Ketika Cato masih kecil, orang bisa melihat dia tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dengan orang di sekelilingnya. Sejak kecil ia sangat keras kepala dan tidak bisa menoleransi ketidakadilan.

Dia baru berusia 13 tahun saat mempertanyakan metode keras jenderal Romawi dan diktator Lucius Cornelius Sulla. Juga pelanggaran hukum dan peraturan yang dilakukannya. Suatu ketika dia menyadari bagaimana Sulla pada tahun 82 SM merebut kekuasaan dengan paksa dan menyatakan dirinya diktator. Cato Muda bertanya kepada gurunya mengapa belum ada yang membunuh jenderal Romawi yang brutal itu.

Menurut filsuf dan penulis biografi Yunani, Plutarch, Cato Muda berbisik kepada gurunya Sarpedon: "Mengapa tidak ada yang membunuh orang ini?"

"Karena," katanya, "mereka takut padanya, Nak, lebih dari membencinya."

"Kalau begitu, mengapa," jawab Cato Muda, "kamu tidak memberiku pedang, agar aku bisa menikamnya, dan membebaskan negaraku dari perbudakan ini?"

Sarpedon mendengar ini dan pada saat yang sama melihat wajahnya dipenuhi kemarahan dan tekad. Sejak saat itu sang guru mengawasinya dengan ketat, jangan sampai dia melakukan upaya putus asa untuk mengatasi ketidakadilan.

Pada saat itu, orang sudah bisa melihat Cato Muda akan menjadi pria yang gigih dengan tekad yang besar.

Lahir pada tahun 95 SM. di Utica, Afrika (sekarang di Tunisia) Marcus Porcius Cato, juga dikenal sebagai Cato dari Utica atau Cato Muda. Ia adalah seorang senator Romawi yang sangat konservatif. Cato Muda berjuang untuk mempertahankan Republik Romawi melawan para pencari kekuasaan. “Seperti Julius Caesar, yang dia benci lebih dari apapun,” tutur Ellen Lloyd dilansir dari laman Ancient Pages.

Bagi banyak orang, Cato Muda mewakili model kebajikan. Belakangan, Cato Muda menunjukkan bahwa dia cocok untuk menjadi orang yang memiliki kepentingan politik yang besar.

Kakek Cato, Cato Tua (234 SM - 149 SM) terkenal karena kebijakannya yang konservatif dan anti-Yunani. Cato Muda menunjukkan keinginannya yang kuat untuk mempertahankan tradisi Romawi kuno dalam berbagai kesempatan.

Pada tahun 78 SM tahun Sulla meninggal, Romawi ingin menghapus memori kediktatorannya. Pejabat kota berencana menghapus pilar yang menghalangi jalan di aula pertemuan besar Basilica Porcia. Namun Cato Muda yang saat itu berusia 18 tahun muncul dan memprotes.

Mempertahankan pilar yang didirikan oleh kakeknya, ia berpendapat bahwa struktur itu telah berdiri selama ratusan tahun. Jadi sama sekali tidak ada alasan untuk mengubahnya. Pidatonya meninggalkan kesan mendalam sehingga pejabat kota membatalkan rencananya.

Berjalan-jalan dengan rambut panjang dan wajah yang tidak dicukur, orang akan mengira ia adalah penghuni gua. “Namun Cato Muda tidak peduli akan penampilannya,” Lloyd menambahkan.

Cato Muda secara sadar menegaskan kebajikan Romawi lamanya dengan mengenakan toga tanpa tunik. "Ia menjadi terbiasa menahan panas dan dingin dengan kepala telanjang dan berjalan kaki tanpa kendaraan", tulis Plutarch.

Cato Muda, pemimpin jujur di era korup

Karier politik Cato Muda dimulai pada 65 SM, periode yang bergejolak dalam sejarah Romawi kuno.

Penduduk Romawi terbagi. Kelas bawah telah menjadi lebih miskin dari sebelumnya, dengan lebih banyak hutang. Penduduk menuntut perubahan sosial dan politik.

Saat itu Cato Muda baru kembali ke Roma setelah menyelesaikan tugas militernya di Makedonia dan perjalanan pribadinya di Timur Tengah.

Pada usia 28, Cato Muda terpilih sebagai quaestor, posisi yang memberinya pengetahuan tentang kode pajak Romawi. Tidak menunggu lama, ia segera mengetahui bahwa mantan pria di kantor pos telah menghasilkan banyak uang. Mantan petugas itu menerima suap untuk menghapus beberapa hutang. Ini merupakan hal yang tidak dapat diterimanya.

Setelah quaestor terpilih, tindakan pertamanya menusuk langsung ke jantung birokrasi. Dia dengan cepat memecat semua pegawai dan asisten yang dinilai tidak layak menjabat atau bersalah karena korupsi.

Pembersihan’ besar-besaran ini menjadi berita utama dan mencabut pisau panjang dari karir juru tulis. Menurut pemuda ini siapa dia? Apa yang tidak dia pahami tentang kekompakan antara yang terpilih dan yang ditunjuk? Tindakannya dianggap mengerikan bagi seseorang yang mendapatkan banyak keuntungan dari birokrasi.

Cato Muda, bagaimanapun, tidak menyadari reaksi apa pun atas tindakannya itu. Baginya, apa yang perlu diketahui selain fakta bahwa hukum telah dilanggar? Namun ia cukup fleksibel dan mencari tahu penyebab di balik pelanggaran.

Dalam pemeriksaannya, ia menemukan bahwa sejumlah panitera telah melakukan kesalahan. Alih-alih karena sengaja, kesalahan terjadi karena ketidaktahuan akan hukum. Untuk mengatasinya, Cato Muda mengajari aturan dan tanggung jawab perbendaharaan. Jika mereka bersedia menerima bimbingannya, dia siap untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Jika tidak, mereka harus keluar.

Rivalitas Cato Muda dan Caesar dimulai di Senat Romawi

Kejujuran Cato Muda menarik perhatian dan pada tahun 63 SM dia terpilih menjadi tribun rakyat. Di Senat Romawi, Ia berhadapan dengan Julius Caesar yang dibencinya. Dari pandangan Cato Muda, Julius Caesar pasti tampak seperti badut.

Cato Muda mengikuti prinsip-prinsip Stoikisme dan mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan. Dia mengadopsi gaya hidup pertapanya dengan olahraga ketat, hanya mengonsumsi makanan yang diperlukan, dan minum anggur termurah. “Pemuda yang tertutup, pesta tidak ada dalam agendanya,” imbuh Lloyd.

Bagi pria seperti Cato Muda, kemewahan Julius Caesar pastilah tampak mengerikan. Bukan hanya ini yang tidak disukainya dari Caesar. Caesar terpilih sebagai salah satu dari dua konsul Romawi pada tahun 59 SM. Hal ini membuatnya kesal karena itu adalah pos republik yang paling berpengaruh.

Cato Muda sudah memperingatkan orang-orang agar tidak membuka jalan bagi tiran, namun hanya sedikit yang mendengarkannya.

Oposisi Cato Muda terhadap Pompeius, Caesar, dan Marcus Licinius Crassus membantu mewujudkan koalisi mereka dalam Triumvirat Pertama. Ini bersamaan dengan pemilihannya sebagai praetor pada tahun 54 SM.

Ia terus berusaha mendapatkan jabatan konsul pada tahun 51 SM. Namun karena tidak melakukan intimidasi, suap, dan lobi, maka usahanya gagal. Padahal hal-hal tersebut biasa dilakukan dalam perebutan kekuasaan konsul Romawi.

Bunuh diri heroik

Julius Caesar mengumpulkan Legiun XIII dan menyatakan perang terhadap Romawi. Sementara Caesar menyerang dan mengalahkan mantan sekutunya Pompeius, Cato Muda melarikan diri ke Utica. Ia sadar bahwa itu adalah awal dari akhir hidupnya.

Pada April 46 SM, tersiar kabar bahwa mantan konsul Metellus Scipio dan pasukannya yang membela Utica telah gugur. Cato Muda berhasil mendorong beberapa orang Romawi di Utica untuk mempertahankan kota. Orang-orang itu segera menyadari bahwa mereka tidak memiliki kesempatan melawan pasukan Julius Caesar dan memohon untuk meninggalkan kota. Keinginan mereka dikabulkan.

Ketika putra Cato Muda memintanya untuk menyerah, dia menolak: "Saya, yang tumbuh dalam kebebasan dengan hak untuk berbicara dengan bebas, tidak dapat berubah di usia musim gugur dan belajar menjadi budak," ungkapnya, menurut penulis Dio Cassius.

Pada malam yang sama, Cato Muda mengambil pedangnya dan menikam perutnya sendiri, tetapi tidak langsung mati. Ketika ditemukan, kerabatnya memanggil dokter dan menjahit lukanya. “Begitu tersadar, ia merobek lukanya dengan kekuatan terakhir dan mati,” tambah Lloyd.

Cato mengakhiri hidupnya, ini menjadi “model bunuh diri heroik yang dihormati dan ditiru banyak orang.”

Caranya mengakhiri hidup dan bagaimana orang lain merayakan kematiannya menjelaskan mengapa lawan politik Kaisar dieksekusi atau bunuh diri.

Ketika Julius Cesar mendengar berita itu, dia berujar: "Cato Muda, aku dendam padamu atas kematianmu, seperti kamu akan mendendam padaku sepanjang hidup.”


Sejak zaman Firaun, Sungai Nil memiliki tempat khusus. Dari seni, ekonomi, agama, dan militer, Nil memiliki peranan penting dalam semua aspek kehidupan sosial dan politik Mesir dan Romawi.

Di bawah Kaisar Nero, ekspedisi mencoba menemukan sumber air Sungai Nil. Meskipun tidak membuahkan hasil, penjelajah Nero menjadi orang Eropa pertama yang menjelajah jauh ke Afrika khatulistiwa.

Alasan pasti tidak diketahui, entah penaklukan atau dokumentasi, Nero melakukan upaya tanpa henti untuk mencari sumber air Sungai Nil.

Romawi kuno dan daya pikat Mesir

Sejarawan Yunani Herodotus menyebut Mesir sebagai ‘hadiah dari Sungai Nil’. Tanpa sungai yang kuat dan banjirnya yang meninggalkan lumpur hitam yang subur, tidak akan ada peradaban Mesir kuno. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa Sungai Nil menjadi elemen sentral dari mitologi Mesir. “Sebagai simbol kelahiran kembali, sungai memiliki dewanya sendiri, pendeta yang setia, dan upacara mewah,” ungkap Vedran Bileta dilansir dari laman The Collector.

Ketika Romawi mengambil alih, Mesir menjadi sumber makanan Kekaisaran Romawi. Sejak abad kedua SM, elit Romawi terpikat dengan wilayah terkaya di Mediterania ini.

Selama satu setengah abad, bahkan tokoh-tokoh kuat di Republik Romawi mempengaruhi politik raja-raja Ptolemeus dari jauh. Kehadiran Julius Caesar di Mesir menandai keterlibatan langsung Romawi dalam urusan wilayah kuno. Campur tangan ini memuncak dengan aneksasi Romawi atas Mesir pada 30 SM.

Ketika kaisar Augustus merayakan pengambilalihan provinsi kaya, personifikasi Sungai Nil adalah salah satu elemen sentral dari prosesi tersebut. Dengan segera, masyarakat pun mulai mendekorasi rumah dengan segala hal yang berbau Mesir dan Sungai Nil.

Seni Nilotic pun muncul dan populer di abad pertama Masehi. Seni Nilotic menunjukkan kekuatan kekaisaran Romawi dalam menaklukkan tanah liar dan asing serta sungai pemberi hadiah yang besar.

Pencarian sumber air Sungai Nil

Ketika Nero naik takhta, perbatasan selatan Mesir Romawi menikmati masa damai. Ini tampak seperti kesempatan sempurna untuk mengatur ekspedisi ke tempat yang tidak diketahui. Motif pasti Nero tidak jelas.

Ekspedisi bisa menjadi survei awal untuk serangan militer penuh ke wilayah selatan. “Atau bisa juga dimotivasi oleh keingintahuan ilmiah,” ungkap Bileta. Tim ekspedisi berlayar ke selatan, menyusuri Sungai Nil, untuk menemukan sumber air Sungai Nil.

Plinius Tua dan Seneca, memberi informasi yang sedikit berbeda tentang usaha pencarian tersebut. Jika memang ada dua ekspedisi, yang pertama dilakukan sekitar tahun 62 M, sedangkan yang kedua dilakukan lima tahun kemudian.

Ekspedisi ini dipimpin oleh dua perwira Pengawal Praetorian, yang dikomandani oleh sebuah tribun. Pilihan ini tidak mengejutkan, karena pengawal terdiri dari orang-orang kaisar yang paling dipercaya. Mereka juga dipilih sendiri dan diberi pengarahan secara rahasia. Pengalaman yang cukup diperlukan untuk bernegosiasi dengan para penguasa yang ditemui dalam perjalanan menyusuri Sungai Nil.

Alih-alih peta, orang Romawi mengandalkan rencana perjalanan yang sudah ada sebelumnya. Bileta menambahkan, “Mereka berpedoman pada data yang dikumpulkan oleh berbagai penjelajah dan pelancong Graeco-Romawi dari selatan.”

Selama perjalanan, para penjelajah kekaisaran Nero mencatat rute dan menyajikannya sekembalinya ke Romawi, bersama dengan laporan lisan. Detail penting dari laporan ini disimpan oleh Plinius dalam Natural History-nya. Sedangkan deskripsi lengkapnya berasal dari Seneca.

Dokumentasi kekayaan Sungai Nil

Penjelajahan itu melintasi perbatasan di Syene, melewati Philae, sebelum meninggalkan wilayah kekaisaran. Pulau Philae pada saat itu merupakan tempat perlindungan penting di Mesir, tetapi juga merupakan pusat komersial.

Mencapai Pselchis dengan garnisun Romawi yang kecil, ekspedisi harus melakukan perjalanan darat ke Premnis. “Karena bagian Sungai Nil ini sulit dan berbahaya untuk dinavigasi,” tutur Bileta.

Di Premnis, ekspedisi menaiki perahu yang membawa mereka lebih jauh ke Selatan. Para penjelajah mengandalkan bantuan lokal, persediaan, air, dan informasi tambahan untuk lebih dekat ke sumber Sungai Nil.

Selanjutnya, perjanjian diplomatik dapat dibuat dengan perwakilan dari suku-suku setempat. Selama bagian perjalanan inilah para perwira mulai merekam perjalanan mereka secara lebih rinci.

Mereka menggambarkan fauna lokal, termasuk buaya ramping, dan kuda nil raksasa, hewan paling berbahaya di Sungai Nil. Bergerak ke selatan, para penjelajah mengunjungi ‘kota kecil’ Napata, yang pernah menjadi ibu kota Kushite sebelum dijarah Romawi.

Saat ini, orang Romawi menghadapi terra incognita, dengan gurun berangsur-angsur surut sebelum tanah hijau subur. Dari perahu, kru bisa melihat burung beo, babon, dan sphynga, monyet kecil.

Selatan jauh

Sebelum mendekati Pulau Meroƫ, para penjelajah sempat menemukan beberapa hewan terbesar di Afrika, termasuk gajah dan badak. Terletak di utara Khartoum modern, Mero adalah ibu kota baru kerajaan Kushite.

Saat ini, Meroƫ kuno berbagi nasib yang menimpa Napata, terkubur oleh pasir gurun. Namun, pada abad pertama, ini adalah kota terbesar di wilayah tersebut, yang dipenuhi dengan arsitektur monumental termasuk makam piramida yang terkenal. Kerajaan Kush adalah negara kuno yang menghadapi gelombang penjajah, dari tentara firaun hingga legiun Romawi. Mero, bagaimanapun, adalah tempat yang belum pernah dicapai orang Romawi sebelum kedatangan penjelajah Nero.

Di Meroƫ catatan ekspedisi berbeda. Menurut Plinius, Praetorian bertemu dengan sang Ratu, Kandake Amanikhatashan. Sedangkan Seneca menyebutkan bahwa Praetorian bertemu dengan raja Kushite.

Pemimpin Kushite menasihati tentang sejumlah penguasa selatan yang mungkin mereka temui dalam perjalanan lebih jauh ke pedalaman. Pda saat itu, tim ekspedisi menuju lebih dekat ke sumber air Sungai Nil.

Setelah Praetorian meninggalkan Mero, melanjutkan ke hulu, lanskap berubah lagi. Hutan liar dengan sedikit orang menggantikan ladang hijau.

Mencapai daerah Karthoum modern, para penjelajah menemukan tempat di mana Sungai Nil terbelah menjadi dua. Di tempat itu, airnya berubah warna dari coklat menjadi biru tua. Mereka tidak mengetahuinya saat itu, tetapi sekarang kita tahu bahwa para penjelajah menemukan Nil Biru yang mengalir dari dataran tinggi Etiopia.

Sebaliknya, para prajurit memutuskan untuk terus menyusuri Sungai Nil Putih, yang membawa mereka ke Sudan Selatan. “Pada titik ini, mereka menjadi orang Eropa pertama yang menembus jauh ke selatan ini ke Afrika,” Bileta menambahkan.

Bagi orang Romawi, ini adalah negeri yang penuh keajaiban, dihuni oleh makhluk-makhluk fantastik—kerdil kecil, hewan tanpa telinga atau dengan empat mata. Di negeri ini, rang-orang yang diperintah oleh penguasa anjing dan pria berwajah terbakar. Bahkan pemandangannya tampak seperti dunia lain. Gunung-gunung bersinar merah seolah-olah dibakar.

Apakah penjelajah Nero berhasil menemukan sumber air Sungai Nil?

Saat mereka bergerak lebih jauh ke selatan menuju sumber air Sungai Nil, daerah yang dilalui para penjelajah menjadi semakin basah, berawa, dan hijau. Akhirnya, Praetorian yang pemberani mencapai rintangan yang tidak dapat dilewati: daerah rawa yang luas, yang sulit untuk dilintasi. Ini adalah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Sudd, rawa besar yang terletak di Sudan Selatan.

Sudd, dengan tepat, diterjemahkan sebagai 'penghalang'. Penghalang vegetasi lebat inilah yang menghentikan ekspedisi Romawi ke Afrika khatulistiwa.

Romawi bukan satu-satunya yang gagal melewati Sudd. Bahkan ketika penjelajah Eropa mencapai Danau Victoria pada pertengahan abad ke-19, mereka menghindari daerah itu. Danau besar dicapai dari timur.

Namun, ada sedikit informasi menarik yang ditinggalkan Seneca. Dalam laporan mereka yang dikirimkan ke Nero, para penjelajah menggambarkan air terjun yang tinggi – ‘dua tebing yang darinya sejumlah besar air sungai mengalir ke bawah’. Beberapa pakar mengidentifikasikannya sebagai Air Terjun Murchison (dikenal juga sebagai Kabalega), yang terletak di Uganda.

Jika benar, ini berarti bahwa orang Romawi sudah sangat dekat dengan sumber air Sungai Nil. Air Terjun Murchison terletak di tempat Sungai Nil Putih, yang berasal dari Danau Victoria, terjun ke Danau Albert.

Apa pun titik terjauh yang dicapai penjelajah Romawi, sekembalinya mereka ke Roma, ekspedisi itu dinyatakan sukses besar. Kematian Nero, bagaimanapun, mencegah misi lebih lanjut atau serangan militer potensial di selatan. Penerusnya tidak memiliki keinginan yang sama dengan Nero untuk menjelajah.

“Dengan demikian, selama hampir dua milenium, sumber Sungai Nil tetap berada di luar jangkauan Eropa,” imbuh Bileta.

Perlu waktu hingga pertengahan abad ke-19 bagi sumber Sungai Nil untuk mengungkapkan rahasia terakhirnya. Pertama dengan Speke dan Burton pada tahun 1858. Dan kemudian dengan Stanley pada tahun 1875, yang menatap tanpa berkata-kata ke perairan Air Terjun Victoria.

Akhirnya, orang-orang Eropa menemukan tempat di mana semuanya dimulai, tempat dari mana Sungai Nil yang perkasa membawa hadiahnya ke Mesir.

 


Sekitar abad ke-18, di dekat tangga Anatomy School of Oxford University, Inggris, terdapat benda aneh. Lokasinya tak jauh dari peta Tiongkok yang diambil oleh seorang pengacara, John Selden. Benda itu adalah potongan kulit bertato yang diawetkan dari seorang budak yang dibeli di Mindanao, Filipina.

Potongan kulit itu adalah milik Jeoly yang dikisahkan lahir di Miangas, pulau paling utara Indonesia—tidak jauh dari Mindanao, Filipna. Bagaimana kisahnya bisa mencapai Inggris adalah bukti bagaimana 'penasarannya' orang Eropa memandang secara rasialis di masa lalu terhadap dunia di luar mereka.

Keberadaan Jeoly di Inggris dicatat oleh orientalis Inggris Thomas Hyde (1636-1703) di paruh akhir abad ke-17, yang menyebutnya sebagai seorang pangeran, putra dari Raja Gilolo (Jailolo). Catatan itu berjudul An account of the famous Prince Giolo, son of the King of Gilolo, now in England with an account of his life, parentage, and his strange and wonderful adventures, the manner of his being brought for England. 

Awalnya Jeoly didapatkan William Dampier (1651-1715), seorang bajak laut yang pertama kali berhasil menjelajahi Papua dan telah mengitari dunia tiga kali. Dampier mendapatkan anak lelaki itu ketika kapalnya bersandar di Fort St. George, India pada 1690. Seseorang yang disebutnya sebagai Tuan Moody asal Mindanao itulah yang menawarkan Jeoly kepada Dampier. Singkatnya, Dampier membeli dua orang budak, yang salah satunya adalah Jeoly, dengan harga 60 dolar.

Seiring waktu, Jeoly dan Dampier sering diajak berbicara lewat bahasa Melayu dan memiliki ikatan emosional walaupun hubungan mereka adalah tuan kapal dan budak belian. Tak tahu bagaimana kabar selanjutnya tentang ibunya, yang jelas ia sakit dan Dampier merawatnya dengan baik.

Dampier dalam memornya A new voyage round the world menulis "Setelah beberapa waktu mereka berdua jatuh sakit dan, meskipun saya merawat mereka layaknya mereka adalah saudara laki-laki dan perempuan saya." Kemudian, ibunya meninggal dan Dampier terus berusaha menghibur Jeoly yang sulit dihibur karena lebih memilih membungkus diri dengan pakaian ibunya.

Tiba di London, ia dijual oleh Dampier. Hubungan persaudaraan mereka harus disingkirkan demi bisnis karena Dampier sedang kekurangan uang.

"Saya karena kekurangan uang, dibujuklah saya untuk menjual bagian penting dari hidup saya, yakni dia, dan secara bertahap semuanya," kenang Dampier. "Setelah ini saya mendengar dia dibawa untuk ditampilkan sebagai pajangan."

Di Inggris, Jeoly dilafalkan sebagai Giolo. Poster yang menunjukkan pameran tentang keberadaannya bagai hewan sirkus disebar sebagai "Pangeran Bercat yang Terkenal" dan disimpan di sebuah tempat bernama Blue Boar Inn di Inggris. Dia digambarkan sebagai sosok budak bercawat yang murung, kesepian, dan pendiam, dengan gambar-gambar aneh di kulitnya


ilustrator John Savage pun menggambarkan sosok Giolo lengkap dengan tato yang sangat detail. Tatonya berbentuk garis-garis simetris pada dadanya dengan banyak pola persegi empat, lengkungan yang mengitari ketiak, dan di lengan bawahnya terdapat garis zig-zag. Pola yang menyerupai gelang berturut-turut dari siku hingga pergelangan tangan. Sementara di bagian bagian betis dan pangkal pahanya terdapat tato ombak dan sirip besar.

Tato adalah cara memperindah diri dalam kebudayaan Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Filipina, dan kepulauan Pasifik. Tato, menurut kebudayaan Visaya di Filipina, diyakini memiliki kekuatan spiritual dan kualitas magis yang dapat memperkuat diri serta perlindungan. Berbagai budaya di Asia Tenggara membedakan pola-pola tato sebagai penggambaran status sosial sebagai identitas dirinya.

Hyde mencatat, sejak ketibaannya di Inggris pada 1692, tato Giolo adalah gambaran hidup di dunia bagian lain. Tatonya dikatakan melindungi dirinya dari bisa ular dan racun. Ketenaran Giolo bahkan mendapat perhatian oleh Raja Ingris ke istana.

Selain itu dalam tulisannya, Hyde mengumpulkan berbagai cerita tentang Giolo semasa di Asia Tenggara. Meski demikian, cerita tentang kehidupannya mungkin meragukan. Pasalnya, Hyde mengumpulkan ragam cerita yang didapatkan, termasuk orang Belanda anonim yang mengaku bisa "bahasa Celebean" (mungkin salah satu bahasa daerah Sulawesi) untuk berbicara dengannya.

Tak lama, Jeoly meninggal karena cacar di Oxford. Pihak universtas memutuskan untuk mengawetkan kulitnya demi ilmu pengetahuan dan digantung bagai lembaran kertas dengan tinta di samping peta Tiongkok milik John Selden. Kini, kulit itu telah tiada karena lenyap dimakan usia.


 Ekspedisi Endurance adalah misi Inggris untuk menyeberangi Antarktika dengan berjalan kaki pada tahun 1914-1917. Dimulai pada Agustus 1914, ekspedisi ini menjadi salah satu kisah bertahan hidup paling terkenal sepanjang masa. Kapal ekspedisi, Endurance, terdampar dan kemudian tenggelam selama perjalanan ke Antarktika.

Awak Endurance terdampar di Pulau Gajah yang terpencil. Mereka berhasil diselamatkan empat bulan kemudian, pada Agustus 1916, setelah pemimpin ekspedisi Sir Ernest Shackleton pergi mencari bantuan.

Kemampuan bertahan hidup di tengah lingkungan ekstrem membuat Shackleton dan krunya terkenal di seluruh dunia. Meskipun tujuannya untuk menyeberangi Antarktika dengan berjalan kaki tidak pernah tercapai.

Lokasi tenggelamnya kapal Endurance sempat hilang selama 107 tahun hingga ditemukan kembali pada 5 Maret 2022.

Ekspedisi Endurance

Secara resmi dikenal sebagai Ekspedisi Imperial Trans-Antarktika, Ekspedisi Endurance ke Antarktika dimulai pada Agustus 1914. Para kru berlayar ke Laut Weddell melalui Georgia Selatan.

Ekspedisinya terdiri dari dua kapal. Satu akan menurunkan depot pasokan untuk kru dan yang lain dari sisi lain benua.

“Shackleton berharap untuk menyeberangi Antarktika dan membuat dirinya terkenal karena penjelajahan itu,” ungkap penulis biografi Shackleton, Sir Ranulph Fiennes.

Di sisi lain benua, kru kedua, yang disebut Ross Sea Party, berencana untuk menurunkan pasokan depot dari kapal mereka Aurora. Dengan awak 28 (termasuk Shackleton), Endurance memasuki Laut Weddell tetapi terperangkap dalam es selama Desember 1914. Terjebak dengan cepat di dalam es, awak tidak dapat membebaskan Endurance. Kapal itu hanyut hingga sekitar 48km pada Januari 1915, sebelum melintas ke utara.

Endurance perlahan-lahan dihancurkan oleh es yang bergerak, Shackleton memerintahkan kru untuk meninggalkan kapal pada 27 Oktober 1915. Kapal tenggelam tak lama kemudian dan kru berhasil melarikan diri dengan tiga sekoci dan persediaan terbatas. Di sinilah perjuangan bertahan hidup dimulai. Shackleton memimpin anak buahnya melewati lapisan es yang menyusut selama berbulan-bulan. Mereka berusaha mencapai daratan.

Misi penyelamatan Shackleton

Pada 9 April 1916, kru Ekspedisi Endurance meninggalkan gumpalan es yang terapung di sekoci. Mereka mencapai Pulau Gajah yang tidak berpenghuni dan terpencil pada 14 April.

Sepuluh hari kemudian, Shackleton dan lima awaknya berangkat mencari bantuan menggunakan sekoci sepanjang 6,9 meter.

Sisa awak yang masih berada di Pulau Gajah menggunakan sekoci yang ditelungkupkan untuk melindungi diri dari cuaca ekstrem.

Shackleton dan kru kecilnya berlayar lebih dari 1.300 km melintasi Samudra Selatan ke sekelompok pemburu paus di Georgia Selatan. Misi penyelamatan yang berani kemudian dikenal sebagai pelayaran Caird.

"Itu adalah penderitaan yang paling menakjubkan dalam waktu yang lama. Ada penolakan terus-menerus. Selalu basah dan dingin benar-benar melemahkan kru," kata Fiennes. Ketahanan mental mereka patut diacungi jempol.

Shackleton dan anak buahnya harus menghadapi lautan yang ganas, angin dan penumpukan es di lambung berpotensi membalikkan kapal mereka. Ia kemudian menceritakan bahwa gelombang mencapai ketinggian lebih dari 30 meter dan bergerak dengan kecepatan 80kmpj.

Pada tanggal 5 Mei 1916, kapal itu bahkan dihantam gelombang pasang yang awalnya dikira Shackleton sebagai langit. Dia kemudian menulis: "Saya belum pernah melihat ombak yang begitu besar."

Setelah 17 hari di laut, Shackleton mendarat di pantai selatan Georgia Selatan—seberang pulau dari tujuan mereka. Setelah pulih dari perjalanan, Ia dan dua awaknya berjalan kaki selama 36 jam melintasi pulau. Mereka mencapai stasiun Stromness pada 20 Mei. Shackleton selanjutnya mengatur kapal penyelamat untuk mengumpulkan 22 awak yang tersisa di Pulau Gajah.

Setelah beberapa upaya penyelamatan yang gagal, Shackleton dipinjamkan kapal tunda bernama Yelcho oleh pemerintah Cili. Ia akhirnya mencapai Pulau Gajah pada 30 Agustus 1916. Sinyal asap dikirim dari pantai ketika Shackleton mendekati pantai dengan perahu kecil.

Sosok-sosok muncul dari sekoci yang terbalik dan ketika dia berada dalam jarak pendengaran, Shackleton berseru: "Apakah kalian baik-baik saja?"

"Semua baik!" balas mereka. Semua pria di pulau itu selamat. "Ini adalah kisah bertahan hidup yang benar-benar luar biasa," kata Fiennes.

Nasib kru kedua

Kisah kru Endurance adalah contoh terbaik untuk bertahan hidup melawan rintangan. Namun, Ross Sea Party yang terabaikan menjadi terdampar di Antarktika hingga Januari 1917.

"Shackleton secara kriminal lalai dalam perencanaannya untuk pihak lain," kata Fiennes. Tiga orang di kelompok itu tewas dan tentu saja tidak mengetahui bahwa Endurance tenggelam. Ketiga orang itu mati dengan mengenaskan tanpa hasil.

Kisah Endurance menjadi begitu terkenal. Ini membuat penderitaan dari Ross Sea Party dan fakta bahwa Shackleton tidak mencapai tujuan sebenarnya hampir dilupakan.


Sebuah penelitian terbaru di jurnal Evolutionary Biology mengungkapkan bahwa Tyrannosaurus rex (T. rex) sebenarnya adalah salah satu dari tiga spesies yang terpisah. Makalah yang terbit Selasa (01/03/2022) lalu ini menjadi pembahasan kalangan ilmuwan terkait klasifikasi dinosaurus purba yang sangat ikonik ini.

"Makalah ini kemungkinan akan mengguncang komunitas pecinta masa purba dan masyarakat yang sudah terbiasa dengan T. rex tua," ujar Greogy Paul, penulis utama makalah terebut dan seorang paleontolog independen. 

Tyrannosaurus adalah genus dalam klasifikasi ilmiah pada hewan, sedangkan T. rex adalah spesies yang berada di dalam genus ini. Sementara ini banyak orang yang memahami bahwa hanya ada satu spesies tyrannosaurus, hanya T. rex yang taksonomi namanya stabil sejak ditemukan 1902.

Dalam makalah itu, Paul dan dua penulis lainnya berpendapat, bahwa T. rex yang selama ini kita kenal semestinya dipecah jadi tiga spesies terpisah. Mereka menyebut dua spesies lainnya yang mereka namai Tyrannosaurus imperator dan Tyrannosaurus regina.

Melansir New York Times, Paul mengatakan T. rex berasal dari beberapa dekade tanpa revisi taksonomi utama. Begitu pengumpulan fosil dinosaurus berkembang pesar pada 1990-an, banyak kerangka T. rex yang diangkut ke museum dan menunjukkan jumlah variasi individu yang luar biasa. Dia bersama timnya berpendapat, keragaman ini membuatnya terbagi dalam dua kelompok, antara individu besar yang kuat, dan yang relatif ramping.


Thomas Holtz, paleontolog bidang Tyrannosaurus di University of Maryland berpendapat, bahwa itu hanya bukti perbedaan besar antara betina dan jantan dari spesies itu. Dan apa yang dilakukan Paul dan tim hanyalah menggunakan hipotesis awal yang meyakini tyrannosaurus adalah genus dengan lebih dari satu spesies.

Selain itu, Thomas Carr paleontolog dari Carthage College, Winconsin, AS, sebelumnya terlibat dalam penulisan makalah. Ia mendapati bukti untuk beberapa speises "semakin lemah" untuk dijabarkan sebagai lebih dari satu spesies. Ia menundurkan diri dan menghapus namanya dari tim itu sebelum makalah dipublikasikan.

Carr juga mengatakan, agar kurator museum dengan spesimen tyrannosaurus yang akan terpengaruh oleh klasifikasi ulang ini sebaiknya tidak mengganti nama apapun berdasarkan tulisan makalah.

Namun Holtz tidak sepenuhnya menolak, karena gagasan pembagian tiga spesies juga masuk akal, tetapi membutuhkan dukungan temuan di masa depan.

"Ini adalah hipotesis yang dapat diuji, sebagaimana pernyataan identitas spesies apa pun seharusnya," ujarnya. "Dengan tambahan spesimen baru, kita bisa melihat apakah spesimen yang tidak mereka sertakan atau belum kita temukan konsisten dengan saran ini, atau jika mereka menolaknya."

Penelitian ini bermula dari Paul yang mempertanyakan identitas T. rex pada 2010. Para peneliti mengumpulkan pengukuran anatomi dari 38 spesimen yang ada dan menilainya berdasarkan pasangan ciri anatomi, seperti proporsi relatif tulang paha, ada atau tidaknya dua set gigi depan seperti yang ada di bawah rahang T. rex.

Selain itu, dalam laporan mereka, para peneliti telah membandingkan speismen tyrannosaurus dari seluruh Amerika Utara. Paul dan tim mencatat, ada banyak variasi yang lebih luas secara signifikan dalam proporsi tubuh, yang menunjukkan ada beberapa spesies yang mereka usulkan.

Ada pula Paul dan timnya menemukan beberapa spesimen yang sulit diklasifikasikan. Temuan seperti ini masuk dalam pengelompokan tiga spesies itu, dengan ciri bentuk yang kuat dengan dua set gigi seri di rahang bawahnya, dan bentuk yang kuat dan ramping dengan satu set gigi seri.

Namun analisis bentuk ini dikritik oleh ilmuwan lain, misalnya tubuh ramping pada spesimen mungkin lebih dapat disebut sebagai individu tyrannosaurus remaja atau anak-anak. Ada juga masalah utama Paul dan tim yang dipandang kontroversi oleh ilmuwan lainnya adalah proporsi tulang paha dari ketiga spesies yang tumpang tindih daripada dipisahkan secara jelas secara ilmiah.

Carr juga membandingkan kesimpulannya dengan analisis-analisis besar-besaran T. rex yang pernah dilakukannya di jurnal Paleontology and Evolutionary Science tahun 2020. Dia menjelaskan, tidak menemukan adanya hubungan yang jelas antara data yang dimilikinya, yang melibatkan setiap spesimen tyrannosaurus yang ada, dengan penjelasan Paul dan tim.

"Empat dari spesimen itu punya tengkorak yang sempurna!" ujar Carr di New York Times. "Mereka semestinya bisa membedakan spesies jika mereka punya tengkorak yang sempurna, dan mereka tidak bisa melakukannya."

Gregory Paul sendiri adalah peneliti yang tidak punya gelar formal dalam paleontologi, tetapi memiliki riwayat panjang dalam bidang ilmu ini. Dia telah menulis dan menjadi anggota penulis di lebih dari 30 makalah ilmiah. Sebelumnya, ia mengusulkan genus dan spesies baru juga pada dinosaurus lain seperti Iguanodon, dan pekerjaannya memengaruhi Michael Crichton novelis dan pembuat film Jurassic Park.

Di samping provokatifnya makalah terbaru dari Paul dan tim, ada juga ilmuwan yang lain merasa temuan seperti ini harus jadi tinjauan ulang di masa mendatang. Gagasan seperti ini merupakan cara sains berkembang dan disarankan bagi ilmuwan yang tidak menyukai temuan ini sebaiknya menerbitkan makalah sanggahan.


Kamis, 2 Maret 2022 adalah hari kedua untuk kegiatan ekskavasi tahap ketiga oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Mereka bekerja bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Malang di Situs Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kelompok arkeolog yang dipimpin oleh Wicaksono Dwi Nugroho ini sebelumnya meyakini bahwa material bangunan di sana menunjukkan adanya candi.

Pukul empat sore, mereka sedang menggali sisi barat sumuran yang terletak di bagian tengah candi. Sumuran adalah pondasi candi yang masuk jauh ke dalam tanah. Mereka mendapati artefak dengan bagian bagan terbuat dari perunggu dan penutup atas dari emas di kedalaman enam meter.

"Ketika ditemukan dia dalam posisi miring tertindih oleh [batuan] bata-bata," ujar Wicaksono kepada National Geographic Indonesia, Sabtu (05/03/2022). "Emas dan perunggu ini berasosiasi (berhubungan). Pada bagian depannya dari wadah ini ada emas itu dan kita menduga ini merupakan satu gabungan."

Wicaksono dan tim berpendapat, benda ini, sekaligus candi yang menjadi tempatnya berada, berasal dari abad ke-10. Penanggalan ini dapat ditentukan berdasarkan konteks tempat temuan yang tidak jauh dari temuan Prasasti Linggasuntan yang punya catatan kalender 851 saka atau 929 Masehi.

Selain itu bentuk candi yang masih dalam tahap ekskavasi ini memiliki bentuk yang berbeda dengan di Trowulan. Candi ini terbuat dari batuan berukuran besar, yang menandakan masanya berbeda dari Majapahit yang cenderung menggunakan batuan berukuran kecil. Dengan kata lain, Wicaksono berpendapat, area tempat ini adalah peninggalan Kerajaan Mataram kuno (Kerajaan Medang) di masa Mpu Sindok.

"Temuan emas kita temukan di sumuran—bagian tengah dari candi—pada hari kedua karena mau memperdalam [galian]," terang Wicaksono.

"Kita menemukan suatu wadah yang bagian badannya terbuat dari perunggu dan bagian penutup atasnya dihiasi oleh emas. Ini kita duga bagian dari persembahan yang kemudian ditanam. Biasanya di bagian sumuran ada beberapa benda yang sengaja ditanam dengan tujuan 'menghidupkan candi' itu sendiri."


"Dan kita masih terus memperdalam bagian tengah berharap untuk kita menemukan yang biasanya di bagian itu ada peripih—berupa wadah yang biasanya diisi oleh biji-bijian dan tujuh unsur—yang merupakan bagian terpenting karena ada lempeng emas yang bertuliskan mantra-mantra."

Candi di Srigading

Ekskavasi pertama dan kedua telah dilakukan oleh tim. Hasilnya, membuktikan bahwa tanah yang dulunya gundukan setinggi tiga meter di Desa Srigading ini adalah candi. Awalnya mereka mendapati adanya Yoni yang terbuat dari andesit dengan ukuran 90 x 90 sentimeter dan tingginya 93 sentimeter. 

Dua kali ekskavasi sebelumnya telah membuka beberapa lubang di sekitarnya yang mengungkap adanya tangga candi di sisi timur (menghadap Gunung Semeru). Tangga ini ditemukan pada ekskavasi kedua yang berjalan pada 21 hingga 26 Februari 2022.

Sedangkan ekskavasi ketiga yang berlangsung dari Rabu (02/03/2022) hingga Selasa (08/03/2022) bertujuan untuk membuka bagian tengah dan bilik utama candi, termasuk sumuran. Selain itu ekskavasi ini hendak melanjutkan kedua ekskavasi sebelumnya untuk menampakan halaman asli (mainfield) candi ini yang masih terkubur 40 hingga 50 sentimeter.

"Menariknya, kita menemukan tiga buah arca Agastya, Mahakala, Nandiswara," terang Wicaksono mengenai ekskavasi sebelumnya. Mereka pun berhasil menemukan Lingga yang merupakan bagian yang seharusnya berpasangan dengan Yoni yang ditemukan sebelumnya.

"Nah, kita juga menemukan dalam runtuhan itu beberapa fragmen relief yang ada tiga buah, menggambarkan bentuk kepala manusia."


Relief di candi ini juga membuktikan bahwa periode yang membuatnya adalah pada masa Kerajaan Mataram kuno karena ukirannya yang tebal tidak seperti yang dimiliki Majapahit. Hal ini membuat penggambaran candi bisa dirujuk pada candi-candi pada masanya seperti di kompleks Candi Prambanan.

Namun, candi ini telah runtuh dengan sangat masif di bagian atasnya. Wicaksono dan tim menemukan di dinding sumuran itu mengalami keretakan dan beberapa relief terlepas dari badan candi.

"Ini sebenarnya dari data teknis terjadi keretakan akibat pergeseran tanah sehingga pondasi bergerak yang menyebabkan keretakan," terang Wicaksono. "Pondasi ini bergerak tidak lain sepertinya gempa yang kemudian setelah gempa yang terjadi beberapa kali sehingga pondasi jadi bergerak dan tidak stabil, sehingga memengaruhi tubuh dan atap menjadi pecah dan runtuh di semua sisi."

Saat ini Wicaksono dan rekan-rekan masih menggali untuk menampakkan keseluruhan profil candi. Akan tetapi untuk pelestarian ini, karena berada di lahan milik warga, sedang diupayakan untuk pembasan lahan secara bertahap setelah berkoordinasi dengan mereka.

Dari segi perlindungan juga BPCB berkoordinasi dengan pihak dan warga untuk kemanan pascaeksavasi agar tidak ada penggalian liar. Situs ini masih dalam proses untuk mendapatkan perlindugnan secara hukum lewat UU No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.


Pada 2013, sebuah meteorit besar meledak di langit Chelyabinsk, Rusia menyebabkan sekitar 7.200 bangunan rusak. Penelitian terbaru menyingkap asal batuan antariksa ini jauh pada waktu yang sangat lama, diperkirakan terlibat dalam tumbukan super di bumi yang membentuk bulan.

Penelitian itu diterbitkan di Communications Earth & Environment, Kamis (24/02/2022). Temuannya menawarkan pemahaman baru bagaimana tabrakan antara asteroid dan benda-benda planet sepanjang sejarah tata surya kita. Agar, para ilmuwan berikutnya bisa merekonstruksi bagaimana dan kapan benda-benda langit yang kita kenal muncul.

"Usia tumbukan meteorit seringkali kontroversial," kata Craig Walton, pemimpin penelitian dari Department of Earth Sciences, University of Cambridge, Inggris. "Pekerjaan kami menunjukkan bahwa kami perlu menarik banyak bukti untuk lebih yakin tentang sejarah dampak–hampir seperti menyelidiki TKP kuno."

Mereka menyelidiki perkiraan tabrakan antara bebatuan di ruang angkasa itu lewat analisis mikroskopis pada mineral dalam meteorit. Dari situlah tim penelitian mempelajari untuk menarik waktu jauh ke masa pembentukan tata surya pada 4,5 miliar tahun yang lalu.

Pembentukan tata surya berawal dari piringan debu dan gas yang mengelilingi matahari yang juga masih muda. Dalam waktu yang lama, planet mulai terbentuk lewat berbagai tumbukan yang berulang dari bebatuan yang berukuran lebih kecil.

Masalahnya, planet-planet itu, termasuk Bumi, menimbun sisa-sisa peristiwa ini oleh proses geologis yang membuatnya sulit dilacak. Para peneliti menggunakan asteroid yang pecahannya jatuh ke bumi sebagai metorit yang rentan.

Asteroid juga dapat mengapung di ruang hampa yang kurang lebih tidak berubah sampai tersedot ke gravitasi planet. Artinya, batuan angkasa itu jauh lebih tua dan bisa mencatat waktu tumbukan yang utuh.

Walton dan tim mencatat bagaimana mineral fosfat meteorit Chelyabinsk dibedah ke berbagai tingkat untuk mengumpulkan sejarahnya, dalam penanggalan uranium-leadnya.

"Fosfat di sebagian besar meteorit primitif adalah target yang menarik untuk mengetahui peristiwa luar biasa yang dialami meteorit pada tubuh induknya," ujar Sen Hu, tim penelitian yang merupakan doktor di Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences, Beijing, Tiongkok, dikutip dari Eurekalert.

Ternyata, meteorit ini telah mengalami dua kali tumbukan, berdasarkan penanggalan yang dihasilkan. Pertama, tabrakan terjadi sekitar 4,5 miliar tahun silam, sesuai dengan masa proses pembentukan tata surya. Kedua, usianya lebih muda yang terjadi pada 50 juta tahun yang lalu. 

Kendati demikian, para peneliti mencatat, kondisi usia ini tidak begitu jelas seperti "lukisan yang memudar dari waktu ke waktu." Tabrakan-tabrakan lainnya yang terjadi meburamkan gambaran tentang tumbukan yang sangat penting untuk dicatat, dan menimbulkan ketidakpastian kesimpulan.

Walton dan tim percaya, kemungkinan tumbukan ini yang menyebabkannya terpisah dari batuan induknya yang lebih besar, yang selanjutnya melayang menuju ke Bumi.

Pada usia tumbukan yang tertua, ada banyak bukti sebelumnya yang memiliki kekuatan tinggi untuk menghancurkan batu di ruang angkasa sekitar 4,48 miliar hingga 4,44 miliar tahun yang lalu.

Kerangka waktu ini penting, catat para peneliti, karena bisa bertepatan dengan dua periode pembentukan utama yang terpisah dalam sejarah tata surya, yakni pembentukan planet-planet besar atau tabrakan kuno yang diyakini menyebabkan bumi purba terhantam untuk membentuk bulan.

Para peneliti memperkirakan, induk meteorit ini adalah benda yang menabrak bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Tabrakan ini menyebabkan banyak material bumi purba ke luar angkasa, yang selanjutnya bergabung untuk membentuk bulan.

"Fakta bahwa semua asteroid ini mencatat pencairan intens saat ini mungkin menunjukan pembentukan ulang tata surya, baik yang dihasilkan dari pembentuka bumi-bulan atau mungkin pergerakan orbit planet-planet raksasa (Jupiter, Saturnus, Neptunus, dan Uranus)," terang Walton di Live Science.

Walau penyelidikan ini memiliki cara yang baru, teknik ini bisa digunakan untuk penelitian serupa. Tetapi terkait hal bulan di masa lalu, Walton dan tim berencana meninjau kembali waktu pembentukan bulan supaya memiliki banyak jawaban untuk mengisi celah misteri sejarahnya yang menarik dikulik.