Mulai dari tahun 2016, para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) sudah melakukan penelitian pada situs Lambanapu, di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berusia 2.000 tahun. 

Ada beberapa hal yang ditemukan di sana. Salah satunya mengenai jejak nenek moyang orang Indonesia. Seperti apakah?

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Amerta tersebut mengungkap bahwa leluhur orang Sumba tidak hanya berasal dari satu ras. Hal ini juga diungkapkan Retno dalam wawancara kepada Kompas.com, Jumat (26/04/2019) kemarin.

"Jadi kalau Indonesia itu kan ada beberapa ras yang masuk ya. Mulai dari Austronesia, Austromelanesid. Nah, yang ada di sini (situs Lambanapu) itu ada percampuran," ungkap Retno melalui sambungan telepon. 

"Jadi kita di sini ada ahli rangkanya, mungkin nanti bisa menjelaskan. Ini (yang ditemukan di situs Lambanapu) tidak semuanya Mongoloid, ada percampuran dengan Austromelanesid," imbuhnya.

Percampuran genetika memang sangat mungkin terjadi mengingat sejarah hunian Nusantara terisi beberapa gelombang migrasi besar di masa lampau.

"Jadi itu menandakan apa? Mongoloid kan datang dari, kita percaya selama ini, China daratan. Sementara austromelanesia dari arah yang lain lagi," ujar peneliti dari Puslit Arkenas itu.

"Artinya, di sini ada percampuran," tegas Retno.

Hal ini, menurut Retno, bisa mengungkapkan bahwa sejak ribuan tahun lalu masyarakat Indonesia telah mengenal percampuran ras melalui perkawinan.

"Artinya apa, 2.000 tahun yang lalu nenek moyang Sumba itu sudah bisa diketahui dari ras apa. Memang prosentase secara DNA ini belum kita dapat, tapi sedang kita kejar," tutur Retno.

"Yang sekarang sedang kita lakukan adalah secara morfologi. Ada ahli paleoantropologi yang mengamati, yang hampir semuanya itu punya ciri-ciri Mongoloid sekaligus juga ciri-ciri Austromelanesid," sambungnya.

Dalam laporan penelitiannya pun, Retno dan timnya menulis bahwa ketika observasi pada kerangka di situs Lambanapu, sebagian besar gigi rangka mempunyai tembilang ganda.

Tak hanya itu, di bagian labial dapat diraba suatu cekungan. Kedua hal tersebut merupakan tanda keturunan dari ras Mongoloid. Selain itu, pada beberapa individu lain, hasil pengamatan Retno dan tim menunjukkan adanya alveolar prognatism atau tonjolan rahang yang membuat gigi tidak sejajar. Ciri ini biasanya dijumpai pada Deuteromalayid dan Protomalayid di Jawa.

Tim peneliti mengatakan bahwa diperkirakan ciri tersebut disebabkan karena percampuran ras Mongoloid dan Austromelanesid di area Indonesia. Pasalnya, kebanyakan ras Mongoloid di negara lain di Benua Asia tidak memiliki alveolar prognatism.

Alveolar prognatism ini juga menyebabkan bentuk wajah yang memanjang pada kerangka-kerangka tersebut, meski tengkorak dan wajah individu itu tidak utuh tulang-tulangnya.

Ciri wajah memanjang ini bahkan masih mudah kita temui pada orang Sumba zaman sekarang. "Artinya bahwa sejak zaman dulu itu kita sudah ada percampuran ras. Tidak ada yang bisa mengklaim bahwa kita murni Mongoloid, kita murni pribumi, kita murni Austromelanesid," tegas Retno.

"Sejak 2.000 tahun yang lalu pun sudah terjadi percampuran ras itu, kawin-mawin lah, dan sebagainya," pungkasnya.



 


Petak hutan terancam punah yang ditemukan di sepanjang Amerika Selatan, ‘berhutang nyawa’ kepada orang-orang asli setempat yang hidup harmonis bersama mereka selama beberapa abad.

Para arkeolog menduga, Araucaria atau pohon teka-teki monyet telah tumbuh berabad-abad lalu karena cuaca yang lebih hangat dan basah menyebar di seluruh wilayah tersebut.

Namun, bagaimana pun juga, hasil penelitian menyatakan, kelompok masyarakat Jê Selatan lah yang memainkan peran penting dalam menumbuhkan hutan Araucaria. Mereka merawat pohon untuk sumber makanan dan kebutuhan lainnya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa hutan ini merupakan buatan manusia,” kata dr. Mark Robinson, arkeolog dari University Of Exeter.

“Kelompok masyarakat tersebut menetap di padang rumput. Kemudian, mereka memodifikasi tanah, melindungi bibit, bahkan menanam pohon hingga akhirnya menjadi hutan. Padahal, secara geografis, hutan Araucaria seharusnya tidak berkembang di sana,” paparnya.

Bersama dengan tim peneliti internasional, dr. Robinson menemukan fakta bahwa pohon-pohon Araucaria telah mengalami dua ekspansi besar di wilayah tersebut.

Yang pertama, terjadi sekitar 4.480 hingga 3.200 tahun lalu – disebabkan oleh meningkatnya kelembapan. Namun, ini tidak menjadi alasan pertumbuhan terbesar kedua yang memuncak pada 900 tahun lalu.

Pada fasekedua  tersebut, hutan meluas ke area dataran tinggi yang kondisinya relatif kering. Namun, mereka tetap bisa tumbuh. Ini bertepatan dengan periode meningkatnya penduduk Je Selatan serta perkembangan masyarakat yang kompleks.  

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada jurnal Scientific Reports.

Hingga saat ini, jutaan Araucaria atau pohon teka-teki monyet yang meliputi beberapa wilayah Cile, Brasil, dan Argentina, masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Penduduk lokal menyebut diri mereka sebagai “orang-orang Araucaria”, karena mengadalkan pohon tersebut untuk kebutuhan kayu, bahan bakar, makanan dan getahnya.

Tidak hanya menjadi ‘pohon nasional’ di Cile, festival dan perayaan pun dilakukan untuk menghormati hutan Araucaria – ia menjadi pusat dari kosmologi lokal.

Meskipun begitu, keadaan Araucaria tidak baik-baik saja. Pohon yang menjadapat julukan ‘fosil hidup’ ini berada di dalam ancaman: lahan hutan yang luas akan diubah menjadi pertanian.
Lima dari 19 spesies pohon teka-teki monyet terancam punah. Dua diantaranya berada dalam kondisi kritis.

Para ilmuwan di balik studi ini mengatakan, hasil penelitian mereka seharusnya menjadi pengingat pentingnya peran Araucaria bagi lingkungan maupun budaya setempat. Oleh sebab itu, kita harus melindunginya.

“Studi ini menunjukkan bahwa hutan Araucaria mampu meluas di luar batas alami mereka. Artinya, hutan  dijaga dan digunakan secara berkelanjutan selama ratusan tahun. Strategi konservasi saat ini harus mencerminkan hal tersebut sehingga perkembangan ekonomi dan warisan masa lalu bisa seimbang,” kata Profesor José Iriarte dari University of Exeter yang menjadi bagian dari tim peneliti.

Menurut data terbaru, Greenland mencair lebih cepat dari yang diperkirakan dan ia kehilangan esnya tujuh kali lebih cepat dibanding tahun 1990-an. 

"Diperkirakan mencairnya es Greenland akan menyebabkan 100 juta orang kebanjiran di akhir abad. Ditambah dengan kenaikan air laut, maka jumlahnya bisa mencapai 400 juta. Ini bukan dampak yang kecil; fenomenanya benar-benar terjadi dan akan membahayakan masyarakat pesisir," kata Andrew Shepherd, peneliti dari University of Leeds dalam sebuah pernyataan. 

Shepherd merupakan satu dari 96 ilmuwan kutub internasional yang bergabung dengan lembaga pemerintah--termasuk NASA's Jet Propulsion Lab dan European Space Agency--untuk menciptakan Ice Sheet Mass Balance Intercomparison Exercise (IMBIE). 

Para peneliti mempelajari 26 survei berbeda untuk menghitung perubahan lapisan es antara 1992 hingga 2018--menilai data dari 11 misi satelit berbeda yang mengukur perubahan volume es, aliran, dan gravitasi.

Tim peneliti menggunakan model iklim wilayah dan hasilnya menunjukkan bagaimana hilangnya setengah es disebabkan oleh peningkatan suhu udara. Sementara itu, setengah lainnya hilang akibat peningkatan aliran gletser dan kenaikan suhu lautan. 
Sejak 1992, Greenland telah kehilangan 3,8 triliun ton es--cukup untuk menyebabkan kenaikan permukaan laut hingga 10,6 milimeter.

Dan dalam dekade terakhir, jumlah es yang mencair meningkat dari 33 miliar ton pada 1990-an menjadi 254 miliar ton. 

Greenland menyimpan cukup air untuk meningkatkan permukaan laut hingga 7,4 meter (24 kaki). Pada 2100, Intergovernmental Panel on Climate Change memprediksikan bahwa permukaan laut dunia akan meningkat sebanyak 70 sentimeter dan Greenland menyumbang sekitar 5-16 sentimeter.


 Meteorit dari Mars yang berusia 4 miliar tahun memiliki molekul organik yang mengandung nitrogen, menyatakan bahwa Planet Merah ini mungkin pernah menjadi rumah bagi awal kehidupan.

Meteorit Allan Hills (ALH) 840001—dinamai sesuai dengan wilayah Antartika tempat ia ditemukan pada 1984—mengandung mineral karbonat berwarna oranye yang kemungkinan diendapkan dari cairan asin di Mars miliaran tahun lalu.

Asteroid itu sendiri diduga terlontar dari permukaan Mars sekitar 15 juta tahun lalu, membawa serta organik mengandung nitrogen yang ditemukan dalam minera karbonat. Mineral seperti itu dapat merekam lingkungan air paling awal di Mars—termasuk nitrogen yang merupakan elemen penting pada semua kehidupan di Bumi, juga protein, DNA, serta RNA.

Penemuan yang dipublikasikan pada Nature Communications ini menyatakan bahwa kehidupan awal di Mars sangat basah dan kemungkinan mengandung material organik—membuatnya berpotensi untuk ditinggali.

Studi terbaru yang menganalisis batuan sedimen dan meteorit menghadirkan bukti serupa dan ekspedisi sebelumnya juga telah menemukan belerang dan hidrokarbon yang mengandung klorin. Namun, hanya sedikit yang diketahui tentang asal usul, evolusi, dan apakah senyawa ini bermain penting dalam kehidupan biologis.

Pengujian ALH sebelumnya terkontaminasi salju dan es Antartika sehingga sulit untuk menentukan kandunga meteorit tersebut. Untuk mengimbanginya, tim peneliti dari Earth-Life Science Institute di Tokyo Institute, serta Institute of Space and Astronautical Science di Japan’s Aerospace Exploration Agency, menggunakan pita perak untuk mencabut butiran kecil karbonat dari meteor..


Sebuah mikroskop elektron kemudian digunakan untuk mendeteksi keberadaan nitrogen dan menentukan bahan kimia dan senyawa yang berkaitan. Itu lalu dibandingkan dengan mineral beku yang tidak mengandung nitrogen.

Tim peneliti mengatakan mereka yakin telah menemukan kandungan nitrogen yang terawetkan dalam karbonat—menunjukkan bahwa Mars mungkin "mirip Bumi" sebelum menjadi Planet Merah.

Kini, permukaan Mars terlalu kasar bagi beberapa organisme untuk bertahan hidup. Namun, para ilmuwan percaya bahwa senyawa organik masih tersimpan di permukaan Mars selama miliaran tahun, seperti yang terjadi pada ALH 84001.

Penemuan ini membuka lebih banyak tentang potensi kehidupan awal di Mars: dari mana nitrogen ini berasal?

“Ada dua kemungkinan: entah dari luar Mars atau terbentuk sendiri di Mars. Di awal sejarah Tata Surya, Mars kemungkinan dihujani sejumlah besar bahan organik, misalnya dari meteorit yang kaya karbon, komet, dan partikel debu. Beberapa dari mereka mungkin telah larut dalam air garam dan kemudian terperangkap di dalam karbonat,” papar Atsuko Kobayashi, ilmuwan dari Earth-Life Science Institute (ELSI) di Tokyo Institute of Technology.


 

Spesies lebah super langka yang tidak pernah terlihat selama hampir satu abad tiba-tiba muncul kembali. Spesies yang dianggap sudah punah ini telah ditemukan kembali oleh seorang peneliti serangga di Australia.

Lebah "bertopeng" yang sangat langka ini, yang dikenal sebagai Pharohylaeus lactiferus, berasal dari Australia dan merupakan satu-satunya spesies dalam genus Pharohylaeus. Ukurannya mirip dengan lebah madu Eropa invasif (Apis mellifera). Sebelumnya hanya ada enam individu dari spesies Pharohylaeus lactiferus yang telah diidentifikasi di Australia dan terakhir dilaporkan pada tahun 1923.

Setelah hampir 100 tahun berselang hilang tak ada kabar dan dianggap sudah punah, akhirnya baru-baru ini lebah tersebut ditemukan kembali oleh James Dorey, seorang kandidat doktor di Universitas Flinders. Lebah itu Dorey temukan saat dirinya sedang menyelesaikan penelitian lapangan di negara bagian Queensland.
Dorey kemudian melakukan survei yang lebih besar di Queensland dan New South Wales yang ia tujukan khusus untuk menelusuri keberadaan P. lactiferus. "Saya tidak pernah mengira akan menemukannya," kata Dorey seperti dikutip dari Live Science. "Tapi kami telah menangkap lebah itu berkali-kali lebih banyak sekarang daripada yang kita lakukan saat itu."


Penemuan kembali P. lactiferus merupakan sebuah kebetulan yang menyenangkan bagi Dorey. "Mengetahui bahwa P. lactiferus tidak pernah ditemukan begitu lama lantas saya terus mengawasi lebah itu dan mengikutinya ke arah pantai," kata Dorey. "Begitu saya berhasil menemukan spesimen pertama, saya memiliki tempat untuk memulai dan kesempatan untuk mencari lebih banyak lagi (spesimen lainnya)."

Setelah penemuan itu, Dorey menghabiskan waktu lima bulan untuk mensurvei 245 situs di Queensland dan New South Wales untuk mencari lebih banyak lebah bertopeng itu. Dorey memfokuskan upayanya pada tanaman berbunga tertentu yang mirip dengan tanaman tempat dia menemukan individu pertama. Pengambilan sampel melibatkan kombinasi dari pengamatan bunga untuk melihat apakah lebah mengunjungi mereka dan penangkapan dengan jaring kupu-kupu di atas bunga.

Survei tersebut mengungkapkan adanya tiga populasi lebah bertopeng yang terisolasi secara geografis di sepanjang pantai timur Australia. Setiap populasi hidup di petak-petak hutan hujan tropis dan subtropis dengan tipe vegetasi tertentu. Dorey berpendapat bahwa lebah ini sangat bergantung pada pohon firewheel (Stenocarpus sinuatus) dan pohon api illawarra (Brachychiton acerifolius).
Survei tersebut telah mengidentifikasi lebih banyak individu P. lactiferus daripada sebelumnya. Tetapi karena catatan sejarah yang buruk, tidak ada cara untuk mengetahui apakah populasi lebah bertopeng telah meningkat atau menurun dari waktu ke waktu, menurut Dorey.

Meskipun lebah dapat hidup dalam populasi yang terisolasi karena mereka sangat menyukai habitat tertentu, Dorey menduga bahwa penggundulan hutan dan kebakaran hutan yang semakin parah dan banyak juga dapat berperan dalam isolasi mereka.

“Di mana lebah-lebah ini ditemukan, tipe hutan hujan itu telah mengalami perusakan habitat dan fragmentasi,” kata Dorey. "Ini berarti bahwa habitat ini sudah jadi lebih sedikit," dan itu membuat "lebih sulit bagi [lebah] untuk berpindah di antara apa yang tersisa."

Penelitian Dorey tentang lebah menunjukkan bahwa penggundulan hutan dan kebakaran hutan menempatkan spesies tersebut berada pada risiko kepunahan, untuk selamanya.


Perjuangan atas warisan Blackbeard berlangsung sejak ia terbunuh di perairan pesisir Calorina Utara ratusan tahun lalu.
Queen Anne's Revenge kandas pada 1718 di lepas pantai Beaufort. Bangkai kapal itu ditemukan pada 1996 oleh perusahaan swasta yang berbasis di Palm Bay, Florida bernama Intersal Inc. 

Negara bagian Carolina Utara dan Intersal membuat kesepakatan pada 1998 dengan keputusan bahwa perusahaan itu berhak untuk mengambil foto dan video dari bangkai kapal Blackbeard dan dilindungi hak cipta. Sementara itu, penyelam dari North Carolina Department of Natural and Cultural Resources mulai mengekskavasi bangkai kapal tersebut.

Perselisihan tentah hak kekayaan intelektual pun terjadi. Akan tetapi ketidaksepakatan itu diselesaikan pada 2013 dengan aturan baru yang melibatkan negara bagian, Intersal, dan Nautilus Productions dari Fayettevile yang telah membuat video dan foto dari situs dan artefak yang telah ditemukan.

Tetapi pada 2015, Badan Legislatif Negara Bagian Carolina Utara mengeluarkan undang-undang bahwa semua gambar terkait dengan penggalian Queen Anne's Revenge secara otomatis milik negara.

Intersal dan Nautilus Production mengajukan gugatan. Sementara itu, tidak ada pekerjaan penggalian yang dilakukan di lokasi bangkai kapal sejak 2015.

Otoritas negara bagian Carolina Utara mengonfirmasi pada 2011 bahwa kapal karam di lepas pantai dari kota kecil Beaufort itu memang Queen Anne's Revenge. Kapal itu kandas di gundukan pasir dekat Beaufort pada 1718, sembilan tahun setelah kota itu didirikan. Blackbeard dan krunya meninggalkan kapal dan selamat.


Selama 15 tahun, North Carolina Departmen of Cultural Resources menekankan bahwa bangkai kapal yang ditemukan pada 1995 itu "dianggap sebagai" Queen Anne's Revenge.

Setelah meninjau bukti secara komprehensif, mereka menyatakan pada 2011 bahwa bangkai kapal itu yang dilayari oleh bajak laut paling terkenal sepanjang sejarah. 
Ada dua alasan utama menurut Calire Aubel, koordinator hubungan masyarakat dari North Carolina Maritime Museum. Yakni besarnya bangkai kapal dan banyaknya senjata yang ditemukan di puing-puing.

Tidak ada kapal lain sebesar Queen Anne's Revenge yang diketahui berada di sana saat itu. Kapal bajak laut juga akan dipersenjatai dengan baik, katanya.


Sejak 1997, artefak utama yang ditemukan diantaranya adalah:

Timbangan apoteker yang dicap dengan fleurs-de-lis, simbol kerajaan Prancis abad ke-18. Menurut laman National Geographic, Queen Anne's Revenge sebenarnya adalah bekas kapal Prancis bernama Le Concorde yang dirampas oleh Blackbeard pada 1717. Dia juga memaksa ahli bedah Le Concorde untuk bergabung dengan kru bajak lautnya.

Kemudian sejumlah kecil emas yang ditemukan di antara peluru timah. Para arkeolog berpikir seorang awak Prancis mungkin telah menyembunyikan emas dalam tong peluru untuk menyembunyikannya dari bajak laut Blackbeard.
Lalu, ditemukan juga lonceng yang terukir angka tahun 1705.


Naga merupakan makhluk mitologi yang melegenda hampir di seluruh penjuru dunia. Kehadirannya masih menjadi teka-teki besar dalam kehidupan di bumi. Masing-masing negara di dunia telah memiliki kepercayaan terhadap naga, dalam versinya sendiri. Indonesia, sejatinya juga memiliki sosok naga yang menjadi mitologi. Naga tersebut bernama Sang Hyang Antaboga (orang Jawa menyebutnya Ontobugo).
Bagi masyarakat Jawa dan Bali, kisah Antaboga telah diturunkan dari generasi ke generasi dengan kisah yang sama, yang diambil dari kisah pewayangan. Kesamaan kepercayaan dan kisah tentang Antaboga di Jawa dan Bali dikarenakan kesamaan kepercayaan masyarakatnya pada era berkembangnya ajaran Hindu-Buddha di Nusantara.

Dani Akbar Rizaldi dalam tesisnya berjudul Perancangan Informasi Mengenai Tokoh Sang Hyang Antaboga Melalui Media Komik, pada 2018, menjelaskan tentang seluk beluk Sang Hyang Antaboga. "Antaboga merupakan perwujudan naga dalam mitologi pewayangan Jawa" tulisnya. Sang Hyang Antaboga merupakan salah satu tokoh dengan wujud naga dan memiliki sejumlah kekuatan, salah satunya yaitu menghidupkan kembali jasad yang telah mati.
"Pada kisah pewayangan, Antaboga digambarkan hidup di tempat bernama Saptapralata atau tujuh lapis bumi yang berada di dalam tanah" tambahnya. Ia juga memiliki istri bernama Dewi Supreti yang juga berwujud naga. Dari sanalah kemudian ia memiliki keturunan dan anak-anak. 

Antaboga memiliki dua anak, bernama Bambang Naga Tatmala dan Dewi Nagagini. Jacob Stolworthy dalam artikelnya berjudul J.K. Rowling says she left one major clue about Nagini's backstory in 'Harry Potter,' long before 'Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald', pada tahun 2019, menjelaskan tentang tokoh Nagini.

"Nagini terinspirasi dari Naga di Indonesia, yang kadang digambarkan dengan sayap, kadang manusia setengah ular" tulisnya. Nagini merupakan salah satu tokoh dalam film sohor, Fantastic Beast, yang merupakan sekuel dari film Harry Potter. Nagini merupakan tokoh yang terinspirasi dari Dewi Nagagini, anak dari Antaboga.


Kepercayaan Jawa terhadap naga, sebenarnya tidak hanya digambarkan pada sosok Antaboga. Sebelum kemunculannya, dalam relief peninggalan Majapahit juga muncul penggambaran wujud naga. Relief Nagaraja Anuhut Surya ditemukan pada candi Sawentar, Blitar, berangka tahun 1396 M.

Objek memvisualisasi seekor naga sedang memakan matahari. Menurut para arkeolog, objek tersebut menggambarkan masa kelam Majapahit. Surya atau matahari, adalah lambang dari Majapahit. Surya yang dimakan oleh Nagaraja, Mengisahkan keruntuhan kerajaan Majapahit.

Kepercayaan naga kemudian terus berkembang hingga dianggap sebagai sosok dewa. "Bagi masyarakat Jawa, Antaboga adalah dewa penyangga bumi" tulis Marsudi dalam jurnalnya yang berjudul Bangkitnya Tradisi Neo-Megalitik di Gunung Arjuna, publikasi tahun 2015.

Mitologi yang berkembang, mendorong masyarakat Jawa mempercayai adanya gua Antaboga, yang berada di Gunung Arjuna. Mereka percaya bahwa para peziarah lelaku (tirakat atau ziarah) yang datang ke situs gua Antaboga, maka mereka akan ditemui oleh ular raksasa (naga) yang dipercaya adalah sosok Antaboga.


Masyarakat Jawa kemudian telah mengaplikasikan Antaboga pada ornamen maupun ukiran hiasan. Umumnya ia akan muncul pada hiasan gong sebagai simbol naga Jawa. Peninggalan benda-benda kuno juga umumnya dihiasi sosok naga jawa, seperti keris, pintu candi, hingga ornamen-ornamen bernuansa Jawa. 

Beberapa keris yang menggambarkan dirinya ialah keris Naga Runting, keris Naga Ransang, keris Naga Sasra dan lain sebagainya. Begitu juga dengan masyarakat Bali, mereka selalu menyertakan patung Antaboga pada bagian depan rumahnya, atau vihara tempat mereka sembahyang.