Sekitar 136 ribu tahun lalu, banjir besar membuat pulau karang Aldabra tenggelam dan menghanyutkan berbagai jenis makhluk hidup.

Salah satunya mandar Aldabra, jenis burung yang ukurannya sebesar ayam dan merupakan spesies burung terakhir di samudra Hindia yang tidak bisa terbang.

Baca Juga : Studi Terbaru Ungkap Kondisi Bulan yang Menyusut dan Gemetar

Awalnya, mandar Aldabra merupakan spesies mandar tenggorokan putih (Dryolimnas cuvieri) yang berasal dari Madagascar. Mandar kemudian melakukan migrasi ke beberapa area di pulau karang Aldabra.

Karena di pulau tersebut tidak ada predator, maka spesies mandar lama kelamaan kehilangan kemampuannya untuk terbang. Sejak saat itu, mulai tercipta spesies baru yang hampir sama, tetapi tidak bisa terbang yakni mandar Aldabra (Dryolimnas cuvieri aldabranus).

Sayangnya, karena mandar Aldabra tidak bisa terbang, ia tersapu habis saat banjir besar di wilayah tersebut. 

Berpuluh-puluh tahun kemudian sejak terjadinya banjir besar, permukaan laut pun mulai menurun dan membuat pulau karang Aldabra bisa dihuni kembali.

Kondisi pulau yang siap dihuni membuat spesies mandar tenggorokan putih baru yang sedang bermigrasi dari Madagaskar kemudian hinggap dan terjadi pengulangan evolusi. Akibatnya spesies mandar Aldabra kembali tercipta dalam pulau tersebut dan bertahan hingga saat ini.

 

 Di desa kecil Giethoorn, Belanda, ketenangannya hampir seperti mimpi. Di sana, tidak ada kendaraan bermotor sama sekali. Bahkan, tidak ada jalanan untuk dilewati mobil atau motor.

Para penduduk lokal dan wisatawan yang mengunjungi Giethoorn, bergerak dengan cara yang 'tenang': menggunakan sepeda, perahu, atau berjalan kaki.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di desa ini kecuali berjalan-jalan di antara rumah-rumah asri beratap jerami dan melintasi kanal labirin.

Nama Giethoorn berasal dari abad ke-13, bermula dari kisah para petani yang kehilangan ternak kambingnya dalam peristiwa air bah 1170. "Goat horn" atau "Geytenhoren" kemudian disingkat menjadi Giethoorn. Nama itu melekat hingga sekarang.

Dan berabad-abad setelah banjir besar, air terus menentukan sejarah dan lanskap kehidupan desa tersebut.

Di dekat Taman Nasional De Weerribben-Wielden, para pemerhati satwa liar mendaki lahan basan dan alang-alang rumah untuk bertemu dengan berang-berang hingga burung kormoran besar.

Anda juga dapat menikmati keindahan desa ini melalui jalur air–naik perahu dayung atau kano.

Tanpa suara bising dari kendaraan bermotor, suara alam menghidupkan pemandangan untuk semua indera.

Tips berkunjung ke Giethoorn

Untuk menikmati 'jam-jam emas' di Giethoorn, atur alarm Anda di pukul 6 pagi. Kemudian abadikan sejuknya suasana pagi di desa tersebut. Terutama di sepanjang jalur perairan atau kanal. Atau Anda juga bisa melakukannya di sore hari, tepat sebelum matahari terbenam.

Anda bisa berkunjung ke Giethoorn dengan menggunakan kereta dan bus. Untuk menghindari keramaian, pilih bulan April, Mei, Juni atau September. Tentu saja, weekdays jauh lebih sepi dibanding akhir pekan.



 Tahun ini, para ilmuwan mengumumkan penemuan menakjubkan setelah melihat gambar satelit. Di wilayah Antartika yang dikelilingi es laut berbahaya yang dikenal dengan sebutan Danger Islands, terdapat koloni 1,5 juta penguin Adélie yang sedang bertahan hidup.

Yang lebih mengejutkan, berdasarkan hasil penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan American Geophysical Union, ternyata burung laut tersebut telah hidup di Danger Islands setidaknya selama 2.800 tahun.

Hasil ini didapat setelah sekelompok ilmuwan menghabiskan waktu sepuluh bulan untuk melakukan survei "pan-Antartika". Mereka meneliti penguin Adélie dengan melihat setiap citra satelit yang mereka miliki di benua selatan.

"Kami rasa, kami tahu di mana koloni penguin (Adélie) berada," kata Heather Lynch, ahli ekologi di Story Brook University.

NASA mengembangkan algoritma yang memungkinkan pendeteksian secara otomatis dan dapat menandai semua piksel di Danger Islands. Ketika Lynch dan timnya meneliti gambar satelit lebih dekat, mereka melihat bahwa pulau tersebut dipenuhi oleh kotoran penguin.

Danger Islands bukanlah wilayah yang mudah dikunjungi. Mereka di sebut 'Kepulauan Berbahaya' karena kondisi di sana seperti itu. Permukaannya hampir selalu tertutup lapisan es yang tebal.

Meski begitu, karena tertarik dengan noda kotoran tersebut, Lynch bersama rekan-rekannya melakukan perjalanan ke Danger Islands untuk survei penuh. ia menginap di Stony Brook University dan menggunakan gambar satelit untuk membantu mereka menghindari es laut yang berbahaya.

"Area sekecil ini tidak akan muncul di peta Antartika. Itulah sebabnya penguin Adélie sulit dideteksi. Padahal, jumlahnya lebih banyak dibanding wilayah Antartika lainnya," ucap Lynch.

Meskipun 1,5 juta merupakan angka yang besar, tetapi itu tidak sebanyak dulu. Setelah analisis mereka terhadap citra satelit, peneliti memutuskan untuk melihat jumlah penguin Adelie di masa lalu, dimulai dari 1982.

Hasilnya menunjukkan bahwa populasi penguin tersebut mencapai puncaknya pada 1990-an. Sayangnya, sejak itu, terjadi penurunan jumlah sekitar 10-20%

Karena Danger Islands hampir selalu dikelilingi dengan laut es, maka penguin Adélie juga lebih terlindungi dari penangkapan dan intervensi manusia lainnya di benua tersebut. Melihat hal itu, hipotesis terbaik mengenai penurunan populasi mereka adalah akibat perubahan iklim.

"Sekarang kami telah menemukan titik tinggal penguin Adélie di Danger Islands. Kami ingin lebih memahami mereka dan melindunginya," pungkas Lynch.


 Pemerintah Mesir baru saja membuka sarkofagus yang ditemukan di makam kuno di Luxor. Kondisi sarkofagus masih dalam kondisi yang sangat baik, begitu pula dengan mumi di dalamnya. 

Yang pertama kali dilihat adalah mumi perempuan yang diyakini berusia 3.000 tahun. Mumi tersebut menghuni salah satu dari dua peti terpisah yang ditemukan di dalam makam yang sama di nekropolis El-Asasef, di tepi barat Sungai Nil, Mesir Selatan.

Meskipun pemerintah Mesir telah mengumumkan beberapa penemuan tahun ini, tetapi ini pertama kalinya mereka membuka sarkofagus kuno di depan awak media internasional.

Menurut salah satu pejabat kementerian, mumi perempuan yang ada di dalam peti bernama Thuya. Namun, peneliti masih mempelajarinya lebih lanjut. Makamnya sendiri berasal dari Kerajaan Mesir, hampir 4.000 tahun lalu.

Sementara itu, di sarkofagus lainnya, para arkeolog mengindentifikasinya sebagai Thaw-Irkhet-if, seorang pendeta yang diketahui kerap mengawetkan beberapa firaun di Kuil Mut, Karnak.

"Salah satu sarkofagus bergaya rishi, dan berasal dari dinasti ke-17. Sementara sarkofagus lainnya berasal dari dinasti ke-18," kata Khaled Al Anani, Menteri Kepurbakalaan Mesir.

Perlu diketahui bahwa dinasti 18 kira-kira eksis pada abad ke-13 SM, dengan firaun-firaun terkenal seperti Tutankhamen dan Ramses II.
Setelah bekerja selama lima bulan untuk membersihkan puing sepanjang 300 meter, tim arkeolog akhirnya menemukan makam khusus ini pada awal bulan. 

Selain dua sarkofagus, makam itu juga berisi mumi, kerangka, dan tengkorak lain. Juga terdapat seribu patung yang terbuat dari kayu dan tanah liat. Dikenal dengan Ushabti, patung-patung pelayan ini dimaksudkan untuk menemani orang mati dan 'melayani' mereka di akhirat.

Berlokasi di antara makam raja di Valley of the Queens dan Valley of the Kings, nekropolis El-Asasef biasanya digunakan untuk mengubur para bangsawan dan wanita yang dekat dengan firaun.


Sebuah benda misterius ditemukan di Pulau Seabrook, Carolina Selatan pada hari Jumat (5/10/2018). Pihak berwenang belum bisa memastikan mengenai identitas benda tersebut. Namun dugaan awal adalah benda misterius ini merupakan sampah antariksa.

Penemuan ini pertama kali ditemukan oleh The Lowcountry Marine Mammal Network dan dipublikasikan dalam laman akun Facebook mereka.

Melansir Charlotte Observer pada Selasa (9/10/2018), benda tersebut berukuran cukup besar, lebih tinggi dari manusia dewasa. Masyarakat sekitar banyak yang menyebutnya sebagai UFO, karena bentuknya memang mirip dengan piring terbang yang selama ini ada di dalam film.

Satu hal yang membuat bingung adalah kenampakan objek tersebut terlihat terbuat dari beton yang sangat tebal. Namun, petugas The Lowcountry Marine Mammal Network membantah dan mengatakan bahwa tampilan foto tersebut menipu. Objek ini sangat lembut ketika disentuh.

"Sentuh saja, dan benda tersebut akan terasa seperti busa yang lembut," kata pihak The Lowcountry Marine Mammal Network. Mereka juga menambahkan bahwa objek misterius tersebut dengan segera dibawa oleh otoritas AS.

The Lowcountry Marine Mammal Network kemudian melontarkan pertanyaan kepada para pengikut akun mereka mengenai identitas objek tersebut. Banyak orang kemudian melontarkan dugaan mereka.

"Saya melihatnya pagi ini saat saya sedang berjalan. Saya berasumsi itu adalah sebuah pelampung, tetapi bisa juga sisa-sisa pesawat alien luar angkasa," tulis Jennifer Passantino di halaman Facebook terkait. 

Di antara banyak dugaan yang dilontarkan, terdapat beberapa dugaan yang paling masuk akal dan populer. Objek ini diduga menjadi bagian dari roket pesawat NASA, pesawat ulang-alik, atau bahkan "kapsul re-entry".

"Benda tersebut seperti pesawat ulang-alik Challenger yang meledak sekitar tiga puluh tahun lalu. Bagi saya, itu terlihat seperti nosel roket," tulis Jim Elrod di halaman Facebook The Lowcountry Marine Mammal Network.

"Anda mungkin dapat menghubungi NASA. Ini bisa saja bagian dari Tank Eksternal pesawat ulang-alik Challenger," kata Barry Dearborn.

Pada bulan Juni lalu, Charlotte Observer juga pernah melaporkan penemuan objek misterius yang terbuat dari logam di tepi pantai Corolla. Penggunaan dan asal-usulnya pun tidak pernah dilaporkan sejak ditemukan.


– Tsunami langka nan ekstrem, mengoyak fyord Alaska tiga tahun lalu, setelah 180 juta ton batu pegunungan jatuh ke laut. Gelombang dahsyat yang menghancurkan garis pantai dan pepohonan pun tak dapat dihindari. Menurut peneliti, ketinggian gelombang saat itu mencapai 182 meter.

Bencana di tenggara Alaska pada 2015 tersebut, merupakan tsunami terparah keempat yang pernah terjadi di Bumi. Dan menurut peneliti, tsunami yang disebabkan mencairnya gletser ini, mungkin akan sering kita temui akibat perubahan iklim.

Ya, studi terbaru telah mengategorikan peristiwa itu sebagai “bahaya yang disebabkan perubahan iklim”.

“Tanah longsor akan semakin sering terjadi karena gletser terus menyusut dan permafrost mencair,” kata para ahli geologi dari Bretwood Higman of Ground Truth Trekking.

Menurut Dan Shugar, geoscientist di University of Washington, 30-40 tahun lalu, Taan Fjord tidak ada sama sekali. Wilayah itu tertutup es semuanya.

Namun, sekitar 1961 hingga 1991, gletser – Tyndall Glacier – bergerak mundur sekitar 16 kilometer dan mengalami penipisan hingga 300 meter.

Ketika longsoran batu besar terjadi tepat di depan gletser, area sempit di fyord mengarahkanya pada gelombang raksasa yang bergerak secepat 60 mil per jam.

“Contoh mudahnya, bayangkan jika ada bola boling yang jatuh ke tengah bak mandi Anda. Air pasti akan keluar melalui beberapa sisi. Namun, jika bola boling jatuh tepat di pinggir bak, air tidak bisa bergerak ke mana-mana. Cara satu-satunya adalah dengan naik ke atas,” papar Shugar.

Delapan bulan setelah tsunami terjadi, para ilmuwan mulai mempelajari reruntuhan, serta mendeteksi garis pantai dari vegetasi, bebatuan, dan puing-puing besar yang seperti terkena ledakan senapan.

Tidak ada korban meninggal maupun terluka saat itu. Namun, Shugar khawatir, di masa depan mungkin kapal pesiar bisa terdampar di fyord Alaska akibat perubahan ekstrem. Dengan kata lain, tsunami dahsyat mungkin terjadi lagi di sana dan lebih parah.

"Ketika lereng gunung menyesuaikan dengan kondisi baru, mereka mungkin melepaskan batuan tunggal dan menimbulkan longsor,” kata Martin Lüthi, ahli geografi di University of Zurich yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Longsoran batu telah terjadi di wilayah dunia yang mengalami pencairan gletser dengan cepat. Peristiwa ini bisa memicu gelombang tsunami besar jika bebatuan menimpa danau atau fyord,” tambahnya.

Tsunami bukan satu-satunya bahaya yang disebabkan oleh pencairan glasial. Gletser gunung meleleh juga dapat menciptakan danau besar di dataran tinggi yang akan mengalir ke bawah lereng.
 



Suhu di Inggris pada Jumat (20/7) lalu, mencapai 37 derajat celsius. Namun, tidak hanya Inggris, negara-negara lain di dunia juga sedang menghadapi suhu ekstrem.

Skandinavia, Kanada, Siberia, Jepang, dan Laut Kaspia, mengalami panas terparah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peta yang dibuat Climate Change Institute di University of Maine ini menunjukkan bagaimana hampir semua negara di planet Bumi berada dalam cengkeraman gelombang panas yang membahayakan – terbukti mematikan di beberapa wilayah.

Di Oman, suhu paling dinginnya hanya mencapai 42,6 derajat celsius. Sementara Swedia terpukul oleh kebakaran hutan yang menyebar ke utara hingga Lingkaran Arktika.

Di Yunani, setidaknya 80 penduduk tewas akibat kebakaran brutal yang membakar kota pesisir dekat Athena.

Jepang bahkan telah menetapkan gelombang panas sebagai bencana alam setelah puluhan warganya meninggal dan ribuan lainnya dirawat di rumah sakit akibat serangan suhu di atas 40 derajat celsius.

Gelombang panas di Korea Selatan menelan sepuluh nyawa dan Kanada 70 orang.

Badan Meteorologi Inggris, menyarankan untuk menghindari paparan sinar matahari. “Jauhi matahari dan jaga rumah sedingin mungkin. Menutup jendela di siang hari juga mungkin dapat membantu. Buka ketika suhu lebih dingin di malam hari. Selain itu, jangan lupa untuk banyak minum air putih,” papar mereka.

Para penduduk juga dilarang untuk berjalan-jalan dengan anjing atau hewan peliharaan lainnya. Sebab, suhu panas di permukaan tanah meningkatkan risiko tangan kaki mereka terbakar.