Badan Antariksa Eropa (ESA) baru saja meluncurkan pesawat luar angkasa buatan Inggris BepiColombo ke planet terdekat matahari yaitu Merkurius pada Sabtu (20/10/2018). BepiColombo meluncur di atas roket paling kuat milik ESA, Ariane 5.

Misi peluncuran pesawat antariksa tersebut merupakan kerja sama antara ESA dan Badan Antariksa Jepang (JAXA). Misi perjalanan ini akan dilaksanakan selama tujuh tahun. Tujuannya  untuk mengungkapkan misteri seputar planet Merkurius.

Dengan mengikuti “lintasan keluar” BepiColombo akan berayun melintasi Bumi dalam kurva yang lebar sebelum akhirnya menuju planet Venus.

Pesawat antariksa tersebut akan sampai ke planet paling dalam di tata surya pada tahun 2025. Setelah sesampainya di sana, pesawat tersebut akan menempatkan dua robot probe atau pengali di sekitar Merkurius.

Dua robot yang ditempatkan masing-masing merupakan milik ESA dan JAXA.

"Peluncuran BepiColombo adalah tonggak besar bagi ESA dan JAXA, dan akan ada banyak kesuksesan besan di masa mendatang. Setelah menyelesaikan perjalanan yang menantang, misi ini akan membawa pulang banyak ilmu pengetahuan," ucap Jan Worner, Direktur Umum ESA.

Ilmuwan berharap misi yang bernilai sebesar Rp27,8 triliun ini akan menjawab banyak pertanyaan tentang planet Merkurius. Seperti mengapa planet tersebut memiliki inti besar yang terbuat dari besi dan apakah itu mampu menahan jejak air.

Hasil misi yang dilakukan oleh ESA dan JAXA ini dapat memberikan wawasan baru tentang asal usul dan evolusi tata surya.

Fitur utama BepiColombo dilengkapi dengan teknologi propulsi ion listrik yang canggih, yang dapat menembak dua kali pada satu waktu. Itu juga akan memancarkan sinar gas xenon bermuatan listrik. Tembakan bertindak sebagai rem dalam melawan gravitasi matahari yang sangat besar.

“Ini merupakan salah satu misi antarplanet yang paling kompleks yang pernah kami lakukan,” ucap Andrea Accomazzo, direktur penerbangan ESA untuk pesawat tersebut.

"Salah satu tantangan terbesar adalah gravitasi Matahari yang sangat besar, yang menyulitkan menempatkan pesawat ruang angkasa ke orbit yang stabil di sekitar Merkurius," tambahnya.

Accomazo mengatakan bahwa perlu pengereman secara terus menerus agar tidak tertarik gravitasi matahari tanpa kendali.

"Kami harus terus-menerus mengerem untuk memastikan jatuh terkontrol ke arah Matahari, dengan pendorong ion menyediakan daya dorong rendah yang dibutuhkan selama jangka waktu yang panjang dari fase pelayaran," ucap Accomazo.

Misi ke Merkurius ini bukan pertama kalinya dilakukan, setidaknya sudah ada dua pesawat antariksa yang telah mengunjungi planet terpanas di tata surya ini.

Pesawat antariksa pertama yang mengunjungi planet ini adalah Mariner 10 milik NASA yang terbang melintasi planet tersebut sebanyak tiga kali antara tahun 1974 dan 1975. Yang kedua, pesawat Messenger mengorbit di planet tersebut antara tahun 2011 hingga 2015.

BepiColombo ini dinamai setelah Giuseppe "Bepi" Colombo, seorang ilmuwan dan insinyur dari Italia yang memainkan peran utama dalam misi Mariner 10 pada tahun 1974.




 


 Para arkeolog Mesir menemukan patung Sphinx di kuil Kom Ombo, kawasan Aswan, Mesir, saat sedang melakukan operasi pengurangan air tanah dalam sebuah proyek. 

Mostafa al-Waziri, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir, mengatakan bahwa patung tersebut kemungkinan berasal dari periode Ptolemaik. Sphinx ini ditemukan di sisi tenggara kuil Kom Ombo di antara dinding luar dan bukit arkeologi.

Selain menemukan Sphinx, arkeolog juga menemukan dua relief batu pasir bekas peninggalan Raja Ptolemy V.

Abdel Moneim Said, Kepala Departemen Kepurbakalaan Aswan, mengatakan bahwa penemuan ini dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai tempat bersejarah.

Menurut Said, dua penemuan sebelumnya yang berasal dari era Raja Ptolemy V terbuat dari batu pasir dengan tulisan Hieroglyphic dan Demotic. Temuan tersebut kemudian dipindahkan ke Museum Nasional peradaban Mesir di al-Fustat untuk pemulihan, dan akan dipamerkan di museum.

Sphinx seringkali digambarkan dengan kepala seorang pria yang mengenakan hiasan kepala firaun dan berbadan singa. Meskipun begitu, terkadang penggambaran dalam sosok wanita juga  ditemukan.

Sphinx berasal dari Mesir dan dibuat sebagai simbol dalam mitologi Mesir serta mitologi Yunani dan Asia.

Kuil Kom Ombo yang yang menjadi lokasi penemuan dianggap sebagai candi ganda karena memiliki pintu kembar dan terdapat lorong-lorong untuk menghormati dua dewa.

Dengan adanya penemuan artefak ini, Mesir berharap adanya peningkatan kunjungan wisatawan menuju Mesir, setelah revolusi pada tahun 2011.




 


 Danau raksasa ditemukan di Mars untuk pertama kalinya. Para astronom mengatakan, penemuan ini menambah harapan terkait ketersediaan air di planet tersebut, juga kemungkinan adanya kehidupan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Science, danau yang terletak di bawah lapisan es Mars tersebut memiliki lebar 20 kilometer. Itu adalah sumber air terbesar yang pernah ditemukan di Planet Merah.

“Ada air di sana, tak diragukan lagi,” kata Enrico Flamini, manajer misi Mars Express dari badan antariksa Italia.

Meski begitu, danau tersebut tidak bisa diselami atau diminum. Ia terletak hampir 1,6 kilometer di bawah permukaan es di lingkungan yang keras dan dingin. Apakah bentuk kehidupan mikrob bisa berkembang di sana masih jadi perdebatan.

Beberapa ahli skeptis terhadap kemungkinan tersebut karena danau sangat dingin dan tandus, juga tercampur dengan garam dan mineral Mars yang terlalu berat.

Suhunya diperkirakan di bawah titik beku air murni. Meski begitu, danau tetap cair karena kandungan magnesium, kalsium, dan natrium.

Deteksi radar

Penemuan ini berhasil dilakukan dengan menggunakan instrumen radar pengorbit Mars Express milik European Space Agency (ESA) yang diluncurkan pada 2003.

Alat tersebut dikenal dengan nama Mars Advance Radar for Subsurface and Ionosphore Sounding (MARSIS), yang didesain untuk menemukan air di Mars dengan cara mengirim getaran radar yang menembus permukaan dan lapisan es.

Selanjutnya. MARSIS mengirim laporannya dengan gelombang radio dan memantulkannya kembali ke pesawat luar angkasa.

Pantulan itu menyediakan informasi bagi para ilmuwan tentang apa yang ada di bawah permukaan Mars.

Sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Roberto Orosei dari National Institute for Astrophysics, mengamati wilayah bernama Planum Australe, yang terletak di selatan ‘topi es’ Mars dari Mei 2012 hingga Desember 2015.

Sebanyak 29 set sampel radar menunjukkan adanya perubahan yang sangat tajam – memungkinkan para ilmuwan untuk memetakan skema danau.

“Profil radar di daerah ini mirip dengan danau cair yang ditemukan di bawah lapisan es Antartika dan Greenland di Bumi,” tulis peneliti.

Perlu dikonfirmasi lagi

“Ini pertama kalinya ada sumber air yang terdeteksi di Mars. Sangat menarik,” kata David Stillman, ilmuwan senior di Department of Space Studies, Southwest Research Institute.

Meski begitu, Stillman, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa pesawat luar angkasa atau instrumen lainnya perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi penemuan tersebut.

Ia mengingat kembali bagaimana instrumen radar SHARAD milik badan antariksa Italia yang diluncurkan pada 2005, tidak dapat mendeteksi air di bawah permukaan.

“Aneh rasanya jika SHARAD tidak bisa menemukan hal yang sama. Faktanya, SHARAD bahkan tak mampu menembus es Mars dan tidak ada yang tahu alasannya. Oleh sebab itu, saya masih agak skeptis terhadap penemuan ini,” papar Stillman.

Namun, di sisi lain, para peneliti juga semangat dengan potensi penemuan di masa depan. Jika cairan dapat ditemukan di kutub selatan Mars, kemungkinan itu juga ada di tempat lain di planet tersebut.

Chris Hadfield, astronaut Kanada, melalui akun Twitternya mengatakan bahwa penemuan ini berkaitan dengan pertanyaan mendasar tentang kehidupan.

“Di Bumi, ketika ada air, maka ada kehidupan. Mungkin begitu juga di sana dan kita tidak sendirian,” tuturnya.



Kerangka manusia yang tercerai berai dan dua yang hampir lengkap, ditemukan di lubang kuburan dangkal di Manassas, Virginia, AS.

Kota tersebut merupakan lokasi meninggalnya 15 ribu tentara Union saat Pertempuran Bull Run Kedua pada 1862. Tulang-tulang yang diduga milik para pejuang wilayah Utara itu, memberikan gambaran suram dari Perang Saudara yang terjadi di AS.

Setelah perang, petugas medis menghampiri para pria yang terluka parah. Beberapa di antaranya, telah terbaring di luar ruangan berhari-hari. Para dokter harus menentukan dengan cepat mana yang bisa diselamatkan dan yang tidak.

Baca juga: Ilmuwan Selidiki Asal Penyakit Sifilis Melalui Kerangka 300 Tahun

Kerangka tercerai-berai yang ditemukan di Manassas berasal dari hasil amputasi tentara yang memiliki peluang bertahan hidup.

Meski begitu, adanya luka pada salah satu kerangka menunjukkan bahwa dokter memutuskan untuk tidak mengoperasinya. Kerangka tersebut diduga milik prajurit yang mengalami luka tembak di bokongnya.

Tidak ditemukannya kancing celana panjang di sekitarnya, menunjukkan bahwa tentara itu masih sempat hidup setelah tertembak.


“Yang mungkin terjadi adalah: ia masih hidup saat peluru mengenai bokongnya. Dokter pun sempat membuka celana tentara tersebut untuk melihat luka tembakan. Namun, setelah itu, mereka memutuskan untuk mengabaikannya,” papar Doug Owsley, antropolog di National Museum of Natural History, setelah melihat tingkat keparahan cedera pada kerangka.

Para dokter berpikir luka tembak yang dialami tentara tersebut terlalu parah sehingga sulit melakukan amputasi.

Yang mengejutkan menurut Owsley adalah kerangka yang tercerai-berai itu dipotong sengan sangat rapi. Selama ini, pembedahan pada masa Perang Saudara memiliki reputasi yang buruk. Sebuah studi bahkan menyebutkan bahwa ahli bedah pada zaman Kekaisaran Inca, jauh lebih baik dari dokter-dokter di era Perang Saudara. Oleh sebab itu, penemuan kerangka dengan potongan yang baik ini, cukup mengejutkan peneliti.

“Beberapa amputasi kemungkinan diselesaikan kurang dari sepuluh menit. Itu dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman – bukan pekerjaan pemula,” kata Owsley.

Owsley dan rekannya berpikir bahwa ahli bedah tersebut mungkin Benjamin Howard, dokter yang juga merawat tentara terluka saat pertempuran Antietam.

Manassas National Battlefield Park akan menambahkan rincian dari penelitian baru ini ke dalam database mereka tentang Pertempuran Bull Run Kedua. Selain itu, dua kerangka telah dikirimkan ke Pemakaman Arlington untuk dikubur -- peneliti berhasil mengidentifikasi mereka sebagai tentara yang gugur.


Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa ‘gereja rahasia’ yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.

Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.

Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.

‘Gereja rahasia’ yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.

Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.

Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.

Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.

“Tempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,” papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.

Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.

Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang  “persekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya”.

Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.

Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.

Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi ‘gereja rahasia’ ini.
 

Apakah Alien Benar-Benar Ada?

Posted by BaronNight On 4:49 AM 0 comments


Alien hingga kini masih menjadi misteri. Pasalnya, meski diyakini oleh beberapa orang ada, tetapi makhluk luar angkasa ini belum pernah benar-benar ditemukan. Namun, bagaimana orang yang pernah pergi ke luar angkasa meyakini keberadaan alien?

Jeff Hoffman, seorang astronot badan antariksa AS (NASA) meyakini adanya kehidupan lain di alam semesta. Hoffman sendiri pernah melakukan lebih dari lima misi di antariksa dan menghabiskan 1.211 jam hidupnya di luar angkasa. "Saya percaya ada kehidupan di tempat lain di alam semesta," ungkap Hoffman dikutip dari Mashable, Sabtu (24/03/2018).

Seperti yang kita tahu, hanya 600 orang dari sekitar 108 miliar penduduk bumi yang telah menjelajah luar angkasa. Beberapa dari astronot tersebut kemudian duduk bersama dalam sebuah konferensi di Los Angeles dengan pembuat film Darren Aronofsky. Mereka berkumpul bersama untuk membuat video bertajuk One Strange Rock yang ditayangkan di National Geographic pada Senin (26/03/2018).

Dalam konferensi tersebut, mereka membahas kehidupan di bumi yang ajaib. Bayangkan saja, makhluk di bumi memiliki keunikannya sendiri. Contohnya, organisme bersel satu yang muncul dari bahan anorganik, yang berevolusi karena terlindung oleh medan magnet bumi dan ozon serta oksigen dan air yang mendukung.

"Anda melihat semua sistem ini... dan ini menakjubkan, semua hal harus bersatu untuk mewujudkan realitas besar ini," kata Aronofsky. Meski begitu, pertanyaan apakah alien benar-benar ada sangat sulit untuk dijawab. Apalagi alam semesta angat besar sehingga untuk menemukan alien mungkin susah.

"Kami pada dasarnya telah membuktikan bahwa setiap bintang memiliki planet," ujar Chris Hadfield, seorang astronot dari Kanada. "Lalu kamu mulai menghitung perkiraannya," imbuh pria yang telah menghabiskan 4.000 jam di luar angkasa itu.

Sayangnya, perhitungan tersebut juga sulit. Lagi-lagi masalahnya adalah betapa luasnya alam semesta. Jadi, perhitungannya pun disesuaikan dengan ukuran alam semesta.

Menurut astronot David Korneich, dalam batasan alam semesta yang teramati saja, mungkin ada septiliun bintang. Jika setiap bintang memiliki setidaknya satu planet, maka tampaknya tak terbayangkan bahwa tak ada kehidupan di tempat lain. "(Tetapi tetap saja) kami harus memikirkan berbagai hal untuk menemukan bukti," kata Mae Jamison, astronot wanita Afrika-Amerika di luar angkasa.

Meski percaya ada kehidupan lain di luar bumi, Hoffman juga terus mencari bukti. "Sebagai ilmuwan, saya mencari bukti," ujar profesor aeronautics dan astronautics di MIT teresebut. "Sampai sekarang, kita tidak punya bukti. Jadi saya tidak punya apapun untuk mendukung keyakinan saya. Tapi saya masih percaya," imbuhnya.

Hingga kini, kita tahu bahwa para ilmuwan dunia terus menerus menemukan bukti bahwa kehidupan bisa ada di tempat yang tak mungkin sekalipun. Salah satunya di Etiopia. Di negara tersebut, para peneliti menemukan bakteri yang hidup di danau asam. Bakteri tersebut bahkan hidupnya tergantung pada logam berat dan tidak membutuhkan oksigen.

Ini menjadi salah satu dugaan bahwa bisa jadi di suatu yang jauh dari bumi, ada kehidupan yang hadir. Mungkin saja ada sesuatu yang hidup di bawah es bulan Jupiter. "Kehidupan cenderung umum, tetapi rumit. Kehidupan cerdas sangat langka," ujar Hadfield.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ahli astrofisika berhasil menemukan planet di luar galaksi Bima Sakti. Sebelumnya, planet-planet yang terdeteksi hanya berada dalam Bima Sakti.

Dengan mengukur fenomena astronomi -- disebut microlensing -- para ilmuwan berhasil mengidentifikasi sekelompok planet menggunakan data dari Observatorium X-ray Chandra milik NASA.

Planet-planet yang baru ditemukan ini ukurannya bervariasi. Mulai dari seukuran bulan hingga Jupiter. Dan galaksi mereka berjarak 3,8 jutaan cahaya dari tempat kita sendiri.

“Kami sangat bersemangat. Ini pertama kalinya ada yang berhasil menemukan planet di luar galaksi kita,” kata Profesor Xinyu Dai, ahli astrofisika di University of Oklahoma

Penemuan ini dipublikasikan oleh Profesor Dai dan rekannya, dr. Eduardo Guerras dalam The Astrophysical Journal.

Analisis microlensing yang memanfaatkan tingkat kecerahan benda-benda luar angkasa seperti bintang dan quasar, merupakan satu-satunya metode yang mampu mengidentifikasi planet dengan jarak sejauh itu.

“Ini merupakan contoh bagaimana kuatnya analisis teknik microlensing. Galaksi tersebut memiliki 3,8 jutaan cahaya. Tidak ada kesempatan untuk mengobservasinya secara langsung, bahkan dengan teleskop terbaik sekalipun. Namun, ternyata sekarang kami bisa mempelajarinya, mengungkap kehadiran, serta memiliki gagasan tentang massa mereka. Ini merupakan sains yang amat keren,” papar dr. Guerras.

Microlensing

merupakan efek astronomi di mana cahaya yang berasal dari bintang jauh atau quasa dibelokkan oleh gravitasi benda perantara – seperti bintang lain atau lubang hitam – jika dilihat dari Bumi.

Apabila sumber cahaya diposisikan persis di belakang perantara, benda tersebut akan bertindak sebagai “lensa”. Lalu, ia membuat cakram cahaya saat sinar dari sumber melewati semua sisi.

Kecerahan cakram dipengaruhi oleh kehadiran planet di dekat bintang lensa. Inilah yang digunakan untuk menentukan keberadaan planet-planet tersebut yang seharusnya terlalu jauh untuk dikenali.

Efek ini telah diprediksi oleh teori relativitas Einstein. Oleh sebab itu, cakram cahaya ini juga dikenal dengan “cakram Einstein”.

Dalam penelitiannya, Profesor Dai dan dr. Guerras mengatakan bahwa mereka menggunakan teleskop untuk mempelajari sifat microlensing emisi latar belakang quasar yang digunakan untuk membuat pengukuran sebagai bukti planet-planet tersebut.

"Planet-planet kecil ini adalah kandidat terbaik dari kekhasan yang kami amati dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik microlensing. Kami menganalisis frekuensi tinggi kekhasan tersebut dengan memodelkan data untuk menentukan massa," kata Profesor Dai.