Para arkeolog telah menemukan sebuah gereja berusia 1.500 tahun di Israel yang memiliki mosaik hewan dan telah dihapus, gereja tersebut didedikasikan untuk seorang martir tak dikenal. Gereja yang cukup besar ini memiliki prasasti Yunani yang mengatakan bahwa itu didedikasikan untuk "martir yang mulia" tetapi tidak mengatakan siapa martir tersebut.

Pada saat gereja dibangun, Kekaisaran Bizantium menguasai Israel, dan sebuah prasasti di gereja menyatakan bahwa gereja diperluas pada masa pemerintahan Kaisar Flavius ​​Tiberius, yang memerintah dari tahun 578 hingga 582. Israel dan daerah sekitarnya ditaklukkan oleh Kekalifahan Rasyidin antara tahun 634 dan 638. Namun, meskipun terjadi pertumbuhan Islam di daerah tersebut, gereja tetap berkembang, dan tidak ditinggalkan sampai abad ke-10, menurut para arkeolog.

Gereja itu ditemukan selama penggalian yang dilakukan pada tahun 2017, sebelum konstruksi berlangsung di daerah tersebut. Letaknya sekitar 15 mil (24 kilometer) barat daya Yerusalem di Perbukitan Yudea, ditulis oleh Benyamin Storchan, seorang arkeolog dari Israel Antiquities Authority yang memimpin penggalian di gereja tersebut dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada edisi Musim Gugur majalah Biblical Archaeology Review, Storchan menamai bangunan itu "Gereja Martir Agung".

"Pada fase paling awal (pada abad kelima) Gereja Martir Agung terdiri dari kapel sederhana di dalam sebuah gua," tulis Storchan dalam artikel tersebut, dia juga menjelaskan bahwa pada abad keenam gereja tersebut diperluas menjadi kapel yang cukup besar di atas tanah dengan hiasan mosaik. Orang-orang kemudian mengubah ruang di dalam gua menjadi makam yang mungkin menyimpan peninggalan martir yang tidak diketahui itu.

Ikonoklasme

Gereja mempunyai bekas luka dari ikonoklasme kuno yaitu sebuah pergerakan penghancuran artefak dan gambar tertentu yang disengaja. Para arkeolog menemukan bahwa beberapa mosaik awalnya didekorasi dengan gambar-gambar zoomorphic (seperti binatang), tetapi ini sengaja dihapus. “Mosaik tersebut telah dirusak oleh ikonoklas di zaman kuno, dan digantikan dengan bentuk-bentuk zoomorphic dengan tessera acak di ubin atau batu mosaik untuk mengaburkan desain aslinya," tulis Storchan dalam artikel tersebut.

"Saya percaya bahwa ikonoklasme di Gereja Martir Agung dilakukan selama abad ke-6," kata Storchan yang dilansir dari Live Science.

Dia juga mencatat bahwa tindakan itu kemungkinan dilakukan karena "reformasi internal Kristen," atau perubahan aturan. Namun, sementara ikonoklas menghancurkan gambar-gambar zoomorphic, mereka meninggalkan gambar-gambar binatang lainnya.

"Kita bisa melihat ini, karena lantai kapel yang menggambarkan banyak burung tidak rusak dan berasal dari akhir abad ke-6," lanjutnya.

Siapakah Martir Tersebut ?

Sementara para arkeolog tidak mengetahui identitas martir tersebut, satu kemungkinan yang pasti adalah bahwa itu didedikasikan untuk seorang pria bernama Zakharia, nama yang digunakan beberapa kali dalam Alkitab. Catatan kuno menunjukkan bahwa makam seorang martir Kristen dengan nama itu ditemukan di dekatnya pada abad kelima, dan teks-teks mengklaim bahwa sebuah kuil yang didedikasikan untuk Zakharia terletak di sekitar lokasi penggalian, yang berarti gereja ini mungkin adalah kuil itu. Namun, bahkan jika gereja didedikasikan untuk Zakharia, teks-teks yang masih ada tidak menjelaskan Zakharia yang mana.

“Zakharia adalah nama umum dalam Alkitab,” tulis Storchan dalam artikelnya, dia juga mencatat bahwa Zakharia juga bisa menjadi nama tokoh agama yang tidak dikenal yang tidak dijelaskan dalam Alkitab.

Pada akhirnya, para arkeolog bahkan tidak yakin bahwa gereja itu didedikasikan untuk seorang martir bernama Zakharia.

"Kami tetap berharap, bagaimanapun, bahwa dengan studi berkelanjutan dari ribuan artefak yang ditemukan selama penggalian, petunjuk baru dan penting akan mengungkapkan identitas sebenarnya dari Martir Agung yang misterius ini," tulis Storchan dalam artikel tersebut.



 


Studi baru yang telah dipublikasikan di The Astronomical Journal mengungkapkan bahwa komet ATLAS (C/2019 Y4) mungkin berasal dari pecahan komet kuno yang lebih besar. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil analisis menggunakan gambar yang diperoleh dalam kampanye Teleskop Luar Angkasa Hubble selama tiga hari.

Peneliti mengidentifikasi dua kluster fragmen yang dihasilkan oleh peristiwa disintegrasi awal. Sesuai dengan fragmen A dan B pecahan komet ATLAS yang diidentifikasi dalam data ground-based.

Seperti diketahui, komet ATLAS ditemukan oleh survei ATLAS pada 28 Desember 2019. Di tahun berikutnya, komet ATLAS menjadi komet paling terang yang dapat diamati di tahun 2020 dan dapat dilihat dengan mata telanjang sekitar bulan April 2020.

Namun, pada 20 hingga 23 April 2020, komet ATLAS pecah menjadi sekitar 30 fragmen atau bagian. Komet ATLAS yang hancur saat ini terletak di dalam orbit planet Mars, pada jarak sekitar 145 juta kilometer dari Bumi.

ATLAS terfragmentasi tepat sebelum perihelion, meninggalkan bekas ekornya di angkasa dalam bentuk awan tipis debu dan partikel bermuatan. Pecahan-pecahan itulah yang kemudian diamati para astronom saat ini dengan menggunakan Teleskop Hubble milik NASA/ESA.

"Komet ATLAS adalah potongan (komet) kuno dari 5.000 tahun yang lalu,” kata Dr. Quanzhi Ye, seorang astronom di University of Maryland, dilansir Sci-News.

Menurut peneliti, hal itu mungkin karena komet ATLAS mengikuti "jalur kereta api" orbit yang sama dengan komet yang terlihat pada tahun 1844. "Ini berarti kedua komet itu mungkin 'saudara' dari komet induk yang pecah berabad-abad sebelumnya," jelasnya.


Hubungan antara dua komet pertama kali dicatat oleh astronom amatir Maik Meyer. Tapi, komet ATLAS dianggap aneh karena tidak seperti komet induknya yang dihipotesiskan. Pada kenyataanya, komet ATLAS hancur saat berada lebih jauh dari Matahari daripada Bumi, pada jarak lebih dari 100 juta mil.

“Ini jauh lebih jauh daripada jarak di mana induknya melewati Matahari. Ini menekankan keanehannya,” kata Dr. Ye.

Menurut Dr. Ye, jika komet ATLAS pecah pecah dengan jarak yang sangat jauh dari Matahari seperti saat ini. Bagaimana komet ATLAS bisa bertahan melewati lintasan terakhir mengelilingi Matahari 5.000 tahun yang lalu? Hal itu menjadi pertanyaan besar.

Hingga saat ini, para peneliti memperkirakan komet ATLAS pada 5.000 tahun yang lalu 'mengayun' dalam jarak 23 juta mil dari Matahari. Saat itu, komet ATLAS mungkin menjadi pemandangan spektakuler bagi peradaban Eurasia dan Afrika Utara di akhir zaman batu.


“Ini sangat tidak biasa karena kami tidak mengharapkannya. Ini adalah pertama kalinya anggota keluarga komet periode panjang terlihat putus sebelum melintas lebih dekat ke Matahari,” katanya.

Pada saat pecah, menurut peneliti, satu fragmen komet ATLAS hancur dalam hitungan hari. Sementara potongan lainnya bertahan selama berminggu-minggu. Hal itu menunjukan, bahwa bagian nukleus atau inti dari komet lebih kuat dari bagian lainnya.

Peneliti memperkirakan, penyebab pecahnya komet ATLAS yang paling mungkin adalah bahwa aliran material pada komet ATLAS mungkin telah memutar komet begitu cepat sehingga gaya sentrifugal merobeknya.

Penjelasan alternatif yang paling mungkin, menurut peneliti, adalah bahwa komet ATLAS memiliki apa yang disebut es super-volatil yang telah menyebabkan potongan tersebut meledak seperti kembang api di udara. "“Ini rumit karena kita mulai melihat hierarki dan evolusi fragmentasi komet ini. Perilaku komet ATLAS menarik tetapi sulit dijelaskan," katanya.


Tanpa kita sadari, hari-hari kita sebenarnya telah jadi lebih lama. Sebab, sejak Bumi mulai terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, rotasi Bumi secara bertahap terus melambat.

Perlambatan Bumi tidak ini terlihat pada skala waktu manusia. Namun begitu, perlambatan ini cukup untuk membuat perubahan signifikan selama ribuan tahun.

Salah satu perubahan yang dihasilkan itu, menurut sebuah penelitian terbaru, perpanjangan lamanya hari ini terkait dengan oksigenasi atmosfer bumi. Dan menurut mereka, mungkin ini merupakan dampak yang paling signifikan dari semua efek perlambatan rotasi Bumi bagi makhluk hidup, termasuk manusia.

Apakah melambatnya rotasi Bumi akan menguntungkan buat kehidupan atau justru merugikan?

Secara khusus, ganggang biru-hijau atau cyanobacteria yang muncul dan berkembang biak sekitar 2,4 miliar tahun lalu akan mampu menghasilkan lebih banyak oksigen sebagai produk sampingan metabolisme mereka karena hari-hari Bumi bertambah panjang.

"Sebuah pertanyaan abadi dalam ilmu Bumi adalah bagaimana atmosfer Bumi mendapatkan oksigennya, dan faktor-faktor apa yang dikendalikan ketika oksigenasi ini terjadi," ujar Gregory Dick, ahli mikrobiologi dari University of Michigan, seperti dilansir Science Alert.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa tingkat di mana Bumi berputar—dengan kata lain, panjang hari—mungkin memiliki efek penting pada pola dan waktu oksigenasi Bumi."

Ada dua komponen utama dalam penelitian terbaru ini yang, sekilas, tampaknya tidak banyak berhubungan satu sama lain. Yang pertama adalah bahwa putaran Bumi melambat. Alasan mengapa rotasi Bumi melambat adalah karena Bulan memberikan tarikan gravitasi pada Bumi. Hal ini menyebabkan perlambatan rotasi Bumi karena Bulan secara bertahap menarik diri.

Kita tahu, berdasarkan catatan fosil, 1,4 miliar tahun yang lalu lamanya waktu dalam sehari itu hanya 18 jam. Lamanya hari pada 70 juta tahun yang lalu juga setengah jam lebih pendek daripada hari ini. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kita mendapatkan 1,8 milidetik dari perlambatan rotasi Bumi dalam satu abad.


Komponen kedua adalah sesuatu yang dikenal sebagai Peristiwa Oksidasi Hebat (Great Oxidation Event). Ini adalah peristiwa ketika cyanobacteria muncul dalam jumlah yang sangat besar sehingga atmosfer bumi mengalami peningkatan oksigen yang tajam dan signifikan. Tanpa oksidasi ini, para ilmuwan berpikir kehidupan seperti yang kita ketahui saat ini tidak mungkin muncul. Jadi, meskipun cyanobacteria mungkin sedikit bermasalah hari ini, faktanya kita mungkin tidak akan berada di sini atau hidup di Bumi tanpa adanya mereka.

Dalam studi ini, para ilmuwan bekerja dengan mikroba cyanobacterial untuk mencari hubungan antara perlambatan rotasi Bumi dengan oksigenasi. Di Danau Huron, para peneliti menemukan tikar mikrob yang dapat dianggap sebagai analog dari cyanobacteria yang bertanggung jawab atas Peristiwa Oksidasi Hebat tersebut.

Cyanobacteria ungu yang menghasilkan oksigen melalui fotosintesis dan mikroba putih yang memetabolisme belerang, bersaing dalam tikar mikrob di dasar danau tersebut. Pada malam hari, mikroba putih naik ke atas tikar mikrob dan melakukan aktivitas mengunyah belerang mereka. Ketika siang hari, dan Matahari terbit cukup tinggi di langit, mikroba putih mundur dan cyanobacteria ungu naik ke atas.

"Sekarang cyanobacteria dapat mulai berfotosintesis dan menghasilkan oksigen," ucap Judith Klatt, ahli geomikrobiologi dari Max Planck Institute for Marine Microbiology di Jerman.

"Namun, butuh beberapa jam sebelum mereka (cyanobacteria) benar-benar melakukannya, ada jeda panjang di pagi hari. Cyanobacteria agak terlambat bangun daripada orang pagi, sepertinya."

Ini berarti jendela siang hari di mana cyanobacteria dapat memompa oksigen sangat terbatas. Fakta inilah yang menarik perhatian ahli kelautan Brian Arbic dari University of Michigan. Dia bertanya-tanya apakah perubahan panjang hari di sepanjang sejarah Bumi berdampak pada fotosintesis.

"Ada kemungkinan bahwa jenis kompetisi serupa antara mikroba berkontribusi pada keterlambatan produksi oksigen di Bumi awal," jelas Klatt.

Untuk mendemonstrasikan hipotesis ini, tim peneliti melakukan eksperimen dan pengukuran pada mikroba, baik di lingkungan alami maupun di laboratorium. Mereka juga melakukan studi pemodelan terperinci berdasarkan hasil eksperimen mereka untuk menghubungkan sinar Matahari dengan produksi oksigen mikroba, dan produksi oksigen mikroba dengan sejarah Bumi.

Secara angka, dua hari yang masing-masing lamanya adalah 12 jam seharusnya serupa dengan satu hari yang lamanya 24 jam. Namun, itu tidak sama hasilnya bagi pelepasan oksigen dari tikar mikrob tersebut. Total oksigen yang dihasilkan dalam dua hari yang masing-masing lamanya 12 jam lebih sedikit dibanding dalam satu hari yang lamanya 24 jam.


Hasil ini kemudian dimasukkan ke dalam model tingkat oksigen global, dan tim menemukan bahwa perpanjangan hari terkait dengan peningkatan oksigen Bumi. Bukan hanya terkait dengan Peristiwa Oksidasi Besar, melainkan juga oksigenasi atmosfer kedua yang disebut Peristiwa Oksigenasi Neoproterozoikum (Neoproterozoic Oxygenation Event) sekitar 550 hingga 800 juta tahun lalu.

"Kami menyatukan hukum fisika yang beroperasi pada skala yang sangat berbeda, dari difusi molekuler hingga mekanika planet. Kami menunjukkan bahwa ada hubungan mendasar antara panjang hari dan berapa banyak oksigen yang dapat dilepaskan oleh mikroba yang tinggal di tanah," papar Arjun Chennu, ilmuwan kelautan dari Leibniz Center for Tropical Marine Research di Jerman.

"Ini cukup menarik. Dengan cara ini kami menghubungkan tarian molekul di tikar mikrob dengan tarian planet kita dan Bulannya."


Sekelompok arkeolog Rusia menemukan sebuah kota kuno berusia sekitar 4.000 tahun di Provinsi Dhi Qar di Irak selatan. Kota itu ditemukan di wilayah Tell al-Duhaila, yang merupakan rumah bagi lebih dari 1.200 situs arkeologi, termasuk situs Ziggurat Agung Ur dari era Sumeria.

Ziggurat Ur sendiri adalah ziggurat Neo-Sumeria yang terletak di Kota Ur, di dekat Nasiriyah, Provinsi Dhi Qar, Irak. Struktur bangunan mirip piramida ini dibangun pada Zaman Perunggu Awal, tapi sudah menjadi reruntuhan pada abad ke-6 Sebelum Masehi pada masa Neo-Babilonia sebelum direstorasi oleh Raja Nabonidus yang memerintah pada tahun 555–539 Sebelum Masehi.

Penemuan kota kuno di wilayah Tell al-Duhaila itu terjadi baru-baru ini pada tahun 2021. “Pekerjaan dimulai pada April 2021, yang merupakan putaran penuh pertama penelitian arkeologi lapangan di Mesopotamia selatan," ujar Alexei Jankowski-Diakonoff, kepala misi penggalian arkeologi tersebut.

“Kota yang ditemukan adalah permukiman perkotaan di Tell al-Duhaila, terletak di tepi aliran air. Menurut spekulasi awal, kota itu bisa menjadi ibu kota negara yang didirikan setelah runtuhnya politik di akhir era Babilonia kuno [sekitar pertengahan abad kedua Sebelum Masehi], yang menyebabkan kehancuran sistematis kehidupan perkotaan peradaban Sumeria,” tutur Alexei Jankowski-Diakonoff kepada Al-Monitor.

Jankowski-Diakonoff mengatakan betapa pentingnya penelitian di daerah tersebut. “Meneliti kota-kota Mesopotamia selatan pada akhir era Babilonia kuno –dan situs Tell al-Duhaila khususnya– membuka rahasia halaman yang tidak diketahui dalam sejarah peradaban tertua di planet ini. Daerah Tell al-Duhaila dan kota kuno Mashkan Shabir selamat dari perampokan massal yang dimulai pada tahun 1991.”

Jankowski-Diakonoff menambahkan, “Situs ini juga mengungkapkan perkembangan pertama di bidang pertanian menggunakan lumpur di Mesopotamia. Situs ini berisi sisa-sisa material dari periode yang mendahului munculnya peradaban Sumeria."

Dia berharap timnya ini bisa menemukan dokumen-dokumen kuno Mesopotamia yang masih cukup utuh untuk dibaca, "yang akan sangat penting tidak hanya bagi para ilmuwan Rusia tetapi juga para arkeolog Mesopotamia.”

Misi tersebut juga menemukan sebuah pelabuhan kuno tempat kapal-kapal biasa berlabuh dan sisa-sisa tembok kuil dengan lebar sekitar 4 meter atau 13 kaki. “Kami juga menemukan mata panah teroksidasi, sisa tungku tandoor dan patung unta tanah liat yang berasal dari Zaman Besi awal,” papar Jankowski-Diakonoff.


Berbicara tentang sejarah penemuan, arkeolog Rusia itu mengatakan, “Menurut studi bangunan arsitektur tertua di kota itu dan berdasarkan fitur desain dan blok-blok konstruksi besarnya, bangunan itu kemungkinan besar dibangun selama era Babilonia kuno. Ini terutama mencerminkan budaya perbudakan, periode Neolitik, dan zaman Tembaga Awal.”

Jankowski-Diakonoff mengatakan, “Pada tahun 2019, misi bersama Rusia-Irak memperoleh izin resmi dari Direktorat Purbakala di Kementerian Kebudayaan Irak untuk melakukan penelitian arkeologi di dua situs di Irak selatan." Dua situs itu adalah di wilayah Maysan dan Dhi Qar, "yang meliputi daerah delta modern di Mesopotamia, tempat lahirnya sejarah paling kuno di bumi.”


Amer Abdel Razak, direktur kepurbakalan di Dhi Qar, mengatakan bahwa kota kuno yang ditemukan itu terletak 70 kilometer atau 43 mil barat daya kota Nasiriyah di selatan di cekungan Sulaibiya, yang merupakan rumah bagi banyak situs arkeologi yang belum digali. "Itu dekat dengan kota Eridu, kota tertua dan terbesar di mana raja-raja dikatakan telah turun dari surga, menurut legenda Sumeria," ujarnya.

Razak juga mengatakan bahwa situs tersebut telah ditemukan dan terdaftar di Departemen Purbakala Dhi Qar sebagai "situs arkeologi yang sangat signifikan" menjelang kedatangan tim Rusia di Irak. Namun, tanpa dana dan dukungan dari pemerintah Irak, seringkali para arkeolog asing yang akhirnya berhasil melakukan penggalian tersebut.

Kepala Komite Kebudayaan, Pariwisata, dan Purbakala di parlemen Irak, Sumaya al-Ghallab, mengatakan bahwa negaranya perlu mengalokasikan "dana dan upaya perlindungan yang diperlukan untuk tim penggalian" dan menciptakan "strategi untuk proses penggalian dan penelitian yang meliputi seluruh peta arkeologi di Irak."

 


Mendengar nama lumba-lumba, hal yang terbesit pertama di pikiran kita adalah hewan yang lucu dan menggemaskan. Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, karena sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Pun, banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Namun siapa sangka, dahulu lumba-lumba adalah hewan predator yang mirip dengan paus pembunuh.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology menjelaskan bagaimana kedua jenis paus modern yakni paus bergigi (lumba-lumba dan paus balin) dan paus bungkuk mengembangkan fitur penggerak mereka seperti sirip dan ekor.

Lumba-lumba yang diberi nama latin Ankylorhiza tiedemani ini pertama kali ditemukan dalam bentuk pecahan pada akhir 1800-an, tetapi temuan baru yang hampir lengkap ditemukan pada 1990-an dan disatukan selama beberapa dekade.

Kerangka setinggi 15 kaki itu ditemukan di Carolina Selatan dan hidup sekitar 25 juta tahun yang lalu pada zaman Oligosen. Berbalik dengan lumba-lumba modern saat ini yang merupakan sahabat manusia di lautan, moyangnya justru merupakan predator puncak di masanya. Hal ini dilihat dari tengkorak, gigi, ukuran, dan moncongnya.

Dari struktur kerangkanya, para ilmuwan telah menentukan bahwa Ankylorhiza memiliki fitur postkranial yang mirip dengan tulang-tulang tubuh paus modern, yang menyiratkan bahwa habitat air yang serupa mengarah pada pengembangan adaptasi tertentu.

"Beberapa contoh termasuk penyempitan ekor, peningkatan jumlah tulang ekor dan pemendekan humerus (tulang lengan atas) pada sirip,” ujar Robert Boessenecker, penulis utama laporan tersebut dikutip dari Cnet.


“Ini tidak terlihat dalam garis keturunan anjing laut dan singa laut yang berbeda, misalnya yang berevolusi menjadi berbagai mode berenang dan memiliki kerangka postkranial yang tampak berbeda,” sambungnya.

Lumba-lumba dan paus memang saudara dekat yang merupakan bagian dari Ordo Cetacean. Sedangkan paus bergigi merupakan bagian dari Odontocetes yang merupakan turunan dari Cetacean.

Kerangka ini juga mengindikasikan Ankylorhiza kemungkinan menjadi Odontocete pertama yang memiliki kemampuan Echolocation dan bisa memburu mangsa berukuran besar maupun kecil.

"Kerangka tersebut juga menunjukkan bahwa Ankylorhiza mungkin adalah paus ekolokasi pertama yang menjadi predator puncak. Menurut para peneliti, spesies itu "sangat jelas memangsa mangsa bertubuh besar" membuka jalan bagi paus sperma pembunuh dan akhirnya orca untuk mengambil ceruk tertentu selama ribuan tahun.

Bukan hanya itu, dari kerangka tersebut menunjukkan bahwa dua jenis paus modern, melakukan banyak evolusi dari fitur yang sama secara paralel dan independen satu sama lain. Fakta ini berseberangan dengan keyakinan sebelumnya yang menyebut mereka mewarisi fitur leluhur mereka.

Spesies ini juga bisa berenang lebih cepat dari paus lainnya. Ini mengindikasikan bahwa Ankylorhiza merupakan salah satu Cetacean purba yang memegang peran ekologi seperti paus pembunuh.

"Paus dan lumba-lumba memiliki sejarah evolusi yang rumit dan panjang dan, sekilas, Anda mungkin tidak mendapatkan kesan itu dari spesies modern," kata Boessenecker.

"Catatan fosil telah benar-benar membuka jalan evolusi yang panjang dan berliku ini dan fosil seperti Ankylorhiza membantu menjelaskan bagaimana ini terjadi." tutupnya.


Pada awal 2020 saat corona merebak, sejarawan bernama Verena Krebs menghabiskan beberapa bulan di rumah orangtuanya di pedesaan Jerman. Sambil menunggu karantina wilayah Jerman, ia menyelesaikan buku tentang sejarah akhir abad pertengahan Ethiopia. 

Krebs tahu bahwa sumber bukunya bertentangan dengan narasi dominan yang menempatkan Eropa sang penolong Ethiopia yang membutuhkan. Seperti kerajaan Afrika yang mati-matian mencari teknologi militer yang lebih canggih kepada Eropa. Krebs khawatir bukunya akan mengubah interpretasi abad pertengahan. Akan teapi, ia melakukan sesuatu yang radikal.

Alih-alih mengubah apa yang sudah ditulis, Krebs memutuskan untuk mengikuti sumbernya dan menyelesaikan buku bernama Medieval Ethiopian Kingship, Craft, and Diplomacy with Latin Europe yang terbit pada awal tahun ini. 

Cerita ini membalik naskah lama. Dalam narasi tradisional, cerita berpusat di Eropa dan menempatkan Ethiopia sebagai negara pinggiran dengan kerajaan Kristen yang terbelakang dalam teknologi. Akan tetapi, Krebs mampu menampilkan kekuatan Ethiopia.

Narasi tradisional menekankan Ethiopia lemah dalam kesulitan menghadapi agresi dan kekuatan eksternal, terutama Mamluk di Mesir. Akibatnya, Ethiopia mencari bantuan militer dari rekan-rekan Kristen mereka ke utara seperti kerajaan Aragon yang berkembang (Spanyol moderen), dan Prancis. Namun, kisah nyata terkubur dalam teks-teks diplomatik abad pertengahan dan belum disatukan oleh para sarjana moderen.

Raja-raja Solomon di Ethiopia, dalam cerita ulang Krebs, menjalin hubungan trans-regional. Mereka "menemukan" kerajaan-kerajaan Eropa abad pertengahan akhir, bukan sebaliknya. Orang Afrikalah yang mengirim duta besar ke negeri asing dan jauh pada awal abad ke-15.

Mereka mencari keingintahuan dan relik suci dari para pemimpin asing yang bisa menjadi simbol gengsi dan kebesaran. Pada awal Abad Penjelajahan, ada narasi yang menggambarkan penguasa Eropa sebagai pahlawan karena mengirimkan kapal mereka ke negeri asing. Sementara Krebs justru menemukan bukti bahwa raja-raja Ethiopia mensponsori misi diplomasi, iman, dan perdagangan mereka sendiri sebelum Eropa memulainya.


Sejarah Ethiopia abad pertengahan tampaknya memiliki cakupan yang lebih luas daripada abad ke-15 dan ke-16. Mereka telah menjalin hubungan dengan Mediterania, yang lebih terkenal sejak awal ekspansi Kekristenan. 

Aksum, kerajaan pendahulu yang sekarang kita kenal sebagai Ethiopa, measuki era Kristen pada awal abad keempat. Fakta ini menunjukkan sejarah Kekristenan di Ethiopia jauh lebih awal dari masa kekaisaran Romawi, yang baru masuk Kristen pada abad keenam atau ketujuh. 

Dinasti Solomon secara khusus muncul sekitar 1270 di dataran tinggi Tanduk Afrika. Kemudian pada abad ke-15 memiliki kekuatan yang terkonsolidasi lebih kuat di teritori tersebut.

Nama mereka muncul dari klaim keturunan langsung Raja Salomo dari Israel kuno, melalui hubungan dengan Ratu Sheba. Meskipun menghadapi beberapa ancaman eksternal, mereka secara konsisten mereka mengalahkan itu dan memperluas kerajaan mereka sepanjang periode tersebut. Membangun hubungan yang tidak nyaman (meskipun umumnya damai) dengan Mamluk Mesir dan menginspirasi keajaiban di seluruh Eropa Kristen.

Pada saat inilah, kata Krebs, para penguasa Ethipia melihat kembali ke Aksum dengan nostalgia.

"Ini adalah Renaisans kecilnya sendiri, jika anda mau, di mana raja-raja Kristen Ethiopia secara aktif kembali ke Zaman Kuno Akhir dan bangkan menghidupkan kembali model antik akhir dalam seni dan sastra, untuk menjadikannya milik mereka," ucap Krebs di laman Smithsonian. 

Eropa, kata Krebs, bagi orang Ethiopia adalah tanah yang misterius dan bahkan mungkin sedikit biadab dengan sejarah yang menarik, dan yang penting, barang-barang suci dapat diperoleh raja-raja Ethipia dari sana. 

Mereka tahu tentang Paus, katanya. "Tapi selain itu, ini adalah Frankland. (Orang Ethiopia abad pertengahan) memiliki istilah yang jauh lebih tepat untuk Kekristenan Yunani, Kekristenan Siria, Kekristenan Armenia, Koptik, tentu saja. Semua gereja Ortodoks dan Ortodoks Oriental. Tapi semua orang Kristen Latin (bagi orang Ethiopia) adalah Frankland."

Buku itu sudah berdampak pada kehidupan di luar akademi. Solomon Gebreyes Beyene, seorang peneliti dari Ethiopia sekarang di Universitas Hamburg mengatakan.


"Kebanyakan orang Ethiopia biasa yang telah menyelesaikan sekolah menengah dan bahkan universitas telah mengetahui bahwa Ethiopia menerapkan kebijakan pintu tertutup di Abad Pertengahan. Atau, paling tidak mencari bantuan militer dan senjata dari utara" katanya.

Buku Krebs mengubah semua itu, katanya. Ini membuka periode dan memungkinkan cendekiawan Ethiopia dan masyarakat umum untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah diplomatik yang mulia dari sejarah abad pertengahan. 

Krebs tidak puas hanya duduk dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Dia tetap fokus tidak hanya mengubah sejarah Ethiopia, tetapi juga memastikan bahwa cerita mereka diintegrasikan ke dalam cerita abad pertengahan, terutama abad ke-15.

"Raja-raja yang melihat diri mereka sebagai pusat alam semesta, yang duduk di Dataran Tinggi di Tanduk Afrika ini, dan menganggap diri mereka bukan hanya pewaris Raja Salomo yang alkitabiah, tetapi juga sebagai raja pertama di Bumi," tutur Krebs. "Jadi maksud saya, itu hanya mengubah cara kita perlu membaca, dalam hal ini, interaksi Afrika-Eropa."

Mengikuti sumber Krebs, cukup jelas bahwa dunia abad pertengahan jauh lebih luas dan lebih luas daripada yang diperkirakan banyak orang. 


 Anggapan adanya materi gelap (dark matter) dalam kinerja alam semesta masih diperdebatkan oleh kalangan ilmuwan. Beberapa penelitian mengungkap adanya materi itu, ada pula yang mengungkapnya tidak ada.

Secara definisi, materi gelap merupakan sesuatu yang tidak dapat dideteksi lewat radiasi apapun, tetapi kehadirannya bisa diketahui lewat efek gravitasinya yang tampak pada bintang dan galaksi.

Berdasarkan laporan di The Astrophysical Journal yang dipublikasikan Mei lalui, para ilmuwan berusaha mengungkapkannya. Mereka juga melakukan pemetaan alam semesta antara galaksi Bima Sakti dengan tetangganya, Andromeda, lewat kecerdasan buatan (AI).

“Karena materi gelap mendominasi dinamika alam semesta, pada dasarnya menentukan nasibnya bekerja,” kata Donghui Jeong, salah satu penulis laporan dari Pennsylvania State University.

“Jadi kita bisa meminta komputer untuk mengembangkan peta selama miliaran tahun untuk melihat apa yang akan terjadi di alam semesta lokal. Dan kita dapat mengembangkan model kembali ke masa lalu untuk memahami sejarah lingkungan kosmik kita," tambahnya dalam rilis.

Peta itu dinilai dapat mendeteksi struktur tersembunyi yang menghubungkan kedua galaksi itu, yang membuktikan keberadaan materi gelap. Sehingga, dapat membantu para ilmuwan membuat model tabrakan antara Bima Sakti dan Andromeda di masa depan.

Para ilmuwan sebelumnya memprediksi tabrakan kedua galaksi ini akan terjadi pada 4,5 miliar tahun mendatang. Peta itu memetakan filamen materi gelap yang menjembataninya yang mempengaruhi saling mendekatnya kedua galaksi


Selain itu, diyakini peta yang dibuat dengan machine learning ini dapat menjelaskan lebih banyak pengaruh materi gelap dalam evolusi alam semesta.

Peta itu dibuat lewat kumpulan data pengujian, lalu AI diuji untuk membuat keputusannya sendiri terkait klasifikasi. Model data itu berupa rangkaian besar simulasi galaksi yang disebut IlustrisTNG yang mencakup galaksi, gas, materi yang nampak, maupun materi gelap itu sendiri.

Para ilmuwan secara khusus memilih galaksi simulasi yang sebanding dengan Bima Sakti. Dan akhirnya, dapat mengidentifikasi sifat galaksi mana yang diperlukan untuk memprediksi distribusi materi gelap.

Setelah model siap untuk mulai mengkalsifikasikan informasinya sendiri, para peneliti menunjukkan data kehidupan nyata dari katalog galaksi Cosmicflows-3. Hasilnya mencakup pergerakkan dan gistribusi 17.00 galaksi dalam 200 megaparsec Bima Sakti.

Satu parsec atau satuan itu setara dengan sekitar 3,26 tahun cahaya, yakni 19,2 triliun mil, atau 30,9 kilometer. Peta itu bisa dilihat di dalam laporan yang para ilmuwan buat.

“Ketika diberikan informasi tertentu, model itu pada dasarnya dapat mengisi kekosongan berdasarkan apa yang telah dilihatnya sebelumnya,” Jeong berpendapat.

“Peta dari model kami tidak sepenuhnya sesuai dengan data simulasi, tapi kami masih dapat merekonstruksi struktur yang sangat detail. Kami menemukan bahwa memasukkan pergerakan galaksi—kecepatan khas radialnya—di samping distribusinya secara drastis meningkatkan kualitas peta dan memungkinkan kami melihat detail ini.”

Peta itu secara menghasilkan struktur terkemuka yang telah diketahui dari data yang dimasukan terkait alam semesta loka, termasuk 'lembaran lokal'. 'Lembaran lokal' yang dimaksud para ilmuwan adalah wilayah yang berisi Bima Sakti, galaksi-galaksi sekitar dalam klaster lokal, dan ragam galaksi di gugus Virgo.

Ada pula filamen baru berhasil diungkap ilmuwan lewat pemetaan itu. Tim penelitian itu berencana untuk mempelajari lebih lanjut. Termasuk memahami lebih jauh hubungan antara galaksi kita dengan Andromeda yang jaraknya kian mendekat.

"Ironisnya, lebih mudah untuk mempelajari distribusi materi gelap lebih jauh [dari Bumi] karena mencerminkan masa lalu yang sangat jauh, yang jauh lebih kompleks," ujarnya.

“Seiring waktu, karena struktur alam semesta berskala besar telah berkembang, kompleksitas alam semesta telah meningkat, sehingga secara inheren lebih sulit untuk melakukan pengukuran tentang materi gelap secara lokal."

Sementara itu, Jeong bersama timnya berpendapat, petanya akan menjadi lebih akurat setelah James Web Space Telescope milik NASA akan diluncurkan akhir 2021. Sebab teleskop ini dapat memberikan kepada mereka data yang memungkinkan untuk dilihat terkait galaksi yang jauh dan lebih redup.

"Memiliki peta lokal web kosmik membuka babak baru studi kosmologis," kata Jeong. "Kita dapat mempelajari bagaimana distribusi materi gelap berhubungan dengan data emisi lainnya, yang akan membantu kita memahami sifat materi gelap," pungkas Jeong.