Spesies kuno yang dikenal dengan nama Habelia optata, diduga hidup pada pertengahan masa Kambrium, sekitar 508 juta tahun yang lalu.

Ia hadir ketika ‘ledakan Kambria’ terjadi – sebuah periode dalam sejarah Bumi ketika para leluhur hewan yang kita kenal sekarang, muncul untuk pertama kalinya.

Habeliasendiri memiliki beberapa karakteristik yang ditemukan pada hewan moderen, seperti tubuh yang tersegmentasi dan kerangka luar seperti lobster dan serangga. Namun, para ilmuwan belum yakin dari keluarga evolusioner mana ia berasal.

Meskipun begitu, sebuah studi yang menganalisis 41 spesimen fosil, menemukan fakta bahwa makhluk kuno ini berkaitan dengan nenek moyang dari chelicerates – kelompok spesies meliputi laba-laba dan kalajengking.

“Habelia menunjukkan arsitektur tubuh yang sangat detail seperti pada chelicerates,”  kata dr. Cedric Aria, ahli paleontologist di University of Toronto yang menjadi pemimpin penelitian ini.

Selain itu, alasan mengapa Habelia dikaitkan dengan chelicerates adalah dari bentuk mulutnya.

Chelicerates mendapatkan namanya dari “chelicerae”, semacam penjepit tambahan di mulut yang digunakan laba-laba dan kalajengking untuk memotong mangsa mereka.

Sebagai tambahan, Habelia memiliki semua persenjataan di kepala. Ditambah dengan kaki yang berkembang sempurna untuk berjalan, para peneliti menyimpulkan bahwa hewan ini termasuk ‘pemburu’ di dasar laut.

Secara spesifik, dr. Aria mengatakan, Habelia menggunakan rahang mereka yang menakutkan untuk menyerang trilobita (kelompok hewan prasejarah yang memiliki kulit luar nan keras).

“Dengan bentuk mulut dan rahang seperti itu, membuat Habelia dapat merobek mangsanya dengan cepat dan efektif. Ini menjadikan ia salah satu predator,” kata dr. Aria.

Bintang Zombie yang Enggan Mati

Posted by BaronNight On 12:16 AM 0 comments


Bintang-bintang termasif mengakhiri kisah hidupnya dengan cara yang paling dramatis. Bintang-bintang itu menerangi langit dengan ledakan yang kecerlangannya melampaui kecerlangan galaksi dan kedahsyatannya mampu melontarkan jeroan bintang ke ruang angkasa. Saat material dari ledakan itu akhirnya mengendap, yang tersisa hanyalah inti dari objek yang dahulu merupakan raksasa kosmik. Kini inti itu telah runtuh.

Ledakan ini disebut supernova. Selama bertahun-tahun, ribuan supernova telah diamati dan diteliti oleh astronom seperti Iair Arcavi. Oleh karena itu, ketika pada tahun 2014 Iair menemukan supernova baru, ia tidak berprasangka apa-apa. Sebagaimana supernova lainnya, supernova yang satu ini menerangi langit malam dalam waktu yang singkat, sebelum akhirnya meredup. Karena peristiwa ini tampaknya akan berakhir, Iair beralih ke penelitian lain.

Beberapa minggu kemudian, Iair kembali memeriksa bintang yang meredup itu dan terkejut saat melihat bintang itu bertambah terang. Tak disangka-sangka bintang itu seakan-akan meledak untuk kedua kalinya.

Selama dua tahun kemudian, Iair dan timnya terpana saat bintang itu memecahkan rekor. Selama 600 hari, bintang tersebut menjadi terang dan meredup sebanyak lima kali. Bintang itu meledak berkali-kali! Selain itu, setelah menyelidiki masa lalu si bintang, diketahui bahwa bintang tersebut ternyata pernah meledak lebih dari 60 tahun lalu.

Jadi, apa yang terjadi sebenarnya? Sejujurnya, tak seorangpun yang tahu. Tebakan terbaik adalah ledakan-ledakan itu tidak disebabkan oleh keruntuhan bintang seperti supernova pada umumnya, tapi karena bintang itu mulai membuat materi aneh yang disebut “antimateri.” Ketika antimateri bersentuhan dengan materi normal di dalam bintang, terjadilah ledakan dahsyat. Akibatnya, bintang tersebut menjadi terang lagi dan lagi.

Namun, seperti dongeng-dongeng lainnya, kisah bintang ini telah mencapai bagian akhir. Setelah 600 hari, bintang malang dan kehabisan energi ini tak lagi mampu menampilkan pertunjukan kembang api kosmik. Setelah ledakan terakhir, bintang ini akan meredup selamanya.

 


Sebuah penggalian di dekat Tembok Ratapan, sebelah barat Jerusalem, Israel, mengungkap keberadaan bebatuan, sisa-sisa teater masa Romawi.

Terlihat tak kurang dari sisa kursi batu yang berjumlah 200-an buah.

Otoritas Purbakala Israel mengungkap keberadaan situs bebatuan yang telah 1.700 tahun tersembunyi.

"Dari prespektif penelitian, penemuan ini sensasional," kata para peneliti, Joe Uziel, Tehillah Lieberman, dan Avi Solomon, seperti yang dikutip laman UPI, Selasa (17/10/2017).

Disebutkan, jalur menuju arena teater itu terbuat dari bongkahan batu-batu besar. Keberadaan ruang teater itu pun terungkap setelah penggalian sedalam delapan meter.

Catatan sejarah menunjukkan, teater tersebut dibangun pada masa pendudukan Romawi di Jerusalem antara tahun 63 SM hingga tahun 313.

Lokasinya berada di dekat Wilson\'s Arch, sebuah gerbang lengkung yang terbuat dari batu besar, menuju ke Temple Mount.

Penemuan ini pun sekaligus menjadi konfirmasi atas penelitian yang telah berlangsung selama ini. 

Keberadaan teater itu juga mengejutkan para peneliti, sebab awalnya, mereka menggali dengan harapan dapat mendalami sejarah Wilson\'s Arch.

"Kami tidak membayangkan hal ini dapat membuka jendela ke dalam misteri hilangnya teater di Jerusalem," lanjut dia.

Arkeolog menduga, teater itu mungkin dibangun untuk penyelenggaraan konser, ceramah, atau tempat rapat legislatif.


Kemungkinan lainnya, teater itu juga tidak pernah dipakai. Anak tangga yang ditemukan juga tidak terpahat sempurna.

Bangunan yang tidak selesai dari era yang sama juga pernah ditemukan sebelumnya. " Teater ini relatif kecil ukurannya apabila dibandingkan dengan teater Romawi lainnya," ujar Uziel.

Tugas penggalian penemuan lokasi bersejarah ini merupakan bagian dari proyek yang dilakukan oleh relawan remaja yang diadakan Otoritas Purbakala Israel.

 

Sven Sachs, paleontolog dari Museum Sejarah Alam Bielefeld Jerman sedang berada di Museum Lower Saxony State di Hannover, Jerman, untuk mempelajari reptil laut purba. Tanpa sengaja, perhatiannya tertuju pada salah satu fosil Ichthyosaurus.

Meski label nama spesies tersebut sudah tercantum, tetapi Sachs masih curiga jika fosil yang dia perhatikan merupakan spesies baru dari genus Ichthyosaurus. Ichthyosaurus sendiri merupakan sejenis reptil laut yang umumnya dianggap sebagai dinosaurus perenang.

"(Fosil) itu sangat luar biasa. Lebih besar dari spesies manapun yang pernah saya teliti," katanya seperti dikutip Science Alert, Sabtu (26/8/2017).

Fosil tersebut ditemukan pada pertengahan tahun 1990-an di Somerset Inggris. Namun, semenjak ditemukan, fosil tersebut tidak dipelajari dan langsung dipajang di museum.

Sachs pun segera meminta pendapat dari koleganya yang memang mempelajari Ichthyosaurus, Dean Lomax dari Universitas Manchester. Pada awal 2017 mereka mulai memeriksa spesimen itu bersama-sama-sama, dan ternyata dugaan itu benar. Mereka mendapati jika fosil tersebut merupakan kerabat baru dari genus Ichthyosaurus yang hidup sekitar 200 juta tahun lalu.

Fosil yang pada akhirnya diberi nama Ichthyosaurus somersetensis ini memiliki ukuran tubuh 3-3,5 meter, menjadikannya sebagai spesies terbesar dari jenisnya. Dia juga lebih pantas disebut dengan "Naga Laut" karena memiliki tubuh yang panjang, fleksibel, serta mampu berenang layaknya belut.

Ichthyosaurus somersetensis juga diketahui sedang mengandung embrio berukuran tujuh sentimeter saat mati. Analisis mengungkapkan adanya embrio yang tidak lengkap tersimpan dalam tubuh fosil betina tersebut, termasuk sebagian tulang belakang, tulang rusuk, dan beberapa tulang lainnya.

"Jarang ada embrio yang terawetkan," kata Sachs. Inilah mengapa penemuan tersebut menjadi penting bagi ilmu pengetahuan, karena menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

Namun, sayang pihak museum melakukan kesalahan mengidentifikasi spesies tersebut. Faktor yang mengaburkan silsilah spesimen ini ternyata bermula dari kesalahan penamaan dari pihak museum.

Pihak museum menambahkan ekor palsu pada fosil Ichthyosaurus somersetensis dengan ekor dari Ichthyosaurus lain untuk membantu melengkapi barang pameran periode Jura dan memberikan sisi estetis pada koleksi pameran.

"Dalam jangka panjang ini akan berbahaya bagi pemahaman ilmiah. Bagian palsu yang tidak terdeteksi ini akan menghasilkan informasi palsu," imbuh Sachs. Untungnya dalam kasus ini, kesalahan itu segera terungkap.

 


Potongan resin berusia 99 juta tahun dari Myanmar sukses membuat para ilmuwan terkesima setelah mereka menemukan fosil bayi burung yang terawetkan dengan baik di dalamnya.

Burung yang menetas di era dinosaurus tersebut merupakan spesimen burung paling lengkap yang pernah ditemukan di dalam resin. Para peneliti mengungkapkannya dalam studi mereka yang dimuat di jurnal Gondwana Research.

Bagian cakar burung yang terperangkap dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
“Menyaksikan fosil burung selengkap ini sungguh menakjubkan,” kata penulis studi, Ryan Mc Kellar dari Royal Saskatchewan Museum, Kanada.

Burung tersebut termasuk dalam kelompok burung bergigi yang disebut Enantiornithes. Selain gigi, mereka juuga memiliki cakar di sayapnya. Tulang di pergelangan kakinya pun cukup berbeda jika dibandingkan dengan burung normal.

Meski kini gambar resin telah menunjukkan dengan jelas dan detail seluruh tubuh burung, tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum rahasia di dalamnya terkuak.

Bulu-bulu burung di dalam resin. Para peneliti mengatakan bahwa fosil yang ditemukan kali ini merupakan spesimen burung paling lengkap yang terjebak di dalam resin. (Ming Bai/Chinese Academy Of Sciences)
Awalnya, resin itu dibeli olth Guang Chen, direktur Hupoge Amber Museum di Kota Tengchong, China, pada tahun 2014 lalu. Kemudian, Chen menyerahkan sampel resin itu kepada Lida Xing, peneliti dari China University of Geosciences di Beijing. Saat pertama kali Xing melihatnya, ia mengira resin itu hanya mengandung fosil kaki dan bulu-bulu, namun ketika diamati melalui CT Scan, hasilnya sungguh mengejutkan.

Ilustrasi burung dari hasil rekonstruksi fosil. (Chung-Tat Cheung/Chinese Academy of Sciences)
“Kejutan itu berlanjut ketika kami mulai menguji persebaran bulu-bulu dan menyadari bahwa ada lembaran kulit transparan yang menghubungkan banyak daerah pada tubuh hewan itu yang muncul dalam data CT scan,” ujar McKellar.

Fosil tersebut kini dipajang di Hupoge Amber Museum, dan akan dipindahkan ke Shanghai Museum of Natural History musim panas tahun ini.


Kebiasaan mandi ternyata telah dipraktikan sejak zaman kuno. Namun ada sedikit perbedaan, pada zaman kuno, mereka mandi di bawah air terjun. Ini merupakan pancuran pertama yang digunakan oleh manusia.

Mandi buatan manusia pertama yang memberikan hak istimewa untuk mandi dalam privasi rumah seseorang berasal dari zaman Mesir kuno dan Mesopotamia. Ini umumnya dinikmati oleh orang kaya karena melibatkan seorang budak dalam banyak kasus dengan bertugas menuangkan kendi air dari atas.

Ada lukisan dinding di kuil dan bangunan yang menunjukkan bagaimana pelayan memandikan ratu Mesir kuno dan anggota keluarga kerajaan. Penggalian rumah-rumah kaya di Thebes, El Lahun, dan Amarna menemukan kamar-kamar berlapis batu yang dilengkapi dengan lantai miring yang memungkinkan air mandi mengalir.

Orang Yunani kuno memiliki kamar mandi dalam ruangan di gimnasium yang mereka pasang melalui kemajuan saluran air dan pipa ledeng. Semburan air dingin mengalir dari langit-langit sementara para pemandi berdiri di bawahnya. Bangsa Romawi kuno, seperti orang Yunani, juga memiliki kamar mandi di pemandian mereka yang masih dapat ditemukan di sekitar Mediterania dan di Inggris modern.

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, pemandian umum tidak lagi disukai, terutama percampuran jenis kelamin karena mandi telanjang di depan lawan jenis memancing nafsu.

Sementara pemandian umum tidak digunakan pada Abad Pertengahan, bertentangan dengan kepercayaan populer. Pada abad ke-18, minat terhadap kebersihan pribadi mulai tumbuh sekali lagi dipicu oleh kemajuan dalam bidang kedokteran dan epidemiologi. Tapi mandi adalah proses yang lambat. Bak mandi besar dan membutuhkan banyak air untuk diisi, yang harus dipanaskan dan dibawa ke kamar mandi dari dapur dalam ember. Itu melibatkan banyak tenaga kerja.

Pabrikan kompor dan pemanas Inggris bernama William Feetham memutuskan untuk mempercepatnya. Dia menciptakan dan mematenkan shower mekanis pertama di dunia. Alatnya terdiri dari baskom, tempat perenang berdiri, dan tangki air yang menjorok. Perenang menggunakan pompa tangan untuk memompa air dari baskom ke tangki, dan kemudian menarik rantai untuk membuang semua air sekaligus di atas kepalanya. Proses itu kemudian diulang.

Penemuan Feetham gagal membangkitkan minat di kalangan bangsawan karena air akan menjadi lebih kotor dan lebih dingin setiap kali rantai ditarik. Dibanjiri dengan kejutan air dingin terlalu banyak untuk orang kaya, yang terbiasa mandi air panas di kamar mandi besar dan bak yang luas. Namun demikian, pancuran Feetham adalah yang terbaik yang dimiliki orang selama lebih dari satu abad.

Mandi dipopulerkan pada pertengahan abad ke-19 oleh seorang dokter Prancis Merry Delabost. Sebagai ahli bedah umum di penjara Bonne Nouvelle di Rouen, Delapost mengganti kamar mandi pribadi dengan kamar mandi umum wajib untuk digunakan oleh para tahanan, dengan alasan bahwa mereka lebih ekonomis dan higienis.Dia juga memandu pemasangan pancuran di barak tentara Prancis pada tahun 1870-an. Sementara itu, pembangunan water heater membuat masyarakat tidak perlu lagi mandi air dingin. Pipa dalam ruangan telah meningkat pada saat itu memungkinkan pancuran berdiri bebas untuk dihubungkan ke sumber air yang mengalir. Bahkan rumah kelas menengah pun mulai memiliki air panas yang mengalir.

Pada 1868, seorang pelukis Inggris bernama Benjamin Waddy Maughan menemukan pemanas air yang untuk pertama kalinya tidak menggunakan bahan bakar padat. Sebaliknya, air dipanaskan menggunakan gas panas yang dihasilkan oleh kompor. Sayangnya, Maughan lupa menambahkan ventilasi sehingga kompor terkadang meledak. Meskipun penemuan Maughan gagal, nama yang dia ciptakan macet. Itu Maughan yang menciptakan istilah "geyser" yang masih digunakan di Inggris dan di banyak negara Asia.

Desain Maughan diperbaiki oleh seorang insinyur mesin Norwegia bernama Edwin Ruud, dan pada tahun 1889, pemanas air bertenaga gas otomatis pertama yang aman ditemukan dan era baru mandi air hangat dimulai.


Legenda Welsh yang berasal dari periode abad pertengahan tentang lanskap yang hilang ke laut ternyata masuk akal. Sebuah bukti baru tentang evolusi garis pantai Wales barat telah terungkap.

Melihat pada data geologi dan peta abad pertengahan, para peneliti
dari Swansea University dan University of Oxford—mengusulkan bagaimana dua pulau mungkin pernah muncul dan kemudian menghilang lagi.

Studi ini terinspirasi oleh sebuah Peta Gough yang ditemukan tersimpan di Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford. Peta ini adalah peta Inggris Raya paling awal yang masih ada, mungkin dengan asal-usulnya pada abad ketiga belas.

Peta tersebut menggambarkan dua pulau di Cardigan Bay di Wales barat, yang sudah tidak ada lagi. Masing-masing digambarkan sekitar seperempat ukuran pulau Anglesey di Wales utara. Salah satunya adalah antara Aberystwyth dan Aberdovey dan yang lainnya di antara keduanya dan Barmouth di utara.

Penelitian ini dilakukan oleh Simon Haslett, Profesor Kehormatan Geografi Fisik di Universitas Swansea dan David Willis, Jesus Professor of Celtic Studies di Universitas Oxford.

Studi mereka menyelidiki sumber sejarah dan bukti geologis dari garis pantai dan dasar laut. Ini menggunakan model bagaimana pantai telah berevolusi sejak zaman es terakhir sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang memberikan penjelasan yang mungkin untuk pulau-pulau yang 'hilang'.

Mereka mengatakan bahwa pulau-pulau itu bisa menjadi sisa-sisa lanskap dataran rendah yang dilatarbelakangi oleh endapan glasial lunak yang terbentuk selama zaman es terakhir. Sejak itu, kekuatan erosi telah mengikis daratan, mereduksinya menjadi pulau-pulau. Sebelum pulau-pulau itu juga terkikis dan menghilang pada abad keenam belas.


Karena sedimen yang lebih halus dari endapan glasial terkikis, komponen kerikil dan batu yang lebih besar tertinggal di dasar laut. Posisi pulau-pulau tersebut bertepatan dengan lokasi akumulasi kerikil dan bongkahan bawah laut, yang dikenal secara lokal sebagai sarn.

“Kita tahu bahwa pantai barat Wales telah berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Bukti dari kartografer Romawi Ptolemeus menunjukkan garis pantai 2.000 tahun yang lalu mungkin berjarak sekitar 13 km lebih jauh ke laut daripada sekarang,” kata Profesor Simon Haslett dari Departemen Geografi Universitas Swansea. “Peta Gough sangat akurat mengingat alat survei yang mereka miliki saat itu, dan kedua pulau itu ditandai dengan jelas. Penelitian kami meningkatkan pemahaman kami tentang proses pesisir potensial yang terjadi di sepanjang pesisir Teluk Cardigan. Ini juga dapat membantu penelitian masa depan tentang evolusi pasca-glasial dari dataran rendah serupa di bagian lain Eropa barat laut.”

ia juga menambahkan, “Memahami dinamika garis pantai tidak pernah sepenting ini. Beberapa kota di sepanjang area yang kami pelajari rentan terhadap perubahan iklim dan permukaan laut. Telah disarankan bahwa hal itu dapat menyebabkan beberapa pengungsi perubahan iklim pertama di Inggris."

“Bukti kami dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana kisah Cantre'r Gwaelod ('The Hundred of the Bottom') mungkin muncul. Tanah yang hilang ini dikatakan telah mengalami bencana banjir dan disebutkan dalam puisi dalam Buku Hitam Carmarthen dan dalam cerita rakyat selanjutnya," tutur David Willis, Jesus Professor of Celtic Studies di Universitas Oxford.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Atlantic Geosciences dengan judul "The ‘lost’ islands of Cardigan Bay, Wales, UK: insights into the post-glacial evolution of some Celtic coasts of northwest Europe" dan tersedia akses terbuka hingga 5 September 2022.