Kasus Misterius Hilangnya Ambrose Small

Posted by BaronNight On 5:38 AM 0 comments

 

Pada 2 Desember 1919, hanya beberapa jam setelah menyelesaikan transaksi bisnis jutaan dolar di Toronto, pengusaha hiburan Ambrose Small menghilang secara misterius. Meskipun pencarian telah dilakukan, namun jejaknya tidak pernah ditemukan. Polisi mencurigai adanya keterlibatan istri dan juga sekretaris pribadi Small. Namun, baik polisi maupun penyelidik swasta tidak menemukan bukti adanya keterlibatan keduanya. Kasus ini merupakan salah satu misteri orang hilang paling misterius dan belum terpecahkan.


Membangun Bisnis Hiburan

Ambrose J. Small adalah pengusaha teater Kanada yang memiliki sejumlah teater berbasis di Ontario termasuk Grand Opera House di Toronto, Grand Opera House di Kingston, dan Grand Theatre di London.


Ambrose Small

Small lahir pada tahun 1866 di Bradford, Kanada Barat, dari pasangan Daniel dan Ellen Small. Pada tahun 1880, keluarga Small pindah ke Toronto, di mana Daniel menjadi manajer Grand Hotel. Di sebelah hotel tersebut terdapat gedung Grand Opera House, sebuah perusahaan bergengsi yang menyajikan pertunjukan terbaik kala itu. Sekitar tahun 1884, Small kecil sudah mulai bekerja di Grand Opera House sebagai pengantar pesanan dan bartender.

Pada tahun 1889, setelah bertengkar dengan manajer Grand Opera House bernama Oliver B. Sheppard, Small berhenti bekerja di sana. Ia lalu bekerja untuk Toronto Opera House, sebuah tempat pertunjukan melodrama populer dikendalikan dari New York dan Montreal. Sementara Small mempelajari seluk beluk bisnis dan akhirnya dipromosikan menjadi manajer, ibunya meninggal.  Ayahnya kemudian menikah dengan Josephine Kormann, putri baron bir kaya Ignatius Kormann.

Small muda berubah menjadi pengusaha ambisius dan cerdik. Dalam beberapa tahun ia berhasil mengumpulkan cukup modal untuk membeli hipotek di Grand Opera House. Setelah menguasai rumah opera bergengsi tersebut, ia kembali dan memecat manajer yang dahulu pernah bertengkar dengannya, Oliver Sheppard.

Small berjuang menjadi yang terdepan dalam bisnis teater Ontario yang sangat kompetitif. Dia memahami selera publik dalam hiburan dan siap beradaptasi dengan perubahan. Dia pergi ke kemitraan dengan maestro teater Detroit bernama Clark J. Whitney, yang mengendalikan teater utama di Ontario. Pada tahun 1902 ketika Whitney meninggal, Small membeli teater di Petersborough, Hamilton, St. Thomas, Kingston dan teater lainnya di seluruh Ontario.

Grand Opera House

Kerja keras Small selama bertahun-tahun membuahkan hasil. Ia berhasil membangun kerajaan teaternya dan mengendalikan sebanyak 34 teater yang setengahnya berada di luar Ontario. para bintang panggung atau artis-artis yang ingin tampil di teater-teater miliknya itu harus bertemu dan mendapatkan persetujuan dari Small.

Pernikahan

Pada tahun 1902, Small menikah dengan Theresa Kormann, yang tak lain adik perempuan tirinya. Aset keuangan gabungan mereka membuat pasangan ini menjadi sangat kaya. Meskipun mereka menikah, tetapi keduanya sebenarnya bukanlah pasangan harmonis. Banyak perbedaan di antara mereka.

Theresa Small

Ambrose Small, sang suami lebih banyak sibuk dengan bisnisnya dan juga gadis-gadis paduan suara dan teater yang akan "diaudisi" untuk bisa tampil di teaternya. Dia bahkan memiliki semacam ruangan rahasia yang dibangun di Grand Opera House untuk pertemuannya dengan gadis-gadis tersebut. Theresa bahkan kerap menemukan beberapa surat cinta untuk suaminya.

Theresa mengetahui perilaku suaminya ini sejak lama. Tetapi tampaknya ia tidak ingin ambil pusing. Sementara itu, Theresa lebih sering pergi liburan dan belanja keliling Eropa. Pasangan ini juga tidak memiliki anak. Keluarga ini tinggal di sebuah rumah mewah di distrik Rosedale yang mewah di Toronto, tetapi mereka tidur di kamar yang terpisah.

Rumah Keluarga Small

Kesepakatan Sejuta Dolar

Pada tahun 1919, bisnis teater menurun karena semakin populernya industri film. Small memutuskan untuk keluar dari bisnis teater dan membuat kesepakatan untuk menjual sejumlah teaternya ke Trans-Canada Thetres Limited of Montreal seharga $1,7 juta. Satu juta dolar dibayarkan pada saat penandatanganan dokumen penjualan dan sisanya akan dibayar dengan mencicil.

Pada 2 Desember 1919, Ambrose Small, Theresa, dan juga pengacara mereka bernama EWM Flock bertemu dengan perwakilan teater Trans-Kanada bernama WJ Shaughnessy di kantor hukum Allen Aylesworth, yang terletak di 65 Yonge Street Toronto. Setelah dokumen ditandatangani, Shaughnessy memberi Small cek bersertifikat untuk satu juta dolar. Small llau menyerahkan cek itu kepada Theresa dan menyuruhnya membawanya ke bank mereka. Theresa melakukan penyetoran di Dominion Bank di sudut jalan Yonge dan King pada pukul 11:45 siang.


Ambrose Small Menghilang

Ambrose, Theresa, dan Flock bertemu kembali untuk makan siang di King Edward Hotel. Setelah itu Ambrose dan Theresa pergi ke panti asuhan St. Vincent de Paul, tempat Theresa memberikan sumbangan. Theresa kemudian mengatakan bahwa ketika mereka berpisah, Small mengatakan dia akan pulang pukul 6. Sore itu, Theresa memberi tahu saudara perempuannya bahwa dia dan Small berencana melakukan perjalanan keliling dunia.

Setelah memesan Cadillac, perhiasan, dan mantel bulu untuk Theresa, Small bertemu lagi dengan Flock di kantor teaternya untuk membereskan beberapa urusan bisnis. Dia mengundang Flock untuk bergabung dengannya dan Theresa untuk makan malam, tetapi Flock harus naik kereta ke London. Flock meninggalkan kantor Small pada pukul 5:30 sore. Dia adalah orang terakhir yang diketahui melihat Small. Setelah itu Ambrose Small menghilang.



Penyelidikan dan Upaya Pencarian

Dua minggu berlalu sebelum polisi Toronto menyadari bahwa Small hilang. Theresa mengklaim bahwa dia memang sengaja tidak melaporkannya karena takut terkena skandal. Menurut Theresa, dia berpikir bahwa suaminya tengah bersama seorang wanita desainer, di suatu tempat, dan akan kembali. Ia meyakini ini karena mengetahui tabiat suaminya yang memang dekat dengan sejumlah wanita.  Meskipun demikian, dia menawarkan hadiah $500 untuk informasi tentang keberadaan suaminya tersebut.

Sebelum menghilang, Small sama sekali tidak membawa tas berisi pakaian atau pun membawa uang dalam jumlah yang mencolok. Polisi menemukan bukti Small membayar untuk transportasi atau akomodasi dengan cek. Surat kabar melaporkan penampakannya di berbagai kota, termasuk Boston dan Minneapolis, tetapi laporan itu terbukti tidak mendasar, salah satu contohnya bahkan menyebutkan bahwa dia telah diculik oleh gangster New York.

Baca juga: Hilang Misterius di Kereta, Misteri Louis Le Prince

Seorang operator kios koran, Ralph Savein, mengklaim telah melihat Small dan berselisih dengannya mengenai keterlambatan pengiriman surat kabar pada hari terakhir ia mengh. Namun, pada saat itu, klaim ini diabaikan oleh polisi, yang menganggap bahwa itu hanya  upaya Savein untuk mendapatkan ketenaran dari kasus ini.

Pada minggu kepergiannya, Opera House milik Small memainkan Revelations of a Wife, sebuah drama yang menarik. Polisi menganalisis plot dan temanya barangkali mendapatkan petunjuk, tetapi mereka sama sekali tidak menemukan apa pun.

Jika ditilik, Small asama sekali tidak punya motif untuk menghilang, lagi pula ia tidak membawa uang bersamanya. Tidak ada bukti penculikan atau seseorang yang meminta uang tebusan. Theresa kemudian meningkatkan nominal hadiah menjadi $50.000 untuk informasi keberadaan suaminya.



Tak pelak kisah hilangnya Ambrose Small ini menjadi berita sensasional di seluruh Kanada bahkan hingga dunia internasional. Laporan dugaan penampakan Small bahkan datang dari jauh seperti Meksiko. Di New York, bahkan wartawan bertanya kepada Sir Arthur Conan Doyle yang saat itu tengah mengunjungi Amerika apakah ia akan membantu polisi Kanada menemukan Small. Sir Arthur Conan Doyle tampak tertarik, meskipun pada akhirnya ia memilih untuk tidak melanjutkan kasus ini.

Rumor beredar bahwa Small bersembunyi, bahwa dia berkeliaran di suatu tempat dengan amnesia; tetapi spekulasi yang memiliki kemungkinan terbesar untuk menjadi kenyataan adalah apakah dia telah dibunuh dan tubuhnya dibuang.

Orang pertama yang dicurigai adalah James Doughty yang tidak lain adalah sekretaris pribadi Small. Doughty telah bekerja untuk Small selama bertahun-tahun dan sering mengeluh gajinya yang kecil. Doughty menghilang bersama dengan sekitar $100.000 dalam bentuk obligasi dari kotak penyimpanan kecil di Dominion Bank.

John Doughty

Polisi mengetahui dari informan bahwa Doughty sebenarnya telah berbicara tentang plot untuk menculik atau membunuh Small. Doughty akhirnya ditangkap di Oregon. Dia memang mengaku mencuri obligasi, tetapi ia mengaku sama sekali tidak mengetahui keberadaan Ambrose Small, mantan bosnya itu. Doughty dijatuhi hukuman penjara dan karena polisi tidak punya bukti bahwa Small sudah mati, maka mereka tidak bisa menuntut Doughty dengan pasal pembunuhan. Polisi sempat menggali ruang bawah tanah di Grand Opera House, dan jurang di Rosedale, tetapi mereka sama sekali tidak menemukan jejak Small.


Theresa Small Terlibat?

Saudara perempuan Small, Gertrude dan Florence, punya pendapat yang berbeda. Menurut mereka kakak ipar mereka yang tak lain yaitu Theresa terlibat dalam hilangnya dan mungkin juga pembunuhan terhadap Ambrose Small. Tidak hanya itu kedua saudari itu juga menuduh polisi Toronto terlibat dalam plot hilangnya saudara mereka bersama dengan Theresa.

Theresa Small secara latar belakang ekonomi tidak memiliki motif untuk membunuh Small (jika itu karena uang). Sebelum menikah dengan Ambose Small, ia adalah seorang sosialita Toronto dari keluarga Kormann yang kaya raya. Theresa juga berpendidikan tinggi, berbicara dalam beberapa bahasa dan merupakan seorang pengusaha. Karena reputasi inilah tampaknya sejumlah pihak akhirnya memutuskan untuk tidak mempertanyakan apakah wanita tersebut terlibat.

Theresa Small
Meskipun demikian beberapa orang juga mencurigai wanita ini. Ada teori bahkan mempercayai bahwa wanita pintar itu telah menghabisi suaminya dan membakar jasadnya di Grand Opera House. Meskipun tentu saja, tidak ada bukti bekas jasad manusia terbakar di sana.


Pria Misterius dari Des Moines 

Dilaporkan beberapa surat kabar pada tahun 1921, ada seorang pria ditemukan di Iowa yang memiliki kemiripan dengan Ambrose Small. Detektif swasta John J. Brothy menyatakan pria itu, yang ia klaim sebagai Small, adalah "orang cacat setengah gila". Dia menyatakan bahwa dia telah diturunkan di Des Moines, Iowa, oleh seorang pengendara motor yang tidak dikenal yang mengklaim bahwa dia secara tidak sengaja menabrak Small dengan mobilnya. 

Brothy mengklaim bahwa pria itu memiliki luka tembak di lehernya, gegar otak serius dan kedua kakinya telah terputus dari lutut ke bawah. Dia lebih lanjut menyatakan bahwa pria itu tidak berbicara selama tiga minggu sebelum akhirnya menyatakan,"Saya John Doughty. Saya datang ke sini dari Omaha. Hanya itu yang saya ingat". Namun pada saat ini John "Jack" Doughty dipenjara di Kanada dan telah selama beberapa bulan yang berarti lelaki lumpuh itu bukanlah dia.

Brothy lebih lanjut mengklaim bahwa dia kemudian menunjukkan foto Ambrose Small kepada orang tersebut dan dia menyatakan,"Ya, itu aku." Brothy menyatakan karakteristik wajah pria itu identik dengan Ambrose Small, namun pria misterius itu berat tubuhnya hanya sekitar 100 pound.


Penyelidikan Ulang Polisi Provinsi Ontario (1936)

Pada tahun 1936 kasus ini diselidiki kembali oleh polisi provinsi Ontario atas perintah Jaksa Agung. Inspektur OPP Edward L. Hammond berkonsultasi dengan penyelidik asli dari kepolisian Toronto, memperoleh salinan laporan mereka yang diketik dan berbagai dokumen sumber asli lainnya, dan mewawancarai kembali beberapa saksi.

Baca juga: Pembunuhan Sandra Rivett dan Misteri Hilangnya Lord Lucan

Kesimpulan Hammond, bahwa Small dibunuh dalam plot yang istrinya adalah penggerak utama, sangat berbeda dengan posisi pubik pemerintah Ontario. Hammond juga sangat menyiratkan bahwa kepala penyelidik asli, Austin Mitchell dari kepolisian Toronto, mengabaikan atau menekan bukti yang akan mengarah pada Theresa Small sebagai tersangka.

John Doughty, Detektif Austin Mitchell, dan Inspektur Edward Hammond (kiri ke kanan)

Surat Pengakuan "Reuter"

Saudara perempuan Ambrose Small, Florence Small, menyampaikan surat pengakuan dari seseorang yang hanya dikenal sebagai "Reuter" yang mengaku sebagai pembunuhnya. Begini isi suratnya:

"Ambrose yang malang terbunuh pada 2 Desember 1919, dan aku tahu bahwa sebagian tubuhnya, dimakamkan di tempat pembuangan jenazah Rosedale dan bagian tubuh lainnya dibakar di tungku Opera Grand House. Kau akan terkejut, Florence dan Gertrude sayangku, untuk mengetahui bahwa aku bertanggung jawab atas kematian saudaramu. Ampunilah aku. -Reuter."


Pada tahun 1923, Mahkamah Agung Ontario menyatakan Small secara resmi telah mati, yang otomatis meninggalkan sebagian besar hartanya pada Theresa. Theresa Small sendiri meninggal pada 14 Oktober 1935 dan mewariskan sebagian besar kepemilikannya kepada Gereja Katolik Roma senilai lebih dari 500.000 pound. Pada Juni 1936, harta benda yang tersisa dilelang.  Pada tahun 1960, kepolisan Toronto secara resmi menutup kasus ini.

Meskipun kasus ini secara resmi telah ditutup pada tahun 1960, polisi masih menerima dan menyelidiki surat-surat yang dimaksudkan untuk mengungkap lokasi pemakaman Ambrose Small 45 tahun kemudian. Pada akhir tahun 1965, para detektif kepolisian Toronto memeriksa kemungkinan lokasi makam di Lembah Rosedale.

Spekulasi mengenai nasib Small terus berlanjut dan kasus ini masih terus menjadi subjek berbagai artikel, buku, drama, hingga lukisan. Dalam Twenty Mortal Murders (1978), penulis Kanada Orlo Miller membuat kasus untuk tubuh Small yang dibakar di tungki Grand Theatre di London, Ontario. Sebuah studi baru-baru ini oleh sejarawan kejahatan Kanada Peter Vronsky menawarkan teori bahwa Theresa terlibat dalam pembunuhan Small dan petugas kepolisan yang bertanggung jawab atas investigasi mengadakan penutupan. Sampai saat ini kasus misterius lenyapnya Ambrose Small terus menjadi misteri dan salah satu kasus tak terpecahkan di Kanada.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Disappearance_of_Ambrose_Small
https://www.thecanadianencyclopedia.ca/en/article/ambrose-small-case
https://the-line-up.com/ambrose-small-disappearance-ghost-sighting

Penemuan Pohon Emas Eucalyptus

Posted by BaronNight On 1:05 AM 0 comments

 

Percayakah kalian jika di dunia ini ada pohon emas? Selama ini mungkin kita hanya mendengar istilah kiasan pohon emas atau bahkan berkebun emas. Namun percayalah baru-baru ini pohon emas (dalam arti yang sesungguhnya) benar-benar telah ditemukan!

Pohon itu adalah Eukaliptus (Eucalyptus). Eucalyptus adalah salah satu jenis pohon berbatang keras yang berasal dari Australia. Menurut Wikipedia, ada lebih dari 700 jenis spesies Eucalyptus, yang terbanyak berada di Australia, namun beberapa spesies dapat ditemukan di Papua Nugini, Indonesia, hingga Filipina. 

Beberapa jenis Eucalyptus memiliki keunikan yaitu batangnya berwarna-warni sehingga disebut Rainbow-Eucalyptus. Beberapa jenis spesies Eucalyptus juga memiliki kebiasaan yang aneh. Mereka biasanya menjatuhkan dahan besarnya saat akan tumbuh. Itulah sebabnya banyak sekali ditemukan dahan Eucalyptus mati di hutan. Peristiwa ini biasanya banyak meny

Pada musim kering yang biasanyan melanda Australia, pohon ini dengan mengejutkan dapat memperpanjang akarnya ke dalam tanah hingga 35 meter untuk mendapatkan sumber air. Proses akar yang tumbuh memanjang menembus tanah hingga kedalaman berpuluh meter inilah yang diduga menjadi penyebab pohon Eucalyptus mengandung emas.

Pohon Eucalyptus Rainbow

Para peneliti melakukan penelitian pada pohon Eucalyptus dengan mengambil sampel dari pohon yang tumbuh di Australia Barat dan Selatan. Seperti diketahui, dua lokasi ini merupakan salah satu tempat yang mengandung deposit emas terbesar yang ada di wilayah Ausralia, bahkan dunia. 

Hasil penelitian dan analisis dengan menggunakan sinar X pada daun, ranting, serta kulit pohon Eucalyptus, menunjukkan bahwa pohon ini mengandung partikel emas dengan ukuran 8 mikron (sekitar 10 kali lebih tipis daripada ukuran rambut manusia). Partikel-partikel emas ini diserap oleh akar dan didistribusikan ke dalam daun dan jaringan lainnya pada pohon. Namun dari semua bagian Eucalyptus, daun adalah bagian dengan kadar emas paling tinggi.


Proses penyerapan partikel emas pohon Eucalyptus

Seorang ahli geokimia dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation AustraliaMelvyn Lintern, bersama dengan timnya melakukan penelitian di Freddo Gold Prospect. Freddo merupakan salah satu deposit emas di Australia Barat yang terletak 40 km di sebelah utara Kalgoorlie.

Proses transportasi emas dari bawah tanah di wilayah ini sangatlah ideal karena tidak terganggu oleh aktivitas penambangan yang ada di dekatnya. Mineral yang ditambang tidak muncul ke permukaan tanah, bahkan kandungan emas tersembunyi dengan baik di dalam lembah tandus Yilgarn Craton pada kedalaman 30 meter di bawah permukaan tanah.

Meskipun demikian, para peneliti tidak menyarankan untuk melakukan penambangan emas pada pohon-pohon Eucalyptus. Alasannya adalah karena penerapan, kualitas data, dan interpreasi hasil yang belum begitu maksimal. Bahkan dikatakan pula bahwa kandungan emas di pohon Eucalyptus meskipun memang ada, namun sangat kecil. Diperlukan sekitar 500 pohon Eucalyptus hanya untuk membuat sebuah cincin saja.

Referensi : 50 Misteri Dunia Menurut Al-Quran (Adrie Mesapati, Arnie Sanib, Mutia Sari)

Misteri Fenomena Phoenix Lights 1997

Posted by BaronNight On 3:09 AM 0 comments

 

Ada banyak sekali kasus penampakan UFO yang pernah terjadi di dunia. Namun dari sekian banyak kasus penampakan itu hanya sedikit sekali yang disaksikan oleh banyak orang. Nah, fenomena penampakan UFO yang dikenal sebagai Phoenix Lights yang terjadi di Arizona pada tahun 1997 ini adalah salah satunya.

Dalam blog ini sudah pernah dibahas beberapa kali tentang penampakan alien atau UFO. Tetapi biasanya dalam kasus-kasus itu hanya satu atau beberapa orang saja yang mengklaim telah melihat secara langsung. Apalagi dalam sejumlah kasus bahkan tidak ada bukti yang menguatkan sama sekali. Sehingga menimbulkan keraguan dan skeptis di masyarakat.

Tapi tahukah kalian bahwa pada tahun 1997, penduduk Arizona, Amerika Serikat geger dengan adanya penampakan cahaya aneh di atas langit malam. Penampakan itu disaksikan tidak hanya oleh masyarakat biasa, tetapi juga jurnalis, polisi, personil militer, bahkan hingga gubernur Arizona saat itu Fife Symington (1991-1997). 

Fife Symington

Pemandangan spektakuler ini telah banyak didokumentasikan dan menjadi bahan perdebatan selama bertahun-tahun. 


Phoenix Lights 1997

The Phoenix Lights atau yang diidentifikasi sebagai Lights over Phoenix adalah penampakan UFO yang terjadi di Phoenix, Arizona dan Sonora, Meksiko.

Semuanya dimulai pada hari Kamis, 13 Maret 1997. Sebuah penampakan UFO yang dideskripsikan dan dilaporkan oleh ribuan orang terjadi atara pukul 19:30 dan 22:30 waktu setempat. Penampakan ini terlihat dalam radius sekitar 300 mil dari negara bagian Nevada, melalui Phoenix hingga ke tepi daerah Tucson. 


Seorang saksi menyatakan bahwa dia melihat benda besar berbentuk V dengan ukuran yang sama dengan pesawat terbang dilengkapi enam lampu melintasi langit. Objek ini juga ternyata disaksikan oleh seorang polisi dari Paulden, Arizona sekitar pukul 20:15, yang juga melaporkan hal serupa.

Tak lama kemudian ada penampakan yang sama dilihat oleh banyak saksi. Mereka menggambarkannya sebagai benda padat yang menghalangi bintang-bintang ketika melintas. Mereka juga melaporkan benda terbang itu ukurannya luar biasa besar. Seorang saksi mata bahkan mengatakan kalau penampakan itu berbentuk seperti bumerang.

Lampu-lampu misterius itu juga terlihat di Phoenix sekitar pukul 20:30 malam. Setelah itu lampu-lampu itu sempat melayang di sekitar daerah tersebut selama sekitar dua jam. Pemandangan ini terlihat oleh ribuan orang. 

Selama waktu itu tampaknya ada dua peristiwa terpisah yang terjadi di wilayah tersebut pada saat yang bersamaan. Peristiwa terlihatnya formasi lampu segitiga yang melewati daerah itu dikenal sebagi "The V Event". Sementara itu peristiwa yang kedua adalah serangkaian lampu stasioner yang terlihat melayang di atas kota Phoenix atau dikenal sebagai "The Hovering Event".



Banyak saksi yang mengaku telah mengamati dengan seksama adanya sebuah objek besar berbentuk V dengan formasi lampu segitiga. Bahkan beberapa memperkirakan ukurannya sebesar lapangan sepak bola. Objek tersebut melayang tanpa suara dan berjarak sekitar 1500 meter dari permukaan tanah, dan terus melayang lurus menuju ke tengah sebuah bukit lalu menghilang.

Baca juga: Kejadian Misterius di Allagash 1976

Karena melayang melewati sebuah bukit itulah, maka para saksi mata dapat diperkirakan ukurannya dengan berpatokan pada bukit tersebut. Diperkirakan kalau ukurannya lebarnya sekitar 1542 kaki atau 470 meter.

Dalam sebuah kongres UFO di Scottsdale, para saksi mata yang juga datang ke tempat tersebut menceritakan kesaksian mereka. Namun tampaknya mereka menyadari ada hal yang aneh. Hampir semua saksi mengatakan bahwa mereka memang terkejut dengan munculnnya cahaya-cahaya yang aneh di atas langit, namun entah mengapa setelahnya tidak terjadi apa-apa.



Maksudnya mereka tidak terus menerus menceritakan hal itu (karena tentu saja hal itu adalah suatu peristiwa fenomenal). Bahkan beberapa dari mereka mengatakan setelah cahaya tersebut pergi, mereka kembali ke rumah dan melanjutkan kembali aktivitas seperti biasa seperti tidak pernah terjadi apa pun.

Namun seperti biasanya pemerintah dan Angkatan Udara Amerika Serikat selalau membantah dan menyatakan bahwa cahaya aneh tersebut hanyalah iring-iringan pesawat A-10 Warthog yang sedang melakukan latihan terbang di Arizona. Padahal objek itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. 

Selain itu mereka juga mengidentifikasi bahwa kelompok lampu kedua sebagai flare. Flare adalah bunga api yang dilontarkan pesawat tempur. Bunga api ini biasanya digunakan sebagai umpan jika pesawat sedang ditembak oleh misil. Flare-flare itulah yang dilontarkan oleh pesawat A-10 Thunderbolt II Warthog yang sedang latihan di Barry Goldwater Range, barat daya Arizona.

Flare atau bunga api yang dilontarkan pesawat Thunderbolt

Benarkah bunga api inilah yang sebenarnya yang dilihat oleh para saksi? Dan sama sekali bukan sebuah objek terbang dengan lampu misterius?

Gubernur Fife Symington yang merupakan gubernur Arizona (1991-1997) pada saat itu adalah salah satu saksi mata yang melihat kejadian fenomenal ini. Sebenarnya dirinya sempat diejek karena keterangannya yang mengatakan kalau benda asing itu berasal dari alien. Pernyataannya tersebut akhirnya menuai kritik.



Beberapa tahun kemudian, Symington menyebut lampu-lampu yang ia lihat di Phoenix Arizona tak lain adalah bukti kalau "dunia lain" itu memang ada. Pernyataan itu dikatakannya setelah dia akhirnya melihat beberapa fenomena penampakan yang sama UFO pada tahun-tahun setelah itu.


Phoenix Lights Kembali Lagi di Tahun 2015

Pada tanggal 2 Februari 2015 atau setelah 18 tahun berlalu saat fenomena misterius ini terjadi pertama kalinya, sebuah fenomena penampakan cahaya misterius kembali terjadi di Phoenix, Arizona.

Penampakan ini disaksikan oleh tiga orang pemuda yang sedang berada di Sunnyslope, Phoenix, Arizona. Pada saat itu mereka sedang berjalan menuju ke rumah seorang teman di daerah Goodyear, Phoenix. Saat itu malam hari dan langit cerah berbintang. Tiba-tiba mereka melihat lampu-lampu aneh berkedip-kedip di atas langit.


Melihat ada sesuatu yang tidak wajar dari pancaran lampu yang dikeluarkan oleh objek melayang itu, mereka kemudian segera merekam penampakan objek terbang aneh tersebut.

Dalam keterangannya pada rekaman video itu, penampakan UFO tersebut diambil di daerah Sunnyslope Area, Phoenix, pada tanggal 2 Februari 2015. Video rekaman itu kemudian diunggah ke Youtube pada 5 Februari 2015 menggunakan akun bernama Jc Lerma.

Ternyata tidak hanya akun Jc Lerma yang mengunggah video penempakan cahaya aneh itu. Hanya berselang satu hari atau tepatnya pada tanggal 3 Februari, akun bernama Green Grey juga memposting sebuah rekaman video penampakan cahaya misterius tersebut namun lokasinya di dekat Goodyear, Phoenix.

Dalam keterangannya, Green Grey menjelaskan bahwa video itu diambil sekitar pukul 22:15 malam, saat ia tengah berkendara. Ia juga mengatakan bahwa ia melihat benda itu bergerak ke arah selatan melintas sepanjang Estrella Mountains. 

"Apa yang tidak terlihat dalam video tersebut adalah bentuk dari UFO yang memiliki ukuran yang besar. Setelah mulai menghilang, kami mencoba mengejarnya ke arah di mana dia melintas, tapi akhirnya UFO itu telah menghilang di balik gunung.

Referensi:

https://indocropcircles.wordpress.com/2015/06/20/ufo-phoenix-lights-1997/
https://www.azfamily.com/the-phoenix-lights-the-mystery-remains/article_0ece00d4-a6e1-5291-98b6-d3a5bf5ff2a3.html

 

Manusia berkepala anjing, orang berkaki satu, keledai bertanduk, ular besar bertubuh manusia, merupakan spesies-spesies aneh yang dikabarkan eksis pada masa lampau dan hidup di tempat-tempat terpencil di dunia. Di antara makhluk-makhluk aneh tersebut, satu di antaranya yang pernah tercatat sejak dunia kuno hingga abad pertengahan adalah manusia tanpa kepala yang dikenal juga dengan nama Blemmyes yang tinggal di bagian bawah Nubia.


Berbagai spesies manusia tanpa kepala dikabarkan pada zaman kuno menghuni bagian terpencil dunia. Mereka dikenal sebagai akephaloi (Yunani: tanpa kepala) atau Blemmyes. Blemmyae atau Blemmyes juga dikenal sebagai Ewaipanoma adalah suku Afrika tanpa kepala yang diyakini menghuni Libya dan Ethiopia. Suku ini juga digambarkan dalam sejarah Romawi kuno, di mana keberadaan mereka mengancam Mesir Romawi beberapa kali pada abad ketiga masehi.

Blemmyes digambarkan sebagai manusia tanpa kepala dengan fitur wajah yang terletak di dada mereka. Blemmyes dikatakan ada dua jenis yaitu: dengan mata di dada dan mata di bahu. Suku ini pada awalnya digambarkan sebagai penghuni Nil (Aethiopia). Tradisi-tradisi selanjutnya membatasi habitat mereka di sebuah pulau tertentu yang terletak di dekat Sungai Brisone. Orang-orang tanpa kepala dari Brisone juga terkadang disebut Epiphagi.




Etimologi Kata Blemmyes

Ada berbagai etimologi tentang dari mana sebenarnya asal-usul nama Blemmyes. Namun yang paling terkenal barangkali adalah Samuel Bochart dari abad ke-17. Kata "Blemmyes" berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adalah orang-orang tanpa otak (meskipun tidak selalu tanpa kepala).

Leo Reinisch pada tahun 1895 mengusulkan bahwa kata Blemmyes berasal dari bahasa Bedauye (bahasa Beja) yaitu dari kata balami yang berarti orang-orang gurun. Meskipun teori ini telah lama diabaikan, namun etimologi ini telah diterima, di samping identifikasi bahwa orang-orang Beja merupakan keturunan sebenarnya Blemmyes pada zaman dahulu.


Blemmyes Di Masa Dunia Kuno

Referensi awal dari mana sebenarnya kisah Blemmyes ini muncul disebut berasal dari Herodotus, Histories, di mana ia menyebut orang-orang tanpa kepala itu sebagai akephaloi (bahasa Yunani: tanpa kepala). Menurut sumber dari Herodotus ini, ada banyak makhluk "luar biasa" yang tinggal di tepi timur Libya kuno. Selain Akephaloi yaitu manusia tanpa kepala, ada pula cynocephali yaitu pria dan wanita liar yang disebut berkepala anjing.

Mela adalah yang pertama memberi nama "Blemmyes" Afrika sebagai tanpa kepala dengan wajah mereka terkubur di dada mereka. Hal yang sama juga diungkapkan Plinius dalam History of Nature. Ia melaporkan suku Blemmyae di Afrika Utara sebagai (tidak) memiliki kepala, mulut, dan mata mereka ada di dada mereka.



Pliny sendiri menyebut Blemmyae berasal dari suatu tempat di Aethiopia. Banyak yang mengatakan bahwa "tanpa kepala" di sini mungkin merupakan salah satu taktik tempur mereka dengan menjaga kepala mereka ditekan dekat ke dada, sementara setengah jongkok dengan satu lutut ke tanah. Solinus menambahkan mereka diyakini dilahirkan dengan bagian kepala yang terpotong, mulut dan mata mereka menempel pada dada.

Baca juga: Legenda Manusia Biru

Dalam teks klasik China Pegunungan dan Laut diceritakan bahwa dewi Xingtian digambarkan tidak memiliki kepala, dan dengan putingnya sebagai mata dan pusar sebagai mulut. Ini konon karena dia dipenggal dalam pertempuran melawan Huangdi.


Blemmyes Pada Abad Pertengahan

Pada abad ke-7 atau ke-8 dalam sebuah Surat Firaun untuk Hadrian, ada sejumlah kisah-kisah orang-orang aneh seperti misalnya wanita berjanggut (dan manusia tanpa kepala). Kisah-kisah ini dimasukkan ke dalam Oriente mirabilibus (juga dikenal sebagai Mirabilia), terjemahan Anglo-Saxon, risalah Gervase dari Tilbury, dan juga dalam legenda Alexander.

Teks Latin dalam resensi yang dikenal sebagai Fermes Letter (diterjemahkan secara verbal dalam Gervase dari Otia Imperialia Tilbury sekitar tahun 1211) juga diceritakan tentang manusia tanpa kepala, yang memiliki tingginya 12 kaki dan hidup di sebuah pulau di Sungai Brisone (di Ethiopia).

Kisah mengenai orang-orang aneh ini juga muncul di Anglo-Saxon Wonders of the East (terjemahan Mirabilia) dan Liber Monstrorum. Kedua karya ini terikat dalam naskah Beowulf. Tidak ada nama khusus dalam penyebutan manusia di pulau ini yang memiliki keanehan yaitu tanpa kepala. Selain itu disebutkan tingginya sekitar 8 kaki di Wonders of the East.


Alexander Roman

Dalam prosa Roman d'Alexandre en prosa yang berbahasa Perancis Lama, manusia tanpa kepala berwarna emas yang ditemui Alexander memiliki tinggi 6 kaki dan janggutnya mencapai lutut. Dalam versi Perancis, diceritakan bahwa Alexander menangkap 30 orang. tanpa kepala untuk menunjukkan bagian dunia lainnya, sebuah unsur yang kurang dalam bahasa Latin aslinya.



Buku-buku Alexander lainnya yang berisikan kisah-kisah mengenai manusia tanpa kepala yaitu dalam romansa Thomas de Kent dan juga kronik Jean Wauquelin.


Peta Abad Pertengahan

Para blemmy atau orang tanpa kepala juga telah diilustrasikan dan dideskripsikan dalam peta abad pertengahan. Peta The Hereford Mappa Mundi yang berasal dari sekitar tahun 1300 menyebutkan "Blemee" di Ethiopia, berasal dari kisah Solinus atau mungkin Isidore of Seville.

Dalam peta tersebut terlihat Blemee yang tengah berdiri dengan wajah berada di dada mereka, dan yang lainnya memiliki mata dan mulut di pundak mereka. Beberapa pendapat modern percaya bahwa sebenarnya dua tipe Blemmyae yang berbeda itu mewakili dua jenis blemmy yaitu pria dan wanita.

Contoh lainnya terdapat dalam peta Ranulf Higden (sekitar 1363), yang memuat tulisan tentang orang-orang tanpa kepala di Ethiopia, meskipun dalam peta ini tidak disertai dengan gambar orang-orang tanpa kepala.

Menjelang Abad Pertengahan Akhir, dalam peta dunia mulai menempatkan orang-orang tanpa kepala lebih jauh ke timur, yaitu di Asia, seperti dalam peta Andrea Bianco (1436). Peta Bianco ini menggambarkan orang-orang yang tidak memiliki kepala berada di India, di semenanjung yang sama dengan sungai terestrial. Namun ada peta lain yang berasal dari periode sama yaitu peta Andreas Walsperger (sekitar 1448) justru menyebutkan manusia tanpa kepala berada di Ethiopia. Peta Guillaume Le Testu pasca-abad pertengahan menggambarkan manusia berkepala anjing di utara di luar pegunungan Himalaya.


Abad Pertengahan Akhir

The Travels of Sir John Mandeville menulis tentang "orang-orang jelek tanpa kepala, yang memiliki mata di bahu" dengan mulut mereka digambarkan bulat seperti sepatu kuda yang berada di tengah-tengah dadanya. Manusia tanpa kepala ini hidup di antara penduduk di pulau itu. Contoh tentang ras tanpa kepala juga muncul di Buch der Natur atau Kronik Nuremberg.



The Buch der Natur (sekitar tahun 1349) ditulis oleh Conrad of Megenberg, menggambarkan "orang-orang tanpa kepala" itu memiliki bulu yang lebat si seluruh tubuhnya, dengan rambut kasar seperti binatang liar. Tetapi ketika versi buku yang dicetak muncul, ilustrasi potongan kayu Blemmyes justru menggambarkan mereka memiliki tubuh yang halus. Conrad sendiri berpendapat bahwa manusia tanpa kepala itu merupakan cacat fisik yang diakibatkan oleh dosa dari nenek moyang mereka.

Selama masa The Age of Discovery, desas-desus tentang manusia tanpa kepala yang disebut Ewaipanoma dilaporkan oleh Sir Walter Raleigh dalam bukunya Discovery of Guiana. Raleigh mengatakan manusia tanpa kepala ini telah hidup di tepi Sungai Caura. Dari ceritanya, meskipun Raleigh tidak melihatnya langsung ia mengatakan bahwa mereka benar-benar ada. Kisah mengenai manusia tanpa kepala itu didapatnya dari anak-anak yang tinggal di provinsi Aromaia dan Canuri. Dia juga mengutip panampakan Ewaipanoma dari orang Spanyol.

Namun Joannes de Laet, ahli geografi Belanda menolak cerita itu. Ia menulis bahwa kepala penduduk asli ini diletakkan sangat dekat dengan bahu sehingga orang-orang seolah percaya bahwa mata mereka melekat pada bahu dan mulut mereka berada di dada.

Selama periode yang sama yaitu sekitar tahun 1589-1600, Richard Hakluyt, menggambarkan perjalanan oleh John Lok ke Guinea, di mana ia menemukan orang tanpa kepala, yang disebutkan memiliki mata dan mulut di dada mereka". Namun penulisan laporan ini ambigu.

Kesamaan antara Raleigh dan tulisan Hakluyt mungkin menunjukkan keberadaan legenda urban pada waktu itu, karena keduanya adalah penulis Inggris yang menulis pada periode yang sama, tentang perjalanan ke berbagai benua (Afrika dan  Amerika Latin).

Ewaipanomas digambarkan pada banyak peta kemudian menggunakan Raleigh sebagai referensi. Jodocus Hondius memasukkan manusia tanpa kepala dalam bagan Guyana tahun 1598-nya dan juga dalam sebuah pajangan yang ditampilkan sebagai bangsa Amerindian di peta Amerika Utara yang dirilis pada tahun yang sama.

Cornelis Claesz, yang telah bekerja bersama Hondius dalam banyak kesempatan, kemudian memproduksi tampilan ini di peta Amerika tahun 1602, tetapi memodifikasi Ewaipanoma dengan memiliki kepala yang benar tetapi tidak memiliki leher, mengatur sosok itu pada tingkat bahu.



Ewaipanoma alias manusia tanpa kepala mulai menurun popularitasnya sebagai motif kartografi setelah masa ini. Peta dunia Hondius tahun 1609 tidak lagi memasukkan Blemmyes, tetapi hanya mencatat bahwa ada manusia tanpa kepala yang dilaporkan di Guyana, namun meragukan kebenaran klaim tersebut. Peta dunia Pieter van den Keere yang dikeluarkan tahun 1619, juga menampilkan sosok suku Indian tanpa leher. Peta ini merupakan peta terakhir di mana sosok manusia tanpa kepala disebutkan.


Penjelasan Rasional

Jadi pertanyaannya sekarang adalah benarkah manusia tanpa kepala itu benar-benar ada pada masa lalu? Atau mungkinkah itu hanya kesalahan para penulis zaman kuno dan abad pertengahan? Lalu apa yang sebenarnya mereka lihat?

Dalam Zaman Pencerahan, Joseph-Francois Lafitau menegaskan bahwa meskipun ras manusia tanpa kepala "acephalous" benar-benar ada di Amerika Utara, mereka tidak lebih dari sifat lokal karena kepala mereka terbenam di pundak. Dia berpendapat bahwa laporan tentang sifat "tanpa kepala" di Hindia Timur oleh para penulis zaman kuno adalah bukti bahwa orang-orang dari kumpulan genetika yang sama bermigrasi dari Asia ke Amerika Utara.

Literatur kontemporer mengatakan penulis tertentu menganggap fisik Blemmyes sebagai kemampuan untuk mengangkat kedua pundak ke ketinggian yang luar biasa, dan menjaga kepala mereka berada di antara kedua pundak tersebut.

Penjelasan lain mengenai kebenaran adanya manusia tanpa kepala adalah bahwa mereka merupakan pejuang pribumi yang mungkin menggunakan taktik menjaga agar kepalanya tetap berada di dekat dada sambil berbaris dengan satu lutut di tanah. Atau, mungkin saja mereka memiliki kebiasaan membawa perisai yang dihiasi dengan bentuk wajah dan diletakkan di dada, sehingga orang yang melihatnya salah mengira. .

Sementara itu, orang-orang Eropa menganggap bahwa Blemmyes manusia tanpa kepala yang memiliki mata di dada sebenarnya merupakan laporan berlebihan tentang spesies kera. Seperti kita ketahui kera menempatkan kepalanya di dada.



Bagaimana menurut kalian, Merrior?

 

Seorang penjelajah dan naturalis asal Norwegia pernah melakukan perjalanan ke Kalimantan pada tahun 1879-1880. Ia ditugasi untuk menjajaki bagian timur Kalimantan guna mengetahui lebih dekat mengenai orang Dayak. Sambil menyelam minum air, ia kemudian bukan hanya mendapatkan informasi mengenai suku Dayak, tetapi juga beberapa suku misterius yang konon menghuni pedalaman Kalimantan yaitu Suku Berekor dan juga Suku Pemakan Manusia.

Namanya Carl Alfred Bock. Ia adalah penjelajah dan naturalis asal Norwegia. Pada usia 19 tahun ia berangkat ke Inggris di mana kemudian ia bertemu dengan bangsawan dan juga sejumlah ilmuwan. Salah satu dari mereka adalah Marquess Tweeddale yang saat itu menjabat sebagai ketua Zoological Society of London.

Tweeddale adalah seorang ahli burung (ornitolog) yang memiliki koleksi zoologi yang sangat banyak. Nah, untuk melengkapinya ia kemudian mengirim Bock ke Hindia Belanda pada tahun 1878. Tetapi sayangnya beberapa bulan kemudian perjalanan itu dibatalkan karena Tweeddale meninggal dunia.

Bock yang berada di Batavia kemudian bertemu dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Johan van Lansberge yang kemudian menugasinya untuk mengunjungi bagian timur Kalimantan untuk membuat laporan mengenai suku Dayak. Hal ini karena ternyata saat itu orang-orang Dayak menghalangi dan menolak keras orang-orang Eropa untuk masuk ke wilayah mereka. Bock kemudian menyanggupi tugas tersebut.


Carl Alfred Bock

Perjalanan Bock dimulai pada sekitar pertengahan 1879. Bock yang saat itu berusia 30 tahun memulai perjalanan dari Samarinda ke Tenggarong dengan menggunakan perahu. Perjalanan yang harus ditempuh dengan perahu itu sekitar 30 mil jauhnya. Dalam sebuah kesempatan, perjalanan Bock pernah pula didampingi oleh Sultan Kutai. Beberapa kali Bock mendapati Orang Utan di tengah lebatnya hutan Borneo itu.


Selama dalam penjelajahannya ke Samarinda, Tenggarong, dan Banjarmasin, dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku yang nantinya akan diterbitkan pada tahun 1881 berjudul "The Head Hunters of Borneo".

Dalam buku yang banyak digunakan oleh orang Eropa untuk mengetahui tentang Borneo dan juga suku-suku yang mendiaminya tersebut, Bock mencatat perjumpaannya dengan berbagai macam suku Dayak, mulai dari Dayang Tring, Dayak Modang, Orang Bukit dari Amontai, Dayang Long Wai, dan Dayak Long Wahou.

Dalam buku tersebut, menariknya Carl Bock juga menceritakan bagaimana pengalamannya bertemu dengan suku kanibal pemakan manusia dan pencarian suku berekor yang kerap disebut "Orang Boentoet" yang ada di pedalaman Kalimantan yang sempat membuat tegang Kesultanan Kutai dan Kesultanan Paser.


Kisah Carl Bock Didatangi Suku Pemakan Manusia

Kedatangan Bock ke Kalimantan memang sejak awal bertujuan untuk mengetahui lebih dekat berbagai suku Dayak yang ada di pedalaman Kalimantan. 

Maka pada suatu ketika ia melakukan perjalanan dari Kota Bangoen ke pemukiman Dayak Tring, yang merupakan keluarga suku Bahou yang dijadwalkan akan memakan waktu sampai 4 hari lamanya. Ia berharap dapat bertemu dengan suku itu di Moeara Pahou. Dalam perjalanan itu juga didampingi oleh Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman.

Tetapi berhari-hari telah lewat dan Bock sama sekali belum menemukan seorang pun dari suku tersebut. Jadi ia berencana akan langsung mengunjungi kampung mereka. Namun Sultan mengatakan bahwa sangat berbahaya menuju ke sana. Mereka akan melewati perkampungan suku kanibal yang sangat ditakuti. Sultan juga khawatir bila kedatangan mereka akan dianggap sebagai ancaman yang kemudian dapat menimbulkan peperangan antar suku.

Ilustrasi suku Dayak

Sultan kemudian mengirimkan seorang utusan yang berperahu untuk meminta suku Dayang Tring agar menampakkan diri. Seminggu berlalu dan tak ada kabar dari orang tersebut. Mereka khawatir orang itu telah terbunuh dan menjadi santapan suku kanibal. Sultan kemudian mengirimkan perahu besar yang dipimpin Kapitan Bugis. 

Sekitar tiga hari kemudian perahu itu kembali. Di dalam perahu ada sekitar 40 orang Dayak Tring, termasuk di dalamnya 4 perempuan. Di antara rombongan tersebut ada seorang pendeta pertempuan. Ia mengizinkan Bock untuk mengambil gambarnya.



Dalam buku "The Head Hunters of Borneo", Bock menceritakan detail sosok-sosok yang ia lihat hari itu. Bagaimana mereka memiliki lubang telinga yang panjang dan dilengkapi dengan bandul logam. Ia juga takjub dengan tato-tato yang menghiasi beberapa bagian tubuh.

Sang pendeta mengatakan bahwa bahwa telapak tangan adalah bagian yang terbaik untuk dimakan, sambil menunjukkan kedua telapak tangannya. Ia juga menambahkan bahwa bagian otak, dahi dan lutut adalah hidangan yang lezat bagi sukunya.

Rupanya pertemuannya dengan suku tersebut tak sampai di sana. Seorang kepala suku kanibal bernama Sibau Mobang mendatangi tempat di mana Bock menginap. Kedatangannya itu juga bersama dengan tiga pendampingnya, dua orang laki-laki dan seorang perempuan.



Bock menggambarkan sang kepala suku berusia sekitar 50 tahundengan kulit cokelat kekuningan dan gigi yang habis. Sibau Mobang tampak sakit-sakitan, bahkan lengan kanan yang dihiasi gelang logam kondisinya sudah tak bisa digerakkan. Namun sosok sang kepala suku itu masih menunjukkan keperkasaan dan ketangkasan yang dapat membuat musuh ketakutan.

Melalui Sibau Mobang, Bock mengetahui bahwa suku itu tidak makan orang setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari mereka biasa menyantap nasi, hewan, dan juga buah-buahan liar. Namun menurut pengakuannya, sudah lama mereka tak menyantap nasi karena gagal panen.

Sebelum berpisah, Bock memberikan uang kepada masing-masing orang yang dilukisnya, beras, untaian manik-manik, dan juga kain blacu sepanjang 22 meter yang bisa dibagi sesama mereka. Sementara itu kepala suku Sibau memberikan kenang-kenangan berupa 2 tengkorak laki-laki dan perempuan tanpa rahang bawah yang dibungkus dengan daun pisang. 



Misteri Suku Berekor di Pedalaman Kalimantan

Kisah mengenai Suku Berekor atau yang dikenal dengan Orang Boentoet berawal dari abdi Sultan Kutai yang bernama Tjiropon. Rumor dan mitos mengenai suku berekor ini membuat Bock awalnya tak begitu membuat Bock tertarik. Ia bahkan sempat meragukan kebenarannya.

Menurut cerita Tjiropon ia pernah bertemu dengan orang-orang yang memiliki ekor. Ekor itu panjangnya sekitar 5-10 meter. Suku berekor ini diduga menghuni permukiman di tepi Sungai Teweh, di mana Kesultanan Paser (Pasir) berkuasa. Menurutnya, kepala suku mereka memiliki mata dan rambut putih. Tak hanya itu saja, menurut Tjiropon, rumah-rumah suku Orang Boentoet ini sengaja dilubangi di bagian lantainya untuk meletakkan ekor. 

Ilustrasi orang boentoet


Awalnya tentu saja banyak yang tak percaya kisah Tjiropon, namun sang abdi sultan bersikeras dan bersumpah bahwa apa yang dikatakannya memang benar adanya.


Mendengar hal ini, Bock kemudian berpikir tentang teori Darwin di mana ada rantai yang putus antara kera dan manusia. Ia pikir mungkin ini adalah jawaban dari misteri itu. Saat itu teori Darwin memang sangat menarik perhatian dunia Barat.

Bock lalu setuju untuk melakukan pencarian atas suku misterius tersebut. Tak tanggung-tanggung, Bock bahkan menjanjikan uang sebesar 500 gulden kepada Tjiropon jika ia berhasil membawa orang berekor itu.

Sultan Aji Muhammad Sulaiman kemudian menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Sultan Pasir yang isinya memohon agar Sultan dapat mengirimkan sepasang manusia berekor seperti cerita Tjiropon. Sang abdi kemudian berangkat bersama dengan surat tersebut.

Kesultanan Kutai

Hari demi hari berlalu, tetapi Tjiropon tak juga menampakkan batang hidungnya. Sementara itu, Bock kembali melanjutkan perjalanannya menuju Banjarmasin. Ketika di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Tjiropon. Dengan penjelasan berbelit-belit, ia mengaku tak berhasil mendapatkan ras manusia berekor seperti yang diceritakannya. 

Bock akhirnya dibantu oleh Residen Banjarmasin. Mereka mengirimkan kembali surat kepada penguasa Kesultanan Pasir menanyakan sekali lagi mengenai keberadaan orang berekor yang ada di wilayahnya.

Hampir sebulan lamanya tak ada balasan dari Sultan Pasir hingga akhirnya sebuah surat jawaban sampai juga ke tangan Residen Banjarmasin. Dalam surat itu Sultan mengatakan bahwa tampaknya telah ada kesalahpahaman. Orang Boentoet di Pasir adalah sebutan untuk para pengawal pribadi Sultan. Sang Sultan yang marah kemudian mengancam akan melakukan perlawanan terhadap Sultan Kutai.



Meskipun demikian, Tjiropon tetap pada pendiriannya. Ia memang pernah melihat langsung manusia berekor di Pasir. Tak hanya melihat, ia juga mengaku sempat berbicara dengan mereka.

Semua catatan dan kisah perjalanan Carl Bock di Kalimantan kemudian dibukukan dengan judul 'The Head Hunters of Borneo" yang dipublikasikan dalam bahasa Belanda pada tahun 1881.

Referensi:

https://indocropcircles.wordpress.com/2014/02/27/pencarian-ras-manusia-berekor-di-kalimantan/
https://id.wikipedia.org/wiki/Carl_Bock