The Ancient Rome atau Romawi Kuno merupakan peradaban terbesar di Eropa, bahkan di dunia. Ia berkuasa sejak 753 SM) sampai 476 M. Bermula dari pemukiman kecil bangsa Italik, kemudian berkembang menjadi Kota Roma yang dikenal hampir diseluruh penjuru dunia. 

Bangsa Romawi yang dikenal sebagai penguasa benua biru, hampir seluruh daratan Eropa dikuasainya. Mereka memenangkan peperangan Punik yang menjadi titik balik kejayaannya. Akan tetapi, Romawi Kuno tak lepas dari sisi gelapnya. Beberapa ahli telah mengemukakan penelitiannya tentang prostitusi, melalui temuan jejak rumah bordil di wilayah Pompeii.

Lupanar berdiri di tengah Kota Pompeii. Namanya memang asing terdengar, tapi kini banyak dikunjungi jutaan wisatawan. Lupanar merupakan rumah bordil yang dimaksud. Rumah bordil ini terletak di wilayah Campania, dulu bernama Pompeii. Letaknya berada di persimpangan Vico del Lupanare dan Vico del Balcone Pensile, Italia.

Para ahli arkeologi telah menelisik jauh sebelum abad ke-19, namun mereka menolak untuk mendeskripsikan kepada publik, terkait perlindungan moral bagi pembacanya kelak. Tempat yang terbuka untuk umum itupun akhirnya mulai terkuak, dan mulai banyak dikaji oleh peneliti modern.

Memasuki abad ke-20, ekskavasi dan penggalian dilakukan di Lupanar, menjadikannya tempat paling serius untuk dipelajari. Peneliti melakukan telaah melalui lukisan erotis kuno yang populer untuk menawarkan wawasan tentang seksualitas, kemitraan, dan dinamika kekuasaan Yunani-Romawi Kuno. Pada saat penggalian, ditemukan juga tempat tidur yang terbuat dari batu sebagai bukti penguat bahwa Lupanar adalah rumah bordil tersebut.

"Sejak abad kedua sebelum masehi, profesi pelacuran telah dilegalkan di Romawi Kuno sebagai profesi tertua di dunia" tulis Christer Bruun dalam jurnal internasional JSTOR yang berjudul Water for Roman Brothels: Cicero "Cael." 34 pada 1997. Prostitusi di era Romawi Kuno, terbagi ke dalam dua bagian, yaitu prostitusi meretrices (legal) dan prostitusi prostibulae (ilegal). 


"Setiap tahunnya, kurang lebih 10.000 anak-anak dan remaja dijual dari Pulau Delos (Wilayah Yunani) ke Pompeii untuk dipekerjakan", tulis Mia Forbes kepada The Collector dengan judul Prostitution In Ancient Greece And Rome, tahun 2020 lalu. Meskipun begitu, sebagai warga negara Romawi, pekerja seks adalah hal yang tabu. Mereka dianggap tak bermartabat. Hal tersebut di dasari bahwa para pekerja seks yang dipekerjakan adalah para budak, yang dijual oleh majikannya.

Imperium Romanum menuliskan tentang Prostitution in Ancient Rome, dikutip dari berbagai sumber, merilis pernyataan bahwa, "Pompeii menjadi kota pendosa,tak jarang seorang wanita dapat menyewa kamar bordil dengan biayanya sendiri, ia menjajakan dirinya kepada klien yang datang" tulisnya.


Arkeolog menemukan juga uang koin yang disinyalir sebagai alat transaksi atau token untuk dapat masuk ke rumah bordil. Token berbentuk koin tersebut disebut juga dengan Spintriae. "Biaya yang diperlukan untuk mendapat layanan, berkisar pada 2 sampai 16 asses, atau setara dengan 1 dinar", tulis Imperium Romanum di laman websitenya.

"Menjelang akhir agustus tahun 79, menjadi kehancuran Pompeii dengan terbakarnya bangunan-bangunan dan kematian dalam jumlah yang sangat besar", tulis Elmer Truesdell Merrill, menggambarkan kondisi Pompeii kala itu dalam jurnal internasional JSTOR berjudul Notes on the Eruption of Vesuvius in 79 A.D., tahun 1918.

Hiruk pikuk rumah bordil lenyap begitu saja. Letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M mengakhiri peradaban di Kota Pompeii. Erupsi super dahsyat telah meluluhlantakkan peradaban disana, tak terkecuali rumah bordil yang menjadi sisi gelap bagi bangsa Romawi.


 A-B-C-D-E-F-G… Urutan huruf yang dikenal sebagian besar warga Bumi ini berasal dari abad ke-16 SM. Sekelompok kecil pedagang asal Fenisia menciptakan dasar untuk alfabet Inggris modern dan alfabet lainnya. Mereka mengatur sistem 22 konsonan ke dalam apa yang menjadi alfabet yang digunakan tidak hanya oleh penutur bahasa Inggris, tetapi oleh penutur banyak bahasa di dunia.

Fenisia tinggal di sepanjang pantai Mediterania di tempat yang sekarang Libanon. Mereka mendiami sejumlah negara kota berbeda, yang paling terkenal adalah Tirus, Byblos, dan Sidon. Tempat-tempat Fenisia ini sering berkonflik satu sama lain untuk mendominasi wilayah tersebut. Karena kurangnya kerjasama ini, Fenisia ditaklukkan dan dipaksa untuk membayar upeti kepada hampir setiap kerajaan di wilayah tersebut, termasuk Mesir, Het, Asyur, Babilonia, Persia, dan Yunani.

Lebih lanjut, ketika Fenisia menciptakan alfabet baru mereka, mereka bekerja dari simbol yang sudah digunakan di antara orang-orang Kanaan dan Mesopotamia berbahasa Semit. Pada awal 3000 SM, bangsa Sumeria dan Mesir telah menemukan sistem penulisan berdasarkan simbol. Skrip awal ini terutama digunakan oleh pedagang dengan pedagang lainnya untuk mencatat kontrak, kwitansi, dan daftar barang.

Saudagar dan pedagang Fenisia menginginkan sesuatu yang tidak terlalu sulit untuk dipelajari dan akan cepat dan mudah digunakan. Sayangnya, baik sistem penulisan Mesir maupun Sumeria tidak memenuhi kriteria ini dengan baik. Mereka menggunakan ratusan simbol kompleks yang berbeda untuk mewakili ide (ideogram) dan suara suku kata (fonogram).

Orang Fenisia menyadari bahwa sebagian besar kata hanya terdiri dari sejumlah kecil bunyi sederhana. Mereka menemukan bahwa suara-suara ini hanya dapat direpresentasikan dalam 22 simbol dan berbagai kombinasinya.

Dalam alfabet mereka yang baru dibuat, orang Fenisia menggunakan simbol atau huruf hanya untuk konsonan, meskipun bahasa lisan mereka memang mengandung bunyi vokal. Abjad Ibrani dan Arab modern, yang secara langsung dipengaruhi oleh abjad Fenisia, masih belum mengandung simbol untuk vokal.


Orang Fenisia menyebarkan alfabet mereka melalui jaringan perdagangan mereka yang luas yang membentang di seluruh wilayah Mediterania. Orang Yunani mengadopsinya dan pada abad ke-8 SM telah menambahkan vokal.

Belakangan, orang Romawi juga menggunakan versi alfabet yang sama yang hampir identik dengan yang digunakan saat ini di dunia berbahasa Inggris.

Seperti diketahui, Fenisia adalah pedagang terbesar di dunia kuno untuk periode antara 1000 SM dan 600 SM. Ini adalah pembuat kapal yang sangat terampil dan pelaut yang membangun kapal layar kuat dan cepat untuk membawa barang-barang mereka.

Selain itu, mereka belajar cara menavigasi dan cara menggunakan Bintang Utara untuk berlayar di malam hari. Ada kemungkinan bahwa mereka bahkan berlayar sejauh Inggris dan di sekitar ujung selatan Afrika.

Bangsa Fenisia merancang kapal perang khusus untuk menemani armada dagang mereka, untuk melawan bajak laut yang sering mengganggu kapal dagang. Pendayung akan mendorong alat serudukan tajam di bagian depan kapal ke kapal musuh, membuat lubang di dalamnya yang akan menyebabkannya tenggelam.

Untuk memperluas perdagangan, Fenisia juga membangun pos-pos yang kemudian menjadi kota-kota besar dengan hak mereka sendiri. Pos terdepan yang paling terkenal adalah Carthage (terletak di Tunisia modern). Kartago akhirnya menjadi kaya dan cukup kuat untuk menantang Republik Romawi.

Pedagang Fenisia bertindak sebagai perantara bagi tetangga mereka. Mereka mengangkut linen dan papirus dari Mesir, tembaga dari Siprus, kain bordir dari Mesopotamia, rempah-rempah dari Arab, dan gading, emas, dan budak dari Afrika ke tujuan di seluruh Mediterania.


Fenisia juga memiliki sumber daya berharga dan pengrajin yang sangat terampil. Dari kerang kecil yang disebut murex mereka menghasilkan pewarna ungu cemerlang. Pewarna ini diterapkan pada pakaian wol, yang sangat dihargai tidak hanya karena keindahannya, tetapi juga karena harganya yang mahal. Butuh 60.000 murex untuk menghasilkan satu pon pewarna. Pewarna itu dikenal sebagai ungu kerajaan dan dipakai oleh kaisar Romawi.

Seniman yang terampil juga menghasilkan kaca yang indah, tembikar, tekstil, kayu, dan logam serta diinginkan oleh orang-orang di seluruh dunia kuno. Raja Salomo dari Israel bahkan menggunakan pengrajin dan sumber daya Fenisia untuk membangun Kuil Ibrani yang agung bagi Yahweh.

Pada 572 SM, Fenisia jatuh di bawah kekuasaan keras Asyur. Mereka terus berdagang, tetapi menghadapi persaingan ketat dari Yunani atas rute perdagangan. Menjelang abad ke-4 SM, dua kota terpenting Fenisia, Sidon dan Tirus, dihancurkan oleh Persia dan Alexander Agung. Banyak Fenisia meninggalkan pantai Mediterania untuk koloni perdagangan mereka, dan orang-orang Fenisia dan ide-ide segera berasimilasi ke dalam budaya lain.


Sebelum menopang kehidupan seperti saat ini, Bumi diselimuti magma yang berpijar. Dalam jangka waktu yang lama, Bumi kemudian mendingin dan mulai membekukan magma di bagian kerak hingga layak dihuni kehidupan.

Karena teori penciptaan itu sulit dibuktikan, penciptaan planet kita masih diperdebatkan oleh para ilmuwan. Bukti geologis yang sukar ditemukan itu, menurut para ilmuwan disebabkan proses tektonik yang mendaur ulang hampir semua batuan yang berusia lebih dari empat milar tahun.

Temuan terbaru yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Cambridge telah menemukan buktinya lewat hasil analisa pada zat kimia bebatuan kuno berusia 3,6 miliar tahun di Greenland. 

Helen M Wiliams bersama timnya menulis laporannya di Science Advances (Vol. 7 No. 11, Maret 2021). Batuan ini menjelaskan bahwa di masa purba, magma Bumi mengalami pendinginan dan kristalisasi yang bertahap, sehingga mengatur proses kimiawi interior planet.

Proses itu jugalah yang dapat menentukan dan membangun struktur Bumi maupun atmosfer.

Mereka menulis, temuan ini juga menunjukkan batuan lainnya di kerak Bumi juga dapat menyimpan misteri lainnya terkait bukti sejarah magma purba.

"Ada sedikit peluang untuk mendapatkan fenomena geologis dan peristiwa dalam miliar tahun pertama sejarah penciptaan Bumi," terang penulis utama Helen Williams dikutip dari Eurekalert.

"Sungguh menakjubkan jika kita bahkan dapat memegang bebatuan ini di tangan kita—apalagi mengetahui begitu banyak detail tentang sejarah awal planet kita."

Pada proses penelitiannya, mereka menggabungkan analisa forensik ilmu kimia dengan pemodelan termodinamika untuk mencari asal mula batuan itu. Lewat metode ini jugalah mereka dapat menemukan bagaimana batuan ini bisa muncul di permukaan.

Bebatuan ini berlokasi di Sabuk Supracrsutal Isua yang terbentang di bagian barat daya Greenland seperti di Nuuk. Jika dilihat sekilas, bentuknya menyerupai batu basal modern yang umumnya ditemukan di dasar laut.


Pandangan awal terkait batuan ini dideskripsikan oleh para ilmuwan pada 1960-an. Kemudian penelitian terdahulu yang dipublikasikan di Science Direct (Vol. 15 tahun 2007) sekedar mengungkapkan bila batuan ini adalah yang tertua di Bumi.

Laporan studi tahun 2007 itu juga baru menduga adanya data penting terkait pencitaan Bumi, dan akhirnya dianalisa oleh para peneliti hari ini.

"[Penelitian] itu merupakan kombinasi analisa kimia baru yang kami lakukan dan [berkat] data yang diterbutkan sebelumnya yang memberi tahu kami kalau batuan di Isua mungkin mengandung jejak material kuno," ungkap Hanika Rizo, rekan penulis.

"Isotop hafnium dan neodimium [yang terkandung di dalamnya] benar-benar menarik, karena sistem isotop itu sangat sulit untuk dimodifikasi. Jadi kami perlu melihat kimiawinya lebih detil."

Isotop itu ketika dianalisa Williams dan tim, ternyata berasal dari bagian dalam Bumi yang terbentuk akibat proses kristalisasi lautan magma di masa purba. Mayoritas batuan purba ini telah tercampur oleh proses konveksi di mantel bumi.

Tetapi para ilmuwan memperkirakan, batuan ini semestinya yang berada di zona terpencil di batas inti mantel--yang merupakan tempat terbenamnya kristal kuno—mungkin masih asri selama miliaran tahun.


Sisa kuburan kristal inilah yang diamati para peneliti. Sampelnya yang memiliki jejak-jejak besi itu memiliki anomali tungsten yang merupakan bagian dari kisah pembentukan Bumi.

Mereka menulis, batuan ini muncul ke permukaan Bumi dari mantel disebabkan ragam tahap kristalisasi dan peleburan. Itulah yang ditemukan para peneliti dari susunan isitopnya yang dihasilkan tak hanya disalurkan dari pelelehan di batas inti mantel.

Mereka menerangkan, campuran kristal kuno dan magma pertama-tama bergerak ke bagian mantel atas. Selama proses itu, unsur-unsur kimia diaduk sedemikian rupa untuk membuat 'kue marmer' dari berbagai bebatuan dari kedalaman yang berbeda.

Kemudian, pencairan secara hibdira pada bebatuan itu menghasilkan magma yang membentuk struktur geologis di Greenland ini.

Dalam hasil laporannya, para peneliti memperkirakan bahwa kemunuculan hotspot pada gunung berapi modern juga dipengaruhi proses kuno ini.

"Geokimia yang kami laporkan di bebatuan Greenland mirp dengan bebatuan hasil leutsan gunung berapi seperti di Hawaii," ujar Oliver Shorttle salah satu peneliti. 

Peneliti lainnya, Simon Matthews mengatakan, "Kami telah mampu mengungkap apa yang dilakukan salah satu bagian interior planet kita miliaran tahun yang lalu, tetapi untuk mengisi gambaran lebih lanjut, kita harus terus mencari lebih banyak petunjuk kimiawi di bebatuan kuno."

Para peneliti menyebut, lewat temuan ini dapat menjadi wawasan tambahan bagi para ilmuwan untuk mengetahui lebih jauh mengenai pembentukan dan evolusi Bumi.


 Setiap negara di dunia pasti melakukan hubungan perdagangan dari negara lainnya, untuk memenuhi kebetuhan di dalam negeri. Kita mengenal dalam sejarah bahwa, jalur sutera pun menjadi jalan perdagangan antara Eropa dan Asia.

Jauh sebelum itu, Mesir kuno oleh para peneliti juga telah melakukan perdangan antar negara, yang kemudian kegiatan tersebut membantu kita untuk menelusuri jejak Punt, negeri yang hilang dalam catatan sejarah.

Punt kuno setidaknya menjadi mitra dagang Mesir selama 1.100 tahun, dalam menjual barang-barang mewah seperti dupa, emas, kulit macan tutul, dan babon. Negeri tersebut dapat dikunjungi melalui darat dan laut, tapi tampaknya para ahli melihat bahwa perdagangan babun dilakukan oleh pelayaran bangsa Mesir kuno melalui Laut Merah.

“Pelayaran jarak jauh antara Mesir dan Punt, dua negara berdaulat, merupakan poin penting dalam sejarah manusia, sebab mendorong evolusi teknologi maritim,” ucap Nathaniel J Dominy, antropolog Dartmouth College dalam rilisan persnya, Selasa (15/12).

Manusia sudah lama melakukan pelayaran perdagangan jarak jauh, terutama untuk jual-beli kerang dan ukiran. Tapi melalui hubungan dagang Mesir-Punt menjadi gambaran bagi para ahli untuk mempertanyakan, bagaimana perkembangan kapal Mesir kuno yang biasanya digunakan untuk berlayar di Sungai Nil, lalu berkembang untuk mengarungi Laut Merah.

“Banyak ahli memandang perdagangan antara Mesir dan Punt sebagai langkah maritim panjang pertama dalam jaringan perdagangan yang dikenal sebagai jalur rempah-rempah, yang akan membentuk kekayaan geopolitik selama ribuan tahun,” ujar Dominy. “Ahli lainnya mengungkapkan, bahwa hubungan Mesir-Punt sebagai awal dari globalisasi ekonomi.”

Untuk mengetahui asalnya, Dominy dan timnya mengumpulkan oksigen dan menganalisa kandungan isotop mumi babun yang berada di kuil makam Mesir kuno dari, era Kerajaan Baru (1550-1069 SM), Ptolemaic (305-30 SM), dan mencocokannya dengan babun modern lainnya yang endemik di Afrika timur dan selatan Arab.

Analisa terhadap rasio isotop dapat menentukan asal makanan dan minuman yang dikonsumsi. Hasilnya diyakini bahwa hewan tersebut berasal dari negara yang kini menjadi Ethiopia, Eritrea, Djibouti, Somalia, dan Yaman.


Temuan ini juga menjadi penguat bukti mengenai lokasi Punt, yang selama ini menjadi teka-teki. Sebab sebelumnya pada 1997, J Phillip menulis esai Punt and Aksum: Egypt and the Horn of Africa dalam Journal of African History menyebutkan bahwa Punt tak dapat ditemukan di peta manapun, dan tak memiliki sisa-sisa arkeologis.

“Babun adalah pusat perdagangan ini, jadi menentukan lokasi Punt itu penting,” terang Dominy. “Selama lebih dari 150 tahun, Punt telah menjadi misteri geografis. Analisis kami adalah yang pertama untuk menunjukkan bagaimana mumi babun dapat digunakan untuk memecahkan teka-teki abadi ini."

Para peneliti juga sempat memperkirakan bahwa babun yang ditemukan juga berasal dari Nubia (kini Mesir selatan dan Sudan utara), tapi anggapan tersebut dikesampingkan karena tak terdapat bukti pendukungnya yang kuat, dan konfrontasi politik Mesir kuno dan Nubia pada masanya..

Dominy memaparkan, babun sangat penting bagi Mesir kuno untuk dipuja sebagai penggambaran Thoth, dewa bulan dan kebijaknsanaan. Banyak hieroglif Mesir kuno yang menggambarkan Papio hamadryas (babun hamadryas) sebagai laki-laki yang duduk dengan ekor meringkuk ke sebelah kanan tubuhnya.

 Wolverine betina dan anak-anaknya terlihat di Taman Nasional Gunung Rainier, Washington, Amerika Serikat, untuk pertama kalinya sejak 100 tahun, dilansir dari IFL Science.

Taman Nasional berharap, munculnya hewan yang kerap disebut gulo gulo ini, dapat menjadi bukti kondisi taman telah membaik—bahwa ekosistem mereka mampu menarik perhatian karnivora besar untuk berkeliaran lagi di sana.

Wolverine merupakan hewan yang sulit ditemukan karena mereka biasanya menyendiri dan menjauhi manusia.

Wolverine sangat langka di AS, jumlahnya tidak mencapai 1.000 di 48 negara dan mereka kerap tinggal di area pegunungan.

Negara bagian Washington sendiri bukan habitat khas wolverine. Oleh sebab itu, penemuannya adalah perkembangan yang sangat menarik bagi spesies dan Taman Nasional Gunung Rainier itu sendiri.

Usaha untuk menemukan wolverine ini dilakukan oleh National Park Service, bekerjasama dengan para ilmuwan dari Cascades Carnivore Project. Kedua pihak berharap dapat melihat penampakan wolverine lainnya.

Mereka telah memasang kamera di seluruh taman nasional dan juga meminta publik untuk melaporkan ke situs Cascade Wolverine Project jika melihat wolverine atau berhasil menangkap gambar hewan tersebut.

“Ini sangat menakjubkan,” ujar Chip Jenkins, pengawas Taman Nasional Gunung Rainier, dalam sebuah pernyataan.

“Penemuan ini memberi tahu tentang kondisi taman nasional—bahwa ketika ada kehadiran karnivora besar, maka kami melakukan pekerjaan yang baik dalam mengelola hutan belantara kami,” paparnya.

Wolverine adalah anggota terbesar dari keluarga musang, tetapi sangat gempal dan berotot sehingga sering kali lebih terlihat seperti beruang kecil daripada kerabat mustelidae yang lebih ramping.

Mereka memiliki reputasi sebagai pemarah dan agresif tetapi National Park Service menyatakan itu agak tidak adil karena mereka sebenarnya cukup pemalu dan tidak menimbulkan ancaman bagi manusia.


 Para astronom telah menemukan cahaya hijau di atas Mars--menandakan adanya oksigen. Fenomena ini sering terjadi di Bumi di mana kita bisa melihat aurora di ujung atmosfer, tapi tidak di planet lain.

Terdeteksi oleh Roscosmos' ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO) milik European Space Agency, penampakan tersebut dilaporkan pada Nature Astronomy. Wahana luar angkasa ini telah mengelilingi Mars sejak Oktober 2016 untuk memantau komposisi atmosfernya dan bagaimana itu berubah dengan musim.

"Salah satu emisi paling terang yang terlihat di Bumi berasal dari cahaya malam. Lebih spesifik, dari atom-atom oksigen yang memancarkan panjang gelombang cahaya yang belum pernah terlihat di planet lain," kata Dr Jean-Claude Gérard dari Université de Liège, pemimpin penelitian. 

"Namun, bagaimana pun juga, emisi ini diperkirakan telah ada di Mars selama 40 tahun. Untunglah, berkat TGO, kini kita dapat melihatnya," imbuhnya. 

Atmosfer Mars hanya berbeda 1% dengan Bumi, dilihat dari tekanannya. Keduanya sama-sama terbuat dari karbon dioksida. Menurut studi ini, oksigen yang terdeteksi di Mars merupakan produk langsung dari karbon dioksida tersebut. Sebagian kecil dari molekul-molekul itu dipecah oleh sinar ultraviolet dari Matahari--melepaskan karbon monoksida dan oksigen.

Oksigen terlihat bersinar dalam cahaya yang terang, begitu pula pada ultraviolet. Emisi yang terlihat di Mars 16,5 kali lebih kuat daripada ultraviolet, sesuatu yang sangat berbeda dari milik planet kita.

"Pengamatan di Mars setuju dengan model teoritis sebelumnya, tapi tidak dengan pancaran nyata yang kami lihat di sekitar Bumi, di mana emisi yang terlihat jauh lebih lemah," ungkap Dr Gérard.

"Ini menunjukkan kita harus belajar lebih banyak tentang perilaku atom oksigen yang sangat penting untuk pemahaman kita tentang fisika atom dan kuantum," paparnya. 

Observasi pernah dilakukan tahun lalu, pada 24 April-1 Desember 2019 menggunakan NOMAD (Nadir and Occultation for Mars Discovery), seperangkat instrumen untuk memindai atmosfer Mars dari ketinggian 20-400 kilometer. Alat tersebut diarahkan ke tepi planet, dan pengamatan dilakukan dua kali pada setiap orbit atau sekitar 24 kali per hari. Hasilnya menunjukkan emisi oksigen ditemukan dalam setiap pengamatan.

"Emisi terkuat berada di ketinggian sekitar 80 kilometer, tapi itu juga bervariasi tergantung pada jarak yang berubah antara Mars dan Matahari," kata Dr Ann Carine Vandaele, Principal Investigator of NOMAD dari d'Aéronomie Spatiale de Belgique. 

Masih banyak yang tidak diketahui dari atmosfer Mars tetapi pengamatan semacam ini memberikan cara baru untuk menyelidiki evolusi atmosfer planet dari waktu ke waktu.


Manusia pada zaman es telah melakukan banyak interaksi dengan mamut, seperti untuk diburu untuk dijadikan makanan atau mantel penahan suhu dingin.

Baru-baru ini, para arkeolog dari University of Exeter menemukan fakta lain mengenai 'pemanfaatan' mamut oleh manusia zaman es di Rusia. Dalam jurnal yang dipublikasikan pada Selasa (17/3/2020), arkeolog mengatakan bahwa mereka telah menemukan puing ‘rumah’ yang terbuat dari tulang belulang 60 ekor mamut, yang kira-kira berasal dari 20 ribu tahun lalu.

“Semua bagian tubuh mamut ada di sini, dari tulang yang sangat besar seperti tengkorak dan tulang kaki, hingga yang lebih kecil seperti tulang belakang,” kata Alexander Pryor, pemimpin penelitian ini, dilansir dari Live Science.


Puing tersebut berbentuk lingkaran, sehingga para peneliti kadang menyebutnya sebagai ‘lingkaran tulang’ zaman es. Pryor menyampaikan bahwa terdapat 70 ‘lingkaran tulang’ lainnya di sekitar 25 situs di Ukraina dan Rusia yang sudah diketahui para arkeolog. Meski begitu, yang dilaporkan saat ini adalah yang tertua dari semua catatan.

Lokasi puing ‘rumah kuno’ ini berada di situs arkeologi Kostenki 11 yang berjarak sekitar 560 kilometer dari Moskow. Pertama kali ditemukan oleh Alexander Dudin, direktur Kostenki Museum-Preserve di Voronezh, Rusia.

“Di Kostenki 11, kita dapat membayangkan cincin tulang mamut bertumpuk satu sama lain. Beberapa tulang masih tergabung--menunjukkan bahwa mereka setidaknya masih memiliki daging ketika ditumpuk,” kata Pryor

Ia menambahkan, di situs lain kemungkinan ada tiang kayu yang digunakan untuk mendirikan atap yang terbuat dari kulit binatang. Namun, untuk situs Kostenki 11, belum ditemukan bukti keberadaan atap tersebut.


Lusinan mamut ini diperkirakan merupakan hasil buruan, sebagaimana dibuktikan dengan penemuan lembing yang tertanam di tulang rusuk mamut pada lokasi yang berbeda, Polandia.

Meskipun diduga sebagai ‘rumah’ kuno zaman es, para peneliti juga menganalisis bahwa kumpulan tulang-tulang ini dijadikan perapian. Pryor menganalisisnya dari sisa-sisa pohon yang mudah terbakar api. Bisa jadi orang zaman es menggunakan tulang sebagai penyulut api karena lebih terang dan menghangatkan.