Sebuah bola logam besar telah ditemukan di Meksiko. Penemuan benda misterius ini mendorong orang-orang untuk berspekulasi bahwa itu adalah bagian dari pesawat antariksa alien. Muncul juga beberapa tebakan lainnya yang jauh lebih beralasan.

Bola itu digambarkan oleh ahli meteorologi Isidro Cano dalam sebuah postingan Facebook sebagai "plastik yang sangat keras atau paduan berbagai logam." Bola itu muncul di atas pohon di utara kota Veracruz.

Menurut Cano, saksi melihat bola itu "jatuh dari langit". Bola itu mengeluarkan suara, tapi tidak ada api yang terlihat.

Menulis dengan huruf besar semua, Canon menjelaskan bahwa orang-orang harus "JANGAN MENYENTUH ATAU MENDEKATINYA SAMPAI DITINJAU OLEH SPESIALIS." Cano juga menambahkan bahwa bola itu "MUNGKIN MEMILIKI RADIOAKTIF," sebagaimana dilansir IFLScience.

Dalam postingan lebih lanjut, Cano merujuk ke "kode" di bagian luar bola dan menegaskan kembali bahwa bola itu "SEHARUSNYA TIDAK DIBUKA". Dia juga mengklaim bahwa tidak ada bukaan yang jelas di mana bola itu bisa terbuka.

Cano juga menambahkan misteri lebih lanjut tentang apa bola itu. Mengenai bola misterius itu, dia mengklaim, "KETIKA TIBA SAATNYA MEREKA AKAN MEMBUKA SENDIRI DAN MENUNJUKKAN INFORMASI BERHARGA YANG MEREKA BAWA DI DALAMNYA".

Pada hari Senin awal Agustus 2022, Cano memperbarui informasi baru dan menjelaskan bahwa "artefak" itu telah dipindahkan pada pukul 03.15 waktu setempat. Tim yang sangat terlatih dan khusus telah membawa bola itu keluar dari perbatasan Meksiko.

Terkait misteri benda apa sebenarnya bola itu, tebakan yang masuk akal adalah bahwa itu bisa jadi adalah balon cuaca. Atau, hipotesis yang lebih eksotik, bola itu mungkin adalah puing-puing atau sampah luar angkasa.

Selama akhir pekan di penghujung Juli 2022, roket Long March 5B milik Tiongkok jatuh kembali ke Bumi. Potongan-potongan bagian dari roket itu ditemukan di Kalimantan serta Filipina.

Adapun pada awal Juli 2022 seorang petani Australia menemukan potongan besar dari apa yang tampaknya menjadi bagian dari roket SpaceX. Jadi hipotesis bahwa bola misterius adalah sampah luar angkasa tidak keluar dari kemungkinan ini.

Para pengikut Cano di Facebook tampaknya lebih menyukai teori-teori yang lebih sensasional, mulai dari UFO hingga telur naga. Namun Cano tampaknya menyukai teori sampah luar angkasa, setidaknya di postingan awalnya.

"MENURUT PERTIMBANGANKU ITU MUNGKIN BAGIAN DARI ROCKET CINA YANG DI KELUAR KONTROL DAN SEJUMLAH BESAR BAGIAN ITU TERLIHAT DI MALAYSIA DI SISI LAIN DUNIA," tulisnya.

Meski banyak orang mungkin lebih berharap itu benda alien atau telur naga, yang paling logis tampaknya memang masih teori soal sampah antariksa.


Baru-baru ini, para ilmuwan menggunakan teknologi baru untuk mengetahui cara makan yang dimiliki oleh beberapa hiu.

Seperti yang diketahui, hiu tidak memiliki lidah untuk membantu mereka menelan makanan. Namun, penemuan baru mengungkapkan bahwa hiu mengangkat kedua bahu
—bagian atas sirip dada
mereka untuk memasukkan mangsa ke dalam perut.

Perilaku tersebut ditemukan pertama kali oleh para ilmuwan yang menggunakan gambar sinar-X yang mutakhir. Gambar tersebut menunjukkan bahwa hiu bambu mengayunkan bahu ke dalam saat mereka makan.

Dengan menarik sabuk-sabuk pektoral—kumpulan tulang pada rangka apendikular yang menyokong alat gerak atas—mereka, hiu bambu melakukan sebuah isapan untuk menarik makanan melalui bagian belakang mulut, yang selanjutnya akan diteruskan ke saluran pencernaan.

Penemuan ini disampaikan oleh Ariel Camp, peneliti dari Brown University dan penulis utama studi tersebut—yang dipublikasikan dalam Proceedings B, sebuah jurnal Royal Society.

Artikel terkait: Gemar Makan Rumput, Hiu Ini Buat Ilmuwan Kebingungan

Hiu bambu adalah penghuni terumbu karang yang dapat ditemukan di seluruh Samudera Hindia. Hiu ini berukuran kecil—dengan panjang antara 24 dan 37 inci—dan sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mencari mangsa.

Teknik makan dengan mengisap digunakan oleh banyak hiu dan ikan lainnya untuk melahap mangsa. Dengan menggunakan otot di dalam tubuh, hiu bambu membuka mulut lebar-lebar dan melahap mangsa dengan mengisapnya.

Meskipun hiu menggunakan sirip dada mereka untuk berenang dan memposisikan diri di atas mangsa, fungsi sabuk pektoral masih saja dipertanyakan.

Pada ikan bersirip, seperti ikan lele, sabuk pektoral melekat pada tengkorak dan ditarik saat pengisapan terjadi.

Namun, dalam hiu, sabuk pektoral terpisah dari rahang dan bagian kepala lainnya. Para ilmuwan pun penasaran dan menyelidiki lebih jauh, apa fungsi sabuk pektoral saat hiu sedang makan.

“Kami menyebutnya sebagai ‘lidah hidrodinamik’, yang mampu mengendalikan gerak cairan di dalam mulut untuk memanipulasi makanan,” tambahnya.

Hal ini bermakna bahwa hiu bambu menggunakan bahu mereka untuk mengambil makanan dan menggunakan sirip paling depan sebagai penggerak.

Meneliti hiu

Untuk mengamati perilaku ini, Camp dan dan rekan-rekannya dari Brown University, University of Alaska di Anchorage, dan University of Illinois menggunakan teknologi X-ray Reconstruction of Moving Morphology (XROMM).

Teknologi ini digunakan untuk mengamati bagaimana tiga hiu bambu berbintik putih itu memakan potongan cumi dan haring—ikan kecil di laut lepas yang menjadi makanan para predator besar.

Sistem ini menggabungkan CT scan kerangka hiu berkecepatan tinggi dengan gambar X-ray beresolusi tinggi. Dibantu dengan spidol logam implan yang kecil, diharapkan visualisasi tiga dimensi mengenai gerakan tulang otot hewan dan manusia dapat tergambarkan dengan tepat.

Menurut Camp, animasi XROMM sangat penting dalam penelitian ini, mengingat studi sebelumnya yang belum berhasil mengidentifikasi fungsi sabuk pektoral. “XROMM memungkinkan kita untuk benar-benar mengetahui bagaimana kinerja sabuk pektoral pada hiu ini,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Camp, teknologi baru ini memungkinkan para peneliti untuk mengukur “ayunan mengejutkan” di bahu ketiga hiu saat memakan mangsa. Hanya sepersekian detik setelah mulut tertutup, tulang rawan berputar cepat ke belakang (dari kepala ke ekor) sekitar 11 derajat.

“Yang pasti, penulis membuat kasus yang kuat mengenai dualitas sabuk pektoral pada spesies ini,” kata Phillip Motta, profesor biologi di University of South Florida yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Namun, kita masih belum tahu bagaimana makanan masuk ke kerongkongan dan turun ke pencernaan”, tambahnya.

Menurut Motta, pada pemakan dengan teknik isap seperti hiu bambu dan hiu perawat, sebenarnya makanan telah masuk ke dalam mulut saat mulut terbuka lebar.

Pendapat ini bertentangan dengan penelitian baru yang beranggapan bahwa hiu bambu menggerakkan sabuk pektoral mereka untuk membantu memindahkan makanan dari mulut ke kerongkongan.

Motta menambahkan, tidak ada bukti yang jelas bahwa gerakan sabuk tersebut membantu hiu “mengisap” makanan mereka.

Meskipun hiu bambu adalah satu-satunya spesies yang diamati selama penelitian ini, tidak menutup kemungkinan bahwa hiu pengisap lainnya juga menggerakkan bahu mereka dengan cara ini.

Penelitian baru ini juga dapat menjelaskan bagaimana sabuk pektoral berevolusi pada ikan hiu dan ikan lainnya dari waktu ke waktu.

Camp mengatakan, sabuk tersebut muncul dalam rekaman fosil pada waktu rahang ikan berevolusi, meskipun para ilmuwan sendiri tidak yakin dengan perubahan yang terjadi.

Mempelajari sabuk pektoral pada hewan hidup dapat membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana sabuk tersebut berfungsi dan berevolusi pada ikan yang telah dan sedang punah.

Para peneliti juga dapat memahami bagaimana struktur kerangka ikan yang berevolusi dapat membantu menjelaskan kemampuan hewan tersebut dalam mencapai tanah.

Kami berharap, penelitian ini dapat mendorong peneliti lain untuk memeriksa kembali struktur dan evolusi sabuk pektoral dari perspektif baru," kata Camp.

Camp menambahkan, pengamatan gerakan sabuk pektoral pada hiu bambu hanyalah langkah awal. Masih banyak tugas bagi para peneliti untuk memahami gerakan sabuk tersebut pada hiu dan ikan lainnya.


Beberapa minggu terakhir, astronom amatir maupun profesional terus mengarahkan teleskop mereka ke objek luar angkasa bernama KIC 8462852 atau dikenal sebagai bintang Tabby atau bintang "Megastruktur Alien". Hal tersebut dilakukan karena cahaya bintang Tabby mulai meredup hingga kehilangan lebih dari 20 persen cahayanya.

Biasanya, peredupan pada bintang terjadi karena ada objek—seperti planet—yang mengorbit bintang jauh.Tetapi meredupnya bintang Tabby merupakan kasus unik. Jika penyebabnya adalah planet yang melintas, peredupan cahaya tidak mungkin sebesar yang terjadi pada bintang Tabby. Sebagai perbandingan, planet raksasa seperti Jupiter hanya akan meredupkan cahaya bintang sebesar satu persen.

Banyak teori yang berkembang soal perilaku aneh ini. Tahun 2015 lalu, Jason Wright, astronom Pennsylvania State University mengemukakan pendapat bahwa peredupan itu bisa jadi disebabkan oleh Dyson Sphere—megastruktur alien, hipotesis yang diusulkan oleh fisikawan Freeman Dyson pada 1960. Menurut hipotesis, Dyson Sphere merupakan struktur raksasa yang dapat menyedot tenaga surya hasil kreasi peradaban maju. Selama pembangunannya, struktur ini akan mengorbit Matahari dan sesekali menghalangi cahayanya. Dyson menganjurkan kepada para astronom untuk meneliti lebih lanjut struktur ini untuk membantu menemukan peradaban alien.

Tapi jangan keburu panik dulu. Sebab, alien berada di urutan terbawah dalam daftar penyebab fenomena alam. Pengamatan paling baru akhirnya dapat mengantarkan para peneliti pada jawaban yang lebih ilmiah. 
Beberapa ilmuwan menduga ada sesuatu yang sangat besar mengorbit bintang, seperti gerombolan komet. 

Matt Muterspaugh, astronom Tennessee State University menyampaikan kepada Loren Grush dari The Verge, Jika penyebabnya badai komet, maka artinya komet-komet tersebut mengorbit sangat dekat dengan bintang yang memanaskan mereka sehingga cukup untuk membuat komet-komet itu muncul dalam gambar inframerah. Namun seandainya megastruktur alien memang penyebabnya, para ilmuwan belum yakin bagaimana penampakannya. 

"Teori itu [megastruktur alien] masih menjadi salah satu yang valid," ujar Muterspaugh. Kemudian ia menambahkan, "Kami akan sangat tidak suka mengarah ke pemikiran itu, karena merupakan hal yang cukup besar. Tentu akan luar biasa, tetapi sebagai ilmuwan, kami berharap ada penjelasan yang lebih ilmiah."

Awal tahun ini, sebuah tim astronom muncul dengan teori menarik lainnya. Menurut hipotesis mereka, bintang Tabby telah memakan salah satu planetnya sendiri pada suatu waktu dalam sepuluh ribu tahun terakhir. Peristiwa itu memicu bintang bersinar lebih cerah, dan sekarang, bintang itu meredup karena sedang mencerna makanan kosmiknya.


Para peneliti telah merekayasa ulang salah satu artefak yang paling penting milik British Museum,Jericho Skull . Hasilnya, terungkap wajah seorang pria yang bangkainya telah dihiasi dan diagungkan 9,500 tahun lalu.

Jericho Skull juga dikenal sebagai potret tertua dan penuh teka-teki. Jericho Skull adalah tengkorak manusia yang dibungkus dengan plester bekas, dengan kantung mata yang tertutup kulit kerang.

Dengan adanya rekayasa digital, 3-D printing, dan teknik rekonstruksi forensik, para ahli telah menciptakan kembali wajah seseorang di balik
Jericho Skull - yang ternyata merupakan seseorang umur 40-an, dengan hidung yang patah.

Penemuan Baru

Jericho Skull  merupakan satu dari tujuh tengkorang Neolitik yang diplester dan dihias, ditemukan oleh arkeolog Kathleen Kenyon pada 1953 di situs Tell es-Sultan, dekat dengan kota Tepi Barat, Jericho. Penemuan tersebut membawa nama Kenyon mendunia.

“Dengan melihat penemuan ini, kita melihat potret seorang pria yang hidup dan mati lebih dari 7,000 tahun lalu,” tulis Kenyon. “Tidak ada arkeolog yang pernah mengira eksistensi karya seni seperti ini sebelumnya."

Ketujuh tengkorak itu memiliki beragam detil, semuanya telah diisi dengan tanah sebelum ditempel dengan plester basah untuk menciptakan fitur-fitur wajah, seperti telinga, pipi, dan hidung. Kulit kerang digunakan sebagai mata, dan terdapat bekas cat di beberapa tengkorak.

Setelah penemuan Kenyon, lebih dari 50 tengkoran berhias telah ditemukan di situs Neolitik dari Timur Tengah sampai ke Turki. Meskipun para peneliti pada umumnya menyetujui bahwa objek tersebut merupakan sebuah representasi dari bentuk awal pemujaan leluhur, sedikit yang masih diketahui bagaimana cara menentukan mayat mana yang dipuja.

Tengkorak Neolitik yang dihias lainnya telah diperiksa secara digital, namun sisa-sisa tengkorak di British Museum adalah yang pertama dicetak dalam 3 dimensi dan direkonstruksi secara forensik.

Memisahkan Plester dari Tulang Secara Virual

Dahulu, kepala Neolitik Kenyon disebarkan ke museum di seluruh dunia untuk kepentingan penelitian, dan   Jericho Skull
tiba di British Museum, London pada 1954. Tetapi pada awal percobaan untuk menggali informasi mengenai artefak tersebut tak membuahkan hasil.

Jarak ribuan tahun menghapus detil fisik dari tengkorak, dan pemindai x-ray biasa tidak dapat membedakan tulang dengan plester. Pemindaian awal hanya dapat menghasilkan “sebuah gumpalan putih di atas gambar x-ray,” ujar Alexandra Fletcher, Kurator dari Raymond and Beverly Sackler bagian Timur Dekat Kuno, yang memimpin proyek rekonstruksi untuk British Museum.

Rekonstruksi akhirnya berhasil setelah penggunaan micro-CT scan yang membuat para peneliti dapat mulai menggambarkan sisa kerangka manusia dibalik plesternya pada 2009.
 Pemindaian itu menunjukkan sebuah tengkorak dewasa (yang rahang bawahnya telah diangkat) yang kemungkinan dulunya seorang pria. Sekatnya telah rusak dan graham depannya hilang. Sebuah lubang terukir di bagian belakang tengkorak, digunakan untuk memasukkan tanah, bahkan pemindaian itu juga menunjukkan sidik jari berumur 9,500 tahun.

Wajah Baru

Pada 2016, British Museum menciptakan model 3-D figital dari tengkorak yang telah dipindai dengan mesin CT dan mempelajari lebih jauh mengenai pria Neolitik di balik
Jericho Skull.

Fletcher dan timnya memutuskan untuk mengambil langkah lebih jauh lagi dengan membuat model fisik dari tengkorak tersebut menggunakan mesin cetak 3-D. Lalu mereka bekerja sama dengan RN-DS Partnership, sebuah firma rekonstruksi wajah forensik.

Dengan cetakan tengkorak dan model rahang bawah manusia yang diambil dari situs Neolitik di dekat Jercho, para ahli forensik dapat merekonstruksi otot-otot wajah dari tengkorak tersebut. “Seperti melakukan kebalikan dari proses penguraian ribuan tahun," ujar Fletcher.

Tak semua dinosaurus bertelur. Ada juga yang beranak. Penemuan fosil reptil pemakan ikan yang hidup 245 juta tahun lalu, Dinocephalosaurus, memberikan petunjuk.

Fosil hewan ini ditemukan mengandung embrio. Menganalisis ciri-ciri embrio, ilmuwan menyimpulkan, hewan dengan panjang sekitar 4 meter itu berkembang biak dengan melahirkan.

Menurut tim peneliti dari China, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, hewan yang merupakan nenek moyang burung dan buaya itu adalah vertebrata pertama kelompok Archosauromorpha yang melahirkan.

"Penemuan kami membuktikan, tak ada alasan fundamental kelompok Archosauromorpha tak bisa bereproduksi dengan melahirkan," imbuh Mike Benton, peneliti dari Universitas Bristol, Inggris, yang melakukan riset.

Fosil embrio ditemukan dalam posisi meringkuk. Ciri utama embrio yang menunjukkan bahwa Dinocephalosaurus beranak adalah tidak adanya cangkang telur di sekitar fosil embrio.

Dinocephalosaurus hidup di Laut China Selatan selama periode Triassic pertengahan atau sekitar 50 juta tahun lalu.

Kemampuannya melahirkan anak merupakan sebuah keuntungan bagi Dinocephalosaurus. Golongan hewan itu bisa tetap di habitat aslinya, lautan, saat bertelur. Tak perlu ke daratan.

"Menyenangkan bisa menjumpai kemajuan dalam memahami evolusi lewat fosil dari China ini," demikian seperti dikutip Science Alert, Kamis (16/2/2017). Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communication minggu lalu.




 


Astronom telah lama mempelajari awan gas dan debu kosmik bercahaya yang dikatalogkan sebagai NGC 6334 dan NGC 6357. Baru-baru ini, European Southern Observatory (ESO) merilis foto paling detail keduanya. Bentuk jelas kedua awan kosmik ini mengingatkan kita kembali pada nama mereka yang berkesan: Nebula Cakar Kucing dan Nebula Lobster.

Foto berukuran 49.511 x 39.136 piksel ini diambil menggunakan OmegaCam, kamera 256 Megapiksel yang terpasang pada Very Large Telescope Survey Telescope (VST) ESO. 

NGC 6334 terletak sekitar 5.500 tahun cahaya jauhnya dari Bumi, sementara Nebula Lobster alias NGC 6357, jauh lebih terpencil lagi, sekitar 8.000 tahun cahaya. Keduanya berada di rasi bintang Scorpion, di dekat ujung ekor penyengatnya.

Kolase foto NGC 6334 dan NGC 6357. Daerah langit ini merupakan wilayah aktif pembentukan bintang. Bintang-bintang muda yang panas di daerah ini membuat awan hidrogen di sekelilingnya bercahaya dengan warna merah yang khas. (ESO)
Nebula-nebula ini sebagian besar tersusun atas gas hidrogen dan dipenuhi oleh bintang muda panas yang massanya 10 kali Matahari. Keduanya menmancarkan cahaya ultraviolet, yang diserap oleh hidrogen dan dipancarkan kembali menjadi cahaya merah yang khas.

Kedua nebula tersebut pertama kali dilihat oleh astronom Inggris, John Herschel, pada 1837 dari Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Karena saat itu teknologi yang ada belum memadai, Herschel hanya dapat mengamati ‘jari’ paling terang dari Nebula Cakar Kucing. Kini, berkat gambar terbaru yang lebih rinci, pintu untuk mempelajari kedua nebula ini kian terbuka lebar.


Jika seseorang mengajukan pertanyaan: “Apakah orang Romawi dapat membuat kapal raksasa berteknologi tinggi?” Anda mungkin akan menjawab tidak. Sulit untuk membayangkan teknologi pembuatan kapal yang canggih di masa itu. Sebagian besar sejarawan memiliki pendapat yang sama dan mengabaikan deskripsi tentang kapal besar yang ada pada teks kuno. Pendapatnya pun disanggah dengan penemuan kapal Nemi milik Caligula. Kapal Nemi, ketika teknologi berpadu dengan kegilaan kaisar Romawi Caligula.

Dua ribu tahun yang lalu, kaisar Romawi yang bejat, Caligula, memerintahkan pembangunan dua kapal tongkang besar. Kedua kapal tersebut mengapung di Danau Nemi yang relatif kecil. Di sanalah ia akan berpesta pora menghabiskan waktu dan hartanya selama musim panas..

Setelah menjadi kaisar, Caligula langsung berfoya-foya, menikmati segala kemewahan. Hanya dalam satu tahun, Caligula menghabiskan 2,7 miliar sestertii yang ditinggalkan oleh pamannya, Kaisar Romawi Tiberius. Sebagai perbandingan, pada saat itu, sepotong roti berharga setengah sestertium.

Caligula menghabiskan uang untuk hal-hal yang mungkin dianggap “gila”. Misalnya, ia membangun jembatan ponton sepanjang tiga kilometer melintasi Teluk Baiae. Tujuannya supaya si kaisar gila ini bisa menunggang kuda melintasi laut.

Kapal di Danau Nemi, peninggalan kaisar megalomania

Dua kapal besar yang dibangun di Danau Nemi, yang terletak tiga puluh kilometer selatan Roma, Italia. Danau Nemi adalah danau kawah kecil dan dangkal di Perbukitan Alban. Tempat ini telah lama menjadi tempat liburan bagi orang Romawi. Di sini, orang Romawi bisa menghindari teriknya musim panas di Italia.

Kaisar Caligula, seperti pendahulunya Kaisar Tiberius, suka menghabiskan musim panasnya dengan berlayar di Danau Nemi.

“Kedua kapal ini, yang dijuluki kapal Nemi, termasuk di antara kapal kuno terbesar,” ungkap Matteo Damiani di laman Weird Italy.

Caligula memesan dua kapal besar yang akan digunakan selama liburannya. Satu kapal merupakan kuil terapung yang didedikasikan untuk dewi Diana. Yang lainnya adalah istana mengapung yang digunakan untuk pesta pora.

Kedua kapal berukuran hampir sama, dengan satu sedikit lebih besar dari yang lain. Yang lebih besar disebut prima nave (kapal pertama) dan yang lebih kecil disebut seconda nave (kapal kedua).

Kapal Nemi sangat besar. Kapal pertama memiliki panjang tujuh puluh meter dan lebar dua puluh meter. Yang kedua memiliki panjang tujuh puluh tiga meter dan lebar dua puluh empat meter.

Keduanya secara permanen berlabuh di tengah danau. Caligula dan rombongannya menggunakan kapal pertama untuk melakukan perjalanan dari pantai ke kapal kedua dan kembali. Kedua kapal berfungsi sebagai yacht pribadi sang kaisar.

Karena kegemarannya akan kemewahan, kapalnya pun dihiasi dengan emas dan permata, mosaik, dan patung. Tanaman merambat dan pohon buah-buahan tumbuh di atas kapal. Bayangkan sebuah istana kekaisaran yang mengapung di tengah danau, seperti itulah kapal milik Caligula.

Kapal Nemi ini dilengkapi dengan perabotan mewah, kamar mandi, dan bahkan air panas. Sistem perpipaan terdiri dari pipa timah, keran, dan katup.

Kapal Nemi adalah tempat pesta pora Caligula yang melibatkan istri senator dan bahkan saudara perempuannya sendiri.

Kapal yang tidak digunakan untuk berlayar

Tidak memiliki alat penggerak seperti layar, kapal Nemi dimaksudkan untuk berlabuh saja. Dayung besar dan dayung panjang yang ada hanya digunakan untuk mengarahkan kapal.

Terlepas dari biaya yang sangat besar untuk pembangunannya, istana terapung ini hanya bertahan untuk waktu yang singkat. “Kemungkinan besar satu atau dua tahun, sebelum empat tahun pemerintahan Caligula berakhir,” tambah Damiani. Dia dibunuh oleh aliansi Garda Praetoria dan pada tahun 41 Masehi.

Tak lama setelah kematiannya, semua hal yang berhubungan dengan Caligula dimusnahkan. Kapal-kapal mewahnya pun ditenggelamkan.


Penemuan kapal Nemi mengungkapkan kemajuan teknologi yang diyakini ditemukan berabad-abad kemudian. Juga membantah klaim sejarawan yang menganggap bahwa bangsa Romawi tidak dapat membuat kapal sebesar itu.

Misalnya, salah satu jangkar yang digunakan adalah dari jenis yang disebut jangkar Admiralty. Jangkar ini resmi ditemukan pada tahun 1841. Contoh pompa air tertua untuk mengeluarkan air dari kapal ditemukan di kapal Nemi. Pompa ini dioperasikan dengan gagang engkol, yang juga merupakan engkol tertua yang pernah ditemukan

Sepeninggal Caligula, kapal-kapal mewahnya dilucuti dan sengaja ditenggelamkan. Kapal Caligula hilang, tetapi tidak dilupakan.

Sepanjang periode abad pertengahan, nelayan setempat menggunakan pengait untuk menarik potongan kapal dan artefak kecil. Temuan-temuan kecil itu mereka jual kepada wisatawan.

Upaya memulihkan kapal-kapal Nemi

Upaya pertama untuk memulihkan kapal ditugaskan oleh Paus Prospero Colonna pada pertengahan 1400-an. Sebuah platform terapung dibuat dan penyelam ahli yang dibawa dari Genoa dikirim ke bawah. Tapi kapal-kapal itu terlalu besar untuk dibawa ke permukaan. Yang mereka lakukan hanyalah merobek beberapa papan.

Upaya kedua terjadi pada tahun 1535 di bawah arahan dari Francesco De Marchi. Dia secara pribadi terjun ke danau menggunakan lonceng selam. Saat itu, ia menemukan banyak benda-benda marmer, perunggu, tembaga, dan timah.

Semua upaya tidak berhasil sampai tahun 1929 ketika diktator Italia Benito Mussolini mengeringkan danau. Sebagai pecinta kebudayaan Romawi, ia memulihkan kedua keajaiban kuno tersebut.

Mussolini menempatkan kedua kapal tersebut ke dalam museum sebagai bukti kebesaran Kekaisaran Romawi.

Sayangnya, di akhir Perang Dunia II terjadi bencana. “Pada tanggal 31 Mei 1944, pasukan Jerman yang mundur menghancurkan museum dan kedua kapal terbakar,” ungkap Peter Preskar di laman History of Yesterday.

Beberapa barang yang berhasil diselamatkan dari kapal Nemi sekarang dipajang di Museum Nasional Romawi di Roma, Italia.

Kapal Nemi berhasil memesona dunia, sama seperti pemiliknya yang terkenal itu. Sulit untuk menerima bahwa kedua keajaiban teknik kuno ini hancur setelah tersembunyi selama 2.000 tahun.

Pada tahun 1995, orang Italia memprakarsai Proyek Diana untuk membangun kembali kapal pertama. Sayangnya, kegiatan berhenti pada tahun 2011.

Akankah kita dapat menikmati dan mengagumi raksasa-raksasa dari zaman Romawi ini?