Sebelum tutup usia, fisikawan Stephen Hawking telah menulis sebuah makalah studi terakhir. Stephen Hawking meninggalkan sebuah warisan terakhir yang berguna bagi para ilmuan lain.

Dua minggu sebelum kematiannya, Stephen Hawking menyerahkan sebuah makalah penelitian yang membahas tentang bagaimana kita bisa mendeteksi alam semesta paralel dan mengungkapkan bagaimana mendeteksi bukti dari hipotesis ‘multiverse‘ tersebut dan memprediksi akhir dari dunia kita.

Multiverse atau “Multiversum” atau “meta-universum” adalah hipotesis berupa kemungkinan adanya beberapa kumpulan alam semesta termasuk alam semesta tempat kita tinggal. Bersama-sama, alam semesta ini terdiri dari segala sesuatu yang ada: keseluruhan ruang, waktu, materi, energi dan hukum fisika serta konstanta yang menggambarkannya.

Atau singkatnya, bahwa alam semesta kita tak hanya satu dari banyak lainnya diluar sana yang disebabkan oleh ledakan dahsyat atau ‘Big Bang’. Alam semesta lain yang bermacam-macam di dalam multiversum disebut juga sebagai “alam semesta paralel”, “alam semesta lain” atau “alam semesta alternatif”.

Multiverse atau “Multiversum” atau “meta-universum” adalah hipotesis berupa kemungkinan adanya beberapa kumpulan alam semesta termasuk alam semesta tempat kita tinggal.

Sedangkan hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut.

Makalah tersebut membahas gagasan bahwa kita dapat mengukur alam semesta lainnya dengan menggunakan detektor pada pesawat ruang angkasa.

Jika bukti ini ditemukan selama masa hidup Hawking, mungkin ia telah meraih hadiah Nobel, sesuatu yang tidak pernah dapat ia capai. Makalah studi tersebut disusun Profesor Hawking bersama dengan Thomas Hertog, fisikawan dari Universitas Leuven di Belgia.

Thomas Hertog, yang turut menulis makalah bersama Stephen Hawking, berjudul ‘A Smooth Exit from Eternal Inflation?’ mengatakan kepada Sunday Times, “Dia sering dinominasikan untuk Nobel dan seharusnya memenangkannya. Sekarang dia tidak pernah akan bisa.”

Makalah tersebut telah diserahkan untuk publikasi, dan saat ini sedang dikaji oleh sekelompok ilmuwan lain. Anda dapat mengunduhnya dalam format PDF dibawah artikel ini.

Makalah ini menggali gagasan bahwa kita hidup dalam lingkungan multiverse, yang menyatakan bahwa alam semesta kita hanyalah salah satu dari banyak alam semesta lain. Penjelasan pada makalah studi ini juga menunjukkan bahwa jejak keberadaan alam semesta lain dapat terdeteksi pada radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3c/Ilc_9yr_moll4096.png/640px-Ilc_9yr_moll4096.png

Inilah “Cosmic Web” yang terlihat seperti “saraf otak” karena saling berhubungan,. Cosmic web ini terdiri dari jutaan galaksi, dimana tiap galaksi yang terdiri dari kumpulan bintang yang berjumlah milyaran, hanyalah setitik noktah dalam peta “Cosmic web” ini. (wikimedia).

Sekadar mengingat kembali, dalam kosmologi, radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis sendiri merupakan sebuah radiasi termal yang mengisi alam semesta teramati hampir secara seragam. Radiasi ini dijelaskan sebagai radiasi yang tersisa dari tahap awal perkembangan alam semesta.

Saat alam semesta masih muda, sebelum pembentukan bintang dan planet, alam semesta berukuran lebih kecil, lebih panas, dan terisi dengan nyala seragam dari kabut plasma hidrogen putih-panas. Begitu alam semesta mengembang, plasma dan radiasi yang mengisinya mendingin.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/be/Thomas_Hertog_1.jpg/320px-Thomas_Hertog_1.jpg

Thomas Hertog. (wikimedia).

Saat alam semesta sudah cukup dingin, proton dan elektron dapat membentuk atom netral.

Atom tersebut tak lagi dapat menyerap radiasi termal, dan alam semesta menjadi transparan daripada berkabut.

Kosmolog menyebut masa pembentukan atom netral pertama sebagai masa rekombinasi.

Sementara itu sebuah kertas berisi penelitian Hawking pada tahun 1983 yang disusun dengan James Hartle, menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk.

Teori tersebut juga menjelaskan bahwa ‘Big Bang’ juga menciptakan jumlah alam semesta yang tak terbatas.

Ledakan masing-masing menghasilkan alam semesta mereka sendiri. Teori inflasi ini, yaitu bahwa alam semesta berkembang secara eksponensial sebelum mendekati ekspansi yang lebih lambat, tidak mungkin untuk diuji.

“Ini adalah teori tentang Big Bang. Sebuah versi revisi dari model Big Bang ‘tanpa batas’ yang digagas Hawking dan rekannya, James Hartle, pada tahun 1983,” kata Hertog seperti dilansir IFLScience. Teori itu menunjukkan Big Bang alam semesta kita berdampingan dengan Big Bang dari alam semesta lainnya.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f4/Earth%27s_Location_in_the_Universe.jpg/640px-Earth%27s_Location_in_the_Universe.jpg

Earth Location in the Universe

Multiverse universe

“Secara bertahap kami menyadari bahwa model tersebut tidak menggambarkan adanya satu alam semesta, melainkan ada banyak alam semesta,” kata Hertog. “Ahli kosmologi menyebutnya multiverse, kumpulan alam semesta secara paralel.”

“Hawking tidak puas dengan kenyataan yang ada saat ini. ‘Mari kita coba mengkaji multiverse’, katanya pada saya setahun yang lalu. Jadi, kami sejak saat itu mulai mencoba mengembangkan metode untuk mengubah gagasan multiverse menjadi kerangka ilmiah yang dapat diuji secara koheren.”

Menurut makalah mereka, kita mungkin saja bisa mendeteksi sisa-sisa Big Bang dari alam semesta lainnya dalam gelombang gravitasi yang dipancarkan dari Big Bang.

Stephen Hawking and his daughter, Lucy Hawking (2008).

Sementara gagasan tentang multiverse masih hangat diperdebatkan, model penelitian Hawking dan Hertog menunjukkan bahwa kita dapat menemukan bukti kuat untuk keberadaan alam semesta lainnya di lingkungan kita sendiri.

Makalah ini masih ditinjau ulang, jadi kami belum bisa menganalisisnya. Ini termasuk prediksi radiasi Hawking, informasi yang bisa dipancarkan oleh Lubanghitam atau Blackhole.

Bukunya, A Brief History of Time, masih menjadi salah satu buku sains paling populer sepanjang masa. Bahkan setelah kematiannya, dia masih membuat “gelombang” dalam dunia sains seperti penelitian multiverse ini.

Ya, penelitian terhadap alam semesta memang selalu menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dikaji. Sudah menjadi takdir manusia untuk selalu mencari tahu. Hertog mengklaim bahwa dia dan Hawking ingin mengambil gagasan tentang multiverse dan mengubahnya menjadi kerangka ilmiah yang dapat diuji.

Penelitian juga menunjukkan bahwa keberadaan Bumi akan memudar ke dalam kegelapan saat bintang kita, yaitu Matahari, kehabisan energi. Gagasan Bumi menjadi gelap tetap kontroversial dengan ahli kosmologi, termasuk Profesor Neil Turok, direktur Institut Perimeter Kanada.

Gambar animasi alam semesta yang terdiri dari milyaran bintang, yang sebagian diantaranya terdapat planet-plenet yang mengorbitinya.

Namun disisi lain beberapa ilmuwan telah menyimpulkan bahwa karya Hawking bisa menjadi terobosan yang dibutuhkan untuk kosmologi. Penelitian tersebut dikatakan sebagai terobosan, karena penelitian itu adalah teori pertama yang bisa diuji.

Carlos Frenk, profesor kosmologi, sepakat bahwa sebelumnya tidak mungkin untuk mengukur alam semesta lainnya. Dia berkata, “Gagasan yang menarik dari Hawking adalah bahwa multiverse meninggalkan jejaknya pada radiasi latar yang menembus alam semesta kita dan kita dapat mengukurnya dengan detektor pada pesawat ruang angkasa”. Frenk berpendapat bahwa menemukan bukti alam semesta lainnya benar-benar dapat mengubah persepsi kita tentang tempat kita di alam semesta.

Profesor Hawking meninggal pada tanggal 14 Maret 2018 pada usia 76 tahun. Dia telah berjuang melawan penyakit neuron motorik (MND) seumur hidupnya, tetapi secara aktif terus menerbitkan sejumlah makalah ilmiah yang inovatif, seperti Theory of Everything dan termasuk A Smooth Exit from Eternal Inflation ini. (IndoCropCircles.com.


 Di sebuah dermaga eksekusi London, privateer (sebutan bajak laut yang bekerja untuk negara), William Kidd, yang dikenal sebagai Kapten Kidd, digantung karena pembajakan dan pembunuhan.

Kidd lahir di Dundee, Skotlandia pada 1645 dan sudah melaut pada usia muda. Pada 1680-an, ia menjadi prajurit yang disegani setelah bekerja dengan bermacam-macam kru bajak laut.

Kemudian, Kidd berlayar ke Amerika untuk memulai kehidupan baru di New York. Di sana ia bertemu dan menikahi seorang janda kaya. Ketika ketegangan antara Inggris dan Prancis berubah menjadi perang penuh, Kidd ditugaskan untuk melindungi melindungi kapal-kapal Inggris di Karibia dari serangan Prancis.

Pembajakan di era itu sering digunakan untuk urusan gelap. Banyak negara-negara yang mempekerjakan privateer seperti Kidd untuk melindungi investasi mereka. Seorang privateer juga dapat menuai hadiah dari rampasan yang disita dari kapal-kapal musuh, menurut laman Biography.

Pada 1695, Kidd kembali ke Inggris untuk menerima komisi kerajaan sebagai privateer. Di sana, dia berteman dengan Lord Bellomont. Di bawah arahan Bellomont dan dukungan keuangan, Kidd disewa untuk membuat jalan menuju Hindia Barat dengan kru untuk menyerang kapal Prancis dan kapal bajak laut. Hasil rampasan yang disita akan dibagi antara Kidd, anak buahnya, dan penyokongnya. Pada Mei 1696, Kidd berlayar dengan kapal Adventure Galley.

Sejumlah kru Kidd meninggal karena sakit. Saat ia menemukan beberapa kapal Prancis untuk diserang, Kidd justru menghadapi tekanan dari kru yang letih dan frustrasi saat pelayaran.

Pada Januari 1698, dia melihat sebuah kapal bernama Quedagh Merchant yang sedang memutari ujung India lalu menyerangnya.

Quedagh Merchant bukanlah kapal biasa. Kapal Armenia seberat 500 ton itu membawa harta karun seperti emas, sutra, rempah-rempah, dan kekayaan lain yang sebagian dimiliki oleh seorang menteri di istana Moghul Besar India.

Menteri memiliki koneksi yang kuat, dan ketika berita tentang serangan Kidd sampai kepadanya, dia mengeluh kepada East India Company. Sebuah perusahaan perdagangan Inggris yang besar dan berpengaruh. Ditambah dengan persepsi pergeseran pembajakan oleh banyak pemerintah. Akibatnya Kidd dengan cepat menjadi penjahat yang paling dicari.

Setelah meninggalkan Adventure Galley dan membajak Quedagh Merchant, Kidd berlayar dengan kapal barunya ke Karibia dan akhirnya pergi ke kapal yang lebih kecil di Boston, New York untuk membersihkan namanya. Ia mengklaim bahwa kapal yang ia serang adalah hadiah yang sah. Namun ia ditangkap dan akhirnya dikirim kembali ke London. 

Kabar penangkapan Kidd atas pembajakan itu membangkitkan kontorversi yang signifikan di Inggris karena Kidd adalah privateer Inggris. 

Kecurigaan terhadapnya dikonfirmasi setelah Kidd berlayar ke St. Mary's di Madagaskar pada 1697 yang terkenal sebagai surganya bajak laut. Sebelum ia melanjutkan perjalanan ke Hindia Barat dan bertemu Quedagh Merchant.


Pada 8 Mei 1701, Kidd mejalani pengadilan. Kejahatannya dan koneksi dengan elit Inggris dan pejabat pemerintah menyebabkan sensasi.  Dia dinyatakan bersalah dan digantung pada 23 Mei 1701 atas lima tuduhan pembajakan dan satu tuduhan pembunuhan awak kapal.

Tubuhnya digantung di sangkar dan dibiarkan membusuk di sepanjang Sungai Thames agar semua orang bisa melihat dan menjadi peringatan kepada bajak laut lainya. 

Kematian Kidd meninggalkan sebuah legenda lantaran ia menyimpan harta karun di Karibia. Akibatnya, para pemburu harta karun berusaha untuk mencarinya. Walaupun tidak ada yang pernah menemukanya.


Para ahli melakukan penelitian insentif terhadap jejak dinosaurus di wilayah South Wales, Inggris, yang ditemukan beberapa waktu silam. Hasilnya, para ilmuwan meyakini usia jejak binatang purba itu mencapai 200 juta tahun. Ahli paleontologi Museum Sejarah Alam percaya bahwa jejak kaki, ditinggalkan oleh sauropoda yang sangat awal atau prosauropoda yang berasal dari periode Trias. Mengutip laman SkyNews, Minggu (2/1/2022), jejak dinosaurus itu ditemukan di sebuah pantai di Penarth, Vale of Glamorgan, pada tahun 2020 oleh paleontolog amatir Kerry Rees yang melaporkan temuan itu ke Natural History Museum.

Awalnya pihak museum skeptis terhadap laporan tersebut, Dr Susannah Maidment dan Profesor Paul Barrett melakukan penyelidikan dan sekarang percaya bahwa jejak kaki itu berasal dari kerabat awal dinosaurus. "Kami mendapat banyak laporan dari masyarakat tentang hal yang dinilai adalah jejak masa silam, tetapi banyak di antaranya hanya profil biologi yang dengan mudah hanya kelihatannya saja seperti jejak kaki," kata sang profesor. Namun dari foto yang dikirimkan oleh penemunya, ia memutuskan untuk memeriksanya karena tampak cukup meyakinkan. Benar saja bahwa itu merupakan jejak dinosaurus , bekas jari kaki memang tidak terlihat jelas dalam foto yang biasanya merupakan tanda jejak kaki hewan. Ahli paleontologi sekarang percaya bahwa jejak tersebut adalah contoh eosauropus, yang merupakan jenis jejak yang diperkirakan dibuat oleh sauropoda atau kerabat dekat sauropoda, kelompok dinosaurus yang kemudian termasuk diplodocus yang terkenal.

"Kami tahu sauropoda awal hidup di Inggris pada saat itu, karena tulang camelotia, sauropoda yang sangat awal, telah ditemukan di Somerset di bebatuan yang berasal dari periode yang sama," ujar Dr Maidment.

Kendati demikian, ia belum tahu apakah spesies ini adalah pembuat jejak, tetapi itu adalah petunjuk lain yang menunjukkan sesuatu asal dari pembuat jejak ini. Jejak dinosaurus dapat digunakan untuk mengungkap banyak informasi perilaku tentang seekor hewan, serta memberikan data tentang bagaimana mereka berjalan dan gerakan mereka dalam kelompoknya.
 

Posted by BaronNight On 2:43 AM 0 comments


Israel Klaim Temukan Reruntuhan Istana Nabi Daud

Dua bangunan yang ditemukan dalam penggalian oleh arkeolog Yerusalem, diduga merupakan sisa reruntuhan istana raja tersohor dalam sejarah Islam, Kristen, dan Yahudi, yaitu Raja David atau Daud yang juga merupakan Nabi.
Kesimpulan itu muncul setelah para arkeolog melakukan penggalian di situs yang mereka yakini sebagai benteng Kota Yudea di Shaaraim pada 2013. Shaaraim, yang kini lebih dikenal dengan nama Khirbet Qeiyafa, adalah lokasi yang dipercaya menjadi tempat Daud mengalahkan Goliath, seperti yang dikisahkan dalam Alkitab.

Dikutip dari National Geographic, Minggu (14/11/2021) Khirbet Qeiyafa adalah situs kota benteng kuno yang menghadap ke Lembah Elah dan berasal dari paruh pertama abad ke-10 SM. Reruntuhan benteng itu ditemukan pada 2007, di dekat Kota Beit Shemesh, Israel, berjarak 30 km dari Yerusalem.

"Hingga saat ini, reruntuhan tersebut adalah bukti terbaik untuk membongkar benteng kota Raja Daud. Penemuan ini adalah bukti tak terbantahkan atas keberadaan pusat kekuasaan di Yehuda selama masa kepemimpinan Raja Daud," ujar Profesor Yosef Garfinkel dari Hebrew University dan Saar Ganor yang memimpin proyek penggalian.

Menurutnya, situs ini menjadi lokasi strategis di Kerajaan Yehuda sesuai alkitan, di jalan utama dari Filistia dan dataran pantai ke Yerusalem dan Hebron di daerah perbukitan.


Bahkan sebelum penggalian yang dilakukan Garfinkel dan timnya, pengunjung Khirbet Qeiyafa dapat melihat tembok kota yang besar, setinggi 2-3 meter, yang menutupi puncak bukit. Tembok kota ini membatasi area seluas 2,3 hektare dengan total panjang sekitar 700 meter.

"Karena topografi lokal, hanya permukaan luar tembok yang terbuka, bagian dalam terkubur di bawah sisa-sisa arkeologi," kata Garfinkel.

Dia mengatakan, tembok bangunan tersebut terbuat dari batu cyclopean, sedangkan bagian atasnya dibangun dengan batu berukuran sedang. Dua gerbang kota sudah tampak sebelum penggalian, satu di selatan dan satu di barat.

Tujuan utama dari penggalian tersebut adalah untuk mengekspos sebagian besar kota Zaman Besi yang secara radiometrik tertanggal akhir abad kesebelas dan awal abad kesepuluh SM. Sampai saat ini, situs seluas 3.500 meter persegi telah digali dan dua gerbang, dinding kubu pertahanan, permukiman, ruang pemujaan, kandang dan kompleks bangunan administrasi di bagian atas situs telah dibuka.

Selain itu, lapisan dari periode Persia Akhir-Hellenistik Awal mulai terungkap. Lapisan ini berasal dari tahun 350-270 SM, berdasarkan koin yang ditemukan pada 2010-2011.

Garfinkel dan Ganor menemukan dua bangunan yang dibangun sejak abad 10 SM di Yerusalem. Satu struktur bangunan diidentifikasi sebagai istana Daud, sedangkan yang lain diduga sebagai gudang besar milik istana tersebut.

Di sekeliling istana, terdapat ruangan dengan beragam instalasi seperti bejana tembikar dan pecahan bejana pualam. Temuan ini sekaligus menjadi bukti jika pada masa itu masyarakat Mesir telah mengenal industri logam.

Meski temuan ini terdengar mengejutkan, tak semua sejarawan setuju. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa istana dan kerajaan itu tak pernah ada. Jika ada, mungkin besarnya tak lebih besar dari Yerusalem.

Prof Aren Meir dari Bar Ilan University menyatakan setuju jika situs ini merupakan sebuah penemuan yang penting. Namun menurutnya, para arkeolog terlalu mengandalkan Alkitab sebagai sumber bukti.

"Bisakah kita mengumpulkan argumen mengenai kerajaan Daud dan Sulaiman? Bagi saya, hal ini terlihat terlalu muluk," ujar Meir.

Sementara itu, Israel Antiquities Authority berharap penemuan ini bisa menjadikan Khirbet Qeiyafa sebagai taman nasional yang mampu mengundang wisatawan untuk datang dan belajar mengenai kehidupan kerajaan pada masa kekuasaan Raja Daud.


Para peneliti dari Institut Arkeologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia telah menemukan sebuah surat kuno di pusat kota Veliky Novgorod, barat laut Rusia. Menariknya, surat kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga 15 ini ditulis di kulit pohon birch.

Kota kuno Novgorod merupakan penghubung utama antara Rusia dan Eropa Barat, menjadikannya salah satu kota bersejarah terpenting negara itu. Pada masa kejayaannya yakni di abad ke-14, Novgorod menjadi salah satu kota terbesar di Eropa dengan populasi mencapai 400.000 jiwa.

Dilansir dari Ancient Origins, tanah liat yang tergenang oleh air sejak abad ke-12 berhasil membuat surat kuno itu terpelihara dengan baik. Temuan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dari surat-surat kuno pohon birch yang sebelumnya sudah didapat dari daerah tersebut.

Temuan ini digali dari kedalaman 8 meter, tepat di mana lapisan budaya Novgorod pada abad ke-12 berada. Diketahui bahwa temuan surat kulit kayu birch kali ini yang diberi nomor 1144 berisi tentang masalah keuangan yang berkaitan dengan pembayaran suatu layanan.

Selama proses penggalian, para peneliti juga menemukan berbagai macam artefak lain. Misalnya, sepatu kulit, piring kayu hingga wadah-wadah keramik. Mereka juga menemukan lambang timah dari abad ke-12 hingga lambang timah seorang ahli teologi St John dari abad ke-13 dan St Lazarus dari Bethany.

Voice of Russia sebelumnya pernah melaporkan di tahun 2014 para arkeolog menemukan enam teks yang ditulis pada kulit pohon birch dari kota yang sama. Temuan artefak-artefak itu menambah koleksi teks kulit pohon birch yang sudah ada lebih dari 1.000 jumlahnya. Karena banyaknya teks-teks serupa, hal tersebut telah mengubah banyak pandangan tradisional berkaitan dengan keadaan masyarakat saat itu.

Teks-teks kulit pohon birch yang ditulis oleh orang-orang baik laki-laki maupun perempuan, dari berbagai rentang usia dan beragam status sosial mengubah pemahaman tentang tingkat melek huruf zaman Rusia kuno. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang pada zaman itu jauh lebih berkembang daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Para arkeolog menjelaskan bahasa yang tertulis di kulit pohon birch adalah bahasa Slavia yang khas. Bahasa yang digunakan bebas dari pengaruh besar Gereja Slavonik yang biasa terlihat pengaruhnya dalam penulisan sastra pada zaman itu.

Diketahui bahwa surat kulit pohon birch pertama ditemukan pada 26 Juli 1951 oleh Nina Fedorovna Akulova dan setidaknya 1.025 temuan serupa ditemukan setelahnya. Sebanyak 923 surat ditemukan di Novgorod dan biasanya berasal dari periode antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-15. Ada pula surat yang dibuat oleh seorang anak bernama Onfim yang diperkirakan berusia 6 hingga 7 tahun.



Hampir semua artefak yang ditemukan ditulis dengan stylus dari perunggu dan besi, tidak pernah menggunakan tinta.  Surat-surat itu terawetkan karena tanah berawa yang mengisolasi artefak-artefak itu dari oksigen.

Penulis dan penerima teks-teks kulit pohon birch adalah pendeta, pejabat tinggi, pemilik rumah, pedagang, pelayan, pengrajin, prajurit, wanita, dan bahkan anak-anak. Sebagian besar surat berhubungan dengan penggunaan sehari-hari, korespondensi bisnis dan pribadi, seperti instruksi, keluhan, kontrak, berita, pengingat, dan latihan belajar.

Mereka menyentuh kehidupan keluarga dan manajemen rumah tangga, perdagangan dan keuangan, kejahatan dan proses hukum, perjalanan, ekspedisi militer, dan berbagai jenis materi lainnya yang semuanya mengungkapkan sejumlah besar detail kehidupan Rusia utara abad pertengahan.

Ada pula surat dari kulit pohon birch tertanggal antara tahun 280 dan 1300 yang ditulis oleh seorang pria bernama Mikita kepada Anna. Dilaporkan oleh The New York Times pada tahun 2014, pada surat tersebut berisi ajakan untuk menikah. Kala itu, para arkeolog mengatakan setelah diuraikan oleh ahli bahasa menghidupkan temuan mereka yang lain.

“Mereka membuka jalan bagi kita, jendela dalam kehidupan dan hubungan sehari-hari. Orang-orang Novgorod kuno berbicara kepada kita melalui gulungan-gulungan ini,” ujar Sergei Yazikov yang pernah memimpin penggalian di Jalan Bolshaya Moskovskaya.

Teks-teks yang baru ditemukan adalah diyakini bersifat bisnis tetapi saat ini masih dianalisis oleh ahli bahasa. Menurut Heritage Daily, penemuan teks kulit pohon birch telah secara signifikan mengubah pemahaman tentang tingkat budaya dan bahasa yang digunakan oleh Slavia Timur.


 



Seberapa dinginkah Bumi? Sebuah studi terbaru dari data satelit menyatakan bahwa suhu di lembah-lebah di lapisan es Antartika mencapai suhu -98° celsius (atau -148° fahrenheit).

Suhu ini lebih rendah dari sebelumnya yang hanya mencapai -93° celsius. Artinya, wilayah tersebut kini semakin dingin.

Para ilmuwan mendapat kesimpulan tersebut setelah membaca suhu satelit di daratan Antartika Timur, yang meliputi Kutub Selatan. Mereka lalu mengkalibrasi hasil pembacaan itu dengan data terbaru yang diambil dari stasiun cuaca.

“Saya belum pernah berada di wilayah sedingin itu, dan saya harap tidak akan pernah mengalaminya,” kata Ted Scambos, salah satu anggota peneliti dari University of Colorado-Boulder.

“Setiap napas yang dihirup di sana akan terasa menyakitkan. Anda harus berhati-hati agar udara yang masuk tidak membuat beku tenggorok atau paru-paru,” tambahnya.

Dalam studi ini, tim peneliti melihat data satelit NASA, Terra dan Aqua, serta Polar Operational Enviromental Satellites milik NOAA, dari tahun 2004 hingga 2016. Diketahui bahwa penurunan suhu biasanya terjadi pada malam hari selama musim dingin di belahan bumi selatan – tepatnya pada Juni, Juli, dan Agustus.

Penelitian terbaru ini juga menunjukkan sesuatu yang menarik tentang bagaimana rekor terendah di Antartika bisa terjadi: sama seperti ketika langit cerah dan angin tidak terlalu kencang, udara harus sangat kering untuk mendapatkan suhu di bawah nol. Setiap uap air di udara lalu akan memanaskannya.

Di wilayah tersebut, kami melihat periode udara yang sangat kering. Kondisi ini memungkinkan panas dari permukaan salju memancar ke angkasa dengan lebih mudah,” kata Scambos.

Udara yang sangat kering, selanjutnya masuk ke kantung-kantung es, dan membuatnya semakin dingin. Para ilmuwan mengatakan, suhu mungkin bisa lebih rendah dari sekarang.

“Proses radiasi yang mengontrol rekor permukaan rendah, temperatur udara, dan perubahan komposisi di atmosfer, menyiratkan bahwa di masa depan, kita mungkin mengalami suhu rendah ekstrem lainnya,” tulis peneliti dalam jurnal yang dipublikasikan pada Geophysical Research Letters.








 


‘Lingkaran batu’ kuno di Skotlandia telah terkonstruksi segaris dengan pergerakan matahari dan bulan lebih dari 5.000 tahun lalu, berdasarkan sebuah penelitian terbaru.

Peneliti menggunakan teknologi 2D dan 3D untuk menguji pola lingkaran dari Callanish dan Stenness. Batu-batu ini diketahui berasal dari tahun 3000 SM, 500 tahun sebelum monumen Stonehenge dibangun di Inggris. Tim juga menemukan monumen yang lebih sederhana di Skotlandia, yang diketahui ada sejak tahun 1.000 SM.

“Tidak ada yang pernah secara statistik membuktikan bahwa lingkaran batu dibangun dengan pemikiran mengenai fenomena astronomikal,” ujar Gail Higginbotom, kepala proyek di University of Adelaide dan Australian National University.

“Penelitian ini akhirnya membuktikan bahwa Briton kuno menghubungkan Bumi pada langit dengan batu yang berdiri, dan hal ini terus dilakukan dengan cara yang sama selama 2.000 tahun,” tambahnya.

Peneliti menemukan, setengah dari situs tersebut, ufuk utara lebih tinggi dan lebih dekat dari ufuk utara. Hal tersebut membuat matahari muncul di puncak tertinggi di ufuk utara.

“Lingkungan ini dipilih karena mampu mempengaruhi penampakan bulan dan matahari, terutama kemunculan mereka serta tenggelamnya mereka di waktu-waktu khusus, seperti posisi bulan yang hanya muncul di posisi paling utara dan terjadi hanya 18,6 tahun sekali,” ujar Higginbottom.

Penelitian ini dipublikasikan di Journal of Archaelogical Science.