthyosaurus.

Meski label nama spesies tersebut sudah tercantum, tetapi Sachs masih curiga jika fosil yang dia perhatikan merupakan spesies baru dari genus Ichthyosaurus. Ichthyosaurus sendiri merupakan sejenis reptil laut yang umumnya dianggap sebagai dinosaurus perenang.

"(Fosil) itu sangat luar biasa. Lebih besar dari spesies manapun yang pernah saya teliti," katanya seperti dikutip Science Alert, Sabtu (26/8/2017).

Fosil tersebut ditemukan pada pertengahan tahun 1990-an di Somerset Inggris. Namun, semenjak ditemukan, fosil tersebut tidak dipelajari dan langsung dipajang di museum.

Sachs pun segera meminta pendapat dari koleganya yang memang mempelajari Ichthyosaurus, Dean Lomax dari Universitas Manchester. Pada awal 2017 mereka mulai memeriksa spesimen itu bersama-sama-sama, dan ternyata dugaan itu benar. Mereka mendapati jika fosil tersebut merupakan kerabat baru dari genus Ichthyosaurus yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu.

Fosil yang pada akhirnya diberi nama Ichthyosaurus somersetensis ini memiliki ukuran tubuh 3-3,5 meter, menjadikannya sebagai spesies terbesar dari jenisnya. Dia juga lebih pantas disebut dengan "Naga Laut" karena memiliki tubuh yang panjang, fleksibel, serta mampu berenang layaknya belut.

Ichthyosaurus somersetensis juga diketahui sedang mengandung embrio berukuran tujuh sentimeter saat mati. Analisis mengungkapkan adanya embrio yang tidak lengkap tersimpan dalam tubuh fosil betina tersebut, termasuk sebagian tulang belakang, tulang rusuk, dan beberapa tulang lainnya.

"Jarang ada embrio yang terawetkan," kata Sachs. Inilah mengapa penemuan tersebut menjadi penting bagi ilmu pengetahuan, karena menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

Namun, sayang pihak museum melakukan kesalahan mengidentifikasi spesies tersebut. Faktor yang mengaburkan silsilah spesimen ini ternyata bermula dari kesalahan penamaan dari pihak museum.

Pihak museum menambahkan ekor palsu pada fosil Ichthyosaurus somersetensis dengan ekor dari Ichthyosaurus lain untuk membantu melengkapi barang pameran periode Jura dan memberikan sisi estetis pada koleksi pameran.

"Dalam jangka panjang ini akan berbahaya bagi pemahaman ilmiah. Bagian palsu yang tidak terdeteksi ini akan menghasilkan informasi palsu," imbuh Sachs. Untungnya dalam kasus ini, kesalahan itu segera terungkap.

 


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.